Sabtu, 27 Agustus 2011

SWASTIKA



Swastika (卐 ataupun 卍) merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu.


Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas.


Wilayah geografis tersebut mencakup Turki, Yunani, Kreta, Cyprus, Italia, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, India, Tibet, China, Jepang, negara-negara Skandinavia dan Slavia, Jerman hingga Amerika.


Etimologi


Kata Swastika terdiri dari kata Su yang berarti baik, kata Asti yang berarti adalah dan akhiran Ka yang membentuk kata sifat menjadi kata benda. Sehingga lambang Swastika merupakan bentuk simbol atau gambar dari terapan kata Swastyastu (Semoga dalam keadaan baik).


Swastika dalam berbagai bangsa


Simbol ini, yang dikenal dengan berbagai nama seperti misalnya Tetragammadion di Yunani atau Fylfot di Inggris, menempati posisi penting dalam kepercayaan maupun kebudayaan bangsa-bangsa kuno, seperti bangsa Troya, Hittite, Celtic serta Teutonic. Simbol ini dapat ditemukan pada kuil-kuil Hindu, Jaina dan Buddha maupun gereja-gereja Kristen (Gereja St. Sophia di Kiev, Ukrainia, Basilika St. Ambrose, Milan, serta Katedral Amiens, Prancis), mesjid-mesjid Islam ( di Ishafan, Iran dan Mesjid Taynal, Lebanon) serta sinagog Yahudi Ein Gedi di Yudea.


Swastika pernah (dan masih) mewakili hal-hal yang bersifat luhur dan sakral, terutama bagi pemeluk Hindu, Jaina, Buddha, pemeluk kepercayaan Gallic-Roman (yang altar utamanya berhiaskan petir, swastika dan roda), pemeluk kepercayaan Celtic kuna (swastika melambangkan Dewi Api Brigit), pemeluk kepercayaan Slavia kuno (swastika melambangkan Dewa Matahari Svarog) maupun bagi orang-orang Indian suku Hopi serta Navajo (yang menggunakan simbol itu dalam ritual penyembuhan). Jubah Athena serta tubuh Apollo, dewa dan dewi Yunani, juga kerap dihiasi dengan simbol tersebut.

Swastika dari tanda (+) yang di ujung-ujungnya diberi garis pendek mendatar.
Swastika juga merupakan perlambang “jalannya matahari”, yaitu sebagai simbol “gerak nan abadi” yang muncul dari arah “pergerakan semu” matahari dari timur ke barat. Gerak matahari ini terlihat, karena bumi berputar pada sumbunya dari kiri ke kanan (pradaksina), kemudian berevolusi mengelilingi matahari dari barat ke timur, sehingga matahari terlihat bergerak dari timur ke barat.

Swastika sebagai simbol agama Hindu juga memiliki makna perputaran dunia yang dijaga oleh manifestasi Kemahakuasaan Tuhan di delapan penjuru mata angin (asthadala) dan berpusat pada Siwa di titik tengah dan meingat ini saya jadi teringat akan rajahan yang beranama tapak leman dan biasa juga bindu matogu di artikan secara harafiah yaitu 8 penjuru mata angin , yang bisa di gunakan para Datu Bolon (Dukun) untuk membuat benteng pertahanan di suatu kampung atau pun di tempat-tempat untuk melakukan hajatan besar dengan merajahkannya di tanah.

Swastika simbol suci Agama Hindu yang sebagai dasar kekuatan dan kesejahteraan Bhuana Agung atau macrocosmos dan Bhuana Alit atau Microcosmos. Swastika sebagai lambang keselamatan, kebahagian dan kesejahtraan seluruh alam semesta.
Swastikan lebih bermakna sebagai “penyerapan” atau “pelepasan”.
Arah ke kanan lebih pada pelepasan/penebaran energi keselamatan, kebahagiaan dan kesejahtraan (lebih bersifat makrokosmos dan microkosmos yaitu Panca Yadnya dan Panca Maha Yadnya)
Sedangkan kalau di balik (Swastika ke kiri) adalah lambang penyerapan (lebih bersifat microkosmos / Panca Sradha).


Asumsi Pribadi terjadinya Lambang Swastika


VIctor A Berel

Mungkin pengaruh nya dari sistem limbik kita dimana otak kanan kita ini mencari-cari kekosongan itu dimana ini memang di kasih buat manusia agar bisa menjadi transmiter kepada Sang Pencipta.Kalau di tarik dari sisi ini, maka pada zaman dulu itu mereka mencari dengan menatap ke alam sekitrarnya dan juga lebih sering menatap matanya kearah langit. Dimana diatas sana ada bintang-bintang, galaksi-galaksi dan sejenisnya yang memberi gambaran kepada leluhur itu untuk mengkaitkan dengan spiritualnya. Dan mungkin juga pada saat itu mungkin bumi dan alam semesta itu tidak jauh jaraknya, mungkin dekat jadi mereka bisa melihat dengan matanya dengan sangat jelas.

Dan mungkin juga karena sistem limbik dari otak kanan mereka itu lebih dominan, maka melihat tanda-tanda galaksi itu menjadi jelas. Dan terurai, terkait, terhubung sedemikian rupa dan akhirnya mereka menenumakan simbol Swastika ini, yang mungkin itu dulu tergambar secara visual aseperti komet berputar.


Dan simbol ini berputar dalam kehidupan mereka yang menjadi suatu batu loncatan atau jembatan untuk vibrasi dengan alam ini dan Sang Pencipta.

Dan mereka merasakan adanya energi lain bila terkait dengan simbol ini sehingga mereka menjadi hormonis dalam kehidupan mereka secara totalitas holistik pada saat itu dengan Sang Pencipta tersebut. Dan berkembang terus dengan pergeseran dimensi dan budaya sampai saat ini.


Kalau di lihat dari bahasa swastika tersebut bahwa berasala dari sankirt atau sansekerta dimana bahasa ini adalah bahasa vibrasi kepadaa Sang Pencipta dan alam sekitar nya menjadi hormonisasi vibrasi spiritual (mantra dan doa-doa pada zaman itu di gunakan pakai bahasa ini)


Didalam simbol swastika itu sendiri terdapat 4 ruang, yg mewakili 4 unsur bumi dan terus makna dari simbol itu berkembang terus sampai saat ini dengan arti yang banyak dan terkait satu dengan lain nya. Kalau misal sampai kepada leluhur Simalungun, mungkin juga sistem limbik pada otak kanan itu vibrasi dengan para leluhur dalam mantra dan doa dan ritual-ritual dan ahkirnya sampai pada penggambaran visual yang sama dengan leluhur yang sudah lalu dan berjauhan ruang dan waktu. Sehingga simbol itu menjadi legenda


Kalau dilihat dan dicermati seperti ada angka 7 sebanyak 4 kali dan 7 kebalik dilihat dari cermin dan huruf L dan Z. Jika 7 X 4 = 28--> 1(Angka Illahi, Awal/ permulaan/ pertama,sumber, keesaan Allah) , atau kalau 7 x 2 = 14--> 5 berarti ada 5 dan 5 bila 5 X 5 = 25. Dan 5 menandakan Rahmat Illahi, klu 25 menandakan rahmat yang dipertingkatkan. Klu 55 = SS = Holy Spirit.


Hendra Hendarin


Awalnya berevolusi dari cross
cross diantaranya adalah memaknakan hubungan vertikal dan horisontal, yakni hubungan dengan sesama manusia, juga dengan leluhur,jika pangkal cross diambil sebagai dasar, akan meninggakan 'trisula'/'trimurti' di bagian atasnya, yakni melambangkan tiga perspektif ketuhanan dalam manusia, yakni dimensi yang maha satu (causa prima), keRUHan (karuhun/leluhur), dan dimensi manusia (kenabian/avatarism/jasad).Sedangkan dari perspektif lainnya adalah 4 cabang, yakni melambangkan 4 unsur utama semesta, yakni, api (gas panas), air, udara (gas dingin), dan mineral (daratan).

Dari sini kemudian berkembang menjadi swastika, dengan menambahkan siku dalam setiap cabangnya.siku ini dalam piktogram kuno (glyph) melambangkan 'pembangun', artinya kemudian menjadi '4 unsur yang membangun semesta'perspektif lainnya adalah, swastika menggambarkan juga looping motion, pergerakan memutar yang menyimbolkan perputaran semesta (reinkarnasi) juga menyimbolkan konstanta percepatannya (fibonacci).Dalam banyak kisaran modifikasinya, juga menambahkan 4 titik lain, yang membawa kepada perspektif delapan penjuru arah; serta juga simbolisasi kepada perputaran 'looping' reinkarnasi yakni delapan (dari senin ke senin lagi. dll) yang di jeda oleh koma (angka sembilan), lalu kemudian full-stop, titik, angka nol.Secara umum swastika melambangkan deity, ketuhanan, ilahian, sedulur papat dalam konteks kreasi jagat dan sistematikanya.



Kesimpulan Penulis


Pada masa-masa lampau leluhur Simalungun bisa dibilang bukan manusia yang tidak membekali diri mereka dengan ajaran-ajaran spirituals yang sungguh luar biasa sehingga mereka pun dapat membuat simbol-simbol yang hampir bisa di jumpai dengan hampir semua bangsa-bangsa yang memiliki peradaban-peradaban yang tinggi,yang mana jarak,ruang dan waktu pun saling berjauhan,tapi karena kesadaraan spirtuals yang tinggi sehingga para leluhur kita pun bisa memiliki suatu vibrasi getaran yang saling terkoneksi dengan bangsa-bangsa luar,sehingga kita pada saat ini baru sadar ternyata para leluhur yang tidak menggunakan teknologi bisa saling bertukar ilmu disini ilmu swastika,

coba kita banyangkan dengan keberadaan kita saat ini dengan penggunaan komputer bisa dibilang kita pun orang-orang simalungun yang ada saat ini telah menggunakan teknologi informasi atau internet sehingga kita bisa saling terhubung dengan dunia luar ini karena apa karena kita telah memiliki pengetahuan tentang internet itu sendiri sehingga kita bisa saling bertukar informasi dengan dunia luar yang tiada batas,dan suatu masa nanti anak cucu kita akan melihat dokumen-dokumen kita dan mereka terheran-heran bagaimana mungkin seorang suku simalungun bisa membuat bahasa pemrograman dengan bahasa inggris,dan begitu lah seterusnya


Sejarah masa lalu dipelajari bukan kita ingin kembali kemasa itu,kita mempelajari itu karena kita ingin melangkah kedepan dengan bekal yang matang dalam ke ilmuan,baik itu spirituals maupun teknologi,sehingga kita akan menjadi seimbang dan penggunaan teknologi yang ada saat ini pun tepat guna,karena menggunakan teknologi yang salah juga bisa mengakibatkan ke fatalan bagi seluruh umat manusia,salah satu contoh nya yaitu bom atom atau senjata-senjata pembunuh massal lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar