BANGUN DONG, LUPUS!
1.
Diary Boim
JANGAN
heran, ya, Boim ternyata punya diary juga. Isinya tentang
kisah
perjalanan masa remaja Boim. Diary ini agak unik, sebab
terbuat
dari daun lontar. Tapi Boim sayang, setiap mau bobo, tak
lupa
Boim selalu mengisinya. Antara diary Boim dan Boim
memang
tak dapat dipisahkan. Ke mana-mana selalu berdua.
Selalu
akrab, seperti anak kembar. Maksudnya, wajah Boim pun
mirip-mirip
daun lontar.
Sebetulnya,
Boim tak pernah mau bila diarynya sampai dibaca
orang.
Sebab dia takut, rahasia kegantengannya bakal terbongkar.
Tapi
demi kamu-kamu semua, yang sudah rela membeli buku ini,
Boim
merelakannya.
Simaklah
isinya.
***
Malam
hari. Sepi. Yang ada cuma suara angin dan bulan yang
mengintip
malu-malu di balik awan hitam. Katak dan jangkrik
pun
enggan bernyanyi. Ya, sebab Boim mau baca diary.
Biarlah.
Biarlah Boim membacakan diarynya. Karena selama ini,
dia
selalu jadi kambing hitam anak-anak sekelas. Jadi..., beri dia
deodoran
yang setia setiap saat..., eh, kok jadi ngaco? Maksudnya,
beri
dia kesempatan berbicara. Sebebas-bebasnya.
Bicaralah,
Im!
Teman-teman,
nama saya Boim. Playboy duren tiga. Hari ini, saya
mau
membacakan diary saya. Sebetulnya, seperti sudah
dijelaskan,
saya merasa enggak enak. Sebab dengan begitu,
berarti
jurus-jurus kegantengan saya nanti bakal terbongkar.
Dalam
diary ini, selain ada beberapa bagian yang disensor, karena
memang
nggak pantes dibaca anak-anak balita, juga memuat
kisah
pertama kali saya masuk SMA Merah Putih. Sebetulnya ini
rahasia,
tapi karena adanya desakan dari para penggemar,
terutama
dari para penumpang bis kota yang suka berdesakdesakan,
akhirnya
saya mau juga.
Teman-teman,
diary ini adalah diary turun-temurun. Dulunya
punya
nenek moyang saya, yang memuat tentang kisah cinta
remaja
zaman dulu. Kemudian dari nenek moyang, diwariskan ke
kakek
saya. Dari kakek ke bapak, dari bapak ke saya. Dan
nantinya
akan saya wariskan ke anak saya. Mudah-mudahan anak
saya
mau menerima diary dari bapaknya yang ganteng ini.
Kisah
diary ini saya buka ketika saya baru masuk SMA Merah
Putih.
Pagi itu memang ramai sekali. Banyak orang pakai baju
seragam.
Rata-rata dari mereka lagi pada kebingungan mencari
kelas
barunya. Peraturan di sekolah baru ini memang begitu.
Anak-anak
diharuskan mencari kelasnya sendiri-sendiri.
Waktu
itu, saya juga lagi kebingungan mencari kelas saya. Di
dekat
saya, berdiri seorang gadis manis yang sama
kebingungannya
seperti saya. Saya kemudian memperhatikan
wajahnya
dengan seksama. Eh, ternyata dia juga sejak tadi sudah
memperhatikan
saya. Saya pun nekat menegur, “Hai!”
“Eh,
hai, juga!”
“Kamu
anak baru, ya?”
“Iya.”
“Kamu
lagi bingung mencari kelas kamu, ya?”
“Iya.”
“Boleh
saya bantu?”
“Iya,
boleh. Eh, emangnya kamu siapa sih?”
“Saya?
Saya anak baru juga di sini. Saya juga lagi bingung mencari
kelas
saya.”
“Oto,
kamu anak baru juga?”
“Emangnya
kenapa?”
“Enggak.
Saya kira kamu tukang pel sekolahan...”
Ya,
ampun. Jadi dia itu ngeliatin saya bukan karena tertarik dan
simpati.
Tapi karena dikira tukang pel.
Yah,
begitulah pengalaman buruk pertama kali saya
menginjakkan
kaki di SMA ini. Tapi lepas dari kejadian tersebut,
ternyata
saya memang digemari oleh teman-teman saya, terutama
ceweknya.
Hari
pertama saya di kelas, banyak yang berebut ingin duduk di
sebelah
saya. Karena memang bangku-bangku lain sudah penuh,
hihihi...
dan ketika pelajaran dimulai, mereka senantiasa
memandangi
wajah saya. Kalau sehari saja saya nggak masuk
sekolah,
mereka pasti resah. Ya, karena kata mereka, nggak ada
lagi
yang bisa dikata-katain. Sialan juga, ya?
Tapi
pada dasarnya, di sekolah ini saya merasa bahagia. Anaknya
baik-baik,
enggak ada yang sakit. Makanya dibenci dokter. Di sini,
saya
juga banyak mendapat teman. Eh, tapi yang mau kenalan
selalu
mereka dulu. Seperti, ada anak yang rambutnya rada
panjang.
Yang selalu mengulum permen karet. Yang matanya
bulat
berkilat-kilat. Namanya...
“Halo,
anak baru!”
Belum
sempat ditanya, dianya udah negro duluan. Terpaksa saya
menjawab
dengan senyum manis, “Halo juga!”
“Eh,
kenalan dong. Abis kamu keren sih!”
“Boleh
aja!”
“Nama
saya Lupus.”
“Saya
Boim. Kenapa kamu tertarik mau kenalan sama saya?” ujar
saya
ge-er.
Anak
itu tersenyum-senyum lucu. “Abis kamu lain dari yang lain
sih!”
“Apanya
yang lain?” saya jadi penasaran.
“Mukanya.
Yang mana hidung, yang mana kuping. Abis hampir
sama,
hihihi.” Anak itu cekikikan geli. “Eh, jangan marah, ya?
Anggap
aja nggak becanda. Bo..., siapa nama kamu tadi? Botol,
ya?”
“Boim”
“Iya,
Boim. Eh, kita kenalan sama yang lain, yuk? Tuh, ada anak
yang
lagi bengong sendirian. Kita samperin, yuk?”
Saya
dan Lupus pun nyamperin anak yang bengong tadi.
“Halo,
kok bengong aja? Eh, kamu mau kenalan sama kita berdua
nggak?
Ditanggung halal deh!” sapa Lupus.
“Iya,
dijamin seratus persen,” tambah saya.
Anak
itu nggak langsung menjawab. Mikir dulu untung ruginya?”
“Boleh!”
Anak
itu mengernyitkan dahi sebentar. “Ya, setelah saya timbangtimbang,
saya
mau deh kenalan sama kamu berdua. Saya Anto.”
“Saya
Lupus.”
“Saya
Boim.”
Anto
langsung memandang heran ke arah saya, ketika saya
menyebutkan
nama saya. Ujarnya, “kamu lagi dimaper, ya? Kok
masih
pake topeng sih?”
“Siapa
yang pake topeng?”
“Itu!”
Anto menunjuk ke wajah saya.
“Hahahah...,
makanya, Im. Kalo mau kenalan buka dulu
topengnya.”
Lupus terpingkal-pingkal.
***
Tapi
biar kadang rada nyebelin, anak-anak di kelas saya
sebetulnya
menyenangkan semua. Bahkan lagi kelaparan pun
mereka
selalu kelihatan senang. Mungkin karena lapar bagi
mereka
sudah merupakan penderitaan turun-temurun dari nenek
moyang
mereka. Jadi sudah biasa. Dan mereka selalu kelihatan
kompak.
Punya rasa kesetiakawanan yang tinggi. Nyontek satu,
nyontek
semua. Jelek satu, jelek semua. Bolos satu, bolos semua.
Nggak
naik satu, ih... sori ya—untuk yang satu ini nggak ada yang
mau
ikutan. Kata mereka, lebih baik Boim aja yang nggak naik,
daripada
nggak naik semua. Jadi, emang sulit kalo mau tau, siapa
anak
yang paling pinter di kelas saya. Wong kalo ulangan, semua
mendadak
jenius. Sepuluh menit, selesai.
Tapi
anak-anaknya juga terkenal jujur. Kalo misalnya lagi ulangan
terdengar
suara kebetan buku, kasak-kusuk di pojokan atau
suara-suara
ajaib lainnya, dan guru yang di depan mulai berteriak
marah,
“Siapa yang nyontek, maju ke depan kelas!!!” maka tanpa
di
komando, semua anak maju ke muka kelas.
Kalau
jam kosong, kelas pun bisa berubah menjadi kantin murah
dan
bau. Segala macam cemilan ringan, diimpor langsung dari
kantin
sekolah. Sementara sebagian cowoknya mengadakan
pertunjukan.
Airshow dengan membuat kapal-kapalan dari
kertas.
Berseliweran di ruang kelas.
Di
kelas ini juga full sound effect. Suara seajaib apapun bisa
didengar
oleh siapa saja, kapan saja. Bahkan lagi pelajaran
fisikanya
Mr. Punk yang galak itu sekalipun. Dan rasanya, kelas
ini
yang paling punya sense of humor yang tinggi. Anak-anaknya
hobi
ngelawak semua, meski kalo ditanya cita-citanya pada mau
jadi
tukang sulap. Dan kalo sudah ada anak yang mulai ngelucu,
anak-anak
pun berteriak serentak, “Hampir lucuuu...”
“Ah,
biar. Yang penting kan masih ada unsur lucunya,” jawab
yang
diledek.
O
ya, kelas ini juga pernah menang di festival lawak antar
sekolah,
sebagai grup lawak yang paling tidak lucu. Tapi anak
anak
bangga. Bagi mereka, alangkah lucunya ada pelawak yang
tidak
lucu.
Dalam
diary ini ada juga kisah yang menceritakan tentang cinta
saya
dengan beberapa cewek yang nolak saya. Eh, sebelumnya
jangan
menuduh kalo saya ditolak karena gaga. Tidak. Saya
ditolak
oleh cewek-cewek karena mereka takut nggak sanggup
berdampingan
dengan saya yang ganteng dan ramah ini. Mereka
takut.
Bisa makan ati, kata mereka. Kata mereka lagi, lebih baik
cari
cowok yang biasa-biasa aja, nggak usah yang gantengganteng
amat
kayak si Boim. Salah satu cewek yang nolak saya
adalah
Nyit-nyit. Wah, saya sampe frustrasi berat. Makan tempe
serasa
sandwich jadinya.
Dan
dalam diary ini juga tertulis tentang keakraban saya dengan
Lupus,
Gusur, Aji, dan Anto. Saya sering nginep di rumahnya
Lupus.
Sama keluarga lups, saking akrabnya, saya sudah
dianggap...
pembantu. Dan ke mana-mana, saya, Lupus, Gusur,
dan
Anto selalu bareng-bareng. Baik dalam suka dan duka. Kata
Lupus,
“Kebahagian kamu, Im, juga kebahagiaan saya.
Penderitaan
kamu, juga kebahagiaan saya.”
Eh,
iya. Di sini saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu
naik
bis kemarin siang.
Gini,
ceritanya waktu itu saya lagi berada di dalam bis kota yang
sesak
sepulang sekolah. Di bis, orang sudah serasa sarden. Ada
yang
berdiri, bergelantungan di tiang. Saya pun turut berdiri.
Di
sebelah saya, ada seonggok gadis manis yang juga
bergelantungan.
Dia merasa kerepotan sekali ketika ditagih
ongkosnya
oleh kondektur. Tangan yang satu asyik
bergelantungan
di tiang, sedang satunya lagi mendekap tasnya.
Kalo
dia melepas tangannya dari pegangannya, dia akan jatuh,
tapi
bagaimana dia bisa membayar ongkosnya?
Saya
sebagai seorang pemuda yang baik hati, merasa tergerak
untuk
memberi pertolongan. Lagi pula cewek itu manis. Rugi
dong
kalo nggak ditolong. Saya pun menawarkan asa,
“Eh,
kak. Bagaimana kalo tiang gelantungannya itu saya pegangi
dulu,
biar kakak leluasa mengambil uang di tas?”
Cewek
itu bukannya senang, malah melotot sewot.
Lho,
apa salah saya?
***
Yah,
teman-teman. Karena saya udah bosen, maka diarynya
sementara
ditutup di sini dulu, ya? Kalo mau tau banyak tentang
kita-kita,
baca aja terus kisah lanjutannya...
2.
From Tetangga with Love
Boim
kesal. Dia selalu bangun lebih telat dari ayam jagonya.
Padahal
dari dulu Boim sudah memendam dendam. Ingin bangun
lebih
pagi dan berkokok keras-keras mengagetkan si ayam jago.
Soalnya
selama ini selalu aja ayam jagonya bangun duluan dan
berkokok
sekuat tenaga di bawah jendela Boim. Hingga Boim
kaget
setengah mati. Untung aja nggak jantungan. Kalo
jantungan,
mungkin Boim udah koit dari dulu.
Bagusnya
tu ayam dipotong aja. Dibikin sop. Tapi Boim nggak
enak
sama Lupus. Ayam itu kan pemberian Lupus waktu Boim
ulang
tahun beberapa minggu yang lalu. (Enggak usah nanyain
tanggal
yang tepat Boim ulang tahun deh. percuma. Sebab toh
jarang
dirayai. Nggak ada istimewanya). Dan Lupus kalo ke rumah
Boim
suka nanyain ayam pemberiannya, “Si Abdul Choir masih
idup?”
Ya,
Lupus memang suka keterlaluan. Menamakan ayam jagonya
Abdul
Choir. Padahal satu temen sekolah Lupus ada yang
berjudul
Abdul Choir. Hihihi...
Tapi
lepas dari ayam jagonya, si Boim belakangan ini sebetulnya
lagi
hepi. Apa pasal? Itu, di belakang rumahnya, rumah yang dulu
kosong,
kini dihuni orang baru. Keluarga baru dengan anak
gadisnya
yang manis. Boim melihatnya ketika dia lagi asyik
manjat
pohon jambu belakang rumah. Matanya langsung kedapkedip
menatap
gadis manis yang bersenandung pelan sambil
menyiram
bunga. Pegangannya pada batang pohon jambu
mengendur,
dan... gubrak! Boim terjerembab di atas rumputrumput.
Tapi
apalah artinya rasa sakit sedikit dibanding rezeki
yang
baru didapatnya. Bayangkan, bertetangga dengan seorang
gadis
manis. Siapa yang nggak senang? Mimpi pun Boim nggak
berani.
Ya,
mungkin saja bagi kamu itu nggak terlalu istimewa. Tapi bagi
Boim?
Playboy cap duren tiga itu? Wah, merupakan nikmat yang
tiada
tara. Yang tak terbeli dengan duit gocap sekalipun.
Cuma,
ketika Boim langsung berkaca di kamarnya, dia kembali
dihadapkan
pada kenyataan pahit. Kamu pasti belum tau, ya?
Gini,
setelah diselidiki oleh Boim sendiri, ternyata jam-jam
ganteng
Boim itu biasanya muncul pas jam 12 mitnait. Di luar
jam-jam
itu, ups, sori. Wajahnya kurang sedap dilihat, walaupun
pernah
juga menang juara satu waktu ikut festival mirip kandang
bebek.
Hihihi...
Jadi
kan susah. Mana ada cewek yang bisa dikecengin di tengah
malam
buta begitu? Makanya, jarang ada yang tau kalo sebetulnya
Boim
itu ganteng.
***
Sejak
punya tetangga cakep, Boim jarang ke rumah Lupus lagi.
Jarang
ngecengin adiknya Lupus yang cakep lagi. Hobinya saban
sore
manjatin pohon jambu belakang. Mengintai, barangkali tu
cewek
nyiram kembang lagi. Sampai abah si Boim curiga, “Lo
ngapain,
Im, manjatin pohon jambu melulu? Pan buahnya udah
pada
abis? Lo mau ngintip orang mandi, ya?”
Boim
Cuma nyengir. Percuma berangin ke abah yang nggak
berjiwa
muda lagi.
Tapi
gadis itu nggak pernah kelihatan.
Boim
segera nyari akal. Gimana ya caranya agar bisa kenalan
sama
cewek itu?
“Pap.
Papi udah kenalan sama tetangga baru di belakang rumah?
Kenalan,
yuk? Kirim-kirim makanan kek. Kan kita harus rukun,
Pap,
sama tetangga...”
Si
abah pada dasarnya emang rada risi dipanggil ‘Papi” sama
Boim,
mendelik sewot, “Lho, kenapa mesti kita yang harus repotrepot.
Pan
mereka, sebagai tetangga baru yang harusnya duluan
kemari?
Pake kirim makanan lagi! Lo bisa makan seari tiga kali aja
udah
untung banget tuh. Sana nimba aer!”
Boim
langsung ngiyem.
Tapi
pucuk dicinta ulam tiba. Sore besoknya ketika rumah lagi
kosong,
dan Boim lagi ngopi sendirian di teras, datang gadis itu
sambil
membawa baki berselimutkan serbet besar. Boim
terbelalak
tak percaya.
“Permisi,
Bang. Yang punya rumah ada?”
Sejenak
Boim terpana. Baru saja dia lagi ngelamunin cewek ini,
tau-tau
orangnya muncul...
“Permisi,
Bang,” ulang gadis itu lembut. “Yang punya rumah ada?”
Boim
tersadar. Langsung menyambar, “Eee oa eo, kembalikan
Baliku
padaku. Eh, maksudku, akulah yang punya Bali... eh, yang
punya
rumah ini.”
Gadis
itu ngikik kegelian.
Boim
cengar-cengir senang.
“Gini,
Bang. Saya mau ngirim makanan buat yang punya rumah.
Disertai
salam perkenalan dari keluarga kami yang baru pindah
ke
sini. Bapak-ibunya ke mana?”
“O,
Papi-mami lagi kondangan di rumah mentri...”
“O
ya? Kalo gitu nitip aja, ya?” gadis itu menyerahkan bakinya
pada
Boim. Lalu hendak berbalik pulang.
“Eh,
kok buru-buru. Nggak ngupi-ngupi dulu?” tahan Boim cepat.
“Lain
kali aja deh. Saya harus nganterin makanan ke tetangga
lainnya
sih.”
Boim
Cuma manggut-manggut.
Gadis
itu melangkah ke luar halaman.
“Eh,
baki dan serbetnya gimana?” ujar Boim lagi.
“Bawa
aja sekalian nanti kalo mau main-main ke rumah,” sahut
gadis
itu sambil tersenyum manis.
Main-main
ke rumah? Tawaran yang simpatik sekali. Boim
langsung
sejingkrakan girang. Plak-timplak-timplak-timplung!
Lho,
tapi, siapa nama cewek itu?
***
Besok
sorenya, Boim langsung muncul di rumah gadis itu.
Kebetulan,
gadis itu sendiri yang membukakan pintu, dan
langsung
tersenyum manis bikin jantung Boim nyut-nyutan.
Mereka
ngobrol ngalor-ngidul. Cerita tentang Abdul Choir,
tentang
pohon jambu, dan macem-macem. Gadis itu ternyata
bernama
Mia. Dan di rumah Mia kebetulan lagi ada ibunya doang.
Yang
lain pada pergi.
Boim
dapat suguhan ketan.
“Kalo
musik dang-dut Bang Boim suka?” kata Mia di sela
percakapan.
“O,
enggak, Dik Mia. Bang Boim kurang sehati dengan musik
murahan
macam gitu. Kalo jazz, bolehlah. Atau paling tidak
bossas.
Tipe-tipe... siapa tuh yang orangnya rada-rada keren?”
“Mansyur
S?” tebak Mia.
“Ya.
Mansyur S.” Boim menjawab mantap.
Kemudian
mereka mengobrol lagi, makin lama makin akrab.
Nggak
percuma Boim jadi playboy. Bsa langsung menarik simpati
para
gadis.
“Eh,
Bang Boim, ketannya dicobain dong. Saya mau ke belakang
dulu,
ya?”
“Oh,
iya. Silahkan.”
Boim
ditinggal bersama ketan-ketan yang terhidang di meja. Boim
jadi
tergiur ingin mencicipi. Tapi, ah, kalo enggak cuci tangan
dulu,
nanti suka lengket. Boim pun cari-cari wastafel untuk cuci
tangan.
Nah, itu. Di dekat dapur ada. Boim pun langsung menuju
ke
sana dan mencuci tangan di sana. Tepat saat ibunya Mia
muncul
dari dapur.
“Lho,
Nak. Kok udahan makan ketannya? Udah kenyang?”
Boim
cuma bengong. Terpaksa Boim tak berani menyentuk ketan
itu
secuil pun ketika ibu Mia menemani mengobrol.
***
Boim
lagi asyik nyabutin jenggot di teras, ketika Lupus muncul
dengan
sepeda balapnya. “Oi, Boim. Kamu dicariin Gusur tuh.
Mau
diajaki bonga-bonga. Hahaha.”
Boim
mendelik sewot.
“Ke
mana aja, Im, nggak pernah muncul? Lagi dipingit ya, buat
dikawini?”
Boim
cuma tersenyum sombong. Langsung Lupus diceritai
tentang
tetangga belakang rumah. Tentunya dengan bumbubumbu
penyedap.
“Pokoknya jalan sudah mulus, Pus. Orang
tuanya
setujua, tetangga merestui, cuma pembantunya yang
kurang
simpatik. Makanya saya cukup betah angkring di atas
pohon
jambu kalo Cuma mau ngecengin cewek kece.”
Tak
berapa lama dari kejauhan nampak Mia berjalan ke arah
rumah
Boim. Hati Boim langsung dag-dig-dug. Buru-buru Lupus
diungsikan
ke kamar. “Bahaya, Pus. Kamu mendekam di kamar
saya
dulu deh, Pus. Buruan!” paksa Boim sambil menyeret-nyeret
Lupus.
“Ada
apa sih?” Lupus berusaha berontak.
“Tolong
deh, Pus. Kamu ngedekem di kamar saya dulu. Ini demi
kebaikan
kamu juga. Ayo. Ayo.” Boim tetap menyeret-nyeret
Lupus
yang menjerit-jerit ribut. Lalu dengan paksa dimasukkan
ke
dalam kamar Boim, dan dikunci dari luar. Klek. Beres.
Boim
pun berjalan tenang ke luar. Menemui Mia. Dia emang
sengaja
ngumpetin Lupus, karena Boim takut, jangan-jangan Mia
malah
naksir Lupus. Soalnya pernah kejadian begitu.
“Halo,
Mia, abis jalan-jalan?” sapa Boim ramah.
Mia
yang berjalan memasuki pekarangan rumah Boim tersenyum,
“Iya.
Nyari temen ngobrok, belum pada kenal. Mengganggu nggak,
Bang?”
“O,
tidak. Tidak,” ujar Boim semangat. “Ayo, duduk.”
Mereka
pun asyik ngobrol ngalor-ngidul. Sementara Lupus
dikunci
di kamar, memaki-maki nggak keruan. Kasur Boim
diacak-acak,
dipakai buat main lompat-lompatan sampai
kapuknya
bertebaran.
Bosan
main kasur, Lupus mulai mengobrak-abrik kaset. Nyari lagu
yang
enak buat disetel. Tapi dasar Boim, kasetnya dang-dutan
semua.
Terpaksalah Lupus memilih kaset favorit Boim : Sepiring
Berdua,
dan disetel keras-keras.
Alunan
dang-dut yang memekakkan telinga mengagetkan Boim
lagi
asyik ngobrol sama Mia.
“Lho,
suka dang-dut, ya?” tanya Mia sambil menahan senyum.
“Enggak!
Aduh, siapa tuh yang norak banget!” maki Boim sambil
beranjak
lari ke dalam. Menggedor-gedor pintu kamar sekuat
tenaga.
“Pus,
Pus. Kecili dong!”
Lupus
pura-pura nggak dengar.
“Lupus!
Kecilin dong!”
Tetap
tak ada sahutan. Malahan musiknya makin terdengar
nyaring.
Terpaksa
Boim membuka kamar yang dia kunci dari luar. Tepat
pada
saat pintu berderit terbuka, Lupus menyerbu berlari keluar
sambil
berhaha-hihi. Boim kaget, dan cuma bisa melongo waktu
Lupus
berlarian ke teras. Terpaksa dia yang mematikan lagu
dang-dutnya.
Di
teras, ketika Lupus melihat Mia, barulah dia tau kenapa Boim
tega
ngunciin Lupus di kamar. Tapi Lupus cukup tau diri. Dia
hanya
tersenyum yang dibalas manis oleh Mia, lalu berjalan
kalem
menuju sepeda balapnya yang terparkir di halaman.
Boim
yang penasaran pengena ngejitak Lupus, tak sempat lagi
menangkap
bayangannya yang segera menghilang di balik
rimbunan
pohon seberang jalan. Diam-diam Boim menarik napas
lega,
karena Lupus segera pulang.
“Eh,
itu tadi siapa?” tanya Mia ketika Boim muncul. “Temen kamu,
ya?”
“Itu
si Lupus jelek’”
“Lupus?
Yang wartawan Hai itu? Wah, Mia pengen kenal. Kenalin
dong...”
“Hus!
Jangan. Dia orangnya norak. Nanti kamu ketularan. Dengar
saja
tadi, hobinya nyetel dang-dut keras-keras,” jawab Boim cepat.
“Saya
juga suka dang-dut kok...,” jawab Mia sambil memandang
kosong
ke depan, tempat Lupus tadi menghilang. “Hebat juga tu
anak.
Biar tongkrongannya kaya gitu, masih suka musik dang-dut.
Musik
yang Mia sukai. Jarang lho ada cowok sekarang yang suka
dang-dut.
Kita kadang memang sulit menghargai musik kita
sendiri...”
“Kalo
gitu selera kita sama, Mia...,” ujar Boim pelan.
***
Boim
terharu. Pagi itu dia menerima jawaban atas ajakannya
nonton
kemarin sore. Surat itu diberikan pembantu Mia ketika
Boim
mau berangkat sekolah : ‘Bang Boim yang kece...bur got.
Setelah
diteliti, ternyata Mia emang nggak punya acara nanti sore.
Jadi
kita bisa nonton. Jemput ya jam setengah tujuh. Salam
manis,
Mia.’
Boim
menangis seseggrukan. Tak percaya pada apa yang dia baca.
Maka,
siang itu merupakan hari yang paling panjang, yang paling
menggelisahkan
sekaligus paling menyenangkan dalam hidupnya.
***
Senja
hari, Boim sudah bersiap ke rumah Mia. Dengan atribut
yang
secara serabutan dia pinjem dari temannya. Kemeja dari Aji,
jaket
dari Lupus, sepatu dari Anto, celana panjang dari Gitu, dan
Gusur
tidak ketinggalan pula menyumbang celana dalamnya.
Komplit
sudah.
Tapi
itu semua sia-sia. Beberapa menit setelah itu, Boim kembali
balik
ke rumahnya dengan muka yang teramat kusut.
Semua
wanita adalah penipu! Teriak batih Boim. Boim mulai
percaya
sama penyair Khalil Gibran yang pernah ngomong kalo
para
cewek itu mungkin bersembunyi di balik senyum sebagai
cadarnya.
Bagaimana tidak? Sudah jelas Mia janji bisa pergi
dengannya
sore ini. Tapi kenapa waktu Boim hampir sampai ke
rumahnya,
Mia nampak sedang memasuki mobil seorang cowok
dan
pergi meninggalkannya?
Boim
frustrasi lagi.
Pada
saat yang sama, Mia juga sedang kesal mondar-mandir di
teras
rumahnya. Dandanannya sudah rapi jali. Lia, saudara
kembarnya,
baru saja pergi dengan mobil cowoknya. Dia mau
nonton
juga. Tapi, ke mana bang Boim-ku yang jelek? Kenapa
belum
datang juga? pikir Mia. Tadinya kalo bang Boim datang
agak
awal, mereka bisa nebeng mobil pacarnya Lia sampai
bioskop.
Tapi Boim kelamaan, jadinya Lia berangkat duluan.
Kini,
sampai jam delapan, Boim belum juga muncul.
Diam-diam
Mia menangis di kamar. Kenapa perjalanan cintanya
nggak
bisa semulus Lia, saudara kembarnya? Padahal mereka
berdua
punya wajah yang hampir tidak ada bedanya. Lia begitu
mudah
gonta-ganti cowok keren. Sedang Mia, bahkan untuk
mendapatkan
perjaka butut macam Boim pun tak bisa sukses.
***
Sampat
jam empat dinihari, Boim tetap tak bisa memejamkan
matanya.
Hatinya begitu hancur lebur jadi debu. Sepanjang
malam
dia sudah meristiqarah meminta keadilan pada Tuhan
yang
dianggapnya nggak adil. Masa playboy nggak pernah sukses
pacaran.
Tapi
tiba-tiba dia teringat sesuatu. Langsung bangkit dari tempat
tidurnya
dengan semangat ’45 dan menuju ke kandang ayam.
Tempat
Abdul Choir tidur nyenyak. Lalu dengan sekuat tenaga
dia
berkoko, sampai si Abdul Choir terpekik kaget.
Boim
puas, dendamnya terbalas sudah....
3.
Lulu Belum Pulang
PADAHAL
sudah lewat magrib. Tapi Lulu belum pulang juga. Si
Mami
jelas kebingungan berat, seperti induk ayam kehilangan
bulu.
Biasanya paling telat, jam setengah enam, sudah muncul
batang
hidung si Lulu. Dengan bersiul-siul dang-dut atau ribut
nyari
duit gocapan buat nambah bayar becak.
“Emangnya
Lulu bawa sendok ya, Bu. Kok dicariin?” ujar Lupus.
Lupus
langsung kena jitak.
Hihihi...,
terus terang aja. Lupus emangsuka keki sama adiknya
yang
satu ini. Soalnya si mami begitu kebingungan kalo Lulu
pulang
telat sedikit. Tapi giliran Lupus, wah nggak pulang
seminggu
juga nggak dicariin. Makanya, kalo kamu agak teliti,
kamu
pasti bisa menemukan bahwa Lupus ke mana-mana selalu
bawa
sendok. Alasannya? “Biar dicariin!”
Pernah
kok suatu hari si mami ribut-ribut banget ngitungin
sendoknya
yang ilang satu biji. Sampai Lulu menegur, “Sendok
ilang
satu biji aja dicariin. Tapi kalo Lupus, anak sendiri, nggak
pernah
dicariin.”
“Ah...
Lupus kan kalo lapar juga pulang sendiri. Tapi kalo sendok,
mana
bisa?” ujar si mami sambil terus mencari sendoknya.
Lulu
Cuma cekikikan, ngebayangin gimana kekinya Lupus kalo
denger
ucapan si mami.
Tapi
kini Lulu yang ilang. Dan si mami lagi ribut-ribut nyariin.
“Coba
kamu susul ke sekolahnya, Pus. Siapa tau dia masih di
sana.
Soalnya kalo mau ke mana-mana, Lulu pasti bilang. “Lupus
yang
lagi asyik nonton tipi, menjawab malas, “Nggak mungkin
Lulu
ada di sekolah, Bu. Mungkin di ke Kebun Binatang.”
Si
Mami jadi terkejut, dan memandang tajam ke arah Lupus.
“Ngapain
dia di Kebun Binatang malam-malam begini? Apa dia
memang
bilang ke kamu mau ke Kebun Binatang, Pus?”
Lupus
jadi kaget sendiri. “Eh, itu kan Cuma misal, Bu. Syukursyukur
kalo
bener.”
“Keterlaluan!
Apa kamu senang kalo adikmu ternyata benar ke
Kebun
Binatang malam-malam begini?” hardik si mami sewot.
“Maksud
saya—kan jadi gampang nyarinya, kalo dia sudah
ketauan
memang jalan-jalanjalan ke Kebun Binatang. Gitu, lho.”
Si
mami ngamuk-ngamuk lagi.
Yah,
emang susah deh. Dan Lupus sudah menyangka, pasti dia
yang
kena getahnya disuruh keliling dunia nyari di mana Lulu
berada.
Uh, emang nggak capek. Coba saja, kalo Lupus yang
belum
pulang, mana mungkin Lulu disuruh capek-capek mencari?
Bener-bener
nggak adil. Lulu memang selalu beruntung. Selalu
mendapat
yang terbaik. Harusnya kan malam-malam begini lebih
enak
nonton tipi sambil ngemil tahu goreng bikinan bibik. Atau
beli
siomai yang mangkal di tikungan jalan. Daripada nyariin si
centil
Lulu yang nggak ketauan juntrungannya. Tu anak mungkin
lagi
enak-enakan sama teman-temannya, sementara di rumah
orang-orang
pada kebingungan.
“Cari
ke mana, bu? Kan nanti juga pulang..., kalo inget...”
“Tapi
ini sudah hampir jam setengah delapan. Coba kamu cari ke
rumah
Suli, atau siapa saja yang kamu tau,” ujar si mami gelisah
sambil
sesekali menyibakkan gorden, mengintip ke luar jendela.
Siapa
tau Lulu datang.
Di
luar memang sudah gelap.
Dan
dengan menggerutu panjang pendek, Lupus mengeluarkan
sepeda
balapnya dari garasi. Dalam hatinya Cuma satu tekat,
menjitak
keras-keras kepala Lulu kalo ketemu nanti. Tu anak
bikin
susah aja. Kalo kepergiannya nggak bikin Lupus sibuk
begini
sih, terserah. Tapi ini...?
Si
mami juga terlalu cemas sih. Padahal namanya anak muda,
wajar
sih kalo sekali-sekali punya acara mendadak. Siapa tau
ketika
Lulu hendak pulang, ketemu cowok bermobil dan diajak
jalan-jalan...
eh gila! Yang beginian sih jelas nggak sehat! Lupus
cemas
sendiri. Soalnya Lulu itu, biar udah kelas satu esema, jiwa
nekatnya
masih gede banget. Pusar kepalanya aja ada dua.
Pertanda
anak yang nakal. Dan bagaimana kalo ternyata Lulu
benar
mau diajak oom-oom bermobil mewah keliling kota? Atau
malah
ke Puncak? Hiiii..., mudah-mudahan enggak! Lupus jadi
mengerti,
kenapa si mami jadi begitu cemas. Soalnya punya anak
gadis
memang paling repot ngejagainnya. Meleng dikit, kesambet.
Dan
kejadian oom-oom yang suka bawa anak gadis itu bukan
kejadian
bohong. Lupus sering geliat, si Fifi diuber-uber oomoom.
Untung
aja si Fifi tabah. Hanya oom yang ber-BMW aja yang
diterima.
Tanpa
terasa, sepeda balap Lupus sampai ke rumah Suli.
Kebetulan
tu anak lagi jajan bakso di depan rumah.
“Heran,
kamu selalu datang kalo saya lagi jajan bakso,” ujar Suli.
Lupus
ketawa, dan langsung memesan semangkuk.
Kemudian
menyusul Suli duduk di dipan teras rumah. Kakinya
diangkat,
didekapkan ke dada biar terasa agak hangat. Malam ini
memang
dingin. Suli duluan melahap baksonya. Sesekali
mulutnya
mengap-mengap kepanasan. Buset, ni anak nggak
sabaran
betul kalo makan? Lupus pun membantu Suli mengipasngipas
baksonya
pake kertas yang ditemukan di dipan. “ Biar
cepet
dingin,” ujar Lupus.
“Hei,
itu kartu Valentin saya!!!” teriak Suli sambil merebut kertas
yang
dipegang Lupus. Buset, hari Valentin udah kapan tau, masih
disimpan
juga kartunya. Pasti dari pacarnya...
“Dari
siapa sih, Sul?”
Suli
Cuma menjulurkan lidah. Lupus sempat membaca sebagian
isinya
:’... kasih sayang menjadikan setiap hari adalah hari yang
terindah
bagimu...’ Doyo..., romantis amat?
“Kamu
kenal Boim, Sul?”
“Temen
kamu yang katanya pernah menang lomba mirip sandal
jepit
itu?”
Lupus
tertawa, hahaha... “Iya.”
“Emangnya
kenapa?”
“Waktu
Valentin kemarin, dia dapat kartu Valentin paling
banyak!”
“Ah,
masa? Emang dia ganteng, ya? Kenalin dong, Pus.”
“Buka.
Soalnya bapaknya emang tukang pos hahaha...”
Suli
merengut.
Lupus
mengambil mangkuk bakso yang disodorkan si abang.
“Sausnya
banyak, Bang?”
Lalu
keduanya asyik melahap bakso hangatnya. Dingin-dingin
begini
memang paling enak makan bakso hangat.
Beberapa
saat kemudian, Suli beranjak pergi hendak mengambil
minum.
“Minum
apa, Pus?”
“Nggak
usah repot-repot. Es kelapa aja...”
Suli
memaki-maki. Emangnya restoran?
Beberapa
saat kemudian, Suli muncul lagi dengan sebotol air
dingin
di tangan. “Ngomong-ngomong Lulu ke mana, Pus? Kok
nggak
diajak?”
Lupus
langsung tersentak. Astaga, dia kan lagi disuruh nyari Lulu.
Kok
malah enak-enakan di sini? Lupus langsung bertanya sama
Suli,
apa Suli liat Lulu sepulang sekolah sore tadi?
“Lho,
kok malah tanya saya? Saya nggak tau, Pus. Tadi nggak
barengan
pulangnya. Lulu ngabur pas jam terakhir...”
Gila.
Lupus buru-buru pamit. Lalu menyambar sepedanya yang
terparkir
dekat tukang bakso. Langsung menghilang di balik
tikungan
jalan.
Beberapa
saat, entah kenapa, Lupus muncul lagi. Terengah-engah
sambil
berhenti di dekat Suli yang memesan semangkuk lagi.
“Ada
yang ketinggalan?”
“Enggak,
Sul. Cuma mau tanya. Kartu Valentin saya apa sudah
sampai?”
“Kartu
yang mana? Belum kok. Emangnya kamu ngirim?”
“Enggak.
Emang harus ngirim?”
“Lho?”
Lupus
pun berlalu sambil tergelak-gelak.
***
Gawat.
Ternyata Lulu memang gawat. Sampai jam sembilan
malam,
tu anak belum nongol juga. padahal Lupus sudah nyari ke
mana-mana,
tapi nggak ketemu juga. si mami uring-uringan,
nggak
bisa tenang. Sebentar-sebentar mengintip ke jendela, atau
maksain
Lupus agar terus mencari Lulu sampai ketemu.
Terpaksalah
Lupus yang aturan sudah nyenyak bobo di tempat
tidur,
kini berngantuk-ngantuk-ria nyari si Lulu ke rumah temantemannya.
Tapi
nggak ketemu juga. sial, tu anak bikin susah aja.
Beberapa
kali sepeda balap Lupus hampir nyebur ke got, lantaran
kantuk
yang tak tertahankan.
“Lupuuuus...,
Lupuuuus...,” tiba-tiba ada suara merdu memanggil
dari
sebuah mobil pick-up.
Lupus
menoleh. Eh, siapa tuh, ada anak manis memanggilmanggil.
“Sebentar,
Pus.” Cewek itu turun dari mobilnya dan menghampiri
Lupus.
Buset, manis juga.
“Kamu
Lupus, kan? Kamu lagi nyariin Lulu, ya?” gadis itu
langsung
berceloteh.
“Kok
tau?”
“Kalo
saya bisa menemukan di mana Lulu, hadiahnya apa?”
ujarnya
lincah.
“He—kamu
temannya Lulu, ya? Di mana Lulu?” Lupus jadi napsu.
Dia
melompat turun. Dan Lulu pun nongol dari mobil gadis tadi.
Langsung
ketakutan ngeliat Lupus melotot ke arahnya. “Weniii...,
toloooong!”
Lulu buru-buru berlindung di balik badan temannya.
Gadis
itu bersikap seolah melindungi Lulu. “Tunggu, Pus. Jangan
ngamuk-ngamuk
dulu. Dengerin. Tadi pulang sekolah Lulu ke
rumah
saya. Janjian mau liat-liat koleksi boneka saya. Tapi
berhubung
rumah saya jauh, di dekat Bogor, kita-kita pulangnya
jadi
rada telat. Maklumlah, keasyikan main. Tadinya Lulu disuruh
nginep
aja sama mama, tapi katanya Lulu belum bilang. Dan
sekarang
kamu lewat, Pus. Tolongin dong Lulu. Kasian...”
“Iya,
Pus. Tolongin rayuin Ibu, Pus,” ujar Lulu ikut-ikutan, “Saya
ngeri
nih!”
Lupus
cuma bisa menghela napas. Lalu menarik tangan Lulu agar
sedikit
menjauh dari situ. Lulu sudah ketakutan saja ketika Lupus
berbisik
pelan, “Gila. Temen kamu cakep juga, tuh. Siapa
namanya?
Weni, ya? Kalo mau ke rumahnya ajak-ajak dong.
Apalagi
kalo mau nginep segala...”
Lulu
bengong.
***
Malam
ini Lulu lagi sedih. Dia dihukum si mami ngegantiin tugas
bibik
mencuci rantang yang seabrek-abrek bekas katering tadi
siang.
“Itu
hukuman untuk anak yang suka bikin orang tua susah. Pergipergi
tanpa
izin!!” ujar mami.
Lulu
cuma bisa nurut. Dan sampai malam, dia ngejogrok
sendirian
di dapur, mencuci rantang. Mulutnya sibuk memakimaki
dirinya
sendiri yang mendapat sial.
Tak
lama, Lupus muncul dengan segelas susu. “Minum biar
tambah
kuat nyucinya.”
Lulu
tak menggubris.
Lupus
kasihan. Dia membantu sedikit-sedikit melap rantang ya
yang
sudah dibilas.
“Kadang
saya iri sama kamu, Pus,” ujar Lulu sambil tetap mencuci
rantang.
“Kamu enak. Bebas mau pergi-pergi, mau nginep-nginep,
tanpa
harus repot-repot izin dulu. Kamu begitu bebas. Nggak
pernah
dicariin ibu. Kalo saya? Ngilang sebentar aja, udah
dicariin.
Emangnya saya sendok?”
Lupus
cekikikan.
“Ah,
manusia memang aneh. Serba nggak puas. Dicariin salah,
nggak
dicariin juga salah. Saya justru suka ngiri sama kamu, Lu.
Kamu
begitu diperhatiin. Apa kamu pikir saya nggak sedih,
nggak
pernah dicariin? Tapi memang, kita perlu merasa nggak
puas.
Soalnya kalo kita cepet puas, hidup ngak ada seninya lagi.
Nggak
ada tantangan. Hihihi...”
Lulu
ikut-ikutan ketawa.
“Kalo
gitu, kapan-kapan kita pergi sama-sama aja, Pus. Kan jadi
enak.
Kamu jadi dicariin, karena menculik saya pergi. Hihihi...”
Keduanya
pun menggangguk-angguk setuju.
Tanpa
terasa, rantang yang dicuci sudah bersih semua.
4.
Keriting Everywhere
DI
BULAN puasa menjelang jam tujuh, Lulu selalu ribut-ribut
nyari
mukenanya. Dia emang rajin tarawih. Puasanya juga pol
sampe
beduk magrib. Beda sama Lupus. Lupus kalo soal tarawih
emang
kurang. Tapi puasanya dong..., batal melulu... hihihi.
Dan
Lupus emang paling males kalo diajaki tarawih. Katanya, dia
suka
ketiduran di mesjid. Abis pas buka, Lupus sering makan
kelewat
banyak. Walhasil bawaannya ngantuk melulu.
“Pus,
kamu liat mukena saya?” teriak Lulu dari kamarnya.
Lupus
yang lagi asyik menyantap kolak pisang, menyahut cuek,
“Mukena
kek mau kagak kek, emang gue pikirin?”
Lulu
sewot. Dia langsung aja berniat ngerjain si Lupus lagi kayak
kemarin.
Yaitu dengan menyelipkan beberapa ekor semut mungil
yang
manis-manis ke dalam kolak pisang si Lupus. Lupus kan
paling
hobi makan kolak pisang. Kalo buka puasa yang paling
dulu
dia makan pasti kolak pisang. Sedang Lulu sering dapat
tugas
dari si mami untuk membuatkan kolak pisang buat Lupus.
Nah,
ini dia. Lulu berhasil menemukan mukenanya di tumpukan
kain
si mami. Aduuuh..., tapi di mana ya semut-semut kecil yang
biasa
muncul? Seperti juga Lupus, Lulu memang selalu yakin
bahwa
di kamarnya pasti banyak semut. Soalnya semut kan suka
sama
sesuatu yang manis-manis. Sedang Lulu selalu merasa
dirinya
manis. Tapi, ah—persetan dengan semut-semut. Tarawih
sudah
hampir mulai nih!
Lulu
pun buru-buru mengambil sarung dan melilitkan
selendangnya
di kepala. Tak lupa dia membawa sandal jepit
kesayangannya.
“Tarawih
di mana, Lu?” sapa Lupus sambil lalu ketika Lulu
melewati
ruang tengah. Lupus di situ lagi asyik makan kolak
sambil
nonton tipi. Acara favoritnya selama bulan puasa ini
nggak
lain dan nggak bukan adalah acara azan magrib. Tiap sore
dia
tunggu-tunggu terus.
“Tarawih
di mana, Lu? Ditanya kok cuek?” ulang Lupus.
“Di
mesjid dekat lapangan bola,” ujar Lulu kalem.
“Lapangan
bola? Lapangan bola yang mana?”
“Lapangan
bola yang dekat mesjid.”
***
Lupus
sering tak habis pikir melihat Lulu adiknya itu. Padahal di
dekat
rumah Lupus, juga ada mesjid yang lumayan gede. Tapi
Lulu
selalu sembahyang di mesjid dekat lapangan. Ketika ditanya
alasannya,
Lulu bilang, “Kalo mau sembahyang berjamaah, makin
jauh
mesjidnya, makin besar pahalanya. Kan setiap langkah kita
menuju
mesjid, selalu di beri pahala.”
Yah,
itu emang bener. Tapi ya belon tentu juga. Yang penting dari
semua
itu kan niatnya. Niatnya mau ngapain. Kalo si Lulu jelasjelas
patut
dicurigai. Dia itu punya niat yang nggak beres. Di
mesjid
dekat lapangan bola, anak cowoknya memang kerenkeren.
Soalnya
anak-anak real estate sebrang kali, sering
bersembahyang
di situ. Nah, Lulu sering sengaja tarawih di situ
sama
teman-temannya sekalian ngeceng-ngeceng. “Yeah, sambil
menyelam
minum green-spot!” ujar Lulu cengar-cengir.
Mesjid
itu praktis jadi ajang perkecengan.
Dan
malam itu, seusai tarawih, Lulu lagi asyik membenahi
perangkat
sembahyang bersama Ritma. Sengaja dilama-lamain,
supaya
yang lainnya udah pada pulang. Jadi bisa puas ngecengngeceng.
“Halo,
cewek!” tiba-tiba dari balik kain pembatas, menyembul
wajah
seorang cowok keren. “Nungguin kita, ya?”
Lulu
terkejut. Karena kebetulan dia memang pas duduk di dekat
kain
pembatas.
“Ssst...,
itu Edwin, Lu. Yang suka nanyain kamu!” bisik Ritma.
“O
ya?”
Tapi
wajah Edwin sudah menghilang lagi. Ritma buru-buru
mengajak
Lulu mengemasi mukenanya, “Cepat, Lu. Keburu dia
pulang.
Dia anak real-estate.”
Beberapa
saat kemudian, mereka berdua pun berada di antara
rombongan
orang-orang yang pulang tarawih. Tak lupa
celingukan
mencari si Edwin yang kece tadi. Di mana ya, tu anak?
Katanya
mau ngegodain. Kok malah ngumpet.
***
Tiap
sore di kamar Lupus selalu ada kesibukan baru. Ada suara
kocokan
gitar dan teriakan nyaring mirip-mirip bebek di situ.
Suara
siapa lagi kalo bukan suara Lupus yang lagi belajar bikin
lagu?
Di sekolah memang mau ada acara perpisahan anak kelas
tiga.
Nah, si Lupus itu dapat tugas bikin satu tema lagu buat
operet
kelas. Tak ayal, Lupus yang baru bisa main gitar tiga jurus
itu,
senen-kemis mencipta lagu. Bolak-balik ngerekam nada-nada
yang
ia dapat ke dalam pita kaset.
Sebetulnya
dalam mencipta lagu itu, bukan sepenuhnya Lupus
sendiri
yang kerja. Lupus dibantu tetangga-tetangganya kanan
kiri.
Para tetangga itu sebetulnya bukan karena iklas membatu.
Tapi
karena merasa terganggu kalau tiap sore harus mendengar
jeritan
si Lupus. Jadi daripada harus berlama-lama menderita
mendingan
berkorban dikit membantu Lupus. Ada yang
nyumbang
lirik lagu atau hanya sekedar doa secukupnya. Yang
ngisi
vokal juga rame-rame. Jadi gara-gara itu lagu, satu erte
ikutan
sibuk terlibat. Dan setelah jadi, Lupus pun memaksa setiap
orang
mendengarkan lagu ciptanya sambil bertanya, “Bagus
nggak?
Bagus nggak?”
Ternyata
dari sepuluh orang yang dihubungi, sebelas di antaranya
menyatakan,
”Tidak! Tidak!”
Keterlaluan,
ya?
Tapi
ada satu makhluk yang tidak ikut sibuk terlibat. Nggak lain
dan
nggak bukan adalah Lulu sendiri. Tu anak belakangan ini
malah
lagi sibuk ngeliatin model-model rambut. Semua majalah
dibuka-buka.
Dipelajari. Model apa yang kira-kira lagi in?
Anak
itu kalo lagi jatuh cinta memang gawat. Ada-ada aja
tingkahnya.
Dan sekarang, dia lagi naksir si Edwin, cowok kece
yang
sering dijumpai waktu tarawih. Yah, meskipun ketemu
hanya
sekelibat aja, tapi Lulu suka. Malah kemarin malam sempat
janjian
ketemu lagi di depan kedai es krim sebrang lapangan bola.
Kedai
yang biasanya dikunjungi anak-anak sepulang tarawih. Di
sana
ada kolak, cincau, kelapa muda, es krim dan makanan ringan
lainnya.
Janjiannya
masih lama. Masih sekitar dua harian lagi. Karena
selama
dua hari ini, Edwin mau nganter maminya dulu ke
Bandung.
Jadi buat Lulu, masih ada waktu dua hari lagi untuk
persiapan.
Duile, mau ketemu aja pake persiapan!
Setelah
Lulu selidiki, ternyata yang sekarang lagi in adalah model
rambut
keriting. Di mana-mana sekarang memang serba keriting.
Teman-teman
Lupus, si Boim sampai Fifi Alone rambutnya
keriting.
Ayam tetangga pun ada yang keriting. Semua yang serba
keriting,
lagi jadi mode dan didemenin. Contohnya, kerupuk yang
dijual
di warung gado-gado. Semua keriting. Atau supermi yang
sering
dibeli si mami. Ikut-ikutan keriting. Kaset lagu pun kalau
dijemur
suka keriting.
Makanya,
setelah mantap. Lulu pun berduyun-duyun ikut gadisgadis
lain
untuk dikeriting. Lumayan buat persiapan jumpa sama
si
Edwin. Dan sehari sebelum perjanjian mereka bertemu di kedai
es,
Lulu sudah siap dengan rambutnya yang ajaib. Keriting total.
Gimana
komentar Lupus ketika pertama kali ketemu Lulu yang
baru
pulang dari salon?
Dia
terbengong-bengong dan berkata, “Aduh, Lulu, kesentrum di
mana
kamu? Saya turut berduka cita atas musibah yang
menimpamu.”
Lulu
langsung ngamuk-ngamuk sambil ngucel-ngucel rambut
Lupus
sampai keriting juga. Lupus jadi sebel setengah mati
setelah
berkaca dan ngeliat rambutnya jadi ajaib begitu. Dia
langsung
keramas agar rambutnya bisa lurus lagi.
Tapi
sebaliknya, temen-temen sekolah Lulu langsung pada mujimuji
penampilannya,
“Idiiiih..., kamu jadi kayak koper girl deh.
Kayak
gadis penjual koper...hihihi.”
***
Jam
tujuh lewat dikit, Lulu mendadak masuk rumah dengan
terburu-buru.
Mukanya kusut. Menandakan ada yang tidak beres.
Sarung
dan mukenanya dilempar begitu saja ke atas kursi
panjang.
Lalu dia duduk terhenyak di sofa pojok ruangan.
Bersungut-sungut
dia di situ.
Melihat
wajah yang kusut, yang tak kalah kusut dengan keriting
di
rambutnya Lupus yang semula lagi asyik-asyik duduk nonton
tipi,
jadi tersenyum geli. Lho, tapi ini kan baru jam tujuh lewat.
Kok
tumben Lulu udah balik dari tarawihnya? Biasanya paling
cepet
jam setengah sepuluh baru nongol.
“Nggak
tarawih, Lu?”
Lulu
menatap Lupus, lalu menjawab malas, “Tarawih
dipulangkan.
Imamnya nggak masuk.”
Lupus
ngikik. Ada-ada aja!
“Ada
yang nggak beres, Lu?”
Lulu
diam. Asyik mengigit-gigit ujung keritingnya.
“Halo?
Kok diam?”
Lulu
memicingkan matanya.
“Coba
tebak, Lu. Kotak, kecil, ada dipojokkan. Apakah itu?”
Lulu
membuka matanya.
“Nggak
tau?”
Lulu
menggeleng.
“Papan
catur lagi ngambek.”
Lulu
tertawa. Hahahaha. Langsung menerjang Lupus dan
mengucel-ngucel
rambutnya lagi. Lupus menjerit-jerit ribut.
Lalu
Lulu langsung cerita tentang kesedihannya. Si Edwin yang
udah
janji mau traktir di kedai es krim, ternyata tak
mengenalinya
ketika bertemu Lulu saat berangkat tarawih. Sama
sekali
tak mengenali. Yah, bagaimana tu cowok bisa ngenalin,
kalau
tiba-tiba rambut Lulu jadi keriting begitu? Lulu yang
maksudnya
mau bikin surprise, malah tak dikenali sama sekali.
Baru
ketika Ritma muncul, dan meyakinkan Edwin bahwa benar
gadis
yang berambut keriting itu si Lulu, kontan Edwin nge-shock.
Soalnya
doi nggak doyan kalo rambut Lulu digituin. Doi lebih
suka
yang alami, yang natural.
Lulu
jadi nyesel berat dikeriting.
“Kadang
orang memang lebih suka apa adanya, Lu. Sesuatu yang
dibuat-buat,
yang kita pikir bakal lebih mempercantik diri kita,
malah
kadang menjatuhkan. Maka, jadilah apa adanya diri kamu.
Cintailah
apa yang telah ada pada diri kamu. Karena yang telah
ada
pada diri kamulah yang dicintai Edwin,” begitu nasihat Ritma,
temannya.
Lulu menunduk sedih.
“Namanya
juga orang usaha...,” ujar Lulu sedih.
Sedang
Lupus hanya berkomentar, “Wah, tu cowok emang sama
sekali
nggak berjiwa humor. Nggak tau bahwa jarang-jarang ada
cewek
punya rambut ajaib kayak kamu. Hihihi...”
Esok
malamnya, Lulu mulai bersiap-siap lagi. Sementara Lupus
dari
tadi sibuk nyari kolak pisangnya yang kelupaan dimakan
“Tarawih
lagi, Lu?” tanya si mami.
“Enggak.
Libur dulu. Lulu mau ngelurusin rambut dulu ke salon,”
ujar
Lulu enteng.
“Apa?”
Lupus jadi tersentak. “Jangan, Lu! Aduh, jangan dilurusi
rambutnya!
Kita-kita sama temen udah pada sepakat untuk
mengajak
kamu ikutan di operet sekolah. Jadi peran adiknya si
Boim
yang keriting juga. soalnya di sekolah nggak ada anak yang
keriting!”
“Jadi
adiknya Boim? NGGAK MAU!!!”
“Yaaa...
mau dong! Tolonglah, Lu!”
Lulu
langsung ngabur keluar. Enak aja jadi adiknya Boim!
Tapi
pas sampai di jalan, dia seperti teringat sesuatu. Dan
langsung
buru-buru balik. Setengah berlari dia. Tapi terlambat,
sampai
rumah Lupus kedapatan lagi panik meludah-ludah di got
belakang.
“Lulu!!
Kamu ngemasukin semut-semut itu lagi ya ke dalam
kolak??”
hardik Lupus.
Lulu
tak bisa menahan ketawanya. “Hahaha..., baru mau
dibilangin,
ternyata telat... hahaha.”
Lulu
langsung dikejar-kejar ke jalanan. Hahaha, hahaha!
5.
Hari Ini Libur
MINGGU
pagi awal libur yang panjang, nampak seorang anak
sedang
menunggu di pinggir jalan. Tampangnya jelek sekali.
Soalnya
lagi suntuk nunggu seseorang. Anak itu teman kamu
juga.
namanya Lupus. Ada tergeletak pasrah sebuah ransel
mungil
di sisi tempat dia berdiri. Ransel yang berisi sesuatu yang
nggak
boleh kamu lihat. Ya..., tebak aja sendiri. Terus terang, saya
nggak
berani ngoprek-ngoprek isinya. Soalnya si Lulu aja waktu
nekat
mau tau apa isi ransel Lupus, kena sambil sandal jepit. Ih,
sadis.
Tapi
menurut Lupus, teman-temannya lebih sadis lagi. Bayangin
aja,
mereka udah janjian mau jemput Lupus dipinggir jalan jam
enam
pagi. Tapi sampai lewat jam tujuh, makhluk-makhluk sialan
itu
belum muncul juga. padahal dari subuh-subuh Lupus udah
bangun.
Udah bela-belain mandi basah, biar ngantuknya ilang.
Tapi
sampai sekarang? Si Lupus gayanya udah kayak liften aja.
Tiap
ada mobil lewat diamati. Disumpah-sumpahi.
Beberapa
tukang ojek yang biasa mangkal di ujung gang, dari tadi
secara
gantian sibuk nawarin Lupus untuk naik aja ke ojeknya.
Tapi
Lupus nolak. Soalnya tu ojek kan khusus angkutan ke jalanjalan
kecil.
Khusus untuk balik lagi ke rumah.
Tiba-tiba
sebuah minibis nampak di kejauhan. Berwarna merah
norak.
Nah, itu dia, yang ditunggu-tunggu datang. Lupus pun
bersiap-siap
mengemasi bawaannya. Pasti nggak salah lagi nih,
pikirnya.
Uh—lama amat. Nggak tau, ya, udah capek-capek
dandan
dari subuh...
Tapi
belum selesai Lupus menumpahkan makiannya, itu mobil
sudah
lewat dengan cueknya di depan hidung Lupus. Lho?
Sialan—ternyata
bukan. Dengan kesal, Lupus pun membanting
ranselnya.
“Udah
deh, Tong. Pulang aja lagi. Yang ditunggu nggak bakal
datang.
Ayo abang anterin,” rayu tukang ojek itu lagi.
“Enggak
usah, ya!” cibir Lupus.
Lupus
pun menanti lagi. Iseng-iseng dia mengunyah permen
karet.
Sumpah, dia sekarang nggak berani lagi nempelin bekas
permen
karet di tempat duduk orang. Soalnya sebelum libur ini,
Lupus
sempat disidang sama guru-guru, karena ada seorang guru
Bahasa
Indonesia yang roknya kena noda lengket bekas permen
karet
ketika duduk. Siapa lagi anak SMA Merah Putih yang doyan
permen
karet kecuali Lupus? Makannya Lupus yang disidang. Dan
namanya
menghadapi guru, Lupus jelas nggak bisa menang
argumentasi.
Dia kena ancam skors. Untuk besoknya libur, jadi
sama
aja bo’ong.
“Aduh,
padahal guru itu yang salah!” ungkap Lupus kesal ketika
keluar
dari ruang sidang. “Udah tau bangku ada permen karetnya,
kenapa
didudukin? Makanya jadi orang tuh harus hati-hati!”
Tapi
toh, Lupus rada-rada kapok juga.
“Apa
lebih baik ditempeli di meja aja, biar nggak bisa diduduki
orang?”
Lupus
menimbang-nimbang sambil terus mengunyah. Tak terasa,
jam
sudah menunjukkan pukul delapan. Sialan! Ke mana nih
anak-anak?
Saking sebelnya, Lupus berniat balik aja lagi ke
rumahnya.
Dia mengemasi bawaannya dan menuju tukang ojek
yang
selalu always stand by di ujung gang. Tapi tukang ojeknya
pura-pura
nggak tau ketika Lupus mendekati. Pura-pura sibuk
ngilik
kuping.
“Bang—anterin
ke rumah!”
Tukang
ojek itu memandang Lupus dengan ekor matanya.
“Ih,
sori, ya. Tadi ditawari nggak mau. Emangnya situ aja yang
bisa
jual mahal?”
Lupus
gondok. Dia pun beranjak pergi.
Tapi
ngapain balik lagi ke rumah? Malu-maluin aja. Bukannya tadi
dia
udah pamitan sama si mami, si Lulu, sama tetangga kanan
kiri,
juga sama ayam-ayamnya tersayang? Apa kata mereka nanti?
Lho,
kok pikniknya udahan? Kok nggak bawa oleh-oleh? Kapan
tadi
udah pamit ke setiap orang?
Dijejali
pikiran macam gitu, Lupus pun pantang menyerah. Dia
segera
menyetop bis menuju rumah Boim.
***
Di
rumah Boim sepi. Yang empunya rumah masih cuek. Masih
bersarung
ria dengan secangkir kopi di ruang tengah. Sambil
dengerin
radio lagu-lagu dang-dut pilihan.
Lupus
mengetok-ngetok pintu.
“Assalamualaikum!
Assalamualaikum! Tok-tok-tok!”
“Aduh
maap..., nggak ada orangnya...,” terdengar sahutan dari
dalam.
“Lho
yang ngomong itu siapa? Apa bukan orang?”
“Ya,
orang dong. Kamu siapa sih, kok agresip amat?”
“Saya
Lupus.”
“Oto...,
Lupus. Silakan pulang aja deh.”
“Sialan!”
Lupus langsung membuka pintu. Di situ ada pembantu
Boim
lagi beberes.
“Maaf,
Den. Bibik kira tukang minta-minta. Habis, biar lebaran
udah
lewat, tukang minta-minta masih banyak. Dikit-dikit ketok
pintu.
Kan capek.”
Lupus
Cuma nyengir.
“Si
Boim ke mana, Bik?”
“Boim?”
Bibik itu mikir. “Katanya sih lagi nggak ada. Mau ngapain
sih
nyari Boim?”
“Ya...,
mau ketemu aja. Sekalian lebaran. Saya kan belum sempet
lebaran
sama dia.”
“Oto...
kata Boim kalau ada tamu yang mau minta maaf, suruh
ambil
aja di bufet... hihihi.”
Lupus
mendongkol.
Pas
Boim nongol. Masih bersarungan sambil cengar-cengir kuda.
Lupus
langsung menumpahkan kekesalannya,
“Gimana
sih, lo. Nggak tau ya saya udah nunggguin dari pagi di
pinggir
jalan? Katanya mau nyamper jam enam. Terus, mana lagi
si
Gusur, Anto, Aji, Gito... Pada kompakan ya mau ngerjain saya?”
“Bukan
gitu, Pus.”
“Remaja
sekarang udah nggak bisa menghargai janji. Payah.
Kayaknya
sekarang ini begitu enteng janji diucapkan. Begitu
enteng
janji dilanggar. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari.
Kau
yang memulai, kau yang mengakhiri... lho—kok jadi teks lagu
dang-dut?
“Pokoknya,
saya marah berat. Anak-anak udah pada gokil semua.
Betapa
banyak janji yang nggak ditepati sekarang ini. Apa janji
emang
udah nggak ada harganya lagi? Apa kamu nggak pernah
mikir
kalo orang yang udah dijanjiin, yang menunggu di pinggir
jalan,
sangat gelisah?”
“Alaaah,
lo juga suka ngaret, kan, Pus?”
“Iya,
tapi kan itu mendingan daripada nggak datang. Mending
telat
daripada nggak sama sekali...”
Tetap
aja, Pus. Ngaret juga versi lain dari mengingkari janji.”
Lupus
memberengut.
“Masalahnya
gini, Pus. Saya lagi cekak. Nggak punya duit buat
piknik
pada liburan kali ini. Si Anto sama Gusur juga begitu. Jadi
kemarin,
waktu pulang sekolah, kita sepakat nggak jadi pergi
aja.”
“Tapi
kok nggak bilang-bilang saya?”
“Kamu
kan lagi disidang di ruang guru!” Boim menggulunggulung
sarungnya.
“Udah sekarang kita ke Anto aja. Siapa tau dia
punya
ide lain?”
Boim
pun buru-buru ke kamar mandi. Saat itu si Gusur muncul.
Dari
jauh tu anak udah cengengesan.
“Hooo1,
rekan-rekan. Daku lagi bahagia sekali hari ini.
Bahagiaaaa...
sekali...”
“Ada
apa, Sur? Dapet porkas?”
“Tidak,
Pus. Di bis tadi daku kecopetan.”
Boim
yang sudah siap mau nyemplung ke bak, jadi urung. Belabelain
keluar
sambil berhandukan.
“Kecopetan?
Kok malah girang?” tanya Boim penasaran.
“Mengapa
tidak. Dompet yang dicopet itu berisi bon-bon utangku
pada
tukang bakso, siomai, rujak. Dan di situ ada perjanjian,
barang
siapa yang menemukan bon-bon ini, wajib melunasinya.
Hahahaha...”
***
Setelah
semua beres, mereka bertiga pun ke rumah Anto. Anto
yang
sebetulnya punya tugas bawa mobil pada piknik kali ini.
Tapi
kenapa tadi pagi nggak ngejemput Lupus dulu? Paling tidak,
ngebilangin
kek kalo perginya nggak jadi.
Tiba
di rumah Anto, suasana lebih lengang lagi. Lupus, Gusur,
dan
Boim berdiri di depan pagar. Ih, pada ke mana sih? Kok sepi?
“Hoooooiii...,
antoooo..., keluar kau! Rumahmu sudah kami
kepuuuung!”
teriak Lupus kumat gokilnya.
Gusur
cuma kekikikan.
“Iya,
Tooo..., ini kami bertiga dataaaaang...,” tambah Boim. “Kami
dari
regu A. Di sebelah kanan saya Lupus, sedang di sebelah kiri
saya
karung beras...”
Gusur
yang tadinya bercita-cita mau cekikikan lagi, jadi cemberut.
Tapi
yang muncul ternyata bokapnya Anto. Yang terheran-heran
geliat
anak-anak gokil itu. Anak-anak jelas jadi tersipu-sipu malu.
“Nyari
Anto, ya? Langsung aja ke belakang. Dia lagi ngebenerin
mobil
tuh!”
Lupus,
Boim, Gusur pun berduyun-duyun ke belakang.
Ketika
ditemui, tu anak lagi sibuk berat dengan mobil bututnya.
Tangan
dan mukannya belepotan oli.
“Wah—sori,
Pus. Mungkin saya nggak jadi pergi. Abis mobil saya
ngadat
lagi. Nggak tau tuh, apanya yang rusak. Tadi pagi disarter
nggak
mau idup-idup. Kamu bisa betulin nggak, Pus?”
Lupus
berlagak memeriksa mobil Anto dengan seksama.
“Oooooh,
ini, To. Mungkin karena letak kaca spionnya yang nggak
bener...”
Anto
bengong. Idih, apa hubungannya?
***
Pagi
itu, di awal liburan, terpaksa mereka nggak jadi piknik. Cuma
ngumpul-ngumpul
aja di rumah Anto sembari makan kue sisa
lebaran.
Suntuk
juga sih.
“Jadi
liburan ini kita ngapain dong!” ujar Lupus.
“Saya
sebetulnya ada ide, Pus. Itu kalo kalian setuju. Tiap libur,
biasanya
kan kita cuma ngabis-ngabisin uang. Piknik ke sana-sini.
Emang
sih buat refreshing. Tapi gimana kalo kali ini kita isi
dengan
nyari uang aja? Dengan kerja. Itung-itung KKN. Kasak-
Kusuk
Ngobyek. Soalnya kalo dari kecil kita nggak dilatih bekerja,
kita
nggak biasa. Remaja di barat aja sering mengisi liburannya
dengan
cari uang. Dengan kerja di restoran, jadi tukang cuci
piring.
Makanya pas udah gede mereka udah terbiasa kerja...,”
usul
Anto.
“Alaah,
kamu kan baca sendiri, To, di majalah. Situasi di sini
beda.
Mana ada restoran sini yang mau nerima pekerja part-time
macam
kita-kita yang nggak pengalaman?” bantah Boim.
“Justru
itu. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi di sini. Kalo
kamu
mau, kita ada kerjaan yang sip. Yang sekaligus bermanfaat
buat
kita-kita semua. Terutama buat kamu, Pus.
“Kok
saya?” Lupus bengong.
“Begini.
Pada libur panjang ini kepala sekolah kita berniat
mengecat
ulang sekolahan kita yang mulai dekil itu. Nah, kemarin
secara
iseng saya tawarkan, gimana kalo kita-kita aja yang
mengecat,
Pak? Beliau setuju-setuju aja, asal kita kerjanya bener.
Nah,
ini kan berguna buat kamu, Pus. Kamu yang paling sering
ngotorin
kelas dengan permen karetmu. Iitung-itung sekalian
nebus
dosa. Kalo kalian setuju, sore ini saya hubungi kepala
sekolah,
besok pagi sudah mulai kerja. Gimana? Lumayan lho,
buat
nambah uang saku?”
Yah,
rasanya itu memang usul yang baik. Anak-anak langsung
setuju.
***
Besoknya
pagi-pagi sekali, Lupus dibangunkan maminya.
“Pus,
katanya mau dibangunkan pagi-pagi? Katanya mau kerja?”
Lupus
menggeliat-geliat malas. Uh—baru jam berapa sih?
“Bangunlah,
Pus. Kamu kan udah janji sama teman-teman kamu?”
Lupus
malah menarik selimut tebalnya. Ah, liburan memang
paling
asyik diisi dengan tidur...hihihi
6.
Bangun Dong, Lupus!
TOK-TOK-TOK
Pintu
kamar lupus diketok dari luar.
Uh,
siapa sih yang nggak tau diri amat? Mengetuk-ngetuk kamar
orang
di pagi buta begini?
Tok-tok-tok,
“Pus..., Pus. Bangun dong!”
“Lupus
masih tidur!” ujar suara yang di dalam.
“Lho
– kok bisa ngomong?”
“Oh,
itu kebiasaan dari kecil. Lupus emang suka mengigau begitu,
kok.”
“Masuk
aja. Ngak dikunci kok. Nanti kalo udah, keluar lagi, ya?
Jangan
lupa menutup pintu.”
Boim
masuk. Tersenyum geli melihat Lupus yang masih asyik
bersembunyi
di balik selimut tebal. Ya, pagi ini udara memang
dingin
sekali. Hujan semalaman membuat pagi ini begitu dingin.
Begitu
enak buat tidur. Tapi tak boleh begitu. Pagi, tak boleh diisi
dengan
tidur. Pagi adalah saat kita bangun. Membuka mata
dengan
wajah cerah, dan bergegas menuju tempat tugas. Meski
mata
terasa berat, meski selimut mendekap erat. Sekali dalam
hidup,
kata penulis besar Pramoedya, orang mesti menentukan
sikap.
Kalau tidak, dia takkan pernah menjadi apa-apa.
Sesekali
waktu, kita memang harus berani menentang situasi
yang
memanjakan kita. Agar kita tak terlelap.
Pagi
hari, adalah saat yang tepat untuk mengerjakan sesuatu. Saat
udara
masih segar, saat pikiran masih bersih, saat segala
persoalan
larut dalam tidur semalam.
Maka,
bangunlah, Pus.
Boim
membuka jendela. Membiarkan udara sejuk merasuk.
Membiarkan
bau tanah basah tercium, mendengarkan cicit
burung
yang berkejaran.
“Pus,
bangun. Temen-temen menunggu di luar. Katanya mau
kerja?
Katanya mau mengecat sekolah?”
“Ya...,
ya. Saya bangun,” ujar Lupus sambil beranjak berdiri.
Kedua
tangannya direntangkan ke depan. Matanya masih tetap
tertutup.
Dengan gaya orang mendusin, dia berjalan pelan-pelan
ke
kamar mandi.
Sampai
di kamar mandi, gokilnya kumat lagi. Dia berteriak
nyaring,
“Lulu! Kamu abis ngebom nggak disiram ya!!!”
Lulu
yang lagi ngumpul di depan sama teman-temannya, jadi
tengsin
berat.
Sialan!
Bukan saya. Itu kerjaan si Boim!!”
Boim
bengong. Lho, kok saya lagi yang kena?
***
Boim
memang selalu jadi kambing hitam. Bukan karena Boim
mirip
kambing. Ih, jangan menghina, ya? Mana ada kambing yang
hitam
seperti Boim? Tapi si Boim ini memang selalu kebagian
sialnya.
Entah kenapa, mungkin memang ada orang yang
ditakdirkan
sial seumur-umur. Tapi kini, di pagi ini, Boim toh
telah
berbuat sesuatu yang mulia. Mengajak Lupus bangun,
meninggalkan
tidur di pagi hari. Mencoba menentang dunia yang
meninabobokan.
Dengan
membawa cat, kuas, dan perkakas lainnya untuk
mengecat
sekolah, Boim, Gusur, Anto, Lupus, Meta, Ita, Fifi, dan...
oh,
ini dia yang bikin Boim semangat. Ternyata Nyit-nyit yang
segede
kunyit turut serta dalam barisan anak-anak menuju
sekolah.
Hap-hap-hap-satu-dua-tiga!
Dengan semangat empat lima, anakanak
manis
itu berjalan menuju sekolah. Asyik bermain keretakeretaan.
Gusur
yang jadi lokomotif. Sebab anatomi tubuhnya
memang
pas mirip lokomotif.
Sebetulnya,
sekolah memang sedang libur. Tapi kep-sek sudah
setuju
atas usul Anto agar anak-anak aja yang mengecat ulang
sekolah.
“Honornya
mahal, nggak?” ujar kep-sek ketika ditemui.
“Biasanya
berapa?” tanya anak-anak.
“Yaaah,
kalo manggil tukang, paling upahnya empat ribu per
orang
satu harinya.”
“Ya
udah, kalo sama kita-kita delapan ribu aja deh!”
“Lho,
kok malah lebih mahal?”
Tapi
walau ternyata anak-anak yang kerja lebih banyak, dan itu
berarti
biayanya lebih besar, kep-sek akhirnya setuju. Memang di
sini
bukan dilihat dari untung ruginya, tapi kep-sek terkesan
sama
niat mulia anak-anak. Yaitu belajar bekerja. Di saat anakanak
yang
lain asyik berlibur, mereka malah bekerja.
“Mereka
memang pantas diberi imbalan,” ujar kep-sek di depan
rapat
sidang guru.
***
Mengecat
SMA Merah Putih ternyata nggak begitu sulit. Tak
sesulit
mengecat rambut keritingnya si Boim menjadi pink.
Karena
memang Cuma butuh dua warna. Atas merah, bawah
putih.
Makanya dinamakan SMA Merah Putih. Seragam para siswa
di
situ, tadinya juga mau ber-merah-putih-ria. Tapi karena siswasiswanya
pada
protes lantaran sering dikira anak SD, maka
ditukar,
bajunya merah, sedang bawahannya putih. Itu juga
diprotes
keras sama si Boim. Karena kulitnya yang ngujubileh
itemnya
nggak begitu canggih dipakein baju merah. Doesn’t fit
each
other. Walhasil sang kep-sek nyerah, seragam diganti putih
abu-abu
aja.
O
ya, pengecatan sekolah dimulai dari ruang kep-sek. Dua jam
pertama,
ditandai oleh peristiwa Gusur yang sekujur tubuhnya
kebanjur
cat. Ini gara-gara dia sibuk melirik-lirik Fifi Alone yang
pake
celana pendek. Nggak sadar kalo ternyata Gusur menabrak
tangga
yang dinaikin Lupus buat mengecat. Walhasil, ember yang
dipegang
Lupus jatuh, pas nyungsep di kepala Gusur.
Boim
yang lagi sibuk mengerik-ngerik tembok untuk
membersihkan
sisa kotoran dan sisa cat yang mulai luntur,
tertawa
terpingkal-pingkal.
Kesalahan
memang bukan pada lirikan mata si Gusur. Tetapi
pada
si Fifi Alone yang pakai celana pendek model turis Bali,
dengan
kaos model you can see my ketiak.
Jam-jam
berikutnya ditandai dengan datangnya ibu bahasa
Indonesia
didampingi Kepala Sekolah yang hendak melihat-lihat
hasil
kerja anak-anak. Untung saat itu segalanya sudah nampak
agak
beres. Paling tidak, tak ada yang kebanjur cat lagi. Kantor
kepsek
sudah nyaris rapi jali. Bersih mengkilat. Sampai sang
kepsek
pangling sendiri, ini kantornya atau bengkel motor si
Boim?
Hihihi...
Tapi
enggak ding. Kantornya kini memang bener-bener bersih.
Jendela-jendela
kaca sudah bersih mengkilap dari percikan cat.
Boim
yang biasanya disuruh mandi aja susah, kini mendadak
rajin
setengah mati. Meta dan Ita dari tadi cekikikan aja melihat
perubahan
sikap Boim. Anak-anak yang lain juga gitu. Siapa lagi
penyebabnya
kalau bukan Nyit-nyit yang manis itu? Boim pasti
lagi
nyari muka di depan Nyit-nyit. Biar dibilang rajin, ya? Biar si
Nyit-nyit
naksir, ya? Hihihi...
“Ih,
sori, ya!” cibir Nyit-nyit.
Anak-anak
memang bener-bener pada tega. Tak pernah memberi
peluang
Boim untuk menyerang. Tiap kali Boim merapat
mendekat
ke Nyit-nyit, anak-anak yang diam-diam mengintai,
dengan
norak berteriak-teriak menirukan suara kondektur bis,
“Rapat
belakang! Rapat belakang! Tarik!!!”
Tinggal
Boim yang tersipu-sipu malu.
Tapi
Nyit-nyit nggak mau tau. Dia selalu menghindar dari Boim.
Boim
jadi sedih. “Ah, sudahlah, Im. Anggaplah kegagalan itu
sebagai
bukan suatu kesuksesan,” nasihat Lupus.
Boim
memberengut. Ih, bukannya nolong, malah geledek.
Sementara
anak-anak lain, yang rata-rata pada belepotan cat,
mendapat
pujian dari kepsek.
“Istirahat
dulu. Kita makan-makan di kantin sebelah,” ujar
kepsek.
“Horeeee...,ditraktir,
kan, Pak?” jerit anak-anak.
Bapak
kepsek bengong. “Ih, jangan nuduh, dong!”
***
Menjelang
petang, dua kelas sudah selesai digarap. Anak-anak
mulai
siap-siap pulang. Rata-rata sekujur tubuh mereka sudah tak
berbentuk.
Penuh dihiasi bercak-bercak cat. Fifi nyesel setengah
mati,
soalnya kaos oblongnya itu boleh beli dari Singapura.
Sayang
kalo sampai kena bercak-bercak cat begitu.
”Andai
tak suka, berikan saja padaku kaosmu itu, Fi. Biarlah
penuh
noda. Akan kupajang di kamar sebagai kenang-kenangan,”
ucap
Gusur.
Fifi
melotot. Lantas ike pulang pake apa? Apa dibiarkan tanpa
busana?
Gusur
langsung senyum-senyum nakal. Ih, otak kotornya nggak
ilang-ilang.
Anak-anak
pun berhaha-hihi. Sambil membereskan peralatan cat
untuk
digunakan besok. Semuanya disimpan rapi di gudang.
Sementara
ibu bahasa Indonesia yang baik namun cerewet itu
kembali
meninjau kelas yang selesai digarap. Semua tampak
bersih,
seperti sebuah gedung baru. Ada kebanggaan tersendiri di
hatinya.
Bahwa anak-anak nakal itu bisa bersikap manis juga.
bahwa
kecerewetannya selama ini dalam mengajarkan tata tertib
kebersihan,
kesopanan, kerajinan, tak menjadi sia-sia.
Bahwa,...
oh!
Begitulah
seharusnya mendidik anak. Ajarkan kepada mereka
bagaimana
bekerja. Tumbuhkan rasa cinta bekerja pada mereka.
Bangunkan
mereka. Jangan sampai terlena oleh situasi yang
sekarang
serba melelapkan. Memanjakan.
Ibu
itu terus tersenyum-senyum sendiri. Mengangguk-anggukkan
kepala
sambil berjalan berkeliling kelas. Ada rasa penat yang
memaksanya
untuk duduk di ujung meja belajar murid. Ya,
sekedar
melepas lelah. Tapi... oh! Apa ini yang lengket-lengket di
roknya?
Dengan cepat ibu itu bangkit, memeriksa rok barunya.
Astagfirullah!
Permen karet!
“Lupus!!!”
hardik ibu guru itu keras.
Lupus
yang kebetulan hendak pulang lewat depan pintu,
tersentak
kaget. Lebih kaget lagi ketika tau bahwa guru bahasa
Indonesia
itu kena permen karetnya lagi.
“Aduh,
Ibu! Salah ibu sih! Kenapa duduk di meja? Meja kan bukan
tempat
duduk. Lain kali hati-hati dong, Bu...”
Ibu
itu tambah melotot.
***
Lupus
membanting pintu dengan kesal. Uh, hari yang melelahkan
sekaligus
menyebalkan! Gara-gara untuk kedua kalinya ibu
bahasa
Indonesia kena tempel permen karet. Lupus mendapat
peringatan
keras dari kepsek. Dilarang makan permen karet di
lingkungan
sekolah! Uh—padahal jelas-jelasan yang salah itu ibu
gurunya.
Udah tau meja gunanya untuk menulis, malah diduduki.
Kan
salah sendiri.
Lupus
itu sebetulnya sudah insap. Sejak diperingatkan agar tidak
boleh
menempelkan sisa permen karet di bangku, dia betul-betul
tak
pernah melakukannya lagi. Tapi dia sama sekali tak mengerti,
kenapa
sekarang kena tegor lagi.
“Pus,
ada apa? Kok kusut banget tampangmu?” tegur Lulu.
Lupus
tak menanggapi. Dia seenaknya membuka-buka tudung
saji,
nyari makanan. Perutnya lapar berat. “Ibu ke mana sih, Lu?
Kok
nggak ada makanan apa-apa?”
“Ibu
pergi dari pagi. Saya yang masak. Itu ada spaghetti bikinan
saya
khusus buat kamu di lemari makan.”
“Spaghetti?”
Lupus langsung bergegas membuka lemari. Mencari
spaghetti.
Ih, ternyata Cuma supermi. Dengan dongkol,
diambilnya
juga supermi bikinan Lulu. Abis lapar. Lulu Cuma
cekikikan
di sofa sambil baca Lucky Luke.
Beberapa
saat kemudian, dia dikagetkan oleh Lupus yang
mendadak
terbatuk-batuk. Uhuk-uhuk-uhuk! Mukanya berubah
merah,
lehernya dicengkram oleh kedua tangannya.
“Pus!
Pus! Kenapa kamu?” ujar Lulu panik. Lucky Luke-nya
dilempar
begitu saja. “Kenapa, Pus?”
Lupus
tak menjawab. Masih sibuk terbatuk-batuk.
Lulu
langsung menghitung sendok yang ada di meja. Wah—
jangan-jangan
sendoknya ketelen si Lupus. Aduh! Bukannya apaapa.
Bukannya
Lulu takut Lupus pingsan, dan nggak ada orang i
rumah
buat menggotong ke rumah sakit. Masalahnya, di rumah
sendok
si mami tinggal tiga biji. Kalo sampe ketelen Lupus satu,
kan
jadi tinggal dikit... hihihi.
7.
Lupus Belum Pulang
PENGECATAN
sekolah sudah kelar seluruhnya. Tapi kekesalan di
hati
Lupus belum juga ilang. Terutama sama si Lulu yang usilnya
minta
ampun. Masa orang keselek dibilang nelen sendok. Belum
lagi
peringatan keras dari kepsek soal permen karet. Belum lagi
soal
si mami yang sibu terus akhir-akhir ini. Sampai negor Lupus
nggak
sempat. Beberapa hari terakhir ini, Lupus jarang bisa
cerita-cerita
ke mami seperti biasanya.
Sebetulnya
rasa kekesalan Lupus ya karena ulah maminya itu.
Yang
belakangan ini kelewat sibuk. Padahal Lupus lagi libur
panjang.
Kalo Lupus bangun jam delapan, si mami udah
berangkat
kerja. Pas Lupus pulang mengecat sore harinya, si
mami
belum pulang juga. paling-paling pulang agak lewat jam
delapan
malam. Itu juga langsung tidur. Uh! Denger-denger mami
si
Lupus emang baru dapet tender dari perusahaan gede. Pesanan
kateringnya
seabrek-abrek. Dan terpaksa harus join kerja sama
kerabat-kerabat
mami yang lain.
Pokoknya
sok sibuk banget deh!
Emang
sih, kemarin ada pembantu yang masak. Tapi Lupus tetap
nggak
suka. Masa punya mami pinter masak, harus makan
masakan
orang? Si Lulu sih enak, dengan ada pembantu baru, jadi
punya
tema ngegosip!
Maka
kompensasinya, Lupus di liburan ini sering ngumpul bareng
sama
teman-temannya. Si Boim, Gusur, Anto, Fifi, Meta, Ita, Nyitnyit,
Gito,
Aji. Mereka malah merencanakan pergi ke Bandung
untuk
mengisi liburan. Kebetulan uang dari hasil mengecat masih
utuh.
Mereka bisa gunakan untuk ongkos dan jajan. Emang enak
mempergunakan
uang dari hasil jerih-payah sendiri. Seperti yang
sering
Lupus bilang, “Dari pada banyak duit tapi duit orang tua,
mendingan
nggak punya duit tapi duit sendiri...hihihi.”
Contohnya
si Boim itu.
“Kalo
jadi, nginepnya biar di rumah nenek saya aja di Suryalaya,”
ujar
Meta. “Sip deh. Nggak jauh dari kota. Bisa ngeceng-ngeceng!”
“Ah,
kalo mau ngeceng sih di Jakarta aja!” bantah Anto.
“Hu,
nggak seru. Bosen, siapa yang mau ikut?”
Akhirnya
hanya ada enam makhluk yang bersedia. Meta, Fifi,
Anto,
Lupus, Boim dan Gusur. Yang lain pada punya acara
masing-masing.
Mereka sepakat berangkat besok pagi naik mobil
Anto
yang butut.
***
Keesokan
paginya, subuh-subuh Lupus sudah bangun. Bergegas
mandi
dan sikat gigi. Subuhnya Lupus kalo libur itu sekitar jam
sembilan.
Otomatis si mami sudah berangkat. Lupus pun buruburu
mengemasi
pakaian. Takut ketinggalan. Saking buru-nya,
dia
nggak sempat sarapan. Tapi berhubung perut lapar, Lupus
membawa
bekal buat di jalan. Kotak tempat kue dan termos si
Lulu,
disamber buat membawa bekal. Sendoknya secara buruburu
diambil
dari rak piring.
Setelah
beres, dia celingukan nyari si Lulu untuk pamit. Uh—ke
mana
sih tu anak? Pasti ikut si Bibik ke pasar! Lupus pun tak mau
ambil
pusing. Langsung cabut ke rumah Anto. Betul juga, sampai
rumah
Auto, anak-anak udah pada ngumpul. Udah pada kesel
nungguin
Lupus.
"Begini,
Pus. Ternyata mobil yang bisa dibawa cuma pick up ini.
Ini
juga boleh minjem dari teman. Kita udah sepakat, saya yang
nyupir
beserta Meta dan Fifi di depan. Sedang yang cowok-cowok,
kamu,
Boim, dan Gusur di bak belakang. Bagaimana? Setuju?"
"Ke
Bandung di bak?" Lupus melotot.
”Kalo
nggak setuju, nggak ikut juga boleh."
Dengan
dongkol, Lupus terpaksa ikutan naik ke bak. Langsung
disambut
mesra oleh Boim dan Gusur yang dari tadi udah standby
di
bak.
***
Selama
perjalanan ke Bandung, untuk ngilangin kesel dan
panasnya
sengatan matahari. Lupus, Boim, dan Gusur ceritacerita.
Anak-anak
itu nampak begitu sengsara di bak. Di setiap
lampu
merah, mereka bertiga diserbu penggemar berupa tukangtukang
rokok,
koran, tahu goreng, dan minuman. Rata-rata dari
para
tukang jualan itu pada asyik nontonin anak tiga yang
jongkok
dengan merananya di bak. Mereka pada heran. Iha, kok
ada
kuda nil naik mobil... hihihi.
Gusur
yang merasa tersindir, jadi keki berat dikecengin sama
para
tukang jualan begitu. Eh, soalnya Gusur dan kuda nil ini
emang
ada ceritanya. Mau denger? Gini. Gusur itu sebetulnya
pernah
ikut program pertukaran pelajar antara Indonesia dan
Afrika.
Waktu itu, memang yang diutamakan adalah pelajar—
pelajar
dari anak bahasa. Karena mungkin saling mengetahui
bahasa
antara negara itu dirasakan perlu. Maka, entah kenapa,
Indonesia
yang diminta terlebih dahulu mengirimkan calonnya,
memilih
Gusur untuk dikirim. Karena tu anak memang selalu
berbahasa
Indonesia yang baik dan benar. Kelewat benar, malah.
Wah
– si Gusur tentu hepi berat. Sejingkrakan nggak keruan.
Engkongnya,
yang juga merasa surprais setengah mati, bikin
selamatan
tujuh hari tujuh malam. Seluruh tetangga kanan kiri
atas
bawah diundang. Nggak lupa, ada juga layar tancapnya. Film
India
kesukaan Gusur.
Dan
pas hari ‘H’-nya tiba, Gusur pun dikirim ke Afrika. Tak lupa
orang
sekampungnya ada tiga bis turut mengantar ke Bandara
Internasional
Soekarno-Hatta. Secara serentak mereka menangis
menggerung-gerung
melepas kepergian Gusur. Walhasil, Bandara
Soekarno-Hatta
jadi banjir karena tangisan orang-orang
sekampung
Gusur.
Beberapa
hari kemudian, pihak pemerintah Afrika pun
mengirimkan
calonnya ke Indonesia. Tetapi begitu terkejutnya
pihak
Indonesia setelah mengetahui bahwa yang dikirim
pemerintah
Afrika adalah seekor badak Afrika. Indonesia pun
langsung
mengirimkan kawat protes ke Afrika. Kenapa badak
yang
dikirim? Dan apa jawaban mereka?
“Lho
– bukankah kalian sendiri yang terlebih dahulu mengirimkan
seekor
kuda nil kemari?”
Pemerintah
Indonesia terperanjat.
Hahaha!
Ternyata si Gusur yang dikirim ke Afrika, dikira kuda nil.
Hahaha!
Tentang
betul tidaknya cerita itu, cuma Lupus yang tau. Soalnya
emang
anak gokil itu yang cerita. Dia sendiri nggak peduli waktu
Gusur
ngamuk-ngamuk protes. Lupus malah melanjutkan
ceritanya,
“Dan, saudara-saudara, ternyata pihak Afrika terkesan
sekali
dengan ‘kuda nil’ asal Indonesia itu. Karena setelah ditaruh
di
taman margasatwa, ternyata perkembang-biakannya pesat
sekali.
Hihihi...”
Gususr
makin ngamuk.
Makanya
dia trauma kalau dikatai kuda nil.
***
Sampai
Puncak, Boim hampir saru sama ban serep, saking
itemnya.
Soalnya tu anak dasarnya memang udah item.
Tambahan
kejemur matahari siang, maka lengkaplah sudah.
Sedang
Gusur beberapa kali cemas, lantaran Meta sering usul,
gimana
kalau untuk ngurang-ngurangin beban, si Gusur kita
tukerin
jagung bakar aja?
Soalnya,
pick-up pinjaman ini memang nggak begitu canggih
kondisinya.
Jalannya suka batuk-batuk. Apalagi pas tanjakan di
Puncak,
Gusur, Boim dan Lupus acap kali harus membantu
mendorong,
meski mereka pada enggan turun ke jalan. Jadi
mendorongnya
sambil tetap berada di atas bak... hihihihi, sama
aja
boong, atuh!
Fifi,
Meta, dan Anto tenang-tenang aja duduk di jok depan.
Sedang
Lupus di bak belakang mulai enggak betak. Dia berteriak
ke
Fifi yang duduk dekat jendela.
“Fi!
Gantian dong duduknya!”
Fifi
Cuma mencibir.
“Atau
saya ikutan di situ ya, berempat. Banyak angin nih!”
“Jangan,
Pus. Nanti ditangkep polisi,” tolak Anto.
“Alaaah,
kalau ada polisi, nanti saya ngumpet deh di kolong.
Atau,
saya nyamar jadi boneka Garfield!” ujar Lupus mengibangiba.
Anto
tetap menolak
Walhasil,
Lupus tetap berada di belakang bersama Boim dan
Gusur.
Iseng-iseng daripada sedih, Lupus pun ngasih tebakan ke
Boim,
“Im, apa bedanya kutu sama Boim?”
“Ya,
jelas dong,” tukas Boim. “Boim ganteng, kutu jelek.”
“Salah!
Kalau Boim bisa mati kutu, sedang kutu nggak sudi mati
Boim.
Hihihi...”
***
Sampai
rumah nenek Meta di Suralaya anak-anak pada
berlompatan-lompatan
turun. Ribut rebutan kamar tidur. Nenek
Meta,
yang biar tua tapi masih manis, menyambut kedatangan
anak-anak
dengan riang. Cium pipi kanan dan kiri, lalu sibuk
nanyain
oleh-oleh.
Belum
beberapa menit, terdengar Gusur ribut-ribut.
“Tidak
bisa, tidak bisa!” teriaknya nyaring.
Meta
yang merasa bertanggung jawab membawa kuda nil itu,
langsung
menenangkan, “Ada apa, sur? Apanya yang nggak bisa?”
“Saya
protes keras! Tidak bisa!!”
Meta
makin bingung. Menoleh ke arah Gusur dan Fifi secara
bergantian.
Ada apa dengan dua anak ini?
“Itu,
Met,” ujar Fifi sewot, “masa Gusur protes kamarnya
dipisahkan
dengan kamar kita. Cowok kan tidur di kamar depan,
sedang
kita tidur di kamar dalam sama nenek. Iya kan, Met?”
“Iya
dong. Masa Gusur mau tidur sama kita?” tegas Meta.
“Lha?
Jadi, apa artinya persatuan yang kita galang selama ini?
Apa
artinya kebersamaan yang kita bina waktu mengecat
sekolah?
Kenapa kita harus dipisah-pisahkan? Ini kan merusak
persatuan!”
ujar Gusur berapi-api.
Anak-anak
cowok pada cekakakan. Tinggal Meta sama Fifi yang
marah-marah.
“Dasar
anak gokil!”
Sedang
Lupus langsung mendorong sepeda batang yang tersandar
di
samping rumah. Dia emang paling hobi jalan-jalan pake
sepeda.
Makanya, tanpa setahu anak-anak dia menyelinap keluar,
dan
mengayuh sepedanya cepat-cepat. Keluar masuk kompleks
perumahan
yang serba mungil-mungil itu. Wah, wah,
pemandangannya
bagus-bagus juga. beberapa kali Lupus ketemu
cewek
manis lagi pulang sekolah. Beberapa ada yang main sepatu
roda
di taman.
Hari
memang menjelang petang.
“Wooiiii...
awas!!!” tiba-tiba teriakan nyaring bikin Lupus kaget
setengah
mati. Belum sempat menoleh, mendadak dua cewek
bermotor
bebek menyerempet sepeda Lupus hingga oleng dan
nyaris
nyemplung ke got. Untung saja Lupus sempat melompat.
Hap!
“Aduuuuh,
sori, ya. Kita nggak sengaja. Kita baru belajar naik
motor....,”
ucap kedua gadis itu buru-buru.
Lupus
hampir ngomel-ngomel, kalau nggak nahan diri geliat dua
cewek
yang ternyata manis-manis. Eh, enggak. Cuma satu yang
manis.
Yang satunya ganteng. Abis mukannya kaya Sobarudin
begitu
sih!
Kedua
cewek itu menolong mengangkatkan sepeda Lupus, dan
terus
berkicau minta maaf.
Buntut-buntutnya,
mereka malah kenalan.
“Oo...,
jadi yang gant.. ini namanya Yanti?” ujar Lupus.
“Gant...,
apa? Ganteng?” tanya si Yanti.
“Bukan.
Ganjen... Hahahaha...”
Yanti
ikutan ketawa. Hahahaha...
“Terus
yang satu lagi Ida?”
Ia
manggut. Nah – yang ini rada panteslah jadi cewek. Nggak ada
bulu
kakinya. Tapi yang lebih penting, kedua gadis ini ternyata
termasuk
manusia gokil juga. makanya Lupus langsung akrab.
Buntut-buntutnya
Lupus malah ikutan belajar motor. Tu anak
memang
minus banget soal naik motor. Tapi kali ini nekat
membonceng
dua makhluk manis berkeliling kompleks. Sampe
nekat
ke jalan raya segala. Walhasil, mereka sempat tujuh kali
ngrusruk
ke semak-semak.
Pulang-pulang,
Lupus udah dekil. Yanti dan Ida ikutan nganterin.
Boim
yang paling getol geliat cewek manis, langsung aja ribut.
“Di
mana kamu nemu mereka, Pus?” bisik Boim.
“Oh,
yang manis ini namanya Ida,” ujar Lupus memperkenalkan.
“ketemunya
sih wajar-wajar aja, waktu lagi ngeceng di jalan. Dan
yang
satunya ini..., yang rada-rada ganjen ini, namanya Yanti...”
Yanti
langsung cengar-cengir, dan menyahut, “Slamat sore...”
“Yanti
ini,” ujar Lupus sambil memegang bahu Yanti,” nemunya
nggak
sengaja. Waktu saya beli kuaci di warung, terus nggak ada
kembaliannya,
maka sama si penjual dikasih Yanti yang manis
ini...
hihihi.”
Yanti
langsung mencak-mencak.
Besoknya,
mereka pun janjian mau belajar motor lagi.
“Tapi
Yanti jangan diajak, ya?” ujar Lupus ke Ida. Ida cekakakan,
sedang
Yanti misuh-misuh.
***
Besoknya,
Boim ikutan belajar motor sama Lupus, Ida, dan Yanti.
Sedang
anak-anak yang lain sibuk punya acara sendiri, berburu
jins
di Tanin. Padahal, kata Boim, kalau mau berburu jins, nggak
usah
susah-susah ke Bandung. Di loteng rumah Boim juga banyak
jins.
Tapi yang ini rada-rada serem. Sejenis kuntilanak.... gitu!
Yanti
dan Ida masing-masing membawa motor bebek. Boim jelas
memilih
boncengan sama Ida. Curang ida. Sedang Lupus cukup
pasrah
menggonceng Yanti. Wo – tu anak emang agresip banget.
Belum
juga motornya lepas landas, Lupus sudah didekap erat-erat
sampe
sesak napas.
Sedang
Ida, yang malu-malu memeluk Boim, jadi ketinggalan.
Belum
sempat duduk di jok, si Boim udah tancap gas. Walhasil
Ida
sukses mendarat di aspal
***
Tanpa
terasa duit mereka hampir habis. Itu berarti mereka harus
buru-buru
balik lagi ke Jakarta. Dan kamu tau, ternyata kepergian
Lupus
ke Bandung selama beberapa hari tanpa bilang-bilang itu,
bikin
keluarga Lupus panik. Si Mami ternyata sampai beberapa
hari
nggak tidur. Soalnya nggak ngantuk, hihihi... Eh, tapi bener
lho,
mami sampai sempat bikin iklan segala di koran. Lulu yang
selama
libur ini dapat tugas jaga rumah, jadi tumpahan kekesalan
Mami,
“Masa kamu sampai nggak tau ke mana Lupus pergi?”
“Biasanya
sih tiap pagi dia mengecat sekolahan. Tapi Lulu cari ke
sekolahan,
ternyata nggak ada. Malah sekolahnya sudah rapi
banget.
Trus Lulu mau cari ke temen-temennya, nggak tau
rumahnya.
Paling juga rumah Boim sama Gusur yang Lulu pernah
datengin.
Tapi itu juga lupa, abis sepuluh kali keluar masuk
gang!”
“Apa
dia belakangan ini suka gelisah?”
“Iya,
Bu. Gelisah. Geli-geli basah. Dia suka nanyain Ibu terus...”
Si
Mami jadi tercenung. Ah, apa dia terlalu sibuk belakangan ini
sehingga
melupakan anak-anak?
Lupus
sendiri, dalam perjalanan pulang ke Jakarta, sempat mikir.
Sempat
ngerasa nggak enak sama Mami. Sama Lulu. Gimana kalau
mereka
bingung nyariin? Ya, harusnya kan paling tidak dia bilang
dulu
kalau mau pergi. Apalagi ini, sampai beberapa hari nggak
pulang-pulang.
Tadinya, ini untuk sikap protes Lupus sama Mami
yang
kelewat sibuk. Tapi lama-lama Lupus mikir, apa caranya
betul?
Mami, jelas sibuk banting tulang untuk nyari uang. Kenapa
harus
diprotes dengan cara begini?
Kada,
Lupus merasa, kitanya sendiri yang terlalu berpikiran
sempit
dalam hal ini. Harusnya kita punya sikap. Tentang anakanak
yang
nggak betah di rumah, apalagi yang lantas terlibat halhal
terlarang,
tidak melulu orang tua yang harus disalahkan. Ya,
kenapa
harus mereka yang disalahkan? Kita kan udah gede.
Bukankah
yang paling punya tanggung jawab besar atas diri kita
adalah
kita sendiri? Bukankah yang bisa mengubah sikap kita
adalah
kita sendiri?
Lupus
jadi makin merasa bersalah. Untung aja dia tak terlalu jauh
melangkah.
Dan
satu yang ingin dia lakukan begitu sampai rumah, adalah
memeluk
Mami dan Lulu...
***
“Ibu,
itu Lupus datang!!!” teriak Lulu ketika melihat Lupus turun
dari
becak, berjalan memasuki halaman rumah.
“Lupus!!”
si Mami langsung meloncat dari kursinya.
“ibuu!!”
Lupus pun berlari meninggalkan ranselnya.
Mereka
berpelukan. Mirip film india.
“Aduh,
Lupus, Ibu sampai cemas. Ke mana aja sih kamu? Tapi,
syukurlah,
akhirnya kamu pulang juga. kamu baca iklan di koran,
ya?
Tentang berita kehilangan?”
Iklan?
Jadi Mami sampai pasang iklan di koran? Ah..
Maminya
bergegas mengambil koran yang ia simpan di balik
bantal,
lalu menunjukkannya ke Lupus, “Bacalah. Aduh, Ibu sih
nggak
keberatan kamu mau pergi ke mana aja kek, nginep berapa
hari
kek, yang penting kamu jangan bawa-bawa sendok Ibu
dooong!
Ibu jadi kebingungan nyariinnya. Nah, sekarang, mana
sendok
Ibu yang kamu bawa? Itu lho, yang ada ukiran di
ujungnya.
Juga Lulu nanyain termossama kotak kuenya...”
Lupus
bengong. Hah? Jadi...
Lupus
pun buru-buru membaca iklan kecil yang ada di koran :
‘Berita
kehilangan. Telah hilang sebuah sendok mungil yang ada
ukiran
di ujungnya. Sendok itu kemungkinan dibawa oleh seorang
anak
umur 16 tahun, bernama Lupus. Barang siapa yang
menemukan
sendok itu, harap dikirim ke alamat di bawah ini.
Sedang
anaknya, terserah mau diapain.’
Lupus
makin bengong.
Lalu
dia pun dengan menjerit-jerit berlarian keluar rumah.
Si
mami kaget. Buru-buru mengejar, “Lupus! Lupus! Kembalilah
kau...”
Tapi
Lupus terus berlari. Terpaksa Lulu ikutan membantu
mengejar.
Lalu tak ketinggalan tukang becak yang belum dibayar
Lupus,
ikut-ikutan mengejar.
Akhirnya
orang sekampung pun turut membantu mengejar...
hihihi.
Ada-ada saja...
8.
Janji-janji
Lupus
kesal. Kesal sama pembantunya Boim yang centil itu. Garagaranya
waktu
Lupus mengetuk-ngetuk pintu rumah Boim, tu
pembantu
langsung nongol dengan senyumnya yang genit sambil
merem
melek, “Eeee... oa-eo. Ada tamu. Nyari si Boim, ya? Wah –
lagi
nggak ada tuh. Ada pesen? Ada pesen? Gado-gado? Es teler?
Ketoprak?
Pake cabe nggak?” sambut pembantu Boim centil.
Dalam
hal centil-menyentil, doi emang nggak kalam sama
tuannya.
Boim. Keturunan ‘kali.
Lupus
jelas sebel. Baru datang langsung dituduh mau nyari Boim.
Padahal
kan belum tentu. Siapa tau kali ini dia mau ketemu
abahnya
Boim, atau nyari enyaknya Boim. Tanya-tanya dulu kek,
jangan
asal nuduh aja! Umpat Lupus panjang- pendek.
“Emang
sebenernya tadi kamu mau ketemu siapa, Pus?” tanya
Lulu
yang kebetulan sore itu ikut di boncengan sepeda balap
Lupus.
Mereka baru beberapa meter berlalu dari rumah Boim.
“Yaaa,
emang sih kebetulan kali ini saya lagi nyariin Boim,” ujar
Lupus
cepat. “tapi itu kan kebetulan saja tuduhannya tepat. Coba
kalau
enggak? Makanya jangan asal nuduh aja...”
Tapi
sebetulnya kekesalan Lupus bukan Cuma disebabkan oleh
pembantunya
Boim aja. Tapi juga karena sekolah Lupus lagi
mengalami
masa libur yang lumayan panjang. Nggak tau libur
apaan.
Yang jelas cukup membuat Lupus kangen sama Ibu kantin
sekolah.
Sebetulnya sama teman-teman dekatnya, Lupus juga
kangen.
Tapi Lupus malu mengakui. Takut ternyata orang-orang
yang
dia kangeni malah enggak kangen. Tapi apa daya, mereka
sendiri
waktu mau libur bikin perjanjian, “Pokoknya selama
liburan
ini kita nggak usah ketemu-ketemu dulu deh! Bosen.
Belajar
pisah kecil-kecilan dulu. Soalnya toh kita nggak bakal
terus
sama-sama sampai tua. Lagi pula biar pas masuk sekolah
ada
geregetnya.”
Itu
janji yang Boim ucapkan. Yang disetujui teman-temannya.
Termasuk
Lupus. Tapi janji itu bagi Lupus sekarang terasa
menyiksa.
Soalnya di liburan ini dia bener-bener nggak ada
kerjaan.
Bener-bener pengena main ke rumah Boim atau Gusur
atau
Gito atau Anto. Selama ini setiap sore kerjaan Lupus Cuma
ngeboncengin
Lulu keliling-keliling perumahan. Atau paling
banter
nganterin Lulu ke rumah Suli, temannya yang manis itu.
Lama-lama
jelas Lupus merasa bosen. Soalnya selama perjalanan
paling-paling
Lulu cuma bisa ngasih tebak-tebakan aja. Itu juga
tebak-tebakan
yang norak. Seperti,
“Ayo,
Pus... saya punya tebakan. Dari jauh kecil, pas dideketin
ternyata
besar. Apaan coba?”
“Ah,
kuno. Salah liat.”
“Bukan.
Kurangi seratus!”
“Abis
apaan?”
“Ya
emang semestinya begitu. Benda apa pun kalau kita lihat dari
jauh
akan kelihatan kecil. Sedangkan kalau dideketin, jadi
keliatan
gede.”
“Sialan.”
Dan
Lulu ngasih tebak-tebakan begitu emang cuma mau
menghibur
Lupus. Supaya Lupus betah saban sore ngajakin dia
jalan-jalan
atau nganterin ke rumah teman-teman Lulu. Lumayan
kan
dapat supir gratis. Tapi seperti tadi udah dibilang, lama-lama
Lupus
bosen juga. kangen sama teman-temannya nggak bisa
dibendung
lagi. Makanya sore itu dia mengayuh sepeda balapnya
ke
rumah Boim. Terus terang, Lupus kangen sama itemnya. Dan
ternyata
Boim nggak ada. Maka yang jadi sasaran kekesalan jadi
pembantunya
yang centil itu.
“Kita
ke mana lagi, Pus?” tanya Lulu.
Lupus
yang lagi mengayuh sepedanya tak langsung menjawab.
“Atau
kita ke rumah Baba aja, yuk?” ajak Lulu.
“Apaan
tuh Baba? Sejenis unggas, ya?”
“Hus.
Baba tuh temen saya. Dia punya adik yang manis-manis.
Kita
ke sana, yuk?” ajak Lulu.
Lupus
langsung mau. Soalnya denger ada yang manis-manis. Dan
setelah
memutari beberapa kompleks perumahan, Lupus dan Lulu
tiba
di rumah Baba.
“Kamu
aja yang getok-ngetok, Pus siapa tau yang keluar adiknya
yang
manis,” bujuk Lulu sambil mendorong Lupus turun dari
sepedanya.
“Siapa
nama adiknya?”
“Winur.”
Dengan
ogah-ogahan, Lupus pun turun dari sepedanya. Langsung
sibuk
mengetuk-ngetuk pintu rumah Baba. Sementara Lulu
menunggu
di sepeda balapnya.
Tak
ada yang muncul. Lupus pun sibuk mencari bel. Tapi nggak
ketemu
juga. buset, rumah gede begini nggak ada belnya. Yang
ada
malah klenengan tukang gule yang tergantung di dekat pagar.
Lupus
pun mulai membunyikannya.
Dan
muncullah yang ditunggu-tunggu. Seorang gadis ma... eh,
enggak
ding. Enggak manis. Jangan-jangan ini pembantunya.
“Cari
siapa, Den?”
Nah,
bener juga. tapi sama pembantu yang satu ini Lupus
langsung
simpati. Soalnya nggak asal main tuduh aja.
“Ng..
anu, Mbak. Winur sama Baba ada?”
“Ada.”
“Yaaa,
kok ada. Salah alamat ‘kali. Maaf deh, Mbak,” Lupus pun
langsung
ngeloyor pergi. Si mbak itu Cuma bisa bengong aja.
“Lho...
Den. Jadi nggak namu di sini? Nanti saya panggilkan Baba.
Servisnya
memuaskan lho, Den. Ada minuman, makanan kecil,
atau...
mau pake pijit-pijit dikit juga bisa.”
Duile,
ternyata nggak kalah centilnya sama pembantunya Boim.
Lupus
pun terpaksa mau. Lulu yang melihat dari luar, ikutan
masuk.
Sebetulnya emang dia yang ada keperluan. Jadi Lupus
terpaksa
duduk-duduk saja menemani. Sekadar ngilangin rasa
kangen
sama temen-temennya.
Baba
pun muncul. Langsung berteriak senang menyambut Lulu.
Setelah
diperkenalkan kepada Lupus, dan berbasa basi sebentar,
Lulu
dan Baba langsung terlibat pembicaraan hangat. Biasa,
ngegosip.
Lupus hanya diam-diam saja sambil memandangi
akuarium
yang menghias ruang tamu. Lama-kelamaan Lupus jadi
ngantuk.
Kepalanya mulai berayun-ayun ke sana kemari. Dan
tertidurlah
ia.
Dalam
tidur, Lupus bermimpi. Mimpi dijemput teman-temannya
untuk
jalan-jalan ke Bogor. Kalau lagi libur, atau hari minggu.
Lupus
beserta sobat-sobatnya sering main ke Bogor. Ke rumah
temen
Lupus yang tinggal di Bogor. Temen Lupus itu cewek.
Kenalannya
waktu lagi main-main di Kebun Raya. Kebetulan
sekali
Lupus beserta teman-temannya diajak mampir. Dikenalkan
sama
keluarganya yang ternyata ramah-ramah. Udah, dasar anakanak
nggak
tau basa-basi, langsung aja pada nginep. Kebetulan
sekali
tu rumah tempat ngumpulnya cewek-cewek kece se-Bogor.
Makanya
mereka semua pada rajin datang berkunjung. Apalagi si
Boim.
Saban ke sana, kalau nggak memperagakan keahlian
sulapnya,
dia ngelawak. Biar tu cewek-cewek pada terpesona. Biar
pada
ketawa. Atau Gusur, sering dengan senang hati membacakan
puisinya
di depan keluarga Bogor itu. Kalau Lupus atau Anto
paling-paling
begitu datang, langsung sibuk mengintip-ngintip ke
kolond
dipan, siapa tau tersembunyi duren-duren yang belum
terkupas.
Bukan apa-apa. Anto paling senang makan kulit duren.
Sedang
Lupus ngalah, makan buahnya.
Dan
kedatangan Lupus dan teman-temannya itu, tentu saja
membuat
defisit anggaran belanja orang tua cewek itu. Lantaran
nafsu
makan anak-anak ini memang pada gila-gilaan semua.
Saat
itu, dalam mimpinya, Lupus diajak ke sana lagi. Tentu saja
Lupus
mau. Maka dengan menumpang mobil butut si Boim,
mereka
pergi ke Bogor. Lupus, Boim dan Anto duduk di depan.
Sedang
Gusur, karena nggak muat, cukup puas duduk sendirian
di
bak belakang. Tadinya Gusur protes. Tapi karena diancam
nggak
bakal diajak, Gusur terpaksa nurut. Dan pada akhirnya,
Gusur
menemukan kenikmatan tersendiri duduk di bak belakang.
Sejuk,
katanya, banyak angin bertiup. Tapi meski sudah
dipromosikan
begitu, tetap saja tak ada yang mau tukeran
tempat
sama Gusur.
Dan
kalau bawa Gusur di bak belakang, mereka nggak berani
lewat
jalan tol. Soalnya suka ditegur petugas penjaga, “Hei, kalian
nggak
tau peraturan, ya? Kalau bawa kambing bandot, harap
diikat!”
Makanya,
mereka lebih suka lewat jalan biasa aja.
Selama
perjalanan, seperti biasa, mereka tak henti-hentinya
bercanda.
Ketawa-ketawa sambil sesekali main ledek-ledekan.
Lupus
benar-benar merasa riang. Benar-benar merasa liburan ini
tak
sia-sia.
***
Lupus
terbangun ketika merasa kepalanya terantuk benda keras.
Buru-buru
ia mengucek matanya dan duduk tegak kembali. Buset,
ternyata
si Lulu masih belum berhenti ngegosip juga. sementara
di
sebelah Baba, telah duduk satu makhluk manis lagi. Wah,
mungkin
ini yang dipromosikan si Lulu. Soalnya mukannya manis
juga.
Gadis
itu memandang Lupus sambil tersenyum-senyum kecil.
“udahan
pingsannya?” tannyannya pada Lupus.
Lupus
cuma nyengir.
“Abis
narik becak ya? Kok ngantuk terus?”
Lupus
keki. Buru-buru dia mengajak Lulu pulang. Tapi Lulu ogah.
“Kamu
duluan aja deh. Masih ada beberapa bab pergosipan yang
belum
dibahas.”
Dan
Lulu bener-bener langsung meneruskan kesibukannya
bergosip-ria.
Terpaksalah Lupus pulang duluan.
***
Keesokan
paginya, pagi-pagi sekali, sekitar jam tujuh, Lupus udah
mandi.
Dan bersiap-siap mau ke Bogor. Dia nggak bisa
membendung
rasa rindu lagi. Dan untuk melupakan itu, Lupus
merasa
perlu pergi ke Bogor. Siapa tau di sana, dengan ketemu
cewek-cewek
kece, bisa mengobati rasa rindu.
Sebetulnya,
menurut perjanjian, salah seorang dari mereka nggak
ada
yang boleh pergi ke Bogor sendirian tanpa mengajak temanteman
yang
lain. Kalau sampai ketauan ada yang datang ke Bogor
sendirian,
maka ia harus mentraktir teman-temannya. Tapi, ah...
biarin
aja. Mereka nggak bakal tau ini.
“Mau
ke mana Pus?” tanya ibunya ketika melihat Lupus membawa
tasnya.
“ke
Bogor, bu. Mungkin nginep sehari.”
“lho
kok pake nginep sehari segala?”
“kan
liburan, bu. Nggak apa-apa deh.”
“Iya,
maksud Ibu, kok Cuma sehari. Nggak seminggu aja sekalian.
Lumayan
kan ngirit-ngirit uang belanja... hihihi,” celetuk Lulu
yang
lagi asyik makan roti.
Lulu
langsung kena jitak.
Di
perjalanan, Lupus memilih duduk dekat jendela. Biar enak
menghirup
udara di luar. Soalnya, tau sendiri, bis-bis antarkota
selalu
sarat dengan penumpang. Penumpang nggak Cuma
manusia
aja. Sejenis bebek-bebekan kerap ikut di tengah desakan
penumpang.
Dan dasar bebek, dengan cueknya sepanjang
perjalanan
mereka ngegosip. Mengganggu ketenteraman orangorang
yang
mau tidur.
Yah,
terus terang aja. Sebenernya Lupus mau tegas dan berjiwa
besar
menghadapi semuannya. Dia mau seperti teman-temannya
yang
lain, yang bisa nggak bergantung sama orang lain. Yang bisa
pisah
sama orang-orang yang pernah deket dengan dia. Tapi
kenyataannya?
Lupus nggak bisa.
Lupus
nggak bisa maksain diri untuk tidak norak pada saat
seperti
sekarang ini. Lupus merasa sepi. Merasa sendiri. Ada
yang
bilang, kita memang sah untuk berbuat norak selama kita
nggak
mampu mengatasi kenorakan yang kita buat. Selama kita
nggak
menyadarinya. Mungkin ada benernya. Kadang kenorakan
memang
diperlukan seperti kita memerlukan rasa cengeng,
romantis,
sentimentil...
Tanpa
itu, mungkin, sekali lagi mungkin, manusia akan jadi
kurang
sempurna. Sepertinya, tanpa hati. Dan ada lho orangorang
yang
hidup tanpa hati di dunia ini. Banyak malah. Nanti
kamu
akan mengerti dan geliat sendiri orang-orang yang hidup
tanpa
hati...
***
Perasaan
Lupus deg-degan juga, ketika becak yang membawanya
hampir
sampai di tujuan. Ada rasa berdosa mengkhianati janji,
ada
rasa nggak enak kalau ditanya,”Kok dateng sendirian? Yang
lainnya
mana?”
Tapi
akhirnya dengan sedikit tersipu-sipu malu, Lupus muncul
juga
di depan rumah cewek Bogor itu. Kebetulan sekali salah
seorang
teman tu cewek lagi duduk-duduk di depan, sehingga
Lupus
nggak usah terlalu lama bermalu-malu.
“Sisi
ada?” tanya Lupus pada cewek itu.
“Oh,
ada. Masuk aja. Mereka lagi pada ngobrol-ngobrol tuh di
dalam.”
Lupus
pun langsung masuk ke dalam. Melewati ruang tamu yang
lumayan
panjang. Lupus jadi inget Boim lagi. Kata Boim, saking
panjangnya
nih rumah, kalau kamu masuk dari pintu depan pada
pagi
hari, maka pas magrib kamu baru nyampe ke pintu belakang.
Hihihi,
lucu juga tu anak.
“Lho,
Lupus. Sama siapa?” sapaan riang mengagetkan Lupus.
Soalnya
sapaan itu bukan datang dari sisi, tapi Boim, si playboy.
Lho,
kok dia ada di sini?” dan... lho, kok itu ada si Anto, Gusur,
Aji...
“Huahahahaha...
lengkaplah sudah formasi kita. Selamat datang,
rekan
Lupus. Ternyata dalam hal melanggar janji pun, kita masih
tetap
kompak!” pekik Gusur gembira sambil memeluk Lupus. Lho,
apa-apaan
nih.
“Kalian
curang! Kok nggak ngajak-ngajak saya?” ujar Lupus begitu
sadar.
“Lho,
kita pergi sendiri-sendiri kok. Pertama yang datang Boim,
lalu
berturut-turut Anto, Gusur, Aji... dan sekarang kamu.
Hihihi...,”
jelas Anto sambil cekikikan.
“O
ya?”
Tawa
mereka pun meledak. Kalau sudah begini, siapa yang harus
mentraktir?
Tak
ada. Tak ada yang harus mentraktir. Yang ada hanya
kesadaran
bahwa janji-janji pun tak mampu menghalangi
keinginan
mereka untuk selalu tetap bertemu. Selalu tetap
tertawa
bersama. Dalam rindu, Lupus tak sendiri...
9.
Boim, Sang Pangeran
SMA
MERAH PUTIH mau ngadain acara yang tujuannya bagus.
Acara
malam dana kesenian. Seperti tahun-tahun lalu, kelebihan
duit
yang didapat dari penjualan karcis yang dijual secara paksa,
biasanya
bakal disumbangkan ke panti-panti asuhan. Termasuk
panti
jompo dan panti orang jelek segala. Panti orang jelek
memang
cuma ada di sekolah Lupus. Anggotanya baru dua orang.
Boim
dan Gusur. Dan alhamdulillah, belon pernah dapat
sumbangan.
Lantaran para donatur berprinsip, lebih baik
menyumbang
kambing daripada mereka berdua. Kalo kambing
dagingnya
kan bisa dibikin sate. Sedangkan mereka cuma ngabisngabisin
dana,
sementara manfaatnya belon ketahuan. Palingpaling
untuk
mengusir roh-rol halus yang merasa kalah kharisma
sama
mereka.
Karena
acara malam dana kesenian positif diadakan, mingguminggu
belakangan
ini sekolah pun jadi sibuk. Amo yang punyahobi
sok
sibuk, mulai mondar-mandir dari satu kelas ke kelas
lain.
Pura-pura
ngasih pengumuman. Padahal tujuannya jelas, mejeng!
Tapi
nggak cuma Anto yang sok sibuk, semua juga mendadak
sibuk
selain kegiatan belajar yang nggak b oleh berhenti, mereka
masing-masing
punya niat nyumbang acara. Termasuk kelasnya
Lupus
yang ngadain rapat siang itu.
Boim
nampak paling antusias.
"Kita
bikin tarian-tarian aja, yang mana saya ikut di dalamnya.
Personilnya
udah saya pilih. Nyit-nyit, Meta, Ita, Utari, Svida,
Poppi,
Vera, dan tentunya saya sendiri. Ceritanya tentang Jaka
Tarub.
Saya otomatis jadi Jaka Tarub-nya, dan sisanya jadi
bidadari.
Bagaimana, usul yang manis, kan?"
Anak-anak
kontan nggak setuju. Apalagi Nyit-nyit.
"Segala
tampang nggak kece aja mau jadi Jaka T rub. Kamu
ngelamar
main film King Kong Lives aja belon tentu keterima,
Im,"
Fifi Alone yang tak tersebut namanya mengumpat.
"Atau
kamu tari perut sendirian aja, Fi?" ledek Boim.
Fifi
mendelik sewot.
“
Kalo gitu kita bikin dance aja," ujar Boim lagi. “Personilnya
tetap
yang tadi."
Dan
untuk kesekian kalinya ide itu pun ditolak sama anak-anak.
Boim
jadi frustasi.
"Bagaimana
kalo Boim kita suruh melawak aja?" tukas Lupus tibatiba.
"Dia
kan paling pinter ngelawak. Diem aja yang nonton juga
udah
pada ketawa. Disangka makhluk apaan kali yang berdiri di
atas
panggung. Mau dibilang landak, rada-rada mirip. Tapi yang
ini
lebih jelekan.”
Boim
jelas ngamuk-ngamuk mendengar usul Lupus.
"Nggak
bisa, emangnya saya pelawak? Wajah saya cukup
kharismatik,
nggak cocok jadi pelawak. Saya nggak bisa
ngelucu...,"
protes Boim.
"Lah
itu kan sudah lucu. Ada pelawak yang nggak bisa ngelucu
kan
sudah lucu banget," ungkap Lupus.
Boim
tetap menolak.
Suasana
hening sejenak.
"Bagaimana
kalo saya nyulap aja? Dikit-dikit saya bisa...," ujar
Boiin
di tengah nada putus asa.
"Wah,
jangan. Mendingan kamu ngegado-gado aja," bantah Lupus.
"Apa
itu ngegado-gado?" tanya Boim bego.
"Bikin
gado-gado. Ya, kamu bikin gado-gado di atas panggung.
Kan
orisinal tuh!"
Boim
jadi keki berat.
"Saya
bukan tukang gado-gado, tau!!!" jerit Boim.
"Kalo
gitu mecel aja deh, Im. Bikin pecel. Lebih enakan," usul Aji.
"Jangan,
bagusnya noge goreng aja. Dia lebih pantas. Engkongnya
kan
pensiunan tukang toge goreng," Anto mulai kasih reaksi.
Dan
rapat hari itu pun berakhir tanpa keputusan, alias mereka
belum
pada tau paket kesenian apa yang pantas disumbangkan
untuk
malam dana nanti.
"Besok,
usai jam pelajaran kita lanjutin lagi. Kita sudah harus
ngambil
keputusan. Waktu udah mepet banget. Belon latihannya,"
teriak
Anto.
Anak-anak
bubaran.
***
Di
rumah Lupus mulai sibuk mengotak-atik rencananya. Sampe
lupa
makan siang segala. Lulu yang berkali-kali ngetok kamarnya
dicuekin.
"Pus,
makan, Pus. Kamu nanti sakit. Itu udah saya sisain ceker
ayam
satu. Sori, seadanya aja. Soalnya paha ayam dua-duanya
udah
dimakan saya!" teriak Lulu.
Tak
ada sahutan dari kamar. Yang terdengar malah irama musik
yang
dikerasin.
Merasa
dicuekin, Lulu lalu berusaha mengintip Lupus dari lubang
angin.
Dengan sekuat tenaga dia menyeret bangku untuk bisa
ngeliat
Lupus. Tumben tu anak tekun banget, pikir Lulu. Dari
lubang
angin memang dilihatnya Lupus lagi sibuk ngotak-ngatik
rencananya
di selembar kertas.
"Yang
ngintip apa punya ide buat acara malam dana kesenian di
sekolah
saya?!" jerit Lupus mendadak.
Lulu
kaget banget disindir begitu. Kirain nggak tau. Pelan-pelan
Lulu
turun dari bangku, dan berlalu dengan wajah dongkol.
***
Pada
rapat keesokan harinya anak-anak kelas Lupus sudah bisa
ngambil
keputusan. Mereka sepakat untuk mementaskan drama
tiga
babak buat acara malam dana kesenian. Lupus yang dianggap
pinteran
ngarang, dapat tugas bikin naskah. Sedang Fifi Alone,
artis
kita itu, mau solo karir. Yaitu, nyanyi! Artis yang belakangan
ini
sering ngaku kembarannya Vina Panduwinata ini akan
membawakan
satu lagu Vina berjudul Surat Cinta.
Dengan
gaya yang kelewat centil, suara yang mirip terompet taun
baru,
dan teks lagu yang berantakan, Fifi sejak pagi tadi mulai
latihan
sendiri.
"Hari
ini kugembira
Pak
Pos m'layang di udara." .
(Nah
Iho, sampai di sini, Fifi bingung nerusinnya.)
Sedang
Lupus sepulang sekolah langsung sibuk ngetik naskah di
rumahnya.
Nyari-nyari cerita yang lucu. Kadang-kadang sampai
larut
malam. Maminya khawatir juga ngeliat kelakuan Lupus.
Takut
sakit. Bukannya sayang sama Lupus, tapi biaya ke dokter
kan
mahal.
Sekali
waktu, Boim sempet juga muncul ke kamar Lupus. Sempet
kaget
juga baca tulisan gede di depan kamar Lupus: "Jangan
Ganggu-Lagi
Semedi."
"Lebih
baik jangan masuk, 1m," tegur Lulu halus ketika Boim
hendak
membuka pintu. "Suka ada benda-benda terbang tak
dikenal
kalo Lupus lagi nyari inspirasi...."
"O
ya?” komentar Boim tak percaya, seraya tangannya tetap
membuka
pintu dan... bruk!
Sebuah
bantal besar membuatnya jatuh telentang. Lulu berlalu
sambil
cekikikan.
Lupus
berdiri di ambang pintu.
"Sori,
Im, kirain si Lulu. Dari tadi anak bandel itu ngegodai saya
terus.
Makanya saya ancam, kalau beram masuk kamar lagi, saya
lempar
bantal. Dan temyata kamu yang muncul. Nah, sekarang
ada
apa kemari-mari?" ujar Lupus tenang.
Boim
bangkit sambil mengelus kepalanya yang kejeduk lantai.
"Pus,
saya mau minta tolong sama kamu. Ini penting, Pus. Demi
masa
depan saya."
Lupus
diam.
"Saya
harap, saya .bisa main di drama yang kamu bikin, Pus. Jadi
apa
saja, asal jangan jadi kurungan ayam. Yang penting, saya bisa
nunjukin
kemampuan saya di depan Nyit-nyit. Gini-gini saya juga
punya
kemampuan yang bisa diandalkan," Boim menyalak lagi.
“'Rencananya
kamu memang dipake. Tapi sebaiknya sekarang
kamu
pulang aja deh. Nggak usah gangguin saya," Jawab Lupus
singkat.
Boim pun buru-buru minta diri. Hatinya girang banget.
Pas
pulang lewat ruang depan rumah Lupus. Di situ Lulu lagi
asyik
ngobrol sama ibunya, "Bu... dulu saya sama sekali nggak
percaya
sama teori Darwin. Tapi belakangan ini, setelah m
engamati
baik-baik wajah temennya si Lupus yang sering ke sini,
saya
jadi goyah juga. Jangan-jangan betul.. .. "
"Hus!
Temen Lupus yang mana?"
"Itu,
yang barusan masuk tadi.... Hihihi...."
Boim
tercekat. Niatnya mau lewat depan urung. Sambil
mengumpat-umpat
dia memutar lewat pintu samping.
***
Ketika
acara yang ditunggu tiba, anak-anak pun menghadapinya
dengan
perasaan girang. Aula dihias dengan kertas warna-warni.
Pentas
juga kelihatan sudah siap pakai. Karcis hampir terjual
habis.
Ini berarti pemasukan lumayan banyak.
Setelah
beberapa guru dan Kep-Sek memberikan sambutan, acara
pun
dimulai. Acara pertama dari kelasnya si Gusur, seniman
sableng.
Yaitu ceramah sastra oleh Gusur, berjudul "Peranan Puisi
dalam
Emansipasi Wanita".
"Sidang
pendengar yang daku hormati.
Dalam
kesempatan ini, perkenankanlah daku melontarkan
makalah
berjudul 'Peranan Puisi dalam Emansipasi Wanita'.
Mengingat
pentingnya makalah ini, maka perkenankanlah daku
meminta
Anda semua mendengarkannya. Sebab bila Anda tak
mau
mendengarkan barang sedikit, entah apa jadinya masa depan
kalian,
terutama wanita. Daku tiada bisa menjamin. Adapun
hasrat
daku menyajikan makalah ini karena melihat akhir-akhir
ini
Fifi Alone makin kece saja. Gaya penampilannya itu, ah!
Apalagi
senyumnya, aduh! matanya yang jernih, pipinya yang
cerah.
O, Fifi Alone, kaulah wanita penuh emansipasi. .."
Menden
ar Gusur gilanya kumat, kontan panitia menculiknya
dengan
paksa agar tidak lagi muncul di podium. Anak-anak pada
bersorak
ribut. Tu anak memang gokil banget, dalam acara resmi
begini
masih sempet menyuarakan isi hatinya.
Acara
pun diteruskan dengan dance, band, dan vokal grup. Anakanak
II
A3 yang lumayan gokil, menyumbangkan band dengan
irama
gambus. Irama favontnya si Gusur.
Sementara
suasana makin hangat. Sampai akhirnya tiba giliran
kelas
Lupus menampilkan drama tiga babaknya.
Namun
sampai beberapa menit kemudian, grup Lupus belum juga
muncul
di panggung. Lupus, Anto, dan anak-anak lain lagi uringuringan
mencari
Boim yang tak kunjung datang. Padahal Boim itu
pemeran
utamanya. Ceritanya kan tentang pangeran yang kena
kutuk,
yang punya permaisuri cantik bernama Nyit-nyit. Mereka
sudah
latihan keras seminggu yang lalu Tapi kini, giliran muncul,
Boim
malah belum datang.
“Beginiah
kalo ngasih kepercayaan sama orang yang nggak bisa
dipercaya
sama sekali!!!" maki Ita jengkel. Ita yang jadi dayangdayang
dan
berdandan dari tadi sore jelas jengkel. Apalagi Meta
yang
biasanya paling ogah didandani.
"Iya.
Lupus sih nggak nyeleksi pemain!" ujar Nyit-nyit.
"Lho,
Boim kan cocok untuk peranan pangeran kena kutuk.
nggak
perlu make-up yang berlebihan, orang sudah percaya
bahwa
begitulah wajah pangeran yang kena kutuk," bela Lupus.
"Tapi
sekarang buktinya? Dia tak datang!!" ungkap Auto.
Lupus
cuma bisa bermain-main dengan permen karetnya.
Panitia
muncul. "Gimana nih kelas II A2. Jadi nggak pentasnya?
Penonton
sudah gelisah tuh!"
Ita
dengan kesal menghentakkan kakinya. Pertunjukan drama
digagalkan.
***
Sebelum
acara habis tuntas, rombongan Lupus meninggalkan aula
pertunjukan.
Benar-benar nggak ada harapan. Mereka pun lebih
baik
pulang sebelum diledekin teman-teman yang lain. Wajah
mereka
rata-rata kusut. Sesuatu yang telah dipersiapkan untuk
kebanggaan
kelas, jadi berantakan gara-gara Boim.
Ketika
mereka melangkah menyeberang jalan, suara cempreng
memanggil-manggil
mereka dari kejauhan.
"Oiii...
rekan-rekan... pada mau ke mana???
Mereka
serentak menoleh dan melihat Boim dengan dandanan
manis
turun dari becak berlari ke arah mereka.
"Kok
pada mau pulang? Kan kita belum pentas? Sori, saya datang
rada
telat dikit. Saya tadi ke salon dulu, dan ternyata
pelayanannya
lama banget. Sori ya, sebagai pangeran saya kan
harus
tampil canggih. Apalagi untuk mendampingi Nyit-nyit.... "
"Boim
keparat!! Penunjukan gagal gara-gara kamu, tau!!!" Ita tak
kuat
lagi memendam emosi. Anak-anak yang lain pun
memandang
buas ke arah Boim
"Apa?
Gagal? Wah, sia-sia dong saya ke salon.... "
“Lagian
siapa yang nyuruh ke salon? Kan ada Popi yang siap
merias
wajahmu!!!” bentak Meta kasar. Dan saking kesalnya, Boim
yang
rapi jali itu rame-rame diangkat anak-anak dan diceburin ke
dalam
kolam di depan sekolah. Boim megap-megap nggak bisa
napas.
Anak-anak yang lain bersorak-sorak gembira....
10.
Gang Senggol
SMA
MERAH PUTIH punya seteru sama SMA Tanah Merdeka.
Pasalnya,
suatu hari di musim kemarau. Ketika udara cerah ceria.
Tiada
geledek, tiada hujan. Dan burung-burung berkicau ceria di
ranting
pohon-pohon. Boim yang matanya selalu jelalatan kalau
ngeliat
cewek, termasuk nenek-nenek, telah dituduh ngelirik salah
seorang
cewek SMA Tanah Merdeka.
Manis
juga tu cewek. Setidaknya lebih manis dari Boim kalau
dipakein
rok. Namanya Lila. Rambutnya panjang. Dan bibirnya
mengundang.
Lila ternyata memang kembangnya SMA Tanah
Merdeka.
Maka, demi menyaksikan dengan mata kepala sendiri
Lila
dilirik seorang lelaki item bernama Boim, dan jelas nggak
kece,
cowok-cowok SMA T anah Merdeka yang merasa lebih
berhak
memiliki Lila kontan bangkit semangat perangnya. Mereka
marah
besar. Boim yang waktu itu lagi bersolo karir akhirnya
kena
gebuk beramai-ramai.
"Tenang,
Sodara-sodara! Tenang! Saya Boim, orang baik-baik!"
teriak
Boirn mencoba Tapi... buk!
"Saya
Boim!"
Plak!
"Saya...
"
Duk!
"Tolong!
Tolong!" akhirnya Boim ngibrit. Sempat juga mungut duit
gocapa
nya yang terjatuh. Kasian Boim, wajahnya jadi benjutbenjut.
Peristiwa
ini temu saja berbuntut panjang. Boim laporan ke anakanak.
Lupus
sempat kaget juga melihat keadaan Boim. Aji sampat
nggak
mengenali. Ada yang mengira Boim makhluk dari planet
lain.
Setelah menyadari bahwa itu Boim dan tahu duduk
persoalannya,
anak-anak pun tak dapat membendung
kemarahannya.
"Demi
langit dan bumi, dan topan di lautan, sebagai sobat kita
haruslah
memberi sedikit atau banyak pelajaran pada mereka,
Pus,
orang-orang yang telah menjamahkan kepalan tangannya ke
tubuh
teman kita Boim. Kita hajar mereka, Pus, dengan semangat
baja,
dengan dada terbuka. Kita tiadalah bisa membiarkan teman
kita
diperlakukan seperti bukan manusia. Walaupun dia hanya
seekor
landak!" teriak Gusur seraya pasang kuda-kuda. Matanya
dipicingkan.
Perutnya yang endut kembang-kempis. Boim jadi
terharu
melihat kesetiakawanan Gusur, walau rada keki dengan
kalimat
terakhirnya.
"Lalu
sekarang apa rencana kita?" tanya Lupus kemudian. Anakanak
terdiam
sejenak. Pura-pura mikir. Tapi Gusur keliatan
serius.
Tangannya sesekali mencabuti jenggotnya yang jarangjarang.
Begitulah
adatnya kalau lagi terbentur masalah serius.
Suka
sok tua, padahal bangkotan.
"Kita
serang saja mereka. Kita punya alat-alatnya!" Gito kasih ide.
"Apa,
serang?" tanya Gusur cemas.
"Ya,
serang!" jawab anak-anak yang lain.
Mereka
ternyata sepakat dengan gagasan Gito.
"Wah,
kalau begitu saya tiada ikut saja ya? Bukan apa-apa. Habis
saya
sudah terlanjur benci sih kalau harus bela-belain datang ke
sekolah
mereka," celetuk Gusur selanjutnya.
Anak-anak
kontan keki mendengar alasan Gusur. Boim yang
paling
sengit.
"Bilang
saja kamu takut, Sur. Pake alasan segala. Yang lain
gimana,
setuju?"
"Kalau
saya sih setuju-setuju saja. Siap berantem di mana saja.
Kapan
saja. Selama saya pengen. Tapi itu jelas bukan sekarang,"
sambut
Anto.
Boirn
ngamuk-ngamuk. Dia kecewa mendengar jawaban Auto.
Akhirnya
dia merajuk di pojokan kelas. Tampangnya diimutimutin,
tapi
jadinya malah makin kacau.
Melihat
keadaan jadi runyam, Lupus lalu ambil sikap.
"Teman-teman,
kita memang tidak bisa tinggal diam melihat Boim
dibeginikan.
Kita harus punya rasa setia kawan yang tinggi. Kita
harus
bantu Boim. Kita harus mengadakan pembalasan. Saya
benar-benar
nggak rela. Masa Boim digebukin sampai babak-belur
begini?
Maksud saya, kenapa nggak dibunuh sekalian? kan beres.”
"Lupus!!!"
Boim berteriak keras. "
"
Boim!!!" Lupus pun membalas menjerit tak kalah kerasnya.
"Kalian
memang bisanya cuma ngeledek saya. Nggak mau
ngerasai
pende itaan saya. Saya marah nih! " rajuk Boim makin
keras.
Dan
ternyata Boim benar-benar m rah. Dia bangkit dari duduknya.
Langsung
lari kel iling sekolah. Anak-anak kaget. Tapi akhirnya
ikut
mengejar. Termasuk Gusur yang gendut.
"Boim!
Boim!" panggll anak-anak.
Tapi
Boim cuek. Dia terus lari. Kejar-kejaran pun makin seru.
"Wah
ada apa ini?" tanya guru matemanka yang he an melihat
adegan
itu. .
"Bebek
saya lepas, Pak. Ayo tolong bantuin tangkep," Lupus
menjawab
sekenanya. Ternyata guru matematika itu punya rasa
solidaritas
tinggi, dia pun turut mengejar. Tapi lama-lama timbul
rasa
curiganya.
"Yang
mana bebeknya, kok tidak kelihatan?" tanyanya pada Lupus
yang
lari sambil dingkring.
"Itu
Iho, Pak, yang item!” jawab Lupus.
Guru
matematika mengerutkan kemng. Meneliti secara seksama
benda
yang ditunjuk Lupus. Keputusannya?
"Ah,
itu kan bukan bebek!"
"Abis
apa,Pak?"
"Dalam
pelajaran biologi, setahu Bapak yang seperti itu namanya
menjangan."
Lupus
tak dapat menahan tawanya. Sementara kejar- ejaran terus
berlangsung
sa pai sore hari.
Sampai
semuanya pada capek.
***
Besoknya
mereka kumpul lagi di Gang Senggol. O ya, sebenamya
sudah
lama Iho SMA Merah Putih punya tempat nongkrong yang
strategis.
Letaknya terlindung dari pengawasan guru-guru.
Makanya
anak-anak paling senang ngumpul di situ. Untuk
ngegosip
misalnya. Atau menyusun strategi peperangan seperti
sekarang
ini. Tapi bisa juga dipergunakan umuk madol. Maklum
SMA
Merah. Putih sekelilingnya dilindungi tembok. Dan pintu
gerbangnya
selalu ditutup. Jadi jalan itulah sarana paling
menguntungkan
bagi anak-anak yang hobi bolos.
Namanya,
ya itu tadi, Gang Senggol. Anak-anak memberikan
julukan
itu, karena setiap pejalan kaki yang melewati Gang
Senggol,
pundaknya pasti bersenggolan dengan tembok yang
mengapitnya.
Memang sempit. Lebamya cuma 25 sentimeter.
Satu-satunya
orang yang belum pernah meras kan enaknya Gang
Senggol
adalah Gusur. Doi badannya gendut banget. Jadi mana
muat
kalau harus lewat Gang Senggol. Tapi Lupus paling suka
ngumpet
di situ. Melarikan diri dari para penagih utang. Padahal,
ngujubile,
baunya nggak ketahanan. Pesing banget. Banyak anakwww.
rajaebookgratis.com
anak
esde pipis di situ. Sekali waktu Anto juga pernah kepergok
lagi
pipis. Padahal sudah ada tulisan gede-gede, selain badak
dilarang
kecing di sini. Tapi Anto cuek.
Satu
lagi yang membuat Gang Sen ggol benar-bener seru dan
jorok.
Ialah tulisan iseng anak-anak. Ada tulisan dari Boim
berjudul:
'Pria Anti Dosa.' Atau ini, satu tulisan yang letaknya di
mulut
gang berbunyi: 'Fifi Alone, di sini kita pernah bersatu,
dalam
deru napas yang memburu. TTD: Gusur, makhluk paling
kece.'
- Seniman sableng ini memang sering punya kompensasi
yang
enggak-enggak. Di sudut lain ada tulisan yang lebih kacau
lagi.
Dimulai dan Anto yang menulis: ' Anto Top.' Besoknya Lupus
menyusul,
Lupus pun turut top. Besoknya, Gito juga ngetop.
Seterusnya,
Aji nggak mau ketinggalan top. Obet sama topnya.
Siapa
bilang Gusur tiada top.
Masih
soal Gang Senggol, baik Gusur, Lupus, Boim, Anto, serta
anak
lainnya pemah punya kenangan khusus dengan jalan itu.
Gusur
selalu menjadikan Gang Senggol sebagai tumpahan
ekspresi.
Kalau dia lagi kangen berat sama Fifi, umpamanya,
maka
Gusur lari ke situ. Ngedeprok di mulut gangnya. Lalu asyik
membuat
puisi.
"Tempat
ini memanglah sangat mendatangkan inspirasi buatku.
Banyak
karya masterpiece daku lahir di sini. Terutama puisi yang
bersangkut-paut
dengan Fifi Alone," jawabnya pada Gito yang
nekat
benanya kenapa Gusur hobi banget duduk di situ.
Kalau
Boim memanfaatkan Gang Senggol untuk mengintai Nyitnyit
kalau
lagi jajan di kantin. Gang Senggol memang tetanggaan
sama
kantin. Tapi dari Gang Senggol bisa melihat ke kantin,
sedangkan
dari kantin nggak bisa melihat Gang Senggol.
Selain
itu, Boim juga sering mempergunakan Gang Senggol untuk
escape
dari pelajaran sulit. Lupus juga. Dan waktu ada razia
rambut,
anak-anak yang gondrong pun pada ngabur ke gang
Senggol.
Hasilnya, mereka selamet semua. T api udahannya
mereka
pada mual karena harus nahanin pesing beriam-jam.
Boim
sempat pingsan juga. Tapi segera sadar setelah disiram air
comberan.
Dan
sekarang, di Gang Senggol anak-anak telah memutuskan
rencana
besar. Mereka ingin membalaskan sakit hati Boim,
dengan
menyerang SMA Tanah Merdeka.
"Semua
sudah jelas, kan? Jadi besok kita serbu mereka. Ingat
posisi
masing-masing. Boim kita jadikan umpan. Gusur dan Anto
menghadang
di got. Boleh juga ngumpet di tong sampah.
Sementara
yang lain jangan lupa tugasnya. Ingat, jangan kabur
sebelum
saya kabur duluan," Lupus yang diangkat jadi ketua
memperingatkan.
Anak-anak bengong sejenak.
"Oke,
Pus, saya setuju soal kabur-kaburan itu tadi. Kita samasama
kabur.
Yang penting sakit hati Boim harus dibalas dulu.
Sebab
ini menyangkut nama sekolah. Saya rela Boim dijadikan
bulan-bulanan.
Itu kan terlalu bagus. Kenapa nggak dijadiin
ember-emberan
aja!” timpal Aji.
Boim
bersungut-sungut kayak marmut. Tepat makan siang anakanak
bubaran.
***
Sehari
kemudian, sepulang sekolah Boim sudah menunggu anakanak
di
pintu gerbang. Dia tadi memang bela-belain nggak masuk
sekolah.
Gusur
yang datang pertama langsung mengajukan berita
perutnya
mules. Jadi nggak bisa ikut.
"Kamu
sajalah, Im. Tiada apa-apa, kan?"
"Nggak
bisa. Semua harus ikut!" bentak Boim.
Tak
lama kemudian Lupus pun datang. Menyusul Gito. Aji.
Robert.
Anto. Tukang sapu sekolah. Yang terakhir mau pulang ke
rumah.
Setelah
semuanya kumpul, mereka langsung berangkat. T api
sesampainy
di SMA T anah Merdeka mereka pada keder Juga.
Apalagl
sekolahnya dijaga Satpam.
"Wah,
kita mendadak pusing-pusing nih, Im," Lupus mulai
ngadat.
"Kita
makan bakso di situ aja yuk. Biar saya yang bayarin," Anto
obral
janji. Padahal tu anak, sebagaimana halnya Gusur, paling irit
dalam
soal jajan.
"Iyalah
kita berbakso ria saja. Daku juga sudah lapar nian," Gusur
langsung
mendukung niat Anto.
Tinggal
Boim yang sewot nggak ketulungan. Dia hampir merajuk
lagi.
Untung Lupus buru-buru kasih semangat. Dengan gerak
tangann
ya. Lupus meminta anak-anak bersembunyi di posisinya
masing-masing.
Anto langsung nyemplung got. Gusur yang raguragu
akhirnya
kena dorong. Air got sempet pada nyingkir juga
menerima
kedatangan Gusur. Mungkin lebih dekil orangn ya
daripada
air gotnya.
"Nah,
tu dia anak yang mukulin saya tempo hari," Boim berbisik
ke
arah Lupus di tempat persembunyiannya, di semak-semak
yang
aman. Tangannya menunjuk ke seseorang berpenampilan
sangar
yang baru keluar dari pintu gerbang.
"Itu
orangnya? Wah, gede banget!"
"Ah,
masa kamu takut sih, Pus. Saya aja digebukin!"
"Bukannya
takut, tapi saya kan orangnya suka nggak tegaan! Tapi
baiklah,
kita sergap aja dia. Mudah-mudahan Tuhan melindungi
kita.
Tuhan... lindungilah kami anak-anak yang manis ini," Lupus
langsung
berdoa.
Setelah
itu ia lalu memberi aba-aba menyerang. Gusur langsung
pucat-pasi
begitu melihat orang yang dimaksud. Tapi akhirnya
dia
ikut-ikutan nyerang waktu anak yang lain nyerang. Pesta
pukulan
terjadi. Orang yang dulu menyiksa Boim dirujak dengan
pukulan.
Tapi dia baru pingsan pas nyium keleknya Gusur. Anakanak
pun
lalu bersoak-sorak kegirangan.
"Hidup
Gusur!" . .. . .
"Kalau
begitu tiada sia-sia juga aku tiada mandi selama
seminggu!"
komentar Gusur tersipu-sipu.
***
Boim
sangat puas dengan hasil kerja rekan-rekannya. Tiga hari
kemudian
dia menebok celengannya umuk me traktir anak-anak.
"Ini
sebagai tanda terima kasih dan saya. Lain kali saya harap
Gusur
yang digebukin. Sebab dia belum pernah nraktir siapa
pun,"
Boim menyindir. Tapi Gusur cuek. Hari itu anak-anak
memang
sangat gembira.
Tapi
sebenarnya mereka tengah terancam. Karena secara tidak
disadari
anak-anak SMA Tanah Merdeka puny a niat mengadakan
penyerangan
balasan.
Dan
terjadilah. Siang itu Lupus lagi asyik menendang-nendang
bola
basket. Sekolah memang sudah bubaran sejak tadi, tapi di
kantor
masih ada beberapa guru yang sibuk mengutak-atik nilai
ulangan.
Di kantin, Gusur nampak asyik dengan es jeruknya.
Mulutnya
penuh dengan tahu goreng. Di sana ada juga Boim,
Anto,
Gito, dan anak-anak yang lain.
"Kalian
pada nggak pulang?" tanya Bu Kantin iseng-iseng.
Tangannya
sibuk berkemas-kemas.
"Kita
pada mau latihan basket. Memang sih udah pada ngantuk:
Ini
kan jamnya tidur siang," jawab Anto sambil nyeruput cendol.
"Tumben
kalian latihan basket. Itu si Lupus apa bisa main
basket?"
"Kalo
basket emang kurang, Bu. Tapi tenis dong... "
"Bisa?"
"Payah!'"'
"Jadi
yang bisa apa? Lagian si Lupus itu salah, main basket kok
ditendang-tendang.
Mestinya kan ditepok-tepok pake raket."
Anak-anak
cuma manggut-manggut bego. Sementara di kejauhan
Lupus
memanggil-manggil. Kaok-kaok kayak Tarzan. Tapi anakanak
cuek,
asyik dengan obrolannya.
"Oi,
kalian pada mau latihan nggak sih? Kalau mau, cepat-cepat
minggat
deh!" jerit Lupus. Mereka rencananya memang pada mau
latihan
basket untuk persiapan class-meeting. Tahun kemarin
kelas
Lupus masuk kotak. Tiga kali bertanding, empat kali kalah.
Makanya
tahun ini mereka berniat mempertahankan
kekalahannya.
Biar pandangan orang yang menganggap kelasnya
payah
benar-benar jadi kenyataan.
"Kita
tidak boleh mengecewakan anggapan orang. Kalau kita
dicap
payah, kita harus buktikan bahwa kita memang benar-benar
nggak
bermutu;" komentar Lupus suatu kali.
Lalu
mengapa hari itu mereka sok sibuk latihan? Ah, itu cuma
alasan.
Sebenarnya niat utama mereka cuma ingin ngeceng.
Soalnya
di minggu-minggu persiapan class-meeting ini, banyak
kelas
lain uga pada latihan. Termasuk ceweknya. Itulah
kesempatan
Lupus ngeceng. Apalagi kebanyakan ceweknya
memakai
pakaian bebas. Full colour. Ada juga yang mengenaka
baju
olahraga ketat. Sehingga bodinya yang merangsang pada
kelihatan.
Tengok saja Fifi untuk latihan minggu ini, dia sengaja
membeli
baju senam yang ketat. Tapi Lupus udah bosan melihat
Fifi.
Lagian bodinya kayak ban radial. Nggak ketahuan mana
pinggang
dan mana dada. Toh Gusur bela-belain nggak pulang
hanya
untuk itu.
Sememara
Lupus asyik ngecengin cewek dari II A3. Ada satu yang
cakep.
Putih. Mulus. Bulu matanya lentik. Namanya juga manis,
Sobarudin.
Selain Sobarudin, ada juga Sandra. Inilah yang
sekarang
lagi jadi inceran Lupus. Anaknya seksi. Hari itu Sandra
pakai
baju senam yang ketat. Rambumya dikuncir dua. Kalau
jalan
persis kayak pingguin. Dikit-dikit. Ini yang membuat Lupus
nggak
tega melepaskan pantauannya barang sejenak pun.
Sementara
Boim asyik sendiri dengan kecengannya si Nyit-nyit.
Padahal
kata Lupus Nyit-nyit biasa-biasa aja. Mukanya dikit.
Dan
siang itu, di kantin, di siang yang panasnya ngujubile, Gusur
telah
memecahkan rekor dengan memakan 20 potong tahu dalam
waktu
15 menit. Aji yang kalah taruhan, terpaksa harus
membayar
tahu itu. Dua makhluk kurang kece ini memang
sebelumnya
nekat taruhan. Gusur diminta menelan 20 potong
tahu
dalam waktu 15 menit. Kalau nggak habis, Gusur yang bayar.
Kalau
habis, otomatis Aji yang bayar. Hasilnya, sudah diceritakan
di
atas. Dan sekarang Aji baru nyesel tujuh turunan. Apalagi
karena
duit pembayar tahu sebenarnya buat ongkos pulang.
"Siapa
lagi yang ingin bertaruh dengan daku?"
Gusur
mengobral tantangan. Anto buru-buru mengumpulkan batu
koral.
"Nih,
kamu makan, Sur. Saya kasih waktu satu jam. Habis nggak
habis
saya yang bayar!"
Gusur
mengambil batu itu, dan menyambitkannya ke arah Amo
sebagai
jawaban.
Anak-anak
semakin larut dengan candanya. Dan mereka sama
sekali
tidak mengira kalau anak-anak SMA Tanah Merdeka sudah
sampai
di pintu gerbang. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung.
Dua
puluh lima orang. Masing-masing lengkap dengan pentungan.
"Lupus,
mana Lupus?" teriak si badan gede yang beberapa hari
lalu
digebukin. Dialah pimpinannya.
Lupus
tetap cuek. Masih asyik menendang-nendang bola basket.
Matanya
sesekali menatap ke arah Sandra. Dia memang sama
sekali
belum sadar. Cuma di kantin anak-anak mulai gelisah.
Gusur
buru-buru menyeruput es jeruknya. Tapi sempat ditegor
Bu
Kantin untuk bayar waktu mau cabut begitu saja.
Boim
langsung pucat. Kulitnya yang item tidak berubah sedikit
pun.
Tetap item. Cuma dinginnya membanjir di ujung hidung.
"Wah,
bakalan gawat nih," bisik Amo.
"Ya,
mana kita nggak siap, lagi," Aji menimpali.
"Lihatlah,
mereka masing-masing menggenggam pentungan.
Waduh,
matilah daku. Fifi, cintaku abadi padamu," Gusur
menjerit.
Bertepatan
dengan itu, anak-anak SMA Tanah Merdeka langsung
melabrak.
Lupus tentu saja panik. Kepalanya sempat kena
pentungan
juga. Sandra menjerit. Disusul pekikan cewek lainnya.
Untung
Lupus keburu mengambil jurus lari cepat.
“'Kalau
mau minta tanda tangan, jangan begitu dong caranya,"
pekik
Lupus ge-er.
"Oi,
jangan lari, pengecut!" teriak si gede.
Lupus
tidak. mempedulikan. Dia langsung menuju ke arah anakanak.
Mereka
yang tadinya sudah siap-siap mengambil langkah
seribu,
jadi nggak tega juga melihat Lupus dikejar-kejar kayak
maling
jeinuran.
"Kita
lawan aja mereka," Gito yang badannya gede tiba-tiba
muncul
keberaniannya.
"Tapi
kita cum a sedikit," Gusur sepeni ragu-ragu.
"Ah,
yang penting kita udah berusaha."
Dan
pertempuran yang tak seimbang terjadilah. Untungnya
sebangsa
Fifi, Sandra, Meta, dan beberapa cewek lainnya memberi
bantuan.
Tapi tak berani banyak. Gusur kena tonjok beberapa
kali.
Tenaga musuh memang kuat. Lupus yang dasarnya nggak
bisa
berantem, cuma bisa pasrah. Gito dikerubutin beberapa
orang.
Karatenya nyaris tanpa guna. Di lain tempat Boim udah
nyungsep
di comberan. Comberan lagi.
Pada
saat genting sepeni itu, satu-satunya yang teringat oleh
anak-anak
adalah Gang Senggol. Inilah juru selamat. Lupus segera
memberi
aba-aba. Yang lainnya mengangguk paham. Boim
langsung
bangkit dari got. Mereka pun lari. Tapi musuh tak
membiarkan
begitu saja. Terjadilah kejar-kejaran. Gusur yang
badannya
bulet ketinggalan di belakang. Dia ampir mau nangis
ketakutan.
Tapi
untungnya musuh kehilangan jejak. Anak-anak sengaja
melalui
lorong-lorong rahasia. Tak lama kemudian sampailah
mereka
di Gang Senggol. Lupus yang badannya kecil langsung
menyelinap.
Disusul Boim, Anto, dan lainnya. Lha Gusur? Saking
takutnya,
dia maksa i kutan. Badannya yang gendut dijejelin. Tapi
tentu
aja nggak muat. Gusur macet di mulut Gang Senggol. Maju
nggak
bisa, mundur pun sama saja.
"Kawan-kawan,
tolonglah daku. Jangan pergi begitu saja. Aku tak
mau
ditinggalkan dalam penderitaan sepeni ini. Tolonglah daku!"
Gusur
menjerit. Tapi anak-anak nggak peduli. Mereka cuma
berusaha
menyelamatkan diri masing-masing. Di lain pihak,
ternyata
jeritan Gusur membuat musuh jadi tahu posisinya.
Mereka
segera mengejar. Di Gang Senggol mereka menjumpai
Gusur
yang terjepit tak bisa bergerak.
Wah,
pada gila juga tu musuh, melihat keadaan Gusur sepeni itu,
mereka
langsung menyogok-nyogoknya dengan pentungan. Gusur
menjerit-jerit
kesakitan.
“Tolong!
Tolong!" teriaknya. Anak-anak akhirnya nggak tega juga
ninggalin
Gusur. Tapi mau nolong percuma. Gusur berada dalam
kondisi
yang sulit. Apalagi musuh makin beringas. Dalam
keadaan
genting itulah, tiba-tiba dari arah belakang terdengar
suara
ribut. Sumbernya ternyata datang dari anak-anak cewek dan
beberapa
guru. Rupanya waktu keadaan gawat, mereka
berinisiatif
melapor. Dan laporannya berhasil.
"Stop!
Stop! Apa-apaan ini?" teriak guru matematika. Musuh kaget
juga
mendengar jeritan lantang itu. Mereka sudah bersiap-siap
lari,
untung segera dihadang.
"Tahan.
Siapa ketua kalian? Sebaiknya kita berembuk. Damai.
Masa
anak sekolahan berkelahi? Memalukan!" bentak seorang
guru.
Musuh pada mengkeret. Mereka pun lalu digiring ke kantor.
Lupus
cs yang sudah terlanjur menyeberang ke SD sebelah juga
dipanggil.
Di kantor mereka didamaikan.
"Pokoknya
Bapak tidak mau dengar kalian berkelahi lagi.
Sekarang
saling bersalaman!" perintah guru matematika. Mereka
memang
akhirnya bersalaman. Buntut-buntutnya mereka malah
sepakat
mengadakan pertandingan basket persahabatan. Kemelut
sudah
terselesaikan dengan sukses. Tapi soalnya sekarang,
bagaimana
caranya menolong Gusur yang kejepit tembok? Anak
itu
udah nangis sesenggrukan. Fifi yang biasanya benci jadi
rimbul
kasihan melihat keadaan Gusur.
Dan
ide umuk menolong Gusur datang dari Lupus.
"Sudahlah,
Sur, kamu bertahan saja selama beberapa hari di sini.
Jangan
makan, jangan minum. Nanti kan kurus sendiri. Nah, pada
saat
itulah kamu bisa keluar dari tembok!"
Anak-anak
langsung setuju dengan ide Lupus.
"Lupus
gila!" rengek Gusur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar