Kamis, 24 September 2009

Selamanya Cinta


Di kala hati resah

Sribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapanmu
Ingin terbang jauh



Biar awanpun gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku



Andaikan ku dapat mengungkapkan
Perasaanku hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan seutuhnya
Rasa cintaku selamanya...selamanya...



Andaikan ku dapat mengungkapkan
Perasaanku hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan seutuhnya
Rasa cintaku
Rasa cinta yang tulus dari dasar
Lubuk hatiku



Tuhan, jalinkanlah cinta
Bersama.. Slamanya









Selasa, 22 September 2009

SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Spektrofotometri adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan spektrofotometer. Spektriofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan fotometer. Spektofotometer adalah alah yang digunakan untuk mengukur energi secara relative jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi.
Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif.
Absorbsi cahaya UV-Vis mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi electron-electron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Energi yang terserap kemudian terbuang sebagai cahaya atau tersalurkan dalam reaksi kimia. Absorbsi cahaya tampak dan radiasi ultraviolet meningkatkan energi elektronik sebuah molekul, artinya energi yang disumbangkan oleh foton-foton memungkinkan electron-electron itu mengatasi kekangan inti dan pindah ke luar ke orbital baru yag lebih tinggi energinya. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak karena mereka mengandung electron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Absorbsi untuk transisi electron seharusnya tampak pada panjang gelombang diskrit sebagai suatu spectrum garis atau peak tajam namun ternyata berbeda. Spektrum UV maupun tampak terdiri dari pita absorbsi, lebar pada daerah panjang gelombang yang lebar. Ini disebabkan terbaginya keadaan dasar dan keadaan eksitasi sebuah molekul dalam subtingkat-subtingkat rotasi dan vibrasi. Transisi elektronik dapat terjadi dari subtingkat apa saja dari keadaan dasar ke subtingkat apa saja dari keadaan eksitasi. Karena pelbagi
transisi ini berbeda energi sedikit sekali, maka panjang gelombang absorpsinya juga berbeda sedikit dan menimbulkan pita lebar yang tampak dalam spectrum itu.
Di samping pita-pita spectrum visible disebabkan terjadinya tumpang tindih energi elektronik dengan energi lainnya (translasi, rotasi, vibrasi) juga disebabkan ada faktor lain sebagai faktor lingkungan kimia yang diberikan oleh pelarut yang dipakai. Pelarut akan sangat berpengaruh mengurangi kebebbasan transisi elektronik pada molekul yang dikenakan radiasi elektromagnetik. Oleh karena itu, spektrum zat dalam keadaan uap akan memberikan pita spectrum yang sempit.
Panjang gelombang dimana terjadi eksitasi elektronik yang memberikan absorban maksimum disebut sebagai panjang gelombang maksimum ()(maksλ. Penentuan panjang gelombang maksimum yang pasti (tetap) dapat dipakai untuk identifikasi molekul yang bersifat karakteristik-karakteristik sebagai data sekunder. Dengan demikian spektrum visibel dapat dipakai untuk tujuan analisis kualitatif (data sekunder) dan kuatitatif.
Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron akan menyerap cahaya pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang menyerap energi lebih sedikit akan menyerap cahaya pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap caha dalam daerah tampak memiliki electron yang lebih mudah dipromosikan daripada senyawa yang menyerap cahaya pada panjang gelombang UV yang lebih pendek.
Pemisahan tenaga yang paling tinggi diperoleh bila elektron-elektron dalam ikatan tereksitasi yang menimbulkan serapan dalam daerah dari 120-200nm. Daerah ini dikenal sebagai daerah Ultra Violet (UV) vakum dan relative tidak banyak menimbulkan keterangan. Diatas 200 nm eksitasi elektron. Dari orbital-orbital p dan d, dan orbital π terutama sistem konjugasi π segera dapat diukur, dan spektra yang diperoleh memberikan banyak keterangan.
Analisis kualitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis hanya dipakai untuk data sekunder atau data pendukung. Pada analisis kualitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis yang dapat ditentukan ada 2 yaitu :
• Pemeriksaan kemurnian spektrum UV-Vis.
• Penentuan panjang gelombang maximum.

Pada penentuan panjang gelombang maksimum didasarkan atas perhitungan pergeseran panjang gelombang maximum karena adanya penambahan gugus pada sistem kromofor induk.
Kaidah Woodward dan Fieser membahas secara terinci tentang pergeseran panjang gelombang maximum yang disebabkan substitusi berbagai gugus ke dalam, diena terkonjugasi, aromatic karbonil, keton tak jenuh dan poliena. Dengan demikian setiap substitusi kimia akan dapat diperhitungkan terlebih dahulu berapa panjang gelombang maksimumnya dengan memakai tabel yang disusun atas dasar kaidah Woodward dan Fieser. Kemungkinan memang ada perbedaan harga panjang gelombang maximum antara hasil perhitungan dengan tabel Wooward-Fieser terhadap harga panjang gelombang maksimum hasil perhitungan dengan panjang gelombang maximum dari hasil pengamatan. Besarnya perbedaan panjang gelombang maximum hasil perhitungan dengan panjang gelombang maximum hasil pengamatan biasanya bergeser antara 0 sampai 4 nm.
Kuantitasnya energi yang diserap oleh suatu senyawa berbanding terbalik dengan panjang gelombang radiasi :
)/(λperhvEM
Dimana :
Δ E : Energi yang diabsorpsi
h : tetapan planck (6,6.10-27 erg.det)
v : Frekuensi (Hz)
c : tetapan cahaya (3.1010 cm/s)
λ: panjang gelombang (cm).
Radiasi elektromagnetik (REM)
Radiasi elektromagnetik adalah energi yang dipancarkan menembus ruang dalam bentuk gelombang-gelombang. Untuk menggambarkan sifat-sifat REM, digunakan 2 teori yang saling melengkapi yaitu teori panjang gelombang dan teori korpuskuler. Teori panjang gelombang digunakan untuk menerangkan beberapa parameter REM yang berupa kecepatan, frekuensi, panjang gelombang, dan amplitude, dan tidak dapat menerangkan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan serapan atau emisi dari tenaga radiasi. Untuk proses ini, maka diperlukan teori korpuskuler yang menyatakan bahwa radiasi elektromagnetik sebagai partikel yang bertenaga yang disebut foton. Tenaga foton berbangding langsung dengan frekuensi radiasi.
Ada 2 teori yang digunakan :

1. Teori panjang gelombang dan kecepatan
REM juga dicirikan dengan frekuensi (banyaknya daur.lingkar lengkap tiap detik). Radiasi dengan frekuensi lebih tinggi mengandung gelombang lebih banyak per detik. Hubungan antara panjang gelombang dan frekuensi adalah sbb:
λcv= v = frekuensi (Hertz)
C = cepat rambat gelombang (3x108 m/s)
λ = panjang gelombang (cm)
2. Teori partikel atau foton
- Cahaya adalah sumber energi
- REM dipancarkan dalam bentuk paket-paket energi yang menyerupai partikel yang disebut foton atau kuantum. Energi suatu foton memiliki hubungan sebagi berikut :
hvE= E = energi foton
H = tetapan Planck
Suatu molekul memiliki panjang gelombang sendiri-sendiri. Panjang gelombang suatu molekul memiliki panjang gelombang yang tetap untuk terjadinya absorbansi yang maksimum.

Kromofor
�� Berasal dari kata Chromophorus yang berarti pembawa warna
�� Dalam pengertian yang dikembangkan, kromofor merupakan suatu gugus fungsi yang menyerap radiasi elektromagnetik apakah gugus itu berwarna atau tidak
�� Digunakan untuk menyatakan gugus tidak jenuh kovalen yang dapat menyerap radiasi dalam daerah-daerah ultraviolet dan terlihat

Auksokrom
�� Suatu subtituen pada kromofor yang menghasilkan pergeseran merah
�� Ciri auksokrom adalah heteroatom yang langsung terikat pada kromofor, misalnya : -OCH3, -Cl, -OH, NH2.
�� Contoh : pada konjugasi pasangan electron bebas pada atom nitrogen dari enamina akan mengeser serapan maksimum dari harga ikatan ganda terisolasi pada 190nm ke  230nm. Subtituen nitrogen adalah auksokrom. Suatu auksokrom akan memperpanjang kromofor dan menghasilkan suatu kromofor baru.

Pergeseran merah atau efek batokromik merupakan pergeseran serapan maksimum ke panjang gelombang lebih panjang. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan pelarut atau adanya suatu auksokrom. Geseran ke panjang gelombang yang lebih panjang mencerminkan fakta bahwa electron dalam suatui system tergabung (terkonjugasi) kurang kuat terikat daripada dalam suatu system tak tergabung.
Pergeseran biru atau efek hipokromik merupakan pergeseran ke panjang gelombang lebih pendek. Hal ini disebabkan oleh perubahan pelarut atau adanya konjugasi dari electron pasangan bebas pada atom nitrogen anilia dengan system ikatan π cincin benzene dihilankan dengan adanya protonasi. Anilia menyerap pada 230nm ( ε 8600) tetapi dalam larutan asam puncak utamanya hamper sama dengan benzene yaitu 203nm ( ε 7500), terjadi pergeseran biru.
Efek hiperkromik→kenaikan dalam intensitas serapan
Efek hipokromik→penurunan dalam intensitas serapan
Berkas radiasi dikenakan pada cuplikan dan intensitas radiasi yang ditransmisikan diukur. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas dari berkas radiasi yang ditransmisikan bila spesies penyerap tidak ada dengan intensitas yang ditransmisikan bila spesies penyerap ada. Kekuatan radiasi dari berkas cahaya sebanding dengan jumlah foton per detik yang melalui satu satuan luas penampang. Jika foton yang mengenai cuplikan tenaga yang sama dengan yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga, maka serapan dapat terjadi.
Tingkat kejadian absorbsi tergantung pada:
�� Jarak yang diarungi radiasi melewati larutan itu
�� Panjang gelombang radiasi
�� Sifat dasar spesies molekul dalam larutan
Analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis dapat digolongkan atas tiga macam pelaksanaan pekerjaan yaitu:
1. Analisis kuantitatif zat tunggal (analisis satu komponen)
2. Analisis kuantitatif campuran 2 macam zat (analisis 2 komponen)
3. Analisis kuantitatif campuran 3 macam zat (analisis multi komponen)

 Analisis kuantitatif zat tunggal dilakukan dengan pengukuran harga A pada panjang gelombang maksimum atau dilakukan pengukuran %T pada panjang gelombang minimum. Dilakukan pengukuran pada panjang gelombang maksimum karena perubahan absorban untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimal, sehingga akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimal. Selain itu pita serapan di sekitar panjang gelombang maksimal datar dan pengukuran ulang dengan kesalahan yang kecil dengan demikian akan memenuhi hokum Lambert-Beer.

Ada 4 cara pelaksanaan analisis kuantitatif zat tunggal yaitu:
Pertama dengan membandingkan absorban atau persen transmitan zat yang dianalisis dengan reference standard pada panjang maksimal.
A(S) . C(S) = A(R.S) . C(R.S)
A(S) = absorban larutan sample
C(S) = konsentrasi larutan sample
A(R.S) = absorban reference standard
C(R.S) = kosentrasi larutan reference standard
Kedua dengan memakai kurva baku dari larutan refence standard dengan pelarut tertentu pada panjang gelombang maksimum. Dibuat grafik system koordinat Cartesian di mana sebagai ordinat adalah absorban dan sebagai absis adalah konsentrasi.
Ketiga dengan cara menghitung harga absorbansi larutan sample ()%11λmakscmΕ pada pelarut tertentu dan dibandingkan denga absorbansi zat yang dianalisis yang tertera pada buku resmi.
Keempat dengan memakai perhitungan nilai ekstingsi molar (absorbansi molar ε) sama dengan cara yang ketiga hanya saja pada perhitungan absorbansi molar lebih tepat karena melibatkan massa molekul relative (Mr)
101%11..Ε=MRcmε
Analisis kuantitatif campuran dua komponen merupakan teknik pengembangan analisis kuantitatif komponen tunggal. Prinsip pelaksanaannya adalah mencari absorban atau beda absorban tiap-tiap kimponen yang memberikan korelasi yang linier terhadap konsentrasi, sehingga akan dapt dihitung masing-masing kadar campuran zat tersebut secara serentak atau salah satu komponen dalam campurannya dengan komponen lainnya.

 Beberapa cara yang telah dipakai para ilmuan untuk analisis kuantitatif campuran dua komponen dengan metode spektrofotometri UV-Vis antara lain dengan cara:
�� Serapan individual
�� Grafik
�� Perbandingan serapan
�� Panjang gelombang ganda
�� Differensial beda pelarut
�� Pengamatan tiga panjang gelombang atau lebih
�� Derivative
Untuk analisis kuantitatif dengan cara pengamatan tiga panjang gelombang akan dijabarkan ΔA sebagai:
321AnmnAAnmm⎟⎠⎞⎜⎝⎛+−++⎟⎠⎞⎜⎝⎛+−=ΔΑ

Ada tiga koefisien korelasi yaitu K1, K2 dan K3 yang dinyatakan sebagai:
nmm+−=Κ1 12nmn+−=Κ3
Apabila dilakukan pengamatan tiga panjang gewlombang untuk analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis mutlak harus ada reference standard dengan cara penghilangan pengaruh komponen pengganggu.
Analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan cara pengamatan tiga panjang gelombang, prinsip kegunaannya hamper sama dengan cara derivative yaitu:
�� Untuk analisis kuantitatif campuran dua komponen yang spektrumnya saling tumpang tindih
�� Untuk analisis kuantitatif campuran komponen dalam sample yang keruh

Prinsip analisis multi komponen dengan metode Spektrofotometri UV-Vis adalah kaliberasi tiap-tiap komponen dengan memakai larutan standar. Dikenal ada dua macam larutan standar yaitu larutan standar murni dan larutan standar campuran. Larutan standar campuran teknik pembuatan dan dampak kesalahannya sudah jelas lebih rumit.

 Selanjutnya cara-cara perhitungan kadar tiap-tiap komponen juga dikenal dua macam yaitu: cara konvensional dan cara modern yang tergantung pada instrument yang dipakai pada Spektrofotometri UV-Vis yang konvensional perhitungan dilakukan pada tiap puncak / panjang gelombang maksimum tiap komponen. Untuk campuran pembacaan absorban adalah hasil jumlah absorban tiap komponen.
Di antara cara-cara analisis tersebut di atas yang umum dan sering dipakai adalah cara derivative dan cara pengamatan tiga panjang gelombang atau lebih. Spectrum derivative pertama didapatkan dengan cara menggambarkan selisih absorban dua panjang gelombang (ΔA = Aλ1 – Aλ2) terhadap harga rata-rata dua panjang gelombang tersebut yang teratur berderet yaitu:
⎟⎠⎞⎜⎝⎛+=221λλλm
Pada prinsipnya semua spektrum yang dihasilkan oleh semua spekyrofotometri UV-Vis jenis apapun dapat diturunkan spectra derivatifnya secara manual atau otomatis. Analisis kuantitatif spectrum derivative dilakukan dengan jalan membuat kurva baku antara beda absorban puncak atau lembah spectrum dari garis dasar terhadap konsentrasi zat tersebut. Untuk campuran dua komponen yang saling tumpang tindih perlu dicari λm panjang gelombang yang bebas (tidak terganggu) untuk tiap-tisp komponen yang akan ditentukan.
Pada spektrofotometer UV-Vis yang modern dapat membuat spectrum derivative sampai tingkat sembilan secara otomatis. Kegunaan spektrofotometer UV-Vis cara derivative adalah:
�� Apabila menghadapi campuran dua komponen yang spektrumnya saling tumpang tindih, maka analisis kuantitatif derivative yang akan menjadi metode yang terpilih
�� Analisis kuantitatif campuran dua komponen yang keruh
�� Analisis kuantitatif campuran dua komponen yang merupakan isomeri (kecuali isomer optis aktif atau arsemik)
�� Spectra derivative dapat dipakai untuk maksud kualitatif atau sebagai data pendukung.
Analisis kuantitatif dengan cara pengamatan tiga panjang gelombang sama dengan cara derivative yaitu dengan cara membuat kurva baku beda absorban pada tiga panjang gelombang terhadap konsentrasi.
Cara modern dalam perhitungan analisis muti komponen / 3 komponen adalah cara pembanding spectra pada setiap interval panjang gelombang yang sempit (2nm) pada rentang panjang gelombang pengukuran. Perhitungan kadar masing-masing komponen dapat dilakukan dengan dua cara statistic yaiu : dengan cara LSQ (Least Squares Methods) atau dengan MLH (Maximum Likelihood). Kedua metode tersebut tidak memerlukan kurva baku standar murni. Semua perhitungan LSQ dan MLH untuk analisis multikomponen berasal dari persamaan Lambert-Beer yang merupakan hukum dasar spektrofotometri UV-Vis.
Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan antara serapan dan panjang jalan melewati medium yang menyerap , dan hubungan antara konsentrasi spesies penyerap dan tingkat absorbsi. Hokum ini menyatakan absorban zat terlarut adalah proporsional dengan konsentrasi sebagai
A = ε. b. C

A = absorban
ε = koefisien ansorbansi molar
C = konsentrasi solute ( mol/L-1)
b = tebal curvet
Orbital-orbital yang terlihat dalam transisi elektronik
Bila molekul menyerap sinar ultraviolet/terlihat pada tenaga tertentu, maka pertama bahwa hanya satu electron dipromosikan ke tingkat tenaga yang lebih tinggi, dan bahwa electron-elektron lain tidak terpengaruh. Keadaan tereksitasi yang dihasilkan ini mempunyai waktu hidup pendek (sekitar 10-6 hingga 10-9 det) dan sebagai akibat adalah bahwa selama eksitasi elektronik atom-atom dari molekul tidak bergerak (dasar Franck-Condon).
Kebolehjadian transisi ΔE yang paling mungkin akan timbul dari promosi 1 elektron dari orbital molekul terisi yang paling tinggi ke orbital tak terisi yang ada yang terendah. Tidak semua transisi dari orbital terisi ke orbital tak terisi terjadi. Di mana transisi adalah “forbidden”, maka kebolehjadian terjadinya transisi adalah rendah dan intensitas jalur serapnyapun rendah.
Karena elektron dalam molekul memiliki tenaga yang tak sama, maka tenaga yang diserap dalam proses eksitasi dapat menyebabkan terjadinya 1 atau lebih transisi tergantung pada jenis electron yang terlihat. Transisi-transisi tersebut diklasifikasikan sbb:
1) Transisi π →σ→ionisasi
Transisi ini terjadi dalam ultraviolet jauh yaitu 180 nm dan untuk mempelajarinya membutuhkan alat khusus. Daerah ini dikenal daerah Schuman atau ultraviolet vakum. 
2) Transisi *ππ→
Klas ini paling berguna dan merupakan serapan-serapan karakteristik dari senyawa-senyawa organic dan biasanya dihubungkan dengan “tingkat tereksitasi polar”

Dalam system-sistem yang sederhana transisi ini terjadi dalam ultraviolet jauh, missal etilena, λ maks kira-kira 160 nm, meskipun demikian substitusi oleh gugus alkil akan menggeser ke batokromik (merah).
3) Transisi n → π*
Transisi dari jenis meliputi transisi electron-elektron hetero atom tak berikatan ke orbital anti ikatan . Serapan ini terjadi pada panjang gelombang yang panjang dan intensitasnya rendah. *π
Transisi menunjukkan pergeseran hipsokromik (biru) dalam pelarut-pelarut yang lebih polar dan dengan sutituen-subtituen yang bersifat pemberi electron. *π→n
4) Transisi *σ→n
Senyawa-senyawa jenuh yang mengandung hetero atom seperti nitrogen, oksigen, belerang, atau halogen memiliki electron-elektron tak berikatan (electron-elektron n atau-p) di samping electron-elektron –σ. Senyawa-senyawa hetero atom menunjukkan jalur serapan yang kemungkinan disebabkan oleh transisi electron-elektron dari orbital tak berikatan atom-atom hetero ke orbital anti ikatan σ*. Transisi membutuhkan tenaga yang lebih sedikit daripada transisi . Namun demikian kebanyakan senyawa-senyawa dalam klas ini tidak menunjukkan serapan dalam daerah ultraviolet dekat. *σ→n*σσ→
Panjang gelombang cahaya UV atau tampak tergantung pada mudahnya eksitasi electron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk bertransisi, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebioh pendek. Molekul yang memerlukan energi yang lebih kecil akan menyerap panjang gelombang yang lebih besar. Sehingga senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) memiliki electron yang lebih mudah bertransisi daripada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih pendek.
Suatu orbital yang mengandung n electron tidak mempunyai suatu orbital antibonding karena orbital itu tidak terbentuk dari dua orbital. Transisi electron mencakup naiknya (promosi) salah satu dari tiga tipe keadaan dasar (.σ, π, atau n) ke salah satui dari 2 keadan tereksitasi (σ*atau π*). 

Faktor yang mempengaruhi besarnya energi untuk bereksitasi yaitu stabilitas resonansi
Instrumentasi
Instrument yang digunakan untuk mempelajari serapan atau emisi radiasi elektromagnetik sebagai fungsi dari panjang gelombang disebut “spectrometer” atau spektrofotometer. Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spectrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkam sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diarbsorbsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan dengan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapt lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun celah optis. Pada fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan diperoleh dengan berbagai filter dengan berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelomabang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spectrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengarbsorbsi untuk larutan sample dan blangko ataupun pembanding.
1. Sumber
Sumber yang biasa digunakan pada spektroskopi absorbsi adalah lampu wolfram. Arus cahaya tergantung pada tegangan lampu, , i = arus cahaya, V = tegangan, n = eksponen (3-4 pada lampu wolfram), variasi tegangan masih dapat diterima 0,2% pada suatu sumber DC, misalkan : baterai. Lampu hydrogen atau lampu deuterium digunakan untuk sumber pada daerah UV. Kebaikan lampu wolfram adalah energi radiasi yang dibebaskan tidak bervariasi pada berbagai panjang gelombang. Untuk memperoleh tegangan yang stabil dapat digunakan transformator. Jika potensial tidak stabil, kita akan mendapatkan energi yang bervariasi. Untuk mengkonpensasi hal ini maka dilakukan pengukuran transmitan larutan sample selalu disertai larutan pembanding. nKVi=
2. Monokromator
Digunakan untuk memperoleh sumber sinar yang monokromatis. Alatnya dapat berupa prisma ataupun grating. Untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diinginkan dari hasil penguraian ini dapat digunakan celah. Jika celah posisinya tetap, maka prisma atau gratingnya yang dirotasikan untuk mendapatkan λ yang diinginkan. Ada dua tipe prisma seperti ditunjukkan di bawah ini, yaitu susunan Cornu dan susunan Littrow.
 Secara umum tipe Cornu menggunakan sudut 60º, sedangkan tipe Littrow menggunakan prisma di mana pada sisinya tegak lurus dengan arah sinar yang berlapis alumunium serta mempunyai sudut optic 30º. Kekuatan disperse dinyatakan dengan persamaan :

Rumus:
penguraikekuaddntan=λ pemisahankekuaddntdRtan=⎟⎠⎞⎜⎝⎛==λλλ
3. Sel absorbsi
Pada pengukuran di daerah tampak kurvet kaca atau kurvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus menggunakan sel kuarasa karena gelas tidak tembus daerah cahaya pada daerah ini. Umumnya tebal kurvetnya adalah 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang digunakan biasanya berbentuk persegi , tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan. Kita harus dapat menggunakan kurvet yang bertutup untuk pelarut organic. Sel yang baik adalah kuarsa atau gelas hasil leburan serta seragam keseluruhannya.

Cara kerja spektrofotometer
Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih foto sel yang cocok 200nm-650nm (650nm-1100nm) agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan “nol” galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel.
Komponen-komponen pokok dari spektrofotometer meliptui:
1. Sumber tenaga radiasi yang stabil
2. Sistem yang terdiri dari lensa-lensa, cermin, celah-celah, dan lain-lain
3. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang gelombang tunggal.
  
4. Tempat culikan yang transparan
5. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan system meter atau pencatat

Diagram sederhana dari spektrofotometer adalah sebagai berikut
(1) Sumber Tenaga Radiasi
Sumber tenaga radiasi terdiri dari benda yang tereksitasi hingga ke tingkat tenaga yang tinggi oleh sumber listrik bertegangan tinggi atau oleh pemanasan listrik. Benda atau materi yang kembali ke tingkat tenaga yang lebih rendah atau ke tingkat dasarnya, melepaskan foton dengan tenaga-tenaga yang karakteristik yang sesuai dengan ΔE, yaitu perbedaan tenaga antara tingkat tereksitasi dan tingkat dasar rendah.
Sumber radiasi yang ideal untuk pengukuran serapan harus menghasilkan spektrum kotinu dengan intensitas yang seragam pada keseluruhan kisaran panjang gelombang yang sedang dipelajari.
a. Sumber Radiasi Ultraviolet
Sumber-sumber radiasi ultraviolet yang kebanyakan digunakan adalah lampu hydrogen dan lampu deuterium. Mereka terdiri dari sepasang elektroda yang terslubung dalam tabung gelas dan diisi dengan gas hidrogen atau deuterium pada tekanan yang rendah. Bila tegangan yang tinggi dikenakan pada elektroda-elektroda, maka akan dihasilkan electron-elektron yang mengeksitasikan electron-elektron lain dalam molekul gas ke tingkatan tenaga yang tinggi. Bila electron-elektron kembali ke tingkat dasar mereka melepaskan radiasi dalam daerah sekitar 180 dan 350 nm. Sumber radiasi UV yang lain adalah lampu xenon, tetapi dia tidak sestabil lampu hydrogen.
b. Sumber Radiasi Terlihat
Sumber radiasi terlihat dan radiasi infra merah dekat yang biasa digunakan adalah lampu filament tungsten. Filament dipanaskan oleh sumber arus searah (DC), atau oleh baterai. Filament tungsten menghasilkan radiasi kontinu dalam daerah antara 350 dan 2500 nm.

(2). Monokromator
Seperti kita ketahui bahwa sumber radiasi yang umum digunakan menghasilkan radiasi kontinu dalam kisaran panjang gelombang yang lebar. Dalam spektrofotometer, radiasi yang polikromatik ini harus diubah menjadi radiasi monokromatik. Ada 2 jenis alat  yang digunakan untuk mengurai radiasi polikromatik menjadi radiasi monokromatik yaitu penyaring dan monokromator. Penyaring dibuat dari benda khusus yang hanya meneruskan radiasi pada daerah panjang gelombang tertentu dan menyerap radiasi dari panjang gelombang yang lain. Monokromator merupakan serangkaian alat optic yang menguraikan radiasi polikromatik menjadi jalur-jalur yang efektif/panjang gelombang-gelombang tunggalnya dan memisahkan panjang gelombang-gelombang tersebut menjadi jalur-jalur yang sangat sempit.
(3). Tempat cuplikan
Cuplikan yang akan dipelajari pada daerah ultraviolet atau terlihat yang biasanya berupa gas atau larutan ditempatkan dalam sel atau cuvet. Untuk daerah ultraviolet biasanya digunakan Quartz atau sel dari silika yang dilebur, sedangkan untuk daerah terlihat digunakan gelas biasa atau Quartz. Sel yang digunakan untuk cuplikan yang berupa gas mempunyai panjang dari 0,1 hingga 100 nm, sedang sel untuk larutan mempunyai panjang lintasan tertentu dari 1 hingga 10 c,. sebelum sel dipakai harus dibersihkan dengan air, atau jika dikehendaki dapat dicuci dengan larutan deterjen atau asam nitrat panas.
*Pelarut
Pelarut-pelarut yang digunakan spektrofotometri harus:
1. Melarutkan cuplikan
2. Meneruskan radiasi dalam daerah panjang gelombang yang sedang dipelajari.
3. Pelarut yang dipakai tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna
4. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis.
5. Kemurniannya harus tinggi, atau derajat untuk analisis tinggi.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut adalah polaritas pelarut, karena akan sangat mempengaruhi pergeseran spectrum yang dianalisis. Beberapa pelarut yang bisa digunakan dalam daerah-daerah ultraviolet dan terlihat adalah seperti : aseton, benzena, karbon tetraklorida, kloroform, dioksan, sikloheksan, isopropanol, diklorometan, 95% etanol, etil, eter, methanol, air, dan sebagainya. 
Pembuatan Larutan
Larutan selalu dibuat dengan cermat : larutan standar dibuat dalam labu ukur, konsentrasi biasanya sekitar 0,1%. Untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian semua gelas-gelas standard an sebagainya harus mempunyai kualitas analitis yang tinggi, dan jika pengenceran dilakukan harus dikerjakan dalam volume yang dapat diukur dengan teliti; karena perbedaan volume yang sangat kecil akan dapat menyebabkan kesalahan.
(4). Detektor
Peranan detector penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Pada spektrofotometer, tabung pengganda electron yang digunakan prinsip kerjanya telah diuraikan.
Setiap detector menyerap tenaga foton yang mengennainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kuantitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahan-perubahan panas. Kebanyakan detector menghasilkan sinyal listrik yang dapat mengaktifkan meter atau pencatat. Setiap pencatat harus menghasilkan sinyal yang secara kuantitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya.
Persyaratan-persyaratn penting untuk detector meliputi :
1. Sensitivitas tinggi hingga dapat mendeteksi tenaga cahaya yang mempunyai tingkatan rendah sekalipun
2. Waktu respon pendek
3. Stabilitas yang panjang/lama untuk menjamin respoon secara kuantitatif
4. Sinyal elektronik yang mudah diperjelas.  

Senin, 21 September 2009

Farmakologi

Apa itu Farmakologi?
Farmakologi sering juga disebut dengan ilmu tentang khasiat obat.

Ilmu khasiat obat: ilmu yang mempelajari pengetahuan obat dengan seluruh aspeknya. Aspek yang dimaksud adalah: sifat kimia-fisik suatu obat, sifat fisiologi, resorpsi obat dan nasib obat dalam tubuh atau ADME.
Farmakologi secara keilmuan tercakup dalam berbagai bidang ilmu. Adapun cakupan ilmu farmakologi diantaranya meliputi: Farmakognosi, Biofarmasi, Farmakokinetika, Farmakodinamika, Farmakoterapi dan Toksikologi.

Pengertian obat
Obat: semua zat baik kimiawi, hewani maupun nabati yang dalam dosis yang layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya.

Sejarah perkembangan obat
Sebagian besar, perkembangan obat dimulai dari aspek trial and error berdasarkan data dan pengamatan kepada lingkungan sekitar.

Trial and error: semua diawali dengan coba-coba dan pengalaman empiris. Pengetahuan secara turun temurun disimpan dan dikembangkan sehingga didapatkan suatu pengembangan obat mulai dari obat bahan alam, obat semisintetik dan obat sintetik.

Contoh:
Strychnin dan kurare: racun yang dipakai panah penduduk Afrika dan Amerika Selatan.
Nitrogen mustard (mustard gas) semula sebagai racun dimanfaatkan sebagai obat kanker.
Efedrin dari tanaman Ma Huang (Ephedra vulgaris) digunakan untuk terapi dekongestan.
Kinin dari kulit pohon kina sebagai antimalaria.
Morfin dari Papaverin somniferum sebagai analgetika kuat;
Digoksin dari digitalis lanata sebagai obat jantung;
Reserpin dan Resinamin dari pule landak (rauwolfia serpentine) sebagai diuretika;
Vinkristin dan Vinblastin dari vinca rosea sebagai obat kanker; Artemisin tanaman qinghaosu (Artemia annua) sebagai obat malaria;
Genistein dari kacang kedelai sebagai antispermatogenesis.
Sulfanilamid dan Penisilin dimana pengembangan dari penemuan penisilin terdahulu oleh Dr. A.Fleming.

Farmakologi ditinjau dari Keilmuan Farmasi yang lain:
Terkait langsung dengan bidang ilmu Farmakognosi, Biofarmasi, Farmakokinetika, Farmakodinamika, Farmakoterapi dan Toksikologi.

Farmakognosi: mempelajari pengetahuan dan pengenalan obat yang berasal dari tanaman dan zat aktifnya. Dikenal obat: obat tradisional, fitofarmaka dan herbal terstandar.

Biofarmasi: mempelajari pengaruh formulasi obat terhadap efek terapinya. Dalam bentuk sediaan mana obat harus dibuat agar menghasilkan efek optimal.

Farmakokinetika: menpelajari perjalanan obat mulai dari pada saat pemberian, bagaimana absorbsi dari usus, transport dalam darah dan distribusinya ketempat kerja dan jaringan.

Farmakodinamika: mempelajari kegiatan obat terhadap tubuh, terutama cara dan mekanisme kerjanya, reaksi fisiologis dan efek terapi yang ditimbulkan. Mencakup semua efek yang dilakukan oleh obat terhadap tubuh

Farmakoterapi: mempelajari penggunaan obat untuk mengobati penyakit dan gejalanya.
Toksikologi: pengetahuan tentang efek racun terhadap tubuh. Sola dosis facit venenum (hanya dosis yang membuat racun: pada hakekatnya setiap obat dalam dosis tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme)

Untuk mengetahui bagaimana obat bisa bekerja dan menimbulkan efek dalam tubuh, maka harus diketahui berbagai aspek yang berperan.

ASPEK-ASPEK BIOFARMASI:
Sebelum obat bekerja menuju targetsite, proses yang terjadi: fase biofarmasi, fase farmakokinetika, dan fase farmakodinamika.

1. Fase Biofarmasi:
Biofarmasi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pengaruh pembuatan sediaan terhadap efek terapinya. Efek obat tidak hanya tergantung pada faktor farmakologinya tetapi juga bentuk pemberian dan dari formulasinya.

Faktor formulasi yang mempengaruhi: bentuk fisik zat aktif (amorf, kristal, der kehalusan), bentuk kimiawi (bentuk ester, garam, kompleks), zat pembantu ( pengisi, pengikat, pelincir).
Contoh: Pengaruh bentuk sediaan tablet terhadap efek obat.
Faktor Farmaceutical availability (FA) menyatakan bagaimana kecepatan larut (dalam jumlah) dari obat yang tersedia di in vitro (sistemik) dari bentuk farmasetisnya.
Setelah ditelan tablet akan pecah (desintegrasi) dilambung dan menjadi granul, granul pecah maka zat aktif dibebaskan.
Bila daya larutnya besar maka zat aktif akan melarut dalam cairan lambung/usus. Setelah melarut obat tersedia dan proses resorpsi oleh usus dimulai, peristiwa ini yang disebut FA. 
Gastric emptying time sangat menentukan, biasanya 2-3 jam setelah makan. Urutan melarut: sediaan larutan sempurna, suspensi, serbuk, kapsul, tablet, tablet filmcoated, dragee (tablet salut gula), tablet e.c, tablet kerja panjang (retard, SR).
Faktor Bioavailability (BA) adalah persentase obat yang diresopsi tubuh dari dosis yang diberikan dan tersedia untuk melakukan efek terapinya.
Faktor Kesetaraan Terapetik (bio - equivalence) adalah bagaimana kesetaraan pola kerja (baik kadar atau kecepatan resorpsinya) dari dua obat yang berisi zat aktif dengan dosis yang sama dalam menimbulkan efek suatu obat.




Pengaruh Cara Pemberian Obat terhadap efek:
Pemberian suatu obat untuk mendapatkan efek terapi tergantung pada efek yang diinginkan apakah ingin didapatkan efek sistemik (diseluruh tubuh) dan efek lokal (setempat).
1. Efek sistemik:
Contoh pemberian obat yang memberikan efek sistemik:
Pemberian per-Oral: pemberian melalui mulut, paling umum , praktis, mudah dan aman.
Sublingual: obat diletakkan dibawah lidah, tempat berlangsungnya resorpsi oleh selaput lendir ke dalam vena lidah.
Keuntungan obat langsung masuk tanpa melalui hati penting bila efek yang diinginkan besar, cepat dan lengkap.
Kekurangan: kurang praktis apabila digunakan terus menerus dan merangsang mukosa mulut.
Injeksi: pemberian secara parenteral.
Keuntungan: Dipilih karena efek yang cepat, kuat dan lengkap.
Pilihan pemberian injeksi ditujukan untuk obat yang dirusak oleh asam lambung (hormone) atau yang tidak diresopsi usus (streptomisin) dan untuk pasien yang tidak sadar.
Kerugian: lebih mahal, timbul nyeri, sukar digunakan sendiri. Termasuk: subkutan: dibawah kulit, intrakutan:dalam kulit, i.m, i.v,intra arteri, intra lumbal:antara ruas tulang belakang).
Implan subkutan: pemasukan obat yang berbentuk pellet steril kebawah kulit dengan alat khusus/trocar.
Rektal: pemberian obat melalui rectum/anus.

2. Efek Lokal:
Intranasal: melalui hidung: penggunaan tetes hidung untuk menciutkan mukosa hidung yang bengkak (efedrin. Ksilometazolin)
Intra okuler dan intra aurikuler: dalam mata dan telinga, digunakan obat tetes mata dan telinga. Untuk obat tetes mata, diperhatikan adanya pengaruh resorpsi bahan aktif obat kedalam darah yang dapat menimbulkan efek toksik, contohnya penggunaan atropin.
Intrapulmonal /inhalasi: aerosol: yaitu bahan aktif obat disemprotkan kedalam mulut melalui suatu alat. Obat dihirup dan resorpsi terjadi dimukosa mulut, tenggorokan kemudian kesaluran pernafasan. Karena tanpa melalui hepar maka obat dengan cepat dapat memasuki peredaran darah dan menghasilkan efek. Contoh penggunaan Anestesi umum (eter, halotan) dan Obat-obat Asma (isoprenalindan beklometason)
Intravaginal :Dalam bentuk sediaan salep, ovula yang dalam penggunaannya harus dimasukkan dalam vagina sehingga diharapkan bahan aktif obat dapat melarut dalam cairan vagina. Cth. Metronidazol dan pimarisin pada vaginitis akibat parasit trichomonas dan candida. Penggunaan senyawa Spermacid yang diformulasi dalam bentuk tablet berfoam atau suatu krim.
Kulit/ topical: salep, krim atau lotion.
Kulit merupakan barrier tubuh sehingga secara anatomis kulit yang sehat dan utuh akan sukar sekali ditembus oleh obat. Kesukaran resopsi obat dapat diperbaiki dengan diberikannya suatu senyawa tambahan yaitu senyawa keratolitis dengan tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan melarutkan lapisan tanduk dari kulit.
contoh: asam salisilat, resorsin (3%). Dalam penggunaan sediaan topical, efek sistemik dimungkinkan muncul terutama bila digunakan secara occlusi (kulit yang terpapar suatu sediaan topical ditutupi dengan suatu bahan yang kedap udara (plastic).
Penggunaan plester obat Transdermal: TTS (transdermal therapeutic system): yaitu apabila plester mampu melepaskan obat secara berangsur dan teratur selama beberapa waktu dan langsung masuk dalam pembuluh darah, contoh :plester nikotin, obat anti angina :nitrogliserin : nitroderm TTS

PENGARUH BENTUK SEDIAAN TERHADAP EFEK
BENTUK SEDIAAN
BERPENGARUH PADA KECEPATAN ABSORPSI OBAT. YG TENTUNYA BERPENGARUH PADA INTENSITAS RESPON OBAT.

MACAM BENTUK SEDIAAN (???)
Sebutkan dan berikan contohnya…

BERPENGARUH PADA:
• WAKTU SERAPAN OBAT
• JUMLAH AVAILABILITAS OBAT

UKURAN PARTIKEL BERPENGARUH PADA:
• LUAS PERMUKAAN (???), mengapa ??

BAHAN TAMBAHAN OBAT (???) , sebutkan!!
BERPENGARUH PADA:
WAKTU HANCUR DAN DISOLUSI OBAT

PENGGOLONGAN OBAT BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANGAN FARMASI:

OBAT BERKHASIAT KERAS: DISAMPING MEMPUNYAI KHASIAT MENYEMBUHKAN, OBAT JUGA DIANGGAP BERBAHAYA TERHADAP KESEHATAN DAN KEHIDUPAN DAN TIDAK DIMAKSUDKAN UNTUK KEPERLUAN TEKNIK

Berdasarkan Peraturan Perundangan Obat: DIBAGI 2 GOLONGAN, YAITU:
1.OBAT-OBAT DARI DAFTAR OBAT KERAS (DAFTAR G)
TERMASUK:
ANTIBIOTIKA,
SULFA,
HORMON,
ANTIHISTAMIN UNTUK PEMAKAIAN DALAM SEMUA OBAT INJEKSI

2.OBAT-OBAT DARI DAFTAR OBAT KERAS TERBATAS (DAFTAR W)
TERMASUK:
OBAT YANG PENGGUNAANNYA MASYARAKAT SUDAH DIANGGAP TAHU DAN TIDAK BEGITU MEMBAHAYAKAN.
PENYERAHAN OBAT HARUS LENGKAP DENGAN KEMASAN ASLINYA, KARENA ADA TANDA PERINGATAN YANG HARUS DITAATI, W=WAARSCHUWING=PERINGATAN


GOLONGAN OBAT BEBAS
TANDA KHUSUS:
•LINGKARAN HIJAU DENGAN GARIS TEPI BERWARNA HITAM UNTUK OBAT BEBAS,

•LINGKARAN BIRU DENGAN GARIS TEPI BERWARNA HITAM UNTUK OBAT BEBAS TERBATAS.


PRINSIP- PRINSIP UMUM FARMAKOLOGI
Teori Reseptor
Reseptor obat adalah suatu makromolekul dengan suatu target khusus (efek) yang akan mengikat suatu obat dan menghantarkan obat tersebut menuju target site sehingga dihasilkan efek kerja farmakologis.
Besarnya respon yang dihasilkan (efek farmakologis) tergantung atau sebanding dengan jumlah kompleks obat-reseptor.
Reseptor dapat berupa suatu enzim, asam nukleat atau suatu protein yang binding dengan membran semipermeabel tubuh.
Agonis: adalah suatu konsep dimana senyawa obat berikatan dengan suatu reseptor dan menghasilkan suatu respon biologis.
Suatu agonis dapat berupa obat atau ligan endogen untuk suatu reseptor yang diikat.
Peningkatan konsentrasi agonis akan meningkatkan respon biologis sampai tidak ada lagi reseptor yang dapat mengikat agonis atau respon yang dihasilkan telah maksimal.
Dikenal pula istilah Agonis parsial. Dimana suatu agonis parsial juga dapat menghasilkan respon biologis, tetapi tidak dapat menghasilkan 100% meskipun obat diberikan dalam dosis yang sangat tinggi.

EFIKASI DAN POTENSI SUATU OBAT
Efikasi adalah Respon maksimal yang dihasilkan oleh suatu obat
Potensi adalah ukuran dosis yang diperlukan untuk menghasilkan respon.
Contoh:
Obat X mempunyai respon dalam menurunkan kadar gula darah pada dosis 10 mg. Obat Y mempunyai respon yang sama pada dosis 20 mg. Maka dapat dikatakan kedua obat tersebut mempunyai Efikasi yang sama (penurunan kadar gula darah). Tetapi obat X lebih Poten dibandingkan obat Y.
Karena Obat X membutuhkan dosis lebih sedikit dibandingkan obat Y untuk mendapatkan efek yang sama.
Obat Z dapat menurunkan kadar gula darah hanya sebesar 60% dan memerlukan dosis 50 mg untuk mencapai efek tersebut. Oleh karena itu, obat Z mempunyai Efikasi dan Potensi lebih kecil dalam menurunkan kadar gula darah apabila dibandingkan dengan obat X maupun Y.
Potensi sering dinyatakan sebagai Dosis suatu obat yang diperlukan untuk mencapai 50% efek terapeutik yang diinginkan. Yang dikenal dengan ED50 (Dosis Efektif).

INDEKS TERAPEUTIK (IT)
Indeks terapeutik adalah suatu ukuran keamanan obat. Obat yang mempunyai IT lebih tinggi bersifat lebih aman daripada obat yang mempunyai IT lebih rendah.
Indeks Terapeutik = (LD50 : ED50)
Dosis Letal (LD50) adalah dosis yang membunuh 50% hewan yang menerima dosis tersebut. 
Dosis Toksik (TD50) adalah dosis yang toksik pada 50% hewan yang menerima dosis tersebut. Lethality merupakan toksisitas terakhir. Kadang TD50 digunakan sebagai pengganti LD50.
Indeks terapeutik kadang disalahartikan dengan Jendela Terapeutik.
Jendela Terapeutik adalah Kisaran konsentrasi plasma suatu obat yang akan menghasilkan respon yang diinginkan pada suatu populasi pasien.

ANTAGONIS
SENYAWA ANTAGONIS: SENYAWA YANG DAPAT MENETRALISIR ATAU MENGHILANGKAN RESPON KLINIS SENYAWA AGONIS.

UMUMNYA SENYAWA ANTAGONIS MEMPUNYAI STRUKTUR KIMIA YANG MIRIP DENGAN SENYAWA AGONIS.

PENGGOLONGAN SENYAWA ANTAGONIS, BERDASARKAN FASA KERJA OBAT:
1.ANTAGONIS KETERSEDIAAN FARMASETIK
MENYEBABKAN KETERSEDIAAN OBAT DALAM FASA FARMASETIK MENURUN

KARENA

BERKURANGNYA KUANTITAS (PELEPASAN BENTUK ZAT AKTIF OBAT) ATAU MENURUNNYA KECEPATAN PELEPASAN SENYAWA AKTIF DARI SEDIAANNYA.

PENYEBAB UTAMA NYA ADALAH
•KETIDAKSESUAIAN (INCOMPATIBILITY) ANTARA OBAT YANG DIKOMBINASIKAN
•INCOMPATIBILITY KIMIA FISIKA

2.ANTAGONIS KETERSEDIAAN BIOLOGIS/ ANTAGONIS FARMAKOKINETIK
DISEBABKAN OLEH:
A.MENURUNNYA ABSORPSI OBAT DALAM SALURAN CERNA
B.MENINGKATNYA EKSRESI OBAT AKTIF
C.MENINGKATNYA PROSES BIOINAKTIVASI OBAT
D.MENURUNNYA PROSES BIOAKTIVASI OBAT
E.MENURUNNYA KADAR OBAT AKTIF AKIBAT INTERAKSI KIMIA

ANTAGONIS FARMAKOKINETIK,
MENYEBABKAN:
•KETERSEDIAAN BIOLOGIS/ BIOAVAILABILITAS OBAT MENURUN
SEHINGGA
•KADAR OBAT DALAM DARAH DAN JARINGAN JUGA MENURUN

3.ANTAGONIS PADA JARINGAN /PLASMA DAN RESEPTOR
DISEBUT JUGA ANTAGONIS FARMAKODINAMIK
MENYEBABKAN:
PENGARUH TERHADAP INTERAKSI OBAT DENGAN RESEPTOR
SEHINGGA
AFINITAS MENURUN, EFIKASI MENURUN DAN EFEK OBAT MENURUN

EFEK TERAPEUTIS
Jenis pengobatan:
a.Terapi Kausal: dimana penyebab penyakit ditiadakan. Khususnya pemusnahan kuman, virus dan parasit. Contoh: kemoterapeutika (sulfonamide, antibiotika, antimikotika, fungisida, obat malaria.
b.Terapi simptomatis: hanya gejala penyakit yang diobati dan diringankan, penyebabkan yang lebih spesifik tidak dipengaruhi. Contoh: analgetika pada nyeri atau sakit kepala, obat hipertensi, obat cardiovascular.
c.Terapi substitusi: obat menggantikan zat yang lazimnya dibuat oleh organ yang sakit. Contoh: insulin pada diabetes karena produksinya oleh pancreas kurang, tiroksin pada fungsi tiroid berkurang, estrogen pada hipofungsi ovarium.
Faktor yang mempengaruhi:
•Cara dan bentuk pemberian
•Sifat fisikokimiawinya yang menentukan absorpsi, biotransformasi, dan eskresinya
•Fungsi fisiologis pasien (fungsi hati, ginjal, usus, peredaran darah)
•Faktor individual lainnya (suku/ras/etnik, jenis kelamin, luas permukaan tubuh, kebiasaan makan)
Patient compliance (kesetiaan pasien)
Penggunaan antibiotic yang tidak sesuai aturan dapat menyebabkan reseistensi, disamping itu juga dapat menekan biaya pengobatan dengan tingkat kesembuhan yang tinggi.

PLASEBO
Salah satu faktor penting penentu efek terapi adalah kepercayaan atas dokter dan obat yang diberikan.
Plasebo adalah sediaan obat tanpa kegiatan farmakologi dan diberikan hanya untuk menyenangkan pasien dan memenangkan bahkan untuk meninggikan moralnya misalnya untuk penyakit yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi.

Efek Obat Yang Tidak Diinginkan
a. EFEK SAMPING adalah segala khasiat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang dianjurkan.
Obat yang ideal dapat bekerja cepat dalam waktu tertentu dan selektif yaitu hanya pada keadaan yang dituju tanpa aktivitas lain. Ada kalanya efek samping dikembangkan obat lain contoh antihistamin dikembangkan untuk psikofarmaka dari gol klorpromazin.
Idiosinkrasi adalah bila suatu obat memberikan efek yang secara kualitatif total berlainan dari efek normalnya.
Disebabkan oleh kelainan genetic contoh: Anemia hemolitis (kekurangan darah akibat terurainya eritrosit) akibat pemberian primaquin.
Alergi,
contoh seseorang diberikan antibiotika penisilin, dalam darah, antibiotik akan binding dengan protein. Penisilin disebut hapten dan komplek prot-penisilin dinamakan antigen, yang nantinya akan mendorong tubuh untuk membentuk zat penangkis/antibody
Pasien yang sensitive dan rentan berlebih/hipersensitif, apabila diberikan penisilin kemungkinan besar akan mengalami reaksi antigen dan antibody yang dinamakan reaksi alergi.

EFEK TOKSIS
Hebatnya reaksi toksis berhubungan dengan tingginya dosis, bila dosis diturunkan maka efek toksis dapat dikurangi pula.
Efek teratogen, obat teratogen adalah obat yang pada dosis terapeutik untuk ibu dapat mengakibatkan cacat pada janin.
Cth. Thalidomid dapat mengakibatkan focomelia (kaki, tangan spt singa laut).

TOLERANSI DAN ADIKSI
Toleransi adalah peristiwa dinaikkannya dosis obat secara terus menerus untuk mencapai efek terapi yang sama.
Tachifylaxis adalah toleransi yang timbul dengan cepat sekali, bila pemberian obat diulang dalam jangka waktu singkat, cont. penggunaan efedrin dan propranolol dalam tetes mata terhadap glaucoma.
Adiksi dibedakan 2 macam yaitu: Adiksi dengan ketergantungan jasmani dan rohani dan Gejala yaitu apabila seseorang mengalami efek hebat baik fisik atau mental akibat penghentian penggunaan obat.
Cont. adiksi drugs (morfin, heroin, kokain) digantikan dengan pemberian metadon dengan dosis sama kemudian secara perlahan diturunkan sampai pasien bebas obat.
Amfetamin dapat juga menimbulkan toleransi dan adiksi tetapi tidak sekuat narkotika.

RESISTENSI
Jenis resistensi:
Resistensi bawaan/primer: yang secara alamiah terdapat pada kuman, cont. terdapatnya enz pada stafilokoki yang dapat menguraikan antibiotika. (penisilinase yang dapat merombak penisilin dan sefaloridin)
Resistensi yang diperoleh/sekunder adalah akibat kontak dari kuman dengan suatu kemoterapi dan biasanya disebabkan oleh terbentuknya jenis kuman baru dengan ciri yang berlainan.
Mutan ini akan memperbanyak diri dan menjadi suku baru yang resisten.
Disamping juga dikenal dengan adaptasi yaitu bakteri menyesuaikan diri terutama metabolismenya untuk melawan efek obat.
Resistensi episomal, tipe resistensi ini pembawa faktor genetic berada diluar kromosom(pendukung sifat genetic) dan faktor R (resistensi)yang disebut episom atau plasmid yang terdiri dari DNA dan dapat ditulari oleh kuman lengan penggabungan atau kontak sel dengan sel.
Resistensi silang (cross resistence) adalah kejadian dimana bakteri yang resisten terhadap antibiotika adalah resisten juga terhadap semua derivatnya, cont. penisilin dengan ampisilin dan amoksisilin.

DOSIS
Dosis yang diberikan harus menghasilkan efek terapi dengan tergantung pada faktor usia, berat badan, kelamin, luas permukaan tubuh, beratnya penyakit.
Dosis dan takarannya pedoman resminya pada Farmakope Indonesia.
Dosis maksimal adalah dosis yang bila dilampaui dapat mengakibatkan efek toksis dan bukan merupakan batas yang harus mutlak karena tergantung dari faktor diatas.
Dosis lazim adalah dosis rata-rata yang biasa/lazim memberikan efek yang diinginkan.
Acuan dosis dengan berat badan, untuk orang barat dewasa rata rata 150 pound= 68 – 70 kg) Untuk orang Indonesia berat rata-rata 50 kg sehingga didapatkan dosis yang lebih kecil takarannya.

USIA
Geriatri/ lansia yaitu orang yang berusia diatas 65 tahun, lebih peka terhadap obat karena sirkulasi darahnya berkurang, fungsi hati dan ginjal turun sehingga eliminasi obat lebih lambat.
Jumlah albumin lebih sedikit sehingga pengikatan obat menjadi kurang akibatnya jumlah obat bebas dan aktif lebih besar akibatnya bahaya keracunan lebih besar.
Dosis lansia
Usia 65-74 tahun: dosis biasa dikurangi (–) 10%;
Usia 75-84: dosis biasa (–) 20% dan,
Usia >85: dosis biasa (–) 30%
Dosis Bayi (neonatus),
Bayi menunjukkan kerentanan yang besar thd obat karena fungsi hati, ginjal dan enzimnya belum berkembang sempurna. Sehingga diperlukan penurunan dan penyesuaian dosis terhadap dosis lazim
Contoh: Penggunaan obat kloramfenikol dan gol sulfonamida, karena belum aktifnya enzim pada bayi maka eliminasinya berjalan lambat, akibatnya keberadaan obat didalam tubuh menjadi lebih lama, sehingga dikuatirkan terjadi penumpukan obat yang bisa berakibat munculnya ketoksikan.

Untuk mengetahui bagaimana obat dapat bekerja didalam tubuh, maka harus diketahui berbagai prinsip-prinsip farmakokinetika.

PRINSIP-PRINSIP FARMAKOKINETIK:
Farmakokinetika didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan tubuh terhadap obat melalui : adsorbsi, resorpsi, transport / distribusi, biotransformasi/metabolisme, distribusi dan eksresi.
Atau farmakokinetika mempelajari perubahan konsentrasi dari obat dan metabolisme di dalam darah dan jaringan sebagai fungsi dari penggunaan obat
Kompartemen /Bagian
Tubuh kita dianggap sebagai suatu ruang besar yang terdiri dari kompartemen/bagian yang berisi cairan dan antar kompartemen dipisah oleh membrane sel.
Yang terpenting adalah:
•Saluran lambung-usus,
•System peredaran darah,
•Ruang ekstra sel (diluar sel),
•Ruang intrasel (didlm sel) dan
•Ruang cerebrospinal (sekitar otak dan sumsum tlg blkg).

1.Sistem transport
Fungsinya menstranspor obat ketempat aksinya. Molekul obat dapat melintasi membrane semipermeabel berdasarkan perbedaan konsentrasi.
Transpor pasif: tidak menggunakan energi. Cth perjalanan obat dalam melintasi dinding pembuluh ke ruang antar jaringan / interstitial.
Transpor aktif: memerlukan jaringan, pengangkutan dilakukan dengan mengikat zat hidrofil / makromolekul atau ion pada suatu protein pengangkut spesifik yang umumnya berada di membrane sel/ carrier.
Setelah membrane dilintasi maka obat dibebaskan kembali.
Berbeda dengan transport pasif, cepatnya penerusan obat pada transpor aktif tidak tergantung pada konsentrasi obat.

2. Resorpsi
Umumnya penyerapan obat dari usus ke dalam sirkulasi berlangsung melalui filtrasi, difusi dan transport aktif.
Molekul yang besar diangkut dengan system limfe ke dalam darah, zat hidrofil yang melarut dalam cairan ekstrasel diserap dengan mudah sedangkan zat yang sukar larut lebih lambat diresorpsi.
Kecepatan resorpsi tergantung pada bentuk pemberian obat, cara pemberian dan sifat fisiko kimiawi dari obat.
Resorpsi obat dari usus kedalam sirkulasi sistemik berlangsung cepat bila obat diberikan dalam bentuk terlarut (cairan, sirop atau obat tetes).
Obat padat (tablet, kapsul atau serbuk) lebih lambat karena harus dipecah dahulu dan zat aktifnya dilarutkan kedalam cairan lambung/usus.
Dissolution rate/kecepatan larut partikel obat sangat penting perannya, semakin halus maka semakin cepat larut dan resorpsi obatnya.
Pemberian obat secara injeksi intravena efek yang dihasilkan tercepat karena obat langsung masuk dalam sirkulasi sistemik.
Efek yang lebih lambat diperoleh pada injeksi i.m dan efek paling lambat lagi dengan injeksi subkutan karena obat harus melewati banyak membrane sel sebelum tiba pada peredaran darah.

3. Biotransformasi
pada dasarnya obat merupakan zat asing bagi tubuh yang tidak diinginkan karena dapat merusak dan mengganggu sel tubuh. Sehingga tubuh akan berupaya merombak zat asing tsb dan sekaligus membuatnya bersifat lebih hidrofil agar memudahkan proses eksresi oleh ginjal.
Obat yang diserap usus kedalam sirkulasi sistemik, lalu diangkut melalui system pembuluh porta (vena porta) yang merupakan suplay darah utama dari daerah lambung-usus-hati.
Pemberian sublingual, intrapulmonal, transkutan, injeksi dan per rectal, pada system porta ini tidak dilalukan pada hati.
Dalam hati, seluruh atau sebagain obat mengalami perubahan kimiawi secara enzimatis dan umumnya hasil perubahannya(metabolit) menjadi tidak atau kurang aktif lagi.
Proses ini dinamakan detoksifikasi/bioinaktivasi (pada obat dinamakan first pass effect).
Namun ada pula obat yang justru khasiatnya menjadi lebih kuat (bioaktivasi).
Contoh obat yang menjadi lebih aktif:
kortison dan prednisone menjadi kortisol dan prednisolon,
fenasetin dan kloralhidrat menjadi parasetamol dan trikloretanol,
primidon dan levodopa menjadi fenobarbital dan dopamine.
Adapula Obat yang mempunyai aktivitas yang sama dengan metabolitnya: contohnya: klorpromazin, efedrin dan seny.benzodiazepin.

Faktor lain yang mempengaruhi kecepatan biotransformasi:
a.fungsi hati, pada gangguan fungsi hati, metabolisme terjadi lebih cepat atau malahan lebih lambat sehingga obat menjadi lebih lemat atau lebih kuat dari yang diharapkan.
b.Usia, pada bayi yang baru lahir (neonatus) semua enzim hati belum terbentuk lengkap, sehingga reaksi metabolismenya menjadi lambat (terutama pembentukan glukuronid) antara lain pada kloramfenikol, asam nalidiksat, sulfonamide, diazepam, barbital, asetosal dan petidin. Sehingga untuk menghindari over dosis dan keracunan, obat ini perlu diturunkan dosisnya.
Sebaliknya obat yang metabolismenya berlangsung cepat pada anak dibandingkan orang dewasa, cth. Anti epileptika: fenitoin, fenobarbital, valproat dan etosuksimida, maka dosis obat harus dinaikkan berdasarkan ukuran kadar obat dalam plasma.
Orang yang berusia lanjut (geriatric) mengalami kemunduran pada proses fisiologinya, antara lain fungsi ginjal dan filtrasi glomeruli, sedangkan jumlah total air-tubuh dan albumin-serum berkurang, begitu pula enzim hatinya.
Hal ini menyebabkan terhambatnya biotrasformasi, yang sering menimbulkan efek kumulasi, overdosis dan keracunan. Cth. Obat jantung digoksin, propranolol, fenilbutazon. Pada fenitoin justru dirombak lebih cepat sehingga efek lebih singkat.
c.faktor genetic, ada orang yang tidak memiliki enzim asetilasi sulfadiazine atau INH sehingga perombakan INH menjadi lambat sekali.
d.Penggunaan obat lain, obat yang bersifat lipofil dapat menstimulasi pembentukan dan aktivitas enzim hati yang dikenal induksi enzim. Ada pula obat yang menghambat atau menginaktifkan enzim (inhibisi enzim): antikoagulansia, antidiabetika oral, sulfonamide, antidepresiva trisiklis, metronidazol, alopurinol dan disulfiram.

4.Distribusi
Distribusi obat ke berbagai kompartemen tubuh dapat terhambat oleh pengikatan obat dengan protein, karena molekul besar sukar melintasi membrane sel.
Sebaliknya obat bebas yang tidak terikat dan aktif mudah melalui membrane.
Semakin besar persentase pengikatan maka semakin rendah pula kadar obat bebas.
Beberapa obat dapat memperlihatkan kumulasi pada setiap kompartemen.
Karena konsentrasi obat di jaringan atau organ tinggi maka adakalanya kumulasi dapat mengobati penyakit yang terdapat pada organ tersebut.
Contoh: Glikosida digitalis (obat jantung): dikumulasikan dalam otot jantung.
Griseofulvin (antijamur) dikumulasikan pada kuku dan rambut. Klorpromasin pada otak, Iod pada kelenjar tiroid.
Disamping itu tempat kumulasi juga dapat dipakai untuk memprediksi efek samping dan toksik. Cont. Logam dan tetrasiklin dikumulasikan pada tulang dan gigi (kuning) oleh karena itu jangan diberikan pada anak kecil yang giginya masih dibentuk (< 8th).
Kalsium ditimbun pada jaringan kolagen (jar pengikat), Arsen dikumulasi pada rambut dan kuku

5. Eksresi
Pengeluaran obat atau metabolitnya dari tubuh oleh ginjal melalui urin disebut eksresi.
Disamping melalui kulit: bersama keringat (gol paraldehid dan bromide), paru-paru: melalui pernafasan (alcohol, halotan, siklopental), empedu: dikeluarkan oleh hati dengan empedu (fenolftalen:pencahar). ASI: alcohol,obat-obat tidur, nikotin(rokok) dan alkaloida (berhubung pH ASI antara 6,7 dan lebih rendah dari pH darah.
Yang perlu diperhatikan adalah obat yang dieksresikan dalam jumlah berlebih melalui ASI seperti Penisilin, kloramfenikol, INH, Ergotamin, antikoagulansia, antitiroida. Karena system enzim hati pada bayi belum berkembang sempurna.
Usus: zat yang tidak atau tidak lengkap diresopsi oleh usus akan dikeluarkan lewat tinja (gol sulfa, neomisin, preparat Fe).
Ginjal: kebanyakan obat dikeluarkan melalui air kencing dan umumnya tiap obat dieksresikan berupa metabolitnya dan hanya sebagian kecil dalam keadaan asli yang utuh.
Zat-zat dalam keadaan ion (mudah terionisasi) lebih mudah larut di air kencing dan dieksresikan dengan mudah.

Zat lipofil lebih lambat eksresinya, sehingga untuk meningkatkan sifat hidrofilnya maka pada proses biotransforamasi dimasukkan gugus –OH atau –COOH kedalam molekulnya sehingga dapat teroksidasi dan terkonjugasi pada rantai samping dan keasaman asam lemak dinaikkan sehingga terjadi proses disosiasi dan demikian juga eksresinya juga diperkuat.

6. Konsentrasi Plasma
Fungsinya:
Untuk menilai obat secara klinis,
Menetapkan dosis dan skema penakaran,
Mengenai kadar obat ditempat tujuan (targetsite) serta
Melihat perubahan kadar obat dalam satuan waktu.
Besarnya efek obat sangat tergantung pada konsentrasi di target site.
Penggunaan kurva konsentrasi-waktu berguna pada pemberian obat dengan dosis terapi dekat dengan dosis toksiknya (indek terapi sempit).
Fungsi ginjal dan hati yang terganggu juga menyebabkan efek eliminasi obat diperlama sehingga menyebabkan kadar obat menumpuk dalam tubuh dan dapat memicu keracunan

7. Plasma half-life (t1/2 eliminasi)
Turunnya kadar obat dan durasi obat tergantung pada kecepatan metabolisme dan eksresi (kecepatan eliminasi).
Yang dinyatakan dalam plasma half-life eliminasi (waktu paruh, t1/2 eliminasi), adalah rentang waktu dimana kadar obat dalam plasma pada fase eliminasi menurun sampai separuhnya.
Untuk data darah: 3-5 X t ½ eliminasi, data urin: 7-10 X t ½ eliminasi dimana kadar obat sudah tereliminasi 99,9 % dari dalam tubuh.
Fungsi organ eliminasi spt kerusakan hati dan ginjal half life dapat meningkat.
Cth: pada peny ginjal: t ½ penisilin bisa naik dari 0,5 jam sampai 10 jam.
Dan t ½ streptomisin dari 2,5 jam bisa menjadi 60 jam.
Cara pemberian juga menentukan half-life:
Penisilin injeksi iv t ½ dari 2-3 menit dan pada po menjadi 1-2 jam.
AUC (Area Under the Curve) adalah gambaran obat dalam plasma dibawah kurva yang menggambarkan naik turunnya kadar obat dalam satuan waktu.
AUC merupakan ukuran bioavailabilitas suatu obat.

8. Dosis dan Skema aturan pakai
Plasma half-life merupakan gambaran ukuran lamanya efek obat, maka t ½ sebagai dasar untuk menentukan dosis dan frekuensi pemberian obat yang rasional (berapa kali sehari dalam sekian mg).
Dosis yang terlalu tinggi atau terlalu frekuen dapat menimbulkan efek toksis, sedangkan dosis yang terlampau rendah dan jarang tidak akan menghasilkan efek bahkan pada pengobatan kemoterapeutika dapat menimbulkan resistensi kuman.
Obat dengan half-life panjang, lebih dari 24 jam dapat diberikan dosis satu kali sehari dan tidak perlu 2 atau 3 kali.
Sebaliknya untuk obat yang dimetabolisme cepat dan t ½ eliminasinya pendek maka pemberian bisa berulang agar kadar plasma tetap tinggi.

MIC (Min Inhibitory Cons) dan MEC (Min Effective Cons)
Untuk menimbulkan efek terapi obat harus berada di atas grafik MIC / MEC.
Agar efek cepat seringkali dimulai dengan loading dose (dosis yang tinggi) agar kadar plasma meningkat ke konsentrasi aktif.
Contoh penggunaan antibakteri sulfonamide disusul dengan dosis pemeliharaan (separuhnya setiap 6 jam) dengan demikian akan terpelihara kadar obat dalam darah.
MIC merupakan kadar obat dimana kuman tidak tumbuh dan berkembang lagi, bagi obat selain antibakteri digunakan MEC yaitu besarnya obat dalam kadar plasma dimana obat baru bisa menimbulkan efek terapi yang diinginkan.

Untuk bakterisid (penisilin) diperlukan kadar yang tinggi sekali yang tidak perlu kontinyu sehingga dapat diselingi dengan kadar yang lebih rendah,
Untuk bakteriostatik (sulfonamide dan tetrasiklin) perlu diperhatikan adalah kadar plasma harus selalu berada diatas MIC agar kuman tidak diberikan kesempatan berkembang biak lagi.


PRINSIP FARMAKODINAMIKA
Mekanisme Kerja Obat
a. Secara Fisika.
Berhubungan dengan sifat obat: lipofilisitas: Obat dengan sifat ini diperkirakan melarut dalam lapisan lemak dari membrane sel.
Osmosis: proses ini menarik air dari sekitar, sehingga volume isi usus bertambah besar
(contoh pencahar osmotis: akibatnya menimbulkan rangsangan mekanis dinding usus dan memicu peristaltic kolon)
b. Secara Kimiawi
Antasida lambung, chelating agent. Antasida dapat mengikat kelebihan asam lambung melalui reaksi netralisasi. Zat khelasi mengikat ion logam berat pada molekulnya. Komplek yang terbentuk tidak bersifat toksik lagi dan mudah dieksresikan.
c. Melalui proses metabolisme
Antibiotika dalam kerjanya dapat mengganggu pembentukan dinding sel kuman, sintesis protein atau metabolisme asam nukleat (dan itu tidak terjadi pada sel tubuh manusia).
Antibakteri (AB) mencegah pembelahan intisel,
Diuretika menghambat atau menstimulasi proses fitrasi glomerulus.
Contoh Probenesid dapat menyaingi kerja der. Penisilin pada sekresi tubuler sehingga eksresi diperlambat dan efeknya diperpanjang.
d. Secara kompetisi, dibedakan kompetisi antara reseptor spesifik dan untuk enzim.
Reseptor: Semua proses fisiologis tubuh diregulasi oleh zat pengatur kimiawi (regulator endogen) yang mempunyai titik kerja spesifik (reseptor) disatu atau lebih organ terutama hormone dan neurotransmitters (noradrenalin, serotonin, dopamine) dan setiap zat/obat mengetahui dengan tepat dimana letak sel atau organ tujuannya.
Letak reseptor ini pada membrane sel yang merupakan komplemen (kunci) dengan struktur ruang dan muatan ion dari obat yang bersangkutan (anak kunci). System ini sesuai dengan prinsip kunci-anak kunci.
Reseptor-blocker: Obat yang mempunyai struktur kimia mirip dengan suatu hormone mampu menduduki reseptor sehingga mampu merintangi aktivitas hormone tersebut.
Contoh: Histamin (hormone jaringan H1 dan H2) mampu diblok oleh antihistamin.
Enzim
Enzim terdiri dari protein dan bekerja sebagai katalisator yaitu mempermudah dan mendorong suatu reaksi tanpa ikut bereaksi.
Pada permukaan enzim terdapat suatu tempat aktivasi dimana apabila terdapat 2 zat kimia yang berada dalam sirkulasi sistemik dapat ditangkap sehingga interaksi bisa berlangsung.
Tanpa enzim, kedua zat tidak akan kontak dan bergerak terus dalam plasma.
Enzim juga punya kemampuan merombak molekul dari obat yang disebut substrat.
Enzim-bloker. Yaitu obat tertentu yang mempunyai kesamaan struktur dengan substrat dan mampu menduduki tempat aktivasi dari enzim yang bersangkutan sehingga reaksi normal tidak terjadi dan produk akhir tidak terbentuk.
Induksi enzim: menstimulasi terbentuknya enzim yang menguraikan obat yang diberikan. Cth. Barbital dan fenilbutazon
Reseptor sekunder: mengakibatkan jumlah obat yang menduduki reseptor akan turun sehingga efek yang dihasilkan juga turun karena bentukan ekstra dari obat yang diberikan, cth.morfin
Penghambatan resorpsi setelah pemberian oral, cont. habituasi akibat preparat arsen.
Jadi dengan meningkatnya dosis maka efek samping yang dihasilkan akan lebih kuat bahkan bisa menyebabkan toksik.