Jumat, 26 Agustus 2011

Ouroboros


Batak Version

Projecteren Onsterfelijk slang berasal dari bahasa Belanda yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya : “Memproyeksikan Ular Abadi”,Ya,kalimat ular disini tentu ada hubungannya dengan gambar simbol diatas kalimat ini.Abadi artinya mencerminkan keabadian atau kekekalan.Disini saya semakin penasaran dengan hubungan antara kalimat tadi dengan gambar simbol,Pencarianpun berlanjut,dan akhirnya saya menemukan sebuah gambar simbol yang sama persis dengan postingan Bang Neo Simalungun Jaya.Ternyata simbol itu bernama Ouroboros.Jika kita perhatikan dengan seksama,di simbol ini terdapat gambar ular yang menelan ekor ular yang lain,begitupun ular yang ditelan ekornya menelan ekor ular yang pertama tadi.Cukup menarik,dan hal ini semakin membawa saya untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai arti simbol ini.


Western Version
“Ouroboros”,merupakan istilah Yunani yang sering dianggap sebagai lambang perputaran hidup setelah mati, takdir, atau penciptaan dan kehancuran, kalo istilah Jawa ya Cakra Manggilingan ( Roda Nasib Terus Berputar ).Dan saya pun mecoba mencari-cari tentang sejarah lambang ular ini di berbagai sumber di internet dan langsung saya kopi dan pastekan saja di bawah ini .Gambar ular yang memakan buntutnya sendiri sepertinya dirancang oleh bangsa Mesir Kuno sekitar pertengahan millenium kedua sebelum Masehi. Beberapa tahun setelah itu, selama dinasti Zhou berkuasa di Cina, naga atau ular yang memakan buntutnya sendiri diilustrasikan. Mungkinkah dua peradaban besar yang terpisah oleh jarak yang luar biasa itu mengembangkan konsep ini secara benar-benar terpisah satu sama lain?


Bangsa Funisia menyerap simbol Ouroboros dan menjadikannya bagian dari budaya mereka. Bangsa ini awalnya menghuni wilayah tepi pantai dari bagian yang sekarang disebut Suriah, di sekeliling laut Mediterania. Melalui hubungan perdagangan, ide-ide mereka tersebar luas. Bangsa Yunani Kuno kemudian mengadopsi Ouroboros dan memberinya nama yang kita kenal hari ini sebagai "pemakan buntut". Ejaan alternatifnya termasuk Uroboros dan Oureboros.

Ouroboros menjadi siklus alam;kehidupan dari kematian, penciptaan dari kehancuran. Yin dan Yang adalah simbol yang lebih tua yang berasal dari Cina yang memiliki kemungkinan cikal bakal penciptaan simbol ini. Ada begitu banyak pendapat mengenai asal usul simbol Ouroboros, ada yang mengatakan Ouroboroslah inspirasi untuk Yin dan Yang.Dalam Alkimia kuno, Ouroboros adalah seekor ular, atau terkadang naga, yang pada masa-masa awal sering disebut sebagai cacing.


Ia membentuk sebuah lingkaran ketika memakan dirinya sendiri, terus menerus, mendaur ulang, sebuah metafora dari kelahiran dan kematian.Gnostisisme, sebuah bentuk ajaran spiritual yang berpendapat bahwa pengikutnya memiliki pencerahan khusus, mengajarkan bahwa matahari dapat dianggap sebagai mitologi bangsa Norwegia juga memiliki versi Ouroborosnya sendiri, ular Jormundgand. Ular ini adalah salah satu dari tiga orang anak dewa besar Loki. Dahulu kala, Odin, pemimpin para dewa, menyadari bahwa suatu hari kelak, Jormundgand, seekor ular, akan membawa masalah besar, sehingga dia membuang ular itu ke laut dalam. Namun, makhluk itu begitu besar sehingga ia sanggup melingkari dunia, dengan menggigit buntutnya sendiri.Ouroboros memiliki nilai penting bagi berbagai macam bangsa sepanjang sejarah. Walaupun pada awalnya tampak hampir tidak terlihat kesamaan, sebenarnya mereka semua disatukan oleh simbol ular yang memakan dirinya sendiri.


Berikut Urain mengenai Ular dari
From book Family of Light by Barbara Marciniak
Translate to Indonesia by Isti R. Kasmito


Ular merupakan simbol yang menonjol yang digunakan diseluruh dunia, menghiasi tahta Paus, pharaoh, raja-raja dan ratu – keluarga raja-raja di setiap benua juga kepala-kepala suku dan dukun-dukun, baik dari zaman dahulu maupun yang hidup di masa kini. Ular juga merupakan simbol dari profesi medismu. Gambar ular merupakan jalinan terselubung dalam setiap aspek kehidupanmu tanpa kamu memahami arti sesungguhnya. Gambar ular yang menggigit ekornya sendiri merupakan simbol bagi dewi-dewi dan ciptaan-ciptaan kehidupannya: Ular melingkar membentuk sebuah lingkaran atau berbentuk lonjong – melambangkan vulva (kemaluan wanita) yang merupakan pintu masuk organ kehidupan wanita, simbol-simbol ini ada di mana-mana pada planetmu. Para leluhurmu memahami kekuatan kesuburan dan seksualitas dalam hubungannya dengan para dewa dan juga makna mengapa ia berada di dalam tubuh, memahami apa yang dilakukan tubuh, bahwa ia dapat menciptakan kehidupan maupun penyakit, mengalami rasa sensasi ekstasi maupun rasa sakit yang luar biasa.


Struktur-struktur agama, dan sesungguhnya juga bangunan-bangunannya baik yang kuno maupun modern, juga dihiasi oleh simbol-simbol rahasia kesuburan. Jendela-jendela berbentuk lonjong di gereja-gereja serta menara-menara yang besar di atasnya mengingatkan kepada organ-organ seksualmu. Mengapa struktur-struktur ini selalu ada salib di atasnya? Ingatlah salib merupakan simbol kuno yang mengartikan sebuah jalan, dan di beberapa tradisi perempatan-perempatan menggambarkan pertemuan energi. Para penyihir dikatakan berkumpul di perempatan karena kekuatan berlipat ganda dan pertukaran energi terjadi di sana. Salib juga merupakan sebuah antena; ketika ia digunakan untuk menyalib seseorang ia memancarkan rasa sakit kepada ether. Untuk memperluas persepsimu, simbol-simbol dan gagasan perlu diberlakukan dan dianggap secara alami karena beberapa dari kamu memiliki begitu banyak lampiran-lampiran terhadap apa yang kamu yakini sebagai kebenaran. Kebenaran selalu didasari kepada persepsi seseorang dan idealnya ketika perspektif kamu berubah kamu akan menemukan dasar kebenaran-kebenaran yang baru.


Di Simalungun ada yang nama nya Kiok/Ulog Si Baganding Tuah,yang mana apabila ular ini datang kerumah penduduk atau ke lumbung padi konon katanya seisi rumah tersebut akan mengalami kesejahtraan ,dan isi lambung padi pun tidak akan habis-habis walaupun selalu diambil untuk keperluan-keperluan pangan,saya sampai sekarang ini belum mengetahui apa ini benar adanya atau pun tidak,tapi begitulah kepercayaan jaman dulu,dan kembali ke pada kisah Nabi Musa yang mengubah tongakat menjadi ular,dan ketika semua orang yang kena tulah melihat tiang ular tersebut maka mereka yang melihat akan sembuh seketika,dari ini semua memang banyak kesamaan-kesamaan yang tidak bisa kita pungkiri baik itu dari segi mitologi,kepercayaan dari masing-masing agama dan suku bangsa,sehingga kita pun memiliki suatu keyakinan kalo jaman dahulu leluhur kita cara pandang nya dan cara berpikirnya hampir sama dengan bangsa-bangsa yang beradab dan berluhur tinggi,dan dari sini kita harus memiliki suatu kebangaan akan ke luwesan leluhur kita dalam mempelajari suatu ilmu yang mana mereka tidak terbatas dan tidak dikotak kan dalam pemikiran yang sempit.


Ada baiknya sesekali kita memandang kekayaan ilmu leluhur dengan cara pandang ilmu pengetahuan/rasional,bisa jadi saja ini sebuah metode awal bagimana tercipta sebuah roda mobil yang kita gunakan saat ini,atau bagian-bagian penting dalam sebuah mesin pengerak sebuah mobil ataupun pesawat,tentu ini akan beda hasilnya,kalau kita hanya memandang ke ilmuan leluhur itu hanya selalu dari segi klenik atau hal-hal yang di luar batas ke agamaan yang kita anut saat ini ,tentu kita akan mengalami alergi keyakinan.


Seorang Hitler penguasa jerman memiliki ambisi yang sangat tinggi untuk mengali naskah-naskah kuno yang ada di india,tibet dan lain sebagainya,dan akhirnya suatu saat ilmuan-ilmuan Hitler menemukan suatu formula untuk pembuatan Bom Atom yang akan bisa menghancur dunia,Waktu itu pabrik pembuatan air berat (H2O2) milik Jerman yang merupakan bahan baku penting pembuatan bom atom dibom oleh Sekutu, sehingga mereka tidak sempat berproduksi,dan akhirnya ilmuan tersebut di bawa ke Amerika lalu konsep awal pembuatan Bom Atom pun disempurankan di Amerika yang mana pada akhirnya Bom itu meluluh lantakan Nagasaki dan Herosima,dan masih banyak penemuan lainnya dalam naskah kuno tersebut yang telah di aplikasikan dalam sebuah teknologi,semisalnya Vimana adalah pesawat kuno yang ada di inda pada masa-masa Kerjaan Rama,dan konsep tersebut juga lah yang pada awal nya pembuatan pesawat dan benda terbang lainnya.



Andaikan saja kita masih memiliki naskah-naskah kuno simalungun itu,mungkin kita hari ini kita memiliki obat anti AIDS,hanya saja kita terlalu sempit memahami apa maksud-maksud dari isi naskah-naskaha kuno tersebut yang mana kesempatan ini diambil oleh orang-orang barat,dan akhirnya sekarang bangsa-bangsa barat dalam segi teknologi dan lain sebagainya mereka selalu diatas rata-rata.


Untuk sebagi bahan perhatian kita yang udah menggunakan symbol ini di abad modern coba perhatikan logo Mozilla firefox,Global Tv,dan Vodafone,apakah symbol perusahaan ini mengambil konsep dari pada Ouroboros ini.

Dan saya pun kembali berpikir lagi akan penemuan-penemuan yang sedikit membuat saya kaget,bagaimana mungkin pula symbol ini bisa masuk lagi ke Tanah Batak/Simalungun,apakah ini masuknya dari jalur perdanganggan yang pada masa itu ada Barus yang mana pelabuhan itu adalah salah satu pelabuhan yang sangat penting di masanya yang membuat bangsa-bangsa asing saling berintraksi dan saling bertransaksi juga,apakah ada kemungkinan kalau symbol ini datang nya dari Tanah Leluhur kita atau dari Bangsa-bangsa yang datang ke Barus , saya tidak tahu dan ini perlu pengalian lebih dalam lagi,saya masih berharap dengan amat sangat kira nya ada ilmuan-ilmuan nuswantara kita ini agar bisa mencari benang merah nya dan bagaimana bisa symbol yang di pakai bangsa-bangsa besar itu ada juga di tanah leluhur kita.

1 komentar:

  1. 3. Ouroboros (Ular Gigit Ekor)

    Di prasasti makam itu, tepat di bagian bawah, terdapat gambar seekor ular sedang menggigit ekornya. Itu adalah prasasti makam Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler yang memimpin ekspedisi penyerangan pertama ke Aceh. Sejarah mencatat ia mati ditembak pejuang Aceh pada 14 April 1873.

    Lambang ular menggigit ekor pada makam Kohler dikenal dengan istilah Ouboros. Ini merupakan istilah Yunani yang sering dianggap sebagai lambang perputaran hidup setelah mati, takdir, atau penciptaan dan kehancuran.

    Konsep ular menelan ekor ini dikenal juga di kebudayaan Skandinavia, Cina, Mesir kuno, atau suku Maya. Bagi kaum Yahudi, ular dianggap hewan suci yang melambangkan kebijaksanaan, kecerdikan, dan pergerakan. Bahkan, ada pula kelompok persaudaraan ular yang disebut The Brotherhood of the Snake. Selain Yahudi, simbol ular juga muncul dalam peradaban kuno Mesir, suku Maya, maupun kebudayaan kuno India. Dalam kebudayaah kuno, simbol ular juga identik dengan sihir.
    - See more at: http://atjehpost.com/m/read/4918/Membaca-5-Simbol-Yahudi-di-Kherkhoff-Banda-Aceh#sthash.uI3RejIb.OgZVswDy.dpuf
    http://atjehpost.com/m/read/4918/Membaca-5-Simbol-Yahudi-di-Kherkhoff-Banda-Aceh

    BalasHapus