Pada saat ini industri pangan telah berkembang secara pesat. Peranan
Bahan Tambahan Makanan (BTM) atau juga disebut Bahan Tambahan Pangan
(BTP) ikut memacu perkembangan industri pangan. Bahan Tambahan Pangan
(BTP) adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan untuk
mempengaruhi sifat ataupun bentuk makanan. Bahan Tambahan Makanan
(BTM) ada yang memiliki nilai gizi ada yang tidak. Menurut ketentuan
yang ditetapkan ada 3 kategori BTM :
- Bahan Tambahan Makanan yang bersifat aman, dengan dosis yang tidak dibatasi, misalnya pati.
- Bahan Tambahan Makanan yang digunakan dengan dosis tertentu, degan demikian dosis maksimum penggunaannya juga telah ditetapkan.
- Bahan Tambahan Makanan yang aman dan dalam dosis yang tepat, serta telah mandapatkan ijin beredar dari instansi yang berwenang, misalnya zat pewarna yang sudah dilengkapi sertifikat aman.
Bahan Tambahan Makanan yang aman digunakanyakni yang telah diijinkan
oleh badan POM diantaranya :
- Pengawet : asam benzoat, asam propionat, asam sorbat, natrium benzoat dan niasin
- Pewarna : tartrazine
- Pemanis : aspartam, sakarin, dan siklamat
- Penyedap rasa dan aroma : monosodium glutamat
- Antikempal : aluminium silikat, magnesium karbonat, trikalsium fosfat.
- Antioksidan : Asam askorbat, alfa tokoferol
- Pengemulsi, pemantap dan pengental : lesitin, sodium laktat dan potasium laktat
Pemakaian bahan tambahan makanan yang tidak tepat dapat menimbulkan
gangguan kesehatan bagi kita, gangguan kesehatn ada yang dapat
langsung kita rasakan, ada pula yang baru muncul setelah beberapa
tahun kita mengkonsumsi makanan tersebut. Masuknya bahan atau senyawa
kimia yang bukan sebagai bahan tambahan makanan juga dapat
menyebabkan gangguan kesehatan bahkan keracunan,
Salah satu contoh zat kimia beracun adalah senyawa merkuri yang
dapat menimbulkan kelainan genetik ataupun keracunan. Adapun senyawa
organik yang mengandung cincin benzen, senyawa nikel dan krom dapat
bersifat karsinogenik atau menyebabkan terjadinya kanker.
Beberapa bahan kimia berbahaya yang dilarang
digunakan dalam makanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI no
722/Menkes/Per/88 diantaranya :
- Natrium Tetraborat (boraks)
- Formalin (Formaldehid)
- Minyak nabati yang dibrominasi
- Kloramfenikol, kalium klorat.
- Nitrofurazon, dietilpilokarbonat
- Asam salisilat beserta garamnya.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI no
1168/Menkes/PER/X/1999, selain Bahan Tambahan diatas masih ada
tambahan kimia lain yang dilarang, yakni rhodamin B (pewarna merah),
methanyl yellow (pewarna kuning) dan kalsium bromat (pengeras).
Bahan-bahan berbahaya dalam makanan :
- Formalin
Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40%
formaldehid.
Formalin sebenarnya bukan pengawet makanan
sehingga berbahaya jika ditambahkan dalam makanan. Formalin bersifat
karsinogenik atau menyebabkan kanker, yaitu kanker saluran
pencernaan, bahkan uap formalin yang terhirup dapat menyebabkan
kanker saluran pernafasan. Menurut IPCS ( International programme on
Chemical Safety) secara umum ambang batas aman didalam tubuh adalah 1
miligram per liter. IPCS adalah lembaga khusus dari tiga organisasi
di PBB yaitu ILO, UNEP dan WHO yang mengkhususkan pada keselamatan
penggunaan bahan kimiawi. Bila formalin yang masuk ke tubuh melebihi
ambang batas tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ
tubuh, baik jangka pendek maupun panjang.. Formalin sering ditemukan
dalam industri rumahan yang tidak terdaftar maupun terpantau oleh
Depkes maupun BPOM setempat. Bahan makanan yang diawetkan biasanya mi
basah, tahu, bakso, ikan asin, dan ikan basah. Formalin
disalahgunakan sebagai pengawet karena harganya yang murah dan mudah
didapat. Fungsi formalin sebagai antimikroba secara luas digunakan
karena formalin dapat merusak bakteri karena bakteri adalah protein.
Pada reaksi formalin dengan protein maka formalin akan menyerang
gugus amina pda protein.Formalin berbahaya karena tidak dapat hilang
dengan pemanasan. Formalin juga dipakai untuk reaksi kimia yang bisa
membentuk ikatan polimer yang dapat menimbulkan warna produk menjadi
lebih cerah. Oleh karena itu, formalin juga banyak dipakai dalam
produk rumah tangga seperti piring, gelas atau mangkuk yang terbuat
dari plastik maupun melanin. Bila piring atau gelas tersebut terkena
makanan atau minuman panas maka bahan formalin yang terdapat dalam
wadah tersebut akan larut. Dari penelitian hasil air rebusan yang
kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia hasil
kandungan formalin pada air rebusan antara 4,76 hingga 9,22 miligram
per liter. Sebenarnya jika barang-barang tersebut digunakan dalam
keadaan dingin tidak berbahaya karena formalin tidak akan larut.
- Boraks
Boraks atau Natrium tetra borat sering pula
digunakan sebagai pengawet dan mengenyalkan makanan. Makanan yang
sering ditambahkan boraks antara lain bakso, lontong, mi dan kerupuk.
Di masyarakat dikenal dengan sebutan garam bleng, bleng, atau pijer
dan sering digunakan untuk mengawetkan nasi untuk dibuat makanan yang
sering disebut gendar. Boraks sebenarnya digunakan untuk pembersih,
fungisida, herbisida dan insektisida yang bersifat toksik atau
meracun bagi manusia.dengan gejala
mual, muntah, pusing, suhu tubuh menurun hingga shock. Dalam kondisi
kontak dalam jangka akan mengakibatkan tanda-tanda merah pada kulit
dan gagal ginjal. Juga dapat mengakibatkan iritasi pada kulit, mata
atau saluran respirasi , mengganggu kesuburan dan janin. Boraks
berfungsi menggantikan STF (Sodium Tripoli Fosfat) sebagai pengenyal
karena harganya yang murah. Ciri-ciri bakso yang mengandung boraks
sebagai pengenyal dan pengawet adalah lebih kenyal dibandingkan
dengan bakso yang menggunakan STF.
- Kloramfenikol
Kloramfenikol sebenarnya merupakan suatu
antibiotika, seringkali disalahgunakan sebagai pengawet susu. Untuk
mematikan mikroba pengurai dalam susu. Kloramfenikol merupakan
antibiotik yang tidak boleh sembarangan dikonsumsi
- Dietilpilokarbonat (DEPC)
DEPC digunakan oleh produsen makanan dan minuman
untuk pengawet. DEPC berfungsi sebagai antimikroba untuk jamur, ragi
dan bakteri pada minuman ringan, sari buah dan minuman hasil
fermentasi. DEPC berbahaya karena dapat mengakibatkan iritasi mata
dan hidung serta pusing-pusing dan dalam jangka waktu lama dapat
menyebabkan kanker.
- Potassium Klorat
Disalahgunakan untuk pengawet oleh pedagang. Dapat mengakibatkan
gangguan kesehatan seperti iritasi saluran pernafasan, gangguan
fungsi ginjal, hemolisis sel darah merah dan methemoglobinemia.
- Potassium Bromat
Potassium bromat berbahaya sebagai
pengawet.karena dalam dosis berlebih dalam tubuh dapat mengakibatkan
muntah-muntah, diare dan methemoglobinemia.
- Rhodamin B
Pewarna ini adalah pewarna untuk kertas dan tekstil. Penggunaan
rhodamin B pada makanan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan
gangguan fungsi hati maupun kanker. Bila rhodamin b tersebut masuk
melalui makanan dalam dosis tinggi akan mengakibatkan iritasi pada
saluran pencernaan dan mengakibatkan gejala keracunan dengan air
kencing berwarna merah muda. Jika menghirup rhodamin B akan
mengakibatkan gangguan saluran pernafasan.
- Metanil Yellow
Pewarna ini umumnya digunakan sebagai pewarna
tekstil dan cat. Senyawa ini dapat menimbulkan tumor dalam berbagai
jaringan hati, kandungan kemih, saluran pencernaan atau jaringan
kulit.
- Mono Sodium Glutamat (MSG)
MSG digunakan sebagai penyedap secara
berlebihan. Batas aman konsumsi MSG adalah 30 mg/kg BB per hari.
Pemakaian yang berlebihan akan menyebabkan peningkatan kadar glutamat
dalam sirkulasi darah yang dapat berakibat fatal yaitu gangguan pada
fungsi hati. Bahkan dalam penelitian yang dilakukan oleh heathfield
tahun 1990 menyebutkan dapat menyebabkan mual, pusing, kesemutan,
berkeringat dingin maupun muntah seperti gejala alergi atau
keracunan.
Konsumsi MSG yang berlebihan pada sejumlah orang dapat mengakibatkan
yang dalam istilah ”Chinese Restaurant Syndrome (CRS)” atau
”sindrom restaurant china”
Gejala alergi ini disebabkan karena konsumsi MSG dalam sup secara
berlebib, gejala alergi ini meliputi kesemutan pada punggung, leher,
rahang bawah, serta leher bagian bawah terasa panas, wajah
berkeringat, sesak dada dan kepala pusing setelah 20-30 menit
seseorang mengkonsumsi MSG. DI beberapa negara maju menetapkan
konsumsi MSG yang masih bisa ditoleransi sebesar 0,3 – 1 gram per
hari.
- Dulsin
Dulsin dikenal dengan nama sukrol dalam
perdagangan. Dulsin dalam bahan pangan digunakan sebagai pengganti
sukrosa bagi orang yang perlu berdiet. Konsumsi dulsin yang
berlebihan akan menimbulkan dampak yang membahayakan bagi
kesehatanseiring dengan penelitian pada anjing bahwa dosis letal
dulsin adalah 1 gram per 2 kg berat badan.
- Asam Salisilat
Asam salisilat sering digunakan sebagai penguat
aroma rasa dan juga seringkali ditemukan pada buah atau sayur. Zat
ini sebenarnya merupakan antiseptik yang berfungsi memperpanjang masa
keawetan. Seringkali petani menyemprotkan asam salisilat ke tanaman
buah dan sayur sebagai jalan untuk mengusir hama tanaman. Asam
salisilat yang disiramkan ke dalam buah atau sayuran akan meresap ke
dalam jaringan buah atau sayuran sehingga tidak akan larut apabila
kita cuci sampai bersih, artinya kita juga telah ikut mengkonsumsi
asam salisilat. Asam salisilat bersifat sangat iritatif sehingga
dapat menimbulkan gangguan pada lambung, jika dalam dosis besar dapat
menimbulkan pendarahan pada lambung.
- Nitrofurazon
Nitrofurazon digunakan dalam pakan ternak, dalam makannan
disalahgunakan sebagai senyawa antimikroba.
Dalam penelitian terhadap tikus, maka letal dosis adalah 0,59/kg BB.
Dan dapat menyebabkan gangguan pada kandung kemih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar