Senin, 20 September 2010

Racun

Racun

            Menurut Taylor, racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang jika masuk atau mengenai tubuh seseorang akan menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek kimia) yang besar yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian.

            Menurut Gradwohl racun adalah substansi yang tanpa kekuatan mekanis, yang bila mengenai tubuh seorang (atau masuk), akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kerugian,bahkan kematian.

            Sehingga jika dua definisi di atas digabungkan, racun adalah substansi kimia, yang dalam jumlah relatif kecil, tetapi dengan dosis toksis, bila masuk atau mengenai tubuh, tanpa kekuatan mekanis, tetapi hanya dengan kekuatan daya kimianya, akan menimbulkan efek yang besar, yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian.

Jalan masuk

            Racun dapat masuk ke dalam tubuh seseorang melalui beberapa cara:

1. Melalui mulut (peroral / ingesti).

2. Melalui saluran pernafasan (inhalasi)

3. Melalui suntikan (parenteral, injeksi)

4. Melalui kulit yang sehat / intak atau kulit yang sakit.

5. Melalui dubur atau vagina (perektal atau pervaginal) (Idris, 1985)

Klasifikasi racun

            Racun dapat digolongkan sebagai berikut:

I. Pestisida

   A. Insektisida

1. Organoklorin

1. Derivat Chlorinethane: DDT

2. Derivat Cyclodiene         : Thiodane, Endrim, Dieldrine, Chlordan, Aldrin, Heptachlor, toxapene.

3. Derivat Hexachlorcyclohexan      : Lindan, myrex.

2. Organofosfat: DFP, TEPP, Parathion, Diazinon, Fenthoin, Malathion.

3. Carbamat: Carbaryl, Aldicarb, Propaxur, Mobam.

   B. Herbisida

1. Chloropheoxy

2. Ikatan Dinitrophenal

3. Ikatan Karbonat: Prepham, Barbave

4. Ikatan Urea

5. Ikatan Triasine: Atrazine

6. Amide: Propanil

7. Bipyridye

   C. Fungisida

1. Caplan

2. Felpet

3. Pentachlorphenal

4. Hexachlorphenal

   D. Rodentisida

1. Warfarin

2. Red Squill

3. Norbomide

4. Sodium Fluoroacetate dan Fluoroacetamide

5. Aepha Naphthyl Thiourea

6. Strychnine

7. Pyriminil

8. Anorganik:

-         Zinc Phosfat

-         Thallium Sulfat

-         Phosfor

-         Barium Carbamat

-         Al. Phosfat

-         Arsen Trioxyde

II. Bahan Industri

III. Bahan untuk rumah tangga

IV. Bahan obat-obatan

V. Racun (tanaman dan hewan)

Berdasarkan sumber dan tempat dimana racun-racun tersebut mudah didapat, maka racun dapat dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

1. Racun-racun yang banyak terdapat dalam rumah tangga.

Misalnya: desinfektan, deterjen, insektisida, dan sebagainya.

1. Racun-racun yang banyak digunakan dalam lapangan pertanian, perkebunan.

Misalnya: pestisida, herbisida.

1. Racun-racun yang banyak dipakai dalam dunia kedokteran /pengobatan.

Misalnya: sedatif hipnotis, analgetika, obat penenang, anti depresan, dsb.

1. Racun-racun yang banyak dipakai dalam industri / laboratorium.

Misalnya: asam dan basa kuat, logam berat, dsb.

1. Racun-racun yang terdapat di alam bebas.

Misalnya: opium ganja, racun singkong, racun jamur serta binatang.

Mekanisme kerja racun

1. Racun yang bekerja secara setempat (lokal)

Misalnya:

-     Racun bersifat korosif: lisol, asam dan basa kuat.

-         Racun bersifat iritan: arsen, HgCl2.

-         Racun bersifat anastetik: kokain, asam karbol.

Racun-racun yang bekerja secara setempat ini, biasanya akanmenimbulkan sensasi nyeri yang hebat, disertai dengan peradangan, bahkan kematian yang dapat disebabkan oleh syok akibat nyerinya tersebut atau karena peradangan sebagai kelanjutan dari perforasi yang terjadi pada saluran pencernaan.

1. Racun yang bekerja secara umum (sistemik)

Walaupun kerjanya secara sistemik, racun-racun dalam golongan ini biasanya memiliki akibat / afinitas pada salah satu sistem atau organ tubuh yang lebih besar bila dibandingkan dengan sistem atau organ tubuh lainnya.

Misalnya:

-         Narkotik, barbiturate, dan alkohol terutama berpengaruh pada susunan syaraf pusat.

-         Digitalis, asam oksalat terutama berpengaruh terhadap jantung.

-         Strychine terutama berpengaruh terhadap sumsum tulang belakang.

-         CO, dan HCN terutama berpengaruh terhadap darah dan enzim pernafasan.

-         Cantharides dan HgCl2 terutama berpengaruh terhadap ginjal.

-         Insektisida golongan hidrokarbon yang di-chlor-kan dan phosphorus terutama berpengaruh terhadap hati.

1. Racun yang bekerja secara setempat dan secara umum

Misalnya:

-         Asam oksalat

-         Asam karbol

Selain menimbulkan rasa nyeri (efek lokal) juga akan menimbulkan depresi pada susunan syaraf pusat (efek sistemik). Hal ini dimungkinkan karena sebagian dari asam karbol tersebut akan diserap dan berpengaruh terhadap otak (Nawawi, 1989).

-         Arsen

-         Garam Pb

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja racun

1. Cara pemberian

Setiap racun baru akan menimbulkan efek yang maksimal pada tubuh jika cara pemberiannya tepat. Misalnya jika racun-racun yang berbentuk gas tentu akan memberikan efek maksimal bila masuknya ke dalam tubuh secara inhalasi. Jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh secara ingesti tentu tidak akan menimbulkan akibat yang sama hebatnya walaupun dosis yang masuk ke dalam tubuh sama besarnya.

Berdasarkan cara pemberian, maka umumnya racun akan paling cepat bekerja pada tubuh jika masuk secara inhalasi, kemudian secara injeksi (i.v, i.m, dan s.c), ingesti, absorbsi melalui mukosa, dan yang paling lambat jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang sehat.

1. Keadaan tubuh

1.

1. Umur

Pada umumnya anak-anak dan orang tua lebih sensitif terhadap racun bila dibandingkan dengan orang dewasa. Tetapi pada beberapa jenis racun seperti barbiturate dan belladonna, justru anak-anak akan lebih tahan.

1.

1. Kesehatan

Pada orang-orang yang menderita penyakit hati atau penyakit ginjal, biasanya akan lebih mudah keracunan bila dibandingkan dengan orang sehat, walaupun racun yang masuk ke dalam tubuhnya belum mencapai dosis toksis. Hal ini dapat dimengerti karena pada orang-orang tersebut, proses detoksikasi tidak berjalan dengan baik, demikian pula halnya dengan ekskresinya. Pada mereka yang menderita penyakit yang disertai dengan peningkatan suhu atau penyakit pada saluran pencernaan, maka penyerapan racun pada umumnya jelek, sehingga jika pada penderita tersebut terjadi kematian, kita tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kematian penderita disebabkan oleh racun. Dan sebaliknya pula kita tidak boleh tergesa-gesa menentukan sebab kematian seseorang karena penyakit tanpa melakukan penelitian yang teliti, misalnya pada kasus keracunan arsen (tipe gastrointestinal) dimana disini gejala keracunannya mirip dengan gejala gastroenteritis yang lumrah dijumpai.

1.

1. Kebiasaan

Faktor ini berpengaruh dalam hal besarnya dosis racun yang dapat menimbulkan gejala-gejala keracunan atau kematian, yaitu karena terjadinya toleransi. Tetapi perlu diingat bahwa toleransi itu tidak selamanya menetap. Menurunnya toleransi sering terjadi misalnya pada pencandu narkotik, yang dalam beberapa waktu tidak menggunakan narkotik lagi. Menurunnya toleransi inilah yang dapat menerangkan mengapa pada para pencandu tersebut bisa terjadi kematian, walaupun dosis yang digunakan sama besarnya.

1.

1. Hipersensitif (alergi – idiosinkrasi)

Banyak preparat seperti vitamin B1, penisilin, streptomisin dan preparat-preparat yang mengandung yodium menyebabkan kematian, karena sikorban sangat rentan terhadap preparat-preparat tersebut. Dari segi ilmu kehakiman, keadaan tersebut tidak boleh dilupakan, kita harus menentukan apakah kematian korban memang benar disebabkan oleh karena hipersensitif dan harus ditentukan pula apakah pemberian preparat-preparat mempunyai indikasi. Ada tidaknya indikasi pemberi preparat tersebut dapat mempengaruhi berat-ringannya hukuman yang akan dikenakan pada pemberi preparat tersebut.

1. Racunnya sendiri

1. Dosis

Besar-kecilnya dosis racun akan menentukan berat-ringannya akibat yang ditimbulkan. Dalam hal ini tidak boleh dilupakan akan adanya faktor toleransi, dan intoleransi individual. Pada intoleransi, gejala keracunan akan tampak walaupun racun yang masuk ke dalam tubuh belum mencapailevel toksik. Keadaan intoleransi tersebut dapat bersifat bawaan / kongenital atau intoleransi yang didapat setelah seseorang menderita penyakit yang mengakibatkan gangguan pada organ yang berfungsi melakukan detoksifikasidan ekskresi.

1.

1. Konsentrasi

Untuk racun-racun yang kerjanya dalam tubuh secara lokal misalnya zat-zat korosif, konsentrasi lebih penting bila dibandingkan dengan dosis total. Keadaan tersebut berbeda dengan racun yang bekerja secara sistemik, dimana dalam halini dosislah yang berperan dalam menentukan berat-ringannya akibat yang ditimbulkan oleh racun tersebut.

1.

1. Bentuk dan kombinasi fisik

Racun yang berbentuk cair tentunya akan lebih cepat menimbulkan efek bila dibandingkan dengan yang berbentuk padat. Seseorang yang menelan racun dalam keadaan lambung kosong, tentu akan lebih cepat keracunan bila dibandingkan dengan orang yang menelan racun dalam keadaan lambungnya berisi makanan.

1.

1. Adiksi dan sinergisme

Barbiturate, misalnya jika diberikan bersama-sama dengan alkohol, morfin, atau CO, dapat menyebabkan kematian, walaupun dosis barbiturate yang diberikan jauh di bawah dosis letal. Dari segi hukum kedokteran kehakiman, kemungkinan-kemungkinan terjadinya hal seperti itu tidak boleh dilupakan, terutama jika menghadapi kasus dimana kadar racun yang ditemukan rendah sekali, dan dalam hal demikian harus dicari kemungkinan adanya racun lain yang mempunyai sifat aditif (sinergitik dengan racun yang ditemukan), sebelum kita tiba pada kesimpulan bahwa kematian korban disebabkan karena reaksi anafilaksi yang fatal atau karena adanya intoleransi.

1.

1. Susunan kimia

Ada beberapa zat yang jika diberikan dalam susunan kimia tertentu tidak akan menimbulkan gejala keracunan, tetapi bila diberikan secara tersendiri terjadi hal yang sebaliknya.

1.

1. Antagonisme

Kadang-kadang dijumpai kasus dimana seseorang memakan lebih dari satu macam racun, tetapi tidak mengakibatkan apa-apa, oleh karena reaksi-reaksi tersebut saling menetralisir satu sama lain. Dalam klinik adanya sifat antagonis ini dimanfaatkan untuk pengobatan, misalnya nalorfin dan kaloxone yang dipakai untuk mengatasi depresi pernafasan dan oedema paru-paru yang terjadi pada keracunan akut obat-obatan golongan narkotik.

                        (Idris, 1985)

Kriteria diagnosis kasus keracunan

1. Anamnesa yang menyatakan bahwa korban benar-benar kontak dengan racun (secara injeksi, inhalasi, ingesti, absorbsi, melalui kulit atau mukosa).

Pada umumnya anamnesa tidak dapat dijadikan pegangan sepenuhnya sebagai kriteria diagnostik, misalnya pada kasus bunuh diri – keluarga korban tentunya tidak akan memberikan keterangan yang benar, bahkan malah cenderung untuk menyembunyikannya, karena kejadian tersebut merupakan aib bagi pihak keluarga korban.

1. Tanda dan gejala-gejala yang sesuai dengan tanda / gejala keracunan zat yang diduga.

Adanya tanda / gejala klinis biasanya hanya terdapat pada kasus yang bersifat darurat dan pada prakteknya lebih sering kita terima kasus-kasus tanpa disertai dengan data-data klinis tentang kemungkinan kematian karena kematian sehingga harus dipikirkan terutama pada kasus yang mati mendadak, non traumatik yang sebelumnya dalam keadaan sehat.

1. Secara analisa kimia dapat dibuktikan adanya racun di dalam sisa makanan / obat / zat yang masuk ke dalam tubuh korban.

Kita selamanya tidak boleh percaya bahwa sisa sewaktu zat yang digunakan korban itu adalah racun (walaupun ada etiketnya) sebelum dapat dibuktikan secara analisa kimia, kemungkinan-kemungkinan seperti tertukar atau disembunyikannya barang bukti, atau si korban menelan semua racun – kriteria ini tentunya tidak dapat dipakai.

1. Ditemukannya kelainan-kelainan pada tubuh korban, baik secara makroskopik atau mikroskopik yang sesuai dengan kelainan yang diakibatkan oleh racun yang bersangkutan.

Bedah mayat (otopsi) mutlak harus dilakukan pada setiap kasus keracunan, selain untuk menentukan jenis-jenis racun penyebab kematian, juga penting untuk menyingkirkan kemungkinan lain sebagai penyebab kematian. Otopsi menjadi lebih penting pada kasus yang telah mendapat perawatan sebelumnya, dimana pada kasus-kasus seperti ini kita tidak akan menemukan racun atau metabolitnya, tetapi yang dapat ditemukan adalah kelainan-kelainan pada organ yang bersangkutan.

1. Secara analisa kimia dapat ditemukan adanya racun atau metabolitnya di dalam tubuh / jaringan / cairan tubuh korban secara sistemik.

Pemeriksaan toksikologi (analisa kimia) mutlak harus dilakukan. Tanpa pemeriksaan tersebut, visum et repertum yang dibuat dapat dikatakan tidak memiliki arti dalam hal penentuan sebab kematian. Sehubungan dengan pemeriksaantoksikologis ini, kita tidak boleh terpaku pada dosis letal sesuatu zat, mengingat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kerja racun. Penentuan ada tidaknya racun harus dibuktikan secara sistematik, diagnosa kematian karena racun tidak dapat ditegakkan misalnya hanya berdasar pada ditemukannya racun dalam lambung korban.

Dari kelima kriteria diagnostik dalam menentukan sebab kematian pada kasus-kasus keracunan seperti tersebut di atas, maka kriteria keempat dan kelima merupakan kriteria yang terpenting dan tidak boleh dilupakan.

Analitikal Toksikologi

Analitikal toksikologi merupakan pemeriksaan laboratorium yang berfungsi untuk:

1. Analisa tentang adanya racun.

2. Analisa tentang adanya logam berat yang berbahaya.

3. Analisa tentang adanya asam sianida, fosfor dan arsen.

4. Analisa tentang adanya pestisida baik golongan organochlorin maupun organophospat.

5. Analisa tentang adanya obat-obatan misalnya: transquilizer, barbiturate, narkotika, ganja, dan lain sebagainya.

Analitikal toksikologi meliputi isolasi, deteksi, dan penentuan jumlah zat yang bukan merupakan komponen normal dalam material biologis yang didapatkan dalam otopsi. Guna toksikologi adalah menolong menentukan sebab kematian.

Kadang-kadang material didapatkan dari pasien yang masih hidup, misalnya darah, rambut, potongan kuku atau jaringan hasil biopsi. Hasil toksikologi disini membantu dalam menentukan kasus-kasus yang diduga keracunan.

Pada pengiriman material untuk analitikal toksikologi, diharapkan dokter mengirimkan material sebanyak mungkin, dengan demikian akan memudahkan pemeriksaan dan hasilnya akan lebih sempurna.

Jaringan tubuh masing-masing memiliki afinitas yang berbedaterhadap racun-racun tertentu, misalnya:

*. Jaringan otak adalah material yang paling baik untuk pemeriksaan racun-racun organis, baik yang mudah menguap maupun yang tidak mudah menguap.

*. Hepar dan ginjal adalah material yang paling baik untuk menentukan keracunan logam berat yang akut.

*. Darah dan urin adalah material yang paling baik untuk analisa zat organik non volatile, misalnya obat sulfa, barbiturate, salisilat dan morfin.

*. Darah, tulang, kuku, dan rambut merupakan material yang baik untuk pemeriksaan keracunan logam yang bersifat kronis.

Untuk racun yang efeknya sistemik, harus dapat ditemukan dalam darah atau organ parenkim ataupun urin. Bila hanya ditemukan dalam lambung saja maka belum cukup untuk menentukan keracunan zat tersebut. Penemuan racun-racun yang efeknya sistemik dalam lambung hanyalah merupakan penuntun bagi seorang analis toksikologi untuk memeriksa darah, organ, dan urin ke arah racun yang dijumpai dalam lambung tadi. Untuk racun-racun yang efeknya lokal, maka penentuan dalam lambung sudah cukup untuk dapat dibuat diagnosa.

B. Arsen

Sejarah

            Sebenarnya arsen sudah dikenal sejak dulu dari sulfide-sulfidenya, dan ahli kimia dari Yunani mendapatkan arsen putih dengan membakar salah satu diantaranya.

            Pada abad ke XVI, buruh-buruh tambang dariSaxony menjadi kebingungan dan tak menentu ketika mereka mencium bau smaltite, Co As2, karena zat tersebut mengeluarkan asap arsen yang beracun, dan zat tersebut tak menghasilkan perak walaupun zat tersebut nampak seperti perak putih metalik.

            Para petambang tadi mengira bahwa terdapat kobold atau goblin dalam biji tambang tersebut, yang menyebabkan kebingungan yang tak layak. Dan hal ini merupakan asal kata Cobalt.

            Pengertian tentang senyawa arsen sudah dimulai sejaktahun 1733, ketika Brandt memperlihatkan bahwa arsen putih merupakan oksidasi dari elemen arsen. Pada tahun 1956, dalam “De Re Metallica”, Agricolas menggambarkan efek dari arsenical-cobalt, yang saat itu disebut Cadmia. Dimana dikatakan zat tersebut dapat merusak kulit tangan pekerja, dan dia kemudian mengharuskan pemakaian sarung tangan panjang pada pekerja-pekerja yang menanganinya.

            Warangan, yang merupakan salah satu bentuk arsen in organik yang merupakan bentuk logam berat yang sangat beracun yang banyak digunakan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki “wesi aji”. Sebagai salah satu tradisi, setiap kali mereka “menyucikan” wesi aji, mereka mengoleskan warangan padanya. Senyawa arsen in organik yang melebihi golongan racun lainnya, telah digunakan untuk tujuan-tujuan pembunuhan. Pelaku pembunuhan memberi racun pada korban dalam suatu dosis fatal.

            Pada sejarah pembunuhan dengan menggunakan arsensering terjadi pada pembunuhan masal, dimana sejumlah orang diracuni oleh seorang individu. Pada masa lalu, karena arsen ini (yaitu arsen trioxide) memiliki aroma yang kurang mencolok, maka akan memudahkannya untuk disembunyikanke dalam makanan atau minuman dengan tujuan untuk melakukan sesuatu tindak kejahatan yang tersembunyi.

            Dalam beberapa perihal pembunuhan, preparat yang mengandung senyawa arsen ada yang dimasukkan ke dalam anus, uretra, ataupun vagina. Kadang terjadi dimana preparatarsen dimasukkan ke dalam vagina dengan maksud pengguguran, tetapi malah berakibat kematian.

Dalam “Office of The Chief Medical Examiner” (Kantor Pemeriksaan Obat), pembunuhan dengan senyawa arsen termasuk jarang terjadi. Diantara tahun 1918-1951 tercatat 13 kali kejadian.

            Peracunan yang dilakukan dengan tujuan bunuh diri, terjadi lebih sering, dan biasanya akibat dari racun tikus atau Paris-Green. Dia antara tahun 1918-1951, kematian karena bunuh diri dengan senyawa arsen inorganic tercatat sejumlah145 orang.

            Masalah peracunan yang tak disengaja dan hanya secara kebetulan akibat dari arsen inorganik agak umum terjadi. Di New York pada interval antara tahun 1918-1951 ada 114 kasus fatal dari tipe ini.

Namun sekarang cara pembunuhan dengan arsen seperti itu sudah tidak begitu terkenal. Beberapa pengadilan di Amerika Serikat bahkan memakai apoteker / ahli obat untuk mencatatsemua penjualan yang mengandung senyawa arsen.

Kegunaan

Pada suatu saat logam-logam berat menempati tempat-tempat yang menonjol dalam pengobatan. Disamping juga merupakan penyebab-penyebab keracunan yang penting. Kecuali emas, pemakaian pengobatan dari logam-logam telahdikemukan dimana-dimana. Arsen sudah diketahui sebagai bahan untuk pengobatan oleh orang-orang Yunani dan Roma zaman dulu. Diantaranya digunakan sebagai parasitisida untuk protozoa, misalnya trypanosomiasis, spirochaeta, yaros, demam kambuhan, amoubiasis, vaginitis trichomonal; dan arsen terutama digunakan untuk mengobati filariasis pada anjing.

Memang dasar-dasar dari banyak konsep-konsep modern tentang kemoterapi berasal dari kerja awal Ehrlich dengan arsen-arsen organic. Derivate-derivat arsen yang terkenal ialah salversan neoarsphenanime (mapharsan, arsenoxide).

Bagaimanapun sekarang medical interest terhadap logam-logam berat telah menurun tajam, oleh karena penggantian dengan obat-obat antimikrobial alam dan sintetik yang mujarab dan aman, serta untuk ukuran kesehatan masyarakat dan higiene pencegahan dapat mengatasi masalah keracunan dari pemakaian industri-industri mereka. Namun perhatian lingkungan, telah turut membantu untuk suatu kejutan dari penelitian yang aktif dan berkelanjutan, dan sebagai literatur dalam toksikologi logam berat.

Ditemukannya penisilin menyisihkan arsen sebagai obat anti lues, dan juga obat-obat baru lain yang hampir sama halnya dalam menurunkan penggunaan senyawaan arsen organik yang lain.

Pada pengobatan manusia sekarang, arsen-arsen yang masih dipakai hanya untuk pengobatan beberapa penyakit tropis. Terutama masih dipakai pada penyakit-penyakit hewan.

Untuk masa-masa mendatang, di Amerika Serikat dan juga di negara-negara lain, imbas dari arsen pada kesehatan, akan lebih banyak yang berasal dari industri dan lingkungan daripada yang berasal dari pemakaian obat-obatan.

Tinjauan yang menarik dari segi biologis toksikologi dan lingkungan tentang arsen telah ditulis antara lain:

- Valce dan Dialoni                     1960

- Buchanan                                1962

- Schraeder                               1966

- Frost                                       1967

- Lisella & Co. Workers  1972

Salah satu campuran yang paling penting adalah arsen triokside atau arsenious okside, As2O3, dengan kata lain arsen putih yang banyak digunakan sebagai bahan utama racun tikus – dan kadang-kadang dikelirukan dengan asam arsenium. Ini terjadi dalam bentuk bubuk putih atau kristal oktahedral yang tidak mempunyai rasa. Arsenic trioxide beracun dan ditemukan pada beberapa pemberantasan tikus. Beberapa obat yang sering digunakan seperti cairan acidi arsenasi dan Fowler’s solution mengandung arsen trioxide.

Dosis letal (yang mematikan) dari keracunan arsenic tergantung pada senyawaannya. Keracunan fatal oleh arsen trioxide adalah 0,2 – 0,3 gram bagi orang dewasa.

Campuran arsen yang beracun dalam bentuk lain yaitu trichloride, triyodide, sodium arsenate, pada Pearson’s solution, Scheele’s green atau Copper arsenite, Paris green, Realgar, atau arsenic sulfide, Donovan’s solution, (masing-masing 1 % merkuri yodide dan arsenic yodide), Clemen’s solution (potassium arsenat pada bromidi) dan pigmen-pigmen yang serupa Brunwick green, Vienna merah dan mineral biru dimana terdapat sejumlah arsen dalam bentuk lain. Arsen dalam beberapa campuran arsen organic lain juga toksis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar