Senin, 30 November 2009

Paus Matahari


Musyrikin Babilonia memuja matahari sebagai dewa, dan musyikin Roma juga memuja matahari. Gereja Katolik Roma, dengan bantuan Konstantin, mengubah hari kebaktian dari hari Sabtu ke Minggu (Sunday = hari Matahari) dan biasanya menggunakan lambang dan gambaran matahari. Pada hari itu, para hakim dan semua penduduk kota dibiarkan beristirahat dalam rangka memulyakan matahari.

Naskah kuno Justinianus mengatakan bahwa pada hari yang digunakn untuk memuliakan matahari, dibiarkanlah para hakim beristirahat, dan dibiarkan semua tempat kerja tertutup. Namun di negeri itu, orang-orang yang terlibat dalam pertanian boleh dengan bebas dan dengan sah melanjutkan pekerjaan mereka; sebab biasanya pada hari berikutnya itu tidak terlalu bagus untuk menanam anggur.

Di samping kiri ini adalah suatu tablet dari awal abad ke 9 SM yang melukiskan Dewa Matahari Babilonia, yang bernama Shamash, duduk di sisi kanan, memegang lencana kekuasaannya, sebuah tongkat dan cincin, dan raja dengan dua penjaga pada sisi kiri. Di tengah, pada suatu altar, adalah matahari dengan 4 sinar utama ditambah dengan sinar yang berombak kecil diantara sinar-sinar utama itu. Klik gambar tersebut, dan Anda akan masuk ke Musium Britania, di mana Anda dapat melihat dan membaca tulisan sekitar tablet ini yang melukiskan dewa matahari, Shamash.

Lambang tersebut nampak lagi pada Paus. Perhatikan salib hitam kecil pada bahunya (bandingkan juga dengan gambar di bawah), pada apa yang disebut Pallium:“Pallium modern adalah suatu pita melingkar selebar kira-kira dua inci, dikenakan di leher, dada, dan bahu, dan mempunyai dua pendant, satu tergantung di depan dan satu di belakang…. Ornamen pallium terdiri dari enam salib hitam kecil– di dada, di punggung, bahu kiri dan kanan, dan pada pendant yang di depan dan di belakang.”

Di bawah pada sisi kiri adalah suatu batu Neo-Asyiria (stele/stela) bertanggal sekitar 824-811 SM, yang melukiskan Raja Shamshi-Adad V. Perhatikan kalung yang dikenakan Raja. Padanya terdapat apa yang saat ini disebut Salib Maltese. Dua ribu delapan ratus (2.800) tahun yang lalu, bentuk itu adalah simbol pemujaan matahari.

Dewasa ini, Paus memakai lambang yang serupa di sekitar leher dan dadanya, pada Pallium, yang mana Paus juga menganugerahkannya kepada uskup terpilih sebagai ornamen, dan ini juga dikenakan oleh uskup besar dan uskup sebagai lambang otoritas mereka, berasal dari kesatuan dengan Paus. Paus juga mempunyai suatu tongkat dan cincin otoritas, sungguh serupa dengan lukisan dewa matahari Shamash pada Tablet Babilonia yang ditunjukkan sebelumnya.

Perhatikan tangan Raja Asyur Nasir Pal II yang lebih rendah pada stele di atas. Pada pergelangan tangannya terdapat lambang pancaran matahari. Pada sisi kanan, pancaran matahari musyrik itu terdapat pada sarung tangan Sri Paus Yohanes XXIII.

Lukisan raja pagan pada batu stela di atas, menunjukkan suatu potongan kain (lappet) menggantung dari belakang tutup kepala itu. Lappet ini juga terlihat pada tiara kepausan, seperti ditunjukkan pada gambar di atas.

Dagon Ibrani

Dagown, daw-gohn’; dewa ikan; Dagon, dewa orang Palestina kuno: Dagon. Dagon berarti “seekor ikan”. Dewa kesuburan Palestina kuno; dilambangkan dengan tangan dan wajah seorang laki-laki dan ekor ikan

Bentuk seperti ikan adalah suatu lambang kesuksesan, dan sepertinya diadopsi oleh suku bangsa yang berlayar di laut di dalam menggambarkan dewa mereka. Roma, yang dapat menaklukkan laut dengan mudah, mengadopsi agama misteri dari orang Palestina. Di sini kita melihat ukiran dan diagram pendeta Dagon dan topi kepala ikan mereka di samping gambar Sri Paus dengan topi kepala ikan yang sama. Ukiran pada sisi kiri menunjukkan pendeta Dagon yang mencipratkan air suci.

Minggu, 29 November 2009

Fakta MEMALUKAN yang terjadi pada Manusia Ind-ONE-sia

1.Teknologi .:
  • Merasa paling ganteng dan cantik sejagad maya, aslinya sih buruk rupa..
  • Sok kecantikan ntar diculik lho..
  • Menciptakan model dan fotografer professional dalam semalam.
  • Tempatnya orang tidak menjadi dirinya sendiri.
  • Biar kondor asal kesohor, masyarakat mayoritas menengah kebawah dengan daya beli konsumtif perangkat teknologi yang tinggi.
  • Menjadikan teknologi sebagai status sosial tanpa mengenal fungsi dan manfaat.
  • Penyalahgunaan teknologi akibat dari ketidaksiapan pendidikan dan pengetahuan.

  2.Pendidikan .:
  • Kelas mirip ama kandang ayam, tempat makan ama berak tersedia, bedanya gak ada tempat bertelor doang.
  • Mutu pendidikan cuma cukup sebagai bekal jadi jongos.
  • Pembodohan generasi penerus bangsa ditanamkan sejak dini.
  • Dana bantuan pendidikan yg gak bikin pinter malah dikorupsi pula..
  • Yang ngajar laper, yang diajar kelenger.

  3.Budaya .:
  • Latah berkoar” mempertahankan kekayaan seni budaya setelah dicuri ama malingsia. Inget, pencuri gak bakal bisa ngambil sesuatu yang dijaga ama pemiliknya gan..
  • Ketertarikan, keperdulian dan kecintaan bangsa asing akan senibudaya Indonesia lebih besar dibanding anak negeri.
  • Di negeri orang seni budaya jadi pertunjukan bergengsi, di negeri sendiri jadi bahan ngamen.
  • Bangga berbudaya barat tanpa mencintai budaya sendiri.
  • Budayakan murah senyum dan ramah tamah, gak nyadar kalo sedang dijajah.
  • Beragam suku, etnis dan kebudayaan yang berbeda sebagai bom waktu yang siap meledakkan peperangan antar suku.

4.Pertelevisian.:
  • Suguhan informasi yang fiktif demi shaf terdepan.
  • Berbondong” bikin program acara menjual mimpi.
  • Maraknya sinetron tolol yang dibuat berdasarkan cerita fiksi dengan kebodohan yang betul” nyata.
  • Reality Show yang lebih mengarah pada kebohongan publik. Temen ane pernah maen untuk beberapa episode..
  • Maraknya infotainment yang isinya mengumbar aib orang dan info yang gak penting. Malah presenternya ndiri yg bermasalah..
  • Jin ditangkepin, koruptor dilepasin.

5.Selebritas.:
  • Sekelompok manusia yang dianugrahi kelebihan fisik, sebagai gantinya jatah otak dikurangin..
  • Banyaknya aktris dan aktor yang dengan bangga bermain dalam sinetron sampah. Materi dan bobot cerita gak mutu, yang penting masi laku..
  • kimpoi aja ama bule, pasti anaknya bakal masuk tipi.

6.Politik.:
  • Sekumpulan kaum intelek yang berahlak tel*k.
  • Taman kanak kanak versi manula.
  • Wakil rakyat, realisasi dari mimpi seluruh rakyat yang berkhayal hidup enak. Makannya gak usah ngimpi kaya, udah ada yang wakilin..

7.Sosial Ekonomi.:
  • Keadilan sosial akan kemiskinan yang secara merata.
  • Kehidupan belangsak jadi alasan kriminal.
  • Yang haram aja susah, apa lagi yang halal.
  • Gak bisa makan sehari bunuh diri.
  • Otak cuma buat ngeberatin kepala, malah sarimin pergi kepasar yang disuruh nyari duit..
  • Rasis sebagai buah hasil tanam dari orde lama.
  • Mau jadi babu di negeri orang atau jadi jongos di negeri sendiri, tinggal nunggu waktu..

8.Hukum.:
Indonesia adalah negara hukum yang sudah sangat sangat terlalu banyak terjadi pelanggaran hukum. 
Apa arti keadilan bagi Negara Indonesia? Keadilan adalah bahasa akhirat. Karena itu keadilan tidak akan pernah terjadi di Indonesia sampai kiamat..

9.Agama.:
  • Munculnya oknum arogan yang seakan paling suci sebagai ahli surga.
  • Muncul aliran sesat yang berkitabkan atas dasar pemikiran mahluk.
  • Barter keyakinan nenek moyang ama 5 bungkus mie keriting tanpa telor.
  • Ilmu tanpa agama dan agama tanpa ilmu menjadikan masyarakat sebagai penjajah dalam negri dan pasukan berani mati dalam ketololan..

10.Alam.:
  • Punya iklim ramah, malah jadinya pemalas
  • Negara maritim, tapi pasokan listrik kurang
  • Negara maritim, tapi garam impor
  • Negara agraris, tapi beras impor
  • Punya banyak satwa langka, malah dibunuhin
  • Kelestarian flora fauna diselamatin ama LSM2 luar negeri, malah dimusuhin

Ini fakta fakta yang bisa ente liat sendiri gan.. Kalo mau nambahin, silahkan.. Kalo gak terima, ya monggo..

Sabtu, 28 November 2009

Tips Aman Untuk Pemudik


1. Jika menggunakan pesawat atau kapal laut harap jangan turun ditengah2 perjalanan
2. Jika menggunakan bus, pastikan bus-nya panjang, ban-nya banyak, dan banyak jendelanya... Jika tidak, itu pasti odong2.
3. Hati2 dengan penumpang yang baik hati menawarkan makanan/minuman, lebih aman jika kita meminta "mentahnya" saja.
4. Hindarkan membawa barang yang tidak perlu, seperti TV, kulkas, kasur dll.

Rabu, 25 November 2009

Membangun dan Menentukan Kehidupan Pribadi


Sebagian besar kita yang fokus pada pengembangan diri pribadi sepertinya tidak akan luput dari pernah membaca tentang “The Secret”. Mungkin sudah banyak juga yang berhasil mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari2 dan mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Di sisi lain, mungkin ada juga yang belum pernah mengenal “The Secret” namun ternyata telah melakukan apa yang disarankan dan dicontohkan dalam “The Secret”. Secara umum, baik yang telah membaca dan belum mengetahui tentang “The Secret” sering kali gagal dalam mengulangi “program masa depan” nya untuk yang kesekian kalinya. Apa penyebabnya? Salah satu penyebab utamanya adalah karena pikiran kita semakin cerdas, yaitu kecerdasan alamiah kita yang membentuk “Self Defence System” (SDS). SDS yang dapat merusak semua teori dan pengalaman yang kita ketahui adalah SDS yang terbentuk dari ketakutan-ketakutan sehingga mempengaruhi kepercayaan diri. Dengan kepercayaan diri yang kurang, kita pun menjadi kurang yakin akan apa yang kita pilih, apa yang kita tempuh dan jalani. Ketika kita menjadi tidak yakin seperti itu, lalu apakah kita akan mencapai apa yang kita tuju? Berapa lamakah? Atau tidakkah suatu ketika kita justru akan berbelok ditengah jalan sebelum mencapai tujuan yang kita tentukan diawal perjalanan.

Untuk menelusuri sehingga kemudian dapat memantapkan kepercayaan diri lebih maksimal maka ada baiknya kita mulai dari :

Mengenali Pikiran

Kita semua hingga diusia saat ini pasti menggunakan apa yang disebut pikiran. Hal yang paling mendasar adalah mengenali apakah pikiran itu. Posisi pikiran begitu penting, pikiran adalah hasil dari kerja otak yang memproses berbagai data yang didapat dari indera-indera. Apa pun yang kita dapat dari sekitar kita yang ditangkap oleh indera-indera kita pasti akan disampaikan ke otak dan akan menjadi catatan yang akhirnya akan disimpan sebagai ingatan, proses ini pasti terjadi sekalipun kita tidak menyadarinya. Data-data yang masuk dan tersimpan, disadari atau tidak tetap akan mempengaruhi proses berpikir kita dalam menerima dan menyikapi data-data baru yang sedang atau akan kita temukan. Data-data yang pernah masuk dan tersimpan kemudian sudah kita anggap sebagai sebuah kebenaran akan membentuk “Belief System” (BS). Dari BS inilah yang akan membentuk SDS.

Data-data yang kita peroleh sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita, dimana kita tinggal, bahkan sejak masih di dalam kandungan. Seorang ibu hamil yang sering berada dalam lingkungan kedamaian, akan membawa sifat sang Bayi yang akan lahir itu lebih condong ke sifat yang damai. Begitu juga jika selama kehamilannya sering berada dalam suasana yang sibuk, bergerak serba secepat mungkin, maka akan membawa sifat sang Bayi yang akan lahir itu lebih condong ke sifat yang aktif, bahkan mungkin hyper aktif. Semua yang dilakukan oleh orang disekitar bayi yang sedang dikandung, yang dapat mempengaruhi kuat kepada sang ibu, pasti juga akan terekam dan tersimpan dalam ingatan sang bayi sebagai data awal. Itulah sebabnya dalam tradisi-tradisi kita selalu diajarkan untuk menjaga sikap dan tingkah laku selama proses kehamilan, mulai dari kedua orang tua sang bayi hingga siapa pun yang berhubungan langsung dengan kedua orang sang bayi. Jadi tradisi-tradisi itu bukanlah mitos, tapi sangat logis.

Perubahan keadaan yang dialami sang bayi ketika terlahir ke dunia ini juga akan memunculkan SDS. Muncul dan bereaksinya SDS itu karena perubahan keadaan, perubahan kenyamanan yang dirasakan. SDS tersebut muncul atas interaksi indera-indera dengan keadaan yang baru yang kemudian diproses dalam otak sang bayi kemudian membandingkan dengan data-data yang tersimpan dalam DNA. Ya, DNA menyimpan begitu banyak data yang dikemas rapi, data yang di dapat dari pengalaman yang pernah direkam oleh orang-orang tua kita, oleh leluhur-leluhur kita, bahkan sejak awal dimulainya keberadaan manusia di muka bumi. Beberapa data yang tersimpan dalam DNA secara otomatis juga sudah dimuat dalam otak kita sebagai data awal. Dimana hal ini pun dipicu oleh aktivitas sang ibu dalam menghadapi persalinan. Dengan begitu cepatnya proses pengolahan data ini, hasilnya, hanya dalam hitungan detik setelah bayi keluar dari kandungan akan melakukan SDS dengan cara menangis untuk memulai paru-parunya menghirup dan menghembuskan udara. Gerak proses data yang berdasarkan data-data yang muncul dari DNA ini sering juga disebut sebagai insting. Jadi sejak kita di dalam kandungan, pikiran pun sudah bekerja memproses data-data yang ditangkap oleh indera-indera kita.

Masuk ke pengalaman setelah berada di luar kandungan, sang bayi pun terus mengumpulkan data-data. Ketika ia lapar atau haus, bayi pun akan bereaksi, reaksi terkuat dari sang bayi ketika kebutuhannya untuk menghilangkan rasa lapar atau haus adalah menangis. Dengan ia menangis, maka akan ada pihak di luar dirinya yang akan datang membantunya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Proses dari ia akhirnya harus menangis agar datang pihak yang membantunya pun terekam sebagai data baru, yang kemudian sangat mungkin akan dia gunakan sebagai bahasa awal dalam berkomunikasi dengan pihak lain di luar dirinya. Jika ada orang tua yang memperhatikan dengan seksama tangisan bayi tersebut, maka akan dapat dibedakan, mana tangisan karena lapar atau haus, mana tangisan karena dia buang air, merasa terganggu dsb.

Sekilas uraian di atas adalah tentang bagaimana proses pengumpulan data sudah sejak dini kita kumpulkan yaitu disaat otak kita mulai terbentuk dan mulai bekerja di dalam kandungan. Dan proses pengumpulan data itu terus berjalan hingga seumur hidup kita. Sehingga dalam dunia psikologi ada disebut usia-usia emas dalam pendidikan anak. Secara garis besar kami akan pecah menjadi dua bagian besar, yaitu usia 0 sampai 5 tahun adalah usia yang sangat penting bagaimana kita menyiapkan mereka dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang akan dia hadapi dalam kehidupan. Dan usia 5 sampai 10 tahun adalah usia yang sangat menentukan tingkat keberhasilan mereka dalam menghadapi kehidupan ini. Jika di usia saat ini, atau di atas usia 20 tahun kita menemukan bagaimana kacaunya kehidupan kita, maka sangat perlu di telusuri bagaimana proses pengumpulan data awal kita disaat usia yang menentukan tersebut, yaitu sejak di dalam kandungan hingga usia 10 tahun. Dengan mengenali proses pengumpulan data awal ini, kita akan lebih mudah menelusuri dimanakah  yang perlu di benahi pada data yang kita miliki. INGAT, hanya untuk membenahi bagaimana data yang kita miliki agar kita dapat membenahi kehidupan yang sedang kita jalani, bukan terjebak di masa lalu apalagi untuk mencari-cari kesalahan orang lain di luar diri kita.


“Belief System” (BS)

Kejadian, informasi dan data apa pun yang ditangkap oleh indera-indera yang sama atau serupa secara berulang-ulang dan atau sering akan membentuk belief system. Sebuah belief system yang paling sederhana adalah nama yang kita sandang, yang diberikan oleh orang-orang sekitar kita sejak kita masih bayi. Sebab, pada dasarnya kita terlahir ke dunia ini tanpa nama, kita hanyalah sesosok bayi mungil yang sering juga diumpamakan sebagai kertas kosong yang siap di isi tulisan. Dalam terminologi yang lebih baru, bayi adalah seperangkat komputer super canggih yang siap diisi data-data dan juga software. Kembali ke nama kita sebagai salah satu belief system yang dibentuk sejak awal keberadaan kita di fase ini. Dengan pengulangan-pengulangan data yang sama yang digunakan untuk memanggil kita, hingga pada pengulangan yang ke sekian kalinya, kita pun akan menganggap bahwa data itu adalah “tentang” memanggil kita. Sehingga kita pun dikemudian hari akan mengidentikkan bahwa diri kita adalah “itu”. Nama kita itu, adalah salah satu contoh dari sekian banyaknya BS yang telah tercipta dan dianggap sebagai kebenaran oleh pikiran kita. BS-BS yang kita kumpulkan sejak masih di dalam kandungan itu selalu dalam kondisi siaga dalam alam Bawah Sadar (BSD) kita. Setiap kali ada kata kunci yang masuk ke pikiran sadar kita melalui indera-indera kita otomatis akan diproses oleh pikiran kita. Sekalipun kita tidak menyadari proses tersebut, proses tersebut tetap berjalan, proses tersebut bekerja di BSD kita. Terkadang, karena begitu cepatnya proses pengolahan data tersebut dan tanpa kita sadari, kita menyebutnya sebagai “tiba-tiba”. Padahal, tidak ada yang tiba-tiba, semua ada proses yang dilaluinya, hanya disadari atau tidak.

Belief system (BS) akan membentuk realita seperti apa yang sering kita pikirkan secara sadar atau pun BSD. Ketika kita sampai pada titik pertanyaan “Kenapa hidup ku seperti ini?”, “Mengapa hal ini terjadi berulang-ulang kali kepada ku?”, dan sebagainya, maka yang perlu di cek adalah BS yang kita miliki, kecenderungan-kecenderungan yang kita bawa di dalam alam BSD. Sebab BS yang kita miliki di BSD kita yang memiliki kecenderungan paling kuat atau dominan otomatis akan memancarkan frekuensi-frekuensi keluar tubuh kita. Frekuensi-frekuensi ini juga disebut sebagai frekuensi pikiran. Frekuensi-frekuensi yang memancar ini akan dipancarkan ke semesta dan kemudian akan merespon kembali dengan frekuensi yang serupa. Rangkuman hasil interaksi atau pancaran pikiran kita ini dalam beberapa terminologi disebut sebagai “Law of Attraction” atau “Karmaphala”. Apa pun yang kita kirimkan ke luar akan kembali kepada kita, ini adalah hukum alam, hukum yang tidak bisa kita menolaknya atau mengubah hasil akhirnya kecuali kita mengubah, atau merancang ulang tentang apa yang akan kita kirimkan keluar, sehingga hasil yang akan kembali ke kita pun akan sesuai dengan yang kita harapkan. Belief System ini cakupannya begitu luas, mulai dari yang terkecil seperti nama kita, tentang benar-salah atau baik buruk yang kita temukan selama pengalaman hidup kita, sampai pada doktrin dan dogma dari agama atau kepercayaan apa pun yang kita anut sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Dari sedikit penjelasan tentang pikiran dan belief system yang semuanya berproses baik secara sadar atau pun bawah sadar, diharapkan kita akan sedikit lebih mengenali siapa diri kita sendiri, bagaimana diri kita sendiri. Dengan kata lain, agar kita lebih mengenali potensi yang kita miliki untuk menentukan ingin seperti apa kita ke masa depan, ingin menuju arah mana kita ke depan. Hal ini sesungguhnya sangat mendasar. Tanpa memahami benar tentang pikiran kita sendiri yang tidak lain adalah yang membentuk kita seperti saat ini, maka kita tak mungkin bisa menentukan seperti apa yang kita inginkan di kemudian hari. Seperti kata-kata bijak yang mengatakan begitu pentingnya mengenali diri sendiri, atau bagaimana pentingnya berpikir yang baik dan benar. Dengan mengenali proses kita berpikir dan kecenderungan-kecenderungan data yang kita miliki sejak dalam kandungan inilah kita akan menuju sebagai orang-orang yang menguasai pikirannya, benar-benar menjadi orang yang berpikir, bukan lagi menjadi orang-orang yang otomatis digiring oleh pikirannya sendiri yang berdasarkan data-data yang tersimpan yang telah menjadi belief system di bawah sadar kita yang belum tentu baik untuk diterapkan, bahkan sangat mungkin justru mempersulit kehidupan kita selama ini dan ke depannya nanti.

Orang-orang yang kita temui dalam hidup, siapa pun dia, entah menyenangkan atau menyakitkan adalah hasil proyeksi pikiran kita sendiri, dan keberadaan mereka akan membantu kita menemukan siapa diri kita, dan akan jadi apa diri kita di kemudian hari.

Masing-masing dari kita, hingga seperti apa keberadaan kita saat ini sangat terkait dengan kecenderungan-kecenderungan yang sering kita temukan sebelumnya. Seseorang yang menjadi preman, seseorang yang menjadi religius, spiritualis, atheis dan sebagainya adalah terkait erat dengan data-data apa yang sering dan berulang kali ditemukannya di masa sebelumnya. Orang yang sejak kecil hidup di lingkungan premanisme, sudah sangat wajar jika nantinya akan menjadi seorang preman. Begitu juga dengan orang-orang yang hidup di lingkungan-lingkungan yang lainnya. Namun itu semua tetap dapat di ubah, semua itu dapat diprogram ulang dengan mengisi data-data baru, data-data dengan kecenderungan-kecenderungan yang baru. Memang hal ini memerlukan kerja ekstra, ketekunan dan kesadaran penuh dalam setiap momen. Itulah sebabnya, tetua-tetua terdahulu sering menggunakan kata “eling lan waspada”. Ya, dengan ingat atau selalu sadar dan waspada terutama kepada pikiran kita sendiri, kita akan lebih mudah merubah arah pikiran kita untuk bergerak sesuai dengan yang kita inginkan. Ingat atau selalu sadar tentang apa tujuan awal kita, waspada tentang data-data yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan yang muncul dari bawah sadar kita. Perlahan tapi pasti, setiap kita menyadari munculnya kecenderungan-kecenderungan yang tidak sesuai dengan tujuan awal kita, maka data itu pun akan mulai diabaikan oleh bawah sadar kita, kemudian mengisinya dengan data yang baru yang lebih sesuai dengan keadaan terkini.

Tak ada kesalahan-kesalahan, tak ada kebetulan-kebetulan, seluruh peristiwa adalah karunia yang terjadi agar kita belajar darinya.



"KESAN"

Kesan adalah perasaan yang diterima oleh tubuh akibat apa yang terjadi atau hasil dari proses berpikir. Data apa pun yang sudah selesai diproses di otak akan menimbulkan kesan tertentu. Jika data yang kita dapatkan dari indera-indera kemudian diproses di otak dan dibanding-bandingkan dengan data yang sudah pernah dimiliki sebelumnya (ingatan), baik yang masih tersimpan di pikiran sadar jaga (biasa) atau pun bawah sadar, maka akan memunculkan hasil akhir. Apabila kesesuaian data yang masuk adalah dengan data yang kita sukai, kita anggap baik, kita anggap kebenaran, dsb. maka akan memunculkan kesan yang menyenangkan, membahagiakan dsb. Begitu juga sebaliknya.

Kesan cenderung mudah berubah-ubah bergantung pada sekuat apa data yang kita miliki sebelumnya yang sudah kita anggap sebagai kebenaran. Jika kita memiliki data-data baru yang dianggap memiliki kekuatan/kandungan "kebenaran" yang lebih baik maka data lama akan digantikan. Waktu yang diperlukan dalam proses mengganti data lama ke data yang baru juga relatif atau bisa juga berbanding lurus dengan kuatnya data yang ada. Kesan ini pun bisa disebut tingkat kebenarannya adalah relatif, bergantung sebanyak/seluas apakah data yang kita miliki dan tingkat kita menyadari proses yang terjadi di pikiran kita.

Secara keseharian, apa pun yang sering kita temui sesungguhnya tak jauh-jauh dari hasil daya tarik kesan yang kita miliki yang memancar ke sekeliling kita yang kemudian di tangkap oleh semesta. Kesan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekedar data yang kita pikirkan. Kesan bisa juga disebut sebagai enkripsi (penyatuan, jika pada istilah IT ada file *.zip *.rar dsb.) yang mengandung/menyimpan banyak data.

Contoh sederhana adalah tentang makanan, makanan apa pun yang menjadi favorit kita akan tersimpan dalam bentuk kesan. Sekarang pikirkan apa makanan favorit Anda... bayangkan makanan itu... Ketika kita berpikir tentang makanan favorit itu maka data-data yang tersimpan dalam kesan itu akan dibuka kembali, diakses kembali. Semakin kuat kesan yang kita miliki, kesan itu sampai akan memicu kelenjar air liur kita memproduksi lebih banyak air liur daripada kondisi normal (hati2 jangan sampai ngiler). Setelah itu terserah kita apakah akan bergerak berdasarkan kesan tersebut atau tidak. Jika tidak, maka kita tak akan bertemu dengan peristiwa yang memunculkan kesan itu lagi. Jika iya, maka kita akan bergerak menuju peristiwa yang sangat mungkin akan menguatkan kesan itu kembali.

Contoh lain, tentang mengapa tidak terpenuhinya doa setiap orang. Atau justru apa yang ditemukan seseorang selalu bertolak belakang dengan doa yang dikirimkannya. Hal ini dapat di telusuri melalui cara berpikir dan kesan yang muncul saat berdoa. Ingat doa itu pada intinya adalah komunikasi kita kepada semesta, doa tak ubahnya mengirimkan apa yang ada di pikiran kita melalui kata-kata dan kesan yang ada pada diri kita. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, apa pun yang kita kirimkan ke luar, akan kembali kepada kita. Salah satu contoh untuk menelusurinya adalah, misalnya seseorang berdoa tentang keinginannya untuk meraih kebahagiaan, kata-katanya mungkin sudah tepat untuk mewakili apa yang diinginkannya. Akan tetapi, apakah kesan yang terpancarkan dari dirinya juga adalah tentang kebahagiaan? Jika kurang menyadari dan waspada akan kesan yang dipancarkan dirinya, bisa jadi kesan yang dipancarkannya adalah tentang kesedihannya atas apa yang dialaminya selama ini. Oleh karena kesan itu memiliki energi yang lebih besar daripada sekedar kata-kata, maka apa yang akan diterimanya tak jauh-jauh dari kesan penderitaan yang dikirimkannya. Harapan dan doa untuk kebahagiaan bukannya tidak diperkenankan terwujud, tetapi kekeliruan cara kita berkomunikasi yang membuat seolah-olah harapan dan doa itu tidak terwujud.

Kesan, tidak selalu bergerak hanya sebatas kesadaran jaga (biasa) kita. Kesan yang begitu kuat akan tetap memancar sekalipun kita tak menyadarinya. Kesan yang kuat inilah yang akan membawa kita untuk bertemu lagi dan lagi dengan hal-hal yang serupa dengan yang menciptakan kesan itu pertama kalinya, sekalipun tak akan ada yang sama persis, namun pengulangan secara garis besar akan terjadi kembali.

Kesan itu netral, positif atau pun negatif hanyalah buah dari persepsi kita setelah membanding-bandingkan data yang kita miliki. Kesan yang menakutkan kita, kesan membuat kita begitu membenci sesuatu, kesan yang membuat kita sangat marah, kesan kekecewaan dan sejenis lainnya adalah kesan yang memiliki energi daya tarik jauh lebih kuat daripada kesan yang menyenangkan kita, kesan yang membahagiakan kita. Akibatnya, jauh lebih besar peluang untuk kita bertemu dengan peristiwa yang menakutkan, kebencian, marah, kecewa dsb.

Disinilah akan terlihat jelas betapa pentingnya kita untuk jujur pada diri sendiri agar bisa menyadari keberadaan kesan yang ada/tersimpan, mengakui keberadaan kesan itu sebagai data yang ada pada diri kita, kemudian memaafkan, merelakan dan melepaskannya, bahwa semua itu hanyalah data, bukan kebenaran mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Kemudian silahkan pilih kesan yang mana yang berguna untuk kehidupan kita saat ini dan kedepannya nanti.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, kesan itu adalah enkripsi banyak data, karena itu, kesan pun memiliki energi yang begitu besar. Energi yang besar yang merupakan bentukan dari kesan itu tidak saja membawa kita bertemu lagi dan lagi pada peristiwa yang sama dalam satu kehidupan ini. Selama energi itu belum terurai, maka selama itu energi itu akan selalu menarik dan tertarik dengan energi-energi yang serupa, yang selaras, sebab inilah salah satu sifat energi, yaitu mempertahankan dan memperbesar eksistensinya. Energi kesan itu dapat terurai ketika kita menyadari eksistensinya, kemudian menyadari data-data yang terkandung di dalamnya hanya sebagai data tanpa persepsi benar-salah, baik-buruk dsb. maka serat-serat/jaring yang mengikat data tersebut sebagai sebuah enkripsi data akan terurai.

Setelah kita melalui sesi I sampai III ini, maka kita bisa melihat bahwa benar-salah, baik-buruk dan segala bentuk dualitas lainnya hanyalah hasil dari persepsi. Persepsi berdasarkan pada data-data yang kita peroleh sebelumnya. Persepsi juga yang melandasi klasifikasi data yang kita peroleh dari interaksi kita. Suatu data bisa berubah klasifikasinya dari posisi A menjadi klasifikasi yang berseberangan dengan (kontra) A, berdasarkan data-data baru yang lebih kuat/dominan daripada data sebelumnya. Untuk memutus pengulangan-pengulangan yang terjadi yang tidak kita inginkan maka diperlukan menyadari kesan yang kita miliki atau kesan yang muncul ketika kita menghadapi suatu peristiwa.

Eling (ingat/sadar) lan (dan) Waspada adalah warisan pengetahuan yang begitu tinggi dan luhur dari para leluhur dan tetua kita untuk anak cucu keturunannya dalam mengarungi kehidupan yang lebih baik.



Senin, 09 November 2009

Masih




Rasa cinta yang dulu tlah hilang
Kini berseri kembali
Tlah kau coba lupakan dirinya
Hapus cerita lalu

Dan lihatlah
Dirimu bagai bunga di musim semi
Yang tersenyum menatap indahnya dunia
Yang seiring menyambut
Jawaban segala gundahmu

Walau badai menghadang
Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu
Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

Setiap waktu wajahmu yang lugu
Selalu bayangi langkahku
Telah lama kunanti dirimu
Tempat ku kan berlabuh
Cahaya hatiku
Yakinlah kekal abadi selamanya
Seperti bintang yang sinarnya terangi seluruh
ruang di jiwa
Membawa kedamaian

Walau badai menghadang
Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu
Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam
Resah yang kau rasakan
Kan jadi bagian hidupku bersamamu
Letakkanlah segala lara di pundakku ini

Minggu, 08 November 2009

Akhirnya Ku Menemukanmu




Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku

Jika nanti kusanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih ‘tuk mencintaiku


Misteri Penyaliban Nabi Isa

Telah ditemukan gulungan Injil di sebuah makam di Srinagar. Injil itu oleh para peneliti diklaim sebagai Injil yang berasal dari jaman Nabi Isa yang besar kemungkinan belum tercampuri perubahan2 oleh manusia seperti injil sekarang, jelas isinya juga berbeda dengan Injil sekarang. Yang menjadi pertanyaan, makam siapa itu?? ... menurut kabar yang beredar, makam itu diklaim sebagai makam Talmud Jmmanuel atau lebih dikenal sebagai Isa Almasih as a.k.a Jesus Christ.

Berita itu berusaha ditutup-tutupi oleh vatikan dan yahudi. Bahkan seorang penerjemahnya dibunuh secara keji bersama keluarganya oleh yahudi (Israel). Makanya sedikit sekali orang yang mengetahui hal2 ini. Tapi terjemahan yang belum rampung itu (karena penerjemahnya keburu dibunuh) masih bisa diselamatkan oleh Billy Meier dan mempublikasikannya dalam bentuk buku"The Real New Testaments", tapi Billy Meier juga tidak luput daripercobaan pembunuhan berulangkali. Dan penulisnya masih selamat meski terancam nyawaberulangkali.
Billy Eduard Albert Meier
Dimari kalo mau download e-booknya : http://www.scribd.com/doc/5033388/THE-REAL-NEW-TESTAMENT-THE-TALMUD-JMMANUEL-person-known-nowadays-as-Jesus-FORGERY-IN-CHRISTIANITY

Kini Injil itu oleh orang Nasrani disebut sebagai salah satu dari Injil yang disebut "Injil Judas", tapi itu tak diakui oleh gereja. Jelas tak diakui karena terlalu dekat pada kebenaran yang bisa meluluhlantakkan dogma-dogma gereja akan ketuhanan dan penyaliban Yesus.

Entahlah ini asli atau tidak, tapi menurut para ahli, Injil ini (Injil Judas) adalah Injil yang paling mendekati kebenaran dan keaslian teksnya... Hanya saja masalahnya, setelah saya baca, Jika memang Injil ini diklaim sebagai Injil yang mendekati kebenaran, kok isinya malah menyatakan bahwa Nabi Isa itu memang disalib meski tidak mati di tiang salib??... +_+;a

Hmm... saya mencoba untuk menelusuri hal2 ini, hasilnya beberapa hari yang lalu saya mendapati sebuah tafsiran Al Quran dimari http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/misteri-penyaliban-nabi-isa/
Tafsiranya membuat saya cukup kaget karena sesuai dengan isi Injil Judas (yang diklaim paling mendekati keaslian) tentang peristiwa penyaliban, pemaparannya-pun cukup logis dengan mengambil sudut pandang dari kedua kitab tersebut (Injil dan Al Quran), berikut pemaparannya :

Seperti yang kita ketahui bersama, setelah usai menjumpai Maria Magdalena pada pagi minggu itu, Isa al~Masih menjumpai Simon Petrus, Thomas (Didymus), Nathan dan yang lainnya di Tasik Tiberias (Injil Yohanes pasal 21 ayat 1 s/d 4) begitupun Isa disebut juga sempat menjumpai 2 orang sahabatnya yang sedang berjalan menuju kampung Emaus (Injil Lukas pasal 24 ayat 13 s/d 17) dan akhirnya muncul secara terbuka dihadapan ibunya serta murid-muridnya saat mereka sedang berkabung atas kematiannya (Injil Yohanes pasal 20 ayat 19).

Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tanganku dan kakiku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakinya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. – Injil Matius pasal 27 ayat 36 s/d 43

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungnya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” – Injil Yohanes pasal 20 ayat 25 s/d 27

Kembalinya Isa al~Masih ditengah para murid-muridnya sebagaimana diuraikan oleh Injil Yohanes diatas sebenarnya tidak juga terjadi dengan tiba-tiba seperti seorang Jin keluar dari botolnya. Sebagai Nabi yang dikelilingi oleh berbagai mukjizat fantastis dan juga banyak melakukan perjalanan diberbagai daerah didunia yang memberikan ribuan hikmah dan pengalaman kepadanya, kiranya tidak terlalu sukar bagi seorang Isa al~Masih untuk membuka pintu yang terkunci dari dalam lalu kemudian hadir diantara murid-muridnya.

Dari catatan Injil Yohanes ini, kitapun berhasil merekonstruksi sebuah fakta bahwa kebangkitan Isa al~Masih setelah peristiwa penyaliban itu memang bukan kebangkitan dari kematian yang membuatnya bisa dipertuhankan, ia membuktikan kepada semua murid-muridnya bahwa ia yang saat itu hadir ditengah mereka, adalah ia yang juga dulunya pernah bersama-sama mereka sebelum ini. Ia manusia biasa seperti mereka, ketika mereka dilihatnya masih meragukan status dirinya dan mungkin tetap menyangkanya sebagai hantu atau arwah gentayangan, Isa al~Masih meyakinkan mereka dengan memperlihatkan tangan dan kakinya yang masih ada bekas-bekas luka-luka penyaliban dan memakan ikan goreng sebagai pertanda dirinya memang masih hidup. Ia juga menyuruh Tomas meraba bekas-bekas luka paku salib ditangannya dan meraba lambungnya yang sempat ditusuk tombak oleh seorang serdadu Roma, sehingga tidak pada tempatnya lagi mereka merasa ragu.

Kepada mereka Ia menunjukkan dirinya setelah penderitaannya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. – Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 3

Injil Lukas mencatat bahwa setelah pertemuan terakhirnya ini, Isa kemudian mengajak mereka semuanya (termasuk Maryam sang Ibunda dan Maria Magdalena) keluar dari kota Yerusalem sampai didekat perbatasan kampung Bethani, dari titik ini, perjalanan baru beliau dalam berdakwah kepada komunitas Israel diluar wilayah Palestina telah dimulai kembali.

Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangannya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. – Injil Lukas pasal 24 ayat 50 dan 51

Memang Injil Lukas menutup ayat terakhirnya mengenai Isa dengan menyebutnya berangkat kesorga (terbang keatas langit biru), namun kita bisa mengabaikan tulisan tersebut untuk diartikan secara harfiah dan mencoba memahaminya sebagai bentuk metafora dari hijrahnya Isa al~Masih menuju kekehidupan dakwah yang lebih baik dan kondusif, lepas dari intimidasi maupun upaya-upaya pembunuhan atas dirinya dan jemaatnya. Hilangnya sosok Isa diantara awan dalam catatan Injil Lukas diatas bisa kita dapati penjelasan logisnya pada Kitab Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 12.

Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.

Dari ayat ini kita melihat bahwa perpisahan itu terjadi disekitar anak bukit Zaitun dimana kemudian Isa mengucapkan selamat tinggal kepada mereka sambil melambaikan tangannya ( disebut oleh Injil Lukas sebagai bentuk pemberkatan ) dan Isa terus naik mendaki bukit Zaitun lalu menghilang dipuncaknya, menuruni lereng perbukitan dibaliknya yang oleh Kitab Kisah Para Rasul disebut menghilang dibalik awan.

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupnya dari pandangan mereka. – Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 9

Dari cerita ini kita melihat bahwa Isa berangkat sendirian, akan halnya Maryam sang Ibunda dan Maria Magdalena serta murid-muridnya yang lain memang tidak dibawa serta disaat bersamaan. Tampaknya ini sebagai bagian dari perencanaan atau strategi yang telah disusun rapi oleh Isa dan kelompok Yusuf Arimatea dari Essenes agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak musuh-musuh mereka sehingga akan menggagalkan semua usaha tersebut. Isa dalam Injil Lukas diceritakan telah mengatakan bahwa masa mereka untuk sampai kepada perencanaan Allah akan tiba tetapi setelah segala sesuatunya dirasa tepat dan memungkinkan.

Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapaku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” – Injil Lukas pasal 24 ayat 49

Ini adalah pesan yang terinkripsi, kita perlu melakukan proses decoding untuk membuka pesan dalam Injil Lukas diatas agar bisa dipahami secara wajar. Janji Tuhan yang diserukan oleh Isa diayat tersebut tidak lain adalah janji keselamatan para muridnya dari musuh-musuh mereka, Isa meminta mereka semua untuk menahan diri dan sementara berdiam dulu didalam kota Yerusalem sampai keadaan bisa dikendalikan lalu Isa setelah itu akan mengirimkan pesan kepada mereka untuk menyusulnya melalui sahabat-sahabatnya yang lain dari jalur Yusuf Arimatea yang dikenal dengan nama kelompok Essenes yang menetap diperbukitan Qumran. Itulah makna dari kalimat terakhirnya “ sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. “


berdasarkan catatan seorang sejarawan Yahudi bernama Flavius Josephus yang banyak menyaksikan dan mencatat kasus-kasus penyaliban yang dilakukan oleh orang-orang Romawi terhadap mereka-mereka yang dianggap pemberontak atau penjahat yang mana tulisan-tulisannya ini banyak dikutip juga oleh pihak-pihak Kristiani dan juga para sarjana Biblika (termasuk oleh James D. Tabor sendiri didalam situs lamanya di Internet[1] dan dibukunya Dinasti Yesus[2]) yaitu tentang terbukanya kemungkinan orang yang dihukum salib untuk tetap bertahan hidup dan disembuhkan kembali. Dalam bukunya yang berjudul The Life of Flavius Josephus[3], sejarawan ini menulis :
Sekembalinya saya bersama Cerealins yang dikirim oleh Kaisar Titus dengan seribu pasukan berkuda menuju kesatu desa bernama Thecoa, saya melihat banyak penjahat telah disalib dan melihat tiga orang diantara mereka adalah orang-orang yang saya kenal dimasa lalu. Saya sangat sedih dengan kejadian ini dan pergi dengan air mata berlinang menghadap Titus dan mengatakan kepadanya mengenai mereka bertiga. Lalu Titus memerintahkan agar mereka diturunkan dari salib dan dilakukan perawatan untuk memulihkan kondisi mereka. Dua diantara mereka tidak tertolong dan satu berhasil diselamatkan.
Kita juga memiliki beberapa data lain yang mungkin bisa dijadikan argumentasi pendukung dalam teori bertahan hidupnya Isa al~Masih sampai ia diturunkan dikayu salib. Diantaranya adalah singkatnya waktu penyaliban yang terjadi saat itu, yaitu hanya sekitar 3 jam (dimulai pada jam 12 sampai jam 15.00), disusul dengan kedua orang yang ikut disalib bersama Isa al~Masih yang waktu itu keadaan keduanya masih dalam kondisi yang segar bugar sehingga para serdadu Romawi itu mematahkan kaki mereka untuk mempercepat kematiannya (dan memang wajar sekali jika orang baru mati dalam penyiksaan dikayu salib setelah lebih dari satu sampai tiga harian), argumen kita berikutnya adalah keterkejutan Pontius Pilatus yang telah menjatuhkan hukuman tersebut ketika mendengar bahwa Isa al~Masih telah dinyatakan wafat dalam waktu secepat itu yang tentu saja dengan pemikiran wajarnya sebagai orang yang sering menyaksikan maupun menjatuhkan hukuman mati melalui metode penyaliban, kematian Isa yang diluar kebiasaan tersebut menimbulkan kebingungannya sendiri.

Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. – Injil Markus pasal 15 ayat 44

Argumen lainnya yang bisa kita sodorkan adalah meninjau ulang apa yang pernah disampaikan oleh Injil Lukas pasal 22 ayat 43 didetik-detik menjelang penangkapan :

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan kepadanya

Bila yang dimaksud dengan memberi kekuatan pada ayat diatas adalah memberi semangat agar Isa tabah menerima kehendak Allah yang akan berlaku pada dirinya, maka sekali lagi kita ajukan juga apa yang disampaikan oleh Paulus dalam Kitab Ibrani pasal 5 ayat 7 :

Dalam hidupnya sebagai manusia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada-Nya yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, beliau telah didengarkan.

Jadi dari ucapan Paulus diatas kita bisa mengambil asumsi kuat bahwa Isa al~Masih telah ditolong oleh Tuhan dari kematian (maut) yang bisa menimpanya dalam proses yang akan dia hadapi (inilah makna dari kata-kata “beliau telah didengarkan” yang artinya permintaan untuk selamat dari maut dikabulkan). Sebagai umat Islam, kita punya data yang sangat otentik untuk menjadi pegangan dalam masalah mati atau hidupnya Isa al~Masih saat penyaliban itu, dan data itu adalah wahyu Allah didalam al-Qur’an sebagai berikut :

Dan perkataan mereka: “Bahwa kami telah membunuh al~Masih Isa putera Maryam, utusan Allah”, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. -Qs. 4 An-Nisaa’ 157

Sejumlah ulama berbeda pendapat tentang makna tidak terbunuh dan tidak tersalibnya Nabi ‘Isa sampai kepada makna pengangkatan beliau kesisi Allah pada ayat diatas. Golongan yang pertama menyatakan bahwa maksud dari Nabi ‘Isa memang tidak terbunuh dan tidak mengalami penyaliban (termasuk tidak dinaikkan keatas kayu salib) dalam artian sesungguhnya, dengan kata lain bahwa para musuh Nabi ‘Isa pada waktu itu sudah salah tangkap orang, bukannya Nabi ‘Isa yang mereka tangkap dan mereka hukum bunuh melalui metode penyaliban, akan tetapi orang lain yang perwujudannya diserupakan atau dialih rupakan seperti beliau ‘alaihissalaam. Pemahaman seperti ini juga tampaknya yang membuat pihak Departemen Agama Republik Indonesia menterjemahkan ayat 157 dari surah al-Qur’an an-Nisaa’ sebagai berikut :

“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al~Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya , tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”.
Sayangnya terjemahan tersebut bukanlah terjemahan dari ayat yang sebenarnya. Karena dari sudut kebahasaan atau grammatikal Arabnya, Na-‘ibul fa-’il untuk fi’il “Syubbiha” adalah mashdar “sholbun” atau “qotlun” yang dikandung dalam fi’il “sholabu-hu” atau “qotalu-hu” (bukan Isa atau orang yang menggantikan Isa). Jadi istilah Syubbiha lahum (ia dibuat kelihatan serupa dengan seorang yang disalib bagi mereka adalah merujuk pada peristiwa penyalibannyalah yang diserupakan bukan orang lain yang diserupakan bagi mereka). Kata “syabbaha” mengandung arti : ia membuat (-nya atau itu) serupa dengan (ia atau itu). Syubbiha ‘alaihil amr berarti hal itu dibuat samar, kabur dan meragukan baginya. Alasan yang terutama ialah bahwa selain Isa tidak ada orang lain yang disebutkan disini atau ditempat lain pada ayat dan bentuk pasif hanya digunakan bila konteks sudah nyata sekali, siapa yang yang dimaksudkan sebagai subyek yang tidak disebutkan. Jadi disini kita melihat al-Quran sama sekali tidak menyatakan secara implisit bahwa Bangsa Israel telah membunuh ataupun telah menyalib seseorang yang dimiripkan dengan Isa”. Dengan begitu, maka terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia : “… tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka” kata-kata yang digaris bawahi sama sekali tidak ditemukan dalam lafas asli pada surah an-Nisaa’ ayat 157.

Adapun terjemahan kata perkata dari ayat ini adalah sebagai berikut :

penyerupaan atau penyamaran itu dilakukan Allah pada diri Isa sendiri yang terlihat seolah-olah berhasil dibunuh diatas kayu salib, padahal dia waktu itu tidak atau belum mati, hanya dia diserupakan saja seperti keadaan orang yang mati disalib. Hal ini mengingat akhir ayat 157 berbunyi : “.. dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya”.

Orang yang berhasil lolos dari kematian dikayu salib artinya dia tidak berhasil disalib atau dengan kata lain proses eksekusi penyaliban itu sendiri cacat hukum, dan dalam kaidah hukum universal, sesuatu yang sifatnya cacat hukum harus ditolak validasinya. Dalam kasus Isa, orang-orang Yahudi ngotot bahwa beliau a.s. harus dihukum salib, karena hukuman salib dalam terminologi mereka adalah hukuman yang hanya layak untuk orang-orang yang terkutuk (melawanTuhan ataupun membuat kedustaan atas nama Tuhan). Jadi disini Nabi Isa dalam pandangan musuh-musuh beliau adalah orang yang batil jadi dia harus dihukum mati (artinya beliau harus dibunuh) dan caranya harus dengan cara yang sangat kejam sesuai term yang mereka pahami untuk kasus-kasus seperti itu (yaitu melalui hukuman salib).

Ketika al-Qur’an menyebut Isa tidak disalib artinya bisa jadi makna penyaliban pada diri Isa itulah yang dibatalkan, dengan kata lain, meskipun Isa berhasil mereka gantung diatas kayu palang, itu tidak memberi arti bahwa Isa adalah orang yang batil sesuai pemahaman mereka (yang pun disambung pada ayat 4 surah 158 dimana Allah menyebut Isa diangkat kepada-Nya yang bisa diartikan bentuk pemuliaan Allah kepada beliau dan penafian kebatilannya dalam mata orang Yahudi/Bani Israel) sehingga apa yang oleh mereka disebut sebagai penyaliban dan pembunuhan Isa, hanya bentuk penyerupaan saja, seolah iya padahal tidak.

Lalu bagaimana dengan hadis yang menyatakan Nabi Isa masih hidup dan tidak berhasil disalib dalam artian diserupakan wajahnya kepada orang lain ?

Disampaikan oleh Ibnu Khaldun dalam kutipan Haekal, kita tidak harus percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak harus percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan al-Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya. Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumbersumber itu dikritik dari segi matn (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad itu akan gugur oleh matn. Orang sudah mengatakan bahwa tanda hadis maudhu’ (buatan) itu, ialah yang bertentangan dengan kenyataan al-Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan axioma lainnya. (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcvii)

Haekal juga berkata kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yang tidak cocok dengan yang ada dalam al-Qur’an. Yang tidak sejalan dengan hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah itu baru diperkuat dengan yang ada pada mereka, disertai pembuktian yang positif, dan mana-mana yang tak dapat dibuktikan seharusnya ditinggalkan. Pendapat cara ini telah dijadikan pegangan oleh imam-imam terkemuka dari kalangan Muslimin dahulu, dan beberapa imam lainpun mengikuti mereka sampai sekarang.
(Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcix)

Nah, ada satu lagi hal yang mengherankan saya, penemunya adalah Isa Rashid dan Billy Eduard Albert Meier. Coba anda buka Google dengan keyword "Billy Eduard Albert Meier"... maka anda (seharusnya), cukup terkejut, Billy mengklaim bahwa penemuan Injil dan makam itu atas bantuan dari kaum Pleiadians, "Saudara kita dari Luar Bumi yang masih satu keturunan" dengan kata lain... ALIEN???!!! WTF!!!

Sabtu, 07 November 2009

Boulevard


I don’t know why
you said goodbye
Just let me know you didn’t go forever my love
Please tell me why, you make me cry
I beg you please on my knees if that’s what you want me to

never knew that it would go so far
When you left me on that boulevard
Come again you would release my pain
And we could be lover again

Just one more chance, another dance
And let me feel it isn’t real
that i’ve been loosing you
this sun will rise within your eyes
Come back to me and we will be happy together

Maybe today ill make you stay
A little while just for a smile and love together
For I will show a place I know
In Tokyo where we could be happy forever


Fitnah Dajjal (Teori Evangelion)

"Mereka yang menyembah teknologi
menganggap Tuhan sebagai seorang Teknisi"
Okay, ini adalah hal tergila dari yang pernah saya nyatakan seumur hidup saya. Akhirnya saya terpaksa harus berterus terang juga. Adalah kesalahan saya tidak mensistematisasikan ide sehingga apa yang saya utarakan terekesan-terputus putus. Sampai-sampai orang tidak dapat mengerti arah pembicaraan saya yang sebenarnya.

Hal inilah yang membuat beberapa sahabat saya mendesak saya untuk menuliskan latar belakang saya yang ‘kelam’ dari penulisan Teori Evangelion. Mereka khawatir bahwa Teori Evangelion tersebut dapat menimbulkan banyak sekali kesalahpahaman terhadap ajaran-ajaran agama serta konsep ketuhanan yang selama ini kita yakini. Tapi perlu diketahui bahwa saya sedikitpun belum menuliskan apa yang sebenarnya dimaksud dengan Teori Evangelion. Mengapa?? Karena teori Evangelion adalah anti-thesis yang belum 100% sempurna dari pemaparan sebelumnya. Suatu pemaparan yang saya ambil dari pemikiran-pemikiran serta kumpulan tulisan-tulisan, thesis, serta buku-buku orang lain yang mana terdapat suatu benang merah yang dapat mengancam seluruh ajaran agama di dunia.

Dalam asumsi saya, saat ini terdapat sebuah ajaran baru…ajaran yang bersifat materialis yang jauh lebih berbahaya dari Teori Evolusi, paham Atheis, ataupun kelompok-kelompok penyimpangan agama kelas teri lainnya seperti JIL atau Ahmadiyah (saya katakan bahaya JIL ataupun bahaya sekte menyimpang lainnya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bahaya ajaran baru ini). Suatu ajaran yang hanya dengan sekali pukulan telak dapat menghancurkan seluruh konsep ketuhanan agama-agama di Dunia (termasuk Islam).

Sebuah ajaran baru yang pada ujungnya mengkultuskan Dajjal sebagai Tuhan!!!!

Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad :
“Sungguh, belum pernah ada cobaan di muka bumi, sejak Allah menciptakan keturunan Adam, yang lebih besar dari Dajjal. Allah tidak pernah mengutus seorang Nabi, hingga pasti ia memperingatkan umatnya terhadap Dajjal. Aku adalah Nabi yang terakhir dan kalian adalah ummat yang terakhir; dan tak bisa tidak, Dajjal akan keluar di kalangan kalian”.

Seseorang yang bernama Erich Von Daniken yang telah menulis banyak sekali buku tentang ajaran baru ini dan mendapatkan kekayaan yang berlimpah dari hasil penjualan buku dan lain-lain yang berkenaan dengan ajaran tersebut. Salah satu dari bukunya terjual laris hingga 60 juta kopi dan diterjemahkan kedalam 32 bahasa di dunia.

Bisa anda bayangkan bahwa 60.000.000 orang yang membeli bukunya itu terpengaruh oleh agama baru itu dan kemudian memiliki keyakinan yang baru sesuai dengan keyakinan yang dijajakan dalam buku itu; kemudian orang-orang tersebut misalnya masing-masing dari mereka mendakwahkan keyakinan barunya itu dan berhasil membuat masing-masing 2 orang pengikut; maka dengan segera kita mendapatkan angka 180,000,000. Jumlah ini sangat besar mengingat jumlah orang yang menganut agama Yahudi saja tidak akan melebihi angka 10 juta orang.
Mereka adalah orang yang memiliki keyakinan yang sama yaitu mereka yakin bahwa Allah dalam Islam adalah tuhan sesungguhnya yang sedang mereka cari.
Meski mereka berangkat dari pemahaman Bible dan Al Quran yang dipadu dengan pemahaman Science yang tinggi, hal itu malah membuat mereka meyakini kebenaran Kitab Al Quran, juga meyakini kebenaran Islam. Tapi Allah yang mereka yakini bukan Allah yang sesuai dengan Konsep ketuhanan dalam agama Islam. Allah yang mereka yakini adalah seorang pemimpin dari sebuah peradaban yang sangat tinggi di luar Planet Bumi yang dengan penguasaan teknologinya yang sangat mumpuni, ia memperluas daerah jajahannya di alam semesta melalui propaganda “SATU TUHAN”!!

Ia adalah Allah si Pencipta Adam dari hasil rekayasa genetika manusia jaman pra-sejarah. Ia yang menyemai benih-benih kehidupan di Planet, juga berbagai Mukjizatnya adalah hasil dari penguasaannya yang sangat Tinggi terhadap ilmu Science. Hal ini dapat mereka buktikan ketika mereka menjelaskan dengan sangat Ilmiah latar belakang kehidupan di Planet Bumi sebelum turunnya Adam, proses penciptaan Adam, penyemaian benih2 kehidupan di Planet-planet secara ilmiah (yang secara teori dapat dilakukan oleh manusia), sebab-sebab ilmiah terjadinya Banjir besar jaman Nabi Nuh, peradaban2 tinggi di masa lampau termasuk Atlantis, dan semua mukjizat Nabi dapat mereka jelaskan secara Ilmiah, para penganutnya yang kebanyakan adalah orang-orang terpelajar sudah menemukan cara untuk menciptakan suatu materi yang berawal dari sebuah “Ketiadaan” (teknik itu dinamakan ‘Antimatters’)http://en.wikipedia.org/wiki/Antimatter, http://www.science.edu.sg/ssc/detailed.jsp?artid=5333&type=6&root=5&parent=5&cat=55… persis seperti Allah ketika menciptakan materi yang diawali dari suatu ketiadaan, bahkan hingga proses isra mi’raj Nabi Muhammad dapat mereka jelaskan secara sangat Logis dan Ilmiah untuk memperkuat kebenaran Al Quran tapi juga sekaligus membuktikan bahwa Allah adalah sang penguasa yang menguasai teknologi dari Planet Lain dan bermaksud menguasai seluruh alam semesta ini dalam propaganda “SATU TUHAN”!!

Dengan kata lain, ALLAH YANG SELAMA INI DISEMBAH ADALAH ALIEN!!
Mungkin banyak orang akan tertawa mendengar hal ini. Saya pun dulu begitu, tapi tawa itu dengan seketika berubah menjadi rasa takut dan kebingungan ketika kita dihadapkan pada argumen ajaran baru itu. Sangat Ilmiah dan logis serta dapat dibuktikan kebenarannya. Ini baru gambaran kasar saja.

Ini adalah agama yang akan muncul pada masa yang akan datang yang disusun dan dibentuk sebagai alternatif yang setara dengan agama lainnya—sesuai dengan harapan orang-orang yang meyakininya—setelah manusia cukup lelah disibukan oleh perbedaan, kekacauan, kontroversi, perselisihan yang (menurut mereka) salah satunya disebabkan oleh keberagaman keagamaan. Agama ini diharapkan akan disukai oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan yang ghaib dan tradisional.

Karena kaitan yang erat antara perkembangan “agama masa depan” ini dengan Alien, maka sudah sangat sewajarnya kalau saya memaparkan Alien ini dengan segala sesuatu yang berkenaan dengan pemunculannya di seluruh penjuru dunia, termasuk UFO. Ada baiknya apabila anda memperhatikan pembahasan itu secara seksama supaya tidak ada satupun benang merah yang terputus terurai yang akan membuat tidak sempurnanya jalinan kain yang sedang saya buat. Teori Evangelion Volume-volume berikutnya dimulai dengan pembicaraan sekitar pemunculan peradaban tinggi yang telah dicatatat oleh sejarah yang lalu kemudian dilanjutkan dengan pembahasan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan Alien. Bisa ditebak setelah penelitian mereka selama puluhan tahun bahwa peradaban-peradaban maju di masa lalu, Mitologi Yunani dan juga kepercayaan terhadap dewa-dewi itu berdasarkan aktivitas Alien yang di masa lalu yang dianggap sebagai “DEWA YANG TURUN DARI LANGIT”.

Di dalam ilmu mitologi di Eropa, cerita-cerita yang terdapat di kitab Injil atau Bibel tidak dikelompokan ke dalam mitos meskipun kalau kita lihat cerita-cerita di dalam Bibel itu banyak kesamaannya dengan cerita-cerita yang ada di dalam mitos-mitos dari Persia, Babilonia, Mesir, dan Yunani.

Bagi orang modern yang memiliki sikap skeptis (yaitu sikap tidak mau tahu atau selalu tidak percaya terhadap apa-apa yang dipercayai orang) semua itu tetap digolongkan kedalam mitos, baik itu tulisan yang terdapat pada kitab suci, tanah liat, batu, papirus, dan sebagainya semuanya digolongkan ke dalam mitos. Kalau kita kesampingkan semua literatur kuno dan semua naskah atau tulisan itu (yang semuanya bagi masyarakat moderen tidak masuk akal atau paling tidak terlalu hebat untuk dibayangkan dan mungkin ada penjelasan lain yang lebih masuk akal), maka kita masih akan dihadapkan kepada permasalahan yang nyata yang ada di depan mata kita. Kita punya setumpuk pertanyaan yang harus kita jawab. Misalnya, siapakah yang membangun bangunan dari batu besar yang berserakan di seluruh penjuru dunia? Bagaimana semua bangunan itu dibuat? Mengapa mereka membangun piramid-piramid di seluruh penjuru dunia untuk kemudian mereka tinggalkan begitu saja? Siapa yang membuat garis-garis dan lukisan-lukisan raksasa dipermukaan Bumi ini?Siapakah yang menciptakan peradaban nuklir dan antariksa di masa lalu? Siapakah yang membuat bangunan artistik di planet Mars? Untuk tujuan apa dan bagaimana mereka membuat itu?

Berawal dari penelitian berpuluh-puluh tahun oleh Professor Zacharia Sitchin tentang peradaban Sumeria, ras Anunnaki hingga konspirasi Planet Nibiru yang berkaitan dengan Isyu bencana tahun 2012, kini banyak “para ilmuwan” terpengaruh ingin meneliti dan mengemukakan pandangannya karena mereka menganggap bahwa akan senantiasa ada penjelasan yang masuk akal dari setiap misteri yang ada—termasuk misteri-misteri dunia yang selama ini belum mendapatkan penjelasan maksimal. Para ilmuwan itu ingin menjelaskan dengan penjelasan ilmiah atau dengan menggunakan ilmu-ilmu pengetahuan alam dan prinsip-prinsip hukum alam yang berlaku di dunia ini.

Para ilmuwan itu sepakat bahwa penjelasan yang masuk akal dari semua misteri dunia ini ialah adanya kunjungan tamu dari angkasa luar yang berperadaban tinggi. Makhluk-makhluk luar angkasa itu telah datang ke planet Bumi ini pada jaman pra-sejarah dan juga pada jaman sekarang. Mereka telah lama berinteraksi dengan manusia-manusia Bumi atau dengan manusia-manusia pra-sejarah. Menurut pendapat “para ilmuwan” itu, merekalah sebenarnya yang disebut TUHAN atau DEWA oleh manusia-manusia pada jaman dahulu.

Kita akan terpesona dan akhirnya menggumamkan beberapa patah kata “Bagaimana orang pada masa lalu menciptakan peradaban yang canggih itu?”. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana “orang-orang yang meyakini bahwa Tuhan itu tidak lain adalah Alien” menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
- Apa sebenarnya yang disebut dengan “Tuhan” itu?
- Bagaimana Tuhan itu membuat mu’jizat-mu’jizat di dunia ini?
- Lalu apa makna dari setiap mu’jizat itu?
- Ada hubungan apa Tuhan itu dengan manusia?
- Dari manakah Tuhan itu berasal? Dan kemana Tuhan itu pergi?
Hampir semua jawaban mereka dari pertanyaan di atas itu sudah cukup pedas dan menohok untuk membuat kita yang beragama merasa tersinggung dan naik darah. Jika mereka dimintai bukti akan jawaban mereka, mereka dapat dengan mudahnya menyodorkan bukti-bukti, baik itu bukti Ilmiah, bukti arkeologis, maupun bukti-bukti dari Al Quran dan Hadist yang akan sangat sulit sekali untuk dibantah.

Akan tetapi apabila kita termasuk seseorang muslim yang tercerahkan maka sebaiknya kita harus sanggup menahan diri terlebih dahulu untuk nantinya kita mempertanyakan ulang pendirian mereka dan kalau bisa menyerang balik dengan hujjah-hujjah yang baik dan penuh hikmah. Ingat! Mereka adalah orang-orang yang terdidik dan logis,tentunya bila hanya mengandalkan ayat Kitab suci saja tidak cukup untuk melawannya. Argumen yang Logis itu harus dibalas dengan hujanan argumen yang lebih logis pula; jangan hanya dibalas dengan ayat kitab suci saja atau hujanan panah atau hujanan caci maki dan sumpah serapah, karena itu menunjukkan kelemahan intelektual umat beragama. Inilah dialog yang benar—dibenarkan secara logika dan beradab.

Akan tetapi sebelum kita mempermasalahkan mereka—orang-orang yang memiliki gagasan Ketuhanan seperti di atas—sudah selayaknya apabila kita terlebih dahulu mendengarkan apa kata mereka. Karena selain kita masih gelap dan belum mengerti benar apa yang mereka maksudkan, terlebih lagi kita sebagai makhluk beradab harus memberikan porsi yang sama kepada orang yang berlainan pendapat dengan kita, agar mereka dapat mengeluarkan unek-uneknya. Sikap terpuji seperti itu harus tetap kita jaga.

Imam Ali bin Abi Thalib (as.), pernah berkata:
“Ambillah hikmah itu, walaupun keluar dari mulut seorang munafik”, beberapa penggalan informasi yang bisa kita ambil dari mereka sebagai hikmah; bukan untuk menuruti apa yang dikatakannya, akan tetapi untuk menimbang posisi kita agar kita tidak salah posisi sehingga kita tidak bisa memberikan penilaian yang benar dan memuaskan.

Pembenaran pseudo ilmiah ialah pembenaran yang diilmiah-ilmiahkan; dengan kata lain itu bukan pembenaran ilmiah melainkan pembenaran yang dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat ilmiah atau berbau ilmiah. Pembenaran inilah yang tampaknya mewarnai seluruh ajaran baru itu karena ajaran baru itu sendiri tampaknya lebih banyak berdiri di atas asumsi-asumsi yang mencoba untuk menghubungkan satu informasi atau fakta dengan informasi atau fakta lainnya sehingga bisa membentuk kerangka teori yang cukup kuat untuk diajukan dan diterima masyarakat luas di Negara maju seperti Amerika. Banyak orang di barat telah menjadi pengikut ajaran baru itu (yang secara tak langsung merupakan pelogisan dari ajaran Kabalah atau paganisme masa silam) diantaranya adalah Madonna, Barrack Obama, Lady Gaga, Jay Z, George Bush dll—meskipun ajaran baru ini terbilang sangat spektakuler dan agak sukar diterima masyarakat luas, terutama di negara-negara berkembang apalagi di negara terbelakang yang sangat relijius seperti Indonesia.

Ajaran baru ini secara ilmiah mendapatkan cukup banyak dukungan teoritis dari berbagai kalangan—baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dan hal ini semakin diperkuat dengan kisah Billy Eduard Meier yang bertemu dengan “Semjase” dari Galaksi Pleiades yang mengajaknya berjalan-jalan ke masa lalu bertemu Nabi Terdahulu untuk meluruskan ajaran Kristen yang telah disewengkan kitab Injilnya.

Dari “Semjase” pula ia diberitahu bahwa Nabi Muhammad pernah menjalin komunikasi dengan manusia dari Galaksi Pleiades. Pada masa itu manusia dari Galaksi Pleiades disebut sebagai “The Fallen Angel” oleh masyarakat pada masa itu.

Dari perjalanan ke masa lalu itu pula Billy Meier mengaku bertemu dengan lelaki bernama “Talmud Jmmanuel” yang saat ini lebih dikenal sebagai Isa Almasih/Yesus Kristus. Dari pengalaman ini, Billy Meier menulis sebuah buku berjudul “THE REAL NEW TESTAMENT-TALMUD JMMANUEL” yang isinya adalah Bible versi Asli untuk membenarkan kebenaran Al Quran tentang kesalahan umat Kristiani dan meluruskan pemahaman dalam Bible masa kini yang telah diselewengkan.

Adanya mahluk-mahluk di luar bumi ini tidak hanya telah dikatakan dalam Al Quran (QS As Syuura : 29), tapi juga telah dikatakan dalam Hadist Nabi. Di dalam Al Qur'an maupun hadits, sering disebut-sebut tentang para penduduk langit. Sebagian ulama menafsirkan penduduk langit adalah para malaikat yang menjalankan tugasnya di seluruh penjuru langit. Namun ada sebuah hadis yang cukup menarik tentang hal ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya, serta penduduk langit dan bumi, hingga semut yang ada di dalam lubangnya, dan ikan-ikan di lautan, (semuanya) bersalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia” (HR. Tirmidzi).
Dari hadis ini terlihat jelas bahwa Rasulullah membedakan antara malaikat dan penduduk langit.

Ajaran baru ini merupakan pencerahan sekaligus senjata pamungkas yang dahsyat bagi orang Atheis untuk meluluhlantakkan “Missing Link” Teori Evolusi sekaligus menghancurkan konsep ketuhanan seluruh agama di dunia. Atheisme sekarang sudah berubah wujud lagi dikalangan sebagian orang-orang agnostik (orang yang berada diambang keraguan). Atheisme sudah kehilangan definisi awal yaitu sebagai kepercayaan akan tiadanya Tuhan. Sebagian dari mereka yang mengaku Atheis sekarang mengakui Allah itu ada sekaligus mengakui kebenaran kitab suci Al Quran; akan tetapi yang mereka akui sebagai Allah itu berbeda dengan yang diakui oleh umat Islam. Allah yang diakui oleh muslim saat ini itu bersifat spiritual, ghaib, dan serba lebih dari makhluk yang diciptakannya. Sedangkan Allah dalam konsepsi ajaran baru itu digambarkan sebagai sesosok yang mirip seperti kita, manusia (mereka mengacu pada salah satu dalil yang menggambarkan manusia diciptakan dengan mengikuti gambaran Tuhan yang menciptakannya). Tuhan itu digambarkan sebagai pemimpin dari kebudayaan super teknologi; yang mampu menciptakan mu’jizat-mu’jizat secara teknologis. Tuhan yang bisa dilihat mata lewat penampakan malaikat-malaikatnya dalam wujud UFO (ini mengacu pada ayat-ayat perjanjian lama, juga Ayat Al Quran serta hadist nabi berkenaan dengan masalah langit dan Isra mi’raj). Tuhan yang bisa berhubungan dekat dengan manusia. Jadi, setelah lama menentang keberadaan Tuhan; sekarang malah orang-orang atheis itu mempercayai adanya tuhan sekaligus menciptakan Tuhannya sendiri yang sesuai dengan selera mereka. Tuhan yang secara Ilmiah memenuhi selera paham materialisme. Ini adalah pemurtadan yang spektakuler dan canggih. Penyelewengan aqidah oleh JIL, Ahmadiyah, ataupun pemurtadan oleh oknum Orientalis dsb itu hanyalah penyelewengan kelas teri dan kalah telak bahayanya secara intelektual bila dibandingkan dengan ajaran baru ini.

Dengan datangnya Ajaran baru itu, orang-orang atheis seolah-olah mendapatkan angin segar dengan pemahaman baru akan hakikat ketuhanan. Mereka bersorak sorai setelah sadar bahwa dengan mengandalkan ajaran baru itu, mereka bisa memukul balik dengan serangan dasyhat. Bagaimana tidak, dengan ajaran baru itu mereka bisa memukul semua agama sekaligus cuma dengan satu pukulan saja. Mereka juga tidak lagi dipusingkan oleh adanya Tuhan yang tak tampak. Mereka memiliki Tuhan lain yang tampak dan bisa dilukiskan secara fisik. Agama yang menistakan konsep ketuhanan semua agama; agama yang memiliki wajah Tuhan yang tampak; agama yang “Logis dan Ilmiah” (dengan pengertian kata ilmiah yang sesuai dengan keyakinan yang mereka miliki).

“Mereka yang menguasai media
bisa menguasai dunia”

Syaikh Muhammad Isa Dawud yang menulis tentang hubungan antara Dajjal dan piring terbang di dalam bukunya yang termasyhur Al-Khuyuth alKhafiyyah baina al-Masikh ad-Dajjal wa Asrar Mutsallats Barmuda wa al-Athbaq ath-Tha’rah yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul “Dajjal akan muncul dari segitiga Bermuda”. Muhammad Isa Dawud dengan berani dan tegas menegaskan bahwa diantara piring terbang yang telah melintas di langit bumi ini merupakan produk Dajjal. Ia memiliki kemampuan untuk membuat piring terbang itu karena Dajjal itu memiliki intelejensia yang jauh sekali di atas rata-rata manusia. Kebenaran dari apa yang ia sampaikan itu masih ada di tataran asumsi yang belum 100% terbukti. Akan tetapi karena pemahaman yang telah ditawarkan oleh Agama baru itu tentang konsep ketuhanan yang baru itu juga masih di dalam tataran asumsi maka tidak ada salahnya kalau asumsi di atas juga disandingkan dengan asumsi yang diajukan oleh Syaikh Muhammad Isa Dawud di dalam bukunya.

Dengan menggabungkan keduanya kita bisa mendapatkan sebuah lukisan yang jelas dan jernih, walaupun keduanya berangkat dari dua buah asumsi yang belum karuan juntrungannya. Yang dimaksud dengan lukisan yang jelas di sini ialah adanya gambaran yang lengkap tentang suatu skenario besar pemurtadan atau penyesatan massal yang menurut hadits-hadits (yang berkenaan dengan keadaan akhir jaman menjelang datangnya hari kiamat yang dekat itu) sering disebut-sebut sebagai tanda-tanda akhir jaman.

Pemahaman orang akan adanya Tuhan pada suatu saat akan diselewengkan dan diganti dengan sesuatu yang membuai secara ilmiah dan meninabobokan. Dajjal sering disebut-sebut sebagai oknum yang berada di belakang semua ini.

Dengan merangkai semua asumsi tentang makhluk luar angkasa; piring terbang; penyemaian bibit kehidupan di atmosfir planet Bumi; pengajaran hikmah dari makhluk cerdas berkebudayaan tinggi kepada manusia yang masih lemah tak berdaya; para agen yang dipilih dari kalangan manusia yang akan diberikan hikmah untuk disampaikan kepada khalayak ramai dengan bahasa yang bisa lebih dipahami; pengawasan yang berkala dari makhluk luar angkasa yang memonitor segala tingkah laku manusia agar tidak membahayakan dirinya sendiri dan planet yang dihuninya, maka kita akan dengan segera bisa mengeluarkan sebuah asumsi lain—asumsi dari segala asumsi tentang konsepsi “agama baru”. Asumsi ditambah asumsi keluarnya asumsi yang lain.

Asumsi yang dimaksud ialah asumsi tentang cara kedatangan Dajjal di kalangan ummat manusia. Dajjal tidak mungkin keluar dengan cara yang digunakan oleh dajjal-dajjal kelas teri yang mengaku-aku sebagai Nabi atau sebagai Al-Masih. Karena bentuk-bentuk pengakuan seperti itu hanya akan diikuti oleh sekelompok kecil orang saja dan gaungnya tidak akan membahana ke seluruh penjuru dunia. Tidak! Dajjal yang sebenarnya tidak akan masuk keluar kampung berdakwah menjajakan gagasan dan pemikirannya. Ia tidak akan menggunakan cara-cara tradisional yang kampungan. Dajjal yang sebenarnya akan muncul dengan cara yang megah dan mengguncang semua singgasana. Ia akan datang dengan membawa kemewahan para pengikutnya; kegemerlapan perangkat perangnya; dan dihiasi keperkasaan kecanggihan teknologi yang dibawanya. Ia akan menggunakan jalur-jalur komunikasi resmi yang canggih. Dajjal akan datang dengan kendaraan piring terbang raksasa yang ternyata buatannya sendiri (merujuk pada apa yang ditulis oleh Muhammad Isa Daud). Pendek kata, kata-kata kita tidak akan sanggup membayangkan apa yang akan terjadi ketika ia datang kehadapan kita. Dengan segenap kehebatan seperti itu, maka Dajjal akan berhasil di dalam dakwahnya; segenap kehebatan itu bagaikan pancaran kharisma yang tiada bandingnya yang berhasil memukau jutaan pasang mata. Hanya dengan kemegahan itulah, Dajjal akan berani menampakkan hidungnya karena—masih merujuk pada apa yang dikatakan oleh Muhammad Isa Dawud—Dajjal itu pada hakikatnya merupakan seorang raja Yahudi yang penakut dan pemalu serta memiliki penyakit rendah diri. Jadi ia tidak akan mau menunjukkan dirinya apa adanya.

Kedatangan seperti yang dipaparkan di atas sanggup mengguncang keadaan psikologis setiap orang seperti yang disiratkan oleh hadits-hadits, dimana di dalamnya diisyaratkan bahwa kedatangan Dajjal itu merupakan sesuatu yang luar biasa; dan tidak seperti kedatangan seorang pembaharu biasa, yang datangnya juga seperti manusia biasa yaitu dengan mengajukan suatu pemikiran. Kemudian pemikiran itu ditanggapi dengan pro dan kontra. Lalu ia berpolemik dengan yang kontra. Segala kegiatannya akhirnya diliput media karena cukup menarik untuk dijadikan berita. Ia mengadakan konferensi pers kemudian mulai dikenal orang banyak. Lambat laun ia kemudian memiliki pengikut setia, selain juga penentang setia. Ia berpolemik lagi; diliput lagi; dan ada pertambahan pengikut dan pengurangan pengikut seiring dengan bertambahnya informasi yang didapat oleh para pengikut dan penentang tersebut tentang dirinya, dan seterusnya, dan seterusnya, yang tentu saja memakan waktu cukup lama untuk membentuk suatu karakter yang bisa dijadikan ikon sejarah.
Harap diingat bahwa Dajjal yang disebut-sebut di dalam hadits itu akan mengaku sebagai Tuhan dan bukan sebagai pembaharu. Tentu saja, Dajjal yang sebenarnya tidak akan berlaku bodoh dengan muncul apa adanya atau seadanya. Sekali lagi, ia akan mengaku sebagai Tuhan; oleh karena itu, untuk mendapatkan pengakuan khalayak ramai, ia harus mampu menyihir jutaan benak umat manusia secara sekaligus sehingga bisa mengguncang inti kesadaran yang dimiliki mereka. Dengan cara apa?? Bagi penggemar Teori Konspirasi pasti sudah dapat menebaknya, Novus Ordo Seclorum atau “NEW WORLD ORDER” itulah jawabnya. Suatu tata dunia baru yang sebelumnya dimulai dengan penyesatan konsep ketuhanan seluruh Agama termasuk Islam. Semua itu untuk memuluskan berdirinya “New World Order” lewat agenda mereka yang ingin mengenyahkan pengaruh agama di Muka Bumi yang digawangi oleh Dajjal lewat kelompok-kelompok rahasia penyembah setan seperti Illuminati-Freemasonry.

Dengan tampil seperti dajjal-dajjal murahan, Dajjal tidak akan mampu dan tidak akan percaya diri untuk mengaku sebagai Tuhan. Dan yang pasti, seperti yang disuratkan di dalam hadits-hadits, ia memang akan mengaku sebagi Tuhan—jadi bukan hanya sebagai Al-Masih yang legendaris atau sebagai Nabi terakhir. Ia akan mengaku sebagai Allah si pemimpin Alien dari peradaban tinggi dalam ajaran baru tersebut.

Ketika ia datang, ia akan mengacaukan sejarah ummat manusia. Ia akan mengaburkan segala pemahaman dan menistakan semua agama. Tentu saja ia tidak akan mulus di dalam tugasnya apabila ia tidak dibantu oleh anak-anak buahnya. Anak-anak buahnya harus membuat latar belakang kedatangan Dajjal sebelumnya. Anak-anak buahnya harus membuat alasan-alasan yang logis, pernyataan-pernyataan yang jelas dan terperinci yang dapat mendukung aspek KETUHANAN yang dimiliki oleh Dajjal. Apabila Dajjal datang dengan piring terbang, maka Dajjal bisa mengingatkan kita akan makhluk-makhluk luar angkasa yang dikatakan ajaran baru itu sebagai Tuhan yang menciptakan kehidupan di dunia ini. Dan sebagian dari kita yang patuh pada apa-apa yang dikatakan oleh ajaran baru itu, atau paling tidak yang terkena pengaruh film-film Hollywood dan Film Anime “Evangelion”, akan percaya begitu saja apabila Dajjal mengaku sebagai Tuhan. Di dalam hadits juga digambarkan betapa Dajjal mudah sekali mengaku sebagai Tuhan dan banyak sekali manusia yang disesatkan olehnya. Kedatangan Dajjal ini mungkin menunggu waktu yang cukup sampai ajaran baru itu berhasil mempengaruhi setiap benak orang tentang aspek Ketuhanan para Alien.

Saya tidak menafikkan keberadaan mahluk di luar bumi, karena Al Quran dan Hadist telah dengan jelas menyatakan terdapat kehidupan di Luar Bumi ini. Islam mengajarkan kita untuk menempatkan diri secara benar. Kita jangan sampai memungkiri adanya kemungkinan keberadaan mahluk-mahluk asing (Alien) di luar sana. Namun kita juga jangan terpengaruh propaganda dari mahluk-mahluk yang mengklaim sebagai Alien dan percaya 100% begitu saja Informasi yang disampaikan oleh mereka. Bisa saja mereka adalah anak buah Dajjal yang mengaku sebagai Alien.

Sekarang anda telah mengetahui apa sebetulnya yang ingin saya hajar dengan Teori Evangelion. Perlu anda ketahui pula bahwa pada awalnya saya menulis teori Evangelion beberapa tahun yang lalu itu dimaksudkan untuk menyesatkan serta menyebarkan ajaran baru itu pada sahabat-sahabat saya di Kampus. Kenapa?? Jujur saya akui bahwa saya adalah bekas penganut ajaran baru itu. Hanya sedikit orang-orang yang mengetahui bahwa saya dulu adalah penganut ajaran baru itu atau saya sebut “Dajjalisme”. Tapi sekarang saya dipaksa harus berterus terang akan semuanya. Ini pula yang menyebabkan saya dikeluarkan dari Kelompok Hizbut Tahrir.

Namun Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu dan diskusi saya dengan beberapa sahabat, kini saya nyatakan bahwa saya terbebas dari ajaran setan itu. Tapi rasa trauma dari ajaran itu masih sangat kuat membekas di kepala saya. Saya mengingatkan anda akan bahaya dari ajaran itu. Saking dahsyatnya ajaran setan itu, hingga kini saya masih sering mengalami rasa ketakutan dan dilanda kebingungan yang sangat hebat. Bahkan beberapa teman yang telah berhasil saya kufurkan dulu di Kampus masih terpengaruh dengan ajaran itu hingga kini.

Inilah latar belakang Penulisan Anti-Thesis “Teori Evangelion”. Sejak saya bertekad untuk melepaskan diri dari ajaran setan itu, saya ingin merevisi “Teori Evangelion”, tapi itu bukanlah hal mudah. Sulit sekali untuk mengcounter ajaran Dajjalisme itu. Saya sudah mencari berbagai informasi yang dapat menjelaskan penyesatan itu, bahkan hingga informasi yang beredar di kalangan Jin-pun saya telusuri. Saya tidak tahu apakah dalam hal ini meminta informasi dari dunia ghaib adalah syirik atau tidak, yang jelas semua itu saya lakukan sebagai penebusan dosa atas kekufuran yang telah saya perbuat di masa lalu. Ini adalah perlawanan terhadap “New World Order” dan fitnah Dajjal.

Mudah-mudahan dengan ini kita bisa mengambil hikmah dari semua itu.


"Maybe being Simple and Stupid is better"