Cystic fibrosis merupakan penyakit yang berasal pada
kelenjar-kelenjar lendir dan keringat yang dapat mempengaruhi kerja paru, dan
menyebabkan lendir lembab dan lengket dan menghalangi saluran udara pada paru
sehingga bakteri mudah berkembang dan menyebabkan infeksi paru yang serius,
akibatnya terjadi penurunan pembentukan NO. Nitrit oksida (NO) adalah molekul
messenger yang terlibat dalam berbagai proses biologis dan fisiologis dalam
paru-paru, endogen pembentukan konstitutif NO dalam saluran udara diperkirakan
memainkan peran dalam neurotransmisi, relaksasi otot polos dan pembesaran
bronchi. Pembentukan NO enzimatis dari sintesis NO memerlukan asam amino
esensial semi-L-arginin sebagai substrat. L-arginin adalah asam amino semi
esensial yang banyak ditemukan dalam panganan tubuh, tetapi juga dapat
disentesis dari citrulline (oleh sintase argininosuccinate dan lyase
argininosuccinate, enzim ketiga dan keempat dari siklus urea). L-arginin adalah
penting untuk sintesis protein dan substrat untuk urea, Poliamina, prolin,
L-glutamin, kreatinin fosfat, agmatine serta pembentukan enzimatik NO. Arginine
diangkut dari darah ke dalam sel oleh transporter asam amino kationik (CAT)
isoform. L-arginin merupakan substrat umum untuk synthases oksida nitrat dan
arginases. L-arginin membantu tubuh dalam ekskresi dan sintesis protein.
L-arginin merupakan asam amino semi esensial yang diperlukan tubuh untuk
membentuk urea dan protein yang membantu kekuatan otot berupa keratin. Saat
terdapat obat dalam darah L-arginin menjadi vasodilator dan menurunkan tekanan
darah.
Metode
Studi kohort dan
protokol
Ø 10 pasien penderita CF yang telah dikonfirmasi dengan tes keringat
diulangi dengan konsentrasi klorida melebihi 60 mmol / L dan analisis mutasi
gen CFTR. kriteria eksklusi adalah g-tabung pengumpan, aspergillosis bronkopulmonalis alergi
atau B. cepacia infeksi. Pasien yang
diteliti dirawat di rumah sakit untuk perawatan antibiotik intravena suatu
eksaserbasi paru. Penelitian dilakukan dengan
o
Darah diteliti menjadi dua
tabung EDTA 2,7 ml mengandung untuk asam amino plasma (n = 10) dan arginase (n
= 7) pengukuran pada pagi hari setelah masuk dan setelah 14 hari pengobatan
antibiotik dalam kondisi puasa di pagi hari sebelum sarapan, masing-masing .
o
Tes fungsi paru dengan
spirometri dilakukan pada hari yang sama pada setiap pasien,
o
Pasien masing-masing diobati dengan seftazidim
(n = 5) atau meropenem (n = 5) ditambah aminoglikosida. Satu pasien menerima
steroid oral pada tiga hari selama pengobatan, dua pasien tambahan pada
pengobatan jangka panjang dengan budesonide inhalasi.
Ø Pasien dibandingkan dengan 10
bebas rokok-, kontrol sehat yang berumur 23 sampai dengan 28 tahun (24,4
± 2,1 tahun) usia.
o
Dalam darah kontrol juga teliti pada dua
tabung EDTA 2,7 ml mengandung di pagi hari di bawah kondisi puasa.
o
Tes fungsi paru dengan
spirometri dilakukan pada hari yang sama pada setiap pasien, dan satupasien
yang tidak dapat melakukan spirometri.
Pengamatan
Pada pasien CF ktersediaan l-arginin menurun dan semakin memburuk
pada saat paru-paru mengalami eksaserbasi. Pemberian antibiotic pada pasien CF
menunjukkan peningkatan arginase yang merupakan substrat dari L-arginin. Hal
ini terkait dengan profil asam amino yang konsisten terhadap aktivitas arginase
meningkat bahkan setelah pengobatan untuk eksaserbasi paru. Penurunan kadar
L-arginin ditunjukkan dengan adanya peningkatan konsentrasi arginase dalam
darah, dapat juga dilihat dari penurunan awal beberapa asam amino non-terkait
diikuti dengan normalisasi selama terapi yang mencerminkan pengaruh tidak
spesifik seperti katabolik terkait dengan infeksi atau peradangan.
L-arginase biasanya terletak intraseluler dengan konsentrasi tinggi
pada eritrosit dan sel hati. penelitian ini dapat menunjukkan bahwa aktivitas
arginase tinggi di dahak pasien CF, meskipun dengan pengobatan antibiotik tetap
meningkat secara signifikan (sekitar 10 kali lipat) jika dibandingkan dengan
induksi dahak dari kontrol sehat. Dengan demikian, peningkatan konsentrasi
plasma arginase (L-ornithine, prolin, dan asam glutamat) dalam peningkatan
arginase plasma normal, dapat dijelaskan oleh "spill-over efek" dari
metabolit dari CF saluran napas ke dalam aliran darah. Mekanisme ini juga dapat
menjelaskan asal usul kadar arginase plasma meningkatkan pada pasien.
Seftazidin adalah larutan steril yang merupakan campuran kering dari
penta hidrat seftazidin dan l-arginin. Aktifitas seftadizin mengandung
l-arginin sebesar 349mg/g. Seftadizin dilarutkan dengan menggunakan gas murni
tidak mengandung ion sodium. Seftazidine merupakan antibiotic sefalosphorin
yang bersifat bakterisidal. Pemberian secara inhalasi sehingga dapat bekerja
langsung pada sel bakteri dengan memecah dinding sel bakteri.seftazidine sangat
stabil terhadap sebagian besar betalactam plasmid dan kromosoma yang secara
klinis dihasilkan oleh kuman gram negative dan aktif terhadap beberapa stain
resisten terhadap ampisilin dan sefalosporin.
Seftadizine jika diberikan bersama dengan aminoglikosida dapat
mengakibatkan inaktifasi.Sebaiknya diberikan dalam tempat (bagian tubuh yang
berbeda) sehingga dapat keduanya dapat memberikan efek yang maksimal.
Meropenem adalah golongan karbapenem
(merupakan suatu struktur yang sama dengan penecilin) tapi sangat resisten
dengan betalactam yang diberikan melalui suntikan intrafena. suatu diberikan
kepada pasien penderita CF bertujuan untuk mengurangi efek eksaserbasi.
merupakan turunan dari difenil hidramin dan tidak mengalami perusakan oleh
enzim dipeptidase di tubuli ginjal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar