Selasa, 03 Februari 2009

The Lord Of The Rings Buku 1


SEMBILAN PEMBAWA CINCIN
The Lord of the Rings
BAB 1
PESTA YANG DITUNGGU-TUNGGU
Ketika Mr. Bilbo Baggins dari Bag End mengumumkan bahwa dalam waktu dekat
ia akan merayakan ulang tahunnya yang kesebelas puluh satu, dengan pesta
besar gegap-gempita, di Hobbiton menyebar banyak desas-desus dan
kegairahan.
Bilbo kaya-raya dan berwatak aneh. Selama enam puluh tahun ia menjadi
keajaiban di wilayah Shire, semenjak ia menghilang dan mendadak kembali lagi.
Harta kekayaan yang dibawanya dari lawatannya kini sudah menjadi legenda
setempat, dan penduduk di sana percaya, meski apa pun yang dikatakan orangorang
tua, bahwa Bukit di Bag End penuh dengan terowongan-terowongan yang
tumpah-ruah oleh harta karun. Dan bukan kekayaan itu saja yang membuat Bilbo
tersohor, tetapi juga umur panjangnya menimbulkan kekaguman. Perjalanan
waktu kelihatannya tidak banyak pengaruhnya pada Mr. Baggins. Di usia
sembilan puluh, ia hampir sama saja dengan sewaktu berusia lima puluh. Ketika
usianya menginjak sembilan puluh sembilan, mereka menyebutnya awet muda;
namun mungkin lebih tepat dikatakan ia tak berubah. Beberapa orang
menggelengkan kepala dan menganggap ini terlalu berlebihan; rasanya tidak adil
bahwa ada orang yang (kelihatannya) bisa terus awet muda dan (kabarnya)
punya kekayaan tak terhingga.
"Pasti ada harga yang mesti dibayar," kata mereka. "Itu tidak wajar, pasti
nanti akan timbul kesulitan!"
Tapi sejauh itu tidak ada masalah; dan karena Mr. Baggins sangat dermawan
dengan uangnya, kebanyakan orang mau memaafkan keanehan dan
keberuntungannya. Ia bergaul baik dengan keluarganya (kecuali, tentu saja,
keluarga Sackville-Baggins), dan ia mempunyai banyak pengagum setia di
antara para hobbit dari keluarga-keluarga miskin dan kurang penting. Tap' ia
tidak mempunyai sahabat-sahabat dekat, sampai beberapa keponakannya mulai
tumbuh dewasa.
Yang tertua di antara mereka, dan yang paling disayang Bilbo, adalah
Frodo Baggins muda. Saat Bilbo berusia sembilan puluh sembilan tahun, ia
mengadopsi Frodo sebagai ahli warisnya, dan membawanya tinggal bersamanya
di Bag End; maka pupuslah harapan keluarga Sackville-Baggins. Kebetulan
ulang tahun Bilbo dan Frodo sama, 22 September. "Sebaiknya kau datang dan
tinggal di sini, Frodo anakku," begitu kata Bilbo pada suatu hari, "jadi kita bisa
merayakan pesta ulang tahun kita bersama-sama dengan nyaman." Saat itu
Frodo masih berusia dua puluhan, sedang dalam masa tweens, selang antara
masa kanak-kanak dan kedewasaan pada usia tiga puluh tiga.
Dua belas tahun berlalu sudah. Setiap tahun keluarga Baggins mengadakan
pesta ulang tahun bersama yang cukup meriah di Bag End; tapi kini ternyata ada
rencana pesta istimewa untuk musim gugur itu. Bilbo akan berumur sebelas
puluh satu, 111, suatu angka yang ganjil, dan usia yang sangat terhormat untuk
seorang hobbit (Old Took sendiri hanya berumur 130); dan Frodo akan berusia
tiga puluh tiga, 33, angka penting: saatnya ia mencapai "kedewasaan".
Lidah-lidah mulai bergoyang ramai sekali di Hobbiton dan Bywater; desasdesus
tentang pesta mendatang menyebar ke seluruh penjuru Shire. Riwayat
dan watak Mr. Bilbo Baggins sekali lagi menjadi pokok pembicaraan utama, dan
orang-orang yang sudah tua mendadak mendapati banyak orang ingin
mendengar kisah-kisah lama mereka.
Yang paling banyak menarik perhatian pendengar adalah si tua Ham
Gamgee, yang lebih dikenal sebagai si Gaffer (yang berarti Lelaki Tua). Ia
berbicara di Semak Ivy, sebuah penginapan kecil di jalan Bywater; ia berbicara
dengan agak sok, sebab sudah empat puluh tahun ia merawat kebun di Bag
End, dan ia juga telah membantu si Holman tua dengan pekerjaan yang sama
sebelum itu. Kini, setelah ia mulai tua dan sendi-sendinya sudah kaku,
pekerjaannya lebih banyak dilakukan putra bungsunya, Sam Gamgee. Baik ayah
maupun anak bersahabat dekat dengan Bilbo dan Frodo. Mereka tinggal di Bukit
itu juga, di Bagshot Row Nomor 3, persis di bawah Bag End.
"Seperti sering kukatakan, Mr. Bilbo itu seorang hobbit terhormat yang
sangat santun dan ramah," si Gaffer menyatakan. Memang benar Bilbo sangat
sopan padanya, memanggilnya "Master Hamfast", dan selalu meminta
nasihatnya tentang menanam sayur-sayuran—dalam masalah umbi-umbian,
terutama kentang, si Gaffer diakui sebagai pakar terkemuka oleh semua orang di
lingkungan itu (termasuk dirinya sendiri).
"Tapi bagaimana dengan si Frodo yang tinggal bersamanya?" tanya Old
Noakes dari Bywater. "Memang nama belakangnya Baggins, tapi dia lebih dari
separuh Brandybuck, kata orang. Aku tak mengerti kenapa seorang Baggins dari
Hobbiton mencari istri jauh-jauh di Buckland, yang penduduknya aneh-aneh."
"Tidak heran mereka aneh," tambah Daddy Twofoot (tetangga si Gaffer),
"sebab mereka tinggal di sisi yang salah dari Sungai Brandywine, persis
berseberangan dengan Old Forest. Itu tempat yang gelap dan jahat, menurut
cerita."
"Kau benar, Dad!" kata si Gaffer. "Memang kaum Brandybuck dari
Buckland tidak tinggal di dalam Old Forest, tapi tampaknya mereka memang
keturunan aneh. Mereka suka bermain-main dengan perahu di sungai besar
itu—dan itu tidak wajar. Tidak heran kalau terjadi masalah, menurutku. Meski
begitu, Mr. Frodo itu seorang hobbit muda yang sangat ramah. Sangat mirip Mr.
Bilbo, dan bukan hanya dalam penampilannya. Bagaimanapun, ayahnya
seorang Baggins. Mr. Drogo Baggins seorang hobbit sopan dan terhormat; tak
banyak yang bisa diceritakan tentang dia, sampai dia tenggelam."
"Tenggelam?" terdengar beberapa suara. Mereka pernah mendengar
tentang itu, dan berbagai selentingan menyeramkan lain, tapi kaum hobbit suka
sekali mendengar tentang riwayat keluarga, dan mereka sudah siap
mendengarkan lagi tentang yang satu ini.
"Ya, begitulah kata orang," kata si Gaffer. "Soalnya Mr. Drogo menikah
dengan Miss Primula Brandybuck yang malang. Miss Primula itu sepupu
pertama Mr. Bilbo dari pihak ibunya (ibunya adalah yang bungsu di antara putriputri
Old Took), dan Mr. Drogo sepupu kedua. Jadi, Mr. Frodo adalah sepupunya
yang pertama dan kedua sekaligus, bersaudara sepupu dari kedua pihak, begitu
sebutannya, kalau kalian paham. Waktu itu Mr. Drogo sedang tinggal di Brandy
Hall dengan ayah mertuanya, Master Gorbadoc tua; ini sering dilakukannya
setelah Pernikahannya (soalnya dia sangat suka makan, dan Gorbadoc tua itu
sangat murah hati dengan makanan); lalu dia pergi naik perahu di Sungai
Brandywine; dia serta istrinya tenggelam, sedangkan Mr. Frodo masih anakanak,
kasihan sekali."
"Kudengar mereka naik perahu setelah makan malam, di bawah sinar
bulan," kata Old Noakes, "dan berat badan Drogo yang membuat perahunya
karam."
"Aku mendengar istrinya yang mendorongnya ke dalam air, dan Drogo
menariknya ikut masuk," kata Sandyman, tukang giling di Hobbiton.
"Seharusnya kau jangan percaya semua yang kaudengar, Sandyman,"
kata si Gaffer, yang tidak begitu menyukai tukang giling ini. "Tidak masuk akal
segala omongan tentang mendorong dan menarik itu. Perahu memang pada
dasarnya berbahaya, kalaupun orang-orang di dalamnya duduk diam tanpa
banyak macam-macam. Pokoknya begitulah, Mr. Frodo menjadi anak yatim
piatu, terdampar di antara kaum Bucklander yang aneh itu, diasuh di Brandy
Hall. Tempat itu penuh sesak. Old Master Gorbadoc mengumpulkan tak kurang
dari ratusan saudara di tempat itu. Mr. Bilbo benar-benar telah melakukan
perbuatan mulia, membawa anak itu tinggal bersama masyarakat baik-baik.
"Tapi kurasa hal itu merupakan kejutan berat untuk kaum Sackville-
Baggins. Mereka menyangka akan memperoleh Bag End, saat Mr. Bilbo pergi
dan diduga sudah mati. Ternyata dia kembali dan menyuruh mereka pergi; lalu
dia masih hidup terus, dan malah tidak pernah kelihatan bertambah tua! Lalu
mendadak dia menyodorkan seorang pewaris, dan sudah mengurus semua
surat-suratnya. Keluarga Sackville-Baggins takkan pernah masuk ke Bag End
sekarang, mudah-mudahan begitu."
"Lumayan banyak uang yang disimpan di sana, begitulah yang kudengar,"
kata seorang asing, pendatang dari Michel Delving di Wilayah - Barat, yang
sedang punya urusan bisnis. "Seluruh puncak bukit kalian penuh dengan
terowongan berisi peti-peti penuh emas, perak, dan permata, begitulah yang
kudengar."
"Kalau begitu, kau lebih banyak mendengar daripada yang aku tahu,"
jawab si Gaffer. "Aku sama sekali tidak tahu tentang permata, Mr. Bilbo royal
sekali dengan uangnya, dan kelihatannya dia tidak kekurangan, tapi aku tidak
tahu tentang terowongan apa pun. Aku bertemu Mr. Bilbo ketika dia kembali,
sekitar enam puluh tahun yang lalu, saat aku masih remaja. Waktu itu aku belum
lama membantu Holman tua (karena dia sepupu ayahku), tapi dia membawaku
ke Bag End untuk membantunya menjaga kebun supaya tidak diinjak-injak dan
dikacaukan orang-orang sementara penjualan sedang berlangsung. Di tengahtengah
itu semua, Mr. Bilbo datang mendaki Bukit dengan seekor kuda kecil,
beberapa kantong yang sangat besar, dan beberapa peti. Aku tak ragu bahwa
kebanyakan berisi harta yang diperolehnya di negeri-negeri asing, di mana ada
gunung-gunung emas, kata orang; tapi harta itu tak cukup banyak untuk mengisi
terowongan. Tapi putraku Sam pasti lebih banyak tahu tentang itu. Dia suka
keluar-masuk Bag End. Dia keranjingan kisah-kisah zaman dulu, dan selalu
mendengarkan semua cerita Mr. Bilbo. Mr. Bilbo yang mengajari Sam
membaca—tanpa bermaksud buruk, camkan itu, dan kuharap tidak bakal timbul
masalah karenanya.
"Peri dan Naga! kataku padanya. Kol dan kentang lebih baik buatmu dan
buatku. Jangan mencampuri urusan majikanmu, atau kau akan mendapat
masalah yang terlalu besar untukmu, begitulah kukatakan padanya. Dan itu
boleh kukatakan pada yang lain-lain juga," tambah si Gaffer sambil memandang
si orang asing dan si tukang giling.
Tetapi para pendengarnya tidak percaya. Legenda tentang kekayaan
Bilbo sekarang sudah terpatri kuat dalam benak generasi muda kaum hobbit.
"Ah, tapi sekarang harta kekayaannya pasti sudah bertambah, lebih
banyak daripada yang pertama kali dibawanya," debat si tukang giling,
menyuarakan pendapat umum. "Dia sering pergi jauh. Dan lihatlah orang-orang
aneh yang mengunjunginya: kurcaci-kurcaci datang di malam hari, dan penyihir
pengembara itu, si Gandalf, dan sebagainya. Kau boleh omong sesukamu,
Gaffer, tapi Bag End itu tempat yang aneh, dan penghuninya lebih aneh lagi."
"Dan kau juga boleh omong sesukamu, tentang apa yang tidak lebih
banyak kauketahui daripada tentang urusan naik perahu itu, Mr. Sandyman,"
jawab si Gaffer dengan ketus, semakin tidak menyukai tukang giling itu. "Kalau
itu kausebut aneh, ada lagi yang lebih aneh di sekitar sini. Ada orang-orang yang
tinggalnya tidak terlalu jauh dari sini, yang tidak mau menawarkan segelas bir
pada teman, walaupun mereka tinggal di dalam liang berdinding emas. Tapi di
Bag End mereka mengikuti aturan kesopanan dengan baik. Sam bilang semua
akan diundang ke pesta, dan akan ada hadiah-hadiah, camkan itu, hadiah untuk
semuanya—bulan ini juga."
Bulan itu bulan September, dan cuacanya bagus sekali. Sekitar satu-dua hari
kemudian, tersebar selentingan (mungkin dimulai oleh Sam yang sudah tahu)
tentang akan adanya kembang api-kembang api yang belum pernah disaksikan
lagi di Shire selama hampir lebih dari seabad, semenjak Old Took meninggal.
Hari-hari berlalu dan Hari H semakin dekat. Suatu sore, sebuah kereta
aneh berisi bungkusan-bungkusan yang juga tampak aneh bergulir masuk ke
Hobbiton, mendaki Bukit, menuju Bag End. Kaum hobbit yang tercengang
mengintip melongo dari ambang-ambang pintu yang diterangi lampu. Kereta itu
dikemudikan orang-orang aneh dan asing, yang menyanyikan lagu-lagu aneh:
orang-orang kerdil dengan janggut-panjang dan kerudung lebar. Beberapa di
antara mereka tetap tinggal di Bag End. Pada akhir minggu kedua bulan
September, sebuah kereta datang melalui Bywater dari arah Jembatan
Brandywine di siang hari bolong. Kereta itu dikemudikan oleh seorang lelaki tua.
Ia memakai topi tinggi runcing berwarna biru, jubah panjang kelabu, dan
selendang perak. Ia mempunyai 'an-gut panjang putih dan alis tebal panjang
yang menjulur keluar dari bawah pinggiran topinya. Anak-anak hobbit kecil
berlari-lari di belakang kereta sepanjang kota Hobbiton, sampai ke atas Bukit.
Mereka menduga kereta itu bermuatan kembang api, dan ternyata benar. Di
depan pintu masuk rumah Bilbo, orang tua itu mulai menurunkan muatannya:
ada berkas-berkas besar kembang api dari segala macam bentuk dan jenis,
masing-masing diberi label dengan huruf G merah besar dan huruf Peri.
Tentu saja itu lambang Gandalf, dan orang tua itu Gandalf sang Penyihir,
yang di Shire tersohor karena kepiawaiannya dengan api, asap, dan cahaya.
Pekerjaannya yang sebenarnya jauh lebih sulit dan berbahaya, tapi penduduk
Shire tidak tahu-menahu tentang itu. Bagi mereka, Gandalf hanya salah satu
"hiburan" pada acara pesta. Karena itulah gairah anak-anak hobbit menggebugebu.
"G untuk Gede!" teriak mereka, dan pria tua itu tersenyum. Mereka kenal
wajahnya, meski ia hanya sesekali muncul di Hobbiton dan tidak pernah tinggal
lama; tetapi anak-anak itu maupun orang-orang lainnya—kecuali orang-orang
tertua di antara para tetua mereka—belum pernah melihat pertunjukan kembang
apinya, yang sudah menjadi legenda masa lalu.
Ketika pria tua itu selesai menurunkan muatannya, dibantu oleh Bilbo dan
beberapa kurcaci, Bilbo membagi-bagikan uang receh; tapi tak satu pun petasan
dibagikan, dan ini sangat mengecewakan para penonton.
"Pergilah sekarang!" kata Gandalf. "Nanti kalian akan mendapat banyak
kembang api, kalau sudah waktunya." Lalu ia menghilang ke dalam bersama
Bilbo, dan pintu ditutup. Para hobbit kecil itu memandangi pintu dengan sia-sia
untuk beberapa saat, lalu pergi sambil memendam perasaan seakan-akan hari
pesta takkan pernah datang.
Di dalam Bag End, Bilbo dan Gandalf duduk di sebuah ruangan kecil, di depan
jendela terbuka yang menghadap pemandangan kebun di sebelah barat. Siang
itu cerah dan damai. Bunga-bunga bersinar merah dan keemasan: snapdragon,
bunga matahari, dan nasturtian merambati seluruh tembok tanah dan mengintip
ke dalam jendela-jendela bundar.
"Kebunmu kelihatan cerah sekali!" kata Gandalf.
"Ya," kata Bilbo. "Memang aku sangat menyukai kebunku, dan bahkan
seluruh Shire ini, tapi rasanya aku butuh liburan."
"Jadi, maksudmu kau akan tetap melaksanakan rencanamu?"
"Benar. Aku sudah mengambil keputusan itu beberapa bulan yang lalu,
dan belum berubah pikiran."
"Baiklah. Tak perlu dibahas lagi. Tetaplah pada rencanamu—seluruh
rencanamu, perhatikan itu-dan kuharap itu akan membawa manfaat terbaik
bagimu, dan bagi kita semua."
"Kuharap begitu. Bagaimanapun, aku berniat menikmati hari Kamis nanti,
dan melakukan kelakar kecilku."
"Siapa yang akan tertawa, ya?" kata Gandalf sambil menggelengkan
kepala.
"Kita lihat saja nanti," kata Bilbo.
Hari berikutnya lebih banyak lagi kereta mendaki Bukit, lagi dan lagi. Mungkin
ada pihak-pihak yang mengeluh tentang "transaksi setempat", tetapi minggu itu
juga berbagai pesanan mulai mengalir dari Bag End untuk segala macam
perbekalan, bahan-bahan pokok, atau kemewahan yang bisa diperoleh di
Hobbiton, Bywater, atau di mana pun di lingkungan tersebut. Orang-orang mulai
bergairah; mereka mulai menandai hari-hari di kalender, dan dengan penuh
semangat mereka menunggu tukang pos, mengharapkan undangan.
Tak lama kemudian, undangan-undangan mulai mengalir, kantor pus
Hobbiton kewalahan, dan kantor pos Bywater terendam surat, sampai-sampai
asisten-asisten tukang pos relawan dipanggil. Aliran tukang pos seakan tak ada
habisnya mendaki Bukit, membawa ratusan variasi sopan ucapan Terima kasih,
aku pasti datang.
Di gerbang Bag End dipasang pengumuman: DILARANG MASUK,
KECUALI UNTUK KEPERLUAN PESTA. Bahkan mereka yang ada urusan, atau
pura-pura mempunyai Urusan Pesta, jarang diizinkan masuk. Bilbo sibuk sekali:
menulis undangan, menandai jawaban, membungkus hadiah, dan membuat
beberapa persiapan pribadi. Sejak kedatangan Gandalf, ia tak terlihat lagi.
Suatu pagi kaum hobbit bangun dan menemukan lapangan luas di
sebelah selatan pintu masuk rumah Bilbo tertutup tambang dan tiang untuk
tenda dan paviliun. Sebuah gerbang masuk khusus dibuat menembus
bendungan yang menuju jalan, dan anak tangga lebar serta gerbang putih
dibangun di sana. Ketiga keluarga hobbit di Bagshot Row, yang bersebelahan
dengan lapangan itu, sangat tertarik dan dicemburui secara luas. Gaffer Gamgee
bahkan berhenti pura-pura bekerja di kebunnya.
Tenda-tenda mulai berdiri. Ada sebuah paviliun istimewa, begitu besar
sampai-sampai pohon yang tumbuh di lapangan itu ada di dalamnya, berdiri
dengan bangga di dekat salah satu ujungnya, di kepala meja utama. Lenteralentera
digantung pada dahan-dahannya. Yang lebih menjanjikan lagi (dalam
benak hobbit): sebuah dapur terbuka yang luar biasa besar dibangun di pojok
utara lapangan. Sederet tukang masak, dari setiap penginapan dan rumah
makan sekitarnya, datang untuk ditambahkan kepada kaum kurcaci dan
makhluk-makhluk aneh lainnya yang tinggal di Bag End. Kegairahan memuncak.
Lalu cuaca berubah mendung. Itu terjadi pada hari Rabu sore sebelum
pesta. Orang-orang menjadi sangat cemas. Lalu Kamis, 22 September, akhirnya
datang juga. Matahari terbit, awan-awan lenyap, bendera-bendera dikibarkan,
dan kegembiraan dimulai.
Bilbo Baggins menyebut acara ini pesta, tapi sebenarnya ini merupakan
beragam hiburan yang digabungkan jadi satu. Boleh dikatakan semua orang
yang lingual di dekatnya diundang. Beberapa ada yang terlupa tanpa sengaja,
tapi karena mereka toll datang juga, maka tidak ada masalah. Banyak orang dari
luar Shire juga diundang, bahkan ada beberapa dari luar perbatasan. Bilbo
sendiri yang menemui para tamu (dan tambahannya) di gerbang baru berwarna
putih. Ia memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang yang tak terhitung
banyaknya-ada orang-orang yang keluar lewat jalan belakang dan masuk lagi
dari gerbang. Kaum hobbit memang biasa memberikan hadiah kepada orang lain
di hari ulang tahun mereka. Bukan hadiah mewah biasanya, dan tidak begitu
berlebihan seperti pada pesta ini; tapi itu bukan kebiasaan buruk. Sebenarnya di
Hobbiton dan Bywater setiap hari adalah ulang tahun seseorang, jadi setiap
hobbit di wilayah itu punya kesempatan untuk setidaknya mendapat satu hadiah,
sekurang-kurangnya sekali seminggu. Tapi mereka tak pernah bosan.
Pada kesempatan ini, hadiah-hadiahnya luar biasa bagus. Anak-anak
hobbit begitu gembira, sampai hampir lupa makan. Ada macam-macam mainan
yang belum pernah mereka lihat, semuanya indah dan beberapa pasti
mempunyai daya sihir. Banyak di antaranya sudah dipesan setahun sebelumnya,
dan datang dari Glinting dan Dale, buatan asli para kurcaci.
Setelah setiap tamu disambut dan sudah berada di dalam, mengalirlah
lagu-lagu, tarian, musik, permainan, dan tentu saja makanan dan minuman. Ada
tiga tahap hidangan resmi: makan siang, minum teh, dan makan malam (atau
makan larut malam). Makan siang dan minum tell ditandai terutama oleh
berkumpulnya para tamu untuk duduk dan makan bersama. Di luar acara
tersebut, orang-orang makan dan minum begitu saja-secara beruntun sejak jam
sebelasan hingga jam enam tiga puluh, ketika acara kembang api dimulai.
Kembang api itu diciptakan oleh Gandalf: bukan hanya dibawa olehnya,
tetapi dirancang dan dibuat olehnya; efek-efek khusus, rangkuman potongan,
dan formasi roket dinyalakan sendiri olehnya. Tetapi juga banyak petasan, model
obor, model lilin kurcaci, ragam air mancur peri, petasan jembalang, dan petasan
halilintar. Semuanya istimewa. Kepiawaian Gandalf semakin meningkat dengan
bertambahnya usia.
Ada roket-roket yang meluncur seperti rangkaian burung gemilang
bernyanyi dengan suara lembut. Ada pohon-pohon hijau dengan batang-batang
asap gelap: daun-daunnya merekah seperti sumber air yang dalam sekejap
tersingkap, dan dahan-dahannya yang berkilauan menjatuhkan kembang
gemerlap ke atas para hobbit yang tercengang, lalu menghilang dengan
wewangian harum tepat sebelum menyentuh wajah mereka yang menengadah.
Ada air mancur kupu-kupu yang terbang dalam kerlap-kerlip kemilau ke dalam
pohon-pohon; ada tiang-tiang api berwarna yang naik dan berubah menjadi
elang, atau kapal layar, atau sekelompok angsa terbang; ada badai petir merah
dan curah hujan kuning; ada belantara tombak perak yang mendadak melompat
ke angkasa dengan bunyi teriakan seperti laskar yang berperang, dan jatuh
kembali ke dalam air dengan bunyi desis ratusan ular membara. Dan ada kejutan
terakhir, sebagai penghormatan kepada Bilbo, dan yang sangat mengejutkan
kaum hobbit, seperti telah direncanakan Gandalf. Lampu-lampu padam. Asap
tebal naik, membentuk wujud gunung di kejauhan, dan mulai menyala di
puncaknya. Ia memuntahkan nyala api hijau dan merah. Seekor naga merah
keemasan terbang keluar dari sana—tidak seukuran sebenarnya, tapi kelihatan
sangat hidup: api keluar dari rahangnya, matanya melotot; terdengar raungan,
dan ia mendesis tiga kali di alas kerumunan kepala para hobbit. Mereka semua
membungkuk, dan banyak yang jatuh tertelungkup. Naga itu berlalu bagai kereta
api ekspres, jungkir-balik, lalu meledak di alas Bywater dengan bunyi
memekakkan.
"Itu tanda untuk makan malam!" kata Bilbo. Rasa ngeri dan kecemasan
langsung sirna, dan para hobbit yang tiarap meloncat berdiri. Hidangan makan
malam istimewa tersedia untuk semuanya; semuanya, kecuali mereka yang
khusus diundang untuk pesta makan malam keluarga. Ini berlangsung di paviliun
besar di mana terdapat pohon itu. Undangannya terbatas hanya dua belas lusin
(angka yang disebut saw Gross oleh para hobbit, meski sebutan itu dianggap
tidak sopan untuk menunjuk orang); dan tamunya dipilih dari mereka yang
bertalian keluarga dengan Bilbo dan Frodo, ditambah beberapa teman yang
bukan keluarga (seperti Gandalf). Banyak hobbit muda termasuk di dalamnya,
dan hadir atas izin orangtua mereka; kaum hobbit cukup bijak dalam
membiarkan anak-anak mereka bangun sampai malam, terutama bila ada
kesempatan mendapat makanan gratis. Membesarkan hobbit-hobbit kecil
membutuhkan banyak makanan.
Banyak anggota keluarga Baggins dan Boffin, juga banyak anggota
keluarga Took dan Brandybuck; ada beberapa Grubb (keluarga nenek Bilbo
Baggins), dan beberapa Chubb (keluarga kakek Bilbo dari marga Took); dan
beberapa dari keluarga Burrows, Bolger, Bracegirdle, Brockhouse, Goodbody,
Hornblower, dan Proudfoot. Beberapa di antara mereka hanya kerabat jauh
Bilbo, dan beberapa bahkan belum pernah ke Hobbiton, karena mereka tinggal
di daerah-daerah terpencil di Shire. Keluarga Sackville-Baggins tidak dilupakan.
Otho dan istrinya Lobelia hadir juga. Mereka tidak menyukai Bilbo dan membenci
Frodo, tetapi kartu undangannya begitu indah, ditulis dengan tinta emas, sampai
mereka merasa tak mampu menolak. Lagi pula, sepupu mereka, Bilbo, sudah
bertahun-tahun mengkhususkan diri dalam hal makanan, dan hidanganhidangannya
sudah terkenal lezat.
Keseratus empat puluh empat tamu itu mengharapkan pesta yang
menyenangkan, walau mereka agak takut pada pidato sang man rumah
sesudahnya (acara yang tak terelakkan). Ia suka bertele-tele memasukkan
bagian yang disebutnya puisi; dan kadang-kadang, setelah minum segelas dua
gelas, ia akan menyinggung petualangan tak masuk akal dari perjalanannya
yang misterius. Tamu-tamu tidak kecewa: mereka menikmati pesta yang sangat
menyenangkan, bahkan hiburan yang sangat memukau: mewah, berlimpahlimpah,
beraneka ragam, dan berkepanjangan. Selama minggu-minggu
berikutnya, hampir tidak ada sama sekali pembelian makanan di wilayah itu; tapi
berhubung hidangan makanan Bilbo sudah menghabiskan persediaan hampir
semua toko, gudang bawah tanah, dan gudang-gudang sejauh bermil-mil di
sekitarnya, maka hal itu tidak menjadi masalah.
Setelah pesta (kurang-lebih), menyusullah pidato. Meski begitu,
kebanyakan kelompok itu kini sudah bersuasana hati toleran, dalam tahap yang
mereka sebut "mengisi pojok-pojok". Mereka meneguk minuman favorit mereka,
menggigit makanan lezat kesukaan mereka, dan kecemasan mereka terlupakan.
Mereka sudah siap mendengarkan apa pun, dan bersorak-sorai pada setiap
akhir kalimat.
Hadirin yang baik, Bilbo memulai, bangkit berdiri di tempatnya. "Dengar!
Dengar! Dengar!" mereka berteriak, dan terus mengulanginya bersamaan, meski
tampaknya enggan mengikuti anjuran mereka sendiri. Bilbo meninggalkan
tempatnya dan berdiri di atas sebuah kursi, di bawah pohon yang diterangi.
Cahaya lentera jatuh di wajahnya yang berseri-seri; kancing-kancing emas
berkilauan di rompi sutranya yang bersulam. Mereka semua bisa melihatnya
berdiri, melambaikan satu tangan di udara, tangan satunya ada di saku
celananya.
Para Baggins dan Boffin yang budiman, ia mulai lagi, dan para Took dan
Brandybuck, dan Grubb, dan Chubb, dan Burrows, dan Hornblower, dan Bolger,
Bracegirdle, Goodbody, Brockhouse, dan Proudfoot. "ProudFEET!" teriak
seorang hobbit tua dari bagian belakang paviliun. Tentu saja namanya
Proudfoot, dan nama itu pas sekali; kakinya besar, berbulu sangat lebat, dan
keduanya diangkat di atas meja.
Proudfoot, ulang Bilbo. Juga keluarga Sackville-Baggins yang baik, yang
akhirnya kusambut kembali ke Bag End. Hari ini hari ulang tahunku yang
keseratus sebelas; usiaku sebelas puluh satu hari ini! "Hura! Hura! Panjang
Umur!" teriak mereka, dan dengan gembira mereka memukul-mukul meja-meja.
Bilbo hebat sekali. Inilah jenis pidato yang mereka sukai: pendek dan jelas.
Kuharap kalian semua bergembira, seperti aku sendiri. Sorak
memekakkan. Seruan Ya (dan Tidak). Bunyi berisik terompet, seruling, dan alat
musik lainnya terdengar. Seperti sudah diceritakan tadi, banyak sekali anak
muda hobbit yang hadir. Ratusan petasan sudah diledakkan. Kebanyakan
bertanda DALE; kebanyakan hobbit tidak memahami maksudnya, tapi mereka
semua setuju petasannya luar biasa bagus. Petasan-petasan itu berisi alat-alat
musik, kecil, tapi buatannya sempurna dan mengeluarkan bunyi-bunyian
memukau. Bahkan di salah satu pojok beberapa Took dan Brandybuck muda,
yang menyangka Paman Bilbo sudah selesai (karena jelas ia sudah
mengucapkan semua yang penting), sekarang membentuk orkes dadakan, dan
memulai irama dansa ceria. Master Everard Took dan Miss Melilot Brandybuck
naik ke atas meja, dan dengan lonceng di tangan mereka mulai menari Springlering:
sebuah tarian manis, tetapi agak dahsyat.
Tetapi Bilbo belum selesai. Ia merebut terompet dari seorang anak muda
di dekatnya, dan membunyikannya tiga kali dengan keras. Suara berisik mereda.
Aku tidak akan lama, teriak Bilbo. Teriakan riuh dari semuanya. Aku memanggil
kalian semua ke sini untuk Tujuan Tertentu. Ada sesuatu dalam caranya
mengatakan itu, yang membuat orang-orang terkesan. Keadaan hampir senyap,
dan satu-dua kaum Took memasang telinga.
Bahkan untuk Tiga Tujuan! Pertama, untuk menyampaikan bahwa aku
sangat menyayangi kalian semua, dan sebelas puluh satu tahun adalah waktu
yang terlalu pendek untuk hidup di antara hobbit-hobbit yang begitu istimewa dan
mengagumkan. Ledakan seruan setuju yang hebat.
Sebagian dari kalian tidak aku kenal sebaik yang kuinginkan, dan aku
menyukai kurang dari separuh dari kalian sebesar separuh dari yang pantas
kalian peroleh. Ini agak tak terduga dan rumit kedengarannya. Ada bunyi tepuk
tangan di sana-sini, tapi kebanyakan dari mereka berusaha memikirkan ucapan
Bilbo tadi, dan mereka-reka apakah itu suatu pujian.
Kedua, untuk merayakan ulang tahunku. Sorak-sorai lagi. Seharusnya
kukatakan: ulang tahun KAMI. Karena, tentu saja, ini juga ulang tahun ahli waris
dan keponakanku, Frodo. Dia menjadi dewasa dan menerima warisannya hari
ini. Beberapa tepuk tangan acuh tak acuh dari kaum tua, dan beberapa teriakan
keras "Frodo! Frodo! Frodo yang Baik," dari para pemuda. Keluarga Sackville-
Baggins mengerutkan dahi, dan bertanya dalam hati, apa artinya "menerima
warisannya".
Berdua jumlah usia kami seratus empat puluh empat. Jumlah kalian dipilih
sesuai dengan angka ini: Satu Gross, kalau aku boleh memakai istilah ini. Tidak
ada sorak-sorai. Ini konyol. Kebanyakan tamu, terutama kaum Sackville-Baggins,
merasa tersinggung, karena merasa yakin mereka diundang hanya untuk
melengkapi jumlah yang dibutuhkan, seperti barang-barang dalam paket. "Satu
Gross, yang benar saja! Ungkapan yang kasar."
Hari ini juga, kalau aku boleh menunjuk pada sejarah kuno, adalah ulang
tahun kedatanganku naik tong di Esgaroth di Danau Panjang; meski waktu itu
aku tidak ingat bahwa hari itu hari ulang tahunku. Saat itu aku baru lima puluh
satu tahun, dan ulang tahun rasanya tidak terlalu penting. Perjamuannya sangat
istimewa, meski aku pilek berat saat itu, seingatku, dan hanya bisa mengatakan
"Teriba kasih bajak". Sekarang aku mengulanginya dengan benar: Terima kasih
banyak atas kedatangan kalian ke pestaku. Para tamu masih tetap diam. Mereka
semua cemas sebuah lagu atau puisi akan muncul, dan mereka mulai jemu.
Kenapa Bilbo tidak berhenti bicara dan membiarkan mereka minum demi
kesehatannya? Tetapi Bilbo tidak menyanyi atau membacakan puisi. Ia diam
sejenak.
Ketiga dan yang terakhir, kata Bilbo, aku ingin memberikan
PENGUMUMAN. Ia mengucapkan kata terakhir ini begitu keras dan mendadak,
sampai semua yang masih mampu, duduk tegak. Aku menyesal harus
mengumuhkan bahwa—meski, seperti tadi sudah kukatakan sebelas puluh satu.
tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk dilewatkan di tengah kalian—inilah
AKHIRnya. Aku akan pergi. Aku akan berangkat SEKARANG. SELAMAT
TINGGAL!
Ia melangkah turun dan lenyap. Ada kilatan cahaya yang sangat menyilaukan,
dan semua tamu mengedipkan mata. Ketika mereka membuka mata, Bilbo tidak
tampak di mana pun. Seratus empat puluh empat hobbit ternganga keheranan,
duduk bersandar membisu. Odo Proudfoot tua memindahkan kakinya dari atas
meja dan mengentakkannya. Lalu ada keheningan sempurna, sampai tiba-tiba,
setelah beberapa tarikan napas dalam, setiap Baggins, Boffin, Took,
Brandybuck, Grubb, Chubb, Burrows, Bolger, Bracegirdle, Brockhouse,
Goodbody, Hornblower; dan Proudfoot berbicara bersamaan.
Secara umum disepakati bahwa kelakar itu berselera rendah, dan
dibutuhkan lebih banyak makanan dan minuman untuk menyembuhkan para
tamu dari perasaan terkejut dan jengkel. "Dia sinting. Aku sudah sering bilang."
Mungkin komentar itulah yang paling banyak dilontarkan. Bahkan kaum Took
(dengan beberapa pengecualian) menganggap tingkah laku Bilbo tak masuk
akal. Untuk sementara, kebanyakan menganggap lenyapnya Bilbo hanya olokolok
konyol.
Tetapi Rory Brandybuck tua tidak begitu yakin. Baik usia maupun
hidangan melimpah tidak membuat ia dan istrinya kabur ingatan, dan ia
mengatakan kepada putrinya, Esmeralda, "Ada sesuatu yang mencurigakan di
sini, Sayang! Kuduga si Baggins gila itu sudah pergi lagi. Si tolol tua konyol.--
Tapi kenapa harus khawatir? Dia tidak membawa bahan makanan bersamanya."
Dengan keras ia memanggil Frodo untuk membagikan anggur lagi.
Frodo satu-satunya yang tidak mengatakan apa pun. Untuk beberapa saat
ia duduk di samping kursi Bilbo yang kosong, tidak menghiraukan semua
pertanyaan dan komentar. Ia menikmati olok-olok itu, tentu saja, meski ia sudah
tahu sebelumnya. Ia sulit menahan diri untuk tidak tertawa melihat kedongkolan
tamu-tamu yang terkejut. Tapi sekaligus ia merasa sangat cemas: tiba-tiba ia
menyadari bahwa ia sangat menyayangi hobbit tua itu. Kebanyakan tamu
meneruskan makanminum dan membahas keanehan Bilbo Baggins, di masa lalu
maupun sekarang, tapi keluarga Sackville-Baggins sudah pergi dengan gusar.
Frodo tak ingin lagi mengikuti pesta itu. Ia menyuruh menghidangkan lebih
banyak anggur, dan menghabiskan anggur dalam gelasnya demi kesehatan
Bilbo, lalu menyelinap keluar dari paviliun.
Sedangkan Bilbo Baggins, sementara mengucapkan pidatonya ia sudah
memegang-megang cincin emas di sakunya: cincin ajaib yang sudah bertahuntahun
dirahasiakannya. Saat melangkah turun ia menyelipkan cincin itu di
jarinya, dan setelah itu ia tak pernah terlihat lagi oleh satu hobbit pun.
Ia berjalan cepat kembali ke lubangnya, dan sejenak berdiri sambil
tersenyum, mendengarkan bunyi riuh di paviliun dan suasana gembira di bagianbagian
lain di lapangan. Lalu ia masuk. Ia melepaskan pakaian pestanya, melipat
dan membungkus rompi sutra bersulamnya dalam kertas tisu, dan
menyimpannya. Lalu dengan cepat ia mengenakan beberapa pakaian lama yang
kusut, dan mengikatkan sebuah sabuk kulit yang sudah usang di pinggangnya.
Di situ ia menggantungkan sebilah pedang pendek dalam sebuah sarung pedang
Wit hitam yang lusuh. Dari sebuah laci terkunci, yang berbau bola kamper, ia
mengeluarkan sehelai jubah lama dan kerudung. Benda-benda itu disimpan
seolah sangat berharga, tapi mereka sudah begitu penuh tambalan dan pudar,
sampai warnanya yang asli hampir tidak kelihatan lagi: mungkin saja dulu
warnanya hijau tua. Pakaian itu agak kebesaran untuk Bilbo. Kemudian ia masuk
ke ruang kerjanya, dan dari lemari besi ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain
lama, sebuah naskah bersampul kulit, dan sebuah amplop yang besar sekali.
Buku dan bungkusan dimasukkannya ke dalam tas berat yang ada di situ, yang
sudah hampir penuh. Ke dalam amplop ia menyelipkan cincin emasnya, serta
rantainya yang halus, kemudian menutupnya dan mengalamatkannya pada
Frodo. Mula-mula ia meletakkannya di atas perapian, tapi mendadak ia
mengambilnya dan memasukkannya ke saku celananya. Saat itu pintu terbuka
dan Gandalf masuk dengan cepat.
"Halo!" kata Bilbo. "Aku sudah bertanya-tanya, apakah kau akan datang."
"Aku senang menjumpaimu dalam keadaan kasat mata," kata penyihir itu,
sambil duduk di kursi. "Aku ingin menjumpaimu dan mengungkapkan hal-hal
terakhir. Kuduga kau merasa semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana?"
"Ya, memang," kata Bilbo. "Meskipun kilatan cahaya itu mengejutkan
sekali: aku saja kaget, apalagi yang lain. Tambahan kecil darimu, kuduga?"
"Memang. Kau sudah dengan bijak merahasiakan cincin itu selama inn,
dan aku merasa perlu memberikan sesuatu yang lain kepada para tamu, sesuatu
yang bisa menjelaskan menghilangnya dirimu dengan mendadak."
"Dan akan merusak olok-olokku. Kau orang tua yang suka ikut campur
urusan orang lain," tawa Bilbo, "tapi kuduga kau lebih tahu, seperti biasanya."
"Memang begitu kalau aku tahu sesuatu. Tapi aku belum terlalu yakin atas
masalah ini. Sekarang masalah ini sudah mencapai titik akhirnya. Kau sudah
menikmati kelakarmu, membuat cemas atau menyinggung sebagian besar
kerabatmu, dan memberikan bahan omongan pada seluruh Shire untuk dibahas
selama sembilan hari, atau sembilan puluh sembilan hari mungkin lebih tepat.
Apa kau akan melanjutkannya?"
"Ya. Aku merasa butuh liburan, liburan panjang sekali, seperti sudah
kukatakan padamu. Mungkin liburan untuk selamanya: aku tidak memperkirakan
akan kembali lagi. Bahkan sebenarnya aku tidak bermaksud untuk kembali, dan
aku sudah mengatur semuanya.
"Aku sudah tua, Gandalf. Mungkin dari luar tidak kelihatan, tapi aku sudah
mulai merasakannya jauh di dalam hatiku. Awet muda!" dengus Bilbo. "Bah, aku
merasa tipis sekali, seperti terulur, kalau kau mengerti maksudku: seperti
mentega yang dioleskan pada terlalu banyak roti. Itu pasti tidak baik. Aku butuh
perubahan, atau semacarnnya."
Gandalf menatapnya dengan aneh dan tajam. "Tidak, memang
kelihatannya tidak baik," katanya sambil merenung. "Tidak, bagaimanapun
kupikir rencanamu mungkin yang terbaik."
"Well, bagaimanapun aku sudah mengambil keputusan. Aku ingin melihat
gunung-gunung lagi, Gandalf gunung-gunung; lalu menemukan tempat untuk
aku bisa beristirahat. Dalam kedamaian dan ketenangan, tanpa banyak keluarga
berkeliaran sambil mengorek-ngorek, dan rangkaian tamu terkutuk yang
memencet bel. Mungkin aku bisa menemukan tempat untuk menyelesaikan
bukuku. Aku sudah memikirkan akhir yang bahagia untuknya: dan dia hidup
bahagia sampai akhir hayatnya."
Gandalf tertawa. "Kuharap begitu. Tapi takkan ada yang membaca buku
itu, bagaimanapun akhir kisahnya."
"Ah, mungkin akan dibaca, di tahun-tahun mendatang. Frodo sudah
membaca sebagian, sampai sejauh yang sudah kutulis. Kau akan mengawasi
Frodo, bukan?"
"Ya, akan kulakukan-bila perlu kuawasi berlipat ganda sebisa mungkin."
"Tentu dia akan ikut aku, kalau aku memintanya. Bahkan dia
mengusulkannya satu kali, tepat sebelum pesta. Tapi dia sebenarnya belum
benar-benar ingin. Aku ingin melihat alam liar lagi sebelum aku mati, dan
Gunung-Gunung; tapi Frodo masih mencintai Shire, dengan hutan-hutan,
padang rumput, dan sungai-sungai kecilnya. Dia akan lebih nyaman di sini. Aku
mewariskan semuanya kepadanya, tentu, kecuali beberapa hal. Kuharap dia
bahagia, bila sudah terbiasa sendirian. Sudah saatnya dia menjalani hidupnya
sendiri sekarang."
"Semuanya?" kata Gandalf. "Cincin itu juga? Kau sepakat tentang itu,
ingat itu." "Well, ya, mungkin begitu," kata Bilbo terbata-bata.
"Di mana cincin itu?"
"Di dalam amplop, kalau kau man tahu," kata Bilbo tak sabar. "Di sana, di
atas perapian. Oh tidak! Ada di sini, di saku bajuku!" ia ragu. "Bukankah aneh
rasanya sekarang?" kata Bilbo perlahan kepada dirinya sendiri. "Ya,
bagaimanapun, kenapa tidak? Kenapa cincin ini tidak tetap di sini saja?"
Gandalf menatap Bilbo dengan tajam, ada kilauan di matanya.
"Menurutku, Bilbo," katanya tenang, "sebaiknya cincin itu kautinggalkan di sini.
Apa kau tidak ingin?"
"Well, ya dan tidak. Kini, setelah tiba saatnya, aku tak senang berpisah
dengannya. Dan aku tidak tahu kenapa aku harus. Kenapa kau ingin aku
meninggalkannya?" tanya Bilbo, ada perubahan aneh dalam suaranya. Tajam
oleh kecurigaan dan kejengkelan. "Kau selalu mendesakku tentang cincinku, tapi
kau tak pernah mempermasalahkan benda-benda lain yang kuperoleh dalam
perjalananku."
"Tidak, tapi aku terpaksa mendesakmu," kata Gandalf. "Aku ingin
kebenarannya. Itu penting. Cincin ajaib memang... yah, ajaib; dan mereka langka
dan aneh. Secara profesional aku tertarik pada cincinmu, boleh dikatakan begitu;
dan aku masih tertarik. Aku ingin tahu di mana cincin itu, kalau kau mengembara
lagi. Juga menurutku kau sudah memilikinya cukup lama. Kau tidak
membutuhkannya lagi, Bilbo, kecuali kalau aku salah."
Wajah Bilbo memerah, dalam matanya ada kilatan cahaya amarah.
Wajahnya yang ramah berubah keras. "Kenapa tidak?" teriaknya. "Dan apa
urusanmu ingin tahu apa yang kulakukan dengan barang-barangku sendiri?
Cincin itu milikku. Aku yang menemukannya. Dia datang padaku."
"Ya, ya," kata Gandalf. "Tapi tidak perlu marah begitu."
"Kalau aku marah, itu salahmu," kata Bilbo. "Sudah kubilang cincin itu
milikku. Milikku. Kesayanganku. Ya, kesayanganku."
Wajah sang penyihir tetap suram dan penuh perhatian, dan hanya sedikit
kilatan dalam matanya menunjukkan bahwa ia kaget, dan bahkan cemas.
"Pernah ada yang berkata begitu," kata Gandalf, "tapi bukan kau."
"Tapi kini aku yang mengatakannya. Dan mengapa tidak? Meski dulu
Gollum juga pernah berkata begitu, sekarang cincin ini bukan miliknya, tapi
milikku. Dan aku akan menyimpannya, kataku."
Gandalf berdiri. Ia berbicara dengan tegas. "Kau bodoh kalau begitu,
Bilbo," katanya. "Semakin jelas dengan setiap kata yang kauucapkan. Cincin itu
sudah terlalu jauh menguasai dirimu. Lepaskanlah! Lalu kau bisa pergi, dan
bebas."
"Aku akan berbuat sesuka hatiku dan pergi semauku," kata Bilbo keras
kepala.
"Ayo, ayo, hobbit-ku sayang!" kata Gandalf. "Kita sudah lama bersahabat,
dan kau berutang padaku. Ayolah! Lakukan seperti yang sudah kaujanjikan:
lepaskan!"
"Well, kalau kau sendiri menginginkan cincinku, katakan saja!" seru Bilbo.
"Tapi kau takkan mendapatkannya. Aku tidak akan memberikan barang
kesayanganku, camkan itu." Tangan Bilbo mendekati pangkal pedang kecilnya.
Mata Gandalf berkilauan. "Sebentar lagi giliranku untuk marah," katanya.
"Kalau kau mengucapkan itu lagi, aku akan marah. Lalu kau akan melihat
Gandalf tanpa jubah." ia maju selangkah ke arah Bilbo, dan tampaknya ia
menjadi lebih tinggi dan mengancam; bayangannya memenuhi seluruh ruangan
itu.
Bilbo mundur ke dinding, terengah-engah, tangannya mencengkeram
saku celananya. Untuk beberapa saat mereka berdiri berhadapan, dan udara di
ruangan itu menggelenyar. Mata Gandalf tetap terarah pada Bilbo. Perlahan
tangan Bilbo mengendur, dan ia mulai gemetar.
"Entah kenapa kau ini,-.Gandalf," kata Bilbo. "Kau belum pernah seperti
ini. Apa sih masalahnya? Cincin ini kan milikku. Aku menemukannya, dan
Gollum akan membunuhku seandainya aku tidak tetap memegangnya. Aku
bukan pencuri, apa pun yang dikatakannya."
"Aku tidak pernah menyebutmu pencuri," jawab Gandalf. "Dan aku juga
bukan pencuri. Aku bukan mencoba merampokmu, tapi membantumu. Kuharap
kau mempercayaiku, seperti biasanya." Gandalf membalikkan tubuh, dan
bayangan itu lenyap. Ia seolah mengerut kembali menjadi pria tua kelabu,
bungkuk dan sedih.
Bilbo menyapukan tangan ke matanya. "Aku minta maaf," katanya. "Tapi
perasaanku aneh sekali. Meski begitu, aku akan lega sekali kalau tidak diganggu
oleh cincin itu lagi. Akhir-akhir ini cincin itu memenuhi benakku. Kadang-kadang
aku merasa seperti ada mata yang memandangku. Aku selalu ingin memakainya
dan menghilang, atau bertanya-tanya apakah dia aman, dan mengeluarkannya
agar yakin. Aku mencoba menyimpannya di tempat terkunci, tapi ternyata aku
tak bisa tenang kalau dia tidak berada di saku celanaku. Aku tidak tahu kenapa.
Dan kelihatannya aku tak bisa mengambil keputusan."
"Kalau begitu, percayalah padaku," kata Gandalf. "Kau sudah membuat
keputusan. Pergilah dan tinggalkan cincin itu. Berhentilah memilikinya. Berikan
pada Frodo, dan aku akan mengawasinya."
Sejenak Bilbo berdiri tegang, tak bisa memutuskan. Akhirnya ia
mendesah. "Baiklah," katanya dengan enggan. "Akan kulakukan." Lalu ia angkat
bahu dan tersenyum agak sedih. "Bagaimanapun, memang itulah tujuan pesta
INI sebenarnya: untuk memberikan banyak hadiah ulang tahun, sekaligus
supaya lebih mudah melepaskan cincin itu. Ternyata tetap saja tidak menjadi
lebih mudah, tapi akan sayang sekali semua persiapanku. Akan merusak
kelakarku."
"Memang, tujuan utama seluruh kegiatan ini jadi sia-sia," kata Gandalf.
"Baiklah," kata Bilbo, "cincin akan beralih pada Frodo dengan semua
barang lain." ia menarik napas panjang. "Dan sekarang aku benar-benar harus
pergi, atau akan ada yang memergoki aku. Aku sudah mengucapkan selamat
tinggal, dan aku tidak tahan kalau harus mengulanginya lagi." ia mengangkat
tasnya dan beranjak ke pintu.
"Cincin itu masih ada di saku celanamu," kata Gandalf.
"Well, memang!" seru Bilbo. "Juga surat wasiatku dan semua dokumen
lainnya. Sebaiknya kau mengambilnya dan menyerahkannya untukku. Itu paling
aman."
"Tidak, jangan berikan cincin itu padaku," kata Gandalf. "Letakkan di atas
perapian. Akan cukup aman di sana, sampai Frodo datang. Aku akan
menunggunya."
Bilbo mengeluarkan amplopnya. Tapi tepat ketika ia akan meletakkannya
di dekat jam, tangannya tersentak ke belakang, dan bungkusan itu jatuh ke
lantai. Sebelum Bilbo bisa memungutnya, Gandalf sudah membungkuk dan
mengambil amplop itu, lalu meletakkannya di tempatnya. Wajah Bilbo sekejap
mengejang penuh kemarahan. Tapi mendadak kemarahannya lenyap dan
wajahnya berubah penuh kelegaan dan tawa gembira.
"Well, sudah beres," kata Bilbo. "Sekarang aku berangkat!"
Mereka keluar ke lorong. Bilbo memilih tongkat kesukaannya dari tempat
penyimpanannya, lalu ia bersiul. Tiga orang kerdil muncul dari ruang-ruang
berlainan, di mana mereka sibuk selama ini.
"Sudah siapkah semuanya?" tanya Bilbo. "Semua sudah dikemas dan
diberi label?"
"Semuanya sudah," jawab mereka.
"Kalau begitu, mari kita berangkat!" Bilbo keluar dari pintu depan.
Malam itu cuaca cerah, langit hitam dihiasi bintang-bintang. Bilbo
menengadah, menghirup udara luar. "Menyenangkan sekali! Sangat
menyenangkan bisa pergi lagi, berada di Jalan dengan para kurcaci! Inilah yang
kudambakan selama bertahun-tahun! Selamat tinggal!" kata Bilbo, memandang
rumahnya dan membungkuk kepada pintunya. "Selamat tinggal, Gandalf!"
"Selamat jalan, untuk sementara, Bilbo. Jaga dirimu sendiri! Kau sudah
cukup tua, dan mungkin cukup bijaksana."
"Jaga diri! Aku tak peduli. Kau jangan cemas tentang aku! Belum pernah
aku sebahagia sekarang, dan itu sangat besar artinya. Tapi saatnya sudah tiba.
Akhirnya aku bisa pergi," tambah Bilbo, lalu dengan suara rendah, seolah hanya
kepada dirinya sendiri, ia bernyanyi perlahan dalam kegelapan:
Jalan ini tak ada habisnya
Dari pintu tempat ia bermula.
Terbentang hingga di kejauhan sana,
Mesti kujalani sedapat aku bisa,
Kaki letih tapi kuberjalan juga,
Sampai kudapati jalan yang lebih lega
Di mana ban yak jalur dan urusan bertemu.
Lalu ke mana? Tak tahulah aku
Bilbo berhenti, diam sejenak. Lalu tanpa sepatah kata lagi ia membalikkan
badannya dari lampu-lampu dan suara-suara di lapangan dan tenda, dan diikuti
ketiga pendampingnya ia berjalan memutar di kebunnya, berderap menuruni
jalan panjang yang curam. Setiba di bawah, ia melompati pagar semak di bagian
yang rendah, lalu berjalan ke arah padang rumput, menghilang ke dalam
kegelapan malam, bagai desiran angin di tengah rerumputan.
Untuk beberapa saat Gandalf tetap berdiri di sana, memandang ke dalam
kegelapan. "Selamat jalan, Bilbo yang baik—sampai pertemuan kita berikutnya!"
katanya perlahan, lalu ia masuk kembali.
Tak lama kemudian Frodo masuk, dan menemukan Gandalf duduk dalam
kegelapan, sedang merenung. "Apa dia sudah pergi?" tanya Frodo.
"Ya," jawab Gandalf, "akhirnya dia pergi."
"Seandainya saja... maksudku, sampai tadi sore aku masih berharap
bahwa ini hanya olok-olok saja," kata Frodo. "Tapi dalam hati aku tahu dia
memang berniat pergi. Dia selalu berkelakar tentang hal-hal yang serius. Coba
aku kembali lebih awal, biar bisa melihatnya pergi."
"Kurasa dia lebih suka menyelinap pergi diam-diam," kata Gandalf.
"Jangan terlalu cemas. Dia akan baik-baik saja sekarang. Dia meninggalkan
bingkisan untukmu. Itu, di sana!"
Frodo mengambil amplop dari atas perapian, dan melihatnya sekilas, tapi
tidak membukanya.
"Kau akan menemukan surat wasiatnya dan semua dokumen lain, di
dalamnya, kukira," kata penyihir itu. "Kini kaulah penguasa Bag End. Dan kau
akan menemukan cincin emas juga di dalam amplop itu."
"Cincin itu!" seru Frodo. "Dia meninggalkannya untukku? Aneh, kenapa?
Tapi mungkin cincin itu bisa bermanfaat."
"Mungkin ya, mungkin tidak," kata Gandalf. "Sebaiknya tidak digunakan,
kalau aku jadi kau. Tapi rahasiakan terus, dan simpanlah dengan aman!
Sekarang aku mau tidur."
Sebagai tuan rumah Bag End, Frodo merasa wajib berpamitan dengan para
tamu, meskipun ia enggan. Selentingan tentang peristiwa-peristiwa ajaib
sekarang sudah menyebar di seantero lapangan, tapi Frodo hanya mau
mengatakan pasti semuanya akan beres besok pagi. Sekitar tengah malam,
kereta-kereta berdatangan menjemput orang-orang penting. Satu demi satu
kereta itu bergulir menghilang, penuh penumpang hobbit yang kenyang tapi tak
puas. Tukang-tukang kebun yang sudah dipesan berdatangan, dan dengan
gerobak dorong memulangkan mereka yang tak sengaja tertinggal.
Malam berlalu lamban. Matahari terbit. Para hobbit bangun agak lebih
siang. Pagi terus merayap. Orang-orang datang dan mulai (atas perintah)
membongkar paviliun dan meja-meja serta kursi, sendok-sendok, pisau, botol
dan piring, lentera-lentera, serta semak-semak berbunga dalam kotak-kotak,
remah-remah dan kertas petasan, kantong-kantong yang terlupakan, sarung
tangan dan saputangan, dan hidangan yang tidak termakan (hanya sedikit
sekali). Lalu sejumlah orang lain datang (tanpa disuruh): dari keluarga Baggins,
Boffin, Bolger, Took, dan tamu-tamu lain yang tinggal di dekat situ. Tengah hari,
ketika orang-orang yang sudah kenyang sekalipun telah berkeliaran lagi, ada
kerumunan besar di Bag End. tak diundang tapi bukan tak terduga.
Frodo menunggu di anak tangga, tersenyum, tapi kelihatan agak letih dan
cemas. Ia menyambut semua pengunjung, tapi tak bisa menyampaikan lebih
banyak daripada sebelumnya. Jawabannya atas semua pertanyaan hanya ini,
"Mr. Bilbo Baggins sudah pergi; sejauh yang kuketahui, untuk selamanya."
Beberapa tamu dipersilakannya masuk, karena Bilbo meninggalkan "pesan"
untuk mereka.
Di koridor ada tumpukan besar berbagai bingkisan, paket, dan perabot
rumah kecil. Setiap benda dipasangi label. Ada beberapa label semacam ini:
Untuk ADELARD TOOK, untuk DIRINYA SENDIRI, dari Bilbo; pada
sebuah payung. Adelard sudah sering membawa pergi payung Bilbo tanpa label.
Untuk DORA BAGGINS, untuk mengenang surat-menyurat yang
PANJANG, teriring kasih sayang dari Bilbo; pada sebuah keranjang sampah
besar. Dora adik perempuan Drogo dan saudara wanita tertua Bilbo dan Frodo
yang masih hidup; usianya sembilan puluh sembilan, dan ia sudah menulis
berlembar-lembar kertas penuh nasihat bagus selama lebih dari separuh abad.
Untuk MILO BURROWS, mudah-mudahan akan bermanfaat, dari B.B.;
pada sebuah pena emas beserta botol tinta. Milo tak pernah membalas surat.
Untuk dipakai ANGELICA, dari Paman Bilbo; pada sebuah cermin bulat
cembung. Ia seorang remaja Baggins, dan jelas menganggap wajahnya sendiri
cantik.
Untuk koleksi HUGO BRACEGIRDLE, dari seorang penyumbang; pada
sebuah rak buku (kosong). Hugo sering meminjam buku, dan jarang, bahkan
tidak pernah, mengembalikannya.
Untuk LOBELIA SACKVILLE-BAGGINS, sebagai HADIAH; pada sebuah
kotak berisi sendok-sendok perak. Bilbo yakin Lobelia mengambil banyak
sendoknya ketika ia sedang pergi mengembara dulu. Lobelia tahu betul itu.
Ketika ia datang agak siang hari itu, ia langsung memahaminya, tapi ia tetap
mengambil sendok-sendok itu.
Itu hanya sebagian kecil dari kumpulan hadiah tersebut. Rumah Bilbo sudah
agak kacau dengan barang-barang yang dikumpulkannya sepanjang hidupnya.
Memang lubang hobbit cenderung penuh sesak: penyebab utama adalah
kebiasaan memberikan hadiah ulang tahun. Tentu saja tidak semua hadiah
ulang tahun selalu baru; ada satu-dua mathom yang gunanya sudah terlupakan,
yang sudah berkeliling di seluruh wilayah; tapi Bilbo biasanya memberikan
hadiah baru. Dan menyimpan hadiah yang diterimanya. Lubang lama sekarang
agak dikosongkan.
Setiap hadiah perpisahan diberi label, yang ditulis secara pribadi oleh
Bilbo, dan beberapa mempunyai maksud tertentu, atau merupakan kelakar. Tapi
tentu saja kebanyakan hadiah diberikan pada orang-orang yang memang
menginginkannya dan menyambutnya dengan baik. Kaum hobbit miskin,
terutama mereka yang tinggal di Bagshot Row, bernasib cukup baik. Gaffer
Gamgee tua mendapat dua karung kentang, sekop baru, rompi wol, dan sebotol
minyak gosok untuk sendi-sendi yang gemerutuk. Sebagai balasan atas
keramahannya menerima kunjungan Bilbo, Rory Brandybuck tua mendapat
selusin botol Old Winyards: anggur merah keras dari Wilayah Selatan, yang kini
sudah cukup matang, karena dulu disimpan ayah Bilbo. Rory memaafkan Bilbo,
dan menyebutnya orang baik sekali setelah ia menghabiskan botol pertama.
Banyak sekali yang ditinggalkan untuk Frodo. Dan tentu saja, semua harta
utama, serta buku-buku, gambar, dan banyak sekali perabot rumah, menjadi
milik Frodo. Namun tak ada tanda-tanda atau berita tentang uang atau
perhiasan: tak ada satu penny pun atau manik-manik kaca yang dibagikan.
Siang itu melelahkan sekali untuk Frodo. Desas-desus keliru bahwa seluruh isi
rumah itu akan dibagikan gratis menyebar sangat cepat, dan dalam sekejap
rumah itu penuh sesak dengan orang-orang yang sebenarnya tidak punya
urusan di sana, tapi tak bisa ditolak. Labellabel mulai terlepas dan tercampur
aduk, dan timbul pertengkaran. Beberapa orang mencoba melakukan pertukaran
dan transaksi di koridor; yang lain mencoba mengambil benda-benda kecil yang
tidak dimaksudkan untuk mereka, atau barang apa saja yang tampaknya tidak
dibutuhkan atau dijaga. Jalan ke gerbang tertutup oleh gerobak dan kereta.
Di tengah keruwetan itu muncul keluarga Sackville-Baggins: Frodo
sedang istirahat sejenak, dan membiarkan sahabatnya Merry Brandybuck
mengawasi keadaan. Ketika Otho dengan nyaring menuntut bertemu dengan
Frodo, Merry membungkuk sopan.
"Dia tidak bisa," kata Merry. "Dia sedang istirahat."
"Bersembunyi, maksudmu," kata Lobelia. "Pokoknya kami mau bertemu
dengannya, dan itu tekad kami. Pergi dan beritahu dia!"
Merry meninggalkan mereka lama sekali di koridor, dan mereka sempat
menemukan hadiah perpisahan mereka yang berupa sendok-sendok. Hal itu
tidak membuat suasana hati mereka jadi lebih baik. Akhirnya mereka dibawa ke
ruang kerja. Frodo sedang duduk di belakang meja, dengan banyak sekali
berkas di depannya. Ia kelihatan enggan untuk menemui pasangan Sackville-
Baggins, dan ia bangkit berdiri sambil memegang-megang sesuatu dengan
gelisah di dalam saku bajunya. Tapi ia berbicara dengan sangat sopan.
Pasangan Sackville-Baggins agak kurang sopan. Mereka mulai dengan
menawar murah (seperti di antara teman-teman) berbagai benda berharga yang
tidak ada labelnya. Ketika Frodo menjawab bahwa hanya barang-barang yang
khusus ditunjuk Bilbo yang dibagi-bagikan, mereka mengatakan seluruh kegiatan
itu mencurigakan.
"Hanya satu hal yang jelas bagiku," kata Otho, "yaitu bahwa kau menarik
keuntungan besar sekali dari semua ini. Aku menuntut melihat surat wasiatnya."
Sebenarnya Otho-lah yang akan menjadi ahli waris, jika Frodo tidak
diadopsi sebagai anak oleh Bilbo. Otho membaca surat wasiat tersebut dengan
saksama dan mendengus. Sayang sekali, surat wasiat itu sangat jelas dan benar
(menurut kebiasaan hukum para hobbit, yang antara lain mensyaratkan tujuh
tanda tangan saksi, memakai tinta merah).
"Gagal lagi!" kata Otho kepada istrinya. "Setelah menunggu enam puluh
tahun. Sendok-sendok? Omong kosong!" ia menjentikkan jarinya di bawah
hidung Frodo dan pergi. Tapi Lobelia tidak begitu mudah disingkirkan. Sejenak
kemudian, Frodo keluar dari ruang kerja untuk melihat keadaan, dan
menemukan Lobelia masih berkeliaran di rumah itu, memeriksa sudut-sudut dan
pojok-pojok dan mengetuk-ngetuk lantai. Frodo dengan tegas menuntunnya
keluar dari rumah, setelah mengambil kembali beberapa benda kecil (tapi
berharga) yang entah bagaimana sudah jatuh ke dalam payung Lobelia.
Ekspresi wajah wanita itu menyiratkan ia sedang memikirkan komentar
perpisahan yang pedas; tapi, sambil membalikkan badannya di tangga, ia hanya
bisa mengatakan,
"Kau akan menyesal, anak muda! Kenapa kau tidak pergi juga? Kau tidak
berhak berada di sini; kau bukan Baggins-kau... kau... seorang Brandybuck!"
"Kaudengar itu, Merry? Itu sebuah penghinaan," kata Frodo sambil
menutup pintu di belakang Lobelia.
"Itu justru pujian," kata Merry Brandybuck, "dan karenanya, tentu, tidak
benar."
***
Lalu mereka berkeliling di lubang itu, dan mengusir tiga anak muda hobbit (dua
Boffin dan satu Bolger) yang sedang menggedor dinding, membuat lubang di
salah satu gudang bawah tanah. Frodo juga bergumul dengan Sancho Proudfoot
muda (cucu Odo Proudfoot tua), yang sudah memulai penggalian di dapur besar,
karena mengira mendengar bunyi gema di sana. Legenda tentang emas Bilbo
menimbulkan harapan dan perasaan ingin tahu; karena emas yang sudah
menjadi legenda (yang diperoleh secara misterius, atau bahkan secara tidak
wajar) secara umum menjadi milik siapa pun yang menemukannya—kecuali bila
pencariannya terhalang.
Ketika Frodo sudah berhasil mengatasi Sancho dan mendorongnya
keluar, ia jatuh terkulai di kursi di koridor. "Sudah saatnya menyudahi kegiatan,
Merry," katanya. "Kuncilah pintu, dan jangan buka untuk siapa pun lagi hari ini,
meski mereka membawa palu godam." Lalu ia pergi menyegarkan diri dengan
secangkir teh yang sudah dingin.
Baru saja ia duduk, terdengar ketukan pelan di pintu depan. "Paling-paling
Lobelia lagi," pikir Frodo. "Pasti dia sudah memikirkan sesuatu yang sangat keji,
dan kembali untuk mengucapkannya. Biar saja dia menunggu.
Ia melanjutkan minum teh. Ketukan itu berulang, lebih keras, tapi Frodo
tidak mengacuhkapnya. Tiba-tiba kepala Gandalf si penyihir muncul di jendela.
"Kalau kau tidak membiarkan aku masuk, Frodo, akan kudobrak pintumu
sampai menembus rumahmu dan keluar ke bukit," katanya.
"Gandalf-ku yang baik! Sebentar!" seru Frodo, lalu ia lari keluar ruangan,
menuju pintu. "Masuk! Masuk! Kukira kau Lobelia."
"Kalau begitu, aku memaafkanmu. Tapi beberapa saat yang lalu aku
melihatnya, mengendarai kereta kuda menuju Bywater dengan ekspresi yang
bisa membuat susu segar mengental."
"Dia hampir saja membuatku mengental. Benar, aku sudah hampir
mencoba memakai cincin Bilbo. Aku ingin sekali menghilang."
"Jangan lakukan aku!" kata Gandalf sambil duduk. "Berhati-hatilah dengan
cincin itu, Frodo! Malah sebenarnya sebagian alasanku datang kemari karena
aku ingin menyampaikan sesuatu."
"Jadi, kenapa?"
"Apa yang sudah kauketahui?"
"Hanya yang diceritakan Bilbo. Aku sudah mendengar ceritanya:
bagaimana dia menemukan cincin itu dan bagaimana dia menggunakannya;
dalam pengembaraannya, maksudku."
"Kisah yang mana, aku ingin tahu," kata Gandalf.
"Oh, bukan yang diceritakannya pada orang-orang kerdil dan yang
ditulisnya dalam bukunya," kata Frodo. "Dia menceritakan kisah sebenarnya, tak
lama setelah aku mulai tinggal di sini. Katanya kau mendesaknya terus sampai
dia menceritakannya padamu, jadi sebaiknya aku juga tahu. 'Tak ada rahasia di
antara kita, Frodo,' kata Bilbo, 'tapi cerita itu tak boleh diteruskan.
Bagaimanapun, cincin itu milikku.’”
"Itu menarik sekali," kata Gandalf "Well, bagaimana menurutmu?"
"Kalau maksudmu isapan jempol tentang cincin yang katanya diberikan
sebagai 'hadiah' itu, yah, menurutku kisah sebenarnya jauh lebih masuk akal,
dan aku tidak mengerti mengapa harus diubah. Sangat di luar kebiasaan Bilbo,
dan menurutku itu agak aneh."
"Aku juga berpendapat begitu. Tapi hal-hal aneh memang bisa terjadi
pada orang-orang yang memiliki harta seperti itu-kalau mereka
menggunakannya. Biarlah ini menjadi peringatan untukmu agar berhati-hati
dengannya. Mungkin cincin itu mempunyai kekuatan-kekuatan lain, bukan
sekadar membuatmu menghilang sesuka hatimu."
"Aku tidak mengerti," kata Frodo.
"Aku juga tidak," jawab Gandalf. "Tapi aku mulai bertanya-tanya tentang
cincin itu, terutama sejak tadi malam. Kau tak perlu khawatir. Tapi kalau kau mau
memperhatikan nasihatku, gunakan sesekali saja, atau bahkan tidak sama
sekali. Setidaknya kumohon kau jangan menggunakannya dengan cara apa pun
yang bakal menimbulkan desas-desus atau kecurigaan. Kukatakan sekali lagi:
simpanlah dengan aman, dan rahasiakan!"
"Kau misterius sekali! Apa yang kautakutkan?"
"Aku tidak yakin, maka aku tidak akan mengatakan lebih banyak. Mungkin
aku bisa menceritakan sesuatu padamu kalau aku sudah kembali. Aku akan
segera pergi: jadi, selamat tinggal untuk sementara ini." ia bangkit berdiri.
"Segera!" seru Frodo. "Wah, kukira kau akan tinggal sedikitnya seminggu.
Aku sudah mengharapkan bantuanmu."
"Memang sebenarnya maksudku begitu, tapi aku terpaksa mengubah
niatku. Mungkin aku akan pergi cukup lama; tapi aku akan datang dan
menemuimu lagi, sesegera mungkin. Tunggulah aku! Aku akan menyelinapdiam-
diam. Aku tidak akan sering-sering lagi berkunjung secara terbuka ke
Shire. Tampaknya aku sudah mulai tidak disukai. Katanya aku mengganggu dan
merusak kedamaian. Bahkan beberapa orang menuduhku mendorong Bilbo
pergi, atau lebih buruk dari itu. Kalau man tahu, katanya ada persekongkolan
antara kau dan aku untuk memperoleh harta Bilbo."
"Keterlaluan!" seru Frodo. "Maksudmu Otho dan Lobelia. Jahat sekali! Aku
mau memberikan Bag End dan semuanya pada mereka, asal aku bisa
mendapatkan Bilbo kembali dan bisa mengembara bersamanya. Aku cinta Shire,
tapi entah mengapa, aku mulai berharap aku juga bisa pergi. Aku bertanyatanya,
apakah aku masih akan bertemu lagi dengannya."
"Aku juga begitu," kata Gandalf. "Dan aku bertanya-tanya tentang banyak
hal lain. Selamat tinggal! Jaga dirimu sendiri! Tunggulah aku, terutama pada
saat-saat tak terduga! Selamat tin-gall"
Frodo mengantar Gandalf sampai ke pintu. Gandalf melambaikan
tangannya untuk terakhir kali, dan berjalan sangat cepat; tapi, menurut Frodo,
penyihir itu berjalan bungkuk sekali, tidak seperti biasanya, seolah ia
mengangkat beban yang sangat berat. Malam mulai turun, dan sosok Gandalf
yang berjubah dengan cepat lenyap ditelan senja. Frodo tidak bertemu lagi
dengannya untuk waktu yang sangat lama.
BAB 2
BAYANGAN MASA LALU
Pembicaraan tidak surut dalam sembilan, bahkan sembilan puluh sembilan, hari.
Lenyapnya Mr. Bilbo Baggins untuk kedua kalinya dibahas di Hobbiton, dan
bahkan di seluruh penjuru Shire, selama setahun dan sehari, dan berada dalam
ingatan lebih lama lagi. Cerita itu malah menjadi dongeng dekat perapian untuk
kaum hobbit muda; dan akhirnya Mr. Baggins, yang biasa menghilang
mendadak, lalu muncul kembali dengan berkantong-kantong permata dan emas,
menjadi tokoh legenda favorit dan tetap hidup, jauh setelah semua kejadian
sebenarnya sudah dilupakan.
Sementara itu, pendapat umum di lingkungan itu adalah bahwa Bilbo,
yang sejak dulu memang agak sinting, rupanya benar-benar gila pada akhirnya,
dan ia menghilang entah ke mana. Pasti ia jatuh ke dalam kolam atau sungai
dan menemui ajal yang tragis, walau bukan dalam usia terlalu muda. Sebagian
besar kesalahan ditimpakan pada Gandalf.
"Kalau saja penyihir keparat itu tidak mengganggu Frodo, mungkin dia
akan mapan dan bisa punya akal sehat, layaknya seorang hobbit," kata mereka.
Dan tampaknya Gandalf memang tidak mengganggu Frodo, dan Frodo mulai
mapan, tapi pertumbuhan akal sehat hobbitnya tidak begitu kentara. Malah ia
langsung mulai melanjutkan reputasi Bilbo dalam hal keanehan. Ia menolak
berkabung, dan tahun berikutnya ia mengadakan pesta untuk menghormati
ulang tahun Bilbo yang keseratus dua belas, yang disebutnya Pesta Bobot
Seratus. Tetapi sebutan itu tidak tepat sasaran, karena hanya dua puluh tamu
Yang diundang, dan ada beberapa kali hidangan makanan berlimpah-limpah—
salju makanan dan hujan minuman, menurut istilah para hobbit.
Beberapa orang agak terkejut, tapi Frodo tetap mempertahankan
kebiasaan mengadakan Pesta Ulang Tahun Bilbo tahun demi tahun, sampai
mereka terbiasa. Frodo mengatakan bahwa menurut pendapatnya, Bilbo tidak
mati. Ketika mereka bertanya, "Kalau begitu, di mana dia?" Ia hanya angkat
bahu.
Frodo hidup sendirian, seperti Bilbo dulu; tapi ia punya cukup banyak
teman, terutama di antara para hobbit muda (kebanyakan keturunan Old Took)
yang semasa kanak-kanak sangat menyukai Bilbo dan sering keluar-masuk Bag
End. Folco Boffin dan Fredegar Bolger adalah dua di antaranya; tapi sahabatnya
yang terdekat adalah Peregrin Took (biasanya dipanggil Pippin), dan Merry
Brandybuck (nama sebenarnya Meriadoc, tapi jarang diingat orang). Frodo
sering berkeliaran di seluruh Shire bersama mereka, tapi ia lebih sering berjalanjalan
sendirian. Yang mengherankan orang-orang yang berakal sehat, kadangkadang
ia terlihat jauh dari rumah, berjalan-jalan di bukit-bukit dan hutan, di
bawah cahaya bintang. Merry dan Pippin menduga Frodo sesekali mengunjungi
kaum Peri, seperti yang dilakukan Bilbo dulu.
Dengan berlalunya waktu, orang-orang memperhatikan bahwa Frodo juga
memperlihatkan tanda-tanda "awet muda" yang bagus: dari luar ia tampak
seperti hobbit usia dua puluhan yang tegap dan bersemangat. "Beberapa orang
selalu beruntung," kata mereka; tapi baru ketika Frodo mendekati usia lima
puluhan- yang lebih bijaksana, mereka mulai menganggap hal itu aneh.
Frodo sendiri, walau mula-mula merasa terkejut, lambat laun menyadari
bahwa menjalani hidup sendiri dan dikenal sebagai Mr. Baggins dari Bag End
ternyata cukup menyenangkan. Selama beberapa tahun ia cukup bahagia dan
tidak begitu cemas tentang masa depan. Tapi, tanpa ia sadari, penyesalannya
bahwa ia tidak pergi bersama Bilbo lambat laun semakin berkembang. Kadangkadang
ia bertanya dalam hati, terutama di musim gugur, tentang negeri-negeri
liar, dan pemandangan aneh gunung-gunung yang belum pernah dilihatnya,
yang muncul dalam mimpi-mimpinya. Ia mulai berkata pada dirinya sendiri,
"Mungkin suatu hari nanti aku sendiri akan menyeberangi Sungai." Namun
bagian pikirannya yang lain selalu menjawab, "Belum sekarang."
Begitu terus, sampai usia empat puluhannya habis dan ulang tahunnya
yang kelima puluh mulai dekat: lima puluh adalah angka yang menurut perasaan
Frodo sangat penting (atau mengancam); setidaknya pada usia itulah
petualangan Bilbo mendadak dimulai: Frodo mulai merasa gelisah, dan semua
jalan lama tampak sudah terlalu sering dijalani. Ia mengamati peta-peta, dan
bertanya-tanya apa yang ada di luar perbatasannya. Ia mulai berjalan lebih jauh;
dan lebih sering sendirian; Merry dan sahabat-sahabatnya yang lain
memperhatikannya dengan cemas. Ia sering terlihat berjalan dan bercakapcakap
dengan pelancong-pelancong asing yang saat itu mulai bermunculan di
Shire.
Banyak selentingan tentang kejadian-kejadian aneh di dunia luar; dan karena
Gandalf masih belum muncul atau mengirimkan kabar selama beberapa tahun,
maka Frodo mengumpulkan sebanyak mungkin berita. Kaum Peri, yang jarang
berjalan di Shire, sekarang suka tampak melintas ke arah barat, melalui hutanhutan
di senja hari, lewat tapi tidak kembali; mereka meninggalkan Dunia
Tengah dan sudah tidak mempedulikan masalah-masalahnya. Namun banyak
sekali kurcaci-kurcaci yang ada di jalan. Jalan Timur-Barat melintasi Shire
sampai ke ujungnya di Grey Havens, dan para kurcaci selama ini selalu
menggunakannya dalam perjalanan ke tambang mereka di Pegunungan Biru.
Merekalah sumber utama berita dari luar daerah untuk para hobbit-kalau mereka
ingin tahu; biasanya kurcaci tidak banyak bicara, dan para hobbit tidak banyak
bertanya. Tapi kini Frodo sering bertemu kurcaci-kurcaci asing dari negaranegara
jauh yang mengungsi ke Barat. Mereka gelisah, dan beberapa berbisikbisik
tentang Musuh dan tentang Negeri Mordor.
Nama itu hanya dikenal para hobbit dalam legenda-legenda masa lalu
yang gelap, seperti bayangan di latar belakang ingatan mereka, tapi terasa
mengancam dan meresahkan. Dulu kekuatan jahat di Mirkwood sudah diusir
oleh Dewan Penasihat Putih, tapi sekarang muncul kembali dengan kekuatan
berlipat ganda di benteng-benteng kuno Mordor. Kabarnya Menara Kegelapan
sudah dibangun kembali. Dari sana kekuatan jahat itu menyebar sampai jauh
dan luas, di timur dan selatan banyak peperangan dan ketakutan yang semakin
besar. Bangsa Orc berkembang biak lagi di pegunungan. Troll-troll berada di luar
wilayah mereka, tidak lagi bodoh, tetapi cerdik dan punya senjata mengerikan.
Dan ada bisik-bisik tentang makhluk-makhluk yang lebih mengerikan daripada
semua yang sudah disebutkan, tetapi makhluk-makhluk itu tidak bernama.
Tentu saja hanya sedikit dari berita-berita ini yang sampai ke telinga Para hobbit.
Tetapi bahkan hobbit yang paling tuli dan biasa tinggal di rumah pun mulai
mendengar kisah-kisah aneh; dan mereka yang mempunyai urusan yang
membawa mereka ke perbatasan, melihat hal-hal aneh. Percakapan di Naga
Hijau di Bywater, pada suatu senja di tahun kelima puluh usia Frodo,
menunjukkan bahwa bahkan di jantung Shire yang paling nyaman sekalipun
beredar berbagai desas-desus, meskipun kebanyakan hobbit menertawakannya.
Sam Gamgee sedang duduk di pojok dekat api, di seberangnya ada Ted
Sandyman, putra si penggiling; dan ada beberapa hobbit dusun mendengarkan
pembicaraan mereka.
"Banyak hal aneh yang terdengar akhir-akhir ini," kata Sam.
"Ah," kata Ted, "tentu terdengar kalau kaudengarkan. Tapi aku bisa
mendengar cerita-cerita dekat perapian dan dongeng anak-anak di rumah, kalau
aku mau."
"Sudah pasti," jawab Sam pedas, "dan aku berani bilang cerita-cerita itu
mengandung kebenaran lebih banyak daripada yang kauduga. Siapa yang
mengarang cerita-cerita itu, sih? Misalnya tentang naga."
"Tidak, terima kasih," kata Ted, "aku tak mau. Aku sudah mendengar
tentang naga sejak aku masih kecil, tapi talc ada alasan untuk mempercayainya
sekarang. Hanya ada satu Naga di Bywater sekarang, dan dia Hijau," kata Ted,
dan semua tertawa.
"Baik," kata Sam, ikut tertawa bersama yang lain. "Tapi bagaimana
dengan Manusia-Manusia-pohon, yang mungkin bisa disebut raksasa itu? Kata
mereka, di luar North Moors belum lama ini terlihat satu raksasa yang lebih besar
daripada pohon."
"Siapa mereka?"
"Sepupuku Hal salah satunya. Dia bekerja untuk Mr. Boffin di Overhill, dan
sering ke Wilayah Utara untuk berburu. Dia melihat satu."
"Mengaku-aku melihat, mungkin. Hal-mu itu selalu mengatakan melihat
sesuatu; mungkin juga dia melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada."
"Tapi yang ini sebesar pohon elm, dan berjalan-setiap langkahnya sejauh
tujuh meter, tidak main-main."
"Kalau begitu, aku bertaruh itu main-main. Yang dia lihat memang pohon
elm, pasti begitu."
"Tapi yang ini berjalan, benar-benar berjalan; dan tidak ada pohon elm di
North Moors."
"Kalau begitu, Hal memang tidak melihat pohon elm," kata Ted. Bunyi
tawa dan tepuk tangan bergema; yang lain menganggap Ted menang satu
angka.
"Bagaimanapun," kata Sam, "kau tidak bisa mengelak bahwa orang lain
selain Halfast sudah melihat banyak orang aneh melintasi Shire—melintasi,
perhatikan itu; lebih banyak lagi yang dilarang masuk di perbatasan. Para
Penjaga Perbatasan belum pernah sesibuk ini.
"Dan kudengar para Peri pindah ke barat. Katanya mereka akan pergi ke
pelabuhan, jauh di sana, di luar Menara-Menara Putih." Sam mengibaskan
tangannya samar-samar: baik dia maupun yang lain tidak tahu seberapa jauh
jarak ke Laut, melewati menara-menara tua di luar perbatasan barat Shire. Tapi
sudah menjadi tradisi bahwa jauh di sana terdapat Grey Havens, dari mana
sesekali kapal-kapal para Peri berlayar, dan tak pernah kembali.
"Mereka berlayar, berlayar, berlayar mengarungi Laut, mereka pergi ke
Barat dan meninggalkan kita," kata Sam, setengah menyanyikan kata-kata itu,
menggelengkan kepalanya dengan sedih dan khidmat. Tapi Ted tertawa.
"Well, itu bukan hal baru, kalau kau percaya dongeng-dongeng kuno. Dan
aku tidak mengerti, apa hubungannya itu dengan kau atau aku. Biarkan mereka
berlayar! Tapi aku yakin kau belum pernah melihat mereka melakukan itu; juga
orang-orang lain di Shire ini."
"Well, aku tidak tahu," kata Sam sambil merenung. Ia percaya ia pernah
melihat seorang Peri di hutan, dan ia masih berharap akan melihatnya lagi suatu
hari nanti. Dari semua legenda yang sudah didengarnya semasa kanak-kanak,
potongan-potongan dongeng dan kisah-kisah yang setengah diingatnya tentang
Peri, seperti yang diketahui hobbit, itulah yang paling menyentuh hatinya. "Ada
beberapa orang, bahkan di wilayah ini, yang kenal Bangsa Halus ini dan
mendengar kabar tentang mereka," kata Sam. "Misalnya Mr. Baggins, pada
siapa aku bekerja. Dia bercerita bahwa mereka suka berlayar, dan dia tahu
sedikit tentang kaum Peri. Dan Mr. Bilbo tua tahu lebih banyak: aku banyak
mengobrol dengannya ketika aku masih kecil."
"Oh, mereka berdua kan. sinting," kata Ted. "Bilbo tua jelas sinting, dan
Frodo sekarang mulai sinting. Kalau kau mendapat beritamu dari sana, kau tidak
bakal pernah kekurangan omong kosong. Yah, kawan-kawan, aku mau pulang.
Semoga sehat selalu!" ia menghabiskan minumannya dan pergi dengan berisik.
Sam duduk diam dan tidak berbicara lagi. Banyak sekali yang perlu
dipikirkannya. Salah satunya, masih banyak pekerjaannya di kebun Bag End,
dan besok ia akan sibuk sekali, kalau cuaca cerah. Rumput tumbuh sangat
cepat. Tapi yang dipikirkan Sam bukan sekadar berkebun. Setelah beberapa
saat, ia menarik napas panjang dan bangkit berdiri, lalu keluar.
Saat itu awal April, dan langit bersih setelah hujan lebat. Matahari sudah
terbenam, dan senja sejuk dan pucat diam-diam melebur menjadi malam. Sam
berjalan pulang di bawah bintang-bintang, melewati Hobbiton dan naik ke Bukit,
sambil bersiul perlahan dan merenung.
Pada saat itulah Gandalf muncul kembali setelah lama tidak hadir. Selama tiga
tahun sejak Pesta Bilbo ia tidak datang. Lalu ia mengunjungi Frodo sebentar,
dan pergi lagi setelah mengamatinya dengan saksama. Selama satu-dua tahun
berikutnya ia cukup sering muncul, datang tak terduga setelah senja, dan pergi
tiba-tiba sebelum fajar. Ia tidak mau membahas urusan dan perjalananperjalanannya
sendiri, dan kelihatannya ia terutama tertarik pada berita-berita
kecil tentang kesehatan dan tingkah laku Frodo.
Kemudian mendadak kunjungan-kunjungannya berhenti. Sudah lebih dari
sembilan tahun Frodo tidak mendengar kabar dan Gandalf atau melihatnya, dan
ia sudah mulai berpikir penyihir itu takkan kembali dan sudah kehilangan minat
kepada para hobbit. Tapi sore itu, ketika Sam sudah pulang dan senja mulai
memudar, terdengar bunyi ketukan yang dulu begitu akrab di jendela ruang
belajar.
Frodo menyambut sahabat lamanya dengan terkejut dan sangat senang.
Mereka saling menatap dengan tajam.
"Semuanya baik-baik yah?" kata Gandalf. "Kau masih tampak sama,
Frodo!"
"Kau juga," jawab Frodo; tapi dalam hati ia berpikir bahwa Gandalf
kelihatan lebih tua dan letih. Frodo mendesak Gandalf bercerita tentang dirinya
sendiri dan kabar-kabar dari dunia luas; mereka segera terlibat pembicaraan
serius, dan belum tidur sampai larut malam.
Pagi berikutnya, setelah sarapan siang sekali, penyihir itu duduk bersama Frodo
di dekat jendela terbuka ruang kerja. Api terang menyala di perapian, tapi
matahari terasa panas, dan angin berembus dari Selatan. Semua kelihatan
segar, kehijauan musim semi yang baru berkilauan di padang rumput dan di
ujung jemari pepohonan.
Gandalf memikirkan pagi musim semi hampir delapan puluh tahun yang
lalu, ketika Bilbo lari keluar dari Bag End tanpa saputangan. Mungkin rambutnya
sekarang sudah lebih putih daripada saat itu, janggut serta alisnya mungkin lebih
panjang, dan wajahnya lebih tergurat kepedulian dan kebijaksanaan; tapi
matanya masih sama jernihnya, dan ia merokok serta meniup lingkaranlingkaran
asap dengan semangat dan keceriaan yang sama.
Sekarang ia merokok dalam diam, karena Frodo juga duduk diam,
merenung. Bahkan dalam cahaya pagi yang cerah itu ia bisa merasakan bayangbayang
gelap dari kabar yang dibawa Gandalf. Akhirnya ia memecah kesunyian
tersebut.
"Tadi malam kau mulai menceritakan hal-hal aneh tentang cincinku,
Gandalf," kata Frodo. "Lalu kau berhenti, karena menurutmu hal-hal seperti itu
lebih baik dibicarakan di pagi hari. Apa tidak sebaiknya kauselesaikan ceritamu
sekarang? Katamu cincin itu berbahaya, jauh lebih berbahaya daripada yang
kuduga. Dalam hal apa?"
"Dalam banyak hal," jawab penyihir itu. "Cincin itu jauh lebih kuat daripada
yang kusangka semula; begitu kuat, sampai akhirnya dia akan menguasai
makhluk hidup mana pun yang memilikinya. Cincin itu yang akan memilikinya.
"Di Eregion, di masa lalu, banyak dibuat cincin Peri; cincin sihir, begitu kau
menyebutnya, dan beragam pula macamnya: beberapa lebih ampuh dan
beberapa tidak begitu ampuh. Cincin yang kurang bagus hanyalah percobaan
dalam kriya ini sampai dia matang, dan bagi para pandai besi Peri, cincin
semacam itu tidak ada artinya-tapi menurutku tetap sangat berbahaya bagi
makhluk hidup. Tetapi Cincin-Cincin Agung, Cincin-Cincin Kekuasaan, mereka
amat sangat berbahaya.
"Makhluk hidup yang menyimpan salah satu Cincin Agung itu, Frodo, tidak
akan mati, tetapi dia juga tidak akan tumbuh atau memperoleh kehidupan lebih
banyak, dia hanya berlanjut terus, sampai akhirnya setiap menit terasa
meletihkan. Dan kalau dia sering menggunakan Cincin itu untuk membuat dirinya
tidak tampak, dia akan memudar: akhirnya dia akan selamanya tidak tampak; dia
akan berjalan dalam bayang-bayang, di bawah mata kekuasaan gelap yang
mengendalikan Cincin-Cincin itu. Ya, cepat atau lambat-lambat, kalau dia kuat
atau berniat baik pada awalnya, tetapi baik kekuatan maupun niat baik tidak
akan bisa bertahan-cepat atau lambat kekuatan gelap itu akan melahapnya."
"Menakutkan sekali!" kata Frodo. Lalu keduanya kembali berdiam diri...
lama. Suara Sam Gamgee memangkas kebun terdengar dari arah halaman.
"Sudah berapa lama kau mengetahui ini?" tanya Frodo akhirnya. "Dan
seberapa banyak yang diketahui Bilbo?"
"Aku yakin Bilbo tidak tahu lebih dari yang diceritakannya padamu," kata
Gandalf. "Dia pasti tidak akan mewariskan sesuatu yang diduganya berbahaya
padamu, meski aku berjanji akan mengawasimu.
Menurutnya cincin itu indah sekali, dan sangat bermanfaat bila
dibutuhkan; kalau ada sesuatu yang salah atau aneh, sesuatu itu adalah dirinya
sendiri. Dia mengatakan 'cincin itu memberatkan pikirannya', dan dia selalu
mencemaskannya; tapi dia tidak curiga bahwa cincin itulah penyebabnya. Tapi
dia menemukan bahwa benda itu perlu dirawat; ukurannya atau bobotnya tidak
selalu sama; cincin itu bisa mengecil atau membesar dengan cara yang aneh,
dan bisa tiba-tiba lolos dari jari yang semula pas mengenakannya."
"Ya, dia memperingatkan aku tentang itu dalam suratnya yang terakhir,"
kata Frodo, "maka aku selalu menyimpannya terikat pada rantainya."
"Bijak sekali," kata Gandalf. "Tapi tentang hidupnya yang panjang, Bilbo
tak pernah menghubungkannya dengan cincin itu. Dia menganggap itu
kehebatannya sendiri, dan dia sangat bangga akan hal itu. Meskipun dia mulai
merasa resah dan gelisah. Aku merasa tipis dan terulur, katanya. Suatu tanda
bahwa cincin itu sudah mulai mengendalikannya."
"Sudah berapa lama kau tahu semua ini?" tanya Frodo lagi.
"Tahu?" kata Gandalf. "Aku sudah tahu banyak hal yang hanya diketahui
kaum Bijak, Frodo. Tapi kalau maksudmu 'tahu tentang cincin ini', yah, aku
masih belum tahu, bisa dikatakan begitu. Ada hal terakhir yang harus diuji. Tapi
aku sudah tidak meragukan dugaanku.
"Kapan aku pertama mulai menduga?" renting Gandalf sambil mencaricari
dalam ingatannya. "Coba kuingat-ingat-Bilbo menemukan cincinnya di tahun
ketika Dewan Penasihat Putih mengusir kekuatan gelap dari Mirkwood, tepat
sebelum Pertempuran Lima Pasukan. Rasa takut menyelimuti hatiku saat itu,
meski aku belum tahu apa yang kutakuti. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana
Gollum bisa mendapatkan Cincin Agung itu-bahwa itu Cincin Agung, setidaknya
sudah jelas dari awal. Lalu aku mendengar kisah aneh dari Bilbo, tentang
bagaimana dia 'memenangkannya', dan aku tidak percaya. Ketika akhirnya aku
berhasil mengorek kebenarannya, langsung kusadari bahwa dia mencoba
mengaku-aku kepemilikannya atas cincin itu. Mirip sekali dengan Gollum, yang
mengatakan cincin itu adalah 'hadiah ulang tahunnya'. Kebohongan-kebohongan
itu terlalu mirip, sehingga aku curiga. Jelas cincin itu memiliki kekuatan tak sehat
yang langsung mempengaruhi pemiliknya. Itu peringatan pertama yang kudapat
bahwa ada bahaya besar. Sering sekali aku mengatakan pada Bilbo bahwa
cincin-cincin seperti itu lebih baik tidak digunakan; tapi dia tak senang, dan
menjadi marah. Tak banyak yang bisa kulakukan. Aku tak bisa mengambil cincin
itu darinya tanpa menyebabkan kerusakan lebih parah; dan bagaimanapun, aku
tidak berhak melakukan itu. Aku hanya bisa memperhatikan dan menunggu.
Mungkin aku bisa meminta nasihat Saruman si Putih, tapi selalu ada saja yang
menahanku."
"Siapa Saruman itu?" tanya Frodo. "Aku belum pernah mendengar
namanya."
"Mungkin tidak," jawab Gandalf. "Kaum hobbit tidak menjadi perhatiannya.
Namun dia termasuk di antara kaum Bijak. Dia kepala ordo-ku dan ketua Dewan
Penasihat. Pengetahuannya dalam sekali, tapi kesombongannya ikut tumbuh
seiring pengetahuannya, dan dia sangat tidak menyukai campur tangan. Adatistiadat
dan pengetahuan tentang Cincin-Cincin Peri, besar maupun kecil, adalah
wilayahnya. Dia sudah lama mempelajarinya, mencari rahasia yang hilang
tentang pembuatan mereka; tapi ketika Cincin-Cincin itu dibahas dalam Dewan
Penasihat, segala sesuatu yang diungkapkannya pada kami tentang cincin itu
meredam ketakutanku. Maka keraguanku terlena—tapi dengan perasaan
gelisah. Aku tetap memperhatikan dan menunggu.
"Dan semuanya kelihatan baik-baik saja dengan Bilbo. Tahun-tahun
berlalu. Ya, berlalu, dan tampaknya tidak menyentuh Bilbo. Dia tidak kelihatan
bertambah tua. Kekhawatiran itu timbul lagi di hatiku. Tapi aku berkata pada
diriku sendiri, 'Bagaimanapun, dia berasal dari keturunan yang berumur panjang
dari pihak ibunya. Masih ada waktu. Tunggulah!'
"Dan aku menunggu. Sampai malam itu, ketika Bilbo pergi dari rumahnya.
Dia mengatakan dan melakukan hal-hal yang menimbulkan ketakutan besar
dalam hatiku, yang tak bisa dihilangkan oleh kata-kata Saruman. Akhirnya
tahulah aku bahwa sesuatu yang gelap dan mematikan sedang bekerja. Dan
sejak itu kuhabiskan sebagian besar waktuku untuk mencari kebenaran
sesungguhnya tentang cincin itu."
"Tak ada bahaya permanen, bukan?" tanya Frodo dengan cemas. "Dia
akan baik-baik saja pada waktunya, bukan? Maksudku, bisa beristirahat dalam
damai?"
"Dia Ian-sung merasa lebih baik," kata Gandalf. "Tapi hanya ada satu
Kekuatan di dunia ini yang tahu semuanya tentang Cincin-Cincin ini dan
pengaruhnya; dan sejauh yang kuketahui, tak ada Kekuatan di dunia ini yang
tahu segalanya tentang hobbit. Di antara kaum Bijak, hanya aku seorang "yang
man mempelajari adat-istiadat dan pengetahuan tentang hobbit: suatu cabang
pengetahuan yang tak dikenal, tapi penuh kejutan. Mereka bisa selembek
mentega, tapi kadang-kadang sekokoh akar-akar pohon tua. Mungkin ada hobbit
yang bisa menolak Cincin-Cincin itu jauh lebih lama dari yang diyakini kaum
Bijak. Kukira kau tidak perlu cemas tentang Bilbo.
"Memang dia sudah bertahun-tahun memiliki cincin itu, dan
menggunakannya, jadi mungkin perlu waktu lama sampai pengaruhnya hilangsebelum
aman baginya untuk melihatnya lagi, misalnya. Bagaimanapun, dia bisa
hidup bertahun-tahun lagi dengan bahagia: tetap sama seperti saat dia berpisah
dengan cincin itu, karena akhirnya dia melepaskannya atas kerelaannya sendiri:
ini suatu pokok penting. Tidak, aku tidak cemas lagi tentang Bilbo, begitu dia
melepaskan cincin itu. Terhadap dirimulah aku merasa bertanggung jawab.
"Sejak Bilbo pergi, aku sangat khawatir tentang dirimu, dan semua hobbit
yang memikat, konyol, dan tak berdaya ini. Akan menjadi suatu pukulan
menyedihkan bagi dunia, kalau Kekuasaan Gelap menguasai Shire; kalau
semua Bolger, Hornblower, Boffin, Bracegirdle dan yang lainnya, tak lupa para
Baggins konyol, diperbudak olehnya."
Frodo menggigil. "Tapi kenapa harus begitu?" tanyanya. "Dan untuk apa
dia menginginkan budak-budak seperti itu?"
"Sejujurnya," jawab Gandalf, "aku yakin selama ini—selama ini, camkan
itu—dia sama sekali tidak melihat keberadaan para hobbit. Kau boleh bersyukur.
Tapi keamanan kalian sudah hilang. Dia tidak membutuhkan kalian-dia punya
banyak budak lain yang berguna tapi dia tidak akan melupakan kalian lagi. Dan
para hobbit sebagai budak-budak sengsara akan jauh lebih menyenangkan
hatinya daripada hobbit yang bebas dan bahagia. Di dunia ini ada yang namanya
kedengkian dan balas dendam!"
"Balas dendam?" kata Frodo. "Balas dendam untuk apa? Aku masih
belum mengerti, apa hubungannya semua ini dengan Bilbo dan aku, dan cincin
kita."
"Semuanya berhubungan," kata Gandalf. "Kau belum tahu bahaya yang
sebenarnya; tapi kau akan tahu. Aku sendiri belum yakin ketika terakhir aku
berada di sini; tapi sekarang sudah tiba saatnya untuk mengungkapkannya.
Berikan cincin itu padaku sebentar."
Frodo mengambil cincin itu dari saku celananya; cincin itu disambungkan dengan
sebuah rantai yang tergantung dari ikat pinggangnya. Ia melepaskannya dan
dengan perlahan memberikannya kepada penyihir itu. Mendadak cincin itu
terasa lebih berat, seolah Frodo sendiri atau cincin itu sendiri agak enggan
disentuh Gandalf.
Gandalf mengangkatnya. Kelihatannya cincin itu terbuat dari emas murni
dan padat. "Kau bisa melihat tulisan di atasnya?" tanyanya.
"Tidak," kata Frodo. "Tidak ada apa-apa. Cincin itu polos sekali, dari tidak
pernah memperlihatkan tanda goresan atau tanda usang."
"Kalau begitu, lihatlah!" Dengan tercengang dan cemas Frodo
menyaksikan penyihir itu tiba-tiba melemparkan cincin tersebut ke tengah ujung
api yang menyala. Frodo berteriak dari meraih penjepit, tapi Gandalf
menahannya.
"Tunggu!" katanya dengan nada memerintah, sambil melirik cepat ke arah
Frodo dari balik alisnya yang tebal berdiri.
Tak ada perubahan nyata pada cincin itu. Setelah beberapa saat, Gandalf
berdiri dari menutup tirai. Ruangan itu menjadi gelap dan sunyi, meski bunyi
gunting Sam yang sekarang lebih dekat ke jendela masih terdengar samarsamar
dari arah kebun. Sejenak penyihir itu berdiri menatap api; lalu ia
membungkuk, memindahkan cincin tersebut dengan penjepit ke atas perapian,
dari langsung memegangnya. Frodo terkesiap.
"Cukup dingin," kata Gandalf. "Ambil!" Frodo menerimanya di atas telapak
tangannya yang mengerut. Tampaknya cincin itu lebih tebal dan berat daripada
sebelumnya.
"Angkat!" kata Gandalf. "Dan perhatikan dengan cermat!"
Frodo melakukannya, dan melihat garis-garis halus, lebih halus daripada
sapuan pena terhalus, tertera di cincin itu, pada bagian luar maupun dalam:
garis-garis api yang seperti membentuk huruf-huruf suatu tulisan yang mengalir.
Garis-garis itu menyala tajam, namun jauh, seolah dari suatu kedalaman.
"Aku tidak bisa membaca huruf-huruf menyala ini," kata Frodo dengan
suara gemetar.
"Tidak," kata Gandalf, "tapi aku bisa. Huruf-huruf ini tulisan Peri, dari
langgam kuno, tetapi bahasanya dari Mordor, yang tidak akan kuucapkan di sini.
Namun dalam Bahasa Umum artinya kira-kira begini:
Satu Cincin 'tuk membawa mereka semua
dan dalam kegelapan mengikat mereka.
Itu hanya dua baris dari syair yang sudah lama dikenal dalam adat-istiadat Peri:
Tiga Cincin untuk raja-raja Peri di bawah langit,
Tujuh untuk raja-raja Kurcaci di balairung batu mereka,
Sembilan untuk Insan Manusia yang ditakdirkan mati,
Satu untuk Penguasa Kegelapan di takhtanya yang kelam
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.
Satu Cincin 'tuk menguasai mereka semua,
Satu Cincin 'tuk menemukan mereka,
Satu Cincin 'tuk membawa mereka semua
dan dalam kegelapan mengikat mereka
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.
Gandalf berhenti, lalu berkata perlahan dengan suara dalam, "Ini adalah
Cincin Utama, Cincin yang Satu untuk menguasai mereka semua. Inilah Cincin
Utama yang hilang beberapa abad yang lalu, hingga sangat melemahkan
kekuatannya. Dia sangat berhasrat memilikinya—tapi jangan sampai dia
memperolehnya."
Frodo duduk diam tak bergerak. Ketakutan seolah mengulurkan
tangannya, seperti awan gelap yang terbit di Timur, dan bayangannya seakanakan
hendak menelannya. "Cincin ini!" ia berkata terbata-bata. "Bagaimana,
bagaimana sampai bisa jatuh ke tanganku?"
"Ah!" kata Gandalf. "Ceritanya panjang sekali. Awalnya dimulai pada Tahun-
Tahun Hitam, yang sekarang hanya diingat para ahli dongeng. Jika aku harus
menceritakan seluruh kisah itu padamu, bisa-bisa kita masih duduk di sini saat
Musim Semi berganti ke Musim Dingin.
"Tapi tadi malam aku sudah menceritakan tentang Sauron yang Perkasa,
Penguasa Kegelapan. Selentingan-selentingan yang sudah kaudengar memang
benar: dia memang sudah bangkit kembali dan meninggalkan kubunya di
Mirkwood, kembali ke wilayah kekuasaannya yang luas di masa lampau di
Menara Kegelapan di Mordor. Pasti nama itu sudah pernah terdengar oleh kaum
hobbit, seperti sebuah bayangan di perbatasan kisah-kisah kuno. Selalu setelah
kalah dan beristirahat, sang Bayangan berubah wujud dan tumbuh lagi."
"Seandainya hal ini tak perlu terjadi di masa hidupku," kata Frodo.
"Aku pun berharap begitu," kata Gandalf, "begitu pula semua orang yang
hidup dan mengalami masa-masa seperti itu. Tapi bukan hak mereka untuk
menentukan. Yang perlu kita putuskan adalah apa
yang akan kita lakukan dengan waktu yang diberikan pada kita. Dan
Frodo, waktu kita sudah mulai gelap. Musuh dengan cepat bertambah kuat.
Rencana-rencananya masih jauh dari matang, tapi sedang menuju kematangan.
Kita akan sangat kesulitan. Kita akan sangat kesulitan, meski tidak terjadi
kebetulan yang mengerikan ini.
"Musuh masih kekurangan satu hal untuk memberinya kekuatan dan
pengetahuan untuk mematahkan semua perlawanan, meruntuhkan pertahanan
terakhir, dan menyelimuti semua negeri dalam kegelapan kedua. Dia tidak
mempunyai Cincin Utama.
"Tiga Cincin, yang paling indah, disembunyikan oleh para Raja Peri, dan
tangannya belum pernah menyentuh atau menodai ketiganya. Tujuh menjadi
milik kaum Kurcaci, tapi dia sudah berhasil mendapatkan tiga, dan yang lainnya
dimakan naga-naga. Sembilan diberikannya kepada Makhluk Manusia yang
angkuh dan agung, untuk menjerat mereka. Lama berselang mereka jatuh di
bawah kekuasaan yang Satu itu, dan mereka menjadi Hantu Cincin, bayangbayang
di bawah Bayangan-nya yang besar, pelayan-pelayannya yang paling
mengerikan. Sudah lama sekali. Sudah lama sekali sejak kaum Sembilan itu
pergi ke luar wilayah mereka. Tapi siapa tahu? Kalau Bayangan itu tumbuh lagi,
mungkin mereka juga akan berkeliaran lagi. Tapi ayolah! Kita tidak akan
membahas hal-hal semacam itu di pagi hari di Shire.
"Jadi, begitulah sekarang: yang Sembilan sudah dikumpulkannya sendiri;
yang Tujuh juga, atau kalau tidak mereka sudah hancur. Yang Tiga masih
tersembunyi. Tapi itu sudah bukan masalah untuknya. Dia hanya membutuhkan
yang Utama; karena dia sendiri yang membuat Cincin itu, cincin itu miliknya, dan
dia memasukkan sebagian besar kekuatannya di masa lalu ke dalam cincin itu,
agar bisa mengendalikan semua yang lain. Kalau dia menemukannya, dia akan
kembali memerintah mereka semua, di mana pun mereka berada, bahkan juga
yang Tiga itu, dan semua yang sudah dibuat bersamaan dengan mereka akan
terbuka, dan dia akan semakin kuat.
"Dan inilah kemungkinan yang mengerikan, Frodo. Semula dia
menyangka Cincin Utama sudah hancur; bahwa kaum Peri sudah
menghancurkannya, seperti seharusnya. Tapi kini dia tahu bahwa cincin itu tidak
hancur, bahwa cincin itu ditemukan. Jadi, sekarang dia mencarinya, mencarinya,
dan seluruh tekadnya ditujukan pada cincin itu. Cincin itu menjadi harapannya
yang besar, dan ketakutan kita yang besar."
"Kenapa, kenapa tidak dihancurkan?" seru Frodo. "Dan bagaimana
Musuh sampai bisa kehilangan cincin itu kalau dia begitu kuat, dan kalau cincin
itu begitu berharga baginya?" Frodo menggenggam erat Cincin itu, seolah ia
sudah melihat jari-jari gelap yang menggapai-gapai untuk merebutnya.
"Cincin itu diambil darinya," kata Gandalf. "Kekuatan kaum Peri zaman
dulu lebih besar untuk melawannya; dan tidak semua Manusia terasing dari
mereka. Orang-Orang Westernesse datang membantu mereka. Itu suatu bab
yang patut diingat dalam sejarah kuno; karena di masa itu juga ada
kesengsaraan, dan kegelapan yang semakin meluas, tapi juga ada keberanian
dan perbuatan-perbuatan besar yang tidak sia-sia. Suatu hari nanti mungkin aku
akan menceritakan seluruh kisah ini, atau kau akan mendengar keseluruhannya
dari dia yang paling tahu.
"Tapi untuk sementara ini, yang paling perlu kauketahul hanyalah
bagaimana cincin ini sampai kepadamu; aku saja sudah merupakan kisah
panjang, jadi itu saja yang akan kuceritakan. Adalah Gil-galad, raja Peri, dan
Elendil dari Westernesse yang menggulingkan Sauron. meski mereka sendiri
tewas dalam pertempuran itu; putra Elendil, Isildur, memotong cincin aku dari jari
tangan Sauron dan mengambilnya. Lalu Sauron ditaklukkan dan rohnya lari
bersembunyi lama sekali, sampai bayangannya mulai berwujud kembali di
Mirkwood.
"Tetapi Cincin itu hilang. Dia jatuh ke dalam Sungai Besar Anduin, dan
lenyap, karena Isildur berjalan ke utara, sepanjang tepi sebelah timur Sungai. Di
dekat Gladden Fields dia dihadang kaum Orc dari Pegunungan; hampir semua
pengikutnya dibantai. Dia melompat ke dalam air, tetapi Cincin aku terlepas
ketika dia berenang, lalu para Orc melihatnya dan membunuhnya dengan anak
panah."
Gandalf berhenti. "Dan di sana, di kolam-kolam gelap di tengah Gladden
Fields," katanya, "Cincin itu hilang dari pengetahuan dan legenda; riwayatnya
hanya diketahui sedikit orang, dan Dewan Penasihat tak bisa menemukan lebih
banyak dari itu. Tapi kupikir akhirnya aku bisa melanjutkan kisah itu."
"Jauh setelah itu, tetapi masih lama berselang, di tepi Sungai Besar di
perbatasan Belantara tinggal suatu bangsa yang terampil dengan tangan
mereka, dan bisa berjalan tanpa bersuara. Kukira mereka semacam hobbit;
bersanak dengan para ayah dari ayah kaum Stoor, karena mereka mencintai
Sungai, dan sering berenang di dalamnya, atau membuat perahu-perahu kecil
dari ilalang. Di antara mereka ada sebuah keluarga yang sangat terhormat,
karena besar dan lebih kaya daripada kebanyakan keluarga lain, dan diperintah
oleh seorang nenek kaum itu, keras dan bijak dalam adat-istiadat kuno yang
mereka miliki. Yang berwatak paling ingin tahu dan selalu mencari tahu dari
keluarga itu adalah Smeagol. Dia tertarik pada akar-akar dan sumber segala
sesuatu; dia suka menyelam ke dalam telaga-telaga dalam; dia menggali di
bawah pohon-pohon dan tanaman; dia membuat terowongan di dalam bukit-bukit
hijau; dan dia berhenti melihat ke atas, ke puncak-puncak bukit, atau dedaunan
di pohon, atau bunga-bunga yang mekar di udara: kepala dan matanya tertuju ke
bawah.
"Dia mempunyai seorang teman bernama Deagol, dari bangsa yang
sama, lebih tajam matanya, tapi tidak begitu cepat dan kuat. Pada suatu hari,
mereka naik perahu ke Gladden Fields, di mana banyak kumpulan bunga iris dan
ilalang berbunga. Di sana Smeagol keluar dan menyelidiki tepi sungai, tetapi
Deagol duduk di dalam perahu dan memancing. Tiba-tiba seekor ikan besar
tersangkut pada kailnya, dan sebelum Deagol sadar, dia sudah terseret keluar,
masuk ke dalam air, ke dasar sungai. Lalu dia melepaskan pancingnya, karena
merasa melihat sesuatu yang berkilauan di dasar sungai; sambil menahan
napas, dia memungutnya.
"Lalu dia naik- ke atas sambil megap-megap, dengan alang-alang di
dalam rambutnya dan segenggam lumpur; dia berenang ke pinggir. Dan lihat!
Ketika dia mencuci lumpurnya, di sana, di tangannya, ada cincin emas yang
sangat indah; berkilauan dan bercahaya di bawah sinar matahari, membuat
Deagol bahagia sekali. Tetapi Smeagol memperhatikannya dari balik pohon, dan
sementara Deagol memandangi cincin itu dengan tamak, Smeagol diam-diam
mendekatinya.
"'Berikan itu padaku, Deagol sayang,' kata Smeagol dari balik bahu
temannya.
"'Kenapa?'
"'Karena ini hari ulang tahunku, Sayang, dan aku menginginkannya,' kata
Smeagol.
"'Aku tak peduli,' kata Deagol. 'Aku sudah memberikan hadiah padamu,
lebih dari yang sanggup kuberikan. Aku menemukan ini, dan aku akan
menyimpannya.'
"'Oh, begitu, Sayang,' kata Smeagol; lalu dia meraih leher Deagol dan
mencekiknya, karena emas itu tampak begitu cemerlang dan indah. Lalu dia
mengenakan cincin itu di jarinya.
"Tak ada yang tahu, apa yang terjadi dengan Deagol; dia dibunuh Jauh
dari rumah, dan mayatnya disembunyikan dengan cerdik. Tetapi Smeagol pulang
sendirian, dan dia menemukan bahwa tak ada keluarganya yang bisa melihatnya
kalau dia memakai cincin itu. Dia sangat puas dengan penemuannya, dan dia
merahasiakannya; dia menggunakan cincin aku untuk mengorek rahasiarahasia,
dan dia menggunakan pengetahuannya untuk tujuan yang licik dan
jahat. Penglihatan dan pendengarannya menjadi tajam untuk segala sesuatu
yang menyakitkan. Cincin itu memberinya kekuatan sesuai dengan wataknya.
Tak ?~ heran dia menjadi sangat tidak disukai dan dihindari (bila sedang tampak)
oleh semua handai taulannya. Mereka menendangnya, dan Smeagol menggigit
kaki mereka. Dia mulai mencuri, suka berjalan sambil menggumam sendiri, dan
membuat bunyi berkumur. Maka mereka memanggilnya Gollum, dan
mengutuknya, menyuruhnya pergi jauh; neneknya, yang menginginkan
kedamaian, mengasingkannya dari keluarga dan mengusirnya dari rumah.
"Dia mengembara dalam kesepian, menangis sedikit karena kekejaman
dunia, dan dia berkelana menyusuri Sungai, sampai tiba di sebuah sungai kecil
yang mengalir turun dari pegunungan; ke sanalah dia pergi. Dia menangkap ikan
di telaga-telaga yang dalam, dengan jari-jarinya yang tidak tampak, dan
memakannya mentah-mentah. Suatu hari cuaca panas sekali, dan saat dia
membungkuk di atas telaga, bagian belakang kepalanya serasa terbakar, dan
cahaya menyilaukan dari dalam air memedihkan matanya yang basah. Dia
terheran-heran, dia hampir lupa tentang Matahari. Lalu untuk terakhir kali dia
menengadah dan mengayunkan tinjunya kepada Matahari.
"Tapi ketika dia menurunkan pandangan matanya, di kejauhan tampak
olehnya puncak Pegunungan Berkabut, dari mana aliran sungai berasal. Dan
terpikir olehnya, 'Akan sejuk dan dingin di bawah pegunungan itu. Di sana
Matahari tak bisa melihatku. Akar-akar pegunungan itu pasti benar-benar akar;
pasti banyak rahasia hebat terkubur di sana, yang belum ditemukan sejak awal.'
"Maka dia melanjutkan perjalanannya di malam hari ke dataran tinggi, dan
dia menemukan sebuah gua kecil tempat aliran sungai kecil itu berasal; bagai
seekor belatung, dia menyelinap masuk ke dalam jantung perbukitan, dan lenyap
sama sekali. Cincin itu masuk ke dalam kegelapan bersamanya, dan bahkan
pembuatnya sendiri, ketika kekuatannya mulai tumbuh lagi, tak tahu sedikit pun
kabar tentang cincin itu."
"Gollum!" seru Frodo. "Gollum? Maksudmu Gollum yang dulu ditemui Bilbo?
Betapa menjijikkan!"
"Menurutku kisah itu sedih," kata Gandalf, "dan itu bisa saja terjadi pada
orang lain, bahkan pada beberapa hobbit yang kukenal."
"Aku tak bisa percaya Gollum bersanak dengan para hobbit, walau hanya
sanak jauh sekalipun," kata Frodo agak panas. "Gagasan yang buruk sekali!"
"Tapi itu benar," jawab Gandalf. "Tentang asal-usul mereka, setidaknya
aku tahu lebih banyak daripada kaum hobbit sendiri. Dan bahkan cerita Bilbo
menunjukkan ikatan persaudaraan di antara mereka. Banyak hal yang sangat
mirip dalam latar belakang benak dan ingatan mereka. Mereka saling mengerti
dengan baik, jauh lebih baik daripada seorang hobbit bisa memahami seorang
Kurcaci, atau Orc, atau bahkan Peri. Pikirkan teka-teki yang sama-sama mereka
ketahui, sebagai contoh."
"Ya," kata Frodo. "Tapi bangsa-bangsa lain juga suka main teka-teki dari
jenis yang sama. Dan kaum hobbit tidak pernah menipu. Gollum berniat menipu.
Dia terus berusaha membuat Bilbo tidak waspada. Aku yakin watak jahatnyalah
yang mendorongnya memulai permainan yang kira-kira bisa memberinya
seorang korban yang mudah, tapi tidak bakal merugikannya seandainya dia
kalah."
"Kurasa itu benar sekali," kata Gandalf. "Tapi ada satu hal lain di
dalamnya, yang belum kausadari. Bahkan Gollum tidak sepenuhnya hancur.
Terbukti dia lebih tahan banting daripada yang bisa diduga salah seorang kaum
Bijak sekalipun-seperti yang bisa diduga seorang hobbit. Ada sudut kecil di
benaknya yang masih miliknya sendiri, dan seberkas cahaya masuk ke
dalamnya, seperti melalui celah di kegelapan: cahaya dari masa lalu. Kurasa
mungkin menyenangkan mendengar suara ramah lagi, yang menimbulkan
ingatan tentang angin, pohon, matahari di atas rumput, dan hal-hal lain yang
sudah terlupakan.
"Tapi, pada akhirnya, itu hanya membuat bagian dirinya yang jahat
semakin marah kecuali bila bagian yang jahat itu bisa dikalahkan. Bisa
disembuhkan." Gandalf mendesah. "Sayang! Kecil sekali harapan untuk itu
baginya. Tapi bukan sama sekali tidak ada harapan. Tidak, meski dia sudah
sekian lama memiliki Cincin itu, hampir sepanjang ingatannya. Sudah lama
sekali dia tidak lagi memakainya: dalam kegelapan, cincin itu jarang dibutuhkan.
Jelas dia tidak pernah 'meredup'. Dia masih kurus dan liat. Tapi benda itu sudah
menguasai pikirannya, tentu saja, dan siksaannya sudah hampir tak tertahankan.
"Semua 'rahasia besar' yang dikiranya ada di bawah pegunungan ternyata
hanya malam kosong: tak ada lagi yang bisa ditemukan, tak ada lag, yang
berharga untuk dilakukan, hanya makan makanan menjijikkan dengan sembunyisembunyi
dan ingatan penuh dendam. Dia sangat menderita. Dia benci
kegelapan, dan terlebih lagi membenci cahaya: dia benci semuanya, dan Cincin
itu yang paling dibencinya."
"Apa maksudmu?" kata Frodo. "Bukankah Cincin itu kesayangannya dan
satu-satunya yang dia pedulikan? Kalau dia membencinya, mengapa dia tidak
membuangnya, atau pergi meninggalkannya?"
"Seharusnya kau mulai mengerti, Frodo, setelah semua yang kaudengar,"
kata Gandalf. "Dia membenci dan mencintai cincin itu, seperti dia membenci dan
mencintai dirinya sendiri. Dia tak bisa membuangnya. Dia tak punya kemauan
tersisa untuk itu."
"Cincin Kekuasaan itu mengendalikan dirinya sendiri, Frodo. Dia bisa
melepaskan diri dengan lick tapi pemiliknya tidak akan pernah meninggalkannya.
Paling-paling si pemilik hanya bermain-main dengan gagasan untuk
menyerahkannya pada orang lain-itu pun hanya pada tahap awal, ketika cincin
itu baru mulai menancapkan pengaruhnya. Setahuku sepanjang sejarah hanya
Bilbo yang benar-benar melepaskannya. Itu pun dengan pertolonganku. Bahkan
saat itu pun dia tak mau begitu saja menyerahkannya, atau melepaskannya.
Bukan Gollum, Frodo, tapi Cincin itu sendiri yang menentukan segala
sesuatunya. Cincin itu yang meninggalkannya."
"Apa? Tepat pada waktunya untuk bertemu Bilbo?" kata Frodo. "Tidakkah
seorang Orc lebih sesuai untuknya?"
"Ini bukan masalah main-main," kata Gandalf. "Bukan untukmu. Ini
peristiwa paling aneh dalam seluruh riwayat Cincin tersebut, sejauh itu:
kedatangan Bilbo tepat pada waktu itu, dan bagaimana tangannya tepat
menyentuh cincin itu, dalam kegelapan.
"Ada lebih dari satu kekuatan yang bekerja, Frodo. Cincin itu sedang
berusaha kembali ke majikannya. Dia terlepas dari tangan Isildur dan
mengkhianatinya; lain, ketika ada kesempatan, dia menjerat Deagol yang
malang, dan membuatnya terbunuh; setelah itu dia melahap Gollum. Namun
kemudian Gollum sudah tak bisa dimanfaatkan lagi: Gollum terlalu kecil dan licik;
selama cincin itu tetap bersamanya, dia takkan pernah meninggalkan telaganya
yang dalam. Jadi, sekarang, saat majikannya sudah bangkit kembali dan
mengirimkan pikiran jahatnya dari Mirkwood, dia meninggalkan Gollum. Tapi
justru dia dipungut oleh orang yang paling tak terduga yang bisa terbayang: Bilbo
dari Shire!
"Di balik itu ada kekuatan lain yang bekerja, di luar rencana si pembuat
Cincin. Aku hanya bisa mengatakan bahwa memang Bilbo sudah ditakdirkan
untuk menemukan Cincin itu, dan bukan oleh pembuatnya. Dalam hal itu, berarti
kau juga sudah ditakdirkan memilikinya. Ini mungkin bisa membangkitkan
semangatmu."
"Tidak," kata Frodo. "Meski aku tidak yakin memahamimu. Tap,
bagaimana kau belajar semua tentang Cincin ini, dan tentang Gollum? Apa kau
benar-benar tahu semuanya, atau hanya masih menduga-duga?"
Gandalf memandang Frodo, matanya bersinar-sinar. "Aku sudah tahu
banyak, dan aku belajar banyak," jawabnya. "Tapi aku tidak akan menceritakan
semua tindakanku kepadamu. Sejarah Elendil dan Isildur dan Cincin Utama
sudah dikenal semua kaum Bijak. Cincinmu terbukti sebagai Cincin Utama dari
tulisan api-nya saja, terlepas dari bukti-bukti lain."
"Dan kapan kau menemukan itu?" Frodo menyela.
"Baru saja, di ruangan ini, tentu," jawab Gandalf tajam. "Tapi aku sudah
menduga akan menemukan bukti itu. Aku sudah kembali dari perjalananperjalanan
gelap dan pencarian panjang untuk melakukan ujian terakhir itu. Itu
bukti terakhir, dan sekarang semuanya sudah jelas. Mereka-reka bagian Gollum
dan mencocokkannya ke dalam celah sejarah membutuhkan sedikit pemikiran.
Awalnya aku memang sekadar menduga-duga tentang Gollum, tapi sekarang
aku sudah tidak menduga-duga lagi. Aku sudah tahu. Aku sudah bertemu
dengannya."
"Kau bertemu Gollum?" seru Frodo tercengang.
"Ya. Itu jelas perlu, kalau bisa. Dulu aku pernah mencobanya, tapi baru
belakangan ini akhirnya aku berhasil."
"Jadi, apa yang terjadi setelah Bilbo lolos darinya? Kau tahu ceritanya?"
"Tidak begitu jelas. Yang kuceritakan padamu hanyalah apa-apa yang
mau dibeberkan Gollum-meski ceritanya tidak persis seperti yang kusampaikan
padamu. Gollum itu pembohong, dan kita hams menyaring kata-katanya.
Misalnya saja, dia menyebut Cincin itu sebagai 'hadiah ulang tahun'-nya, dan dia
bertahan pada versinya itu. Dia bilang dia mendapatkannya dari neneknya, yang
punya banyak benda indah semacam itu. Kisah yang konyol. Aku percaya nenek
Smeagol seorang pemimpin keluarga, seorang yang agung dengan caranya
sendiri, tapi tak masuk akal kalau mengatakan dia punya banyak cincin Peri, dan
bahwa neneknya membagi-bagikan cincin-cincin itu, itu bohong. Tapi ada
sepercik kebenaran dalam kebohongan itu.
"Pembunuhan Deagol menghantui Gollum, dan dia sudah membangun
pertahanannya, mengulangi terus ceritanya kepada 'cincin tersayang'-nya,
sambil mengunyah tulang dalam kegelapan; sampai dia hampir-hampir
mempercayai ceritanya sendiri. Memang saat itu ulang tahunnya. Deagol
memang seharusnya memberikan cincin itu kepadanya. Ternyata cincin itu
memang muncul sebagai hadiah ulang tahunnya Itu memang hadiah ulang
tahunnya, dan seterusnya, dan seterusnya.
"Aku berusaha bersabar semampuku, tapi kebenarannya sangat Penting,
dan akhirnya aku terpaksa bersikap keras. Kuancam dia dengan kengerian akan
api, dan kuperas keluar cerita sebenarnya, sedikit demi sedikit, dengan banyak
sedu-sedan dan geraman. Dia menganggap orang-orang salah paham
terhadapnya dan telah bersikap jahat pada dirinya. Tapi akhirnya dia
menceritakan seluruh kisahnya hanya sejauh akhir permainan Teka-Teki dan
pelarian Bilbo dan setelah itu dia tidak mau mengungkapkan lebih banyak lagi,
kecuali dengan petunjuk-petunjuk gelap. Dia punya ketakutan lain yang lebih
besar daripada ketakutannya akan diriku. Dia bergumam bahwa dia akan
mengambil kembali miliknya. Orang-orang akan melihat nanti, apakah dia akan
membiarkan saja dirinya ditendang, didorong ke dalam lubang, lalu dirampok.
Gollum sekarang punya sahabat-sahabat baik, sangat baik dan sangat kuat.
Mereka akan membantunya. Baggins akan membayar mahal. Itu pikirannya yang
utama. Dia membenci Bilbo dan mengutuknya. Selain itu, dia tahu dari mana
asal Bilbo."
"Tapi bagaimana dia bisa tahu itu?" tanya Frodo.
"Well, tentang nama, bodohnya Bilbo sendiri yang memberitahukannya
pada Gollum; setelah itu, tidak sulit untuk menemukan negerinya, begitu Gollum
keluar. Oh ya, dia keluar. Kerinduannya pada Cincin itu ternyata lebih kuat
daripada ketakutannya pada Orc, atau bahkan cahaya. Setelah setahun-dua
tahun, dia meninggalkan pegunungan. Meski dia masih terikat pada hasrat untuk
memilikinya, Cincin itu tidak lagi menggerogotinya; dia mulai pulih sedikit. Dia
merasa tua, amat sangat tua, tapi ketakutannya berkurang, dan dia lapar.
"Cahaya, cahaya Matahari dan Bulan, masih ditakuti dan dibencinya, dan
akan begitu selamanya, kukira; tapi dia cerdik. Dia menemukan bahwa dia bisa
bersembunyi dari cahaya siang dan cahaya bulan, berjalan cepat dan tak
terdengar di larut malam dengan matanya yang dingin dan pucat, dan bisa
menangkap makhluk-makhluk kecil yang tidak waspada. Dia semakin kuat dan
berani dengan makanan dan udara baru. Dia berhasil masuk ke Mirkwood,
sebagaimana bisa did uga."
"Di sanakah kau bertemu dengannya?" tanya Frodo.
"Aku melihatnya di sana," jawab Gandalf, "tapi sebelum itu dia sudah
mengembara jauh sekali, mengikuti jejak Bilbo. Sulit sekali memperoleh
informasi pasti darinya, karena pembicaraannya selalu dipotong oleh makian dan
ancaman. 'Ada apa di dalam saku bajunya?' katanya. 'Dia tidak man bilang, heh,
Sayang? Penipu kecil. Bukan pertanyaan yang adil. Dia lebih dulu menipu,
benar. Dia melanggar aturan. Seharusnya kita mencekiknya, ya, Sayang. Dan
kita akan mencekiknya, Sayang!'
"Itu contoh omongannya. Kurasa kau tidak bakal mau mendengar lebih
dari itu. Aku sangat letih mendengarnya. Tapi dari celotehan-celotehan yang
dikeluarkannya di antara geramannya, aku menyimpulkan bahwa dia sudah pergi
ke Esgaroth, dan bahkan ke jalan-jalan di Dale, mendengarkan diam-diam dan
mengintip. Well, berita tentang peristiwa-peristiwa besar menyebar jauh dan luas
di Belantara, banyak yang sudah mendengar nama Bilbo dan tahu dari mana
asalnya. Kami tidak merahasiakan perjalanan pulang kami ke rumahnya di Barat.
Dengan telinganya yang tajam, Gollum akan segera mendapatkan keterangan
yang diinginkannya."
"Kalau begitu, kenapa dia tidak meneruskan mengikuti jejak Bilbo?" tanya
Frodo. "Kenapa dia tidak datang ke Shire?"
"Ah," kata Gandalf, "ini dia. Kukira Gollum berusaha. Dia pergi dan datang
ke arah barat, sejauh Sungai Besar. Tapi kemudian dia menyimpang. Aku yakin
dia bukannya enggan menempuh jarak jauh. Bukan, ada hal lain yang
menariknya pergi. Begitulah menurut teman-temanku, mereka yang memburu
Gollum untukku.
"Para Peri Hutan yang pertama menemukan jejaknya; pekerjaan mudah
bagi mereka, karena saat itu jejaknya masih segar. Melalui Mirkwood dan
kembali lagi, meski mereka tak pernah berhasil menangkapnya. Hutan penuh
dengan berita tentang dia, kisah-kisah mengerikan bahkan di antara para
binatang dan burung. Para penghuni hutan mengatakan ada teror baru di luar
sana, hantu yang minum darah. Memanjat pohon untuk mencari sarang-sarang;
merangkak ke dalam lubang-lubang untuk mencari anak-anak binatang; dia
menyelinap melalui jendela-jendela untuk mencari keranjang bayi.
"Tetapi di perbatasan barat Mirkwood jejaknya menyimpang ke arah lain.
Jejaknya mengembara ke arah selatan, keluar dari penglihatan para Peri Hutan,
dan lenyap. Lalu aku membuat kesalahan besar. Ya, Frodo, dan bukan yang
pertama, meski aku khawatir mungkin akan terbukti sebagai yang paling berat.
Aku membiarkannya. Aku membiarkan dia pergi; karena masih banyak hal lain
yang harus kupikirkan saat itu, dan aku masih merppercayai pengetahuan
Saruman.
"Yah, itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku sudah membayarnya sejak
itu, dengan banyak hari-hari gelap dan berbahaya. Jejaknya sudah dingin ketika
aku mulai mengikutinya lagi, setelah Bilbo pergi dari sini. Dan pencarianku pasti
akan sia-sia, kalau bukan karena bantuan seorang sahabat: Aragorn,
pengembara dan pemburu terbesar abad ini di dunia. Bersama-sama kami
mencari Gollum di seantero Belantara, tanpa harapan, dan tanpa hasil. Tapi
akhirnya, ketika aku sudah menghentikan perburuan dan pergi ke wilayah lain,
Gollum ditemukan. Sahabatku datang kembali dari bahaya besar, sambil
membawa makhluk menyedihkan itu bersamanya.
"Apa yang sudah dilakukannya, dia tak mau bilang. Dia hanya menangis
dan menyebut kami kejam, dengan banyak gollum di tenggorokannya; ketika
kami mendesaknya, dia merengek dan membungkuk, dan menggosok
tangannya yang panjang, menjilati jemarinya seolah terasa pedih, seakan-akan
dia ingat suatu siksaan lama. Tapi aku tak punya keraguan lagi: dia sudah
berjalan perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, mil demi mil, ke selatan,
dan akhirnya tiba di Negeri Mordor."
Keheningan yang terasa menekan menyelimuti ruangan itu. Frodo bisa
mendengar detak jantungnya sendiri. Bahkan di luar segalanya terasa sunyi. Tak
terdengar lagi bunyi gunting Sam.
"Ya, ke Mordor," kata Gandalf. "Aduh! Mordor menarik semua hal yang
keji, dan Kekuasaan Gelap mengerahkan kemampuannya untuk mengumpulkan
mereka semua di sana. Cincin Musuh juga akan meninggalkan jejaknya,
membuatnya terbuka untuk panggilan itu. Dan semua orang berbisik tentang
Bayangan baru di Selatan, serta kebenciannya kepada Barat. Di sanalah temantemannya
yang baru, yang akan membantunya membalas dendam!
"Si tolol yang menyedihkan! Di negeri itu dia belajar terlalu banyak, terlalu
banyak hingga membuatnya merasa tak nyaman. Dan cepat atau lambat, saat
dia bersembunyi dan mengintai di perbatasan, dia akan tertangkap dan dibawa
untuk penyelidikan. Begitulah jalannya, kukira. Ketika ditemukan, dia sudah lama
berada di sana, dan sedang dalam perjalanan kembali. Untuk melakukan suatu
mat jahat. Tapi itu sudah tidak penting sekarang. Kejahatan paling berat sudah
dilakukannya.
"Ya, sayang sekali! Melalui dia, Musuh jadi tahu bahwa Cincin Utama
sudah ditemukan lagi. Dia tahu di mana Isildur jatuh. Dia tahu di mana Gollum
menemukan cincinnya. Dia tahu bahwa itulah Cincin Agung, karena dia
memberikan umur panjang. Dia tahu itu bukan salah satu dari Tiga Cincin,
karena mereka tak pernah hilang, dan mereka tidak tahan terhadap kejahatan.
Dia tahu itu bukan salah satu dari Tujuh atau Sembilan cincin lainnya, karena
keberadaan mereka diketahui. Dia tahu inilah Cincin Utama. Dan kurasa
begitulah akhirnya dia mendengar tentang hobbit dan Shire.
"Shire-mungkin dia sedang mencarinya sekarang, kecuali kalau dia sudah
menemukan letaknya. Bahkan, Frodo, aku cemas kalau-kalau dia sekarang
menganggap penting nama Baggins yang semula tidak diperhatikannya."
"Mengerikan sekali!" seru Frodo. "Jauh lebih mengerikan daripada
bayanganku yang paling buruk, setelah mendengar petunjuk dan peringatanperingatanmu.
Oh, Gandalf, sahabatku yang terbaik, apa yang harus kulakukan?
Karena sekarang aku benar-benar takut. Apa yang harus kulakukan? Sayang
sekali Bilbo tidak menusuk makhluk menjijikkan itu, ketika ada kesempatan!"
"Sayang? Perasaan Welas Asih-lah yang menahan tangannya. Perasaan
Welas Asih dan Pengampunan: untuk tidak memukul bila tak perlu. Dan dia
mendapatkan balasan yang pantas, Frodo. Percayalah, dia hanya sedikit
menderita oleh kejahatan itu, dan akhirnya dia lolos, karena dia memulai
kepemilikannya atas cincin itu dengan Rasa Welas Asih."
"Aku menyesal," kata Frodo. "Tapi aku ketakutan; dan aku tidak merasa
kasihan sedikit pun pada Gollum."
"Kau belum melihatnya," sela Gandalf.
"Tidak, dan aku tak ingin," kata Frodo. "Aku tidak mengerti. Apa
maksudmu bahwa kau dan kaum Peri membiarkan dia tetap hidup setelah
semua tindakannya yang mengerikan itu? Boleh dibilang dia sama jahatnya
dengan kaum Orc, dan dia seorang musuh. Dia pantas mati."
"Pantas mati! Menurutku memang begitu. Banyak yang hidup
sepantasnya mail. Dan beberapa yang mati sepantasnya tetap hidup. Apa kau
bisa memberikan kehidupan pada mereka? Jadi, jangan terlalu bersemangat
memberi penilaian. Karena bahkan kaum Bijak tak bisa tahu semua tujuan akhir.
Aku tidak menaruh harapan besar bahwa Gollum bisa disembuhkan sebelum dia
mati, tapi kemungkinan itu ada. Dan dia terkait erat dengan nasib Cincin ini.
Hatiku mengatakan dia masih akan memainkan peranan, entah untuk kebaikan
atau kejahatan, sebelum kisah ini berakhir; dan kalau akhir itu sudah tiba,
perasaan welas asih Bilbo mungkin akan menentukan nasib banyak pihaktermasuk
nasibmu. Yang jelas, kami tidak membunuh Gollum. Dia sudah sangat
tua dan -sangat sengsara. Para Peri Hutan memenjarakannya, tapi mereka
memperlakukannya seramah mungkin."
"Bagaimanapun," kata Frodo, "meski Bilbo tak sampai hati membunuh
Gollum, mestinya dia tidak mengambil Cincin itu. Mestinya dia tak pernah
menemukan cincin itu, dan mestinya aku tidak memperolehnya! Kenapa
kaubiarkan aku menyimpannya? Kenapa kau tidak menyuruhku membuangnya,
atau... atau menghancurkannya?"
"Membiarkanmu? Menyuruhmu?" kata penyihir itu. "Apa kau tidak
mendengarkan kata-kataku tadi? Apa yang ada dalam pikiranmu tidak sama
dengan apa yang kauucapkan. Tentang masalah membuangnya, itu jelas salah.
Cincin-Cincin ini punya cara ampuh untuk ditemukan. Di tangan yang jahat, dia
bisa sangat berbahaya. Paling buruk, dia mungkin jatuh ke tangan Musuh. Dan
itu akan terjadi; karena ini Cincin Utama, dan Musuh sedang memakai seluruh
kekuatannya untuk menemukan Cincin ini-, atau menariknya kepadanya.
"Memang cincin ini sangat berbahaya bagimu, Frodo; dan itu sangat
menyusahkan hatiku. Tapi begitu banyak yang dipertaruhkan, sehingga aku
harus mengambil risiko—meski begitu, ketika aku sedang pergi jauh, selalu ada
mata-mata yang waspada untuk menjaga Shire ini. Selama kau tidak
memakainya, kupikir Cincin ini tidak akan mempunyai pengaruh kuat atas dirimu,
tidak untuk kejahatan, setidaknya untuk waktu lama. Dan kau perlu ingat bahwa
sembilan tahun yang lalu, ketika terakhir aku melihatmu, aku baru tahu sedikit
sekali dengan jelas."
"Tapi mengapa tidak menghancurkannya? Katamu seharusnya cincin ini
sudah lama dihancurkan!" seru Frodo lagi. "Seandainya kau memperingatkanku,
atau mengirimkan pesan, aku pasti sudah membuangnya."
"Betulkah? Bagaimana kau akan melakukan itu? Apa kau sudah pernah
mencoba?"
"Belum. Tapi kupikir kita bisa memukulnya dengan palu, atau
meleburnya."
"Coba saja!" kata Gandalf. "Cobalah sekarang!"
Frodo mengeluarkan lagi Cincin itu dari saku celananya dan memandangnya.
Sekarang benda itu tampak polos dan licin, tanpa tanda atau apa pun yang
terlihat. Emasnya kelihatan sangat indah dan murni, dan di mata Frodo
warnanya begitu kaya dan indah, dan betapa sempurna lingkarannya. Benda
mengagumkan yang sangat berharga. Tadi, ketika mengeluarkannya, ia berniat
melemparkannya ke dalam bagian api yang paling panas. Tapi sekarang ia
sadar bahwa ia tak bisa melakukannya, tidak tanpa perjuangan berat. Ia
menimbang-nimbang Cincin aku di tangannya, bimbang, dan memaksa dirinya
mengingat semua yang diceritakan Gandalf; dengan kemauan keras ia bergerak,
seolah hendak melemparkannya—tapi ia menyadari bahwa ia justru
memasukkan cincin aku kembali ke sakunya.
Gandalf tertawa sedih. "Kaulihat? Kau juga sudah tak bisa
melepaskannya begitu saja, Frodo, dan tak punya kemauan untuk
menghancurkannya. Dan aku tak bisa 'menyuruhmu'—kecuali dengan paksaan,
yang akan mematahkan pikiranmu. Tapi untuk mematahkan Cincin itu tidak bisa
dengan kekuatan fisik. Sekalipun kau mengambilnya dan memukulnya dengan
palu godam, takkan ada cacatnya. Cincin itu tak bisa dirusak oleh tanganmu,
maupun tanganku.
"Apimu yang kecil tentu saja tak bisa melebur emas biasa sekalipun.
Cincin ini sudah melewatinya tanpa cedera, bahkan tidak sampai panas. Tapi tak
ada bengkel pandai besi di Shire yang bisa mengubahnya. Bahkan landasan dan
tungku para Kurcaci pun tak bisa. Konon hanya api naga yang bisa melebur dan
melahap Cincin-Cincin Kekuasaan ini, tapi kini sudah tidak ada naga di dunia
yang mempunyai api cukup panas; dan belum pernah ada naga, tidak juga
Ancalagon si Hitam, yang bisa mencederai Cincin Utama, Cincin Penguasa ini,
karena dia dibuat oleh Sauron sendiri.
"Hanya ada satu cara: menemukan Celah Ajal di kedalaman Orodruin,
Gunung Api, dan melemparkan Cincin aku ke dalamnya, kalau benar-benar mau
dihancurkan, agar dia berada di luar jangkauan Musuh untuk selamanya."
"Aku benar-benar ingin menghancurkannya!" seru Frodo. "Atau, yah,
menyuruh menghancurkannya. Aku tidak cocok untuk pencarian berbahaya.
Seandainya aku tak pernah melihat Cincin ini! Mengapa dia datang padaku?
Mengapa aku yang dipilih?"
"Pertanyaan seperti itu tak bisa dijawab," kata Gandalf. "Kau harus yakin
itu bukan karena suatu kelebihan yang tidak dipunyai orang lain: bukan karena
kekuatan atau kebijakan, setidaknya. Tapi karena kau sudah dipilih, dan
karenanya kau harus menggunakan kekuatan dan kecerdasan yang kaumiliki."
"Tapi aku hanya punya sedikit sekali dari keduanya! Kau bijaksana dan
kuat. Apa kau tidak man mengambil Cincin ini?"
"Tidak!" sent Gandalf, sambil melompat berdiri. "Dengan kekuatan itu,
kekuasaanku bakal terlalu besar dan mengerikan. Dan melalui aku, Cincin itu
akan memperoleh kekuatan lebih besar dan lebih mematikan." Mata Gandalf
berkilat-kilat dan wajahnya bercahaya, seolah ada api memancar dari dalam
dirinya. "Jangan menggodaku! Karena aku tak ingin jadi seperti Penguasa
Kegelapan. Walau Cincin itu memasuki hatiku melalui jalan welas asih, welas
asih kepada kelemahan dan hasrat kekuatan untuk melakukan kebajikan.
Jangan goda aku! Aku tak berani mengambilnya, walau untuk mengamankannya
sekalipun; tanpa menggunakannya. Hasrat untuk menggunakannya akan terlalu
besar untuk kulawan. Padahal aku membutuhkan seluruh kekuatanku, karena
banyak bahaya di depanku."
Gandalf berjalan ke jendela, menyibakkan tirai-tirai dan penutup Jendela.
Cahaya matahari mengalir kembali ke dalam ruangan. Sam melewati jalan
setapak di luar sambil bersiul. "Dan kini," kata penyihir itu, berbicara lagi kepada
Frodo, "keputusan ada di tanganmu. Tapi aku akan selalu membantumu." Ia
meletakkan tangannya di bahu Frodo. "Aku akan membantumu menanggung
beban ini, selama dia menjadi bebanmu. Tapi kita harus segera bertindak.
Musuh sudah mulai bergerak."
Ada keheningan lama sekali. Gandalf duduk kembali dan mengisap pipanya,
seolah termenung. Matanya seakan terpejam, tapi dari bawah kelopak matanya
ia memperhatikan Frodo dengan tajam. Frodo terpaku menatap bara api di
pendiangan, sampai pemandangan itu memenuhi seluruh pandangannya, dan ia
seolah sedang melihat ke dalam sumur api yang dalam. Ia sedang memikirkan
Celah Ajal dan kengerian Gunung Api.
"Well!" kata Gandalf akhirnya. "Apa yang kaupikirkan? Apa kau sudah
memutuskan akan berbuat apa?"
"Belum!" jawab Frodo, tersadar kembali dari kegelapan; dengan kaget ia
menyadari bahwa hari belum gelap, dan dari jendela ia bisa melihat kebun yang
disinari cahaya matahari. "Atau mungkin, sudah. Sejauh yang kupahami dari
ucapanmu, kurasa aku harus menyimpan Cincin ini dan menjaganya, setidaknya
untuk sementara, apa pun pengaruhnya padaku."
"Apa pun pengaruhnya, akan berjalan lambat, lambat ke arah kejahatan,
kalau kau menyimpannya dengan niat seperti itu," kata Gandalf.
"Mudah-mudahan begitu," kata Frodo. "Tapi kuharap kau bisa segera
menemukan penjaga lain yang lebih baik. Sementara itu, kelihatannya aku
merupakan bahaya, bahaya bagi semua yang hidup di dekatku. Aku tak bisa
menyimpan Cincin itu dan tetap tinggal di sini. Seharusnya aku meninggalkan
Bag End, meninggalkan Shire, meninggalkan semuanya dan pergi," Frodo
mengeluh.
"Aku ingin menyelamatkan Shire ini, kalau bisa-meski kadang-kadang
kupikir penduduknya terlalu bodoh dan menjemukan, dan mungkin bagus juga
kalau mereka kena gempa bumi atau diserang naga-naga. Tapi sekarang aku
tidak merasa seperti itu. Aku menyadari bahwa selama Shire kutinggal dalam
keadaan aman dan nyaman, aku akan merasa lebih senang dalam
pengembaraanku: aku tahu bahwa ada pertahanan kuat, meski kakiku tidak
menginjak Shire lagi.
"Tentu saja, kadang-kadang terpikir olehku untuk pergi, tapi kubayangkan
kepergianku seperti semacam liburan, serangkaian petualangan seperti
pengembaraan Bilbo, atau bahkan lebih bagus, yang berakhir dengan tenteram.
Tapi itu akan berarti pengucilan, pelarian dari satu bahaya ke dalam bahaya
lainnya, menarik bahaya menguntitku. Dan aku harus pergi sendirian, kalau ingin
menyelamatkan Shire. Tapi aku merasa sangat kecil dan terasing, dan yah...
putus asa. Musuh sangat kuat dan mengerikan."
Frodo tidak mengatakannya pada Gandalf, tapi sementara ia berbicara,
suatu hasrat besar untuk mengikuti Bilbo menyala dalam hatinya-untuk mengikuti
Bilbo, dan bahkan mungkin menemuinya lagi. Hasrat itu begitu kuat, sampaisampai
mengalahkan ketakutannya: hampir saja ia lari keluar saat itu juga,
melintasi jalan tanpa mengenakan topi, seperti pernah dilakukan Bilbo di suatu
pagi lama berselang.
"Frodo-ku yang baik!" seru Gandalf. "Hobbit benar-benar makhluk yang
mengherankan, seperti sudah kukatakan sebelumnya. Kita bisa belajar segala
sesuatu tentang watak dan adat-istiadat mereka dalam sebulan, tapi setelah
seratus tahun pun mereka masih bisa memberi kejutan. Aku tidak berharap
mendapat jawaban seperti itu, tidak juga darimu. Rupanya Bilbo tidak salah
memilih ahli waris, meski dia tidak tahu betapa pentingnya hal ini. Aku khawatir
kau benar. Cincin itu tak bisa tetap disembunyikan lebih lama lagi di Shire; demi
keselamatanmu sendiri, dan juga yang lain, kau harus pergi dan menanggalkan
nama Baggins. Nama itu tidak akan aman untuk dimiliki, di luar Shire atau di
wilayah Belantara. Aku akan memberimu nama pengembaraan. Kalau kau pergi,
pergilah dengan nama Mr. Underhill.
"Tapi menurutku kau tidak harus pergi sendirian. Tidak bila kau kenal
seseorang yang bisa kaupercayai, yang bersedia menemanimu dan yang mau
kaubawa ke dalam bahaya tak dikenal. Tapi hati-hatilah memilih pendamping!
Dan hati-hatilah dengan ucapanmu, meski pada sahabat-sahabat terdekat!
Musuh mempunyai banyak mata-mata dan banyak cara untuk menguping."
Mendadak Gandalf berhenti, seolah mendengarkan. Frodo sadar bahwa
di dalam maupun.di luar rumah sangat hening. Gandalf merangkak ke salah satu
sisi jendela, lalu ia meloncat ke arah kusen dan mengulurkan tangannya yang
panjang ke luar, ke bawah. Terdengar pekikan, dan kepala Sam Gamgee muncul
ditarik pada sebelah telinganya.
"Wah, wah, siapa sangka?" kata Gandalf. "Sam Gamgee rupanya?
Sedang apa kau di situ?"
"Aduh, Mr. Gandalf, Sir!" kata Sam. "Tidak! Aku hanya sedang
memangkas batas rumput di bawah jendela, sungguh." Ia memungut guntingnya
sebagai bukti.
"Masa!" kata Gandalf keras. "Rasanya sudah cukup lama bunyi guntingmu
tidak kedengaran. Sudah berapa lama kau menguping?"
"Menguping, Sir? Aku tidak paham, maaf. Tidak ada kuping di Bag End,
sungguh."
"Jangan bodoh! Apa yang kaudengar, dan kenapa kau mendengarkan?"
Mata Gandalf bersinar-sinar dan alisnya berdiri bagai sikat.
"Mr. Frodo, Sir!" kuak Sam. "Jangan biarkan dia menyakiti aku, Sir!
Jangan biarkan dia mengubahku menjadi sesuatu yang tidak wajar! Ayahku yang
tua akan sangat sedih. Aku tidak bermaksud jahat, aku bersumpah, Sir!"
"Dia tidak akan menyakitimu," kata Frodo, hampir tak bisa menahan
tawanya, meski ia sendiri terkejut dan agak heran. "Dia tahu, seperti halnya aku,
bahwa kau tidak bermaksud jahat. Tapi segeralah jawab pertanyaannya!"
"Yah, Sir," kata Sam sambil agak menggigil. "Aku mendengar banyak hal
yang tidak kupahami betul, tentang musuh, dan cincin, dan Mr. Bilbo, Sir, dan
naga-naga, gunung api, dan... dan kaum Peri, Sir. Aku mendengarkan tanpa
sengaja, mudah-mudahan Anda paham. Sungguh, Sir, aku suka sekali dongengdongeng
semacam itu. Dan '; aku percaya itu, meski apa pun yang dikatakan
Ted. Kaum Peri, Sir! Aku sangat ingin melihat mereka. Apa Anda bisa
membawaku melihat mereka, Sir, kalau Anda pergi?"
Mendadak Gandalf tertawa. "Masuklah!" ia berteriak; lalu ia mengulurkanulurkan
kedua tangannya dan mengangkat Sam yang tercengang, dengan
gunting dan pemotong rumputnya sekalian, melalui jendela dan meletakkannya
berdiri di lantai. "Membawamu untuk melihat Peri, ya?" katanya, menatap Sam
dengan tajam, tapi dengan senyuman bergetar pada wajahnya. "Jadi, kau
mendengar Mr. Frodo akan pergi?"
"Aku dengar, Sir. Itu sebabnya aku tersedak: rupanya Anda mendengar
itu. Aku berusaha tidak begitu, Sir, tapi tak sengaja keluar: aku resah sekali."
"Memang terpaksa, Sam," kata Frodo sedih. Mendadak ia menyadari
bahwa kepergiannya dari Shire menyangkut banyak perpisahan menyakitkan,
bukan sekadar berpamitan dengan kenyamanan Bag End yang sudah akrab.
"Aku terpaksa pergi. Tapi"—dan ia menatap San, dengan tajam—"kalau kau
benar-benar peduli padaku, kau akan merahasiakannya. Paham? Kalau tidak,
kalau kau membocorkan sedikit saja apa yang kaudengar tadi, kuharap Gandalf
mengubahmu menjadi kodok berbintik dan mengisi seluruh kebun dengan ular."
Sam bertekuk lutut sambil gemetar. "Bangkit, Sam!" kata Gandalf. "Aku
sudah memikirkan sesuatu yang lebih baik daripada itu. Sesuatu untuk menutup
mulutmu dan menghukummu karena menguping. Kau akan pergi bersama Mr.
Frodo!"
"Aku, Sir!" teriak Sam, melompat-lompat seperti anjing yang diajak jalanjalan.
"Aku pergi melihat Peri dan sebagainya! Hore!" ia berteriak, lalu tangisnya
meledak.
BAB 3
TIGA MENJADI ROMBONGAN
"Kau harus pergi diam-diam, dengan segera," kata Gandalf. Sudah dua atau tiga
minggu berlalu, dan Frodo masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi.
"Aku tahu. Tapi sangat sulit melakukan keduanya," keluhnya. "Kalau aku
menghilang seperti Bilbo, kisah itu akan menyebar sangat cepat di seluruh
Shire."
"Tentu saja kau jangan menghilang!" kata Gandalf. "Itu sama sekali tidak
baik! Aku tadi bilang segera, bukan dalam sekejap. Kalau kau bisa menemukan
cara untuk menyelinap keluar dari Shire tanpa diketahui secara luas, maka
bolehlah kau menunda sebentar. Tapi jangan menunda terlalu lama."
"Bagaimana kalau musim gugur, pada atau setelah Ulang Tahun kami?"
tanya Frodo. "Mungkin aku sudah siap saat itu."
Sejujurnya, Frodo enggan berangkat, setelah tiba saatnya kini. Bag End
terasa jauh lebih nyaman daripada yang dirasakannya selama bertahun-tahun
ini, dan ia ingin mengecap sebanyak mungkin musim panasnya yang terakhir di
Shire. Saat musim gugur datang, ia tahu bahwa sebagian hatinya setidaknya
akan lebih siap mengembara, seperti selalu terjadi di musim itu. Bahkan dalam
hati ia sudah memutuskan akan pergi pada ulang tahunnya yang kelima puluh:
bersamaan dengan ulang tahun Bilbo yang keseratus dua puluh delapan.
Rasanya itu hari yang pantas untuk berangkat mengikutinya. Yang utama dalam
benak Frodo adalah mengikuti Bilbo; itu satu-satunya yang membuat pikiran
untuk meninggalkan Shire bisa ditanggungnya. Ia berpikir sesedikit mungkin
tentang Cincin itu, dan ke mana benda itu akan menuntunnya. Tapi tidak semua
pikirannya ia ceritakan pada Gandalf. Sulit menebak apa yang diduga oleh
penyihir itu.
Gandalf memandang Frodo dan tersenyum. "Baiklah," katanya. "Kurasa
itu cukup—tapi jangan lebih lama lagi. Aku sudah sangat cemas. Sementara itu,
berhati-hatilah, dan jangan sampai membocorkan satu petunjuk pun ke mana
kau akan pergi! Dan awasi Sam Gamgee agar dia tidak berbicara. Kalau sampai
dia buka mulut, aku benar-benar akan mengubahnya menjadi kodok."
"Tentang ke mana aku pergi," kata Frodo, "ihl akan sulit dibocorkan,
karena aku sendiri belum punya rencana jelas."
"Jangan bodoh begitu!" kata Gandalf. "Aku bukan memperingatkanmu
agar tidak meninggalkan alamat di kantor pos! Tapi kau akan meninggalkan
Shire-dan itu sebaiknya tidak diketahui, sampai kau sudah jauh. Dan kau harus
pergi, atau setidaknya berangkat, entah ke Utara, Selatan, Barat, atau Timur dan
arah itu benar-benar tidak boleh ketahuan."
"Aku sudah began asyik memikirkan akan meninggalkan Bag End, dan
tentang berpamitan, sampai-sampai aku tidak mempertimbangkan arah
kepergianku," kata Frodo. "Sebab ke mana aku harus pergi? Dan berdasarkan
apa aku harus menentukan arah? Apa yang harus kucari? Bilbo pergi untuk
menemukan harta, lalu kembali; tapi aku pergi untuk membuang sebuah harta,
dan tidak kembali, sejauh yang bisa kupahami."
"Tapi kau tidak tahu apa yang bakal terjadi," kata Gandalf. "Begitu pula
aku. Mungkin saja tugasmulah untuk menemukan Celah Ajal itu; tapi pencarian
itu bisa juga untuk orang lain: aku tidak tahu. Setidaknya kau belum siap untuk
jalan panjang itu."
"Memang belum!" kata Frodo. "Tapi, sementara itu, arah mana yang harus
kuambil?"
"Menuju bahaya; tapi jangan gegabah, maupun terlalu langsung," jawab
sang penyihir. "Kalau kau ingin nasihatku, pergilah ke Rivendell. Perjalanan itu
tidak akan terlalu berbahaya, meski Jalan ke sana tidak semudah dulu, dan akan
semakin buruk pada penghujung tahun."
"Rivendell!" kata Frodo. "Baiklah: aku akan ke timur, dan aku akan menuju
Rivendell. Aku akan membawa Sam untuk melihat para Peri; dia pasti senang
sekali." Frodo berbicara dengan ringan, tapi hatinya tiba-tiba tergerak oleh hasrat
besar untuk melihat rumah Elrond Halfelven, dan menghirup udara lembah
dalam itu, di mana banyak bangsa Peri masih hidup dalam damai.
Suatu senja di musim panas, sebuah berita mengejutkan sampai di Semak Ivy
dan Naga Hijau. Raksasa-raksasa dan tanda-tanda lain di Perbatasan Shire
dilupakan untuk hal-hal yang lebih penting: Mr. Frodo akan menjual Bag End,
bahkan ia sudah menjualnya—pada keluarga Sackville-Baggins!
"Dengan harga pantas pula," kata beberapa orang. "Dengan harga murah
sekali," kata yang lain, "dan itu mungkin sekali kalau pembelinya Mistress
Lobelia." (Otho sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, pada usia 102 yang
matang tapi penuh kekecewaan.)
Alasan Mr. Frodo menjual Bag End bahkan lebih banyak menimbulkan
perdebatan daripada soal harganya. Beberapa memegang —didukung oleh
anggukan dan gelagat tersamar dari Mr. Baggins sendiri—bahwa uang Frodo
mulai habis: ia akan meninggalkan Hobbiton dan hidup sederhana dengan hasil
penjualan rumahnya, di Buckland, di tengah saudara-saudaranya dan keluarga
Brandybuck. "Sejauh mungkin dari keluarga Sackville-Baggins," tambah
beberapa orang. Tetapi gagasan tentang kekayaan tak terhingga keluarga
Baggins dari Bag End sudah begitu berakar, sehingga kebanyakan orang sulit
mempercayai hal ini, lebih sulit daripada alasan atau bukan alasan yang bisa
ditawarkan khayalan mereka: kebanyakan orang menganggap itu merupakan
petunjuk tentang rencana terselubung Gandalf. Meski Gandalf diam-diam saja
dan tidak berkeliaran di siang hari, umum sudah tahu bahwa ia sedang
"bersembunyi di Bag End". Tapi entah apa pun kaitan kepindahan ini dengan
rencana-rencana sihir Gandalf, satu hal sudah jelas: Frodo Baggins akan
kembali ke Buckland.
"Ya, aku akan pindah musim gugur ini," kata Frodo. "Merry Brandybuck
sedang mencarikan lubang kecil yang nyaman untukku, atau mungkin sebuah
rumah kecil."
Sebenarnya dengan bantuan Merry ia sudah memilih dan membeli
sebuah rumah kecil di Crickhollow, di daerah luar Bucklebury. Pada semua
orang, kecuali Sam, ia berpura-pura akan tinggal di sana untuk seterusnya.
Keputusan untuk pergi ke timur telah menimbulkan gagasan tersebut; karena
Buckland ada di perbatasan timur Shire, dan karena semasa kanak-kanak ia
tinggal di sana, tidak akan terlalu mencurigakan seandainya ia mengatakan akan
kembali ke sana.
Gandalf tinggal di Shire selama lebih dari dua bulan. Lalu suatu sore, di akhir
Juni, segera setelah rencana Frodo diatur, mendadak ia mengumumkan bahwa
ia akan pergi lagi pagi berikutnya. "Hanya sebentar, kuharap," katanya. "Tapi aku
akan keluar dari perbatasan selatan untuk mencari berita, kalau bisa. Aku sudah
terlalu lama memangur.”
Ia berbicara dengan ringan, tapi menurut Frodo ia kelihatan agak cemas.
"Ada sesuatu?" tanyanya.
"Tidak; tapi aku mendengar sesuatu yang membuatku cemas dan perlu
diselidiki. Kalau aku merasa kau perlu segera berangkat, aku akan cepat-cepat
kembali, atau setidaknya mengirimkan pesan. Sementara itu, tetaplah pada
rencanamu; tapi tingkatkan kewaspadaanmu, terutama dengan Cincin itu. Aku
ingin menekankan sekali lagi: jangan gunakan!"'
Gandalf pergi saat fajar. "Aku akan kembali sewaktu-waktu," katanya.
"Paling lambat aku akan kembali untuk pesta perpisahanmu. Kupikir mungkin
kau akan membutuhkan aku untuk mendampingimu di Jalan."
Mulanya Frodo resah sekali, dan sering bertanya dalam hati, apa yang
sudah didengar Gandalf; tapi kemudian kegelisahannya mereda, dan cuaca
bagus membuat ia lupa sejenak akan kesulitannya. Shire belum pernah
mengalami musim panas begitu indah, atau musim gugur yang begitu kaya:
pohon-pohon sarat buah-buahan, madu menetes dari sarang lebah, dan
tanaman jagung tinggi dan penuh.
Musim gugur sudah berlangsung lama ketika Frodo mulai cemas lagi
tentang Gandalf. September sedang berlalu, dan masih belum ada berita
darinya. Hari Ulang Tahun dan kepindahannya semakin dekat, dan Gandalf
belum datang juga, atau mengirimkan pesan. Bag End mulai sibuk. Beberapa
sahabat Frodo datang untuk tin-gal dan membantunya mengepak barangbarang:
ada Fredegar Bolger dan Folco Boffin, dan tentu sahabat-sahabat
dekatnya Pippin Took dan Merry Brandybuck. Bersama-sama mereka
memporak-porandakan seluruh rumah itu.
Tanggal 20 September, dua kereta tertutup penuh muatan berangkat ke
Buckland, mengantar perabot dan barang-barang yang tidak dijual oleh Frodo,
ke rumahnya yang baru. Hari berikutnya Frodo benar-benar cemas, dan terusmenerus
menunggu Gandalf. Kamis, pagi hari Ulang tahunnya, merekah dengan
jernih dan indah seperti lama berselang, pada pesta besar Bilbo. Gandalf belum
juga muncul. Senja hari itu Frodo mengadakan pesta perpisahannya: sederhana
sekali, hanya makan malam untuk dirinya sendiri beserta keempat sahabatnya;
tapi ia gelisah dan suasana hatinya tidak mendukung. Hatinya sangat susah,
karena ia harus segera berpisah dengan sahabat-sahabat muda-nya. Ia
bertanya-tanya bagaimana harus memberitahu mereka.
Namun keempat hobbit muda itu gembira sekali, dan pesta itu segera
terasa meriah, meski Gandalf tidak hadir. Ruang makan kosong, hanya ada satu
meja dan kursi-kursi, tapi hidangannya lezat, dan ada anggur bagus: anggur
Frodo tidak termasuk barang yang dijual pada keluarga Sackville-Baggins.
"Apa pun yang terjadi dengan sisa barang-barangku, bila keluarga S.-Bs.
sudah mencengkeramnya, setidaknya aku sudah menemukan rumah yang
bagus untuk ini!" kata Frodo sambil mengosongkan gelasnya. Tetes terakhir Old
Winyards.
Setelah menyanyikan banyak lagu, dan membahas banyak hat yang
pernah mereka lakukan bersama, mereka bersulang untuk ulang tahun Bilbo,
dan minum demi kesehatannya dan kesehatan Frodo, menurut kebiasaan Frodo.
Lalu mereka keluar untuk menghirup udara segar dan melihat bintang-bintang,
dan setelah itu pergi tidur. Pesta Frodo sudah berakhir, dan Gandalf belum
datang juga.
Pagi berikutnya mereka sibuk mengisi sebuah kereta lain dengan sisa muatan.
Merry mengawasi, dan pergi bersama Fatty (Fredegar Bolger). "Mesti ada yang
berangkat lebih dulu, untuk menyiapkan rumah itu sebelum kau datang," kata
Merry. "Nah, sampai ketemu—lusa, kalau kau tidak tidur di jalan!"
Setelah makan siang Folco pulang, tapi Pippin tetap tinggal Frodo resah
dan gelisah, sia-sia menunggu kedatangan Gandalf. Ia memutuskan menunggu
sampai malam tiba. Setelah itu, kalau Gandalf ingin segera menemuinya, ia akan
ke Crickhollow, dan mungkin ia akan sampai lebih dulu di sana. Karena Frodo
akan berjalan kaki. Rencananya—dengan alasan untuk bersenang-senang dan
karena ingin melihat Hobbiton untuk terakhir kali, serta banyak alasan lainadalah
berjalan kaki dari Hobbiton ke Bucklebury Ferry, sambil bersantai.
"Sekalian berlatih," kata Frodo, sambil memandang dirinya sendiri di
cermin berdebu, di koridor yang sudah setengah kosong. Ia sudah cukup lama
tidak berjalan-jalan jauh, dan bayangannya di cermin kelihatan agak lembek,
pikirnya.
Setelah makan siang, keluarga Sackville-Baggins datang—Lobelia dan
Lotho, putranya yang berambut warna pasir. Frodo jengkel sekali. "Akhirnya
rumah ini menjadi milik kami!" kata Lobelia ketika masuk. Sikapnya tidak sopan;
juga tidak seluruhnya benar, karena penjualan Bag End baru berlaku efektif
setelah tengah malam. Tapi mungkin Lobelia bisa dimaafkan: ia sudah
menunggu tujuh puluh tujuh tahun lebih lama dari yang diharapkannya untuk
mendapatkan Bag End, dan kini ia sudah berusia seratus tahun. Pokoknya ia
datang untuk mengawasi bahwa semua barang yang sudah dibayarnya ada di
situ, tidak dibawa pergi; dan ia ingin mengambil kunci-kuncinya. Makan waktu
cukup lama untuk memuaskannya, karena ia membawa daftar lengkap dan
memeriksa semuanya. Akhirnya ia pergi bersama Lotho dan kunci cadangan,
dengan janji bahwa kunci yang lain akan dititipkan di rumah keluarga Gamgee di
Bagshot Row. Lobelia mendengus, sikapnya jelas-jelas menunjukkan bahwa
menurut pendapatnya, keluarga Gamgee bisa saja merampok habis rumah itu di
malam hari. Frodo tidak menawarinya teh.
Ia minum teh sendiri bersama Pippin dan Sam Gamgee di dapur. Sudah
diumumkan secara resmi bahwa Sam akan ikut ke Buckland "untuk membantu
Mr. Frodo dan merawat kebunnya"; si Gaffer setuju, meski ia tidak began senang
membayangkan dirinya bertetangga dengan Lobelia.
"Hidangan terakhir kita di Bag End!" kata Frodo, sambil mendorong
kursinya ke belakang. Mereka meninggalkan piring-piring kotor untuk dicuci
Lobelia. Pippin dan Sam mengikat ketiga ransel dan menumpuknya di teras. Lalu
Pippin pergi berjalan-jalan di kebun. Sam menghilang.
Matahari terbenam. Bag End tampak sedih dan suram, dan tidak rapi. Frodo
mengelilingi ruangan-ruangan yang sudah dikenalnya, melihat cahaya matahari
terbenam memudar pada dinding-dinding, dan bayang-bayang merangkak keluar
dari sudut-sudut. Di dalam rumah, kegelapan mulai menebar. Ia keluar dan
melangkah ke gerbang di ujung jalan, lalu menapaki jalan pendek melewati Jalan
Bukit. Ia setengah berharap akan melihat Gandalf muncul dari balik cahaya
senja.
Langit jernih dan bintang-bintang bersinar terang. "Malam ini akan cerah,"
ia berkata keras-keras. "Bagus untuk sebuah awal. Aku merasa ingin berjalan.
Aku sudah tidak tahan tetap di sini. Aku akan . berangkat dan Gandalf terpaksa
mengikuti aku." ia membalikkan badannya untuk kembali, lalu berhenti, karena ia
mendengar suara-suara, tepat di tikungan di ujung Bagshot Row. Satu suara
jelas suara Gaffer tua; yang lainnya suara asing dan agak tidak menyenangkan.
Ia tak bisa mendengar apa yang dikatakannya, tapi ia mendengar jawaban si
Gaffer yang terdengar agak melengking. Kedengarannya Pria tua itu kesal.
"Tidak, Mr. Baggins sudah pergi. Dia pergi pagi tadi, dan Sam-ku pergi
bersamanya: pokoknya seluruh barangnya juga dibawa. Ya, sudah dijual dan dia
pergi, kubilang. Kenapa? Wah, itu bukan urusanku atau urusanmu. Ke mana? Itu
bukan rahasia. Dia pindah ke Bucklebury atau tempat semacamnya, jauh di
sana. Ya... cukup jauh. Aku sendiri belum pernah pergi sejauh itu; banyak orang
aneh di Buckland. Tidak, aku tidak bisa memberikan pesan. Selamat malam!"
Terdengar langkah kaki menuruni Bukit. Frodo agak heran, mengapa ia
merasa sangat lega bahwa langkah-langkah itu tidak mendaki Bukit. "Mungkin
aku sudah muak atas segala rasa ingin tahu orang tentang sepak terjangku,"
pikirnya. "Mereka semua begitu ingin tahu!" ia hampir saja mendatangi si Gaffer
dan menanyakan siapa orang tadi; tapi ia membatalkan niatnya dan
membalikkan badan, lalu dengan cepat berjalan kembali ke Bag End.
Pippin sedang duduk di atas ranselnya di teras. Sam tidak ada di sana.
Frodo masuk ke dalam pintu yang gelap. "Sam!" panggilnya. "Sam': Sudah
waktunya!"
"Datang, Sir!" terdengar jawaban dari dalam, lalu Sam muncul sambil
menyeka mulutnya. Ia sudah berpamitan dengan tong bir di gudang bawah
tanah.
"Semua sudah naik, Sam?" tanya Frodo.
"Ya, Sir. Sekarang aku pasti tahan, Sir."
Frodo menutup dan mengunci pintu yang bundar, lalu memberikan'
kuncinya pada Sam. "Lari dan bawa ini ke rumahmu, Sam!" kata Frodo. "Lalu
potong jalan lewat Row dan jumpai kami secepat mungkin, di gerbang di jalan
luar padang rumput. Kita tidak akan melewati desa malam ini. Terlalu banyak
telinga menguping dan mata mengintai." Sam lari kencang sekali.
"Nah, akhirnya kita berangkat!" kata Frodo. Mereka memanggul ransel
dan meraih tongkat, dan berbelok menuju sisi barat Bag End. "Selamat tinggal!"
kata Frodo, sambil memandang jendela-jendela yang gelap dan kosong. Ia
melambaikan tangan, lalu berbalik dan (persis seperti Bilbo, seandainya ia tahu)
bergegas mengikuti Peregrin, melewati jalan kebun. Mereka melompati tempat
yang rendah di pagar semak di ujung dan berjalan ke padang rumput, masuk ke
dalam kegelapan, bagai bunyi desir angin di rumput.
Di sisi barat kaki Bukit, mereka menjumpai gerbang yang membuka ke jalan
sempit. Di sana mereka berhenti untuk menyetel tali ransel. Tak lama kemudian
Sam muncul, berlari cepat terengah-engah; ranselnya yang berat diangkat tinggi
di pundaknya, dan di kepalanya bertengger kantong tinggi tak berbentuk dari
kain lakan, yang disebutnya topi. Dalam keremangan ia mirip sekali dengan
Kurcaci.
"Aku yakin kau memasukkan barang-barang yang paling berat di
ranselku," kata Frodo. "Aku kasihan kepada siput, dan semua yang memanggul
rumah mereka di punggung."
"Aku masih bisa mengangkat lebih banyak, Sir. Ranselku cukup ringan,"
kata Sam dengan gagah berani dan tidak jujur.
"Tidak, kau tidak bisa, Sam!" kata Pippin. "Ini bagus untuknya. Ranselnya
hanya berisi apa-apa yang dia suruh kita masukkan ke dalamnya. Akhir-akhir ini
dia agak lamban, dan beban itu tidak akan terlalu berat baginya kalau dia sudah
berjalan cukup jauh."
"Kalian mesti ramah pada hobbit tua ini!" tawa Frodo. "Aku akan setipis
tongkat kayu willow sebelum sampai di Buckland. Tapi aku cuma bercanda tadi.
Kurasa bebanmu memang terlalu berat, Sam. Akan kupertimbangkan nanti, saat
mengepak lagi." Frodo memungut tongkatnya lagi. "Well, kita semua senang
berjalan dalam gelap," katanya, "jadi marilah kita berjalan beberapa mil sebelum
tidur."
Untuk beberapa saat mereka mengikuti jalan ke arah barat, kemudian
meninggalkannya dan diam-diam masuk ke padang rumput ia-i. Me reka berbaris
satu-satu melewati pagar-pagar tanaman dan deretan semak-semak rendah;
malam gelap menyelimuti. Dalam jubah gelap mereka, ketiganya tidak kelihatan,
seolah mereka semua mempunyai cincin sihir. Karena mereka semua hobbit,
dan berusaha untuk diam, mereka tidak menimbulkan bunyi berisik yang bisa
didengar para hobbit sekalipun. Bahkan binatang-binatang di padang dan hutan
hampir tidak tahu mereka sedang lewat.
Setelah beberapa saat, mereka menyeberangi Air, sebelah barat
Hobbiton, melalui jembatan papan sempit. Aliran sungai di tempat itu tidak lebih
dari pita hitam yang berkelok-kelok, dibatasi pepohonan alder yang merunduk.
Satu-dua mil lebih jauh ke selatan, mereka tergesa-gesa menyeberangi jalan
besar dari Jembatan Brandywine; sekarang mereka berada di Tookland dan
berbelok ke tenggara, menuju Green Hill Country. Saat mulai mendaki lerenglerengnya
yang pertama, mereka menoleh dan melihat lampu-lampu di Hobbiton
berkelap-kelip di kejauhan, di lembah Air. Segera lembah itu lenyap di dalam
lipatan tanah yang gelap, diikuti oleh Bywater di sebelah telaganya yang kelabu.
Ketika cahaya dari pertanian terakhir sudah jauh di belakang, sambil mengintip
dari antara pepohonan, Frodo membalikkan badan dan melambaikan tangan
untuk berpamitan.
"Akan pernahkah aku memandang lembah itu lagi?" kata Frodo tenang.
Setelah berjalan kira-kira tiga jam, mereka beristirahat. Malam cerah>
sejuk, dan berbintang, tetapi gumpalan-gumpalan kabut seperti asap merangkak
ke atas lereng bukit dari sungai dan padang rumput. Pohon-pohon birch kurus
yang bergoyang dalam angin sepoi di atas kepala mereka membentuk jaring
hitam pada latar langit yang pucat. Mereka menyantap makan malam yang
sangat sederhana (untuk ukuran hobbit), lalu meneruskan perjalanan. Segera
mereka tiba di jalan sempit yang turun-naik, memudar kelabu di kegelapan di
depan: jalan ke Woodhall dan Stock, dan Bucklebury Ferry. Jalan itu mendaki
dari jalan utama di lembah Air, dan memutar menyusuri hamparan Green Hills,
menuju Woody End, sudut liar Wilayah Timur.
Setelah beberapa saat, mereka terjun ke jalan setapak di antara pohonpohon
tinggi yang menggemersikkan daun-daun kering mereka di malam hari.
Gelap sekali. Mula-mula mereka bercakap-cakap, atau menyenandungkan
sebuah lagu bersama-sama, karena sekarang mereka sudah jauh dari telingatelinga
yang ingin tahu. Lalu mereka berjalan terus dalam keheningan, dan
Pippin mulai tertinggal. Akhirnya, saat mereka mulai mendaki lereng terjal, ia
berhenti dan menguap.
"Aku mengantuk sekali," katanya, "kurasa sebentar lagi aku bisa jatuh di
jalan. Apa kalian akan tidur sambil jalan? Sudah hampir tengah malam."
"Kupikir kau suka berjalan dalam gelap," kata Frodo. "Tapi tak perlu
terburu-buru. Merry menunggu kedatangan kita sekitar lusa; tapi itu berarti kita
masih punya waktu hampir dua hari lagi. Kita akan berhenti di tempat pertama
yang memungkinkan."
"Angin ada di Barat," kata Sam. "Kalau kita sampai di sisi lain bukit ini, kita
akan menemukan tempat yang cukup terlindung dan hangat, Sir. Ada hutan
cemara kering di depan sana, seingatku." Sam kenal baik wilayah dalam jarak
dua puluh mil dari Hobbiton, tapi hanya sebatas itu pengetahuan ilmu buminya.
Sedikit melewati puncak bukit, mereka sampai di petak pepohonan
cemara. Setelah meninggalkan jalan, mereka masuk ke dalam kegelapan pekat
pepohonan yang berbau resin, dan mengumpulkan ranting-ranting mati serta
buah cemara untuk membuat api. Tak lama kemudian, mereka sudah
menyalakan api yang berderak ramai di kaki pohon cemara besar. Ketiganya
duduk mengelilingi api untuk beberapa saat, sampai kepala mereka
mengangguk-angguk. Lalu masing-masing meringkuk di sebuah lekukan akar
pohon besar itu, dalam jubah dan selimut mereka, dan tak lama kemudian
mereka sudah tertidur lelap. Mereka tidak berjaga; bahkan Frodo belum cemas
akan bahaya, karena mereka masih berada di jantung Shire. Beberapa makhluk
datang memandang mereka ketika api sudah padam. Seekor rubah yang sedang
melintasi hutan berhenti sejenak untuk mengendus mereka.
"Hobbit!" pikirnya. "Hmm, apa lagi berikutnya? Aku sudah mendengar halhal
aneh di negeri ini, tapi aku jarang mendengar ada hobbit tidur di luar, di
bawah pohon. Tiga hobbit, lagi! Past' ada yang aneh di balik ini." ia benar sekali,
tapi ia tak pernah tahu lebih dari itu.
Pagi datang, pucat dan lembap. Frodo bangun lebih dulu, dan menemukan
punggung bajunya berlubang oleh akar pohon, dan lehernya kaku. "Berjalan
demi kesenangan! Kenapa aku tidak memakai kereta saja?" pikirnya, seperti
yang selalu dilakukannya pada awal perjalanan. "Dan semua tempat tidur buluku
yang indah sudah dijual pada keluarga Sackville-Baggins! Akar-akar pohon ini
pantas untuk mereka!" Ia meregangkan badannya. "Bangun, hobbit-hobbit!"
teriaknya. "Ini pagi yang indah."
"Apanya yang indah?" kata Pippin, sambil mengintip dari balik selimutnya
dengan satu mata. "Sam! Siapkan sarapan untuk jam setengah sepuluh! Apa
kau sudah menghangatkan air mandi?"
Sam melompat bangun, matanya masih mengantuk. "Tidak, Sir, belum,
Sir!" katanya.
Frodo menyentakkan selimut dari tubuh Pippin dan menggulingkannya,
lalu ia berjalan ke pinggir hutan. Di sebelah timur, matahari sedang terbit merah
dari balik kabut tebal yang menyelimuti dunia. Pohon-pohon musim gugur yang
mendapat sentuhan merah keemasan bagaikan berlayar tanpa akar di lautan
remang-remang. Sedikit di bawah Frodo, agak ke kiri, jalanan menurun curam
masuk ke cekungan dan lenyap.
Ketika Frodo kembali, Sam dan Pippin sudah menyalakan api. "Air!" teriak
Pippin. "Mana airnya?"
"Aku tidak menyimpan air di kantongku," kata Frodo.
"Kami pikir kau pergi mencari air," kata Pippin, yang sibuk menyusun
makanan dan cangkir. "Sebaiknya kau pergi sekarang."
"Kau bisa ikut juga," kata Frodo, "dan membawa semua botol air." Ada
sungai kecil di kaki bukit. Mereka mengisi botol-botol dan ceret kecil mereka di
sebuah air terjun kecil yang airnya jatuh beberapa meter dari atas bebatuan
kelabu yang menonjol. Dingin sekali, seperti es; mereka merepet dan terengahengah
saat membasuh wajah dan tangan.
Sudah lewat jam sepuluh ketika mereka selesai sarapan dan telah
mengikat kembali ransel-ransel. Cuaca hari itu mulai bagus dan panas. Mereka
melangkah menuruni lereng, dan menyeberangi aliran sungai yang masuk ke
bawah jalan, lalu menaiki lereng berikutnya, dan turun-naik punggung bukit lain;
saat itu jubah, selimut, air, makanan, dan perlengkapan lainnya sudah terasa
berat membebani.
Perjalanan hari itu kelihatannya akan panas dan melelahkan. Namun
setelah beberapa mil jalanan itu tidak lagi naik-turun: ia mendaki berkelok-kelok
sampai ke puncak tebing, lalu siap turun untuk terakhir kali. Di depan mereka
terlihat dataran rendah dengan bercak-bercak kecil pepohonan, yang di kejauhan
melebur menjadi kabut hutan kecokelatan. Mereka memandang ke seberang
Woody End, ke arah Sungai Brandywine. Jalanan di depan mereka berkelokkelok
seperti seutas tali.
"Jalanan ini seperti tak ada habisnya," kata Pippin, "tapi aku bakal habis
kalau tidak istirahat. Sudah waktunya makan siang." ia duduk di tebing sisi jalan
dan memandang ke timur, ke dalam keremangan tempat Sungai berada, dan
ujung Shire tempat ia menghabiskan seluruh hidupnya. Sam berdiri di dekatnya.
Matanya yang bulat terbuka lebar, karena ia memandangi negeri yang belum
pernah dilihatnya, sampai ke ufuk baru.
"Apa kaum Peri tinggal di dalam hutan itu?" tanyanya.
"Aku belum pernah dengar itu," kata Pippin. Frodo diam. Ia juga sedang
menatap ke arah timur, sepanjang jalan, seolah ia belum pernah melihatnya.
Tiba-tiba ia berbicara dengan suara keras, tapi seolah hanya untuk dirinya
sendiri, mengatakan perlahan-lahan,
Jalan ini tak ada habisnya
Dari pintu ternpat ia bermula.
Terbentang hingga di kejauhan sana,
Mesti kujalani sedapat aku bisa,
Kaki letih, tapi kuberjalan juga,
Sampai kudapati jalan yang lebih lega,
Di mana banyak jalur dan urusan bertemu.
Lalu ke mana? Tak tahulah aku.
"Itu seperti sajak Bilbo," kata Pippin. "Atau itu salah satu tiruanmu?
Kedengarannya tidak terlalu membangkitkan semangat."
"Aku tidak tahu," kata Frodo. "Sajak itu datang padaku seolah aku yang
menciptakannya; tapi mungkin dulu aku pernah mendengarnya. Memang sajak
itu sangat mengingatkanku pada Bilbo di tahun-tahun terakhir sebelum dia pergi.
Dia sering mengatakan bahwa hanya ada satu Jalan; bahwa jalan itu seperti
sebuah sungai besar: mata airnya ada di setiap ambang pintu, dan setiap jalan
adalah anak sungainya. 'Berbahaya sekali, Frodo, kalau keluar pintu,' begitu dia
biasa berkata. 'Kalau kau masuk ke Jalan itu, dan kau tak bisa mengendalikan
kakimu, tak bisa dipastikan ke mana kau akan digiringnya. Sadarkah kau, bahwa
jalan ini melewati Mirkwood, dan bila kaubiarkan, dia akan menuntunmu sampai
ke Gunung Sunyi, atau bahkan ke tempat-tempat yang lebih jauh dan buruk?'
Dia sering mengatakan itu di jalan luar pintu depan Bag End, terutama kalau dia
habis berjalan-jalan jauh."
"Hmm, jalan ini tidak akan menyapuku ke mana pun, setidaknya selama
satu jam," kata Pippin sambil melepas ikatan ranselnya. Yang lain mengikuti,
menyandarkan ransel mereka pada tebing, dan menjulurkan kaki ke arah jalan.
Setelah beristirahat, mereka makan siang, lalu istirahat lagi.
Matahari mulai rendah, dan cahaya senja sudah muncul ketika mereka menuruni
bukit. Sejauh itu mereka tidak bertemu seorang pun di jalan. Jalan ini tidak
banyak digunakan, karena hampir tidak cocok untuk kereta, dan hanya sedikit
lalu lintas ke Woody End. Setelah berjalan lagi selama kurang-lebih satu jam,
Sam berhenti sejenak, seolah sedang mendengarkan. Mereka sekarang sudah
berada di tanah datar; setelah melalui banyak belokan, jalan itu mengarah lurus
ke depan, melewati tanah berumput dengan pepohonan tinggi di sana-sini,
membentuk pinggiran hutan yang semakin dekat.
"Aku bisa mendengar suara tapak kaki kuda di belakang sana," kata Sam.
Mereka menoleh, tapi tikungan jalan menghalangi pandangan mereka.
"Gandalf-kah itu yang menyusul kita?" kata Frodo; tapi saat mengatakan itu pun
ia merasa bahwa yang datang itu bukan Gandalf, dan mendadak muncul hasrat
untuk bersembunyi dari pandangan penunggang kuda itu.
"Mungkin ini tidak begitu penting," kata Frodo meminta maaf, tapi aku
lebih senang tidak kelihatan di jalan-oleh siapa pun. Aku sudah muak kelakuanku
diperhatikan dan dibahas. Dan kalau itu memang Gandalf," tambahnya setelah
berpikir-pikir, "kita bisa memberinya sedikit kejutan, untuk membalasnya karena
dia terlambat. Ayo kita bersembunyi !"
Kedua pendampingnya lari cepat ke kiri, dan masuk ke sebuah cekungan
tak jauh dari jalan. Di sana mereka tengkurap rata ke tanah. Frodo agak ragu:
rasa ingin tahu, atau suatu perasaan lain, bertempur dengan keinginannya
bersembunyi. Bunyi langkah kuda semakin dekat. Tepat pada waktunya ia
menjatuhkan diri ke dalam rumpun alang-alang tinggi, di batik sebatang pohon
yang bayangannya menutupi jalan. Lalu ia mengangkat kepala dan mengintip
dengan hati-hati dari atas salah satu akar besar.
Dari batik tikungan datang seekor kuda hitam; bukan kuda hobbit, tapi
kuda ukuran normal; di atasnya duduk seorang laki-laki besar; ia seperti
meringkuk di atas pelana, terbungkus jubah hitam lebar dan kerudung, hingga
yang tampak di bawahnya hanya sepatu botnya di sanggurdi yang tinggi;
wajahnya tidak tampak, karena tertutup bayang-bayang.
Ketika mencapai pohon dan sejajar dengan Frodo, kuda itu berhenti.
Penunggangnya duduk diam dengan kepala menunduk, seolah sedang
mendengarkan. Dari batik kerudung muncul suara mendengus, seperti orang
sedang berusaha mengendus ban yang sukar ditangkap; kepala orang itu
bergerak dari sisi ke sisi jalan.
Mendadak perasaan takut ketahuan menyelimuti Frodo, dan ia ingat
Cincin-nya. Ia hampir tidak berani bernapas, namun hasrat untuk mengeluarkan
cincin itu dari sakunya jadi begitu kuat, sampai ia perlahan-lahan mulai
menggerakkan tangannya. Ia merasa ia hanya perlu memasang cincin itu di
jarinya, lain ia akan selamat. Nasihat Gandalf terasa tak masuk akal. Bilbo juga
sudah pernah menggunakan Cincin itu. "Dan aku masih berada di Shire,"
pikirnya ketika tangannya menyentuh rantai pengikat cincin. Tepat pada saat itu
si penunggang kuda duduk tegak dan menggoyangkan tali kekang. Kudanya
melangkah maju, mula-mula perlahan-lahan, lain menderap cepat.
Frodo merangkak ke tepi jalan, memperhatikan si penunggang kuda
sampai menghilang di kejauhan. Ia tidak begitu yakin, tapi kelihatannya sebelum
menghilang dari pandangan, kuda itu mendadak membelok masuk ke
pepohonan di sebelah kanan.
"Yah, menurutku itu aneh sekali, dan cukup meresahkan," kata Frodo
pada dirinya sendiri, sambil berjalan menghampiri teman temannya. Pippin dan
Sam tetap tiarap di tengah rerumputan tinggi, dan tidak melihat apa pun; maka
Frodo menguraikan tentang penunggang tadi dan tingkah lakunya yang aneh.
"Aku tak bisa bilang kenapa, tapi aku yakin dia mencari atau mengendusendus
mencariku; dan aku juga yakin tak ingin ditemukan olehnya. Aku belum
pernah melihat atau merasakan yang semacam itu di Shire."
"Tapi apa urusan Makhluk Besar dengan kita?" kata Pippin. "Dan apa
yang dilakukannya di bagian dunia ini?"
"Ada beberapa Manusia berkeliaran," kata Frodo. "Penduduk di Wilayah
Selatan bermasalah dengan Makhluk-Makhluk Besar. Kalau tak salah. Tapi aku
belum pernah mendengar tentang penunggang kuda ini. Aku heran dia datang
dari mana."
"Maaf," kata Sam tiba-tiba. "Aku tahu dari mana dia datang. Dia datang
dari Hobbiton, kecuali ada lebih dari satu penunggang kuda. Dan aku tahu ke
mana dia akan pergi."
"Apa maksudmu?" kata Frodo tajam, menatap Sam dengan tercengang.
"Kenapa tadi kau tidak bicara?"
"Aku baru ingat, Sir. Begini, ketika aku pulang ke rumahku tadi malam
dengan membawa kunci, ayahku bilang padaku, Halo, Sam! katanya. Kukira kau
sudah pergi tadi pagi bersama Mr Frodo. Ada orang aneh menanyakan Mr.
Baggins dari Bag End, dan dia baru saja pergi. Aku sudah menyuruhnya pergi ke
Bucklebury. Aku tidak begitu suka padanya. Dia kelihatan sangat kecewa, ketika
kukatakan bahwa Mr. Baggins sudah meninggalkan rumahnya selamanya. Dia
mendesis padaku. Membuatku merinding. Orang macam apa dia? kataku pada
ayahku. Aku tidak tahu, katanya, tapi dia bukan hobbit. Dia tinggi dan kehitaman,
dan dia membungkuk di depanku. Kuduga dia salah satu Makhluk Besar dari
wilayah asing. Cara bicaranya aneh.
"Aku tidak bisa tin-gal untuk mendengarkan lebih banyak, Sir, karena
Anda sudah menungguku; aku sendiri tidak begitu memedulikannya. Ayahku
sudah mulai tua, dan sudah sangat rabun; pasti sudah hampir gelap ketika orang
ini datang mendaki Bukit dan menemukan ayahku sedang menghirup udara di
ujung Row kita. Kuharap dia atau aku tidak menyebabkan masalah, Sir."
"Bagaimanapun, Gaffer tak bisa disalahkan," kata Frodo. "Sebenarnya
aku mendengar dia berbicara dengan orang asing, yang rupanya
menanyakanku. Aku hampir saja menemuinya, untuk menanyakan siapa dia.
Seandainya aku melakukan itu, atau kau menceritakannya padaku. Aku mungkin
akan lebih berhati-hati di jalan."
"Tapi mungkin tidak ada hubungan antara penunggang kuda ini dengan
orang asing yang menanyai Gaffer," kata Pippin. "Kita meninggalkan Hobbiton
dengan diam-diam, dan menurutku dia tak mungkin mengikuti kita."
"Bagaimana tentang caranya mengendus-endus itu, Sir?" kata Sam. "Dan
ayahku bilang dia orang hitam."
"Aku menyesal tidak menunggu Gandalf," gumam Frodo. "Tapi mungkin
itu hanya akan memperburuk masalah."
"Kalau begun, kau tahu atau menduga sesuatu tentang penunggang kuda
ini?" kata Pippin, yang menangkap kata-kata yang digumamkannya.
"Aku tidak tahu, dan rasanya lebih baik aku tidak menduga-duga," kata
Frodo.
"Baiklah, Sepupu Frodo. Kau bisa menyimpan rahasiamu untuk
sementara, kalau kau ingin misterius. Sementara itu, apa yang harus kita
lakukan? Aku ingin makan sedikit sup, tapi entah mengapa aku merasa
sebaiknya kita pergi dan sini. Omonganmu tentang penunggang yang
mengendus-endus dengan hidung tak tampak itu membuatku cemas."
"Ya, sebaiknya kita jalan terus sekarang," kata Frodo, "tapi jangan di
tengah jalan-siapa tahu penunggang kuda itu kembali, atau yang lain
menyusulnya. Kita harus berjalan cukup jauh hari ini. Buckland masih bermil-mil
jauhnya."
Bayang-bayang pepohonan sudah panjang dan tipis di atas rumput, ketika
mereka berangkat lagi. Kini mereka berjalan pada jarak selemparan batu di
sebelah kiri jalan, dan sedapat mungkin menghindari terlihat. Tapi ini justru jadi
menghambat; karena rumputnya tebal dan rapat, tanahnya tidak rata, dan
pepohonan mulai merapat menjadi belukar.
Matahari sudah terbenam merah di balik bukit-bukit di belakang mereka,
dan senja mulai turun sebelum mereka kembali ke jalan, di ujung jalur panjang
yang menggaris lurus sepanjang beberapa mil. Pada titik tersebut, jalanan itu
berbelok dan masuk ke dataran rendah Yale, menuju Stock; tapi ada jalan
setapak yang bercabang ke kanan, berkelok-kelok melalui hutan pohon ek kuno,
menuju Woodhall. "Kita lewat sana," kata Frodo.
Tak jauh dari pertemuan jalan tadi, mereka sampai di seba-tang pohon
besar yang masih hidup; ranting-ranting kecil yang tumbuh di sekeliling dahandahannya
yang patah dan sudah lama jatuh masih berdaun, tapi batangnya
kosong dan bisa dimasuki melalui sebuah celah besar di sisi yang jauh dari jalan.
Hobbit-hobbit itu merangkak masuk, duduk di tumpukan dedaunan dan kayu
busuk. Mereka beristirahat dan makan ringan, bercakap-cakap pelan dan
sesekali mendengarkan.
Sudah senja ketika mereka merangkak kembali ke jalan. Angin Barat
mendesah di dahan-dahan. Dedaunan berbisik. Tak lama kemudian, perlahan
tapi pasti, jalan itu mulai diselimuti keremangan senja. Sebuah bintang muncul di
atas pepohonan, di Timur yang mulai menggelap di depan mereka. Mereka
berjalan berjajar dengan langkah seirama, agar tetap bersemangat. Setelah
beberapa saat, ketika bintang-bintang semakin rapat dan terang, perasaan
gelisah pun hilang, dan mereka tidak lagi mendengarkan bunyi derap langkah
kuda. Mereka mulai bersenandung pelan, sebagaimana biasa dilakukan para
hobbit kalau sedang berjalan, terutama kalau sudah mendekati rumah di malam
hari. Kebanyakan hobbit biasanya menyanyikan lagu makan malam atau lagu
tidur, tetapi hobbit-hobbit ini menyenandungkan lagu perjalanan (meski, tentu
saja, bukan tanpa menyebut makan malam dan tidur). Bilbo Baggins yang
mengarang sajaknya, mengikuti lagu yang sudah setua bukit-bukit; ia
mengajarkannya pada Frodo saat mereka berjalan-jalan di lembah Air dan
berbincang-bincang tentang Petualangan.
Api pendiangan menyala merah,
Ada tempat tidur di dalam rumah;
Tetapi belum lelah kaki kita,
Di balik tikungan masih ada
Pohon atau batu berdiri tiba-tiba
Yang belum dilihat orang, kecuali kita.
Daun dan rumput, pohon dan bunga,
Biarkan saja! Biarkan saja!
Bukit dan air luas terbentang,
Lewati saja, walau mengundang!
Di balik tikungan mungkin menunggu
Get-bang rahasia atau jalan baru,
Meski hari ini kita lewati,
Esok mungkin kita kembali
Menapaki jalan tersembunyi
Menuju Bulan atau Matahari.
Apel dan duri, kacang dan stroberi,
Biarkan pergi! Biarkan pergi!
Pasir dan batu, telaga dan lembah,
Selamat berpisah! Selamat berpisah!
Rumah ada di belakang, dunia di depan,
Kita menapaki begitu banyak jalan
Lewat bayang-bayang, sampai ke ujung malam,
Dan semua bintang menyala temaram.
Maka dunia di belakang dan rumah di depan,
Kita kembali ke rumah, dan ke peraduan.
Kabut dan senja, awan dan bayangan,
Akan terlupakan! Akan terlupakan!
Api dan lampu, daging dan roti,
Sekarang tidur! Tidur bermimpi!
Lagu itu berakhir. "Dan sekarang tidur! Dan sekarang tidur!" nyanyi Pippin
dengan suara nyaring.
"Ssstt!" kata Frodo. "Rasanya aku mendengar derap kaki kuda lagi."
Mereka berhenti mendadak, berdiri diam seperti bayangan pohon, sambil
mendengarkan. Memang ada bunyi derap kaki kuda di jalan, agak di belakang,
datang menunggang angin, perlahan dan jelas. Dengan cepat dan diam-diam
mereka keluar dari jalan, lari ke dalam bayangan yang lebih gelap di bawah
pohon-pohon ek.
"Jangan terlalu jauh!" kata Frodo. "Aku tak ingin terlihat, tapi aku ingin
melihat, apakah itu Penunggang Hitam lain."
"Baiklah!" kata Pippin. "Tapi jangan lupa, dia suka mengendus-endus!"
Derap langkah kuda semakin dekat. Mereka tak punya waktu untuk
menemukan tempat persembunyian yang lebih bagus daripada kegelapan
menyeluruh di bawah pepohonan; Sam dan Pippin membungkuk di belakang
batang pohon besar, sementara Frodo merangkak kembali beberapa meter ke
arah jalan. Jalan itu terlihat kelabu pucat, bagai sebuah garis cahaya yang
memudar melewati hutan. Di atasnya bintang-bintang bertebaran di langit yang
redup, tapi tak ada bulan.
Bunyi langkah kuda berhenti. Frodo melihat sesuatu yang gelap melewati
tempat yang agak terang di antara dua pohon, kemudian berhenti. Kelihatannya
seperti bayangan hitam seekor kuda yang dituntun suatu bayangan hitam yang
lebih kecil. Bayangan gelap itu berdiri dekat tempat mereka meninggalkan jalan,
dan ia bergoyang ke kiri ke kanan. Frodo merasa mendengar bunyi mendengus.
Bayangan itu membungkuk ke tanah, lalu mulai merangkak ke arahnya.
Sekali lagi hasrat untuk memakai Cincin menyergap Frodo; kali ini lebih
kuat daripada sebelumnya. Begitu kuat, sampai-sampai tangannya sudah masuk
ke dalam saku, nyaris sebelum ia menyadari apa yang dilakukannya. Tapi pada
saat itu terdengar bunyi seperti campuran nyanyian dan tawa. Suara-suara jernih
naik-turun di udara berbintang. Bayangan gelap itu menegakkan diri dan pergi. Ia
memanjat kudanya yang gelap, dan seolah lenyap ke dalam kegelapan di
seberang. Frodo bernapas kembali.
"Peri-peri!" seru Sam dengan bisikan parau. "Peri, Sir!" ia pasti sudah lari
keluar dari balik pepohonan, menghampiri suara-suara itu, seandainya mereka
tidak menahannya.
"Ya, mereka Peri," kata Frodo. "Kadang-kadang kita bisa bertemu mereka
di Woody End. Mereka tidak tinggal di Shire, tapi di musim Semi dan Gugur
mereka mengembara ke Shire, keluar dari negeri mereka sendiri, jauh di luar
Bukit-Bukit Menara. Aku bersyukur mereka datang! Kalian tidak melihat, tapi
Penunggang Hitam itu berhenti di sin, dan sudah mulai merangkak ke arah kita
ketika terdengar nyanyian mereka. Begitu mendengar suara mereka, dia
menyelinap pergi."
"Bagaimana dengan para Peri itu?" kata Sam, terlalu bergairah, sampai
tak peduli tentang penunggang kuda tadi. "Tidak bisakah kita pergi melihat
mereka?"
"Dengar! Mereka sedang menuju kemari," kata Frodo. "Kita tunggu saja di
sini."
Suara nyanyian semakin dekat. Satu suara jernih terdengar lebih jelas di
antara yang lain. Ia menyanyi dalam bahasa Peri, yang hanya sedikit dikenal
Frodo, dan sama sekali tidak dikenal oleh yang lainnya. Paduan suara dan irama
itu meresap ke dalam pikiran mereka, membentuk diri menjadi kata-kata yang
hanya sebagian mereka pahami. Beginilah lagu yang didengar Frodo:
Putih-salju! Putih-salju! Oh wanita jelita!
Oh Ratu di seberang Samudra Barat!
Oh Cahaya 'tuk kami yang mengembara
Di tengah pohon yang berderet rapat!
Gilthoniel! Oh Elbereth!
Jernih matamu, terang napasmu!
Putih-salju! Putih-salju! Kami bernyanyi untukmu
Di negeri jauh, seberang Samudra itu,
Oh bintang-bintang di tahun nan gelap
Ditebar oleh tangannya yang bercahaya,
Di padang berangin yang terang gemerlap
Bunga-bunga perakmu meliuk berdansa!
Oh Elbereth! Gilthoniel!
kami masih ingat, kami yang tinggal
Di negeri jauh di bawah pepohonan rapat,
Cahaya bintangmu di atas Samudra Barat.
Lagu itu berakhir. "Mereka itu Peri-Peri Bangsawan! Mereka menyebut
nama Elbereth!" kata Frodo heran. "Jarang sekali kaum Peri tertinggi itu
terlihat di Shire. Tak banyak yang tersisa di Dunia Tengah, sebelah timur
Samudra Besar. Ini benar-benar suatu kebetulan aneh!"
Hobbit-hobbit itu duduk dalam bayang-bayang di tepi jalan. Tak lama
kemudian, para Peri datang melewati jalan, menuju lembah. Mereka lewat
sangat perlahan, dan para hobbit bisa melihat cahaya bintang berkilauan di atas
rambut mereka dan di dalam mata mereka. Mereka tidak membawa lampu,
namun saat mereka berjalan, suatu cahaya gemerlap seolah jatuh di sekitar
kaki mereka, seperti sinar bulan yang sedang terbit di atas punggung bukit.
Mereka sekarang diam, dan ketika Peri terakhir lewat, la menoleh
memandang para hobbit, dan tertawa.
"Hidup, Frodo!" serunya. "Kau masih di luar, malam-malam begini. Atau
kau tersesat?" Lalu la memanggil yang lain dengan nyaring, dan seluruh
rombongan berhenti dan berkumpul.
"Ini benar-benar ajaib!" kata mereka. "Tiga hobbit di hutan, di malam
hari! Kami belum pernah menyaksikan hal seperti ini sejak Bilbo pergi. Apa
artinya ini?"
"Artinya," kata Frodo, "kelihatannya kami berjalan searah dengan
kalian. Aku senang berjalan di bawah bintang-bintang. Tapi aku akan lebih
senang bila didampingi rombonganmu."
"Tapi kami tidak butuh didampingi, lagi pula hobbit-hobbit menjemukan
sekali," tawa mereka. "Selain itu, bagaimana kau tahu kami juga menuju arah
yang sama denganmu? Kau tidak tahu ke mana kami akan pergi."
"Dan bagaimana kau tahu namaku?" Frodo balik bertanya.
"Kami tahu banyak hal," kata mereka. "Kami sering melihatmu
bersama Bilbo sebelum ini, meski kau belum tentu melihat kami."
"Siapa kau, dan siapa rajamu?" tanya Frodo.
"Aku Gildor," jawab pemimpin mereka, Peri yang pertama
memanggilnya. "Gildor Inglorion dan Rumah Finrod. Kami Orang Buangan, dan
kebanyakan bangsa kami sudah pergi lama sekali. Kami pun hanya sementara
berlama-lama di sini, sebelum kembali menyeberangi Samudra Besar. Tetapi
beberapa saudara kami masih tinggal dalam damai di Rivendell. Ayo, Frodo,
ceritakan pada kami, apa yang sedang kaulakukan? Karena kami melihat
bayangan ketakutan menyelimuti kalian."
"Oh, Orang-Orang Bijak!" sela Pippin dengan bergairah. “Ceritakan pada
kami tentang para Penunggang Hitam!"
"Penunggang Hitam?" mereka berkata dengan suara berbisik. "Mengapa
kau bertanya tentang Penunggang Hitam?"
"Karena dua Penunggang Hitam menyusul kami hari ini, atau satu
penunggang melakukan itu dua kali," kata Pippin, "baru saja dia pergi, ketika
kalian mendekat."
Para Peri tidak langsung menjawab, tetapi berbicara di antara mereka
sendiri dengan pelan-pelan, dalam bahasa mereka. Akhirnya Gildor berbicara
kepada para hobbit. "Kami tidak akan membicarakannya di sini," katanya.
"Menurut kami, sebaiknya kalian ikut kami sekarang. Ini bukan kebiasaan kami,
tapi untuk kali ini kami akan membawa kalian dalam perjalanan kami, dan kalian
akan tidur bersama kami malam ini, kalau kalian mau."
"Oh, Bangsa Elok! Ini sungguh keberuntungan tak terduga," kata Pippin.
Sam tak mampu berbicara.
"Aku berterima kasih padamu, Gildor Inglorion," kata Frodo sambil
membungkuk. "Elen sila lumenn' ornentielvo, sebuah bintang bersinar pada jam
pertemuan kita," tambahnya dalam bahasa tinggi kaum Peri.
"Hati-hati, teman-teman!" seru Gildor sambil tertawa. "Jangan bicarakan
hal-hal rahasia! Dia mengerti Bahasa Kuno. Bilbo memang guru yang balk.
Hidup, sahabat kaum Peri!" katanya, sambil membungkuk di depan Frodo.
"Mari, sekarang kau dan kawan-kawanmu bergabung dengan rombonganku!
Sebaiknya kalian berjalan di tengah, supaya tidak tersesat. Kau mungkin akan
lelah sebelum kami berhenti."
"Mengapa? Ke mana kalian akan pergi?" tanya Frodo.
"Malam ini kami akan ke hutan di bukit-bukit di atas Woodhall. Jaraknya
beberapa mil, tapi di akhir perjalanan kalian akan beristirahat, dan ini akan
mempersingkat perjalanan kalian besok."
Mereka berjalan lagi dalam keheningan, berlalu bagai bayangan dan
cahaya samar-samar: karena para Peri (melebihi kaum hobbit) bisa berjalan
tanpa suara atau bunyi langkah kaki, bila mereka mau. Pippin segera merasa
mengantuk, dan terhuyung-huyung sekali-dua kali; tapi seorang Peri jangkung di
sampingnya selalu mengulurkan tangan dan menyelamatkannya agar tidak
jatuh. Sam berjalan di sisi Frodo, seolah dalam mimpi, dengan ekspresi
setengah ketakutan dan setengah gembira, penuh keheranan.
Hutan-hutan di kedua sisi semakin rapat; pohon-pohon lebih muda dan
tebal; jalanan pun semakin menurun, masuk ke sebuah lipatan perbukitan,
dengan banyak sekali tanah rendah bersemak hazel di tebing-tebing di kedua
sisinya. Akhirnya para Peri membelok dari jalan. Suatu jalur hijau untuk berkuda
terbentang hampir tak kelihatan di antara semak-semak di sebelah kanan;
mereka mengikuti jalur ini, yang membelok naik ke tebing berhutan, sampai ke
puncak bahu bukit yang menonjol di dataran rendah dari lembah sungai.
Mendadak mereka keluar dari bawah bayang-bayang pohon, dan di depan
mereka terhampar padang rumput luas, kelabu di bawah langit malam. Padang
rumput itu diapit hutan di ketiga sisinya; tetapi di sebelah timur, tanah menurun
curam, dan di bawah kaki mereka tampak puncak-puncak pohon gelap yang
tumbuh di dasar lembah. Di seberang, dataran rendah terhampar samar-samar
dan rata di bawah bintang-bintang. Lebih dekat dengan mereka, beberapa lampu
berkelap-kelip di desa Woodhall.
Para Peri duduk di rumput dan bercakap-cakap perlahan; mereka seolah
tidak memperhatikan para hobbit lagi. Frodo dan teman-temannya membungkus
diri dengan mantel dan selimut, dan mereka langsung mengantuk. Malam
berlanjut, dan cahaya-cahaya di lembah mulai padam. Pippin tertidur,
berbantalkan bukit kecil hijau.
Jauh di Timur tergantung Remmirath, Bintang Jala, dan perlahan di atas
kabut, Borgil merah terbit, menyala bagai berlian api. Lalu seembus udara
menyingkap seluruh kabut itu, bagai menyibakkan kerudung, dan di sana Ksatria
Pedang Langit bersandar, merayap perlahan memanjat ujung dunia—
Menelvagor dengan ikat pinggangnya yang kemilau.- Para Peri mulai bernyanyi.
Tiba-tiba di bawah pepohonan muncul nyala api dengan cahaya merah.
"Mari!" para Peri memanggil hobbit-hobbit. "Mari! Sekarang saatnya
mengobrol dan bersuka ria!"
Pippin bangkit duduk dan menggosok matanya. Ia menggigil. "Ada api di
balairung, dan makanan untuk tamu yang lapar," kata seorang Peri yang berdiri
di depannya.
Di ujung selatan padang rumput itu ada tempat terbuka. Di sana
hamparan rumput hijau berlanjut ke dalam hutan, membentuk ruangan luas
seperti balairung, beratapkan cabang-cabang pohon. Batang-batang pohon
tegak bagaikan tiang di kedua sisinya. Di tengah ada api unggun menyala, dan di
atas tiang-tiang pohon, obor-obor bercahaya emas dan perak menyala tenang.
Peri-peri duduk mengelilingi api, di rumput atau di tunggul-tunggul kayu pohon
tua yang digergaji. Beberapa berjalan kian kemari, membawa cangkir dan
menuangkan minuman; yang lain membawa makanan di piring-piring dan
nampan-nampan.
"Makanan ini hanya sekadarnya," kata mereka kepada para hobbit,
"karena kita menginap di hutan kayu, jauh dari balairung-balairung kami.
Kalausuatu waktu kalian menjadi tamu di rumah kami, kami akan
menghidangkan yang lebih baik."
"Ini pun sudah cukup meriah, seperti pesta ulang tahun," kata Frodo.
Setelahnya Pippin hanya ingat sedikit sekali tentang makanan dan
minuman yang dihidangkan, karena pikirannya dipenuhi cahaya pada wajah
kaum peri, serta suara-suara yang begitu beragam dan indah, yang membuatnya
merasa bak bermimpi dalam keadaan terjaga. Tapi ia ingat ada roti yang rasanya
melebihi kelezatan roti tawar putih bagi orang yang hampir mati kelaparan; buahbuahan
semanis buah berry liar, dan lebih kaya daripada buah-buahan yang
dirawat di kebun-kebun; ia menghabiskan secangkir cairan wangi yang sejuk
bagai air mancur jernih, dan keemasan bagai siang musim panas.
Sam tak pernah bisa menjelaskan dengan kata-kata, maupun
menggambarkan kepada dirinya sendiri, apa yang dirasakan atau dipikirkannya
malam itu, meski peristiwa itu terpatri dalam ingatannya sebagai salah satu
kejadian besar dalam hidupnya. Paling-paling ia hanya bisa mengatakan, "Wah,
Sir, kalau aku bisa menumbuhkan apel seperti itu, baru aku akan menyebut
diriku tukang kebun. Tapi sebenarnya nyanyiannya yang menyentuh hatiku,
kalau Anda paham maksudku."
Frodo duduk, makan, minum, dan bercakap-cakap dengan riang; namun
pikirannya terutama tertuju kepada kata-kata yang diucapkan. Ia tahu sedikit
bahasa Peri, dan ia mendengarkan dengan penuh gairah. Sesekali ia berbicara
pada mereka yang melayaninya, dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa
mereka. Mereka tersenyum kepadanya dan sambil tertawa berkata, "Ini dia
permata di antara para hobbit."
Setelah beberapa saat, Pippin tertidur; ia diangkat dan dibawa ke sebuah
punjung di bawah pepohonan; di sana ia diletakkan di ranjang empuk, dan ia
tidur sepanjang malam. Sam menolak meninggalkan majikannya. Ketika Pippin
sudah-pergi, ia datang dan duduk meringkuk dekat kaki Frodo, di mana akhirnya
ia mengangguk-angguk dan memejamkan matanya. Frodo masih lama terjaga
sambil bercakap-cakap dengan Gildor.
Mereka membicarakan banyak hat, lama dan baru, dan Frodo banyak
bertanya pada Gildor tentang kejadian-kejadian di dunia luas di luar Shire.
Berita-beritanya kebanyakan sedih dan mengancam: tentang kegelapan yang
semakin meluas, perang-perang Manusia, dan pelarian kaum Peri. Akhirnya
Frodo mengajukan pertanyaan yang paling dekat di hatinya,
"Katakan, Gildor, apa kau pernah bertemu Bilbo sejak dia meninggalkan
kami?"
Gildor tersenyum. "Ya," jawabnya. "Dua kali. Dia berpamitan dengan
kami, persis di tempat ini. Tapi aku bertemu lagi dengannya. satu kali, jauh dari
sini." ia tak mau mengatakan lebih banyak tentang Bilbo, dan Frodo terdiam.
"Kau tidak banyak bertanya atau bercerita tentang hal-hal yang
menyangkut dirimu sendiri, Frodo," kata Gildor. "Tapi aku sudah tahu sedikit, dan
aku bisa membaca lebih banyak di wajahmu, dan dalam apa yang tersirat di balik
pertanyaan-pertanyaanmu. Kau meninggalkan Shire, tapi kau ragu akan
menemukan apa yang kaucari, atau berhasil melakukan niatmu, atau apakah
kau akan pernah kembali. Bukankah begitu?"
"Memang," kata Frodo, "tapi kusangka kepergianku adalah rahasia yang
hanya diketahui Gandalf dan Sam yang setia." ia memandang Sam yang
mendengkur pelan.
"Rahasia ini tidak akan sampai ke telinga Musuh melalui kami," kata
Gildor.
"Musuh?" kata Frodo. "Kalau begitu, kau tahu mengapa aku
meninggalkan Shire?"
"Aku tidak tahu alasan Musuh mengejarmu," jawab Gildor, "tapi aku
merasa memang itulah yang terjadi—meski ini terasa aneh bagiku. Aku ingin
memperingatkanmu bahwa bahaya ada di depan maupun di belakangmu, dan di
kedua sisi."
"Maksudmu para Penunggang itu? Aku sudah cemas bahwa mereka
adalah pengabdi Musuh. Siapa sebenarnya para Penunggang Hitam itu?"
"Apakah Gandalf tidak menceritakan apa pun padamu?"
"Tidak tentang makhluk semacam itu."
"Kalau begitu, tidak pada tempatnya kalau aku mengatakan lebih banyak
jangan-jangan nanti perasaan takut membuatmu tidak berani melanjutkan
perjalanan. Menurutku kau berangkat tepat pada waktunya, kalau bisa dikatakan
belum terlambat. Sekarang kau hams bergegas, dan jangan tinggal atau
kembali; karena Shire bukan lagi tempat perlindungan yang aman bagimu."
"Tak bisa kubayangkan penjelasan apa lagi yang lebih mengerikan
daripada petunjuk-petunjuk dan peringatanmu," seru Frodo. "Aku tahu ada
bahaya di depanku, tapi aku tak menduga akan menemukannya di dalam Shire
kami sendiri. Tak bisakah seorang hobbit berjalan dari Air ke Sungai dengan
tenteram?"
"Tapi ini bukan Shire-mu sendiri," kata Gildor. "Ada makhluk-makhluk lain
yang tinggal di sini sebelum hobbit; dan makhluk-makhluk lain pula yang akan
menetap di sini kalau hobbit sudah musnah. Dunia luas terbentang di sekitarmu:
kau bisa memagari dirimu, tapi kau tak bisa selamanya menahan dunia di luar."
"Aku tahu-tapi selama ini Shire selalu terasa aman dan akrab.
Apa yang bisa kulakukan sekarang? Rencanaku adalah meninggalkan
Shire diam-diam, dan pergi ke Rivendell; tapi sekarang langkahku mantap,
bahkan sebelum aku sampai di Buckland."
"Kupikir kau harus tetap mengikuti rencanamu," kata Gildor. "Menurutku
Jalan ini tidak akan terlalu sulit untuk keberanianmu. Tapi kalau kau
mengharapkan nasihat lebih jelas, kau harus bertanya pada Gandalf. Aku tidak
tahu alasan pelarianmu, karena itu aku tidak tahu dengan cara apa pengejarmu
akan menyerangmu. Gandalf pasti tahu hal-hal ini. Kurasa kau akan bertemu
dengannya sebelum meninggalkan Shire?"
"Kuharap begitu. Tapi aku cemas. Aku sudah berhari-hari menunggu
Gandalf. Seharusnya dia datang ke Hobbiton paling lambat dua malam yang lalu;
tapi dia sama sekali tidak muncul. Sekarang aku bertanya-tanya, apa yang
terjadi. Haruskah aku menunggunya'?"
Gildor diam sejenak. "Aku tidak senang mendengar ini," akhirnya ia
berkata. "Keterlambatan Gandalf itu pertanda kurang baik. Tapi kata pepatah:
jangan mencampuri urusan para Penyihir, karena mereka halus dan cepat
marah. Pilihannya ada padamu: pergi atau menunggu."
"Ada pepatah lain," jawab Frodo, "Jangan minta nasihat pada kaum Peri,
karena mereka akan mengatakan ya maupun tidak."
"Begitukah?" tawa Gildor. "Kaum Peri jarang memberikan nasihat begitu
saja, karena nasihat adalah pemberian berbahaya, walau datangnya dari yang
bijak dan untuk yang bijak pula; salah-salah segala sesuatunya bisa berakibat
buruk. Tapi apa yang kauinginkan? Kau belum banyak bercerita tentang dirimu
sendiri, jadi bagaimana aku bisa memilih lebih baik daripadamu? Tapi kalau kau
meminta nasihat, demi persahabatan aku akan memberikannya. Menurutku kau
harus pergi sekarang juga, tanpa ditunda; dan kalau Gandalf tidak datang
sebelum kau berangkat, maka kusarankan jangan pergi sendirian. Bawalah
teman-teman yang bersedia ikut dan bisa dipercaya. Sekarang kau hams
bersyukur, karena aku tidak memberikan nasihat ini dengan senang hati. Kaum
Peri punya pekerjaan dan masalah sendiri, dan mereka tak peduli dengan
kehidupan kaum hobbit atau makhluk-makhluk lain di bumi. Jalan kami jarang
bersilangan dengan Plan mereka, baik secara kebetulan atau sengaja.
Pertemuan kita ini mungkin bukan sekadar kebetulan, tapi tujuannya tidak jelas
untukku, dan aku takut bicara terlalu banyak."
"Aku sangat bersyukur," kata Frodo, "tapi aku berharap kau mau
mengatakan padaku, siapa sebenarnya Penunggang Hitam itu. Kalau aku
menuruti nasihatmu, mungkin untuk waktu lama aku tidak akan bertemu Gandalf,
dan aku perlu tahu bahaya apa yang mengejarku."
"Tidak cukupkah mengetahui bahwa mereka adalah pengabdi Musuh?"
jawab Gildor. "Larilah dari mereka! Jangan bicara dengan mereka! Mereka
mematikan. Jangan tanya lebih banyak padaku! Tapi aku punya firasat bahwa,
sebelum semuanya berakhir, kau, Frodo putra Drogo, akan mengetahui lebih
banyak tentang hal-hal jahat ini daripada Gildor Inglorion. Semoga Elbereth
melindungimu!"
"Tapi di mana aku harus menemukan keberanian itu?" tanya Frodo. "Itu
yang terutama kubutuhkan."
"Keberanian bisa ditemukan di tempat-tempat tak terduga," kata Gildor.
"Berharaplah! Sekarang tidurlah! Besok pagi kami sudah akan pergi; tapi kami
akan mengirimkan pesan-pesan ke seluruh pelosok negeri. Rombongan
Pengembara akan tahu tentang perjalananmu, dan mereka yang memiliki
kekuatan untuk kebaikan akan berjaga-jaga. Akan kusebut kau sahabat Peri;
semoga bintang-bintang bersinar pada ujung jalanmu! Jarang kami begitu
senang bertemu orang asing, dan indah sekali mendengar kata-kata Bahasa
Kuno itu dari bibir para pengembara lain di dunia."
Frodo mulai mengantuk, sementara Gildor baru selesai berbicara. "Aku
akan tidur sekarang," katanya. Peri itu menuntunnya ke sebuah punjung di
sebelah Pippin. Frodo mengempaskan tubuh ke sebuah ranjang, dan langsung
tertidur lelap tanpa mimpi.
BAB 4
JALAN PINTAS MENUJU JAMUR
Pagi harinya Frodo bangun dengan perasaan segar. Ia berbaring di
sebuah punjung yang terbentuk dari sebatang pohon hidup, dengan dahandahan
saling berjalin dan menjuntai sampai ke tanah; ranjangnya terbuat dari
pakis dan rumput, tebal lembut dan wanginya aneh. Matahari bersinar dari
antara dedaunan hijau yang bergoyang-goyang dan masih melekat pada pohon.
Ia melompat dan keluar.
Sam duduk di rumput dekat pinggir hutan. Pippin sedang berdiri
memperhatikan langit dan cuaca. Tak ada tanda-tanda kehadiran para Peri.
"Mereka meninggalkan buah-buahan dan minuman untuk kita, juga roti,"
kata Pippin. "Ayo sarapan dulu. Rotinya lezat seperti tadi malam. Aku tak mau
menyisakannya untukmu, tapi Sam memaksaku."
Frodo duduk di samping Sam dan mulai makan. "Apa rencana untuk hari
ini?" tanya Pippin.
"Berjalan secepat mungkin ke Bucklebury," jawab Frodo, lalu memusatkan
perhatian pada makanannya.
"Apa menurutmu kita masih akan bertemu Penunggang-Penunggang itu?"
tanya Pippin riang. Di bawah matahari pagi, kemungkinan melihat sepasukan
penunggang kuda itu rasanya tidak terlalu menakutkan baginya.
"Ya, mungkin," kata Frodo, tak senang diingatkan. "Tapi kuharap kita bisa
menyeberangi sungai tanpa terlihat oleh mereka."
"Kau sudah tahu sesuatu tentang mereka dari Gildor?"
"Tidak banyak-hanya petunjuk samar dan teka-teki," kata Frodo
mengelak.
"Apa kau bertanya tentang caranya mengendus-endus?"
"Kami tidak membahasnya," kata Frodo dengan mulut penuh.
"Seharusnya kautanyakan. Aku yakin itu penting sekali."
"Kalau begitu, aku yakin Gildor menolak menjelaskannya," kata Frodo
tajam. "Dan sekarang biarkan aku tenang sebentar! Aku tidak mau menjawab
serentetan pertanyaan sementara sedang makan. Aku ingin berpikir!"
"Ya ampun!" kata Pippin. "Di waktu sarapan?" ia berjalan ke arah tepian
rumput.
Pagi yang cerah itu-terlalu cerah malah—tak bisa melenyapkan ketakutan
Frodo kalau—kalau mereka dikejar; dan ia merenungkan kata-kata Gildor. Suara
riang Pippin terdengar olehnya. Pippin sedang berlari di bentangan rumput dan
bernyanyi.
"Tidak! Aku tak bisa!" kata Frodo pada dirinya sendiri. "Ini tak bisa
disamakan. Membawa teman-temanku yang masih muda berjalan-jalan di Shire
sampai kami lapar dan lelah, hingga makanan dan ranjang terasa enak setelah
pulang, itu tak apa-apa. Tapi membawa mereka ke dalam pengasingan, di mana
kelaparan dan keletihan mungkin tak ada obatnya, sungguh merupakan
tanggung jawab berat, walau mereka bersedia ikut. Ini urusanku sendiri. Kurasa
Sam pun tak boleh kubawa." ia memandang Sam Gamgee, dan melihat Sam
sedang memperhatikannya.
"Well, Sam!" kata Frodo. "Bagaimana? Aku akan meninggalkan Shire
sesegera mungkin bahkan aku sudah mengambil keputusan untuk tidak
menunggu sehari pun di Crickhollow, kalau bisa."
"Baik, Sir!"
"Kau masih bertekad ikut aku?"
"Ya."
"Akan sangat berbahaya, Sam. Bahkan sekarang pun sudah berbahaya.
Besar kemungkinan kita berdua tidak akan kembali."
"Kalau Anda tidak kembali, Sir, aku juga tidak, itu pasti," kata Sam.
"Jangan tinggalkan dia! kata mereka padaku: Meninggalkan dial kataku. Takkan
pernah. Aku akan ikut bersamanya, kalau dia memanjat Bulan; dan kalau ada di
antara para Penunggang itu berusaha menghentikannya, mereka akan
berurusan dengan Sam Gamgee, kataku. Mereka tertawa."
"Siapa mereka, dan apa yang kaubicarakan?"
"Para Peri, Sir. Kami bercakap-cakap sedikit tadi malam, Sir; dan rupanya
mereka tahu Anda akan pergi, jadi menurutku tidak ada gunanya membantah itu.
Makhluk yang hebat, Sir, para Peri itu! Hebat!"
"Memang," kata Frodo. "Apa kau masih menyukai mereka, setelah
memandang mereka dari dekat?"
"Kelihatannya mereka berada di atas rasa suka dan tidak sukaku, bisa
dikatakan begitu," jawab Sam perlahan. "Tidak penting apa yang kupikirkan
tentang mereka. Mereka sangat berbeda dari yang kusangka—begitu tua dan
muda, begitu riang dan sedih, begitulah kira-kira."
Frodo menatap Sam dengan kaget, setengah berharap melihat tanda luar
yang menunjukkan perubahan aneh yang rupanya terjadi pada dirinya. Suaranya
tidak seperti suara Sam Gamgee yang selama ini ia kenal. Tapi sosok yang
duduk di sana itu masih seperti Sam Gamgee yang biasa, hanya saja wajahnya
tampak merenung, tidak seperti biasanya.
"Apa kau masih merasa ingin meninggalkan Shire sekarang, setelah
keinginanmu bertemu dengan mereka terwujud?" tanya Frodo.
"Ya, Sir. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya, tapi setelah tadi malam
aku merasa berbeda. Seolah aku bisa melihat ke masa depan, semacam itulah.
Aku tahu kita akan meniti jalan panjang sekali ke dalam kegelapan; tapi aku tahu
aku tak bisa kembali. Sekarang yang kau inginkan bukanlah melihat Peri, bukan
juga naga, atau pegunungan aku tidak tahu persis apa yang kuinginkan, tapi aku
harus melakukan, sesuatu sebelum akhir itu tiba, dan sesuatu itu ada di depan
sana, bukan di Shire. Aku hams mengatasinya, Sir, kalau Anda paham
maksudku."
"Aku sama sekali tidak mengerti. Tapi aku mengerti bahwa Gandalf telah
memilihkanku seorang pendamping yang baik. Aku puas. Kita akan pergi
bersama."
Frodo menghabiskan sarapannya dengan diam. Lalu sambil berdiri ia
menatap pemandangan di depan, dan memanggil Pippin.
"Sudah siap berangkat?" katanya kepada Pippin yang datang berlari. "Kita
harus segera berangkat. Kita sudah bangun kesiangan, dan masih jauh sekali
jarak yang harus kita tempuh."
"Kau yang kesiangan bangun, maksudmu," kata Pippin. "Aku sudah
bangun lama sebelumnya; dan kami hanya menunggumu menyelesaikan
sarapan dan berpikir."
"Aku sudah menyelesaikan keduanya sekarang. Dan aku akan berjalan ke
Bucklebury Ferry secepat mungkin. Aku tidak akan menyimpang dari sini,
kembali ke jalan yang kita tinggalkan tadi malam: aku akan memotong langsung
lewat pedalaman dari slim."
"Kalau begitu, kau mesti terbang," kata Pippin. "Kau tidak bisa memotong
lurus lewat pedalaman dari sini."
"Setidaknya kita bisa memotong lebih lurus daripada jalan raya," Jawab
Frodo. "Ferry ada di sebelah timur Woodhall, tapi jalan raya membelok ke kiri—
kau bisa lihat belokannya di sana, di sebelah utara. Dia melingkari ujung utara
Marish, bergabung dengan jalan lintasan tinggi dari Jembatan di atas Stock. Tapi
itu bermil-mil di luar arah kita. Kita bisa menghemat seperempat jarak kalau kita
berjalan mengikuti garis lurus ke arah Ferry dari tempat kita berdiri."
"Potong jalan menimbulkan penundaan lama," debat Pippin. "Pedalaman
di sini kasar sekali, ada tanah berlumpur dan segala macam kesulitan di daerah
Marish—aku kenal wilayah ini. Dan kalau kau cemas berpapasan dengan para
Penunggang Hitam, menurutku bertemu mereka di jalan sama saja dengan
bertemu di hutan atau padang rumput."
"Lebih sulit menemukan orang di dalam hutan atau di padang," jawab
Frodo. "Dan kalau orang menduga kita berada di jalan, ada kemungkinan kita
akan dicari di jalan, bukan di luarnya."
"Baiklah!" kata Pippin. "Aku akan mengikutimu ke setiap tanah berlumpur
dan parit. Tapi akan sulit sekah ! Aku sudah berharap melewati Persinggahan
Emas di Stock sebelum gelap. Di situ ada bir paling enak di seluruh Wilayah
Timur. Sudah lama aku tidak mencicipinya."
"Jadilah kalau begitu," kata Frodo. "Mengambil jalan pintas bisa-bisa
malah menghambat, tapi tempat-tempat minum bakal lebih menghambat lagi.
Pokoknya kau tidak boleh dekat-dekat Persinggahan Emas. Kita mesti sampai di
Bucklebury sebelum gelap. Bagaimana menurutmu, Sam?"
"Aku akan mendampingi Anda, Mr. Frodo," kata Sam (meski dalam hati ia
merasa kecewa dan menyesal tidak bisa mencicipi bir terbaik di Wilayah Timur).
"Kalau begitu, jika kita mesti susah payah melewati tanah berlumpur dan
semak-semak berduri, ayo berangkat sekarang!" kata Pippin.
Cuaca sudah hampir sama panasnya seperti kemarin; tapi awan-awan mulai
muncul dari sebelah Barat. Kelihatannya sangat mungkin hujan akan turun. Para
hobbit berjuang menuruni sebuah tebing hijau, dan meloncat ke dalam
pepohonan lebat di bawah. Jalur yang mereka pilih itu meninggalkan Woodhall di
sebelah kiri, dan memotong miring melewati hutan yang bergerombol sepanjang
sisi timur bukit, sampai mencapai tanah datar di seberang. Setelah itu mereka
bisa berjalan lurus ke arah Ferry, melewati daerah terbuka, kecuali beberapa
parit dan pagar. Frodo memperkirakan garis lurus yang harus mereka lalui
panjangnya delapan belas mil.
Segera ia menyadari bahwa semak-semak itu lebih rapat dan lebih kusut
daripada kelihatannya. Tak ada jalan di dalam belukar, dan mereka tak bisa maju
dengan cepat. Ketika sudah berjuang keras untuk mencapai dasar tebing,
mereka menemukan sebuah sungai mengalir tunin dari bukit-bukit di belakang,
ke dalam dasar yang sangat dalam, dengan tepi-tepi curam yang licin dan
dipenuhi tanaman berduri. Sungai itu memotong garis arah yang sudah mereka
pilih. Mereka tak bisa melompatinya, maupun menyeberanginya, tanpa menjadi
basah kuyup, tergores-gores, dan berlumpur. Mereka berhenti, bertanya-tanya
apa yang harus dilakukan. "Hambatan pertama!" kata Pippin sambil tersenyum
murung.
Sam Gamgee menoleh ke belakang. Melalui bukaan di antara pepohonan,
ia melihat sekilas puncak tebing hijau yang telah mereka turuni.
"Lihat!" katanya, mencengkeram tangan Frodo. Mereka semua
memandang, dan di punggung tebing jauh di atas mereka, berlatar belakang Ianit,
berdiri seekor kuda. Di sampingnya membungkuk sebuah sosok hitam.
Seketika mereka membatalkan gagasan untuk kembali. Frodo memimpin
jalan, dan terjun cepat ke dalam belukar rapat di sisi sungai. "Waduh!" katanya
pada Pippin. "Kita berdua benar! Jalan pintas itu malah membuat masalah; tapi
kita berhasil bersembunyi tepat pada waktunya. Pendengaranmu tajam, Sam;
bisakah kau mendengar sesuatu datang?"
Mereka berdiri diam, hampir menahan napas sambil mendengarkan; tapi
tidak terdengar bunyi pengejaran. "Rasanya dia tidak akan berani mencoba
membawa kudanya menuruni tebing itu," kata Sam. "Tapi kukira dia tahu kita
menuruninya. Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan."
Meneruskan berjalan sama sekali tidak mudah. Ransel-ransel harus
dibawa, dan semak-semak belukar enggan membiarkan mereka lewat. Mereka
terpotong dari aliran angin oleh punggung bukit di belakang; udara pengap dan
diam. Ketika akhirnya berhasil menerobos jalan sampai ke wilayah yang lebih
terbuka, mereka sudah kepanasan, lelah, dan tergores-gores, dan sudah tidak
yakin akan arah yang mereka ambil. Tebing-tebing sungai mulai menurun, saat
aliran airnya mencapai tanah datar dan menjadi lebih lebar dan dangkal,
mengalir menuju Marish dan Sungai Besar.
"Wah, ini kan Stock-brook!" kata Pippin. "Kalau ingin mencoba kembali ke
arah yang benar, kita harus menyeberangi sungai ini segera dan berjalan ke
arah kanan."
Mereka menyeberangi sungai itu, bergegas melewati daerah terbuka yang
tak berpohon dan ditumbuhi rush di sisi seberangnya. Setelah itu mereka sampai
ke serumpun pepohonan: sebagian besar pohon ek tinggi, dengan pohon elmatau
asli di sana-sini. Tanahnya cukup datar, dan hanya sedikit belukar, tapi
pepohonan terlalu rapat, sehingga mereka tak bisa melihat jauh ke depan.
Dedaunan tertiup ke atas oleh embusan angin mendadak, dan bercak-bercak
hujan mulai turun dari langit yang mendung. Lalu angin mereda dan hujan turun
deras. Mereka berjalan dengan susah payah secepat mungkin, melewati bidangbidang
rumput dan timbunan daun-daun tua; di sekitar mereka hujan turun rintikrintik.
Mereka tidak berbicara, tapi sering menoleh ke belakang, dan ke kirikanan.
Setelah setengah jam, Pippin berkata, "Kuharap kita tidak terlalu banyak
membelok ke arah selatan, dan tidak berjalan ke arah panjang hutan ini! Hutan
ini tidak terlalu besar, dan seharusnya kita sudah melewatinya sekarang."
"Tak ada gunanya mulai berjalan berliku-liku," kata Frodo. "Itu tidak akan
memperbaiki keadaan. Biarlah kita terus berjalan seperti sejak tadi! Aku belum
berani keluar ke daerah terbuka."
Mereka terus berjalan sepanjang kira-kira dua mil. Lalu matahari bersinar lagi
dari balik awan-awan, dan hujan mereda. Sekarang sudah lewat tengah hari, dan
mereka merasa sudah saatnya makan siang. Mereka berhenti di bawah pohon
elm: dedaunannya masih lebat, walau sudah mulai menguning, dan tanah di
kakinya lumayan kering dan teduh. Ketika menyiapkan makanan, baru mereka
sadar bahwa kaum Peri sudah mengisi botol-botol mereka dengan minuman
jernih berwarna pucat keemasan: aromanya seperti madu dari bermacam
kembang, dan ternyata sangat menyegarkan. Tak lama kemudian, mereka
sudah tertawa-tawa dan menceklikkan jari kepada hujan, dan kepada para
Penunggang Hitam. Beberapa mil terakhir rasanya akan segera selesai
ditempuh.
Frodo bersandar ke batang pohon, dan memejamkan mata. Sam dan
Pippin duduk di dekatnya, dan mereka mulai bersenandung, lalu bernyanyi
perlahan:
Ho! Ho! Ho! Kepada botol aku pergi
Membenamkan sedih dan menyembuhkan hati.
Hujan boleh turun, angin pun berembus,
Masih jauh jarak yang harus ditembus,
Tapi di bawah pohon tinggi aku berbaring,
Membiarkan awan-awan lewat beriring.
Ho! Ho! Ho! mereka mulai lagi lebih keras. Tapi tiba-tiba mereka berhenti.
Frodo melompat berdiri. Sebuah raungan panjang datang menunggang angin,
seperti teriakan makhluk jahat dan kesepian. Raungan itu naik-turun, dan
berakhir pada nada tinggi tajam. Sementara mereka duduk dan berdiri, seolah
membeku mendadak, raungan itu dibalas teriakan lain, lebih lemah dan jauh, tapi
tak kurang mengerikan. Lain menyusul keheningan yang dipatahkan hanya oleh
bunyi angin di dedaunan.
"Apa itu menurutmu?" tanya Pippin akhirnya, berusaha berbicara ringan,
tapi agak gemetar. "Kalau itu burung, belum pernah aku mendengar yang seperti
itu di Shire."
"Itu bukan burung atau binatang," kata Frodo. "Itu panggilan, atau tandaada
kata-kata dalam teriakan itu, meski aku tak bisa menangkapnya. Tapi tidak
ada hobbit yang mempunyai suara semacam itu."
Mereka tidak membahasnya lagi. Mereka semua memikirkan para
Penunggang Hitam itu, tapi tidak membicarakannya. Kini mereka enggan untuk
tetap tinggal maupun berjalan terus; tapi cepat atau lambat mereka harus
menyeberangi pedalaman terbuka untuk ke Ferry, dan sebaiknya mereka pergi
segera, selagi masih terang. Dalam sekejap mereka sudah memanggul ransel
dan berangkat.
Tak lama kemudian, hutan mendadak berakhir. Padang-padang rumput luas
terhampar di depan mereka. Sekarang baru terlihat bahwa sebenarnya mereka
sudah terlalu banyak membelok ke selatan. Jauh di sana, di seberang dataran
rendah, tampak sekilas bukit rendah Bucklebury di seberang Sungai, tapi kini
bukit itu ada di sebelah kiri mereka. Sambil merangkak perlahan dari balik
pepohonan, mereka berjalan secepat mungkin melintasi wilayah terbuka itu.
Mulanya mereka merasa takut; karena jauh dari perlindungan hutan. Jauh
di belakang sana tampak tempat tinggi di mana mereka tadi sarapan. Frodo
setengah menduga akan melihat di kejauhan sosok kecil pengendara kuda di
atas punggung bukit, berlatar belakang langit; tapi tak ada tanda-tanda sama
sekali. Matahari yang melepaskan diri dari awan-awan yang memecah, sambil
turun ke arah bukit-bukit yang telah mereka tinggalkan, kini bersinar terang
kembali. Rasa takut hilang dari hati mereka, meski perasaan kurang nyaman itu
masih ada. Tetapi lingkungan sekitar semakin lama semakin jinak dan teratur.
Tak lama kemudian, mereka sampai di ladang-ladang yang terawat baik dan
padang rumput: ada pagar-pagar dan gerbang, serta bendungan-bendungan
untuk pengairan. Semuanya tampak tenang dan damai, pemandangan khas di
Shire. Semangat mereka semakin membesar seiring setiap langkah. Garis
Sungai semakin dekat, dan para Penunggang Hitam mulai tampak seperti hantuhantu
hutan yang sekarang sudah tertinggal jauh di belakang.
Mereka melewati ping,-Iran ladang lobak yang luas, dan sampai ke
sebuah gerbang kokoh. Sesudah gerbang terdapat jalan penuh jejak roda yang
diapit pagar-pagar tanaman rendah yang teratur rapi, menuju segerombolan
pohon di kejauhan. Pippin berhenti.
"Aku kenal ladang dan gerbang ini!" katanya. "Ini Bamfurlong; tanah
Maggot tua si petani. Itu tempat pertaniannya di sana, di pepohonan itu."
"Masalah datang susul-menyusul!" kata Frodo; ia tampak sangat gelisah,
seolah Pippin mengumumkan bahwa jalan itu celah menuju sarang naga. Yang
lain memandangnya dengan heran.
"Apa yang salah dengan si Maggot tua?" tanya Pippin. "Dia berteman baik
dengan semua kaum Brandybuck. Memang dia menakutkan bagi orang-orang
yang melanggar wilayahnya, dan dia memelihara anjing-anjing galak-tapi
bagaimanapun penduduk di sini lebih dekat ke perbatasan, dan perlu lebih
waspada."
"Aku tahu," kata Frodo. Lalu ia menambahkan dengan tawa malu-malu,
"Tapi pokoknya aku takut padanya dan anjing-anjingnya. Aku sudah bertahuntahun
menghindari pertaniannya. Dia pernah menangkapku beberapa kali, ketika
aku masuk tanpa izin untuk mengambil jamur, sewaktu aku masih remaja di
Brandy Hall. Pada kesempatan terakhir, dia memukulku, lalu membawaku dan
menunjukkanku pada anjing-anjingnya. 'Lihat, anak-anak,' katanya, 'lain kali,
kalau bajingan kecil ini menginjak tanahku, kalian boleh makan dia. Sekarang
usir dia!' Mereka mengejarku sepanjang jalan, sampai ke Ferry. Aku tak pernah
lupa ketakutanku—meski kelihatannya hewan-hewan itu tahu betul tugas mereka
dan tidak akan benar-benar menyentuhku."
Pippin tertawa. "Well, sudah saatnya kau memperbaikinya. Terutama bila
kau kembali tinggal di Buckland. Maggot sebenarnya baik-kalau kau tidak
menyentuh jamurnya. Mari kita masuk ke jalan ini, supaya kita tidak melanggar
wilayahnya. Kalau kita bertemu dengannya, aku yang akan bicara. Dia teman
Merry, dan aku sering datang ke sini bersamanya."
Mereka menyususuri jalan itu, sampai melihat atap jerami sebuah rumah besar
dan bangunan-bangunan pertanian mengintip dari antara pohon-pohon di depan.
Para Maggot dan Puddifoot dari Stock, dan kebanyakan penduduk Marish,
tinggal di rumah-rumah; tempat pertanian Maggot dibangun dari bata kokoh dan
mempunyai tembok tinggi di sekelilingnya. Ada gerbang kayu lebar membuka
dari tembok ke jalan.
Mendadak, ketika mereka semakin dekat, terdengar salakan dan
gonggongan mengerikan, dan sebuah suara nyaring berteriak, "Grip! Fang! Wolf!
Ayo, anak-anak!"
Frodo dan Sam langsung berhenti, tapi Pippin maju beberapa langkah.
Gerbang terbuka dan tiga anjing besar menghambur ke jalan, berlari ke arah
rombongan mereka, sambil menggonggong galak. Mereka tidak memperhatikan
Pippin, tapi Sam mengerut ke dinding, sementara dua anjing yang mirip serigala
mengendus-endusnya curiga, dan menggertaknya kalau ia bergerak. Yang
paling besar dan galak di antara ketiganya berhenti di depan Frodo sambil
menggeram, bulu-bulunya meremang.
Melalui gerbang muncul seorang hobbit lebar gemuk dengan wajah bulat
merah. "Halo! Halo! Siapa kalian, dan apa yang kalian perlukan?" tanyanya.
"Selamat siang, Mr. Maggot!" kata Pippin.
Petani itu mengamatinya lebih cermat. "Wah, ternyata Master Pippin—Mr.
Peregrin Took, mestinya kukatakan!" serunya, kerutan dahinya berubah menjadi
senyuman. "Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Untung aku kenal kau. Aku
baru saja akan menyuruh anjingku menyerang pendatang asing. Banyak hal
aneh terjadi belakangan ini. Kadang-kadang ada orang-orang aneh berkeliaran
di wilayah ini. Terlalu dekat ke Sungai," katanya sambil menggelengkan kepala.
"Tapi ini orang paling aneh yang pernah kulihat. Dia tidak bakal melintasi
tanahku tanpa izin untuk kedua kalinya, tidak kalau aku bisa menghalanginya."
"Orang apa maksud Anda?" tanya Pippin.
"Kalau begitu, kalian tidak melihatnya?" kata petani itu. "Dia menuju jalan
lintasan tinggi belum lama ini. Orang aneh dan menanyakan Pertanyaanpertanyaan
aneh. Tapi mungkin kalian sebaiknya masuk saja, kita bisa bertukar
berita dengan lebih nyaman. Aku punya bir bagus, kalau kau dan temantemanmu
berkenan, Mr. Took."
Jelas tampak bahwa petani itu man menceritakan lebih banyak, kalau
mereka membiarkannya, maka mereka semua menerima ajakannya.
"Bagaimana dengan anjing-anjing?" tanya Frodo cemas.
Petani itu tertawa. "Mereka tidak akan menyakitimu—kecuali aku
menyuruh mereka. Sini, Grip! Fang! Duduk!" serunya. "Duduk!
Wolf!" Dengan lega Sam dan Frodo melihat anjing-anjing itu pergi dan
membiarkan mereka bebas.
Pippin memperkenalkan kedua temannya pada petani itu. "Mr. Frodo
Baggins," katanya. "Mungkin Anda tidak ingat dia, tapi dulu dia tinggal di Brandy
Hall." Mendengar nama Baggins, petani itu tampak terkejut dan melirik tajam ke.
Frodo. Sejenak Frodo menyangka ia ingat lagi tentang jamur-jamurnya yang dulu
dicuri, dan anjing-anjing akan disuruh mengusirnya. Tapi Petani Maggot justru
memegang tangan Frodo.
"Wah, bukankah ini semakin aneh?" serunya. "Mr. Baggins, bukan?
Masuklah! Kita harus bicara."
Mereka masuk ke dapur si petani, dan duduk di dekat perapian lebar. Mrs.
Maggot mengeluarkan bir dalam kendi besar dan mengisi empat mug besar. Bir
buatannya enak sekali, dan Pippin merasa kekecewaannya karena tidak mampir
ke Persinggahan Emas terobati Sam meneguk birnya dengan curiga. Pada
dasarnya ia tidak mempercayai penduduk di bagian-bagian lain Shire; dan ia
juga tak bisa cepat bersahabat dengan orang yang pernah memukul majikannya,
biarpun itu sudah lama berlalu.
Setelah beberapa komentar tentang cuaca dan masa depan pertanian
(yang tidak lebih jelek dari biasanya), Petani Maggot meletakkan mug-nya dan
memandang mereka masing-masing bergantian.
"Jadi, Mr. Peregrin," katanya, "dari mana dan ke mana kau akan pergi?
Apakah kau datang untuk menjengukku? Sebab, kalau memang begitu, kau
sudah melewati gerbangku tanpa aku melihatmu."
"Well, tidak," jawab Pippin. "Sejujurnya, karena Anda sudah menduganya,
kami masuk jalan ini dari ujung sana: kami datang melintasi ladang Anda. Tapi
itu tanpa sengaja. Kami tersesat di hutan, di sana dekat Woodhall, saat mencoba
memotong jalan ke Ferry."
"Kalau kalian terburu-buru, sebenarnya lewat jalan akan lebih cepat," kata
si petani. "Tapi aku bukan cemas tentang itu. Kau kuizinkan melintasi tanahku,
kalau mau, Mr. Peregrin. Dan kau juga, Mr. Baggins—meski aku berani bilang
kau masih suka jamur." ia tertawa. "Oh ya, aku mengenali namamu. Aku ingat
waktu Frodo Baggins muda menjadi salah satu pemuda berandal paling hebat di
Buckland. Tapi bukan jamur yang kupikirkan. Aku baru saja mendengar nama
Baggins sebelum kau muncul. Kaupikir apa yang ditanyakan orang aneh itu
padaku?"
Dengan cemas mereka menunggu petani itu melanjutkan ceritanya.
"Well," lanjutnya, sengaja berlama-lama dan menikmatinya, "dia datang
menunggang kuda hitam, masuk ke gerbang yang kebetulan terbuka dan
langsung sampai ke pintuku. Dia sendiri hitam, berjubah dan berkerudung,
seolah tak ingin dikenali. 'Apa pula yang diinginkannya di Shire?' pikirku dalam
hati. Kami jarang melihat Makhluk-Makhluk Besar di luar perbatasan, dan
bagaimanapun aku belum pernah mendengar tentang orang hitam semacam ini.
"'Selamat pagi! kataku sambil mendekatinya. 'Jalan ini tidak ke manamana,
dan ke mana pun tujuanmu, jalan tercepat adalah kembali ke jalan besar.'
Aku tidak menyukai penampilannya; lalu Grip keluar, mengendusnya satu kali,
dan langsung mendengking seperti kena tusuk: dia menurunkan ekornya dan lari
sambil meraung. Orang hitam itu duduk diam saja.
"'Aku datang dari sana,' katanya, perlahan dan kaku, sambil menunjuk ke
arah barat, melewati ladangku, sialan. 'Kau melihat Baggins?' dia bertanya
dengan suara aneh, dan membungkuk ke arahku. Aku tak bisa melihat
wajahnya, karena tertutup kerudungnya; dan aku merasa punggungku
merinding. Tapi aku tidak mengerti, kenapa dia begitu berani melintasi tanahku.
"'Pergilah!' kataku. 'Tidak ada Baggins di sini. Kau masuk di bagian Shire
yang keliru. Sebaiknya kau kembali ke Hobbiton-tapi kau bisa melewati jalan
raya kali ini.'
"'Baggins sudah pergi,' jawabnya berbisik. 'Dia akan datang. Dia tidak
jauh dari sini. Aku ingin bertemu dengannya. Kalau dia lewat, kau mau
memberitahu aku? Aku akan kembali membawa emas.'
"'Tidak, kau tidak akan kembali kemari,' kataku. 'Kau akan kembali ke
tempat asalmu, lebih cepat lagi. Kuberi kau satu menit, sebelum kupanggil
semua anjingku.'
"Dia mengeluarkan semacam bunyi desis. Mungkin tertawa, mungkin juga
tidak. Lalu dia memacu kudanya ke arahku, dan aku melompat menghindar tepat
pada waktunya. Aku memanggil anjing-anjing, tapi dia membelok dan melaju
melewati gerbang, dan naik ke jalan lintas tinggi bagai kilatan halilintar.
Bagaimana menurut kalian?"
Frodo duduk sejenak menatap api, tapi yang ada dalam benaknya adalah
bagaimana mereka bisa mencapai Ferry. "Aku tidak tahu harus berpikir apa,"
katanya akhirnya.
"Kalau begitu, izinkan aku memberi saran," kata Maggot. "Seharusnya kau
jangan bergaul dengan orang-orang Hobbiton, Mr. Frodo. Di sana banyak orang
aneh." Sam bergerak di kursinya, dan memandang petani itu dengan pandangan
tidak ramah. "Tapi kau memang Pemuda sembrono. Ketika kudengar kau
meninggalkan keluarga Brandybuck dan pergi ke Mr. Bilbo tua, aku sudah bilang
kau akan menemui kesulitan. Perhatikan omonganku, ini semua akibat kelakuan
aneh Mr. Bilbo. Uangnya diperolehnya dengan cara aneh di negeri asing,
katanya. Mungkin ada yang ingin tahu, apa yang terjadi dengan emas dan
berlian yang ditanamnya di bukit di Hobbiton, seperti yang kudengar?"
Frodo tidak mengatakan apa pun: tebakan licin petani itu agak
mengganggunya.
"Well, Mr. Frodo," lanjut Maggot, "aku senang kau punya akal sehat untuk
kembali ke Buckland. Nasihatku adalah: tetaplah di sana! Dan jangan bergaul
dengan orang-orang aneh itu. Di sini kau akan punya teman. Kalau orang-orang
hitam itu datang mengejarmu lagi, biar aku yang menangani mereka. Akan
kukatakan kau sudah mati, atau meninggalkan Shire, atau apa pun yang
kauinginkan. Dan mungkin omonganku tidak salah; karena tampaknya Mr. Bilbo
tualah yang mereka cari."
"Mungkin Anda benar," kata Frodo, menghindari tatapan petani itu dan
memandang api.
Maggot mengamatinya dengan merenung. "Well, tampaknya kau punya
gagasan-gagasan sendiri," katanya. "Bagiku jelas sekali bahwa bukan suatu
kebetulan yang membuat kau dan penunggang kuda itu datang ke sini pada
siang yang sama; dan mungkin beritaku sebenarnya bukan berita besar bagimu.
Aku tidak minta kau menceritakan sesuatu yang ingin kausimpan sendiri, tapi
kulihat kau sedang dalam kesulitan. Mungkin kau merasa tidak terlalu mudah
pergi ke Ferry tanpa tertangkap?"
"Memang itulah yang sedang kupikirkan," kata Frodo. "Tapi kami harus
berusaha sampai ke sana; dan itu tidak akan terjadi kalau kami cuma duduk
berpikir. Jadi, aku khawatir kami harus berangkat. Terima kasih banyak atas
kebaikan hati Anda! Selama tiga puluh tahun aku takut pada Anda dan anjinganjing
Anda, Petani Maggot, meski Anda mungkin tertawa mendengarnya.
Sayang sekali, karena selama ini aku kehilangan seorang teman baik. Dan
sekarang aku menyesal harus segera pergi. Tapi aku akan kembali, mungkin,
suatu hari-kalau ada kesempatan."
"Kau akan disambut bila datang," kata Maggot. "Tapi sekarang aku ingin
menawarkan. Matahari hampir terbenam, dan kami akan makan malam, karena
biasanya kami langsung tidur setelah Matahari. Kalau kau dan Mr. Peregrin dan
semuanya bisa tinggal dan makan malam bersama kami, kami akan sangat
senang!"
"Begitu pula kami!" kata Frodo. "Tapi kami harus segera pergi. Sekarang
saja sudah mulai gelap, padahal kami belum sampai di Ferry."
"Ah! Tunggu dulu! Aku baru hendak mengatakan: setelah sedikit makan
malam, aku akan mengeluarkan kereta kecil, dan akan kuantar kalian semua ke
Ferry. Itu akan menghemat banyak langkah kalian, dan mungkin juga
menghindarkan kalian dari masalah lain."
Frodo menerima undangan itu dengan bersyukur, sehingga Pippin dan
Sam lega. Matahari sudah tenggelam di belakang bukit-bukit barat, dan cahaya
terangnya sudah redup. Dua putra Maggot dan ketiga putrinya masuk, dan
hidangan makan malam berlimpah disajikan di meja besar. Dapur diterangi lilinlilin,
api di pendiangan dibesarkan. Mrs. Maggot sibuk keluar-masuk. Satu-dua
hobbit yang termasuk dalam rumah tangga pertanian itu masuk. Dalam sekejap
empat belas orang duduk makan. Bir berlimpah-limpah, ada sebuah piring besar
penuh jamur dan daging panggang, juga banyak makanan pertanian yang lezat.
Anjing-anjing berbaring dekat perapian, mengunyah kulit dan memecah tulang.
Selesai makan, si petani dan putra-putranya keluar membawa lentera dan
menyiapkan kereta. Gelap sekali di halaman, ketika tamu-tamu itu keluar.
Mereka melemparkan ransel ke dalam kereta, dan naik ke dalamnya. Si petani
duduk di kursi kusir, dan memecut kedua kudanya yang gagah. Istrinya berdiri
dalam cahaya dari pintu yang terbuka.
"Jaga dirimu, Maggot!" ia berteriak. "Jangan berdebat dengan orang
asing, dan langsung kembali!"
"Baik!" kata Maggot, lalu ia melaju keluar dari gerbang. Tidak ada
embusan angin; malam diam dan tenang, dan hawa dingin. Mereka keluar tanpa
lampu dan berjalan perlahan. Setelah satu-dua mil jalan itu berakhir, melintasi
pematang dalam, dan mendaki tebing pendek menuju jalan lintas yang bertebing
tinggi.
Maggot turun dan melihat tajam ke dua arah, utara dan selatan, tapi tak
ada yang terlihat dalam kegelapan, dan tidak ada suara sama sekali dalam
keheningan. Utas-utas tipis kabut sungai menggantung di atas pematang, dan
merangkak di atas ladang-ladang.
"Kabut akan semakin tebal," kata Maggot, "tapi aku tidak akan
menyalakan lenteraku sampai aku kembali ke rumah. Kalau ada suara di jalan,
kita akan mendengamya jauh sebelum bertemu dengannya malam ini."
Dari jalan Maggot ke Ferry jaraknya lebih dari lima mil. Hobbit-hobbit itu
menyelimuti diri, tapi telinga mereka memperhatikan suara apa saja di atas bunyi
deritan roda dan derap perlahan kaki kuda. Frodo merasa kereta itu berjalan
lebih lamban daripada siput. Di sampingnya Pippin sudah mengangguk-angguk
mengantuk, tapi Sam menatap ke depan, ke dalam kabut yang sedang naik.
Akhirnya mereka mencapai pintu masuk ke jalan Ferry. Tempat itu
ditandai dengan dua tiang putih tinggi yang tiba-tiba menjulang di sebelah kanan
mereka. Petani Maggot menghentikan kudanya, dan kereta berhenti dengan
bunyi berderit. Ketika mereka hendak keluar dari kereta, tiba-tiba terdengar
suara yang sudah mereka takutkan: bunyi derap kaki kuda di jalan di depan.
Bunyi itu menuju ke arah mereka.
Maggot melompat turun dan berdiri memegang kepala kuda-kuda,
mengintai ke dalam keremangan. Klip-klop, klip-klop bunyi penunggang yang
semakin dekat. Derap kaki kuda itu terdengar nyaring dalam keheningan udara
yang berkabut.
"Sebaiknya Anda bersembunyi, Mr. Frodo," kata Sam cemas.
"Berbaringlah di kereta, tutupi diri Anda dengan selimut, dan kami akan
menangani penunggang ini!" ia memanjat keluar dan berdiri di samping si petani.
Penunggang Hitam itu harus melindasnya bila ingin mendekati kereta.
Klop-klop, klop-klop. Penunggang itu hampir sampai di dekat mereka.
"Halo!" teriak Petani Maggot. Bunyi derap kuda yang menghampiri,
berhenti mendadak. Mereka merasa samar-samar bisa melihat bayangan sosok
gelap berjubah di dalam kabut, satu-dua meter di depan.
"Hei!" kata petani itu, sambil melemparkan tali kekang kepada Sam dan
melangkah maju. "Jangan maju lagi selangkah pun! Apa yang kauinginkan, dan
ke mana kau menuju?"
"Aku menginginkan Mr. Baggins. Apa kau melihatnya?" kata sebuah suara
teredam—tapi itu suara Merry Brandybuck. Lentera gelap dibuka, dan
cahayanya jatuh ke wajah sang petani yang keheranan.
"Mr. Merry!" teriaknya.
"Ya, tentu saja! Anda kira siapa?" kata Merry sambil berjalan maju. Saat ia
keluar dari kabut dan ketakutan mereka hilang, sosok Merry mendadak kelihatan
menyusut menjadi ukuran hobbit biasa. Ia mengendarai seekor kuda, sehelai
selendang melingkari leher dan bagian atas dagunya, untuk menghalangi kabut.
Frodo meloncat keluar dari kereta untuk menyalaminya. "Jadi, akhirnya
kau datang!" kata Merry. "Aku sudah mulai bertanya-tanya, apakah kau akan
datang hari ini, dan aku baru saja mau kembali untuk makan malam. Ketika
cuaca mulai berkabut, aku melintas dan naik kuda menuju Stock, untuk melihat
apakah kalian jatuh ke dalam parit. Tapi aku tak mengerti kalian lewat jalan
mana. Di mana Anda menemukan mereka, Mr. Maggot? Di kolam angsa Anda?"
"Tidak, aku menangkap mereka memasuki tanahku tanpa izin,” kata si
petani, "dan aku hampir menyuruh anjing-anjingku menyerang mereka; tapi
mereka akan menceritakan seluruhnya padamu, aku yakin itu. Sekarang, maaf,
Mr. Merry, Mr. Frodo, dan semuanya, sebaiknya aku pulang. Mrs. Maggot akan
cemas, apalagi malam berkabut tebal begini."
Ia memundurkan keretanya di jalan dan membalikkan arahnya. "Well,
selamat malam semuanya," katanya. "Hari ini aneh sekali, betul-betul aneh. Tapi
segala sesuatu yang baik akan berakhir dengan baik pula; meski mungkin kita
tak boleh mengatakan begitu sebelum kita sampai di tujuan masing-masing.
Kuakui, aku akan senang kalau sudah sampai di rumahku." ia menyalakan
lenteranya, dan naik ke atas keretanya. Tiba-tiba ia mengeluarkan keranjang
besar dari bawah tempat duduk. "Hampir saja aku lupa," katanya. "Mrs. Maggot
menyiapkan ini untuk Mr. Baggins, beserta salamnya." ia menyerahkan
keranjang itu dan mulai melaju, diiringi paduan suara ucapan terima kasih dan
selamat malam.
Mereka memperhatikan lingkaran-lingkaran cahaya pucat di sekitar
lenteranya, sampai lenyap ditelan malam berkabut. Mendadak Frodo tertawa:
dari keranjang tertutup yang dipegangnya tercium aroma keharuman jamur.
BAB 5
KOMPLOTAN TERBONGKAR
"Sekarang sebaiknya kita sendiri juga pulang," kata Merry. "Rasanya ada
yang aneh tentang ini semua; tapi ini harus menunggu sampai kita masuk ke
rumah."
Mereka melangkah melewati jalan Ferry yang lurus dan terawat baik,
dengan pinggiran bebatuan yang dikapur putih. Kira-kira seratus meter
kemudian, mereka tiba di tepi sungai, di mana ada dermaga kayu lebar. Sebuah
kapal feri datar besar tertambat di sampingnya. Tonggak-tonggak putih dekat
tepi air berkilauan dalam cahaya dua buah lampu pada tiang-tiang tinggi. Di
belakang mereka, kabut di ladang-ladang datar sekarang sudah melayang di
atas pagar-pagar; tapi air di depan mereka gelap, dengan hanya beberapa untai
nap keriting di antara rumput-rumput ilalang di tepinya. Kelihatannya di seberang
sana kabut lebih tipis.
Merry menuntun kudanya melewati jembatan ke atas feri, dan yang
lainnya menyusul. Merry kemudian mendorong feri itu perlahan dengan tongkat
panjang. Sungai Brandywine mengalir perlahan dan lebar di depan mereka. Di
tepi sebelah sana tebingnya curam, dan sebuah jalan mendaki berkelok-kelok
dari dermaganya. Lampu-lampu berkelip di sana. Di belakang menjulang Bukit
Buck; dan dari situ, melalui selubung kabut sana-sini, banyak jendela bundar
menyala, kuning dan merah. Itulah jendela-jendela Brandy Hall, tempat tinggal
zaman kuno kaum Brandybuck.
Lama berselang Gorhendad Oldbuck, kepala keluarga Oldbuck, salah satu yang
tertua di Marish atau bahkan di Shire, menyeberangi sungai yang dulu menjadi
perbatasan tanah sebelah timur. Ia membangun (dan menggali) Brandy Hall,
mengganti namanya menjadi Brandybuck, dan menetap serta kelak menjadi
pemimpin dari sebuah negeri kecil yang merdeka. Keluarganya terus
berkembang, bahkan setelah ia meninggal, sampai Brandy Hall memenuhi
seluruh bukit rendah itu, dan mempunyai tiga pintu depan besar, banyak pintu
samping, dan sekitar seratus jendela. Kaum Brandybuck dan para pengikut
mereka yang tak, terhitung banyaknya lalu mulai menggali liang, dan di
kemudian hari membangun di seluruh penjuru. Itulah asal-muasal Buckland,
sebuah petak berpenduduk padat di antara sungai dengan Old Forest, semacam
koloni dari Shire. Desanya yang terbesar adalah Bucklebury, bergerombol di
tebing dan lereng di belakang Brandy Hall.
Orang-orang di Marish bergaul akrab dengan kaum Buckland, dan wibawa
Penguasa Hall (sebutan untuk kepala keluarga Brandybuck) masih diakui petanipetani
antara Stock dan Rushey. Tapi kebanyakan orang Shire lama
menganggap kaum Buckland agak aneh, bahkan setengah asing. Meski
sebenarnya mereka tidak jauh berbeda dengan hobbit-hobbit lain dari Keempat
Wilayah. Kecuali dalam satu hal: mereka senang perahu, dan beberapa di antara
mereka bisa berenang.
Tanah mereka pada mulanya tidak terlindung dari Timur; tapi pada sisi itu
mereka telah membuat pagar tanaman: High Hay. Sudah bergenerasi-generasi
yang lain mereka menanamnya; sekarang pagar itu tebal dan tinggi, karena
selalu dirawat. Ia membentang mulai dari Jembatan Brandywine, membelok
dalam lingkaran besar menjauh dari sungai, ke Haysend (di mana Withywindle
mengalir keluar dari hutan, masuk ke Brandywine): lebih dari dua puluh mil dari
ujung ke ujung. Tapi tentu saja itu bukan perlindungan yang sempurna. Di
banyak tempat, hutan tumbuh rapat dengan pagar itu. Kaum Buckland mengunci
pintu mereka setelah gelap, dan itu juga hal yang tidak biasa di Shire.
Kapal feri itu bergerak perlahan di atas air. Pantai Buckland semakin
dekat. Sam satu-satunya anggota rombongan yang belum pernah menyeberangi
sungai itu. Suatu perasaan aneh merambati dirinya ketika aliran perlahan sungai
mendeguk melewatinya; kehidupannya yang lama tertinggal di belakang, di
dalam kabut, dan petualangan gelap terhampar di depan. Ia menggaruk
kepalanya, dan sesaat ia menyesali kenapa Mr. Frodo tidak tetap tinggal dengan
tenang di Bag End.
Keempat hobbit itu turun dari feri. Merry menambatkannya, dan pippin
sudah menuntun kuda mendaki jalan setapak, ketika Sam (yang terus menoleh
ke belakang, seolah parrot kepada Shire) berkata dengan bisikan parau, "Lihat
ke belakang, Mr. Frodo! Apa Anda melihat sesuatu?"
Di atas dermaga jauh di sana, di bawah lampu-lampu, mereka bisa
melihat suatu sosok: tampaknya seperti buntalan hitam gelap yang tertinggal.
Tapi ketika mereka menatapnya, ia kelihatan bergerak dan bergoyang ke sana
kemari, seolah mencari jejak di tanah. Lalu ia merangkak, atau pergi sambil
membungkuk, kembali ke dalam keremangan di luar cahaya lampu-lampu.
"Apa pula itu?" seru Merry.
"Sesuatu yang mengejar kami," kata Frodo. "Tapi jangan banyak tanya
dulu sekarang! Mari kita segera pergi!" Mereka bergegas mendaki jalan ke
puncak tebing, tapi ketika mereka menoleh ke belakang, pantai seberang
terselubung kabut, dan tak ada yang tampak.
"Untungnya kau tidak menyimpan perahu di tebing barat!" kata Frodo.
"Apa kuda bisa menyeberangi sungai?"
"Mereka bisa berjalan dua puluh mil ke Jembatan Brandywine atau
mereka bisa berenang," jawab Merry. "Meski aku belum pernah mendengar ada
kuda berenang di Brandywine. Tapi apa hubungannya kuda dengan ini?"
"Nanti akan kuceritakan. Mari kita masuk ke dalam, lalu barulah kita
bicara."
"Baiklah! Kau dan Pippin tahu jalan; jadi aku akan jalan lebih dulu dan
memberitahu Fatty Bolger bahwa kau akan datang. Kami akan menyiapkan
makan malam dan sebagainya."
"Kami sudah makan malam dengan Petani Maggot," kata Frodo, "tapi
kami masih bisa makan lagi."
"Baiklah! Berikan keranjang itu!" kata Merry, lalu ia melaju di depan,
memasuki kegelapan.
Dari Brandywine ke rumah Frodo yang baru di Crickhollow masih cukup jauh
jaraknya. Mereka melewati Bukit Buck dan Brandy Hall di sebelah kiri mereka,
dan di pinggiran Bucklebury mereka bertemu jalan raya dari Buckland yang
menjalar ke selatan dari Jembatan. Setengah mil ke arah utara menyusuri jalan
ini, mereka sampai ke suatu jalan di sebelah kanan. Mereka mengikuti jalan itu
beberapa mil, mendaki naik-turun, masuk ke pedalaman.
Akhirnya mereka tiba di sebuah gerbang sempit dalam sebuah pagar
tebal. Tak ada yang bisa dilihat dari rumah itu dalam kegelapan: ia berdiri jauh
dari jalan, di tengah halaman rumput berupa lingkaran besar, dikelilingi lajur
pohon-pohon rendah di sebelah dalam pagar luar. Frodo memilihnya karena
berada di sudut negeri yang jauh dari mana-mana, dan tidak ada human lain di
dekatnya. Orang bisa keluar-masuk tanpa terlihat. Rumah itu sudah lama
dibangun oleh kaum Brandybuck, untuk digunakan para tamu atau anggota
keluarga yang ingin istirahat sementara dari kehidupan ramai di Brandy Hall.
Rumah itu kuno, dan sedapat mungkin dibuat menyerupai liang tempat tinggal
hobbit: panjang dan rendah, tanpa tingkat; atapnya dari lempeng tanah, jendela
bundar, dan pintu bundar lebar.
Saat mereka menapaki jalan setapak hijau dari gerbang, tidak tampak
cahaya sama sekali; jendela-jendela gelap dan tertutup. Frodo mengetuk pintu,
dan Fatty Bolger membukanya. Cahaya yang ramah memancar keluar. Mereka
menyelinap masuk dengan cepat, dan mengurung diri sendiri serta cahaya di
dalam. Mereka berada di dalam sebuah balairung, dengan pintu pada kedua
sisinya; di depan mereka sebuah selasar mengarah ke belakang, melewati
tengah rumah.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Merry yang datang dari selasar. "Kami
sudah berupaya keras membuatnya tampak seperti rumah tinggal dalam waktu
singkat. Bagaimanapun, Fatty dan aku baru kemarin sampai di sini dengan
muatan kereta terakhir."
Frodo melihat sekeliling. Memang tampak seperti rumah. Banyak benda
kesukaannya—atau barang-barang Bilbo (barang-barang itu sangat
mengingatkannya pada Bilbo)-sudah disusun semirip mungkin dengan susunan
di Bag End. Tempat itu nyaman, menyenangkan, dan terasa hangat menyambut;
dan Frodo berharap ia benar-benar datang ke sini untuk menetap dengan
tenteram. Rasanya tidak adil sudah menyusahkan teman-temannya; ia bertanya
lagi dalam hati, bagaimana harus menyampaikan pada mereka bahwa ia harus
segera pergi lagi. Namun ia terpaksa mesti berpamitan, sebelum mereka semua
pergi tidur.
"Sangat menyenangkan!" katanya memaksakan diri. "Rasanya tidak
seperti pindah rumah."
Mereka menggantungkan jubah dan menumpuk ransel di lantai. Merry
menuntun mereka melewati selasar, dan membuka pintu di ujung terjauh. Nyala
api keluar, berikut embusan uap. '
"Air mandi!" seru Pippin. "Bagus sekali, Meriadoc!"
“Siapa yang masuk lebih dulu?" tanya Frodo. "Yang paling tua dulu, atau
yang paling cepat? Bagaimanapun, kau akan menjadi yang terakhir, Master
Peregrin."
"Percayalah, aku bisa mengaturnya dengan lebih baik!" kata Merry. "Kita
tidak bisa mulai hidup di Crickhollow dengan bertengkar tentang mandi. Di
ruangan itu ada tiga bak mandi dan satu teko penuh air mendidih. Juga ada
handuk, keset, dan sabun. Masuklah, dan cepatlah mandi!"
Merry dan Fatty masuk ke dapur yang ada di ujung lain selasar itu, dan
menyibukkan diri dengan persiapan-persiapan terakhir untuk makan malam.
Potongan-potongan lagu terdengar saling bersaing dari kamar mandi, bercampur
dengan bunyi kecipak air dan gelak tawa. Suara Pippin tiba-tiba terdengar lebih
keras dari yang lain, ketika menyanyikan salah satu lagu mandi kesukaan Bilbo.
Ayo nyanyi, nyanyi sambil mandi,
mandi Air Panas di penghujung hari!
Sintinglah dia yang tak mau bernyanyi:
mandi Air Panas bukankah enak sekali!
Oh! Manisnva titik rintik air hujan,
dan sungai yang melompat dari bukit ke hutan;
api mandi Air Panas jelas lebih nyaman
kepulan asapnya menyegarkan badan.
Oh! Air dingin bolehlah dituang
ke tenggorokan haus dan kita pun senang;
tapi minum Bir tentu lebih nikmat,
dan mandi Air Panas 'tuk mengusir penat.
Oh! Air jernih yang melompat menari
di bawah langit meliak-liuk tinggi;
tapi mandi Air Panas sungguh tak tertandingi
alirannya hangat di sela jari-jari kaki!
Ada bunyi cemplungan hebat, dan teriakan Hai! dari Frodo. Kelihatannya
air mandi Pippin banyak meniru air mancur dan melompat tinggi.
Merry mendekati pintu. "Bagaimana kalau makan dan menuang bir ke
tenggorokan?" serunya. Frodo keluar sambil mengeringkan rambutnya.
"Begitu banyak air beterbangan, jadi aku man ke dapur saja untuk
menyelesaikan mandiku," kata Frodo.
"Wah-wah!" kata Merry, sambil melihat ke dalam. Lantai batu terendam
air. "Kau harus mengepel lantai itu, Peregrin. Kalau tidak, kau tidak boleh
makan," katanya. "Cepatlah, atau kami tidak akan menunggumu.'
Mereka makan malam di dapur, di meja dekat perapian. "Kukira kalian bertiga
tidak man makan jamur lagi," kata Fredegar tanpa banyak harapan.
"Ya, kami mau makan jamur," seru Pippin.
"Itu punyaku!" kata Frodo. "Diberikan padaku oleh Mrs. Maggot, ratu di
antara istri-istri petani. Singkirkan tanganmu yang serakah, biar aku yang
membagi-bagikannya."
Hobbit sangat suka jamur, bahkan melebihi kerakusan Makhluk Besar
sekalipun. Itu sebabnya dulu Frodo suka berpetualang ke ladang-ladang tersohor
di Marish, dan itu pula sebabnya Maggot merasa sangat dirugikan. Tapi pada
kesempatan ini jamurnya cukup banyak untuk mereka semua, bahkan menurut
ukuran hobbit sekalipun. Banyak hidangan lain menyusul, dan saat mereka
selesai, bahkan Fatty Bolger menarik napas puas.- Mereka mendorong meja dan
menempatkan kursi-kursi di sekeliling api.
"Nanti saja beres-beresnya," kata Merry. "Sekarang ceritakan semuanya!
Kuduga kalian mengalami petualangan, yang sebenarnya tidak adil bila tanpa
aku. Aku ingin cerita lengkap; dan terutama aku ingin tahu ada apa dengan
Maggot tua, dan mengapa dia bicara seperti itu padaku. Dia hampir-hampir
seperti ketakutan, kalau itu mungkin."
"Kami semua ketakutan," kata Pippin setelah hening sejenak, sementara
Frodo memandangi api dan tidak berbicara. "Kau pun pasti begitu, kalau kau
dikejar selama dua hari oleh para Penunggang Hitam."
"Siapa mereka?"
"Sosok-sosok hitam menunggang kuda hitam," jawab Pippin. "Kalau
Frodo tidak man bicara, aku akan menceritakan semuanya dari awal." Lalu ia
membeberkan kisah lengkap perjalanan mereka, . sejak saat mereka berangkat
dari Hobbiton. Sam mengangguk-angguk dan berseru memberi dukungan
sesekali. Frodo tetap diam.
"Aku pasti akan menyangka kalian cuma mengada-ada," kata Merry,
"kalau aku tidak melihat sosok hitam di dermaga itu-dan mendengar nada aneh
dalam suara Maggot. Menurutmu ada apa sebenarnya, Frodo?"
"Sepupu Frodo terus menutup mulut," kata Pippin. "Tapi sudah saatnya
dia membuka diri. Sejauh ini kami hanya tahu berdasarkan tebakan Petani
Maggot bahwa semua ini ada hubungannya dengan harta Bilbo."
"Itu hanya dugaan," kata Frodo cepat. "Maggot tidak tahu apa pun."
"Maggot tua itu cerdik sekali," kata Merry. "Dia punya banyak akal yang
tidak dia tunjukkan di balik wajahnya yang bundar itu. Kudengar dulu dia sering
masuk ke Old Forest, dan kabarnya dia tahu banyak hal aneh. Tapi setidaknya
kau bisa menceritakan pada kami, Frodo, apakah menurutmu dugaannya benar
atau salah."
"Kupikir," jawab Frodo perlahan, "dugaannya benar, sejauh itu. Ada
hubungannya dengan petualangan Bilbo di masa lalu, dan para Penunggang itu
sedang mencari, atau lebih tepatnya nienehisuri, dia atau aku. Aku juga khawatir
bahwa ini bukan mainmain, dan bahwa aku tidak aman di sini atau di mana pun."
ia memandang ke dinding-dinding dan jendela, seolah takut tiba-tiba mereka
runtuh. Yang lain menatapnya dalam diarn, dan saling bertukar pandang penuh
arti.
"Sebentar lagi dia pasti bicara," bisik Pippin pada Merry. Merry
mengangguk.
"Well!" kata Frodo akhirnya; ia menegakkan punggung, seolah sudah
mengambil keputusan. "Aku tak bisa menutupinya lagi. Aku harus menceritakan
sesuatu pada kalian semua. Tapi aku tidak tahu bagaimana harus memulainya."
"Kurasa aku bisa menolongmu," kata Merry tenang, "dengan
menceritakan sebagian."
"Apa maksudmu?" kata Frodo, memandang Merry dengan cemas.
"Hanya ini, Frodo yang baik: kau sedih, karena kau tidak tahu bagaimana
harus pamit. Kau sudah berniat meninggalkan Shire, tentu. Tapi bahaya lebih
cepat datang daripada yang kaukira, dan kini kau memutuskan untuk segera
pergi. Walau kau sebenarnya tak ingin. Kami kasihan padamu."
Frodo membuka mulutnya, dan menutupnya lagi. Ekspresi keheranannya
begitu lucu, sampai mereka semua tertawa. "Frodo yang baik!" kata Pippin.
"Kaupikir kau bisa mengelabui kami semua? Kau kurang hati-hati atau kurang
cerdik untuk itu! Jelas sekali selama ini kau sudah mengucapkan selamat tinggal
pada semua tempat yang sering kaukunjungi sepanjang tahun ini sejak April.
Kami sering sekali mendengarmu menggumam, 'Apa aku akan pernah
memandang ke dalam lembah itu lagi,' dan hal-hal semacamnya. Dan kau purapura
sudah kehabisan uang, hingga menjual Bag End tersayang pada keluarga
Sackville-Baggins! Dan semua pembicaraan seriusmu itu dengan Gandalf."
"Ya ampun!" kata Frodo. "Kupikir aku sudah cukup hati-hati dan pintar.
Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Gandalf. Kalau begitu, apakah seluruh
Shire membahas kepergianku?"
"Oh, tidak!" kata Merry. "Jangan khawatir tentang itu! Tentu saja
rahasianya tak bisa ditutupi lama-lama, tapi saat ini yang tahu hanya komplotan
kami, kukira. Bagaimanapun, kau harus ingat bahwa kami kenal baik denganmu,
dan sering bersamamu. Kami biasanya bisa menduga apa yang kaupikirkan. Aku
juga kenal Bilbo. Sejujurnya, aku sudah memperhatikanmu dengan cermat sejak
Bilbo pergi. Aku sudah menduga, cepat atau lambat kau akan menyusulnya;
bahkan aku menyangka kau akan pergi lebih cepat, dan akhir-akhir ini kami
sudah sangat cemas. Kami takut kau akan memperdaya kami, dan mendadak
pergi sendirian seperti Bilbo. Sejak musim semi ini kami membuka mata lebarlebar,
dan membuat rencana-rencana sendiri juga. Kau tidak bisa semudah itu
melarikan diri!"
"Tapi aku harus pergi," kata Frodo. "Mau tak mau, kawan-kawan yang
baik. Memang sangat menyedihkan bagi kita semua, tapi tak ada gunanya
mencoba menahanku di sini. Karena kalian sudah bisa menduga sejauh ini,
tolonglah aku dan jangan halangi aku!"
"Kau tidak mengerti!" kata Pippin. "Kau hams pergi, dan karenanya kami
juga. Merry dan aku akan ikut bersamamu. Sam memang bisa diandalkan; dia
pasti rela melompat ke dalam mulut buaya demi menyelamatkanmu, kalau dia
tidak tersandung kakinya sendiri; tapi kau perlu lebih dari satu pendamping
dalam petualanganmu yang penuh bahaya."
"Hobbit-hobbit-ku tersayang!" kata Frodo dengan terharu. "Aku tak bisa
mengizinkan itu. Aku sudah lama memutuskan hal ini. Kau berbicara tentang
bahaya, tapi kau tidak mengerti. Ini bukan pencarian harta, bukan perjalanan ke
sana lalu kembali. Aku berlari dari bahaya mematikan, masuk ke bahaya maut
lain."
"Tentu saja kami mengerti," kata Merry tegas. "Itulah sebabnya kami
memutuskan untuk ikut. Kami tahu Cincin itu bukan soal mainmain, tapi kami
akan berupaya sebaik mungkin untuk membantumu melawan Musuh."
"Cincin!" kata Frodo, sekarang benar-benar kaget.
"Ya, Cincin," kata Merry. "Hobbit-ku yang baik, kau tidak memperkirakan
rasa ipgin tahu kawan-kawanmu. Aku sudah tahu keberadaan Cincin itu selama
bertahun-tahun-sebelum Bilbo pergi bahkan; tapi karena kelihatannya dia
menganggap itu rahasia, aku menyimpan pengetahuan itu untuk diriku sendiri,
sampai kami membentuk komplotan. Tentu aku tidak kenal Bilbo sebaik aku
kenal kau; aku terlalu muda, dan dia juga lebih hati-hati-tapi tidak cukup hati-hati.
Kalau kau ingin tahu bagaimana aku mula-mula tahu tentang cincin itu, akan
kuceritakan."
"Ceritakanlah!" kata Frodo lemah.
"Keluarga Sackville-Baggins-lah yang menimbulkan kejatuhannya, seperti
mungkin sudah kauduga. Suatu hari, setahun sebelum Pesta, kebetulan aku
sedang berjalan-jalan ketika kulihat Bilbo di depanku. Tiba-tiba di kejauhan
keluarga S.-B.s muncul, berjalan ke arah kami. Bilbo memperlambat langkahnya,
lalu... hai, presto! Dia lenyap. Aku begitu kaget, sampai hampir tak bisa berpikir
untuk menyembunyikan diri dengan cara yang lebih wajar; maka aku menerobos
pagar tanaman, dan berjalan sepanjang ladang sebelah dalam. Aku mengintip ke
jalan, setelah keluarga S.-B.s lewat, dan memandang lurus ke Bilbo ketika dia
mendadak muncul lagi. Aku menangkap sekilas kilatan emas saat dia
memasukkan sesuatu ke dalam sakunya.
"Setelah itu aku terus mengawasinya. Kuakui, aku memata-matainya. Tapi
peristiwa itu memang sangat membuatku penasaran, dan aku masih remaja
waktu itu. Pasti aku satu-satunya orang di Shire, selain kau, Frodo, yang pernah
melihat buku rahasia si tua itu."
"Kau sudah membaca bukunya?" seru Frodo. "Ya ampun! Apakah tidak
ada yang aman?"
"Tidak terlalu aman, menurutku," kata Merry. "Tapi aku hanya melihat
sekilas, dan itu sulit sekali. Dia tak pernah membiarkan bukunya tergeletak di
sembarang tempat. Aku ingin tahu, apa yang terjadi dengan buku itu. Aku ingin
sekali melihatnya lagi. Apakah ada padamu, Frodo?"
"Tidak. Buku itu tidak ada di Bag End. Pasti dia membawanya pergi."
"Well, seperti kataku tadi," lanjut Merry, "aku menyimpan pengetahuanku
untuk diriku sendiri, sampai saat musim Semi ini, ketika keadaan mulai gawat.
Saat itu kami membentuk komplotan kami; dan karena kami serius sekali dan
benar-benar mau menanganinya, maka kami tidak terlalu hati-hati dan cermat.
Kau bukan teka-teki yang mudah ditebak, apalagi Gandalf. Tapi kalau kau mau
diperkenalkan pada detektif utama kami, aku bisa menunjukkannya."
"Di mana dia?" kata Frodo, melihat sekeliling, seolah berharap melihat
sosok bertopeng dan menyeramkan muncul dari dalam lemari.
"Maju ke depan, Sam!" kata Merry, dan Sam berdiri dengan wajah merah
sampai ke telinganya. "Inilah sumber informasi kami! Dan dia mengumpulkan
banyak sekali informasi, sebelum akhirnya tertangkap. Setelah itu, dia
kelihatannya menganggap dirinya dalam pembebasan bersyarat, dan dia diam
saja."
"Sam!" seru Frodo, merasa tak bisa lebih kaget lagi, dan tidak tahu
apakah ia merasa marah, geli, lega, atau hanya bodoh.
"Ya, Sir!" kata Sam. "Minta maaf, Sir! Tapi aku bukan bermaksud jahat
terhadap Anda, Mr. Frodo, maupun pada Mr. Gandalf. Dia punya akal sehat,
camkan itu; dan ketika Anda bilang akan pergi sendirian, dia bilang tidak!
bawalah seseorang yang bisa kaurpercayai."
"Tapi kelihatannya aku tak bisa mempercayai siapa pun," kata Frodo.
Sam memandangnya dengan sedih. "Itu semua tergantung apa yang
kauinginkan," tambah Merry. "Kau bisa mempercayai kami untuk
mendampingimu dalam semua kesulitan—sampai akhir yang pahit. Dan kau bisa
mempercayai kami untuk menyimpan rahasiamu yang mana pun lebih rapat
daripada kau sendiri bisa menyimpannya. Tapi kau tak bisa menyuruh kami
membiarkanmu menghadapi masalahmu sendirian, dan pergi tanpa kabar. Kami
sahabat-sahabatmu, Frodo. Bagaimanapun: begitulah. Kami sudah tahu
sebagian besar dari apa yang diceritakan Gandalf padamu. Kami tahu cukup
banyak tentang Cincin itu. Kami sangat takut, tapi kami akan mendampingimu;
atau mengikutimu seperti anjing pemburu."
"Dan bagaimanapun, Sir," tambah Sam, "Anda seharusnya mengikuti
nasihat para Peri. Gildor mengatakan Anda harus mengajak mereka yang man
ikut, dan aku tidak bisa Anda bantah."
"Aku tidak membantahnya," kata Frodo, sambil memandang Sam yang
sekarang nyengir. "Aku tidak membantahnya, tapi aku tidak akan pernah percaya
lagi bahwa kau sedang tidur, meski kau mendengkur atau tidak. Aku akan
menendangmu dengan keras, agar yakin.
"Kalian sekelompok bajingan penipu!" katanya kepada yang lainnya. "Tapi
terpujilah kalian!" tawanya sambil bangkit berdiri dan mengibaskan tan-an. "Aku
menyerah. Aku akan mengikuti nasihat Gildor. Seandainya bahaya ini tidak
begitu gelap, aku akan menari-nari kegirangan. Bagaimanapun, man tak man
aku merasa bahagia; lebih bahagia daripada yang sudah lama kurasakan. Aku
sudah ketakutan menghadapi sore ini."
"Bagus! Sudah diputuskan. Tiga kali sorak-sorai untuk Kapten Frodo dan
rombongannya!" teriak mereka; lalu mereka menari-nari mengitarinya. Merry dan
Pippin memulai suatu nyanyian, yang rupanya Sudah mereka siapkan untuk
kesempatan itu.
Lagunya menuruti langgam lagu kurcaci yang dulu mengawali
petualangan Bilbo, dan mengikuti irama yang sama:
Selamat tinggal rumah dan perapian!
Meski angin berembus dan turun hujan,
Kita harus pergi sebelum fajar
Jauh sekali lewat gunung dan hutan.
Ke Rivendell, tempat Peri
Di lapangan bawah bukit-bukit tinggi.
Lewat padang dan semak kami melaju,
Lalu ke mana kami tak tahu lagi.
Menerobos hutan, menyeberangi ngarai,
Di bawah langit ranjang kami,
Sampai kerja keras kami usai,
Perjalanan kami berakhir; urusan selesai.
Kami harus pergi! Kami harus pergi!
Kami melaju sebelum fajar pagi!
"Bagus sekali!" kata Frodo. "Tapi kalau begitu banyak yang harus kita
lakukan sebelum tidur—di bawah atap, setidaknya malam ini."
"Oh! Itu kan hanya puisi!" kata Pippin. "Apa kau benar-benar berniat
berangkat sebelum fajar?"
"Aku tidak tahu," jawab Frodo. "Aku takut pada para Penunggang Hitam
itu, dan aku yakin tidak aman bila terlalu lama tetap di satu tempat, terutama
kalau orang-orang sudah tahu aku akan datang ke sana. Gildor juga
menasihatiku agar tidak menunggu. Tapi aku ingin sekali bertemu Gandalf.
Kulihat Gildor juga resah ketika tahu Gandalf belum datang. Sebenarnya
tergantung dua hal. Seberapa cepat para Penunggang itu bisa sampai di
Bucklebury? Dan seberapa cepat kita bisa berangkat? Itu memerlukan persiapan
besar."
"Jawaban untuk pertanyaan kedua," kata Merry, "adalah kita bisa
berangkat dalam waktu satu jam. Aku sudah menyiapkan semuanya. Ada enam
kuda di kandang di seberang padang; persediaan makanan dan perbekalan
sudah dikemas, kecuali beberapa pakaian ekstra, dan makanan yang tidak tahan
lama."
"Rupanya komplotan kalian sangat efisien," kata Frodo. "Tapi bagaimana
dengan Penunggang Hitam? Apakah aman bila kita menunggu Gandalf satu
hari?"
"Itu tergantung apa yang menurutmu akan dilakukan para Penunggang
Hitam kalau mereka menemukanmu di sini," jawab Merry. "Mereka mungkin
sudah sampai di sini sekarang, kalau tidak dihentikan di Gerbang Utara, di mana
High Hay terbentang sampai ke tebing sungai, di sisi sebelah sini Jembatan.
Para penjaga gerbang tidak akan membiarkan mereka masuk di malam hari,
meski mungkin mereka akan berusaha mendobrak pagar itu. Bahkan kurasa
siang hari pun para penjaga akan mencoba mencegah orang-orang itu masuk,
setidaknya sampai mereka telah memberitahu Penguasa Hall-mereka pasti tidak
menyukai penampilan para Penunggang itu, dan pasti ketakutan melihat mereka.
Tapi tentu saja Buckland tidak bakal bisa menolak serangan gencar untuk waktu
lama. Dan mungkin saja di pagi hari mereka akan membiarkan masuk seorang
Penunggang Hitam yang datang menanyakan Mr. Baggins. Sudah banyak yang
tahu bahwa kau akan datang untuk tinggal di Crickhollow."
Frodo duduk merenung beberapa saat. "Aku sudah mengambil keputusan,"
akhirnya ia berkata. "Aku akan berangkat besok, begitu hari terang. Tapi aku
tidak akan melewati jalan: lebih aman menunggu di sini daripada berada di jalan.
Kalau aku pergi melalui Gerbang Utara, kepergianku dari Buckland akan segera
ketahuan, padahal mestinya bisa dirahasiakan selama beberapa hari. Terlebih
lagi, Jembatan dan Jalan Timur dekat perbatasan pasti akan diawasi, entah ada
Penunggang yang masuk ke Buckland atau tidak. Kita tidak tahu berapa
Penunggang yang ada; tapi setidaknya ada dua, dan mungkin lebih. Satusatunya
yang bisa dilakukan adalah pergi ke arah yang sangat tak terduga."
"Tapi itu berarti masuk ke Old Forest!" kata Fredegar ketakutan. "Kau
tidak berniat melakukan itu, kan? Itu sama berbahayanya dengan Penunggang
Hitam."
"Tidak persis sama," kata Merry. "Kedengarannya memang nekat sekali,
tapi aku yakin Frodo benar. Itu satu-satunya jalan untuk berangkat tanpa segera
dikuntit. Kalau beruntung, kita bisa cukup jauh mendahului mereka."
"Tapi kau tidak akan beruntung di dalam Old Forest," bantah Fredegar.
"Tidak ada yang pernah beruntung di dalam sana. Kau akan tersesat. Orangorang
tidak berani masuk ke sana."
"Oh, mereka masuk!" kata Merry. "Para Brandybuck sering masuk bila
sedang ingin. Kami punya jalan masuk pribadi. Frodo pernah masuk, sudah lama
sekali. Aku juga pernah masuk beberapa kali; biasanya siang hari, tentu, bila
pepohonan sedang mengantuk dan suasananya cukup tenang."
"Well, lakukanlah yang terbaik menurutmu!" kata Fredegar. "Aku lebih
takut pada Old Forest daripada apa pun: cerita-cerita tentangnya seperti mimpi
buruk; tapi suaraku tidak bisa masuk hitungan, karma aku tidak akan ikut dalam
perjalanan. Meski begitu, aku sangat senang masih ada yang tinggal, untuk
menceritakan pada Gandalf apa yang kalian lakukan, kalau dia datang; dan aku
yakin tak lama lagi dia akan datang.
Meski Fatty Bolger sangat menyayangi Frodo, ia tak ingin meninggalkan
Shire, juga tak ingin melihat apa yang ada di luarnya. Keluarganya berasal dari
Wilayah Timur, dari Budgeford di Bridgefields sebenarnya, tapi ia belum pernah
melintasi Jembatan Brandywine. Tugasnya, sesuai rencana semula komplotan
itu, adalah tetap tinggal di sana untuk menangani orang-orang yang ingin tahu,
dan untuk selama mungkin berpura-pura bahwa Mr. Baggins masih tinggal di
Crickhollow. Ia bahkan membawa beberapa pakaian lama Frodo untuk
membantunya memainkan peran itu. Mereka sama sekali tak menduga peran itu
akan terbukti sangat berbahaya.
"Bagus!" kata Frodo setelah memahami rencana mereka. "Kalau tidak,
kita tak bisa meninggalkan pesan untuk Gandalf. Aku tidak tahu apakah para
Penunggang ini bisa membaca atau tidak, tapi aku tidak akan berani mengambil
risiko meninggalkan pesan tertulis, seandainya mereka masuk dan menggeledah
rumah ini. Tapi kalau Fatty bersedia mempertahankan benteng, dan aku bisa
yakin Gandalf tahu ke mana kita pergi, aku jadi lebih mantap. Aku akan masuk
Old Forest besok pagi-pagi."
"Yah, begitulah," kata Pippin. "Secara keseluruhan, aku lebih senang
mendapat tugas kami daripada togas Fatty menunggu di sini sampai
Penunggang Hitam datang."
"Tunggu sampai kau sudah jauh masuk ke dalam Forest," kata Fredegar,
"besok, sebelum jam ini, kau akan berharap masih bersamaku di sini."
"Tak ada gunanya berdebat tentang itu," kata Merry. "Kita masih harus
beres-beres dan mengepak, sebelum tidur. Aku akan membangunkan kalian
semua sebelum fajar."
Ketika akhirnya ia berbaring di ranjang, Frodo tak bisa tidur untuk beberapa
lama. Kakinya sakit. Ia senang besok akan naik kuda. Akhirnya ia tenggelam
dalam mimpi samar-samar, di mana ia seperti sedang memandang dari jendela
di atas lautan gelap pepohonan kusut. Di bawah sana, di antara akar-akar, ada
bunyi makhluk-makhluk yang merangkak dan mengendus-endus. Ia merasa
cepat atau lambat mereka akan mengendusnva.
Lalu ia mendengar suara di kejauhan. Mula-mula ia mengira itu suara
angin keras yang berembus di atas dedaunan hutan. Lalu ia tahu itu bukan bunyi
dedaunan, tetapi bunyi Laut nun jauh di sana; bunyi yang belum pernah
didengarnya dalam keadaan terjaga, meski bunyi itu Bering mengganggu
mimpinya. Mendadak ia menyadari bahwa ia berada di ruang terbuka. Tak ada
pohon lama sekali. Ia berada di padang rumput liar yang gelap, dan ada ban asin
yang aneh di udara. Ketika menengadah, ia melihat di hadapannya sebuah
menara tinggi putih menjulang sendiri di punggung sebuah bukit tinggi. Dalam
dirinya muncul hasrat yang sangat besar untuk memanjat menara itu dan melihat
Laut. Ia mulai berjuang mendaki bukit, menuju menara: tapi mendadak seberkas
cahaya muncul di langit, dan terdengar bunyi halilintar.
BAB 6
OLD FOREST
Frodo terbangun tiba-tiba. Di dalam ruangan masih gelap. Merry berdiri dengan
satu lilin di tangannya, dan menggedor pintu dengan tangan satunya. "Baik! Ada
apa?" kata Frodo, masih gemetar dan bingung.
"Ada apa!" seru Merry. "Sudah waktunya bangun. Sudah jam setengah
lima, dan kabut tebal sekali. Ayo! Sam sedang menyiapkan sarapan. Pippin juga
sudah bangun. Aku baru saja akan memasang pelana pada kuda-kuda, dan
mengambil kuda pengangkut barang. Bangunkan si pemalas Fatty! Setidaknya
dia harus bangun dan mengantar kita berangkat."
Tak lama setelah jam enam, para hobbit sudah siap berangkat. Fatty
Bolger masih menguap. Mereka keluar diam-diam dari rumah. Merry berjalan di
depan, menuntun kuda, menyusuri jalan setapak yang melalui pepohonan di
belakang rumah, lalu memotong melintasi beberapa ladang. Dedaunan
berkilauan di pohon-pohon, dan setiap rantingnya meneteskan embun; rumput
pun kelabu tertutup embun. Suasana sepi, bunyi-bunyi di kejauhan terdengar
dekat dan jelas: unggas yang berceloteh di halaman, seseorang yang menutup
pintu rumah di kejauhan. t
Kuda-kuda pony ada di kandang mereka; hewan-hewan kecil kuat dari
jenis yang disukai kaum hobbit: tidak cepat, tapi cocok untuk bekerja sepanjang
hari. Mereka menaiki kuda-kuda, dan tak lama kemudian sudah melaju pergi
dalam kabut, yang seolah tersingkap enggan di depan, dan menutup kembali
dengan menyeramkan di belakang. Setelah menunggang kuda lebih dari satu
jam, lambat dan tanpa berbicara, mereka melihat High Hay menjulang di depan,
tinggi dan ditutupi sarang labah-labah keperakan.
"Bagaimana kita bisa melewati ini?" tanya Fredegar.
"Ikuti aku!" kata Merry, "dan kau akan lihat" ia membelok ke kiri sepanjang
High Hay; dengan segera mereka tiba di tempat pagar itu membelok ke dalam,
menelusuri bibir suatu lembah. Ada sebuah bukaan pada jarak tertentu dari High
Hay, menurun lembut ke dalam tanah. Pada sisinya ada tembok bata yang
semakin meninggi, tiba-tiba membentuk lengkungan dan terowongan di
bawahnya, yang masuk jauh ke bawah High Hay dan keluar di cekungan di
seberang.
Di sini Fatty Bolger berhenti. "Selamat jalan, Frodo!" katanya.
"Seandainya saja kau tidak masuk ke Forest. Kuharap kau tidak perlu
diselamatkan sebelum hart ini berakhir. Mudah-mudahan kau berhasil sekarang
dan setiap hari!"
"Aku beruntung kalau di depanku tidak ada rintangan yang lebih buruk
daripada Old Forest," kata Frodo. "Katakan pada Gandalf untuk bergegas
melewati Jalan Timur: kami akan segera lewat jalan itu lagi, dan akan berjalan
secepat mungkin."
"Selamat tinggal!" teriak mereka, lalu melaju menuruni tebing dan
menghilang dari pandangan Fredegar, masuk ke dalam terowongan.
Di sana gelap dan lembap. Ujung seberang terowongan ditutupi "' pintu
dari jeruji besi kokoh. Merry turun dan membuka kunci gerbang, menutupnya lagi
setelah mereka semua lewat. Pintu tertutup den-an bunyi gemerincing dan
kuncinya terceklik. Suara itu terdengar mengancam.
"Nah!" kata Merry. "Kau sudah meninggalkan Shire, dan sekarang berada
di luar, di pinggir Old Forest."
"Apakah cerita-cerita tentang hutan itu benar?" tanya Pippin.
"Aku tidak tahu cerita mana yang kaumaksud," jawab Merry. "Kalau
maksudmu cerita-cerita khayal mengerikan yang biasa didengar Fatty dari
pengasuhnya, maka menurutku tidak. Setidaknya aku tidak percaya. Tapi hutan
ini memang ganjil. Segala sesuatu di dalamnya sangat hidup, lebih sadar tentang
apa yang terjadi, daripada segala sesuatu di Shire. Dan pohon-pohon di sana
tidak menyukai orang asing. Mereka suka mengawasi. Mereka biasanya puas
hanya memperhatikan kita, selama hari masih terang, dan tidak berbuat banyak.
Sesekali pohon yang paling tidak ramah suka menjatuhkan dahan, atau
menjulurkan akar, atau menggapai kita dengan sulur panjang. Tapi di malam hari
keadaan bisa sangat menakutkan, atau begitulah kata orang-orang. Aku baru
sekali-dua kali masuk ke sini setelah gelap, itu pun hanya dekat pagar. Aku
merasa semua pohon saling berbisik, meneruskan berita-berita dan rencanarencana
dalam bahasa yang tak bisa dipahami; dahan-dahan bergoyang dan
meraba-raba tanpa ada angin. Kabarnya pohon-pohon itu benar-benar bisa
bergerak, mengepung mereka. Bahkan sebenarnya lama berselang mereka
pernah menyerang High Hay: mereka datang dan menanamkan diri persis di
sampingnya, dan bersandar menutupinya. Tapi para hobbit datang menebang
ratusan pohon, membuat api unggun besar di Forest, dan membakar seluruh
tanah sepanjang satu petak di sebelah timur High Hay. Setelah itu pepohonan
tidak menyerang lagi, tapi mereka menjadi tidak ramah. Masih ada ruang kosong
luas tak jauh dari tempat api unggun dulu dinyalakan."
"Apakah hanya pohon-pohon yang berbahaya?" tanya Pippin.
"Ada banyak makhluk aneh yang tinggal jauh di dalam Forest, dan di
pinggiran seberang sana," kata Merry, "atau setidaknya begitulah yang
kudengar; tapi aku belum pernah melihat satu pun dari mereka. Tapi ada yang
membuat jalan di sini. Setiap kita masuk, pasti kita akan menemukan jejak jalan
terbuka; tapi kelihatannya jalan itu berubah-ubah dan berpindah dari waktu ke
waktu dengan cara yang aneh. Tak jauh dad terowongan ada-atau pernah ada
untuk waktu lama-awal suatu jalan lebar menuju Lapangan Api Unggun, lalu
kurang-lebih ke arah yang kita tuju, ke timur dan agak ke utara. Itulah jalan yang
akan kucoba cari."
Sekarang para hobbit meninggalkan mulut terowongan dan menunggang kuda
melintasi lembah luas. Di seberang ada jejak jalan samar-samar menuju dataran
Forest, seratus meter lebih di luar High Hay; tapi jalan itu menghilang begitu
mereka sampai ke bawah pepohonan. Ketika menoleh ke belakang, mereka bisa
melihat garis gelap High Hay melalui batang-batang pohon yang sudah rapat di
sekeliling mereka. Di depan sana mereka hanya bisa melihat batang-batang
pohon dalam beragam ukuran dan bentuk: lurus atau bengkok, terpelintir,
condong gemuk atau ramping, licin atau kasar dan bercabang-cabang; semua
batang tampak hijau oleh lumut dan tanaman lebat yang berlendir.
Hanya Merry yang kelihatan agak riang. "Kau sebaiknya memimpin dan
menemukan jalan itu," kata Frodo kepadanya. "Jangan sampai kita saling
kehilangan, atau lupa arah letak High Hay!"
Mereka memilih sebuah jalan di antara pepohonan, kuda-kuda melangkah
lamban dan susah payah, dengan hati-hati menghindari akar-akar yang
menggeliat dan saling berjalin. Tak ada semak-semak. Tanah semakin
menanjak, dan ketika mereka berjalan maju, rasanya pohon-pohon semakin
tinggi, gelap, dan rapat. Tak ada suara, kecuali bunyi tetesan air yang sesekali
jatuh di antara dedaunan yang tidak bergerak. Untuk sementara tidak ada
bisikan atau gerakan di antara dahan-dahan; tapi ada perasaan tidak nyaman di
hati mereka, perasaan bahwa mereka sedang diperhatikan dengan rasa tak
suka, yang meningkat menjadi tak senang dan bahkan benci. Perasaan itu
semakin berkembang, sampai mereka sering menengok cepat atau menoleh ke
belakang, seolah merasa akan dipukul tiba-tiba.
Masih belum ada tanda-tanda mereka akan menemukan jalan itu, dan
pepohonan seolah-olah selalu merintangi. Pippin mendadak tak tahan lagi, dan
sekonyong-konyong ia mengeluarkan teriakan. "Hoi! Hoi!" teriaknya. "Aku tidak
akan melakukan apa pun. Biarkan aku lewat, tolong!"
Yang lain berhenti dengan kaget; tapi teriakan itu seolah teredam tirai
tebal. Tak ada gema atau jawaban, meski hutan terasa semakin penuh sesak
dan lebih waspada daripada sebelumnya.
"Aku tidak bakal berteriak, kalau aku jadi kau," kata Merry. "Itu malah lebih
berakibat buruk daripada baik."
Frodo mulai bertanya-tanya, apakah mungkin menemukan jalan tembus,
dan apakah ia telah bertindak benar dengan mengajak yang lain masuk ke hutan
mengerikan ini. Merry memandang sekelilingnya, kelihatannya sudah tidak yakin
mesti mengambil arah mana. Pippin memperhatikannya. "Belum apa-apa kau
sudah membuat kita tersesat," katanya. Tapi tepat pada saat itu Merry
mengeluarkan siulan penuh kelegaan dan menunjuk ke depan.
"Nah, nah!" katanya. "Memang pohon-pohon ini suka berpindah tempat.
Itu Lapangan Api Unggun di depan kita (begitulah kuharap), tapi jalan ke sana
kelihatannya sudah pindah!"
Cahaya semakin terang saat mereka berjalan maju. Tiba-tiba mereka sudah
keluar dari pepohonan, dan sudah berada di suatu tempat luas berbentuk
lingkaran. Langit terbentang di atas, kebiruan dan kejernihannya membuat
mereka tercengang, karena di bawah atap Forest mereka tak bisa melihat pagi
yang merebak dan kabut yang sirna. Namun matahari masih belum cukup tinggi
untuk menyinari tempat terbuka itu, meski cahayanya menyentuh puncak-puncak
pohon. Daun-daun tampak lebih tebal dan hijau di tepi-tepi lapangan,
mengurungnya dengan dinding yang hampir padat. Tidak ada pohon tumbuh di
sana, hanya rumput kasar dan banyak tanaman tinggi: cemara beracun yang
layu berbatang ramping dan wood-parsley, fire-weed yang menyemai menjadi
abu halus, dan jelatang serta widuri yang menjalar. Tempat yang suram, tapi
tampak seperti kebun yang menarik dan ceria dibandingkan dengan Forest yang
menyesakkan.
Semangat para hobbit kembali bangkit, dan mereka menengadah penuh
harap pada cahaya pagi di langit. Di seberang lapangan ada celah di dinding
pepohonan, dan sebuah jalan setapak tampak jelas di baliknya. Mereka bisa
melihatnya menjulur masuk ke hutan, lebar di beberapa tempat dan terbuka di
atasnya, meski sesekali pepohonan merapat dan menggelapkannya dengan
cabang-cabang mereka. Mereka masih mendaki sedikit, tapi sekarang mereka
berjalan lebih cepat, dan dengan hati lebih ringan, karena sepertinya Forest
sudah mengalah, dan akhirnya bersedia membiarkan mereka melewatinya tanpa
rintangan.
Tapi, setelah beberapa saat, udara mulai panas dan pengap. Pepohonan
mulai merapat lagi di kedua sisi, dan mereka tak bisa lagi melihat jauh ke depan.
Sekarang kebencian hutan itu terasa lebih kuat lagi menekan mereka. Begitu
sepi suasana sekitar, sampai-sampai bunyi langkah kaki kuda yang gemersik
pada dedaunan kering, dan kadang-kadang tersandung akar tersembunyi,
seolah menggelegar di telinga. Frodo mencoba menyanyi untuk menyemangati
mereka, tapi suaranya teredam menjadi gumaman.
Oh! Pengembara di negeri gelap
jangan putus asa! Sebab meski gelap dan senyap,
hutan ini 'kan berakhir juga,
matahari bersinar seperti semula:
terbenam matahari, terbit matahari,
penghujung hari, atau awal hari.
Timur atau barat, semua hutan 'kan berakhir...
Berakhir-ketika Frodo mengucapkan kata itu, suaranya menghilang dalam
kesunyian. Udara terasa berat, dan menyusun kata-kata terasa melelahkan.
Tepat di belakang mereka sebuah dahan besar jatuh dengan keras ke jalan, dari
pohon tua yang sudah bungkuk. Pohon-pohon lainnya seakan merapat di depan
mereka.
"Mereka tidak suka mendengar tentang hutan yang berakhir itu," kata
Merry. "Sebaiknya tidak menyanyi lagi sekarang. Tunggu sampai kita keluar di
ujung seberang, baru kita menoleh dan memberikan paduan suara yang
membangkitkan semangat!"
Ia berbicara dengan riang, sama sekali tidak tampak cemas. Yang lain
tidak menjawab. Mereka merasa tertekan. Beban berat terasa makin menindih
hati Frodo, dan setiap mengambil langkah maju, ia menyesal sudah berani
menantang ancaman pohon-pohon ini. Ia baru saja hendak berhenti dan
mengusulkan untuk kembali (kalau itu masih mungkin), ketika keadaan
mendadak berubah. Jalan setapak itu berhenti mendaki, dan untuk beberapa
saat menjadi agak datar. Pepohonan yang gelap agak merenggang, dan di
depan sana mereka bisa melihat jalan itu hampir lurus ke depan. Di depan
mereka, tapi masih agak jauh, ada puncak bukit hijau tak berpohon, muncul
bagai kepala botak dari hutan yang mengitarinya. Jalan itu tampaknya langsung
menuju ke sana.
Sekarang mereka bergegas maju lagi, senang membayangkan akan keluar
sejenak di atas atap Forest. Jalan menurun, lalu mendaki lagi, akhirnya
menuntun mereka ke kaki lereng bukit yang curam. Di sana jalan itu
meninggalkan pepohonan dan menghilang ke dalam tanah kering. Hutan berdiri
mengelilingi bukit, seperti rambut tebal yang dengan tajam berakhir membentuk
lingkaran, mengelilingi puncak kepala yang gundul.
Para hobbit menuntun kuda mereka naik, melingkar-lingkar ke atas,
sampai mencapai puncak. Di sana mereka berdiri memandang sekeliling. Udara
cerah dan matahari bersinar, tapi agak berkabut, dan mereka tak bisa melihat
terlalu jauh. Di dekat mereka kabut hampir hilang, meski di sana-sini masih
menggantung di cekungan hutan; di sebelah selatan mereka, dari suatu lipatan
dalam yang memotong seluruh Forest, kabut masih naik seperti uap atau untaian
asap putih.
"Itu," kata Merry, sambil menunjuk dengan tangannya, "itu garis
Withywindle. Dia keluar dari Downs dan mengalir ke barat daya, melewati tengah
Forest untuk bergabung dengan Brandywine di bawah Haysend. Kita tidak mau
ke arah sana! Kabarnya lembah Withywindle adalah bagian paling aneh di
seluruh hutan-pusat dari semua keanehan."
Yang lainnya memandang ke arah yang ditunjuk Merry, tapi mereka
hanya bisa melihat kabut di atas lembah yang dalam dan lembap; di
seberangnya, bagian selatan Forest menghilang dari pandangan.
Matahari sekarang mulai panas di atas puncak bukit. Saat itu pasti sekitar
jam sebelas, tapi kabut musim gugur masih menghalangi mereka untuk bisa
melihat banyak ke arah-arah lain. Di barat, mereka tak bisa melihat garis High
Hay maupun lembah Brandywine di seberangnya. Ke arah utara, ke mana
mereka memandang penuh harap, tak terlihat apa pun yang mungkin merupakan
garis Jalan Timur yang besar, yang sedang mereka tuju. Mereka berada di suatu
pulau di antara lautan pepohonan, dan cakrawala terselubung.
Di sisi tenggara tanah turun dengan curam, seolah-olah lereng bukit
berlanjut jauh ke bawah pepohonan, seperti pantai kepulauan yang sebenarnya
merupakan sisi gunung yang muncul dari air dalam. Mereka duduk di pinggiran
rumput dan memandang hutan di bawah, sambil makan siang. Ketika matahari
naik dan tengah hari lewat, jauh di timur mereka melihat garis-garis kelabu
kehijauan Downs yang terletak di seberang Old Forest pada sisi itu.
Pemandangan ini sangat menggembirakan mereka; rasanya menyenangkan
melihat sesuatu di luar batas hutan, meski mereka tidak bermaksud pergi ke
arah itu, kalau bisa: wilayah Barrow-downs dalam legenda-legenda hobbit
terkenal sama menakutkannya seperti Forest.
Akhirnya mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Jalan yang membawa
mereka ke bukit muncul kembali di sisi utara; tapi belum lama mereka
menyusurinya, jalan itu semakin membelok ke kanan. Dengan segera jalan itu
sudah menurun cepat, dan mereka menduga ia menuju lembah Withywindle:
sama sekali bukan arah yang ingin mereka tuju. Setelah berdiskusi sebentar,
mereka memutuskan meninggalkan jalan yang menyesatkan itu, dan pergi ke
arah utara; meski mereka tak bisa melihatnya dari atas puncak bukit, Jalan
tersebut pasti terletak di arah sana, dan pasti tidak terlalu jauh lagi. Lagi pula ke
arah utara, dan ke kiri jalan, tanah kelihatan lebih kering dan lebih terbuka,
mendaki ke lereng-lereng yang pepohonannya lebih jarang, di mana cemaracemara
menggantikan pohon-pohon A dan asli dan pohon-pohon aneh lain yang
tak bernama di bagian hutan yang padat.
Mulanya pilihan mereka tampak bagus: Mereka maju dengan kecepatan
lumayan, tapi setiap kali bisa melihat sekilas matahari di tempat terbuka,
kelihatannya mereka secara tak terkendali sudah melenceng ke arah timur.
Namun setelah beberapa saat pohon-pohon mulai merapat lagi, justru di tempat
yang dari jauh tampak lebih jarang dan tidak begitu kusut. Lalu mereka
menemukan banyak lipatan dalam yang tak terduga di tanah, seperti jejak roda
raksasa besar atau parit lebar, dan jalan yang terbenam, sudah lama tidak
digunakan, penuh sesak dengan semak berduri. Biasanya rintangan-rintangan
itu tepat memotong arah jalan mereka, dan hanya bisa dilewati dengan
merangkak di bawahnya; ini sulit dan mengganggu untuk kuda-kuda. Setiap kali
mereka turun, mereka menemukan cekungan penuh belukar tebal dan semaksemak
kusut, yang entah mengapa tak man memberi jalan ke arah kiri, hanya
man menyerah kalau mereka belok ke kanan; mereka jadi terpaksa berjalan
cukup jauh menyusuri dasar cekungan, sebelum bisa menemukan jalan naik ke
tebing selanjutnya. Setiap kali mereka memanjat keluar, pepohonan seolah
tampak lebih rapat dan gelap; dan selalu lebih sulit mencari jalan bila mereka
belok ke kiri dan naik, hingga mereka terpaksa berjalan ke arah kanan dan turun.
Setelah satu-dua jam, mereka sudah kehilangan arah yang jelas, tapi mereka
tahu betul bahwa sudah sejak tadi mereka tidak lagi berjalan ke arah utara.
Mereka seperti sengaja dihadang, dan hanya mengikuti jalan yang dipilihkan
untuk mereka ke timur dan selatan, menuju pusat Forest, bukan keluar.
Siang hari mulai habis ketika mereka merangkak dan tersandung-sandung
ke dalam lipatan yang lebih lebar dan dalam daripada yang sebelumnya mereka
temui. Begitu curam dan tertutup tanaman, hingga tak mungkin memanjat keluar,
baik sambil maju maupun mundur, tanpa meninggalkan kuda-kuda dan bawaan.
Mereka hanya bisa mengikuti lipatan itu—ke bawah. Tanah mulai melembek,
berlumpur di beberapa tempat; mata air bermunculan di tebing, dan tak lama
kemudian mereka ternyata menyusuri sebuah sungai yang menetes dan
menggeluguk melewati dasar berumput liar. Lalu tanah menurun dengan cepat,
dan sungai itu semakin kuat dan berisik, mengalir dan melompat lincah menuruni
bukit. Mereka berada di sebuah selokan dalam yang remang-remang dan
ditutupi pohon-pohon tinggi di atas.
Setelah terhuyung-huyung beberapa saat menyusuri aliran sungai, tibatiba
mereka sudah keluar dari kesuraman itu. Seolah melalui sebuah gerbang,
mereka melihat cahaya matahari di depan. Mendekati bukaan, mereka
menyadari sudah berjalan turun melewati suatu belahan di tebing tinggi terjal,
hampir seperti karang. Di kakinya ada hamparan rumput dan alang-alang; dan di
kejauhan kelihatan tebing lain yang hampir sama terjalnya. Siang itu keemasan
oleh cahaya matahari yang menggantung hangat dan mengantuk, di atas tanah
yang tersembunyi di antara kedua tebing itu. Di tengahnya mengalir berkelokkelok
sebuah sungai gelap berair cokelat, dibatasi pohon-pohon willow tua,
tertutup pohon-pohon willow yang bungkuk, dan penuh bercak-bercak ribuan
daun willow yang sudah memudar. Udara dipenuhi dedaunan, kuning gemetaran
pada dahan-dahan; karena ada angin lembut hangat bertiup di lembah, alangalang
gemersik, dan dahan-dahan willow berbunyi keriut.
"Well, sekarang aku mulai tahu sedikit, di mana kita berada!" kata Merry.
"Kita sudah melenceng hampir berlawanan arah dengan tujuan kita semula. Ini
Sungai Withywindle! Aku akan berjalan terus dan memeriksa."
Ia keluar ke bawah cahaya matahari dan menghilang di dalam rumputrumput
tinggi. Setelah beberapa saat ia muncul kembali, dan melaporkan bahwa
tanah antara kaki karang dan sungai cukup padat; di beberapa tempat, tanah
kering padat mencapai pinggiran air. "Lagi pula," katanya, "tampaknya ada
semacam jalan setapak di sepanjang sisi sungai sebelah sini. Kalau kita
membelok ke kiri dan mengikutinya, pasti kita akan keluar di sisi timur Forest
akhirnya."
"Mudah-mudahan!" kata Pippin. "Itu kalau jalan itu terus berlanjut, bukan
hanya menuntun kita masuk ke tanah berlumpur dan meninggalkan kita di sana.
Siapa yang membuat jalan setapak itu, kira-kira, dan untuk apa? Aku yakin jalan
ini bukan untuk digunakan oleh kita. Aku mulai sangat curiga dengan Forest ini
dan semua di dalamnya, dan aku mulai mempercayai semua cerita tentangnya.
Dan apakah kau tahu seberapa jauh ke arah timur kita harus pergi?"
"Tidak," kata Merry, "aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu seberapa
jauh di samping Withywindle lokasi kita, atau siapa yang mungkin datang ke sini
cukup sering untuk membuat jalan setapak menyusurinya. Tapi tidak ada jalan
keluar lain yang bisa kulihat atau kuingat."
Karena tidak ada pilihan lain, mereka berbaris keluar, dan Merry
menuntun mereka ke jalan yang ditemukannya. Di mana-mana alang-alang dan
rumput tumbuh subur dan tinggi, di tempat-tempat jauh di atas kepala mereka;
tapi sekali ditemukan, jalan itu mudah dilewati, dengan belokan-belokan dan
tikungan-tikungannya, memilih tanah yang lebih bagus di antara tanah berlumpur
dan genangan air. Di sana-sini ia melewati sungai-sungai lain yang mengalir
sebagai selokan, masuk ke Withywindle dari tanah hutan yang lebih tinggi, dan
pada tempat-tempat ini ada batang-batang pohon atau ikatan semak-semak
yang dengan cermat dipasang membentang di atasnya.
Hobbit-hobbit itu mulai sangat kepanasan. Pasukan lalat dan serangga terbang
mendengung di sekitar telinga mereka, dan matahari siang membakar punggung
mereka. Akhirnya mereka sampai di tempat teduh yang sempit; dahan-dahan
besar kelabu mencapai seberang jalan. Setiap langkah maju semakin tertahan.
Rasa kantuk seolah merangkak keluar dari tanah, merambati kaki, dan jatuh
dengan lembut dari udara ke atas kepala dan mata mereka.
Frodo merasa dagunya tertunduk dan kepalanya mengangguk. Tepat di
depannya Pippin jatuh berlutut. Frodo berhenti. "Ini tidak benar," ia mendengar
Merry berkata. "Tidak bisa berjalan lagi tanpa istirahat dulu. Perlu tidur dulu.
Teduh sekali di bawah pohon willow. Tidak terlalu banyak lalat"
Frodo tak suka mendengar itu. "Ayo!" teriaknya. "Kita belum boleh tidur.
Kita harus keluar dulu dari Forest." Tapi yang lain sudah telanjur mengantuk dan
sudah tak peduli. Di samping mereka, Sam berdiri menguap dan mengedipkan
mata dengan ekspresi bodoh.
Mendadak Frodo sendiri dikuasai kantuk. Kepalanya berputar-putar.
Sekarang hampir tidak ada suara di udara. Lalat-lalat sudah berhenti
mendengung. Hanya suara lembut di batas pendengaran, getaran lembut seolah
nyanyian yang setengah dibisikkan, tampaknya bergetar di dahan-dahan di atas.
Ia mengangkat matanya yang berat dan melihat di depannya sebuah pohon
willow tua dan kasar condong ke arahnya. Pohon itu tampak seperti raksasa,
ranting-rantingnya menjulur di atas, bagaikan tangan-tangan yang menggapai
dengan jemari panjang, batangnya yang benjol-benjol dan terpelintir menganga
dengan retakan-retakan besar yang berkeriut pelan ketika dahan-dahannya
bergerak. Daun-daun yang bergetar pada latar langit menyilaukannya, dan ia
terjatuh, tergeletak di tempat jatuhnya di atas rumput.
Merry dan Pippin menyeret diri mereka maju, dan berbaring dengan
punggung menyandar pada batang willow. Di belakang mereka, lubang-lubang
besar menganga lebar untuk menerima mereka, sementara pohon itu bergoyang
dan berkeriut. Mereka menengadah pada daun-daun kelabu dan kuning yang
bergerak perlahan di depan cahaya, dan bernyanyi. Mereka memejamkan mata,
lalu mereka seolah bisa mendengar kata-kata, kata-kata sejuk, mengatakan
sesuatu tentang air dan tidur. Mereka menyerah pada sihir itu, dan jatuh tertidur
lelap sekali di kaki willow kelabu besar itu.
Untuk beberapa lama, Frodo berjuang melawan kantuk yang
menguasainya; lalu dengan susah payah ia bangkit berdiri lagi. Ia merasakan
hasrat tak tertahankan untuk mencicipi air sejuk. "Tunggu aku, Sam," katanya
terbata-bata. "Aku harus membasuh kaki sebentar."
Setengah bermimpi ia berjalan ke sisi pohon yang menghadap sungai, di
mana akar-akar besar yang terpelintir tumbuh hingga ke dalam air, seperti
dragonet benjol-benjol yang menjangkau ke bawah untuk minum. Frodo duduk di
atas salah satu akar, dan menggoyang-goyangkan kakinya yang panas di dalam
air cokelat yang sejuk; di sana ia juga mendadak tertidur dengan punggung
bersandar pada batang pohon.
Sam duduk dan menggaruk kepalanya, lalu menguap lebar seperti gua besar. Ia
cemas. Siang sudah larut, dan menurutnya rasa kantuk yang mendadak ini agak
aneh. "Ada sesuatu di balik ini, yang bukan hanya matahari dan udara panas," ia
bergumam pada diri sendiri. "Aku tidak suka pohon besar ini. Aku tidak
mempercayainya. Dengar, dia bernyanyi tentang tidur sekarang! Ini tidak benar!"
Ia berdiri dan terhuyung-huyung untuk melihat apa yang terjadi dengan
kuda-kuda. Ternyata dua kuda sudah berkeliaran agak jauh di jalan setapak;
baru saja ia menangkap dan membawa mereka kembali ke dekat yang lainnya,
tiba-tiba terdengar dua bunyi: satu keras, satunya lagi pelan, tapi sangat jelas.
Satunya bunyi cemplungan sesuatu yang berat ke dalam air; satunya lagi seperti
bunyi pintu yang diam-diam terkunci rapat.
Ia bergegas kembali ke tebing sungai. Frodo berada di dalam air, dekat ke
pinggir; sebuah akar pohon yang besar seolah menahannya dari atas, tapi Frodo
tidak melawan. Sam mencengkeram jaket Frodo dan menyeretnya keluar dari
bawah akar, lain dengan susah payah mengangkatnya ke tebing. Hampir
seketika Frodo terbangun, batuk-batuk dan merepet.
"Kau tahu, Sam," akhirnya Frodo berkata, "pohon sialan itu melemparku
ke dalam! Aku merasakannya. Akarnya yang besar melingkar dan
menjatuhkanku!"
"Kurasa Anda bermimpi, Mr. Frodo," kata Sam. "Seharusnya Anda tidak
duduk di tempat seperti itu, kalau merasa mengantuk."
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Frodo. "Aku ingin tahu, mimpi
macam apa yang mereka alami."
Mereka berjalan ke sisi lain pohon itu, lalu Sam mengerti bunyi ceklikan
yang ia dengar tadi. Pippin sudah lenyap. Retakan di belakang tempat ia
berbaring sudah menutup, sehingga lubangnya tidak tampak lagi. Merry sudah
terjebak: sebuah retakan lain menutupi pinggangnya; kakinya ada di luar, tapi
sisanya ada di dalam bukaan gelap yang pinggirannya mencengkeramnya
seperti sepasang penjepit.
Frodo dan Sam mula-mula memukul batang pohon tempat Pippin tadi
berbaring. Lalu mereka berjuang dengan kalut untuk membuka rahang retakan
yang menjebak Merry. Sia-sia saja.
"Sial sekali!" teriak Frodo dengan liar. "Kenapa kita masuk ke hutan
mengerikan ini? Kalau saja kita semua ada di Crickhollow kembali!"
Ditendangnya pohon itu sekuat tenaga, tanpa memperhatikan kakinya sendiri.
Suatu getaran tak kentara merayapi batang pohon itu, naik ke dahan-dahannya;
daun-daunnya gemersik dan berbisik, dengan bunyi seperti suara tertawa jauh
dan samar-samar.
"Kita tidak punya kapak di ransel kita, Mr. Frodo?" tanya Sam.
"Aku membawa kapak kecil untuk membelah kayu api," kata Frodo. "Tidak
banyak gunanya."
"Tunggu!" seru Sam, yang mendapat gagasan mendengar kata "kayu api".
"Mungkin kita bisa melakukan sesuatu dengan api!"
"Mungkin," kata Frodo ragu. "Kita mungkin berhasil memanggang pippin
hidup-hidup di dalam."
"Kita bisa mencoba melukai atau menakuti dulu pohon ini," kata Sam
dengan marah. "Kalau ia tidak melepaskan mereka, aku akan menebangnya,
meski aku harus menggigitnya." ia lari ke kuda-kuda mereka, dan tak lama
kemudian kembali dengan dua kotak korek api dan kapak kecil.
Dengan cepat mereka mengumpulkan rumput, daun-daun kering, dan
serpihan-serpihan kulit pohon; lalu mereka membuat tumpukan ranting patah
dan potongan-potongan cabang. Semua itu mereka susun bersandar pada
batang pohon, di sisi terjauh dan tawanannya. Begitu Sam menyalakan korek
api, rumput kering terbakar; nyala api dan asap membubung naik. Rantingranting
berderak. Lidah-lidah api kecil menjilat kulit kering batang pohon tua itu
dan menghanguskannya. Keseluruhan pohon itu bergetar. Daun-daunnya seolah
mendesis di atas kepala mereka dengan bunyi kesakitan, dan kemarahan.
Terdengar teriakan keras Merry, dan jauh dari dalam pohon mereka mendengar
Pippin mengeluarkan teriakan teredam.
"Matikan! Matikan!" teriak Merry. "Kalau tidak, dia akan menjepitku sampai
terbelah dua. Dia bilang begitu!"
Siapa? Apa?" teriak Frodo, berlari memutar ke balik pohon.
Matikan! Matikan!" pinta Merry. Dahan-dahan willow mulai bergoyang
keras. Ada bunyi seperti angin naik dan menyebar ke semua dahan pohon di
sekitarnya, seolah mereka melemparkan batu ke dalam tidur tenang lembah itu
dan menimbulkan getaran kemarahan yang menyebar ke seluruh Forest. Sam
menendang api kecil tadi dan menginjak mati percikan-percikannya. Tetapi
Frodo, tanpa tahu mengapa ia melakukan itu, atau apa yang diharapkannya,
berlari sepanjang jalan sambil berteriak tolong! tolong! tolong! Rasanya ia sendiri
hampir tak bisa mendengar suaranya yang melengking: suaranya terbang ditiup
angin willow, dan tenggelam dalam keberisikan dedaunan, begitu kata-kata yang
ia ucapkan terlontar dari mulutnya. Ia merasa putus asa: tersesat dan kehilangan
akal.
Mendadak ia berhenti. Ada jawaban, atau begitulah pikirnya; tapi
sepertinya jawaban itu datang dari belakangnya, di atas jalan yang lebih jauh di
dalam Forest. Ia membalikkan badan dan mendengarkan, dan segera ia tak ragu
lagi: seseorang sedang menyanyikan lagu; suatu suara gembira dan berat
sedang bernyanyi tak acuh dan riang, tapi kata-katanya seperti omong kosong:
Hei dot! gembira dot! dering a dong dillo!
Ring a dong! Loncatlah! Fal lal sang willow!
Tom Bom, Tom ceria, Tom Bombadillo!
Setengah berharap dan setengah takut akan bahaya baru, Frodo dan
Sam sekarang berdiri diam. Mendadak dari rangkaian panjang kata-kata tak
bermakna itu (atau kedengarannya begitu), suara tersebut naik dengan nyaring
dan jelas, menyanyikan lagu ini:
Hei! Kemari gembira dot! derry dot! Sayangku!
Ringan embusan angin musim dan burung jalak berbulu.
Sepanjang bawah Bukit, bersinar di bawah mentari,
Menunggu cah’ya bintang sejuk di langit tinggi,
Di sanalah wanita cantik-ku, putri Sungai,
Ramping bagai tongkat willow; sehalus bunga rampai.
Tom Bombadil tua membawa lili air
Datang melompat pulang. Kaudengarkah dia nyanyi bersyair?
Hei! Kemari gembira dot! derry dot! dan ceria-ha!
Goldberry, Goldberry, beri kuning ceria-ha!
Willow-man tua malang, simpanlah akarmu!
Sebentar lagi malam datang, dan Tom sedang terburu-buru.
Tom pulang membawa bunga lili.
Hei! Kemari derry dot! Bisakah kaudengar aku bernyanyi?
Frodo dan Sam berdiri bagai tersihir. Angin berhenti. Daun-daun
tergantung diam lagi pada dahan-dahan yang kaku. Nyanyian lain meledak, lalu
tiba-tiba, dengan melompat dan menari-nari sepanjang jalan, di atas alang-alang
muncul sebuah topi usang dengan puncak tinggi dan bulu biru panjang
terpasang pada pitanya. Dengan lompatan dan loncatan sekali lagi, muncul
seorang laki-laki, atau begitulah tampaknya. Bagaimanapun, ia terlalu besar dan
berat untuk ukuran hobbit, tapi juga kurang tinggi untuk disebut Makhluk Besar,
meski ia sama berisiknya seperti mereka. Ia terhuyung-huyung dengan sepatu
bot kuning besar pada kakinya yang gemuk, menerjang rumput dan alang-alang
seperti sapi yang akan minum. Ia memakai mantel biru dan berjenggot cokelat
panjang; matanya biru dan cerah, dan wajahnya merah seperti apel matang, tapi
keriput dalam seratus kerutan tawa. Di tangannya ia membawa daun lebar
seperti baki, dengan setumpuk kecil lili air di atasnya.
"Tolong!" teriak Frodo dan Sam, sambil berlari menuju pria itu dengan
tangan terulur.
"Hei! Hei! Tenang!" teriak pria tua itu, mengangkat satu tangannya.
Mereka berhenti, seolah terpaku. "Nah, kawan-kawan kecil, kalian mau ke mana,
terengah-engah seperti pengembus? Ada masalah apa di sini? Kalian tahu siapa
aku? Aku Tom Bombadil. Ceritakan masalahmu! Tom sedang terburu-buru
sekarang. Jangan merusak bunga lili-ku!"
"Teman-temanku terjebak di dalam pohon willow," teriak Frodo terengahengah.
"Master Merry terjepit di dalam celah!" seru Sam.
"Apa?" teriak Tom Bombadil, melompat tinggi. "Si Tua Willow? Tidak lebih
buruk dari itu, kan? Itu gampang. Aku tahu lagu untuknya. Si Tua Willow kelabu!
Akan kubekukan sumsumnya, kalau dia tak mau sopan! Aku akan menyanyi
sampai akar-akarnya lepas. Aku akan menyanyikan angin, mengembus daun
dan dahannya sampai lepas. Si Tua Willow!"
Setelah meletakkan bunga-bunganya dengan hati-hati di rumput, ia berlari
ke pohon itu. Di sana ia melihat kaki Merry masih menjulur keluar—sisanya
sudah ditarik masuk lebih dalam. Tom menempatkan mulutnya di dekat celah
dan mulai bernyanyi ke dalamnya dengan suara rendah. Mereka tak bisa
menangkap kata-katanya, tapi rupanya Merry terbangun. Kaki-kakinya mulai
menendang. Tom melompat menjauh, dan setelah mematahkan dahan yang
tergantung, memukuli sisi willow dengannya. "Lepaskan mereka, Willow tua!"
katanya. "Apa-apaan ini? Seharusnya kau tidak bangun. Makanlah tanah! Galilah
yang dalam! Minumlah air! Tidurlah! Bombadil yang berbicara!" Kemudian ia
memegang kaki Merry dan menariknya keluar dari lubang yang tiba-tiba
membesar.
Ada bunyi keriut pecah, dan retakan yang lainnya juga terbuka. Pippin
melompat keluar dari sana, bagai ditendang. Lalu dengan bunyi keras kedua
lubang itu kembali tertutup rapat. Pohon itu gemetar dari akar sampai ke
puncaknya, dan tiba-tiba sunyi.
"Terima kasih!" kata para hobbit, satu per satu.
Tom Bombadil tertawa terbahak-bahak. "Nah, kawan-kawan kecilku!"
katanya sambil membungkuk, agar bisa menatap wajah mereka. "Kalian harus
ikut pulang denganku! Meja sudah penuh dengan krim kuning, madu, roti putih,
serta mentega. Goldberry sedang menunggu. Banyak waktu untuk bertanya saat
makan nanti. Sekarang ikut aku secepat kalian bisa!" Setelah mengucapkan itu,
ia memungut bunga lili-nya, lalu dengan melambaikan tangan ia melompat dan
menari sepanjang jalan ke arah timur, masih bernyanyi nyaring tanpa makna.
Terlalu kaget dan lega untuk berbicara, para hobbit mengikutinya secepat
mereka bisa. Tapi itu belum cukup cepat. Tom segera menghilang di depan
sana, dan suara nyanyiannya semakin lemah dan jauh. Tiba-tiba suaranya
mengalir kembali pada mereka dengan bunyi halo yang keras!
Teruslah terus, kawan-kawanku, di Withywindle kita berjalan!
Tom pergi lebih dulu, lilin-lilin mesti dinyalakan.
Di barat mentari terbenam: dalam gelap meraba-raba.
Saat bayangan malam turun, pintu 'kan terbuka,
Dari balik jendela, sinar kuning menyala.
Jangan takut pada alder hitam! Jangan hiraukan willow tua!
Jangan takut pada akar maupun dahan! Tom jalan di depan.
Hei sekarang! Gembira dot! Kami tunggu kalian!
Setelah itu para hobbit tidak mendengar apa-apa lagi. Hampir seketika
matahari terbenam ke balik pepohonan di belakang. Mereka teringat cahaya
senja yang berkilauan di Sungai Brandywine, dan jendela-jendela Bucklebury
yang mulai menyala dengan ratusan cahaya. Bayang-bayang besar jatuh
menyelimuti mereka; akar-akar dan dahan-dahan bergantung dengan gelap dan
mengancam di atas jalan. Kabul putih mulai naik mengikal di atas sungai, dan
berkeliaran di sekitar akar-akar pohon di tepi jalan. Dari tanah di bawah kaki
mereka, uap gelap muncul dan berbaur dengan senja yang segera turun.
Semakin sulit mengikuti jalan itu, dan mereka sudah letih sekali. Kaki
mereka terasa berat. Suara-suara aneh tersembunyi mengalir di antara semaksemak
dan alang-alang di kedua sisi mereka; bila memandang ke langit pucat di
atas, mereka menangkap pemandangan wajah-wajah aneh keriput dan benjolbenjol
yang muncul dengan muram, berlatar belakang senja, melirik ke arah
mereka dari tebing tinggi dan pinggir hutan. Mereka mulai merasa bahwa seluruh
alam ini tidak nyata, dan mereka sedang tertatih-tatih melalui sebuah mimpi
mengancam dari mana mereka takkan pernah bangun.
Tepat saat langkah kaki mereka berhenti, mereka melihat tanah semakin
menanjak. Air mulai bergumam. Dalam kegelapan, mereka melihat sekilas
kilauan buih putih, di mana sungai mengalir melewati sebuah air terjun pendek.
Kemudian pohon-pohon mendadak habis, dan kabut sudah tertinggal di
belakang. Mereka keluar dari Forest, dan menemukan lapangan rumput luas di
depan. Sungai yang sekarang kecil dan mengalir cepat, melompat riang untuk
menyambut mereka, kemilau di sana-sini, di bawah cahaya bintang yang sudah
terbit di langit.
Rumput di bawah kaki mereka licin dan pendek, seolah sudah dipotong
atau dicukur. Atap Forest di belakang sudah dipangkas, rapi seperti pagar.
Jalanan sekarang tampak jelas di depan mereka, terawat baik dan berpinggiran
batu. Jalan itu melingkar naik ke puncak bukit kecil, yang kini kelabu di malam
pucat berbintang; dan di sana, masih tinggi di atas mereka, di lereng yang lebih
jauh, mereka melihat lampu-lampu sebuah rumah berkelap-kelip. Jalanan
menurun lagi, lalu mendaki lagi, menelusuri sisi panjang licin sebuah bukit
bertanah kering, menuju cahaya itu. Tiba-tiba berkas cahaya kuning lebar
mengalir cerah dari pintu yang dibuka. Itu rumah Tom Bombadil di depan
mereka, naik, turun, di bawah bukit. Di belakangnya lereng kelabu dan kosong,
dan di luar itu bayangan-bayangan gelap dari Barrow-downs menghilang dalam
kegelapan malam di sebelah timur.
Mereka bergegas maju, hobbit-hobbit dan kuda-kuda. Sebagian keletihan
dan semua ketakutan mereka sirna. Hei! Kemari gembira dot! mengalun lagu
menyambut mereka.
Hei! Kemari gembira dot! Lompatlah, kawan-kawan!
Hobbit! Kuda! Semuanya! Kita senang pesta!
Mulailah bersuka ria! Mari bernyanyi bersama!
Lalu sebuah suara jernih lain mengalun bagai perak, menyambut mereka,
muda dan kuno bagai musim Semi, seperti lagu tentang air yang mengalir hingga
malam hari, dari pagi yang cerah di bukit-bukit:
Mulailah menyanyi! Mari nyanyi bersama
Tentang matahari, bintang, bulan dan kabut, hujan dan cuaca,
Cahaya di daun yang bersemi, embun di kelopak bunga,
Angin di atas bukit yang terbuka, lonceng-lonceng di leher domba-domba,
Alang-alang di danau remang, bunga lili di air telaga:
Tom Bombadil tua dan putri Sungai!
Dan dengan lagu itu para hobbit berdiri di ambang pintu, cahaya
keemasan menyelimuti mereka semua.
BAB 7
DI RUMAH TOM BOMBADIL
Keempat hobbit itu melangkahi ambang batu yang lebar, dan berdiri diam sambil
mengerjap-ngerjapkan mata. Mereka berada di sebuah ruangan panjang beratap
rendah, dipenuhi cahaya lampu yang menggantung dari balok-balok atap; di
meja kayu gelap yang disemir berdiri lilin-lilin tinggi dan kuning, menyala terang.
Di sebuah kursi di ujung ruangan, menghadap pintu luar, duduk seorang
wanita. Rambutnya yang pirang panjang mengalun turun ke bahunya; gaunnya
hijau, sehijau alang-alang muda, bebercak keperakan seperti butir-butir embun;
ikat pinggangnya dari emas, berbentuk rangkaian bunga lili bertaburkan mata
biru pucat bunga for-get-me-not. Di sekitar kakinya, di dalam bejana-bejana lebar
dari tanah hat hijau dan cokelat, mengambang bunga-bunga lili air, sehingga ia
tampak seolah bertakhta di tengah kolam.
"Masuklah, tamu-tamu yang budiman!" katanya, dan ketika ia berbicara,
tahulah mereka bahwa suara nyanyian jernih yang tadi mereka dengar adalah
suaranya. Mereka maju beberapa langkah dengan malu-malu, dan mulai
membungkuk rendah, merasa kaget keheranan dan canggung, seperti orang
yang mengetuk pintu untuk meminta minuman, dan ternyata pintu dibukakan
oleh ratu peri muda yang cantik, berpakaian bunga-bunga hidup. Tapi, sebelum
mereka bisa mengatakan sesuatu, wanita itu bangkit dengan ringan, melompati
bejana-bejana bunga lili, dan berlari sambil tertawa ke arah mereka; saat ia
berlari, gaunnya berbunyi gemersik perlahan, seperti angin di semak-semak
berbunga di tepi sungai.
"Mari, kawan-kawan yang baik!" katanya, memegang tangan Frodo.
"Tertawalah dan bersuka rialah! Aku Goldberry, putri Sungai." Lalu dengan
ringan ia melewati mereka, menutup pintu lalu memunggunginya, kedua
lengannya yang putih terbentang di depannya. "Biarlah sang malam kita kunci di
luar!" katanya. "Sebab kalian mungkin masih takut kepada kabut, bayangan
pohon, air yang dalam, dan makhluk-makhluk liar. Jangan takut! Karena malam
ini kalian ada di bawah atap Tom Bombadil."
Para hobbit menatapnya keheranan; ia memandang mereka masingmasing,
dan tersenyum. "Nova cantik Goldberry!" akhirnya Frodo berkata,
hatinya terharu, dipenuhi kebahagiaan yang tidak dipahaminya. Ia berdiri seperti
kalau sedang tersihir oleh suara-suara indah kaum Peri; tapi sihir kali ini
berbeda: kegembiraannya tidak begitu tajam dan agung, tapi lebih dalam dan
lebih dekat kepada hati makhluk hidup; indah, tapi tidak aneh. "Nona cantik
Goldberry!" ia berkata lagi. "Kini kegembiraan yang tersembunyi di dalam lagulagu
itu menjadi jelas bagiku.
Oh ramping bagai tongkat willow! Oh sehalus bunga rampai!
Oh alang-alang di telaga hidup! Si cantik putri Sungai!
Oh musim semi dan musim panen, musim semi lagi bergantian!
Oh angin di atas air terjun, dan bunyi tawa dedaunan!
Mendadak ia berhenti dan tergagap, tercengang mendengar dirinya
mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi Goldberry tertawa.
"Selamat datang!" katanya. "Aku tak pernah mendengar para hobbit
bermulut manis seperti itu. Tapi kulihat kau sahabat kaum Peri; cahaya matamu
dan nada suaramu mengungkapkannya. Ini pertemuan gembira! Duduklah dan
tunggulah Tuan rumah ini! Dia takkan lama. Dia sedang merawat hewan-hewan
kalian yang letih."
Para hobbit dengan senang hati duduk di kursi-kursi pendek beralaskan
anyaman rumput, sementara Goldberry menyibukkan diri di meja; mata mereka
mengikutinya, karena keluwesan gerakannya memenuhi mereka dengan_
kebahagiaan yang menenteramkan. Dari belakang rumah terdengar nyanyian.
Sekali-sekali, di antara banyak kata derry dol dan gembira dol dan dering a ding
dillo, mereka menangkap kata-kata yang diulang-ulang:
Tom Bombadil tua orang yang periang;
Jaketnya biro cerah, sepatu botnya kuning terang.
"Nona cantik!" kata Frodo lagi setelah beberapa saat. "Katakan kalau
pertanyaanku tidak bodoh, siapakah Tom Bombadil?"
"Dia," kata Goldberry, menahan gerakannya yang cepat, dan tersenyum.
Frodo memandangnya dengan ekspresi bertanya. "Dia, seperti yang
kaulihat," kata Goldberry, sebagai jawaban atas ekspresi wajahnya. “Dia
Penguasa hutan, air, dan bukit."
"Jadi, seluruh negeri aneh ini miliknya?"
"Bukan!" jawab Goldberry, dan senyumnya lenyap. "Itu akan sangat
menjadi beban," tambahnya dengan suara rendah, seolah pada dirinya sendiri.
"Pohon-pohon dan rumput, dan semua makhluk yang tumbuh atau hidup di
negeri ini, adalah milik diri mereka sendiri. Tom Bombadil adalah Penguasa.
Belum pernah ada yang menangkap Tom tua bila dia berjalan di hutan, di dalam
air, melompat di atas puncak-puncak bukit pada sung dan malam hari. Dia tak
kenal takut. Tom Bombadil adalah Penguasa."
Sebuah pintu membuka, dan Tom Bombadil masuk. Sekarang ia tidak
memakai topi, rambut cokelatnya yang tebal dimahkotai daun-daun musim
gugur. Ia tertawa, mendekati Goldberry dan memegang tangannya.
"Inilah istriku yang cantik!" ia berkata sambil membungkuk kepada para
hobbit. "Inilah Goldberry-ku, berpakaian hijau keperakan, dengan bunga-bunga
di korsetnya! Apakah meja makan sudah penuh? Aku melihat krim kuning dan
madu, roti putih dan mentega; susu, keju, rempah-rempah hijau, dan berry yang
matang sudah terkumpul. Apakah itu cukup untuk kita? Apakah makan malam
sudah siap?"
"Sudah," kata Goldberry, "tapi mungkin tamu-tamu belum siap?"
Tom bertepuk tangan dan berseru, "Tom! Tom! Tamu-tamumu lelah dan
kau hampir lupa! Mari, kawan-kawan, Tom akan menyejukkan kalian! Kalian
akan membersihkan tangan yang berdebu, dan membasuh wajah yang letih;
melepaskan jubah yang berlumpur, dan menyisir rambut yang kusut!"
Ia membuka pintu, mereka mengikutinya melewati selasar pendek dan
membelok tajam. Mereka tiba di sebuah kamar rendah dengan atap miring
(rupanya sebuah penthouse, dibangun pada sisi utara rumah itu). bindingdindingnya
dari batu bersih, tapi sebagian besar tertutup tikar-tikar hijau yang
menggantung dan tirai kuning. Ada empat kasur tebal, masing-masing dengan
tumpukan selimut putih, diletakkan di lantai sepanjang satu sisi. Pada dinding
seberang ada bangku panjang dengan mangkuk tanah fiat lebar, dan di
sampingnya berdiri kendi-kendi cokelat berisi air, beberapa dingin, beberapa
papas beruap. Sandal-sandal lembut berwarna hijau disiapkan di samping setiap
tempat tidur.
Tak lama kemudian, sesudah mandi dan segar, hobbit-hobbit duduk di
depan meja, dua pada setiap sisi, sedangkan di masing-masing ujung meja
duduk Goldberry dan sang Tuan. Makan malam berlangsung lama dan gembira.
Meski para hobbit makan dengan lahap, makanan tidak kurang. Minuman di
gelas mereka tampak seperti air jernih dan sejuk, tapi memabukkan seperti
anggur dan membuat mereka banyak bersuara. Tamu-tamu mendadak
menyadari bahwa mereka sedang bernyanyi gembira, seolah menyanyi lebih
mudah dan lebih wajar dilakukan daripada berbicara.
Akhirnya Tom dan Goldberry bangkit dan membereskan meja dengan
cepat. Para tamu disuruh duduk diam, dan ditempatkan di kursi-kursi, masingmasing
dengan bangku kaki untuk kaki mereka yang lelah. Api menyala di
perapian lebar di depan, menguarkan bau manis, seolah membakar kayu apel.
Ketika semuanya sudah beres, semua lampu di ruangan itu dipadamkan, kecuali
satu lampu dan sepasang lilin di setiap pojok rak cerobong asap. Lalu Goldberry
datang dan berdiri di depan mereka, memegang lilin; ia mengucapkan selamat
malam dan tidur nyenyak.
"Tenteramlah sekarang," katanya, "sampai pagi! Jangan hiraukan bunyibunyi
malam hari! Sebab di sini tak ada yang bisa masuk lewat pintu dan
jendela, kecuali sinar bulan dan bintang, dan angin dari atas bukit. Selamat
malam!" ia keluar dari ruangan itu, sosoknya berkilauan dan berdesir. Langkah
kakinya seperti bunyi aliran sungai yang mengalir lembut menuruni bukit, melalui
batu-batu sejuk di keheningan malam.
Tom duduk sejenak bersama mereka dalam keheningan, sementara
masing-masing berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengajukan salah
satu pertanyaan yang tadi hendak mereka kemukakan saat makan malam.
Kantuk menekan kelopak mata. Akhirnya Frodo berbicara, "Apakah kau
mendengar aku berteriak, Master, atau kebetulan saja kau lewat saat itu?"
Tom seolah terbangun dari mimpi yang menyenangkan. "Eh, apa?"
katanya. "Apakah aku mendengarmu berteriak? Tidak, aku tidak dengar: aku
sibuk bernyanyi. Kebetulan saja aku datang, kalau kau menyebutnya kebetulan.
Bukan rencanaku, meski aku memang menunggu kalian. Aku mendengar kabar
tentang kalian, dan tahu kalian sedang mengembara. Kami menduga kalian akan
datang ke air tidak lama lagi: semua jalan menuju ke sana, turun ke Withywindle.
Si Willow Tua Kelabu, dia penyanyi hebat; sulit bagi orang-orang kecil untuk
lepas dari belitan-belitannya yang simpang-siur. Tapi Tom ada urusan di sana,
dan dia tidak berani merintangi." Tom mengangguk, seolah kantuk
menyerangnya lagi; tapi ia melanjutkan dengan suara bernyanyi lembut:
Aku perlu ke sana: memetik lili air,
dedaunan hijau dan bunga lili, 'tuk menyenangkan istriku nan cantik,
bunga-bunga terakhir sebelum tahun ini berakhir, agar terhindar dari musim
dingin,
'tuk berkembang di dekat kakinya yang manis, sampai salju mencair.
Tiap tahun di akhir musim panas aku pergi mencarinya untuk dia,
di telaga besar, dalam dan jernih, jauh di Withywindle;
di sana mereka mekar lebih dulu di musim semi, dan hidup lebih lama.
Dekat telaga itu dulu kutemukan sang putri Sungai,
Goldberry muda nan cantik, duduk di antara rerumputan.
Indah nyanyiannya saat itu, dan jantungnya berdebar!
Ia membuka matanya dan memandang mereka dengan kilatan biru yang
muncul tiba-tiba:
Dan beruntunglah kalian—sebab sekarang aku takkan lagi
pergi ke sana, menyusuri sungai di hutan,
tidak saat tahun hampir usai. Dan aku pun takkan lewat
rumah si Tua Willow saat musim semi baru dimulai,
tidak sampai musim semi ceria, saat putri Sungai
menari lewat jalan willow 'tuk mandi di dalam air
Ia kembali diam; tapi Frodo masih mengajukan satu pertanyaan: Yang
paling ingin ia ketahui jawabannya. "Ceritakan pada kami, Master," kata Frodo,
"tentang si Willow. Siapa dia? Aku belum pernah dengar tentang dia."
"Tidak, jangan!" kata Merry dan Pippin bersamaan, dan mendadak duduk
tegak. "Jangan sekarang! Besok pagi saja!" "Itu benar!" kata pria tua itu.
"Sekarang waktunya istirahat. Ada hal-hal yang tidak baik didengar saat dunia
sudah diselubungi kegelapan. Tidurlah sampai pagi terang, bersandarlah pada
bantal! Jangan hiraukan bunyi-bunyian malam! Jangan takut pada willow
kelabu!" Setelah itu ia menurunkan lampu dan memadamkannya, dan sambil
membawa satu lilin di masing-masing tangannya, ia menuntun mereka keluar
dari ruangan itu.
Kasur-kasur dan bantal mereka lembut seperti bulu angsa, dan selimutselimut
terbuat dari wol putih. Baru saja membaringkan diri di ranjang empuk dan
menarik selimut menutupi tubuh, mereka Ian-sung tertidur.
Di larut malam, Frodo berbaring dalam mimpi, tanpa cahaya. Lain ia melihat
bulan muda timbul; di bawah sinarnya yang redup, di depannya berdiri sebuah
tembok hitam dari batu-batuan, ditembus sebuah lubang melengkung seperti
gerbang besar. Frodo merasa diangkat, dan ketika lewat di atasnya, ia melihat
tembok batu itu adalah lingkaran bukit, di dalamnya ada lapangan, dan di
tengahnya berdiri sebuah batu berpuncak, seperti menara besar, tapi bukan
buatan tangan. Di puncaknya berdiri sosok seorang laki-laki. Bulan yang naik
seolah menggantung sejenak di atas kepalanya, dan berkilauan di rambutnya
yang putih ketika angin meniupnya. Dari lapangan gelap di bawah terdengar
teriakan-teriakan jahat, dan lolongan kawanan serigala. Tiba-tiba sebuah
bayangan gelap berbentuk sayap besar melintas di depan bulan. Sosok itu
mengangkat tangannya, dan seberkas cahaya berkeredap dari tongkat yang
dipegangnya. Seekor rajawali besar menukik ke bawah dan membawanya pergi.
Suara-suara itu meraung dan serigala-serigala melolong. Ada bunyi embusan
angin keras, dan bersamanya terdengar pula bunyi langkah kaki kuda,
menderap, menderap, menderap dari Timur. "Para Penunggang Hitam!" pikir
Frodo .. ketika terbangun; bunyi derap kaki kuda itu masih bergema dalam
benaknya. Ia bertanya-tanya, apakah ia masih punya keberanian untuk
meninggalkan tembok-tembok batu yang aman ini. Ia berbaring tak bergerak,
masih mendengarkan; tapi kini semuanya diam. Akhirnya ia membalikkan badan
dan tertidur lagi, atau mengembara ke dalam mimpi yang -kelak tak bisa
diingatnya lagi.
Di sebelahnya Pippin tidur dengan nyaman; tapi mimpinya mulai berubah,
dan ia pun membalikkan badan sambil mengerang. Tiba-tiba " ia terjaga, atau
mengira ia terjaga; meski begitu, dalam kegelapan ia masih mendengar bunyi
yang mengganggu mimpinya: tip-tap, keriut: bunyi seperti dahan-dahan bergetar
kena angin, jari-jari ranting menggesek tembok dan jendela: keriut, keriut, keriut.
Ia bertanya dalam hati, apakah ada pohon-pohon willow dekat rumah; tiba-tiba
muncul perasaan mengerikan bahwa ia sama sekali bukan berada di dalam
rumah biasa, tapi di dalam batang willow lagi, mendengarkan suara keriut
mengerikan yang menertawakannya. Ia duduk tegak, dan merasa bantal-bantal
lembut mengikuti tekanan tangannya, maka ia berbaring kembali dengan lega. Di
telinganya seakan-akan ada yang membisikkan, "Jangan takut! Tenteramlah
sampai pagi! Jangan hiraukan bunyi-bunyian malam!" Lalu ia tertidur lagi.
Merry mendengar bunyi air dalam tidurnya yang tenang: air yang mengalir
dengan lembut, lain menyebar, menyebar tak terelakkan di sekeliling rumah,
menjadi telaga gelap tak berpantai. Airnya menggeluguk di bawah tembok, dan
perlahan tapi pasti semakin naik. "Aku akan tenggelam!" pikirnya. "Air akan
masuk, dan aku akan tenggelam." ia merasa sedang terbaring di tanah
berlumpur lembek dan basah, lain sambil melompat bangkit ia meletakkan
kakinya di sudut sebuah batu ubin yang keras dan dingin. Kemudian ia ingat
berada di mana, dan berbaring kembali. Ia seolah mendengar atau ingat
mendengar, "Tak ada yang bisa masuk lewat pintu atau jendela, kecuali sinar
bulan dan bintang, dan angin dari alas bukit." Embusan lembut udara segar
menggerakkan tirai. Merry menarik napas panjang dan tertidur lagi.
Sejauh yang diingatnya, Sam tidur nyenyak sepanjang malam, bagai
batang kayu yang diam (kalau batang kayu bisa nyenyak).
Keempatnya bangun bersamaan di pagi hari. Tom sedang mondar-mandir di
dalam ruangan, bersiul-siul seperti burung jalak. Ketika mendengar mereka
bergerak, ia menepukkan tangannya dan berseru, "Hei! Kemari gembira dol!
derry dol! Sayangku!" ia menyibakkan tirai-tirai kuning, dan para hobbit melihat
tirai-tirai itu menutupi jendela di setiap ujung ruangan, satu menghadap ke timur
dan satu lagi ke barat.
Mereka melompat bangkit dengan perasaan segar. Frodo berlari ke
Jendela sebelah timur, dan melihat sebuah kebun dapur yang kelabu ditutupi
embun. Ia setengah berharap melihat lempengan tanah kering Pada tembok,
tanah yang penuh jejak kaki kuda. Sebenarnya pandangannya tertutup oleh
barisan buncis pada tiang-tiang tinggi; tapi di atas, dan jauh di seberang, puncak
bukit yang kelabu berdiri di depan matahari terbit. Pagi itu pucat: di Timur, di
belakang awan-awan panjang seperti garis-garis wol kotor bernoda merah pada
tepiannya, muncul nada-nada kuning kemilau. Sepertinya bakal turun hujan; tapi
cahaya menyebar dengan cepat, dan bunga-bunga buncis xyang merah mulai
berkilauan di depan daun-daun hijau yang basah.
Pippin memandang ke luar dari jendela barat, ke dalam genangan kabut.
Forest tersembunyi dalam kabut. Rasanya seperti memandang dari atas ke
suatu atap awan miring. Ada sebuah lipatan atau saluran di mana kabut terpecah
ke dalam banyak gelombang dan riak; lembah Withywindle. Sungai mengalir
menuruni bukit di sebelah kiri, dan lenyap ke dalam bayang-bayang putih. Lebih
dekat ada kebun bunga dan pagar tanaman yang dipangkas, tertutup jaringan
embun keperakan; di seberangnya ada hamparan rumput yang sudah
dipangkas, berwarna kelabu pucat berembun. Tidak ada pohon willow di dekat
situ.
"Selamat pagi, kawan-kawanku yang ceria!" seru Tom, membuka lebarlebar
jendela timur. Udara sejuk mengalir masuk; berbau hujan. "Matahari tidak
akan banyak menunjukkan wajahnya hari ini kukira. Aku sudah berjalan ke
mana-mana, melompat di puncak-puncak bukit, sejak fajar kelabu menyingsing,
mencium angin dan cuaca, rumput basah di bawah kaki, langit basah di atasku.
Kubangunkan Goldberry sambil bernyanyi di bawah jendela; tapi tak ada yang
bisa membangunkan para hobbit di pagi hari. Di malam hari, makhluk-makhluk
kecil bangun dalam kegelapan, dan tidur setelah hari terang! Dering a ding dillo!
Bangunlah sekarang, kawan-kawanku yang riang! Lupakan bunyi-bunyian
madam! Dering-a ding dillo del! Derry del, sayangku! Kalau kalian cepat datang,
kalian akan menemukan sarapan di meja. Kalau terlambat, kalian akan
mendapat rumput dan air hujan!"
Para hobbit segera datang—bukan karena ancaman Tom kedengaran
serius—dan meninggalkan meja siang sekali, setelah meja itu kelihatan agak
kosong. Baik Tom maupun Goldberry tidak berada di sana. Tom kedengaran
sibuk di sekitar rumah, gemerincing di dapur, naik-turun tangga, dan bernyanyi di
sana-sini di luar. Ruangan itu menghadap ke barat, dengan pemandangan ke
lembah yang tertutup kabut, dan jendelanya terbuka. Air menetes dari atap
jerami di atas. Sebelum mereka selesai sarapan, awan-awan sudah menyatu
menjadi atap tak terputus, dan hujan kelabu turun rintik-rintik terus-menerus.
Forest sama sekali tertutup di belakang tirai hujan.
Ketika mereka memandang ke luar jendela, suara jernih Goldberry yang
bernyanyi di atas mereka mengalir lembut, seolah jatuh bersama hujan dari
langit. Mereka tidak bisa banyak menangkap kata-katanya, tapi tampaknya jelas
itu sebuah lagu hujan, semanis curah hujan di alas bukit-bukit kering, yang
menceritakan kisah sebuah sungai yang mengalir dari mata air di dataran tinggi
ke Laut jauh di bawah. Para hobbit mendengarkan dengan senang; Frodo
merasa bahagia, dan mensyukuri cuaca yang ramah, karena keberangkatan
mereka jadi tertunda. Sejak bangun ia merasa berat hati harus pergi dari sini;
tapi sekarang ia menduga mereka takkan bisa melanjutkan perjalanan hari itu.
Angin bercokol di Barat, awan-awan yang lebih tebal dan basah bergulunggulung
untuk menjatuhkan muatan hujan mereka ke atas tanah gundul Downs.
Tak ada yang terlihat di sekeliling rumah, kecuali curahan air hujan. Frodo berdiri
dekat pintu yang terbuka, memperhatikan jalan setapak putih berubah menjadi
sungai kecil berwarna susu dan mengalir penuh buih ke lembah. Tom Bombadil
datang melompat-lompat mengelilingi sudut rumah, sambil melambaikan
tangannya seolah menahan hujan—dan memang ketika melompati ambang
pintu ia kelihatan kering, kecuali sepatu botnya. Ia melepaskan sepatunya dan
meletakkannya di sudut cerobong asap. Lalu ia duduk di kursi terbesar dan
memanggil para hobbit berkumpul di dekatnya.
"Ini hari Goldberry mencuci," katanya, "dan pembersihan untuk musim
gugur. Terlalu basah untuk makhluk hobbit biarkan mereka istirahat selama
masih sempat! Ini hari yang baik untuk cerita-cerita panjang, untuk tanya jawab,
jadi Tom akan mulai bicara."
Lalu ia menceritakan kisah-kisah luar biasa, kadang-kadang seolah
berbicara pada dirinya sendiri, kadang-kadang menatap mereka tiba-tiba dengan
mata biru cerah di bawah alisnya yang tebal. Sering kali suaranya berubah
menjadi nyanyian, lalu ia keluar dari kursinya dan menari-nari. Ia menceritakan
kisah-kisah tentang kumbang dan bunga, adat pepohonan, dan makhlukmakhluk
ajaib di Forest, tentang makhluk-makhluk jahat dan baik, makhlukmakhluk
ramah dan tidak ramah, makhluk-makhluk kejam dan yang baik hati,
dan rahasia-rahasia yang disembunyikan di bawah semak-semak.
Saat mendengarkan, mereka mulai memahami kehidupan Forest, terlepas
dari diri mereka, bahkan merasa menjadi orang asing di tempat yang bagi semua
makhluk lain terasa seperti di rumah sendiri. Yang banyak keluar-masuk kisahkisah
Tom adalah si Tua Willow, dan perasaan ingin tahu Frodo jadi cukup
terpuaskan, bahkan lebih dari cukup, karena kisah itu tidaklah menyenangkan.
Dalam ceritanya, Tom menyingkap habis isi hati pohon-pohon dan pikiran
mereka, yang sering kali gelap dan aneh dan dipenuhi kebencian pada semua
makhluk yang bergerak bebas di bumi mengunyah, menggigit, memecahkan,
memotong, membakar: perusak dan perampas kekuasaan. Bukan tanpa sebab
tempat itu disebut Old Forest, karena ia memang kuno, bertahan di antara hutanhutan
lebat yang terlupakan; dan di dalamnya tinggal ayah-ayah dari ayah-ayah
pepohonan, tidak lebih cepat tua daripada bukit-bukit, dan mereka ingat masa
ketika mereka menjadi penguasa. Tahun-tahun tak terhitung banyaknya
memenuhi hati mereka dengan keangkuhan dan kebijakan yang berakar, dan
dengan kedengkian. Tapi tidak ada yang lebih berbahaya daripada si Willow
Besar: hatinya busuk, tapi kekuatannya masih segar; dan ia cerdik, menguasai
angin, nyanyian dan pikirannya menyebar melalui hutan di kedua sisi sungai.
Rohnya yang kelabu dan haus menarik kekuatan dari dalam bum, menyebar
seperti benang akar halus di dalam tanah, serta jari-jari ranting yang tak tampak
di udara, sampai ia menguasai hampir semua pepohonan di Forest, mulai dari
Hedge/High Hay sampai Downs.
Mendadak pembicaraan Tom beralih dari hutan ke sungai segar, melewati
air terjun bergelembung, batu-batu, dan karang tua, menyelinap di antara bungabunga
kecil di tengah rumput rapat dan celah-celah basah, akhirnya
mengembara naik ke Downs. Mereka mendengar tentang Great Barrows, bukitbukit
hijau, dan lingkaran-lingkaran batu di atas bukit serta di lembah di antara
perbukitan. Domba-domba mengembik dalam gerombolan. Tembok-tembok
hijau dan putih berdiri menjulang. Ada benteng-benteng di puncak-puncak bukit.
Raja-Raja dari kerajaan-kerajaan kecil berjuang bersama, dan Matahari yang
masih muda bersinar bagaikan api di logam merah pedang mereka yang masih
baru dan haus darah. Ada kemenangan dan kekalahan; menara-menara jatuh,
benteng-benteng dibakar, dan nyala api membubung ke langit. Emas ditumpuk di
atas tandu jenazah raja-raja dan ratu-ratu; gundukan tanah menutupi mereka,
dan pintu-pintu batu tertutup; rumput tumbuh di atas semuanya. Domba-domba
berjalan beberapa lama, menggigiti rumput, tapi dengan segera bukit-bukit itu
kosong lagi. Sebuah bayangan datang dari tempat-tempat gelap yang jauh
sekali, dan tulang-belulang bergerak di bawah gundukan tanah. Hantu-hantu
Barrow-wight berjalan di tempat-tempat cekung dengan denting cincin pada
jemari yang dingin, dan rantai emas di dalam angin. Cincin-cincin batu
menyeringai dari dalam tanah, seperti gigi patah di bawah sinar bulan.
Para hobbit menggigil. Bahkan di Shire selentingan tentang Barrow-wight
di Barrow-downs di luar Forest sudah terdengar. Tak ada hobbit yang senang
mendengar kisah itu, meski di dekat perapian nyaman yang jauh sekalipun.
Mendadak keempat hobbit itu ingat apa yang selama ini terusir dari benak
mereka, karena kebahagiaan gal di rumah itu: rumah Tom Bombadil bersandar
di bawah bukit-bukit menakutkan itu. Mereka mulai kehilangan konsentrasi
mendengar cerita Tom, dan mulai bergerak-gerak gelisah sambil saling pandang.
Ketika mereka mendengar lagi kata-katanya, ternyata ia sudah
mengembara masuk ke wilayah di luar ingatan mereka, dan di luar pikiran sadar
mereka, ke masa-masa ketika dunia lebih luas, dan lautan-lautan mengalir
langsung ke Pantai barat; dan Tom masih terus bernyanyi ke masa yang lebih
jauh, sampai ke sinar bintang purbakala, ketika hanya kaum Peri yang terjaga.
Lalu mendadak ia berhenti, dan mereka melihat ia mengangguk-angguk, seolah
sedang bermimpi. para hobbit duduk diam di depannya, terpukau; angin sudah
berhenti bertiup, seperti tersihir oleh 'kata-katanya, awan-awan mengering,
terang sudah berakhir, dan kegelapan datang dari Timur dan Barat; seluruh
langit bertaburan cahaya bintang-bintang putih.
Apakah pagi dan sore yang berlalu itu hanyalah pagi dan sore satu hari,
atau beberapa hari, Frodo tidak tahu. Ia tidak merasa lapar atau lelah, hanya
dipenuhi kekaguman. Bintang-bintang bersinar melalui jendela, dan keheningan
angkasa seolah mengelilinginya. Akhirnya ia berbicara tentang keheranannya,
dan ketakutan yang muncul mendadak akibat keheningan itu,
"Siapakah kau, Master?"
"Eh, apa?" kata Tom sambil duduk tegak, matanya berkilauan dalam
kegelapan. "Bukankah kalian sudah tahu namaku? Hanya itu jawaban satusatunya.
Kau sendiri siapa? Sendirian dan tak bernama? Tapi kau masih muda
dan aku sudah tua. Paling Tua, itulah aku. Camkan kata-kataku, kawan-kawan:
Tom sudah ada sebelum sungai dan pohon-pohon; Tom ingat tetes hujan
pertama dan biji pohon ek pertama. Dia membuat jalan-jalan sebelum Makhluk-
Makhluk Besar ada, dan dia melihat orang-orang kecil datang. Dia sudah ada
sebelum Raja-Raja dan kuburan dan Barrow-wight. Ketika para Peri sudah pergi
ke barat, Tom sudah ada di sini, sebelum lautan melengkung. Dia tahu
kegelapan di bawah bintang-bintang, ketika kegelapan itu masih belum
mengenal ketakutan-sebelum Penguasa Kegelapan datang dari Luar."
Sebuah bayangan seolah melewati jendela, dan para hobbit den-an cepat
melirik ke luar. Ketika mereka membalikkan badan lagi, Goldberry sudah berdiri
di ambang pintu di belakang, bermandikan cahaya. Ia memegang lilin, menutupi
nyalanya dari angin dengan tangannya; cahaya lilin itu mengalir menembusnya,
seperti cahaya matahari mengenai sebuah kerang putih.
"Hujan sudah berhenti," katanya, "dan air segar mengalir turun di bawah
sinar bintang. Sekarang mari kita tertawa dan bersenang-senang!
"Dan mari makan dan minum!" seru Tom. "Kisah-kisah panjang
membuat orang haus. Dan mendengarkan cerita panjang membuat I kita
lapar, pagi, siang, dan malam!" Sambil berkata demikian, ia me- lompat ban-kit
dari kursinya; dengan saw loncatan ia mengambil lilin dari atas rak cerobong
asap dan menyalakannya dalam api yang dipegang Goldberry; lalu ia menarinari
mengelilingi me ja. Tiba-tiba ia melompat keluar dari pintu dan menghilang.
Dengan segera ia kembali, membawa baki besar berisi penuh makanan.
Lalu Tom dan Goldberry menata meja; para hobbit duduk setengah heran dan
setengah tertawa: begitu indah keluwesan Goldberry, begitu riang dan aneh
lonjakan-lonjakan Tom. Meski begitu, mereka seolah menjalin suatu tarian
tunggal, tanpa saling mengganggu, masuk dan keluar ruangan, dan seputar
meja; dengan sangat cepat makanan, kendi-kendi, serta lampu sudah ditata.
Panggung menyala terang oleh lilin, putih dan kuning. Tom membungkuk kepada
tamu-tamunya. "Makan malam sudah siap," kata Goldberry; sekarang para
hobbit melihat ia berpakaian warna perak seluruhnya, dengan korset putih, dan
sepatunya seperti jaring ikan. Tapi Tom berpakaian biru polos, biru seperti bunga
forget-me-not yang tersiram hujan, dan stokingnya hijau.
Makan malam itu bahkan lebih lezat daripada sebelumnya. Di bawah sihir katakata
Tom, mungkin para hobbit sudah kehilangan satu atau banyak hidangan,
tapi ketika makanan disajikan di depan mereka, rasanya sudah saw minggu
sejak mereka terakhir makan. Mereka tidak bernyanyi atau bahkan berbicara
banyak untuk beberapa saat, dan hanya memusatkan perhatian pada makanan.
Tapi setelah beberapa saat semangat mereka bangkit kembali, dan suara
mereka nyaring oleh keriangan dan tawa.
Setelah mereka makan, Goldberry menyanyikan banyak lagu untuk
mereka; lagu-lagu yang dimulai dengan ceria di perbukitan, dan jatuh dengan
lembut ke dalam keheningan; dan dalam keheningan itu terbayang dalam benak
mereka telaga-telaga dan lautan yang lebih Was daripada yang pernah mereka
kenal, dan ketika mereka menengok ke dalamnya, mereka melihat langit di
bawah sana dan bintang-bintang bagai berlian di kedalaman. Lalu sekali lagi
Goldberry mengucapkan selamat tidur dan meninggalkan mereka dekat
perapian. Tapi Tom kini benar-benar terjaga, dan menghujani mereka dengan
pertanyaan.
Rupanya ia sudah tahu banyak tentang mereka dan semua keluarga
mereka, bahkan tentang sejarah dan kejadian di Shire dari masa yang hampir
tak bisa diingat oleh kaum hobbit sendiri. Mereka sudah tidak heran akan hal ini;
tapi Tom tidak merahasiakan bahwa ia tahu semua hal tersebut terutama dari
Petani Maggot, yang ia anggap sebagai orang yang lebih penting daripada yang
diduga para hobbit. "Di bawah kakinya yang tua ada tanah, dan tanah hat pada
jemarinya; ada kebijakan dalam tulang-tulangnya, dan kedua matanya terbuka
lebar," kata Tom. Jelas Tom juga berurusan dengan para Peri, dan kelihatannya
berita dari Gildor tentang pelarian Frodo sampai kepadanya.
Tom tahu begitu banyak, dan caranya bertanya cerdik sekali, sampaisampai
Frodo mendapati dirinya menceritakan lebih banyak tentang Bilbo, dan
harapan-harapan serta ketakutannya sendiri, daripada yang pernah
diceritakannya pada Gandalf. Tom mengangguk-anggukkan kepala, dan ada
kilatan di matanya ketika ia mendengar tentang para Penunggang itu.
"Tunjukkan padaku Cincin berharga itu!" ia berkata tiba-tiba, di tengahtengah
cerita: dan Frodo, dengan penuh keheranan, mengeluarkan rantai dari
dalam sakunya, dan setelah melepaskan ikatan Cincin, ia segera
memberikannya pada Tom.
Cincin itu seolah membesar sejenak di tangan Tom yang besar dan
berkulit cokelat. Mendadak ia mendekatkan Cincin itu. ke matanya, dan tertawa.
Sekilas para hobbit melihat suatu pemandangan lucu sekaligus menakutkan,
yaitu mata Tom yang biru cerah berkilauan melalui lingkaran emas. Lalu Tom
memasang Cincin itu pada ujung jari kelingkingnya, dan mengangkatnya ke
dekat nyala lilin. Untuk beberapa saat para hobbit tidak melihat sesuatu yang
aneh. Lalu mereka menarik napas kaget. Tidak ada tanda-tanda Tom
menghilang!
Tom tertawa lagi, lalu melempar Cincin itu ke udara-dan Cincin itu lenyap
seketika. Frodo berteriak, Tom mencondongkan badan ke depan,
mengembalikan Cincin itu sambil tersenyum.
Frodo mengamatinya dengan saksama, dan agak curiga (seperti orang
yang baru saja meminjamkan perhiasan kepada seorang pesulap). Cincinnya
masih sama, atau kelihatan sama, dan beratnya juga sama: karena bagi Frodo,
Cincin itu selalu terasa berat di tangan. Tapi ada sesuatu yang mendorongnya
untuk memastikan. Mungkin ia agak jengkel dengan Tom, karena Tom seolah
menganggap enteng sesuatu yang bahkan oleh Gandalf dianggap penting dan
berbahaya. Frodo menunggu kesempatan. Ketika pembicaraan sedang berlanjut,
dan Torn sedang menceritakan kisah konyol tentang luwak dan tingkah lakunya
yang aneh, Frodo menyelipkan Cincin itu di jarinya.
Merry berbalik kepadanya untuk mengatakan sesuatu, dan terkejut, nyaris
terpekik. Frodo cukup senang: cincin ini memang cincinnya, karena Merry
memandang kosong ke kursinya, dan jelas tak bisa melihatnya. Frodo bangkit
berdiri, dan diam-diam menjauh dari api, menuju pintu luar.
"Hei, kau!" teriak Tom, melirik ke arahnya dengan pandangan tahu dalam
matanya yang- bersinar-sinar. "Hei! Frodo! Kemari! Kau mau ke mana? Torn
Bombadil tua belum buta. Lepaskan cincin emasmu! Tanganmu lebih indah
tanpa dia. Kembalilah! Tinggalkan permainanmu dan duduklah di sampingku!
Kita perlu berbicara lebih lama lagi, dan memikirkan pagi hari. Tom harus
mengajarkan jalan yang benar, dan menahan kaki kalian dari pengembaraan."
Frodo tertawa (sambil mencoba merasa puas), dan sambil melepaskan
Cincin, ia kembali duduk. Kata Tom, ia menduga besok matahari akan bersinar,
besok pagi akan menyenangkan, dan berangkat besok akan banyak membawa
harapan. Tapi sebaiknya mereka berangkat pagi-pagi, karena cuaca di negeri itu
tidak begitu bisa dipastikan untuk jangka lama, bahkan oleh Tom sekalipun, dan
kadang-kadang bisa berubah lebih cepat sebelum ia bisa mengganti jaketnya.
"Aku bukan ahli cuaca," katanya, "begitu pula semua makhluk lain yang berjalan
dengan dua kaki."
Mengikuti nasihatnya, mereka memutuskan pergi agak ke arah utara dari
rumah Tom, melalui lereng barat Downs yang lebih rendah: dengan demikian,
mereka bisa berharap bertemu Jalan Timur dalam satu hari perjalanan, dan
menghindari Barrows. Tom mengatakan mereka tak perlu takut-dan jangan ikut
campur urusan orang lain.
"Tetaplah di atas rumput hijau. Jangan mencampuri urusan batu-batu
kuno atau Wight yang dingin, atau mengorek-ngorek rumah mereka, kecuali
kalau kalian orang-orang kuat dengan hati yang tak pernah bimbang!" ia
mengatakan itu lebih dari sekali; dan ia menasihati mereka untuk melewati
barrows di sisi barat, kalau kebetulan berjalan dekat salah satu. Lalu ia
mengajari mereka suatu sajak untuk dinyanyikan, kalau kebetulan nasib sial
membuat mereka jatuh ke dalam bahaya atau kesulitan.
Ho! Tom Bombadil, Tom Bombadillo!
Dekat air, hutan, dan bukit, di alang-alang dan willow,
Dekat api, matahari, dan bulan, dengar sekarang, dengarkanlah!
Kami membutuhkanmu, Tom Bombadil, datanglah!
Ketika mereka selesai menyanyi mengikutinya, Tom menepuk bahu
mereka masing-masing sambil tertawa, dan sambil membawa lilin-lilin. Ia
menuntun mereka kembali ke kamar tidur.
BAB 8
KABUT Di ATAS BARROW-DOWNS
Malam itu mereka tidak mendengar suara apa pun. Tapi entah di dalam
mimpinya, atau di luarnya, Frodo mendengar nyanyian indah mengalir dalam
pikirannya: lagu yang seolah datang bagai cahaya remang-remang di balik tirai
hujan kelabu, dan semakin kuat, hingga mengubah tirai itu menjadi kaca dan
perak, yang lalu tersingkap, menampakkan negeri hijau yang terhampar di
bawah matahari yang terbit dengan cepat.
Pemandangan itu melebur menjadi keterjagaan; dan ternyata Tom sedang
bersiul seperti sepohon penuh burung; sinar matahari sudah jatuh miring di atas
bukit, dan melalui jendela yang terbuka. Di luar semuanya hijau dan pucat
keemasan.
Setelah sarapan, yang kembali mereka makan sendirian, mereka bersiapsiap
untuk pamit, dengan berat hati, meski pagi itu indah: sejuk, cerah, dan
bersih di bawah langit musim gugur yang biru tipis tersapu air. Udara segar
datang dari Barat-laut. Kuda-kuda mereka yang tenang hampir-hampir tampak
lincah, mendengus-dengus, dan bergerak-gerak gelisah. Tom keluar dari rumah,
melambaikan topinya dan menari-nari di ambang pintu, menyuruh para hobbit
untuk naik dan berangkat pergi dengan lancar.
Mereka melaju melewati jalan yang membentang dari belakang rumah,
dan mendaki ke arah ujung utara pundak bukit tempat rumah itu berlindung.
Mereka baru saja turun untuk menuntun kuda-kuda mendaki lereng terakhir yang
terjal, ketika tiba-tiba Frodo berhenti.
"Goldberry!" serunya. "Nona cantik dalam gaunnya yang hijau keperakan!
Kita belum pamit padanya, dan belum melihatnya sejak kemarin sore!" ia begitu
sedih, sampai membalikkan badan untuk turun; tap, tepat pada saat itu terdengar
suatu seruan jernih mengalun. Di sana, di atas pundak bukit, Goldberry berdiri
memanggil mereka: rambutnya berkibar bebas, tampak menyala berkilauan kena
sinar matahari. Cahaya seperti kilatan air pada rumput berembun menyala dari
bawah kakinya, sementara ia menari-nari.
Mereka bergegas mendaki lereng terakhir, dan berdiri dengan na- pas
terengah-engah di samping Goldberry. Mereka membungkuk, tapi dengan
lambaian tangannya ia menyuruh mereka memandang sekeliling; mereka
memandang dari atas puncak bukit ke daratan di pagi hari. Sekarang
pemandangannya jernih dan jauh, tidak lagi berkabut dan terselubung, seperti
ketika mereka berdiri di atas bukit kecil di Forest, yang sekarang terlihat berdiri
pucat dan hijau di antara pepohonan gelap di Barat. Di sebelah sana, tanah naik
membentuk punggung bukit berhutan, hijau, kuning, cokelat muda di bawah sinar
matahari, di luarnya tersembunyi lembah Brandywine. Ke Selatan, menyeberangi
garis Withywindle, ada kilatan jauh seperti kaca pucat, di mana Sungai
Brandywine membentuk lingkaran besar di dataran rendah dan mengalir
menghilang dari pengetahuan para hobbit. Di Utara, di luar bukit-bukit rendah
yang semakin mengecil, tanah membentuk dataran dan tonjolan berwarna
kelabu, hijau, dan warna tanah pucat, sampai menghilang dalam kejauhan tak
berbentuk dan remang-remang. Di sebelah Timur berdiri Barrow-downs,
punggung demi punggung bukit di pagi hari, lenyap dari pemandangan, menjadi
terkaan: tak lebih dari perkiraan biru dan kilatan putih yang berbaur dengan
pinggiran langit, tapi bagi mereka itu menyiratkan pegunungan tinggi dan jauh,
seperti yang ada dalam ingatan dan dongeng-dongeng lama.
Mereka menghirup udara segar dalam-dalam, dan merasa bahwa satu
loncatan dan beberapa langkah tegap akan membawa mereka ke mana pun
mereka mau. Rasanya agak seperti pengecut kalau naik kuda melewati bukitbukit
kusut menuju Jalan Timur, sementara seharusnya mereka melompatlompat
penuh semangat seperti Tom, melewati tangga bukit, langsung ke
Pegunungan.
Goldberry berbicara pada mereka, menyadarkan mata dan pikiran
mereka. "Bergegaslah, tamu-tamu yang baik!" katanya. "Dan tetaplah pada
tujuan semula! Ke Utara, dengan angin di mata kiri dan berkah pada setiap
langkah! Cepatlah, selama matahari masih bersinar!" Dan kepada Frodo ia
berkata, "Selamat jalan, sahabat kaum Peri, in, pertemuan yang
menyenangkan!"
Tetapi Frodo tak bisa menemukan kata-kata untuk menjawab. Ia
membungkuk rendah, dan menaiki kudanya, dan diikuti teman-temannya, pelanpelan
ia menuruni lereng yang tidak begitu terjal di balik bukit. Rumah Tom
Bombadil dan lembah, dan Forest hilang dari pandangan. Udara semakin hangat
di antara kedua dinding lereng bukit, bau tanah kering naik dengan keras dan
harum ke dalam napas mereka. Tiba di dasar cekungan hijau, mereka menoleh
dan melihat Goldberry yang sekarang tampak kecil dan ramping, seperti bunga
disinari cahaya matahari, berlatar belakang langit: ia berdiri diam, masih
memperhatikan mereka, tangannya terulur ke arah mereka. Ketika mereka
menoleh, ia memanggil dengan suara jernih, dan sambil mengangkat tangannya,
ia membalikkan badan dan menghilang di balik bukit.
Jalan mereka melewati sepanjang dasar lembah, mengitari kaki hijau bukit
curam, memasuki lembah lain yang lebih dalam dan luas, lalu mendaki
punggung bukit-bukit lain, menuruni lereng-lerengnya, lalu mendaki sisi-sisinya
yang mulus lagi, naik ke puncak-puncak bukit baru dan turun ke lembah-lembah
baru. Tidak ada pohon atau air: hanya ada tanah berumput dan tanah kering
lentur, suasana sepi, yang terdengar hanya bisikan udara di atas batas tanah,
dan lengkingan kesepian burung-burung aneh tinggi di atas. Semakin jauh
perjalanan mereka, matahari semakin naik dan semakin panas. Setiap mereka
mendaki suatu punggung bukit, angin seolah semakin melemah. Ketika mereka
melihat sekilas tanah di sebelah barat, Forest di kejauhan tampak berasap,
seolah hujan yang sudah turun menguap lagi dari daun, akar, dan gundukan
tanah. Selapis tipis bayangan menyelimuti batas pandangan, kabut gelap yang di
atasnya langit tampak seperti topi biru panas dan berat.
Sekitar tengah hari, mereka tiba di sebuah bukit yang puncaknya lebar
dan datar, seperti piring ceper dengan pinggiran hijau yang meninggi. Di
dalamnya tidak ada aliran udara, dan langit seolah dekat sekali ke kepala.
Mereka menyeberangi bukit itu dan memandang ke arah utara. Semangat
mereka meningkat, sebab jelas mereka sudah berjalan lebih jauh daripada yang
diharapkan. Memang sekarang jarak-jarak menjadi kabur dan menipu, tapi tak
diragukan lagi Downs akan segera berakhir. Sebuah lembah panjang terhampar
di bawah mereka, dan berliku ke arah utara, mencapai suatu bukaan di antara
dua punggung bukit curam. Di luarnya, kelihatannya tidak ada bukit-bukit lagi.
Pada arah utara mereka melihat sekilas sebuah garis panjang gelap. "Itu garis
pepohonan," kata Merry, "pasti menandai Jalan Timur. Sepanjang jalan, sejauh
beberapa mil sebelah timur Jembatan, ada deretan pohon. Katanya mereka
ditanam lama berselang."
"Bagus!" kata Frodo. "Kalau siang nanti kita bisa berjalan sejauh Pagi ini,
kita sudah meninggalkan Downs jauh sebelum matahari terbenam dan bisa terus
mencari tempat berkemah." Tapi sementara berbicara ia melihat ke arah timur, di
sana tampak bahwa pada sisi itu bukit-bukit lebih tinggi dan menatap mereka
dari ketinggian; semuanya tertutup gundukan hijau, dan pada beberapa tempat
terdapat bebatuan menjulang, menunjuk ke atas seperti gigi tajam-tajam muncul
dari rahang hijau.
Pemandangan itu agak meresahkan; maka mereka membuang muka
darinya dan turun ke dalam lingkaran lembah. Di tengahnya berdiri sebuah baru
sendirian, menjulang di bawah sinar matahari, dan pada saat itu tidak membuat
bayangan. Batu itu tak berbentuk, namun penuh makna: seperti tanda
lingkungan, atau jari yang melindungi, atau lebih seperti peringatan. Tapi
sekarang mereka lapar, dan matahari masih pada posisi tengah hari; maka
mereka bersandar pada sisi timur batu itu. Rasanya dingin, seolah matahari tak
punya kekuatan untuk memanasinya; tapi pada saat itu hat itu terasa
menyenangkan. Di sana mereka makan dan minum, melahap makan siang
sebaik yang bisa diharapkan di bawah langit terbuka; karena makanan itu datang
dari "bawah Bukit". Tom sudah membekali mereka dengan makanan berlimpah,
demi kenyamanan mereka. Kuda-kuda mereka berkeliaran tanpa beban di
rumput.
Menunggang kuda melewati perbukitan dan makan kenyang, sinar matahari
hangat dan wangi tanah kering, berbaring agak terlalu lama, melunjurkan kaki
dan memandang langit di atas: hal-hal ini barangkali cukup untuk menjelaskan
apa yang terjadi. Bagaimanapun, tahu-tahu mereka terbangun tiba-tiba, dalam
keadaan sangat tidak nyaman, dari tidur yang sebenarnya tidak terencana. Batu
berdiri itu sudah dingin, dan menjatuhkan bayangan panjang pucat yang
merentang jauh ke arah timur di' atas mereka. Matahari sudah berwarna kuning
pucat cair, bersinar melalui kabut, persis di atas dinding barat lembah tempat
mereka berbaring; utara, selatan, dan timur, di luar dinding kabut sudah tebal,
dingin, dan putih. Udara hening, berat, dan dingin. Kuda-kuda mereka berdiri
bergerombol dengan kepala tertunduk.
Para hobbit melompat bangun dengan kaget, dan berlari ke pinggir
barat. Ternyata mereka berada di suatu pulau di tengah kabut. Tepat saat
mereka dengan cemas memandang ke arah matahari yang sedang terbenam, ia
tenggelam di depan mata mereka, masuk ke dalam lautan putih, dan sebuah
bayangan kelabu dingin muncul di timur di belakang. Kabut mengalir naik ke
dinding-dinding dan melayang ke atas mereka, dan sambil melambung, kabut itu
menutupi kepala-kepala mereka hingga membentuk atap: mereka terkurung
dalam ruangan kabut, dan tiang pusatnya adalah batu berdiri itu.
Mereka merasa terkurung oleh suatu perangkap, tapi mereka tidak
kehilangan semangat. Mereka masih ingat pemandangan penuh harapan akan
garis Jalan Timur di depan sana, dan mereka masih tahu arah letaknya.
Bagaimanapun, sekarang mereka sudah sangat tidak suka pada tempat cekung
di sekitar batu itu, sehingga sama sekali tidak berniat tetap tinggal di sana.
Mereka mengepak barang secepat yang dimungkinkan oleh jari-jari mereka yang
beku.
Segera mereka menuntun kuda-kuda dalam satu barisan, melewati
pinggiran, dan menuruni lereng panjang bukit itu ke arah utara, masuk ke lautan
kabut. Ketika mereka turun, kabut semakin dingin dan lembap, rambut mereka
tergantung lemas dan terkulai di atas dahi. Saat mereka tiba di dasar lereng,
hawa sudah sangat dingin, hingga mereka harus berhenti dulu dan
mengeluarkan mantel dan kerudung, yang segera dipenuhi tetes-tetes embun
kelabu. Lalu mereka kembali naik kuda, maju lagi perlahan-lahan, sambil
meraba-raba jalan melalui naik dan turunnya tanah. Sedapat mungkin mereka
mengarah ke bukaan seperti gerbang di ujung utara lembah panjang yang
mereka lihat tadi pagi. Setelah melewati celah itu, mereka cukup melanjutkan
perjalanan dalam garis lurus, dan pasti akan bertemu dengan Jalan Timur.
Hanya itu yang ada dalam pikiran mereka, selain harapan samar-samar bahwa
mungkin di luar Downs tak ada kabut.
Perjalanan mereka lamban sekali. Untuk menghindari terpisah dan berjalan ke
arah berbeda, mereka berjalan dalam satu barisan, dipimpin oleh Frodo. Sam di
belakangnya, setelahnya Pippin, lalu Merry. Lembah itu seakan tak berujung.
Mendadak Frodo melihat tanda yang memberi harapan. Di kedua sisi, kegelapan
mulai menyongsong melalui kabut; ia menduga mereka akhirnya mendekati
celah di perbukitan, gerbang utara Barrow-downs. Kalau bisa melewati itu,
mereka akan bebas.
"Ayo! Ikuti aku!" ia berteriak sambil menoleh ke belakang, dan ia bergegas
maju. Tapi harapannya segera berubah menjadi kebingungan dan kekhawatiran.
Bercak-bercak gelap semakin gelap, tapi mereka mengerut; dan tiba-tiba ia
melihat dua batu berdiri, menjulang mengancam di depannya, agak condong dan
saling bersandar seperti tiang pintu yang tidak berkepala. Rasanya ia tidak
melihat hat semacam itu d' lembah, ketika memandang dari atas bukit pagi tadi.
Ia melewati kedua batu itu hampir tanpa sadar, dan saat ia melakukannya,
kegelapan seolah mengurungnya. Kudanya mengangkat kaki depan dan
mendengus, dan Frodo terjatuh. Ketika menoleh, ia menyadari bahwa ia
sendirian: yang lain tidak mengikutinya.
"Sam!" teriaknya. "Pippin! Merry! Ke sinilah! Kenapa kalian tidak ikut?"
Tak ada jawaban. Rasa takut menyergapnya, dan ia berlari kembali
melewati kedua batu itu sambil berteriak liar, "Sam! Sam! Merry! Pippin!"
Kudanya berlari ke dalam kabut dan lenyap. Dari kejauhan, atau begitulah
kedengarannya, Frodo merasa mendengar teriakan, "Hei! Frodo! Hei!" Bunyinya
dari arah timur, di sebelah kirinya saat ia berdiri di bawah batu besar itu,
memandang dan menjulurkan kepala ke dalam kegelapan. Ia mulai melangkah
menuju arah teriakan, dan menyadari bahwa ia berjalan mendaki dengan terjal.
Saat berjuang mendaki, ia berteriak lagi, dan terus memanggil dengan
semakin kalut; tapi ia tidak mendengar jawaban untuk beberapa saat, kemudian
samar-samar, jauh di atasnya, terdengar panggilan. "Frodo! Hei!" Terdengar
suara-suara tipis dari dalam kabut: lalu teriakan yang terdengar seperti tolong,
tolong! diulang berkali-kali, berakhir dengan tolong terakhir yang menjadi sebuah
raungan panjang yang tiba-tiba terpotong. Frodo berjalan maju terhuyunghuyung
secepat mungkin; tapi cahaya sekarang sudah sirna, dan malam pekat
mengurungnya, hingga ia tak mungkin bisa tahu arah. Selama itu rupanya ia
mendaki terus.
Akhirnya perubahan permukaan tanah di bawah kakinya memberitahukan
bahwa ia sudah sampai ke puncak bukit atau punggung bukit. Ia lelah,
berkeringat namun kedinginan. Kegelapan sudah sangat pekat.
"Di mana kalian?" teriaknya sedih.
Tak ada jawaban. Ia berdiri mendengarkan. Mendadak ia sadar bahwa udara
sudah dingin sekali, dan di atas sini angin mulai bertiup, angin sedingin es.
Cuaca mulai berubah. Kabut mengalir di sekitarnya dalam serpihan dan cabikan.
Napasnya beruap, tapi kegelapan tidak begitu pekat dan tebal. Ia menengadah
dan melihat dengan tercengang bahwa bintang-bintang -terang muncul di atas, di
antara serpihan awan dan kabut yang berlarian. Angin mulai mendesis di atas
rumput.
Mendadak Frodo merasa mendengar sebuah teriakan teredam, dan Ia
berjalan ke arah itu; ketika ia maju ke depan, kabut tersingkap dan langit
berbintang terbuka selubungnya. Sekilas pandang ia tahu bahwa ia sekarang
menghadap ke selatan, dan berada di sebuah puncak bukit bundar, yang pasti
didakinya dari sebelah utara. Dari timur berembus angin dingin menusuk. Di
sebelah kanannya berdiri sebuah sosok hitam gelap, berlatar belakang bintangbintang
di sebelah barat. Ada sebuah gundukan tanah di situ.
"Di mana kalian?" teriak Frodo lagi, marah dan ketakutan.
"Di sini!" kata sebuah suara, berat dan dingin, seolah datang dari dalam
tanah. "Aku menunggumu!"
"Tidak!" kata Frodo; tapi ia tidak lari. Lututnya lemas, dan ia jatuh ke
tanah. Tidak terjadi apa-apa, dan tidak ada suara. Dengan gemetar ia
menengadah, tepat pada waktunya untuk melihat sebuah sosok tinggi gelap
seperti bayangan di depan bintang-bintang. Sosok itu mencondongkan tubuh di
atasnya. Frodo merasa ada sepasang mata yang sangat dingin, meski bersinar
dengan cahaya pucat yang seolah datang dari jarak sangat jauh. Lalu
cengkeraman yang lebih kuat dan dingin daripada besi memegangnya. Sentuhan
sedingin es itu membekukan tulang-tulangnya, dan ia tak sadarkan diri.
Ketika siuman lagi, sejenak ia tak ingat apa pun kecuali perasaan takut. Tiba-tiba
ia tahu bahwa ia terperangkap, tertangkap tak berdaya; ia ada di dalam
gundukan tanah kuburan. Seorang Barrow-wight telah menangkapnya, dan
mungkin ia sudah kena sihir mengerikan dari Barrow-wight, yang banyak
diceritakan dengan berbisik-bisik. Ia tidak berani bergerak, hanya berbaring
seperti sewaktu siuman: telentang di atas bebatuan dingin dengan kedua
tangannya di atas dada.
Tapi, meski ketakutannya begitu besar, hingga seolah menjadi bagian dari
kegelapan di sekitarnya, ia sadar bahwa sementara berbaring ia teringat Bilbo
Baggins dan kisah-kisahnya, tentang pengalaman mereka berlari bersama di
jalan-jalan di Shire, membicarakan berbagai jalan dan petualangan. Ada benih
keberanian tersembunyi (sering kali sangat dalam bahkan) dalam hati hobbit
yang paling gemuk dan paling pemalu sekalipun, menunggu suatu bahaya akhir
untuk membuatnya tumbuh. Frodo tidak terlalu gemuk maupun pemalu; ia
mungkin tidak tahu itu, bahwa Bilbo (dan Gandalf) menganggapnya hobbit
terbaik di Shire. Ia mengira sudah sampai ke akhir petualangannya, dan akhir
yang mengerikan, tapi pikiran itu justru mengeraskan hatinya. Ia merasa dirinya
jadi kaku, seperti hendak membuat suatu loncatan akhir; ia tidak lagi merasa
lemas seperti mangsa yang tak berdaya.
Saat berbaring di sana, berpikir dan mengendalikan dirinya sendiri, ia
melihat bahwa ternyata kegelapan itu perlahan-lahan menghilang: seberkas
cahaya pucat kehijauan berkembang di sekitarnya. Pada mulanya cahaya itu
tidak menunjukkan ia berada dalam ruangan macam apa, karena cahaya itu
seolah datang dari dirinya sendiri, dan dari lantai di sampingnya, belum sampai
ke atap atau dinding. Ia menoleh, dan di sana... dalam cahaya dingin, ia melihat
Sam, Pippin, dan Merry berbaring di sampingnya. Mereka berbaring telentang,
wajah mereka pucat pasi, dan mereka berpakaian putih. Di sekitar mereka
berserakan banyak harta, mungkin dari emas, meski dalam cahaya tersebut
harta itu kelihatan dingin dan tidak indah. Pada kepala mereka ada lingkaran
bundar, rantai emas pada pergelangan tangan, dan banyak cincin terpasang
pada jari mereka. Di samping mereka ada pedang-pedang, dan tameng di dekat
kaki. Tapi di leher mereka melintang sebilah pedang panjang.
Tiba-tiba sebuah nyanyian mulai terdengar: gumaman dingin, naik dan turun.
Suara itu kedengaran jauh sekali dan tak terhingga suramnya, kadang tinggi dan
tipis di udara, kadang seperti erangan rendah dari tanah. Dari aliran bunyi sedih
dan mengerikan yang tidak jelas itu, sesekali terwujud rangkaian kata-kata: katakata
muram, keras, dingin, tak berperasaan, dan sedih. Malam mencerca pagi
yang sudah hilang dari sisinya, dan hawa dingin mengutuk kehangatan yang
didambakannya. Frodo merasa kedinginan sampai ke sumsumnya. Setelah
beberapa saat, lagu itu semakin jelas, dan dengan ketakutan Frodo menyadari
lagu itu sudah berubah menjadi semacam jampi-jampi:
Dinginlah tangan, hati dan tulang,
dan dinginlah tidur di bawah batu dan ilalang:
tak pernah lagi ban gun di ranjang batu,
sampai Matahari lenyap dan Bulan mati membisu.
Di dalam angin hitam, bintang-bintang 'kan mati,
biarkan mereka berbaring di sini, di atas emas murni,
sampai penguasa kegelapan mengayunkan tangan
di atas lautan mati dan tanah layu tak bertuan.
Di belakang kepalanya, Frodo mendengar bunyi keriut dan menggores. Ia
menoleh sambil mengangkat tubuhnya pada satu lengan, dan dalam cahaya
pucat ia melihat mereka berada dalam semacam selasar yang membelok di
belakang. Dari balik tikungan, sebuah lengan panjang meraba-raba, berjalan di
atas jemarinya mendekati Sam yang berbaring paling dekat, dan menuju ujung
pedang yang tergeletak di atas tubuhnya.
Mula-mula Frodo merasa benar-benar telah menjadi batu karena
pengaruh jampi-jampi itu. Lalu suatu pikiran liar untuk kabur muncul dalam
benaknya. Ia bertanya-tanya, apakah kalau ia memakai Cincin, Barrow-wight itu
takkan bisa melihatnya, dan mungkin ia bisa mencari jalan keluar. Ia
membayangkan dirinya berlari bebas di rerumputan, sambil berduka tentang
Merry, Sam, dan Pippin, tapi ia sendiri bebas dan hidup. Gandalf pasti mengerti
bahwa tak ada yang bisa ia perbuat untuk menyelamatkan mereka.
Tapi keberanian yang sudah bangkit dalam dirinya kini terlalu kuat: ia tak
bisa begitu saja meninggalkan teman-temannya. Ia bimbang, meraba-raba
dalam sakunya, lalu bertempur melawan dirinya lagi; sementara itu, lengan tadi
semakin dekat. Tiba-tiba Frodo berhasil mengambil keputusan tegas. Diambilnya
pedang pendek di dekatnya, dan ia membungkuk rendah di atas tubuh temantemannya.
Dengan sekuat tenaga ia menebas lengan yang merangkak itu pada
pergelangannya, dan tangan di lengan itu putus; tapi pada saat bersamaan
pedang itu retak sampai ke pangkalnya. Terdengar teriakan, dan cahaya
menghilang. Dalam kegelapan terdengar bunyi menggeram.
Frodo jatuh ke atas tubuh Merry, dan wajah Merry terasa dingin.
Bersamaan dengan itu muncul kembali ingatan yang tadi hilang tersapu kabut
pertama—ingatan akan rumah di kaki bukit itu, dan Tom yang bernyanyi. Ia ingat
sajak yang diajarkan Tom pada mereka. Dengan suara kecil dan putus asa ia
memulai: Ho! Tom Bombadil! Begitu ia menyebutkan nama itu, suaranya
semakin kuat: bunyinya penuh dan bersemangat, dan ruangan gelap itu
bergema, seolah mengikuti bunyi drum dan terompet.
Ho! Tom Bombadil, Tom Bombadillo!
Dekat air, hutan, dan bukit, di alang-alang dan willow,
Dekat api, matahari, dan bulan, dengar sekarang, dengarkanlah!
Kami membutuhkanmu, Torn Bombadil, datanglah!
Mendadak hening sekali, dan Frodo bisa mendengar jantungnya berdetak.
Setelah beberapa saat yang lama dan lamban, ia mendengar dengan jelas,
meski jauh sekali, seolah datang dari bawah, melalui tanah atau tembok tebal,
sebuah suara menyanyikan jawabannya:
Tom Bombadil tua orang yang periang,
Jaketnya biru cerah, sepatu botnya kuning terang.
Tom-lah sang penguasa, takkan bisa dijerat:
Lagu-lagunya dahsyat, dan kakinya lebih cepat.
Ada bunyi gemuruh sangat keras, seolah bebatuan bergulir dan berjatuhan, dan
tiba-tiba cahaya mengalir masuk, cahaya asli, cahaya biasa pagi hari. Suatu
bukaan seperti pintu rendah muncul di ujung ruangan, di dekat kaki Frodo; dan
muncullah kepala Tom Bombadil (topi, bulu, dan semuanya), terbingkai di depan
cahaya matahari yang terbit kemerahan di belakangnya. Cahaya itu jatuh ke
lantai, dan ke atas wajah ketiga hobbit yang berbaring di samping Frodo. Mereka
tak bergerak, tapi warna pucat di wajah mereka sudah lenyap. Mereka sekarang
hanya kelihatan sedang tidur lelap.
Tom membungkuk, melepaskan topinya, dan masuk ke dalam ruangan
gelap itu sambil bernyanyi:
Keluar kau, Wight tua! Enyahlah dalam cahaya mentari!
Ciutlah seperti kabut dingin, seperti angin pergi' meraung,
Keluar ke negeri tandus, jauh di luar pegunungan!
Jangan datang ke sini lagi! Biarkan kuburanmu kosong!
Hilang dan terlupakanlah, lebih gelap daripada kegelapan,
Di mana gerbang-gerbangnya selalu tertutup, sampai dunia
tersembuhkan.
Saat kata-kata itu diucapkan, terdengar teriakan keras dan sebagian
ujung dalam ruangan itu runtuh dengan bunyi dahsyat. Lalu ada jeritan
memanjang yang makin melemah ke dalam jarak tak terduga; dan setelah itu
sepi.
"Ayo, Kawan Frodo!" kata Tom. "Mari kita keluar ke rumput bersih! Kau
harus menolongku mengangkat mereka."
Berdua mereka mengangkat keluar Merry, Pippin, dan Sam. Ketika Frodo
meninggalkan "kuburan" itu untuk terakhir kalinya, ia merasa melihat tangan,
putus yang masih menggeliat seperti labah-labah kesakitan di gundukan tanah
runtuh. Tom masuk kembali, terdengar bunyi pukulan dan injakan. Ketika keluar,
ia membawa harta banyak sekali: benda-benda dari emas, perak, perunggu;
banyak manik-manik rantai, dan hiasan berlian. Ia memanjat gundukan tanah
hijau itu dan meletakkan semuanya di bawah sinar matahari.
Ia berdiri di sana, dengan topi di tangannya dan angin meniup rambutnya,
memandang para hobbit yang sudah dibaringkan di rumput sebelah barat bukit.
Sambil mengangkat tangan kanannya, Tom berkata dengan suara jernih
berwibawa,
Bangunlah sekarang, kawan-kawanku yang riang!
Bangun dan dengarlah aku memanggil!
Hangatlah hati dan anggota tubuh! Batu yang dingin sudah runtuh;
Pintu gelap sudah terbuka; tangan mati sudah tiada.
Malam di bawah Malam sudah terbang, Gerbang sudah
terpentang!
Den-an sangat gembira Frodo melihat para hobbit bergerak,
meregangkan tangan dan menyeka mata, lalu tiba-tiba bangkit berdiri. Mereka
melihat sekeliling dengan keheranan, mula-mula memandang Frodo, kemudian
Tom yang berdiri menjulang di gundukan tanah di atas mereka; lalu diri mereka
sendiri dalam kain putih compang-camping yang tipis, bermahkota dan berikat
pinggang emas pucat, bergemerincing perhiasan.
"Apa-apaan ini?" kata Merry sambil meraba lingkaran bulat yang sudah
merosot di atas salah satu matanya. Lalu ia berhenti, wajahnya menjadi muram,
dan ia memejamkan mata. "Tentu saja, aku ingat!" katanya. "Orang-orang Carn
Dum menyerang kami malam-malam, dan kami kalah. Aduh! Pedang dalam
jantungku!" ia mencengkeram dadanya. "Tidak! Tidak!" katanya, sambil
membuka mata. "Apa yang kukatakan? Aku bermimpi rupanya. Ke mana kau
pergi, Frodo?"
"Kurasa aku tersesat," kata Frodo, "tapi aku tak mau membahasnya.
Sebaiknya kita pikirkan apa yang harus dilakukan sekarang! Mari kita
melanjutkan perjalanan!"
"Berpakaian seperti ini, Sir?" kata Sam. "Di mana pakaianku?" ia
melemparkan lingkaran bulat, ikat pinggang, dan cincin-cincin ke atas rumput,
lalu melihat sekeliling dengan tak berdaya, seolah berharap akan menemukan
jubah, jaket, tali celana, dan pakaian hobbit lainnya bertebaran di dekat mereka.
"Kalian tidak akan menemukan lagi pakaian kalian," kata Tom, melompat
dari atas gundukan tanah, dan tertawa sambil menari-nari mengelilingi mereka
dalam cahaya matahari. Seolah-olah peristiwa berbahaya atau mengerikan tadi
tak pernah terjadi; dan memang... kengerian lenyap dari hati mereka ketika
memandang Tom, dan melihat sinar ceria di matanya.
"Apa maksudmu?" tanya Pippin, menatapnya, setengah heran dan
setengah geli. "Kenapa tidak?"
Tapi Tom menggelengkan kepala, sambil berkata, "Kalian sudah
menemukan din kalian sendiri, kalian sudah keluar dari dalam kesulitan besar.
Pakaian hanya kehilangan kecil, kalau kalian sudah terelak dari tenggelam.
Berbahagialah, kawan-kawanku yang ceria, dan biarkan sinar matahari yang
panas menghangatkan hati dan anggota tubuh! Lepaskan pakaian compangcamping
itu! Berlarilah telanjang di rumput, sementara Tom pergi berburu!"
Ia melompat menuruni bukit, sambil bersiul dan memanggil Frodo
melihatnya berlari ke arah selatan, sepanjang cekungan hijau di antara bukit
mereka dan yang berikutnya, sambil tetap bersiul dan memanggil,
Hei! Ayo! Datanglah hei sekarang! Ke mana kau mengembara ?
Naik, turun, dekat, atau jauh, di sini, di sana, atau jauh di sana ?
Telinga-tajam, Hidung-bijak, Ekor-kibas, dan Bumpkin, Kaus kakiputih,
dan Fatty Lumpkin?
Ia bernyanyi sambil berlari cepat, melemparkan topinya ke atas dan
menangkapnya, hingga sosoknya tersembunyi dalam lipatan tanah; tapi untuk
beberapa saat suaranya hei sekarang! hoi sekarang! mengalir terus terbawa
angin, yang sudah berubah arah ke selatan.
Udara sudah mulai panas lagi. Para hobbit berlarian sebentar di rumput, seperti
disuruh oleh Tom. Lalu mereka berbaring di bawah sinar matahari, dengan
kegembiraan makhluk yang berpindah tiba-tiba dari musim dingin yang hebat ke
cuaca ramah, atau seperti orang yang setelah lama menderita sakit, suatu hari
bangun dalam keadaan sehat, dan hari terasa indah kembali.
Saat Tom kembali, mereka sudah merasa kuat (dan lapar). Torn muncul
dari atas punggung bukit, topi lebih dulu, dan di belakangnya berbaris dengan
patuh enam ekor kuda: kelima kuda mereka sendiri, dan satu kuda lain. Yang
terakhir itu Paso Fatty Lumpkin: ia lebih besar, kuat, dan gemuk (dan lebih tua)
daripada kuda-kuda mereka. Merry, pemilik kelima kuda itu, sebenarnya belum
pernah menamai kuda-kudanya demikian, tapi selama sisa hidup mereka, kelima
kuda itu mau dipanggil dengan nama baru yang diberikan Tom. Tom memanggil
mereka satu demi satu, dan keenam kuda itu mendaki punggung bukit, lalu
berdiri berbaris. Tom membungkuk kepada para hobbit.
"Ini kuda kalian!" katanya. "Mereka lebih berakal sehat (dalam segi
tertentu) daripada kalian, hobbit pengembara—lebih banyak punya akal sehat
dalam hidung mereka. Karena mereka mencium bahaya di depan, sementara
kalian malah langsung terjun ke dalamnya; dan kalaupun mereka lari untuk
menyelamatkan diri, mereka lari ke arah yang benar. Kalian harus memaafkan
mereka, karena meski hati mereka setia, mereka tidak diciptakan untuk
menghadapi kengerian para Barrow-wight. Lihat, mereka datang lagi, membawa
semua muatan mereka!"
Merry, Sam, dan Pippin sekarang mengenakan pakaian cadangan yang
mereka bawa dalam ransel; dengan segera mereka kepanasan, karena terpaksa
memakai pakaian yang lebih tebal dan hangat, yang mereka bawa untuk musim
dingin yang sudah dekat.
"Dari mana hewan tua yang satu itu datang? Si Fatty Lumpkin itu?" tanya
Frodo.
"Dia milikku," kata Tom. "Kawanku yang berkaki empat; tapi aku jarang
menunggangnya dan dia sering mengembara jauh, bebas di atas lereng bukit.
Ketika kuda-kuda kalian tinggal di tempatku, mereka berkenalan dengan
Lumpkin; mereka mengendusnya di malam hari, dan cepat berlari menemuinya.
Kupikir dia akan mencari mereka, dan dengan kata-kata bijaknya akan
membuang semua ketakutan mereka. Tapi sekarang, Lumpkin-ku yang riang,
Tom akan menunggangimu. Hell Tom akan ikut dengan kalian, untuk mengantar
ke jalan; jadi dia butuh kuda. Sebab tidak mudah berbicara dengan hobbit-hobbit
yang menunggang kuda, kalau kau sendiri mencoba berlari dengan kaki di
samping mereka."
Para hobbit senang sekali mendengar itu, dan berterima kasih berkali-kali
pada Tom; tapi ia tertawa dan mengatakan mereka begitu pintar menyesatkan
diri sendiri, hingga ia takkan puas sebelum mengantar mereka dengan selamat
melintasi perbatasan negerinya. "Banyak sekali pekerjaanku," kata Tom,
"berkarya dan bernyanyi, berbicara dan berjalan, dan mengawasi negeri. Tom
tidak selalu bisa berada di dekat pintu-pintu terbuka dan celah pohon willow.
Tom punya rumah yang mesti diurus, dan Goldberry menunggu."
Masih cukup pagi kalau melihat matahari, sekitar jam sembilan dan sepuluh, dan
para hobbit mulai memikirkan makanan. Mereka terakhir makan pada siang hari
sebelumnya, di dekat batu berdiri itu. Sekarang mereka sarapan dengan sisa
perbekalan dan Tom, yang sebenarnya Untuk makan malam, berikut tambahan
yang dibawakan Tom untuk mereka. Bukan hidangan besar (mengingat nafsu
makan hobbit dan keadaan saat itu), tapi mereka merasa jauh lebih segar
setelahnya. Sementara mereka makan, Tom naik ke atas gundukan itu,
mengamati harta di atasnya. Kebanyakan ia buat menjadi tumpukan yang
berkilauan dan bersinar di atas rumput. Ia menyuruh mereka tetap di sana,
"bebas bagi semua penemu, burung, hewan, Peri maupun Manusia, dan semua
makhluk ramah"; dengan demikian, sihir gundukan itu akan patah dan terceraiberai,
dan tidak akan ada lagi Wight yang kembali ke situ. Untuk dirinya sendiri ia
memilih sebuah bros bertatahkan permata biru, bernuansa banyak seperti bunga
flax atau sayap kupu-kupu biru. Ia memandangnya lama sekali, seolah tergetar
oleh ingatan lama, menggelengkan kepala, dan akhirnya berkata,
"Ini mainan bagus untuk Tom dan istrinya! Cantik sekali dia yang dulu
memakai ini di pundaknya. Sekarang Goldberry akan memakainya, dan kami
tidak akan melupakannya!"
Untuk masing-masing hobbit, ia memilih sebilah belati panjang, berbentuk
daun dan tajam, buatannya halus, berhiaskan pola-pola ular berwarna merah
dan emas. Pisau-pisau itu berkilauan saat Tom mengeluarkannya dari sarung
hitam mereka, yang ditempa dari semacam logam asing ringan dan kuat,
bertatahkan banyak batu permata yang menyala bagai api. Entah karena
pengaruh baik dari sarung-sarung itu, atau karena sihir yang mempengaruhi
gundukan tanah itu, mata pisau-pisau tersebut seolah tak tersentuh waktu, tidak
karatan, tajam, dan berkilauan dalam sinar matahari.
"Pisau-pisau tua cukup panjang sebagai pedang untuk makhluk hobbit,"
kata Tom. "Pisau tajam baik dipunyai kalau makhluk-makhluk Shire berjalan ke
timur, selatan, atau jauh ke tempat gelap dan berbahaya." Lalu ia bercerita pada
mereka bahwa pisau-pisau itu ditempa bertahun-tahun yang lalu oleh Orang-
Orang Westernesse: mereka musuh Penguasa Kegelapan, tapi mereka
dikalahkan oleh Raja Carn Dum yang jahat di Negeri Angmar.
"Hanya sedikit yang ingat pada mereka sekarang," gumam Tom, "tapi
masih ada yang pergi mengembara, putra-putra raja yang terlupakan, berjalan
kesepian, menjaga orang-orang yang tak acuh dan hal-hal yang jahat."
Para hobbit tidak, mengerti kata-kata Tom, tapi ketika ia berbicara,
mereka mendapat penglihatan tentang tahun-tahun lama berselang, seperti
sebuah dataran luas remang-remang, di mana berjalan segala macam bentuk
Manusia, tinggi dan muram, dengan pedang mengilat, dan yang terakhir datang
memiliki satu bintang di dahinya. Lalu penglihatan itu memudar, dan mereka
kembali berada di dunia cerah bermandikan cahaya matahari. Sudah waktunya
berangkat lagi. Mereka bersiap-siap, mengepak ransel, dan menaikkan muatan
ke atas kuda-kuda. Dengan perasaan canggung, mereka menggantungkan
senjata mereka yang baru pada ikat pinggang kulit di bawah jaket, sambil
bertanya-tanya dalam hati, apakah senjata itu akan pernah dimanfaatkan.
Sebelum itu, tak pernah terbayang oleh mereka bahwa bertempur akan menjadi
salah satu petualangan yang bakal menghadang mereka dalam pelarian.
Akhirnya mereka berangkat. Mereka menuntun kuda-kuda menuruni bukit; lalu,
sambil menunggang kuda, mereka menderap cepat sepanjang lembah. Mereka
menoleh dan melihat puncak gundukan lama di atas bukit, dari sana cahaya
matahari yang menyinari emas naik seperti nyala api kuning. Lalu mereka
membelakangi Downs, dan daerah itu tersembunyi dari pandangan.
Meski Frodo melihat sekeliling ke semua sisi, tidak kelihatan batu-batu
besar berdiri seperti gerbang. Tak lama kemudian, mereka sampai di celah utara
dan dengan cepat melaju melewatinya, tanah terhampar luas di depan.
Perjalanan itu riang sekali, dengan Tom Bombadil berlari gembira di samping
atau di depan mereka, menunggangi Fatty Lumpkin yang bisa bergerak jauh
lebih cepat daripada yang tampak dari ukuran badannya. Tom lebih banyak
bernyanyi, kebanyakan tanpa makna, atau mungkin bahasanya bahasa asing
yang tidak dikenal para hobbit, bahasa kuno yang kata-katanya terutama tentang
keajaiban dan kegembiraan.
Mereka melaju dengan teratur, tapi segera menyadari bahwa Jalan Timur
yang mereka cari ternyata lebih jauh daripada yang mereka bayangkan. Bahkan
tanpa kabut pun, acara tidur siang pasti menghalangi mereka untuk
mencapainya sebelum malam pada hari sebelum- nya. Garis gelap yang mereka
lihat bukan barisan pohon, tapi barisan semak belukar yang tumbuh di tepi
tanggul dalam, dengan tembok curam di sisi sebelah sana. Kata Tom, dulu
tanggul itu pernah menjadi perbatasan sebuah kerajaan, tapi itu sudah sangat
lama berselang. Ia rupanya ingat sesuatu yang sedih tentang tanggul itu, dan
tidak mau bicara banyak.
Mereka mendaki turun dan keluar dari tanggul, melewati celah di tembok,
lalu Tom belok ke utara, karena selama itu mereka berjalan agak ke barat.
Sekarang tanah terbuka dan cukup datar. Mereka mempercepat langkah, tapi
matahari sudah terbenam rendah ketika akhirnya mereka melihat barisan pohon
tinggi di depan. Tahulah mereka bahwa mereka sudah sampai kembali ke Jalan
Timur, setelah beberapa petualangan tak terduga. Mereka memacu kuda
melewati sekitar dua ratus meter terakhir, lalu berhenti di bawah bayangan
panjang pepohonan. Mereka berada di atas puncak tebing menurun, dan
Jalan Timur yang sekarang kelihatan samar-samar saat senja, berkelokkelok
di bawah mereka. Pada titik itu ia menjulur hampir dari Barat-daya sampai
ke Timur-laut, dan di sebelah kanan ia segera jatuh ke dalam cekungan lebar.
Ada jejak roda dan banyak tanda bekas hujan deras yang baru saja berlalu; ada
genangan-genangan dan lubang-lubang penuh air.
Mereka melaju menuruni tebing, melihat ke atas dan ke bawah. Tak
kelihatan apa pun. "Nah, akhirnya kita kembali ke jalan ini!" kata Frodo. "Kurasa
kita hanya kehilangan dua hari dengan memotong jalan lewat Forest! Mungkin
saja keterlambatan itu terbukti berguna kelak-mungkin itu membuat mereka
kehilangan jejak kita."
Yang lainnya memandang Frodo. Bayangan ketakutan terhadap
Penunggang Hitam mendadak menyerbu kembali. Sejak memasuki Forest,
mereka hanya memikirkan bagaimana kembali ke Jalan Timur; baru sekarang,
ketika jalan itu sudah mereka tapaki, mereka ingat bahaya yang mengejar, dan
sangat mungkin menunggu mereka di Jalan itu sendiri. Dengan cemas mereka
menoleh ke arah matahari terbenam, tetapi Jalan itu cokelat dan kosong.
"Apakah menurutmu kita akan dikejar malam ini?" tanya Pippin ragu-ragu.
"Tidak, kuharap tidak," jawab Tom Bombadil, "besok pun mungkin tidak
Tapi jangan percaya pada dugaanku, karena aku tidak yakin. Di sebelah timur,
pengetahuanku tidak cukup. Tom bukan penguasa para Penunggang dari Negeri
Hitam yang jauh di luar negerinya."
Bagaimanapun, para hobbit sangat berharap Tom ikut bersama mereka.
Mereka merasa bila ada yang bisa menghadapi Penunggang Hitam, maka Tomlah
orangnya. Tak lama lagi mereka akan masuk ke negeri-negeri yang sama
sekali asing bagi mereka, yang hanya mereka ketahui dari legenda-legenda
paling samar dan jauh yang mereka dengar di Shire. Dalam senja yang mulai
turun, mereka merasa rindu kepada rumah. .Perasaan kesepian dan kehilangan
yang mendalam menyelimuti mereka. Mereka berdiri diam, enggan berpamitan
untuk terakhir kali. Setelah lama, baru mereka menyadari bahwa Tom sedang
mengucapkan selamat jalan, dan meminta agar mereka bersemangat dan terus
melaju sampai gelap, tanpa berhenti.
"Tom akan memberi kalian nasihat bijak, sampai hari ini berakhiri (setelah
itu, kalian mesti mengandalkan keberuntungan kalian sendiri) empat mil melewati
Jalan Timur ini, kalian akan sampai ke desa Bree di bawah Bree-hill, dengan
pintu-pintu menghadap ke barat. Di sana kalian akan menemukan penginapan
tua bernama Kuda Menari. Pemiliknva adalah Barliman Butterbur yang
terhormat. Di sana kalian bisa menginap, dan pagi harinya kalian bisa bergegas.
Beranilah, tapi hati-hati! Pertahankan kegembiraan, dan melajulah menyambut
keberuntungan kalian!"
Mereka memohon agar Tom mau ikut, setidaknya sejauh penginapan itu
dan minum sekali lagi dengan mereka; tapi ia tertawa dan menolak, sambil
berkata,
Negeri Tom berakhir di sini: ia takkan melewati perbatasan.
Tom punya rumah untuk diurus, don Goldberry menunggu!
Lalu ia berbalik, melemparkan topinya ke atas, melompat ke atas
punggung Lumpkin, dan melaju menaiki tebing, menghilang dalam keremangan
senja sambil bernyanyi.
Para hobbit naik ke atas puncak tebing, memperhatikan Tom sampai ia
hilang dari pandangan.
"Aku menyesal harus berpisah dengan Mr. Bombadil," kata Sam. "Dia
sangat bisa diandalkan. Kalaupun kita pergi lebih jauh, kurasa kita tidak bakal
menjumpai sesuatu yang lebih baik atau lebih aneh. Tapi kuakui, aku akan
senang menemukan penginapan Kuda Menari yang dibicarakannya itu. Kuharap
mirip Naga Hijau di rumah! Seperti apa orang-orang di Bree?"
"Ada juga hobbit di Bree," kata Merry, "dan juga Makhluk-Makhluk Besar.
Kupikir akan seperti di rumah juga. Bagaimanapun, penginapan itu bagus dalam
segala hal. Orang-orangku sesekali pergi ke sana."
"Mungkin penginapan itu sesuai dengan harapan kita," kata Frodo, "tapi
bagaimanapun dia ada di luar Shire. Jangan terlalu merasa kerasan di sana!
Ingatlah-kalian semua-bahwa nama Baggins TIDAK boleh disebut. Aku adalah
Mr. Underhill, kalau ada nama yang harus disebut."
Mereka menaiki kuda dan melaju diam-diam ke dalam senja. Kegelapan
segera turun, saat mereka berjalan perlahan menuruni bukit dan naik lagi,
sampai akhirnya mereka melihat lampu-lampu berkelip tak seberapa jauh di
depan.
Di depan mereka berdiri Bree-hill menghalangi jalan, suatu bongkahan
gelap di depan bintang-bintang samar-samar; dan di bawah sisi sebelah barat
bersandar sebuah desa besar. Mereka berjalan bergegas menuju desa itu,
dengan harapan akan menemukan api, dan pintu untuk membatasi mereka
dengan malam.
BAB 9
DI BAWAH PAPAN NAMA KUDA MENARI
Bree merupakan desa utama di Bree-land, suatu wilayah kecil berpenduduk,
seperti sebuah pulau di tengah tanah-tanah kosong di sekelilingnya. Selain Bree,
ada Staddle di sisi lain bukit, Combe di lembah dalam sedikit lebih ke timur, dan
Archet di pinggir hutan Chetwood. Di sekitar Bree-hill dan desa-desanya terletak
wilayah kecil yang terdiri atas padang rumput dan hutan jinak yang hanya
beberapa mil luasnya.
Orang-orang Bree berambut cokelat, berbadan lebar dan agak pendek,
periang dan sangat bebas: mereka bangsa merdeka, tapi mereka lebih akrab
dengan kaum hobbit, Kurcaci, Peri, dan penduduk lain di dunia sekitar mereka
daripada Makhluk-Makhluk Besar lain. Menurut dongeng mereka sendiri, mereka
penduduk asli dan keturunan Manusia pertama yang pernah mengembara ke
bagian Barat Dunia Tengah. Hanya sedikit yang bertahan dalam huru-hara di
Zaman Peri; tapi ketika para Raja kembali lagi melalui Laut Besar, mereka
menemukan orang-orang Bree masih di sana, dan sekarang pun mereka masih
di sana, ketika ingatan kepada Raja-Raja lama sudah memudar ke dalam
rumput.
Pada masa itu belum ada Manusia lain yang mendirikan hunian begitu
jauh ke barat, atau dalam jarak seratus mil dari Shire. Tapi di negeri liar di luar
Bree banyak pengembara misterius. Bangsa Bree menamai mereka para
Penjaga Hutan, dan tidak tahu-menahu tentang asal-usul mereka. Mereka lebih
tinggi dan lebih gelap daripada Orang-Orang Bree, dan diyakini memiliki
kekuatan-kekuatan pendengaran dan penglihatan yang aneh, serta bisa.
mengerti bahasa hewan dan burung. Mereka mengembara ke selatan
sesukanya, dan ke timur bahkan sampai sejauh Pegunungan Berkabut; tapi
sekarang jumlah mereka hanya sedikit dan jarang terlihat. Bila muncul, mereka
membawa berita dan jauh, dan menceritakan dongeng-dongeng aneh yang
terlupakan, yang sangat disukai orang-orang; tapi bangsa Bree tidak bersahabat
dengan mereka.
Banyak juga keluarga hobbit di Bree-land, dan mereka bersikeras bahwa
desa mereka adalah perkampungan hobbit tertua di dunia, yang sudah lama
didirikan jauh sebelum Brandywine diseberangi dan Shire dihuni. Mereka
kebanyakan tinggal di Staddle, meski ada beberapa yang tinggal di Bree,
terutama di lereng-lereng bukit yang lebih tinggi, di alas perumahan Manusia.
Bangsa Besar dan Bangsa Kecil (sebagaimana mereka saling menyebut)
berhubungan baik, mengurusi masalah mereka sendiri dengan cara mereka
sendiri, tapi keduanya menganggap diri mereka sebagai bagian yang perlu dari
bangsa Bree. Tidak ada tempat lain di dunia di mana aturan ganjil (tetapi bagus)
ini bisa ditemukan.
Bangsa Bree sendiri, Besar dan Kecil, tidak banyak bepergian; dan
urusan keempat desa itu menjadi perhatian utama mereka. Kadang-kadang para
hobbit dari Bree pergi sampai sejauh Buckland, atau Wilayah Timur, tapi, meski
negeri kecil mereka tidak lebih jauh daripada sehari perjalanan naik kuda ke arah
timur Jembatan Brandywine, para hobbit dari Shire sekarang jarang
mengunjunginya. Sesekali seorang Keluarga Buckland atau Took yang gemar
bertualang akan datang ke Kuda Menari untuk semalam dua malam, tapi itu pun
sudah semakin jarang. Hobbit dari Shire menyebut hobbit dari Bree, dan yang
lain yang tinggal di luar perbatasan, sebagai Orang Luar, dan sangat tidak
tertarik pada mereka, menganggap mereka membosankan dan tak tahu adat.
Mungkin lebih banyak lagi Orang Luar yang tersebar di bagian Barat Dunia di
masa itu, daripada yang dibayangkan orang-orang dari Shire. Beberapa bisa
dikatakan tidak lebih baik daripada gelandangan, siap menggali lubang di tebing
mana saja dan tinggal selama mereka mau. Tapi setidaknya hobbit di Bree-land
adalah golongan beradab dan kaya, dan tidak lebih kasar daripada kebanyakan
saudara °mereka di Dalam Shire. Mereka belum lupa bahwa pernah ada masa
ketika para hobbit Shire dan Bree saling bolak-balik mengunjungi. Dalam
keluarga Brandybuck setidaknya mengalir darah Bree.
Desa Bree mempunyai beberapa ratus rumah batu milik Makhluk-Makhluk
Besar, kebanyakan di atas Jalan Timur, bersandar pada lereng bukit dengan
jendela-jendela menghadap ke barat. Pada sisi itu, menjulur lebih dari setengah
lingkaran dari bukit dan melingkar kembali kepadanya, ada sebuah tanggul
dalam dengan pagar tebal di sebelah dalam. Jalan Timur melintas di atasnya
dengan jalan lintas atas; tapi di bagian yang menembus pagar, jalan itu tertutup
sebuah gerbang besar. Ada gerbang lain di sudut sebelah selatan, di tempat
Jalan Timur mengarah ke luar desa. Gerbang-gerbang itu ditutup pada malam
hari, tapi persis di dalamnya ada pondok-pondok kecil untuk para penjaga
gerbang.
Di pinggir Jalan Timur, di bagian yang membelok ke kanan untuk
mengitari bukit, ada sebuah penginapan besar. Penginapan itu dibangun lama
berselang, ketika lalu lintas di jalan-jalan jauh lebih ramai. Bree berdiri di suatu
pertemuan jalan-jalan lama; ada jalan kuno lain yang memotong Jalan Timur,
persis di luar tanggul di ujung barat desa, dan di masa lalu Manusia dan
berbagai bangsa lain banyak bepergian melewatinya. Ungkapan "Aneh seperti
kabar dari Bree" masih digunakan di Wilayah Timur, berasal dari masa-masa itu,
ketika kabar dari Utara, Selatan, dan Barat bisa didengar di penginapan tersebut,
dan ketika para hobbit Shire lebih sering pergi untuk mendengarnya. Tapi
Negeri-Negeri Utara sudah lama kosong, dan Jalan Utara jarang digunakan
sekarang; jalan itu dipenuhi rumput dan bangsa Bree menyebutnya Greenway,
Jalan Hijau.
Namun begitu, penginapan tersebut masih ada di sana, dan pemiliknya
adalah orang pouting. Rumahnya menjadi tempat pertemuan para penganggur,
mereka yang senang mengobrol, dan yang suka ingin tahu di antara penduduk
besar dan kecil dari keempat desa; penginapan itu juga menjadi tempat
menginap bagi Penjaga-Penjaga Hutan dan pengembara lain, serta para
pelancong (kebanyakan kurcaci) yang masih bepergian melewati Jalan Timur, ke
dan dari Pegunungan.
Sudah gelap, bintang-bintang putih bersinar ketika Frodo dan rombongannya
akhirnya tiba di persimpangan Greenway dan mendekati desa. Mereka sampai di
Gerbang Barat dan melihat gerbangnya sudah tertutup, tapi pada pintu pondok
sebelah dalam, seorang laki-laki tampak sedang duduk. Ia melompat mengambil
lentera, dan memandang mereka dengan tercengang dari atas gerbang.
"Mau apa dan dari mana kalian?" ia bertanya kasar.
"Kami mau ke penginapan di sini," jawab Frodo. "Kami sedang melancong
ke timur dan tidak bisa meneruskan perjalanan malam
"Hobbit! Empat hobbit! Dari Shire, kalau mendengar cara mereka
berbicara," kata penjaga gerbang itu pelan, seolah pada dirinya sendiri. Ia
menatap curiga ke arah mereka untuk beberapa saat, lalu dengan perlahan
membuka gerbang dan membiarkan mereka lewat.
"Kami tidak sering melihat bangsa Shire di Jalan Timur pada malam hari,"
lanjutnya, saat mereka berhenti sebentar di dekat pintunya. "Maaf kalau aku
bertanya-tanya urusan apa yang membawa kalian pergi ke timur Bree! Siapa
nama Anda sekalian, kalau aku boleh tanya?"
"Nama dan urusan kami adalah milik kami, dan tampaknya ini bukan
tempat yang tepat untuk membahasnya," kata Frodo, yang tidak menyukai
penampilan maupun nada suara laki-laki itu.
"Memang urusan Anda adalah urusan Anda sendiri," kata pria itu, "tapi
aku berhak mengajukan pertanyaan setelah malam tiba."
"Kami hobbit dari Buckland, kami ingin melancong dan tinggal di
penginapan di sini," tambah Merry. "Aku Mr. Brandybuck. Sudah cukup? Bangsa
Bree biasanya ramah pada para pelancong, atau setidaknya begitulah yang
kudengar."
"Baiklah, baiklah!" kata pria itu. "Aku tidak mau menyinggung perasaan.
Tapi akan kalian lihat nanti, lebih banyak orang daripada Harry di gerbang yang
akan menanyakan ini-itu pada kalian. Banyak orang aneh di sekitar sini. Kalau
kalian pergi ke penginapan itu, kalian akan lihat bahwa bukan kalian saja tamu di
sana."
Ia mengucapkan selamat malam, dan mereka tidak berbicara lagi; dalam
cahaya lentera, Frodo melihat pria itu masih memandang mereka dengan penuh
rasa ingin tahu. Frodo senang mendengar gerbang tertutup di belakang mereka,
ketika mereka melangkah maju. Ia bertanya dalam hati, mengapa pria itu begitu
curiga, dan apakah sudah ada orang yang menanyakan kabar tentang
rombongan hobbit. Gandalf barangkali? Mungkin ia sudah sampai, sementara
mereka tertahan di Forest dan di Downs. Tapi ada sesuatu dalam tatapan dan
suara penjaga gerbang itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Pria itu masih terus menatap para hobbit untuk beberapa saat, lalu
kembali ke rumahnya. Begitu ia membalikkan badan, sebuah sosok gelap
memanjat cepat melewati gerbang, dan berbaur dalam keremangan di jalan
desa.
Keempat hobbit itu mendaki suatu lereng landai, melewati beberapa rumah
lepas, dan berhenti di luar penginapan. Rumah-rumah kelihatan besar dan aneh
bagi mereka. Sam menatap bangunan penginapan yang terdiri alas tiga tingkat,
dengan banyak jendela, dan merasa semangatnya merosot. Ia sudah
membayangkan akan bertemu raksasa yang lebih besar daripada pohon, dan
makhluk-makhluk lain yang lebih mengerikan, dalam perjalanannya; tapi saat
pertama kali melihat Manusia dan rumah mereka yang tinggi sudah lebih dari
cukup baginya, bahkan terlalu berlebihan sebagai akhir yang gelap dari hari yang
melelahkan ini. Ia membayangkan kuda-kuda hitam berdiri siap dalam bayangan
di halaman penginapan, dan para Penunggang Hitam mengintip dari jendelajendela
gelap di atas.
"Kita toh tidak akan tinggal di sini malam ini, Sir?" serunya. "Kalau ada
bangsa hobbit yang tinggal di sini, mengapa kita tidak mencari mereka yang mau
membiarkan kita menginap di rumahnya? Itu akan lebih terasa seperti di rumah."
"Apa yang salah dengan penginapan ini?" kata Frodo. "Tom Bombadil
menyarankannya. Kupikir kita akan cukup merasa seperti rumah di dalamnya."
Bahkan dari luar penginapan itu kelihatan seperti rumah nyaman bagi
mata yang sudah terbiasa. Bagian depannya menghadap ke Jalan Timur, dan
dua sayapnya memanjang ke belakang, pada tanah yang sebagian dipotong dari
lereng-lereng bukit yang lebih rendah, sehingga di bagian belakangnya jendelajendela
lantai kedua berada satu level dengan permukaan tanah. Ada
lengkungan lebar yang menuntun ke pelataran di antara kedua sayap bangunan
itu, dan di sebelah kiri, di bawah lengkungan, ada ambang pintu besar dengan
beberapa anak tangga lebar. Pintunya terbuka dan cahaya mengalir keluar dari
sana. Di atas lengkungan ada lampu, dan di bawahnya tergantung sebuah
papan nama besar: seekor kuda putih gemuk berdiri pada kaki belakangnya. Di
atas pintu terpampang tulisan dengan cat putih: KUDA MENARI oleh BARLIMAN
BUTTERBUR. Banyak jendela di bawah memperlihatkan cahaya di balik tirai-tirai
tebal.
Saat mereka berdiri bimbang dalam kegelapan di luar, seseorang mulai
menyanyikan lagu gembira di dalam, dan banyak suara riang bergabung nyaring
dalam paduan suara. Sejenak mereka mendengarkan suara yang
membangkitkan 'semangat itu, lalu turun dari kuda-kuda. Lagu itu berakhir,
terdengar ledakan tawa dan tepukan tangan.
Mereka menuntun kuda-kuda ke bawah lengkungan, dan meninggalkan
hewan-hewan itu berdiri sementara mereka menaiki tangga. Frodo maju dan
hampir bertabrakan dengan seorang laki-laki gemuk pendek berkepala botak dan
berwajah merah. Ia memakai celemek putih, dan sibuk keluar satu pintu dan
masuk pintu yang lain, sambil membawa baki penuh mug.
"Bisakah kami...," Frodo memulai.
"Setengah menit!" teriak laki-laki itu sambil menoleh, lalu menghilang ke
dalam hiruk-pikuk suara dan kepulan asap. Sejenak kemudian ia sudah keluar
lagi, menyeka tangan pada celemeknya.
"Selamat sore, tuan kecil!" katanya sambil membungkuk. "Apa yang kalian
perlukan?"
"Tempat tidur untuk empat orang, dan kandang untuk lima kuda, kalau
bisa diatur. Apakah Anda Mr. Butterbur?"
"Betul! Barliman namaku. Barliman Butterbur siap melayani Anda! Kalian
dari Shire bukan?" katanya, lalu tiba-tiba ia menepukkan tangannya ke dahi,
seolah mencoba mengingat sesuatu. "Hobbit!" serunya. "Wah, mengingatkan
aku pada apa, ya? Bolehkah aku tahu nama kalian, Sir?"
"Mr. Took dan Mr. Brandybuck," kata Frodo, "dan ini Sam Gamgee.
Namaku Underhill."
"Aah!" kata Mr. Butterbur, menceklikkan jarinya. "Sudah hilang lagi! Tapi
nanti pasti ingat lagi, kalau aku punya waktu untuk berpikir. Aku terlalu sibuk; tapi
akan kulihat apa yang bisa kulakukan untuk kalian. Tidak sering kami menerima
kedatangan rombongan dari Shire akhir-akhir ini, dan aku akan menyesal kalau
tidak bisa menyambut kalian. Tapi sudah banyak tamu di penginapan malam ini,
padahal ini sudah cukup lama tidak terjadi. Tidak pernah hujan, tapi begitu turun,
deras sekali, begitulah kata orang Bree.
"Hei! Nob!" teriaknya. "Di mana kau, kaki lembek melempem? Nob!"
"Datang, Sir! Aku datang!" Seorang hobbit bertampang riang melompat
dari sebuah pintu, dan ketika melihat para pelancong itu, ia berhenti kaget dan
menatap mereka dengan penuh minat.
"Di mana Bob?" tanya pemilik penginapan. "Kau tidak tahu? Well, carilah
dia! Cepat! Aku tidak punya enam kaki dan enam mata! Katakan pada Bob, ada
lima kuda yang perlu dimasukkan ke kandang. Pokoknya dia harus menyediakan
tempat." Nob berlari keluar sambil nyengir dan mengedipkan mata.
"Nah, tadi aku mau bilang apa, ya?" kata Mr. Butterbur, sambil mengetuk
dahinya. "Berbagai hal datang silih berganti, begitulah. Aku sibuk sekali malam
ini, sampai kepalaku pusing. Ada rombongan yang datang lewat Greenway dari
Selatan tadi malam-itu saja sudah cukup aneh. Lalu ada rombongan kurcaci
yang akan pergi ke Barat, datang sore tadi. Dan sekarang ada kalian.
Seandainya kalian bukan hobbit, belum tentu aku bisa menyediakan tempat
untuk kalian. Tapi kami punya satu-dua kamar di sayap utara, yang dibuat
khusus untuk hobbit ketika tempat ini dibangun. Di lantai bawah, seperti
kesukaan mereka; berikut jendela-jendela bundar dan sebagainya. Kuharap
kalian merasa nyaman. Pasti kalian ingin makan malam. Akan segera
dihidangkan. Lewat sini!"
Ia membimbing mereka melewati selasar, dan membuka sebuah pintu. "Di
sini ada ruang duduk kecil yang nyaman!" katanya. "Kuharap cocok. Sekarang
aku permisi. Aku sibuk sekali. Tidak ada waktu untuk mengobrol. Aku harus lari
lagi. Berat kalau cuma punya dua kaki, tapi aku tidak kurus-kurus juga. Aku akan
menengok kalian lagi nanti. Kalau kalian butuh sesuatu, bunyikan bel, dan Nob
akan datang. Kalau dia tidak datang, bunyikan bel dan teriaklah!"
Akhirnya ia keluar, meninggalkan mereka dengan perasaan agak
terengah-engah. Mr. Butterbur tampaknya mampu berbicara tanpa henti,
betapapun sibuknya dia. Mereka berada dalam ruangan kecil dan nyaman. Ada
api kecil menyala terang di perapian, di depannya ada beberapa kursi rendah
dan nyaman. Ada meja bundar yang sudah diberi taplak putih, dan di atasnya
ada bel-tangan besar. Tapi sebelum mereka sempat membunyikan bel, Nob, si
hobbit pelayan, sudah masuk membawa lilin dan baki penuh piring.
"Apakah Anda ingin minum sesuatu, Tuan-Tuan?" tanyanya. "Dan
bolehkah aku menunjukkan kamar tidur Anda, sementara makan malam
disiapkan?"
Mereka sudah mandi dan sedang minum bir enak dalam mug besar ketika
Mr. Butterbur dan Nob masuk lagi. Dalam sekejap meja ditata. Ada sup panas,
daging dingin, kue tar blackberry, roti baru, lempengan mentega, dan separuh
keju matang: makanan sederhana yang enak, seenak yang ada di Shire, dan
cukup terasa seperti di rumah sendiri, hingga bisa menghilangkan perasaan
waswas Sam (yang sudah agak lega karena kelezatan bir yang diminumnya).
Pemilik penginapan berlama-lama sedikit, lalu bersiap meninggalkan
mereka. "Aku tidak tahu apakah kalian mau bergabung dengan rombongan lain,
kalau kalian sudah selesai makan malam," ia berkata sambil berdiri di pintu.
"Mungkin kalian, memilih tidur. Tapi para tamu lain akan senang menyambut
kalian, kalau kalian bersedia. Kami tidak sering menerima Orang Luar-pelancong
dari Shire, maksudku, maaf-dan kami ingin mendengar berita, atau cerita, atau
lag" yang kalian suka. Tapi terserah kalian! Bunyikan bel, kalau butuh sesuatu !"
Mereka merasa sangat segar dan bersemangat pada akhir makan malam
(selama tiga perempat jam makan terus tanpa terganggu obrolan yang tidak
perlu), sampai-sampai Frodo, Pippin, dan Sam memutuskan bergabung dengan
rombongan lainnya. Merry enggan ikut serta, terlalu ramai, katanya. "Aku mau
duduk sejenak dekat perapian, dan mungkin nanti keluar sebentar untuk
menghirup hawa segar. Ingat, bicara yang sopan, dan jangan lupa... kita sedang
melarikan diri secara rahasia, dan masih berada di jalan utama, belum jauh dari
Shire!"
"Baiklah!" kata Pippin. "Jaga dirimu sendiri! Jangan sampai tersesat, dan
jangan lupa bahwa di dalam lebih aman!"
Rombongan lainnya berada di ruang besar penginapan tersebut. Kumpulan
berbagai macam orang, seperti yang dilihat Frodo ketika matanya sudah terbiasa
dengan cahaya. Cahaya itu terutama datang dari kobaran nyala api unggun,
karena ketiga lampu yang tergantung di balok langit-langit hanya mengeluarkan
cahaya suram dan setengah terselubung asap. Barliman Butterbur sedang
berdiri dekat api, berbicara dengan beberapa kurcaci dan satu-dua orang yang
kelihatan aneh. Di bangku-bangku duduk berbagai macam orang: Orang-Orang
Bree, sekumpulan hobbit setempat (duduk mengobrol bersama), beberapa
kurcaci lagi, dan sosok-sosok lain yang samar-samar serta sulit dikenali dalam
keremangan, dan di sudut-sudut.
Begitu para hobbit masuk, Orang-Orang Bree serempak menyapa
mereka. Orang-orang asing, terutama yang datang melalui Greenway,
memandang mereka dengan rasa ingin tahu. Pemilik penginapan
memperkenalkan mereka pada orang-orang Bree, menyebutkan nama-nama
dengan begitu cepat, sampai-sampai mereka tidak tahu siapa si pemilik nama
itu. Orang-Orang Bree tampaknya mempunyai nama-nama mirip nama tanaman
(dan bagi orang Shire terasa aneh), seperti misalnya Rushlight, Goatleaf,
Heathertoes, Appledore, Thistlewool, dan Ferny (termasuk juga Butterbur).
Beberapa kaum hobbit mempunyai nama sama. Nama Mugwort, misalnya, tak
terhitung banyaknya. Tapi kebanyakan mereka mempunyai nama wajar, seperti
Banks, Brockhouse, Longhole, Sandheaver, dan Tunnelly, yang juga banyak
digunakan di Shire. Ada beberapa Underhill dari Staddle, dan berhubung merasa
mempunyai nama belakang yang sama, mereka menyambut Frodo seperti
sepupu yang sudah lama hilang.
Hobbit-hobbit Bree ternyata ramah dan penuh rasa ingin tahu, dan Frodo
segera menyadari bahwa mau tak mau ia mesti memberikan sedikit penjelasan
tentang dirinya. Ia mengaku tertarik pada sejarah dan ilmu bumi (para
pendengarnya geleng-geleng kepala, meski kedua kata itu jarang digunakan
dalam logat Bree). Ia mengatakan berniat menulis buku (yang membuat orangorang
terdiam heran), dan bahwa ia dan kawan-kawannya ingin mengumpulkan
keterangan tentang hobbit-hobbit yang tinggal di luar Shire, terutama di negerinegeri
timur.
Mendengar itu, orang-orang langsung berbicara serempak. Kalau Frodo
benar-benar ingin menulis buku, dan mempunyai banyak telinga, ia pasti bisa
mendapat bahan tulisan untuk sekian bab, dalam beberapa menit saja. Dan
seakan-akan itu belum cukup, ia diberi daftar nama lengkap, diawali dengan
"Barliman tua ini", pada siapa ia bisa me- minta keterangan lebih lanjut. Tapi,
setelah beberapa saat, karena Frodo tidak menunjukkan tanda-tanda akan
langsung menulis buku di situ, para hobbit kembali pada pertanyaan mereka
tentang peristiwa-peristiwa di Shire. Ternyata Frodo tidak begitu komunikatif, dan
tak lama kemudian ia cuma duduk sendirian di pojok, mendengarkan dan
melihat-lihat sekelilingnya.
Manusia-Manusia dan para Kurcaci kebanyakan membicarakan peristiwaperistiwa
di tempat jauh dan memberitakan jenis-jenis kabar yang sekarang
sudah sangat dikenal. Ada kesulitan di Selatan, dan tampaknya Manusia-
Manusia yang datang lewat Greenway hendak pindah tempat tinggal, mencari
wilayah yang bisa menawarkan hidup tenteram. Bangsa Bree menaruh simpati,
tapi jelas tidak siap untuk menerima sejumlah besar orang asing di negeri
mereka yang kecil Salah seorang pelancong, bermata juling dan tidak ramah,
meramalkan bahwa semakin banyak orang akan datang ke utara dalam waktu
dekat. "Kalau tidak disediakan tempat untuk mereka, mereka akan mencarinya
sendiri. Mereka punya hak untuk hidup, sama seperti orang lain," katanya
nyaring. Penduduk setempat kelihatan tak senang mendengar ramalan itu.
Para hobbit tidak begitu menghiraukan semua itu, dan saat ini segala
berita tersebut kelihatannya tidak begitu berhubungan dengan kaum hobbit.
Makhluk-Makhluk Besar tak mungkin memohon ikut tinggal dalam lubang hobbit.
Mereka lebih tertarik pada Pippin dan Sam, yang sekarang sudah mulai merasa
betah, dan bercakap-cakap riang tentang kejadian-kejadian di Shire. Pippin
menimbulkan tawa cukup ramai dengan menceritakan keruntuhan atap Town
Hole di Michel Delving: Will Whitfoot, sang Wali Kota, dan hobbit paling gemuk di
Wilayah Barat, terkubur dalam kapur, dan keluar dengan tampang seperti kue
bola berlapis tepung. Tapi ada beberapa pertanyaan yang membuat Frodo
merasa tidak nyaman. Salah satu orang Bree, yang tampaknya sudah beberapa
kali mengunjungi Shire, ingin tahu di mana keluarga Underhill tinggal, dan
dengan siapa mereka bertalian keluarga.
Tiba-tiba Frodo memperhatikan ada seorang pria berpenampilan asing,
dengan wajah keras dimakan cuaca, sedang duduk di tempat gelap dekat
dinding; orang itu juga mendengarkan omongan kaum hobbit dengan penuh
perhatian. Sebuah cangkir logam ada di depannya, dan ia mengisap sebatang
pipa bertangkai panjang dengan ukiran aneh. Kakinya dijulurkan ke depan,
menunjukkan sepatu bot dari kulit lentur yang pas sekali, tapi tampaknya sudah
sering dipakai dan sekarang dikotori lumpur kering. Mantel dari kain hijau tua,
yang sudah usang karena perjalanan, menutup rapat tubuhnya, dan meski
ruangan itu panas, ia memakai kerudung menutupi wajahnya; tapi kilatan
matanya terlihat ketika ia memperhatikan para hobbit.
"Siapa itu?" tanya Frodo, ketika mendapat kesempatan untuk berbisik
pada Mr. Butterbur. "Rasanya Anda belum memperkenalkan dia."
"Dia?" si pemilik penginapan menjawab dengan berbisik juga, melirik
tanpa menolehkan kepala. "Aku tidak begitu tahu. Dia salah satu dari bangsa
pengembara-para Penjaga Hutan, kami menyebut mereka. Dia jarang berbicara,
tapi dia bisa menceritakan. kisah langka kalau mau. Dia suka menghilang
selama sebulan, atau setahun, lalu muncul lagi. Musim semi lalu dia sering
keluar-masuk; tapi akhir-akhir ini aku belum melihatnya. Siapa namanya, aku
belum pernah dengar, tapi di sekitar sini dia dikenal sebagai Strider. Berjalan
kaki ke sana kemari cepat sekali, dan tak pernah cerita pada siapa pun, apa
alasannya dia terburu-buru. Tapi Timur dan Barat memang tak bisa diuraikan,
begitulah kata orang di Bree-maksudnya kaum Penjaga Hutan dan orang-orang
dari Shire, maaf. Lucu bahwa Anda menanyakan tentang dia." Tapi tepat pada
saat itu Mr. Butterbur dipanggil karena ada permintaan bir lebih banyak lagi, jadi
ia tak sempat menjelaskan komentarnya yang terakhir.
Frodo sekarang melihat Strider sedang memandangnya, seolah ia telah
mendengar atau menduga semua yang dibicarakan. Tak lama kemudian,
dengan lambaian tangan dan anggukan, Strider mengundang Frodo untuk
mendekat dan duduk bersamanya. Saat Frodo mendekat, Strider membuka
kerudungnya. Maka tersingkaplah kepala berambut panjang gelap bebercak
kelabu, dan sepasang mata kelabu tajam dalam wajah pucat dan kaku.
"Orang-orang memanggilku Strider," katanya dengan suara rendah. "Aku
sangat senang bertemu denganmu, Master... Underhill, kalau Butterbur tua
mendengar namamu dengan benar."
"Memang benar," kata Frodo kaku. Ia merasa jauh dari nyaman di bawah
tatapan mata tajam itu.
"Nah, Master Underhill," kata Strider, "kalau aku jadi kau, aku akan
menghentikan kawan-kawanmu yang muda berbicara terlalu banyak Minum,
perapian, dan pertemuan kebetulan sangat menyenangkan, tapi, well... di sini
bukan Shire. Banyak orang aneh berkeliaran. Meski kubilang jangan, kau boleh
memikirkannya," tambahnya dengan senyum sedih, melihat lirikan Frodo. "Dan
bahkan ada pelancong yang lebih aneh lagi melewati Bree akhir-akhir ini,"
lanjutnya sambil memperhatikan wajah Frodo.
Frodo membalas tatapannya, tapi tidak mengatakan apa pun. Strider tidak
memberi isyarat lagi. Perhatiannya tiba-tiba tertuju pada Pippin. Dengan
tercengang Frodo menyadari bahwa si Took muda yang konyol itu rupanya
semakin bersemangat karena keberhasilannya dengan kisah Wall Kota Michel
Delving yang gemuk, dan sekarang ia malah menyajikan uraian jenaka tentang
pesta perpisahan Bilbo. Ia sudah mulai meniru pidato Bilbo, dan hampir
mendekati bagian tentang lenyapnya Bilbo secara misterius.
Frodo jengkel. Kisah itu tidak begitu berbahaya bagi kebanyakan hobbit
setempat: hanya sebuah kisah jenaka tentang orang-orang lucu di seberang
Sungai; tapi beberapa orang (Butterbur tua misalnya) tahu satu-dua hal, dan
mungkin sudah lama mendengar desas-desus tentang hilangnya Bilbo. Itu akan
memunculkan nama Baggins dalam pikiran mereka, terutama kalau sudah ada
pertanyaan tentang nama itu di Bree.
Frodo gelisah, bertanya-tanya dalam hati, apa yang harus ia lakukan.
Pippin rupanya sangat menikmati perhatian yang diperolehnya, dan mulai lupa
bahaya yang mengancam mereka. Frodo takut Pippin akan menyebut-nyebut
Cincin itu; kalau itu terjadi, berbahaya sekali.
"Sebaiknya kau segera bertindak!" bisik Strider di telinganya.
Frodo melompat ke atas meja, dan mulai berbicara. Perhatian penonton
Pippin teralihkan. Beberapa hobbit memandang Frodo, lalu tertawa dan bertepuk
tangan, karena mengira Mr. Underhill sudah mabuk kebanyakan minum bir.
Frodo mendadak merasa bodoh sekali, dan menyadari dirinya (seperti
kebiasaannya kalau sedang berpidato) meraba-raba benda-benda di sakunya. Ia
meraba Cincin pada rantainya, dan tanpa bisa dijelaskan, muncul hasrat untuk
mengenakannya dan menghilang dari keadaan sulit itu. Hasrat itu seolah datang
dari luar dirinya, dari seseorang atau sesuatu di dalam ruangan itu. Dengan
tegas ia menahan godaan tersebut, dan memegang Cincin di tangannya, seolah
mencengkeramnya, mencegahnya lari atau berbuat nakal. Tapi hal itu tidak
memberinya ilham. Ia mengucapkan beberapa "kata-kata pantas", seperti biasa
dilakukan di Shire: kami semua sangat bersyukur dengan keramahan
penyambutan Anda sekalian, dan aku memberanikan diri berharap bahwa
kunjungan singkat ini akan membantu memperbaharui tali persahabatan lama
antara Shire dan Bree; lalu ia berhenti dan batuk-batuk.
Semua di ruangan itu sekarang memandangnya. "Nyanyi!" teriak salah
seorang hobbit. "Nyanyi! Nyanyi!" teriak semua yang lain, “Ayo, Master,
nyanyikan sesuatu untuk kami, yang belum pernah kami dengar!"
Untuk beberapa saat Frodo berdiri melongo. Lalu dengan nekat ia mulai
menyanyikan sebuah lagu konyol yang dulu disukai Bilbo (dan bahkan
dibanggakannya karena ia sendiri yang mengarang kata-katanya). Lagu itu
tentang sebuah penginapan, dan mungkin karena itulah ia terlintas dalam benak
Frodo saat itu. Berikut ini sajaknya yang lengkap. Sekarang hanya beberapa
kata yang diingat, biasanya.
Ada sebuah penginapan, penginapan tua ceria
di bawah bukit tua kelabu letaknya,
Bir buatan mereka begitu cokelat
Sampai Manusia Bulan sendiri turun melihat
Suatu malam untuk minum sepuasnya.
Pengasuh kuda punya kucing mabuk
yang sangat mahir main biola;
Gesek ke atas, gesek ke bawah,
Kadang melengking tinggi, kadang mendengkur rendah,
meliak-liuk dengan nada ceria.
Pemilik penginapan punya anjing kecil
yang suka sekali mendengar kelakar;
Kalau tetamu sedang bercanda, Dia ikut memasang telinga
dan tertawa sampai tergetar-getar
Sapi bertanduk pun mereka punya
angkuhnya bukan kepalang;
Mendengar musik membuatnya bergoyang,
Melambaikan ekornya dengan girang
Dia berdansa di rumput sampai siang.
Dan lihatlah barisan piring perak
deretan sendok perak serta garpu!
Untuk hari Minggu ada sepasang khusus, Yang digosok hati-hati
agar tampak mulus
pada siang-siang hari Sabtu.
Manusia Bulan minum banyak,
si kucing pun melolong tak terkira;
Piring-sendok di meja berdansa,
Sapi di kebun berjingkrak jingkrak gila,
dan anjing kecil mengejar ekornya.
Manusia Bulan mengambil mug lain
lalu berguling ke bawah kursi;
Dia tidur nyenyak dan bermimpi,
Sampai bintang-bintang tak bersinar lagi,
dan datanglah fajar pagi.
Kata pengasuh kuda pada kucing mabuk:
"Kuda-kuda putih dari Bulan,
Mereka meringkik mengentakkan kaki;
Tapi titan mereka sudah asyik bermimpi,
sementara malam terus berjalan!"
Maka kucing memainkan biola hei-tra la la,
irama cepat dan riuh setengah mati:
Mendecit nada cepat tak terperikan,
Sementara pemilik penginapan mengguncang Manusia Bulan:
katanya, "Sudah lewat jam tiga pagi!"
Manusia Bulan digulingkan ke bukit
dibungkus masuk ke dalam Bulan,
Sementara kuda-kudanya berderap di belakang,
Dan sapi melonjak-lonjak ikut datang,
piring-sendok pun muncul berlarian.
Biola berbunyi semakin cepat;
anjing mulai menggeram,
Sapi dan kuda-kuda berdiri di atas kepala;
Tamu-tamu melompat dari ranjang dengan gembira
dan berdansa riang berdentam-dentam.
Ping, pong, senar biola putus!
sapi meloncat melewati Bulan,
Si anjing kecil tertawa geli melihat kelucuan,
Piring hari Sabtu berlari lintang pukang
disusul sendok hari Minggu di belakang.
Bulan bulat berguling ke balik bukit,
memberi giliran kepada Matahari,
Dan Matahari hampir-hampir tak percaya;
Sebab meski sudah siang, betapa ajaibnya,
semua orang malah justru tidur lagi!
Tepuk tangan keras dan panjang terdengar. Suara Frodo lumayan bagus,
dan lagu itu menyenangkan mereka. "Di mana si tua Barley?" seru mereka. "Dia
harus dengar ini. Bob harus mengajari kucingnya main biola, lalu kita bisa
berdansa." Mereka meminta lebih banyak bir, lalu mulai berteriak, "Ayo, lagi,
Master! Ayolah! Sekali lagi!"
Mereka memaksa Frodo minum lagi, lalu mulai bernyanyi lagi, diikuti oleh
banyak di antara mereka, karena lagu itu cukup terkenal, dan mereka cepat hafal
kata-katanya. Sekarang giliran Frodo merasa puas dengan dirinya sendiri. Ia
menari-nari gembira di atas meja; dan ketika untuk kedua kalinya ia sampai pada
sapi meloncat melewati Bulan, ia melompat ke atas. Terlalu bersemangat,
hingga ia jatuh... beng... ke atas baki penuh mug, dan tergelincir, lalu
menggelinding dan meja dengan bunyi gedubrak, kelontang, dan bam! Penonton
membuka mulut lebar-lebar untuk tertawa, tapi lalu diam melongo; karena si
penyanyi sudah menghilang. Ia lenyap begitu saja, seolah tembus lewat lantai,
tanpa meninggalkan lubang!
Hobbit-hobbit setempat memandang tercengang, lalu melompat dan
berteriak memanggil Barliman. Seluruh kumpulan itu menjauhkan diri dari Pippin
dan Sam, yang ditinggal berduaan di pojok, dipandangi dengan curiga dan ragu
dari kejauhan. Sudah jelas sekarang, mereka dianggap pendamping seorang
tukang sihir pengembara, yang punya kekuatan tak terduga dan tujuan entah
apa. Tapi ada satu orang Bree kehitaman yang menatap mereka dengan
ekspresi tahu dan setengah mengejek, yang membuat mereka merasa sangat
tidak nyaman. Akhirnya ia menyelinap keluar dari pintu, diikuti si orang selatan
yang juling: kedua orang itu sudah berbisik berdua cukup lama sepanjang sore.
Harry, si penjaga gerbang, juga keluar menyusul mereka.
Frodo merasa bodoh sekali. Karena tidak tahu harus berbuat apa, ia
merangkak keluar dari bawah meja-meja, ke sudut gelap dekat Strider, yang
duduk tak bergerak dan tidak menunjukkan reaksi apa Pun. Frodo bersandar
pada dinding dan melepaskan Cincin-nya. Bagaimana Cincin itu bisa terpasang
pada jarinya, ia tidak tahu. Ia hanya bisa menduga bahwa ia meraba-raba benda
itu di sakunya sementara bernyanyi, dan jarinya masuk ke Cincin itu ketika ia
menjulurkan tangan untuk menghindari terjatuh. Sejenak ia bertanya dalam hati,
apakah bukan Cincin itu sendiri yang mempermainkannya; mungkin ia mencoba
menyingkap sesuatu, sebagai jawaban atas suatu keinginan atau perintah yang
terasa di ruangan itu. Frodo tidak suka pada orang-orang yang tadi pergi keluar.
"Well?" kata Strider ketika ia muncul kembali. "Kenapa kaulakukan itu?
Lebih buruk daripada celotehan kawan-kawanmu! Tindakanmu sama sekali tidak
bijaksana!"
"Aku tidak mengerti maksudmu,"' kata Frodo, jengkel dan takut.
"Ah, kau tahu," jawab Strider, "tapi sebaiknya kita menunggu sampai
kegemparan mereda. Lalu, Mr. Baggins, aku ingin bicara dengan tenang
denganmu."
"Tentang apa?" tanya Frodo, tidak mengacuhkan sapaan Strider atas
nama aslinya.
"Suatu masalah penting-bagi kita berdua," jawab Strider, sambil menatap
mata Frodo lekat-lekat. "Kau mungkin akan mendengar sesuatu yang
menguntungkan bagimu."
"Baiklah," kata Frodo, berusaha kelihatan acuh tak acuh. "Aku akan
berbicara denganmu nanti."
Sementara itu, sebuah perdebatan berlangsung dekat perapian. Mr. Butterbur
berlari masuk, dan sekarang berusaha mendengarkan beberapa uraian yang
saling berlawanan tentang kejadian tersebut pada saat bersamaan.
"Aku melihatnya, Mr. Butterbur," kata seorang hobbit, "maksudku... aku
tidak melihatnya lagi, kalau Anda paham maksudku. Dia lenyap begitu saja, bisa
dikatakan begitu."
"Ah, masa, Mr. Mugwort!" kata pemilik penginapan, kelihatan heran. "Ya,
benar!" jawab Mugwort. "Lagi pula, aku berkata benar." "Pasti ada yang salah,"
kata Butterbur sambil menggelengkan kepala. "Tak mungkin Mr. Underhill bisa
lenyap begitu saja; di tengah orang banyak begitu."
"Lalu di mana dia?" teriak beberapa suara.
"Mana aku tahu? Dia boleh pergi ke mana dia suka, asal dia bayar besok
pagi. Itu Mr. Took: dia tidak menghilang."
"Pokoknya aku melihat apa yang kulihat, dan aku melihat apa yang tidak
kulihat," kata Mugwort keras kepala.
"Dan aku bilang ada kesalahan," ulang Butterbur, sambil memungut baki
dan mengumpulkan benda-benda tembikar yang pecah.
"Tentu saja ada kesalahan!" kata Frodo. "Aku tidak menghilang. Ini aku!
Aku baru saja mengobrol sedikit dengan Strider di pojok."
Ia maju ke dalam cahaya api; tapi kebanyakan dari mereka mundur
menjauh, bahkan lebih gelisah daripada sebelumnya. Mereka sama sekali tidak
puas dengan penjelasannya bahwa tadi ia merangkak di bawah meja-meja
setelah terjatuh. Kebanyakan para hobbit dan Orang-Orang Bree langsung pergi
dengan marah saat itu juga, sama sekali tak ingin melanjutkan hiburan malam
itu. Satu-dua memandang Frodo dengan curiga, dan pergi sambil menggerutu di
antara mereka sendiri. para Kurcaci, dan dua atau tiga orang asing yang masih
tertinggal, bangkit berdiri dan mengucapkan selamat malam kepada pemilik
penginapan, tapi tidak kepada Frodo dan kawan-kawannya. Tak lama kemudian,
tinggal Strider yang terus duduk tak diperhatikan di dekat dinding.
Mr. Butterbur tidak tampak terpengaruh. Mungkin ia merasa
penginapannya akan penuh lagi pada malam-malam mendatang, setelah misteri
yang sekarang terjadi didiskusikan dengan saksama. "Nah, apa yang sudah
kaulakukan, Mr. Underhill?" tanyanya. "Menakut-nakuti pelangganku dan
memecahkan tembikarku dengan akrobatmu!"
"Aku sangat menyesal telah menimbulkan masalah," kata Frodo. "Ini tidak
disengaja, yakinlah. Ini kecelakaan yang sangat sial."
"Baiklah, Mr. Underhill! Tapi kalau hendak melakukan jungkir-balik, atau
sulap, atau apa pun, sebaiknya kau memberitahu dulu-dan memperingatkan aku.
Kami di sini agak curiga pada apa pun yang sedikit aneh-gaib, maksudku; dan
kami tidak bisa begitu saja menyukainya."
"Aku tidak akan melakukan hal semacam itu lagi, Mr. Butterbur, aku janji.
Dan sekarang aku akan pergi tidur. Kami akan berangkat besok, pagi-pagi.
Maukah kau mengatur agar kuda-kuda kami siap jam delapan?"
"Baik! Tapi, sebelum kau pergi, aku mau bicara secara pribadi denganmu,
Mr. Underhill. Aku baru teringat sesuatu yang harus kuceritakan padamu.
Kuharap kau tidak akan salah terima. Kalau aku sudah membereskan beberapa
hal, aku akan datang ke kamarmu, kalau kauizinkan."
"Tentu saja!" kata Frodo, tapi semangatnya merosot. Ia bertanya-tanya,
berapa banyak pembicaraan pribadi yang mesti dilayaninya sebelum ia bisa
tidur, dan apa yang akan terungkap. Apakah semua orang ini bersekongkol
melawannya? ia bahkan mulai curiga akan adanya rencana-rencana gelap
tersembunyi di balik wajah gemuk si Butterbur tua.
BAB 10
STRIDER
Frodo, Pippin, dan Sam kembali ke ruang duduk. Tidak ada cahaya di sana.
Merry tidak ada, dan api sudah mengecil. Baru setelah nyala api mereka embus
sampai berkobar tinggi, dan beberapa kayu bakar dilemparkan ke atasnya,
mereka sadar bahwa Strider mengikuti mereka. Itu dia duduk dengan tenang di
dekat pintu!
"Halo!" kata Pippin. "Siapa kau, dan apa maumu?"
"Aku dipanggil Strider," jawabnya, "mungkin temanmu lupa, tapi dia sudah
berjanji akan berbicara denganku."
"Katamu aku akan mendengar sesuatu yang mungkin menguntungkan
bagiku," kata Frodo. "Jadi, apa yang mau kaukatakan?"
"Beberapa hat," jawab Strider. "Tapi, tentu saja, aku punya harga."
"Apa maksudmu?" tanya Frodo tajam.
"Jangan kaget! Maksudku hanya begini: aku akan menceritakan
apa yang kuketahui, dan memberimu nasihat bagus-tapi aku
vmenginginkan imbalan."
"Dan apakah imbalan itu?" tanya Frodo. Ia menduga yang dihadapinya ini
seorang bajingan, dan dengan perasaan kurang enak ia ingat bahwa ia hanya
membawa sedikit uang. Jumlahnya tidak akan memuaskan seorang bajingan,
dan ia tak bisa menyisihkan uang itu sedikit pun. "Tidak lebih daripada
kemampuanmu," jawab Strider dengan senyuman lamban, seolah bisa menebak
pikiran Frodo. "Hanya ini: kau harus membawaku serta dengan rombonganmu,
sampai aku mau meninggalkan kalian."
"Oh, begitu!" jawab Frodo, tercengang tapi tidak begitu lega. "Kalaupun
aku butuh pendamping lain, aku tidak akan begitu saja menerimamu, sampai aku
tahu lebih banyak tentang dirimu dan kegiatanmu."
“Bagus!” seru Strider, menyilangkan kakinya dan duduk bersandar dengan
nyaman. "Kelihatannya kau sudah memakai akal sehat lagi, baguslah. Kau
terlalu ceroboh sejauh ini. Baiklah! Aku akan menceritakan apa yang kuketahui,
dan membiarkanmu memutuskan tentang imbalanku. Kau mungkin akan senang
memberikannya, kalau kau sudah mendengar ceritaku."
"Teruskan!" kata Frodo. "Apa yang kauketahui?"
"Terlalu banyak; terlalu banyak hal-hal gelap," kata Strider muram. "Tapi
mengenai urusanmu..." ia bangkit berdiri dan pergi ke pintu, membukanya cepat,
dan melihat ke luar. Lalu ia menutupnya perlahan dan duduk lagi. "Aku punya
telinga tajam," lanjutnya, merendahkan suaranya, "dan meski aku tak bisa
menghilang, aku sudah memburu banyak makhluk liar dan waspada, dan aku
bisa menghindari ketahuan, kalau aku mau. Nah, semalam aku berada di balik
pagar, di Jalan sebelah barat Bree, ketika empat hobbit keluar dari Downlands.
Tak perlu kuulangi semua yang mereka katakan pada Bombadil tua, atau di
antara mereka sendiri, tapi satu hat menarik perhatianku. Ingat, kata salah satu
dad mereka, nama Baggins tak boleh disebut-sebut. Aku Mr Underhill, kalau ada
nama yang harus disebut. Itu sangat menarik perhatianku, maka aku pun
mengikuti mereka ke sini. Aku menyelinap memanjat gerbang, persis di belakang
mereka. Mungkin Mr. Baggins mempunyai alasan jujur untuk menyembunyikan
namanya; kalau begitu, aku harus menasihati dia dan kawan-kawannya agar
lebih berhati-hati."
"Aku tidak mengerti, apa daya tarik namaku untuk orang-orang di Bree,"
kata Frodo marah, "dan aku masih belum tahu, mengapa ini menarik
perhatianmu. Mr. Strider mungkin punya alasan jujur untuk memata-matai dan
menguping; kalau memang begitu, aku minta dia menjelaskannya."
"Jawaban bagus!" kata Strider sambil tertawa. "Tapi penjelasannya
sederhana: aku sedang mencari hobbit bernama Frodo Baggins. Aku ingin
segera menemukannya. Aku sudah tahu dia pergi dari Shire sambil membawa,
well, sebuah rahasia yang berhubungan denganku dan teman-temanku.
"Nah, jangan salah tangkap!" seru Strider, saat Frodo bangkit dari
kursinya, dan Sam melompat sambil mengerutkan dahi. "Aku akan lebih berhatihati
dengan rahasia itu daripada kalian. Dan kehati-hatian memang diperlukan!"
ia mencondongkan badannya ke depan dan memandang mereka. "Waspadai
setiap bayangan!" katanya dengan suara rendah. "Para Penunggang Hitam
sudah melewati Bree. Hari Senin ada satu yang datang melalui Greenway, kata
orang; dan satu lagi muncul kemudian, datang melewati Greenway dari selatan."
Sepi sebentar. Akhirnya Frodo berbicara pada Pippin dan Sam,
"Seharusnya aku sudah menduga, dari cara penjaga gerbang menyalami kita,"
katanya. "Dan rupanya pemilik penginapan juga tahu sesuatu. Kenapa dia
mendesak kita untuk bergabung den-an rombongan lainnya? Dan mengapa kita
bersikap begitu bodoh? Seharusnya kita tetap di dalam sini dengan tenang."
"Itu akan lebih baik," kata Strider. "Sebenarnya aku mencoba mencegah
kalian masuk ke ruang utama, seandainya bisa; tapi pemilik penginapan tidak
mengizinkan aku menemuimu, atau mengantarkan pesan."
"Apakah menurutmu dia...," Frodo memulai.
"Tidak, aku tidak punya pandangan buruk tentang Butterbur tua. Hanya
saja dia tidak menyukai pengembara misterius seperti aku." Frodo
memandangnya dengan heran. "Well, penampilanku memang agak seperti
bajingan, bukan?" kata Strider sambil mengulum bibirnya, dan kilauan aneh
muncul di matanya. "Tapi kuharap kita bisa saling mengenal lebih baik. Setelah
itu, kuharap kau mau menjelaskan apa yang terjadi pada akhir nyanyianmu.
Olok-olok kecil itu..."
"Itu hanya kecelakaan!" sela Frodo.
"Aku ragu," kata Strider. "Kecelakaan, eh? Kecelakaan itu telah
membahayakan posisimu."
"Tidak lebih membahayakan daripada sebelumnya," kata Frodo. "Aku tahu
para Penunggang kuda itu mengejarku; tapi sekarang tampaknya mereka sudah
gagal dan sudah pergi."
"Jangan harap!" kata Strider tajam. "Mereka akan kembali. Dan lebih
banyak lagi yang bakal datang. Ada yang lain-lainnya. Aku tahu jumlahnya. Aku
kenal Penunggang-Penunggang ini." ia berhenti, matanya dingin dan keras. "Dan
ada beberapa orang di Bree yang tidak bisa dipercaya," lanjutnya. "Bill Ferny,
misalnya. Reputasinya jelek di Bree-land, dan orang-orang aneh suka
mengunjunginya. Pasti kau melihatnya di kumpulan orang-orang tadi; seorang
pria kehitaman yang tampak selalu mengejek. Dia dekat sekali dengan salah
satu pendatang asing dari Selatan, dan mereka menyelinap keluar persis setelah
'kecelakaanmu'. Tidak semua orang Selatan itu bermaksud baik; dan tentang
Ferny, dia akan menjual apa pun pada siapa pun; atau membuat keonaran
hanya demi kesenangan."
"Apa yang akan dijual Ferny, dan apa hubungan kecelakaanku
dengannya?" kata Frodo, masih bertekad untuk pura-pura tak mengerti
"Berita tentang kau, tentu," jawab Strider. "Uraian tentang pertunjukanmu
akan sangat menarik perhatian beberapa orang tertentu. Setelah itu, mereka tak
perlu diberitahu namamu yang sebenarnya. Menurutku, sebelum malam ini
berakhir mereka sudah mendengar tentang peristiwa tadi. Apakah itu sudah
cukup? Terserah kau tentang imbalanku; kau boleh mengajakku sebagai
pemandu jalan, atau tidak. Boleh kukatakan aku tahu semua negeri di antara
Shire dan Pegunungan Berkabut, karena aku sudah mengembara di sana
bertahun-tahun. Aku lebih tua daripada penampilanku. Siapa tahu aku akan
berguna. Kau harus meninggalkan jalan terbuka setelah malam ini, karena para
Penunggang itu akan mengawasinya siang-malam. Mungkin kau bisa melarikan
diri dari Bree dan akan dibiarkan melangkah maju sementara Matahari bersinar;
tapi kau tidak akan pergi jauh. Mereka akan menyergapmu di belantara, di suatu
tempat gelap di mana tidak ada pertolongan. Apakah kau ingin mereka
menemukanmu? Mereka sangat mengerikan!"
Para hobbit memandangnya, dan kaget melihat wajahnya menyeringai
bagai kesakitan, tangannya mencengkeram kedua lengan kursinya. Ruangan itu
sepi dan sangat hening, cahaya seolah semakin suram. Untuk beberapa saat
Strider duduk dengan tatapan kosong, seolah sedang mengembara jauh dalam
ingatannya, atau mendengarkan bunyi-bunyi Malam di kejauhan.
"Nah!" serunya setelah beberapa saat, menyapukan tangan ke dahinya.
"Barangkali aku tahu lebih banyak tentang pengejarmu daripada kalian. Kalian
takut pada mereka, tapi belum cukup takut. Besok kalian harus lari, kalau bisa.
Strider bisa membawa kalian melalui jalan-jalan yang jarang dilalui. Kau mau
mengajakku?"
Keheningan berat mencekam. Frodo tidak menjawab, benaknya bingung,
penuh keraguan dan ketakutan. Sam mengerutkan dahi dan menatap
majikannya, dan akhirnya mencetuskan,
"Dengan seizin Anda, Mr. Frodo, aku akan bilang tidak! Strider ini, dia
memperingatkan kita dan bilang supaya hati-hati; aku bilang ya untuk itu, dan
kita mulai dengan dia. Dia datang dari daerah Belantara, dan aku belum pernah
mendengar kebaikan apa pun tentang orang-orang macam dia. Dia memang
tahu sesuatu, itu jelas, dan dia tahu lebih banyak daripada yang kuanggap aman;
tapi itu bukan alasan untuk membiarkan dia memimpin kita keluar ke suatu
tempat gelap di mana tidak ada pertolongan, seperti katanya."
Pippin gelisah dan kelihatan tidak nyaman. Strider tidak menjawab Sam,
tapi memalingkan matanya yang tajam ke arah Frodo. Frodo menangkap
lirikannya dan membuang muka. "Tidak," katanya perlahan.
"Aku tidak setuju. Kupikir, kupikir kau bukan seperti penampilanmu
Kau mulai berbicara padaku seperti orang Bree, tapi suaramu berubah.
Tapi Sam kelihatannya benar tentang ini: Aku tidak mengerti, mengapa kau
menyuruh kami hati-hati, tapi juga meminta kami menerimamu atas dasar
kepercayaan belaka. Kenapa harus menyamar? Siapa kau? Apa yang
sebenarnya kauketahui tentang... urusanku, dan bagaimana kau tahu itu?"
"Pelajaran tentang kewaspadaan sudah kalian pelajari dengan baik," kata
Strider dengan senyuman muram. "Tapi kewaspadaan dan keraguan adalah dua
hal berbeda. Kalian tidak akan pernah sampai ke Rivendell sendirian, dan
mempercayaiku adalah kesempatan kalian satu-satunya. Kalian harus
memutuskan. Aku akan menjawab beberapa pertanyaan kalian, kalau itu
membantu untuk mengambil keputusan. Tapi mengapa harus mempercayai
ceritaku, kalau kalian toh tidak mempercayaiku? Bagaimanapun, beginilah
ceritanya..."
Saat itu terdengar ketukan di pintu. Mr. Butterbur datang membawa lilin-lilin, dan
di belakangnya ada Nob dengan kaleng-kaleng penuh air panas. Strider mundur
ke pojok gelap.
"Aku datang untuk mengucapkan selamat malam," kata pemilik
penginapan itu, sambil meletakkan lilin-lilin di meja. "Nob! Bawa airnya ke kamarkamar!"
ia masuk dan menutup pintu.
"Begini," Butterbur memulai, sambil ragu dan kelihatan khawatir. "Kalau
aku melakukan sesuatu yang merugikan, aku menyesal sekali. Tapi satu hal
mendorong yang lainnya, seperti kalian tahu; dan aku orang sibuk. Berbagai
urusan dalam minggu ini telah membuatku jadi pelupa, seperti kata pepatah; tapi
mudah-mudahan tidak terlambat. Begini, aku diminta menunggu hobbit-hobbit
dari Shire, dan terutama satu yang bernama Baggins."
"Lalu apa hubungannya dengan aku?" tanya Frodo.
"Ah! Kau pasti: tahu," kata pemilik penginapan dengan penuh arti. "Aku
tidak akan membuka rahasiamu, tapi aku diberitahu bahwa Baggins ini akan
memakai nama Underhill, dan aku diberikan uraian yang cocok betul denganmu,
kalau boleh kukatakan."
"Oh, ya? Kalau begitu, ayo katakan!" kata Frodo, menyela dengan kurang
bijak.
"Seorang pria gagah kecil dengan pipi merah, " kata Mr. Butterbur dengan
khidmat. Pippin tertawa kecil, tapi Sam kelihatan marah. "Itu tidak banyak
membantu; kebanyakan hobbit tampangnya seperti itu, Barley, dia berkata
padaku," lanjut Mr. Butterbur sambil melirik pippin. "Tapi yang ini lebih tinggi dari
kebanyakan, dan lebih bagus dari kebanyakan, dan dia mempunyai belahan
pada dagunya; laki-laki keren dengan mata tajam. Maaf, tapi dia yang
mengatakan itu, bukan aku."
"Dia yang mengatakannya? Dan siapa dia itu?" tanya Frodo bersemangat.
"Ah! Gandalf, kalau kau tahu maksudku. Kata orang, dia tukang sihir, tapi
bagaimanapun dia teman baikku. Sekarang aku tidak tahu apa yang akan
dikatakannya padaku, kalau aku bertemu lagi dengannya: entah dia akan
membuat seluruh bir di sini menjadi masam, atau mengubahku menjadi
sebatang kayu, aku tidak akan heran. Dia agak tergesa-gesa. Namun apa yang
sudah terjadi tak bisa dibatalkan."
"Well, apa yang sudah kaulakukan?" kata Frodo, mulai tak sabar dengan
penuturan Butterbur yang lamban dan bertele-tele.
"Sampai di mana aku?" tanya pemilik penginapan itu sambil menjentikkan
jarinya. "Oh, ya! Gandalf. Tiga bulan yang lalu, dia masuk langsung ke kamarku
tanpa mengetuk pintu. Barley, katanya, aku akan pergi besok pagi. Kau mau
melakukan sesuatu untukku? Katakan saja, kataku. Aku terburu-buru, katanya,
dan aku sendiri tidak punya waktu, tapi aku ingin pesanku dibawa ke Shire. Apa
kau punya orang untuk mengirimkannya, dan yang bisa dipercaya untuk pergi?
Aku bisa mencarikan seseorang, kataku, besok, mungkin, atau lusa. Besok saja,
katanya, lalu dia memberikan sepucuk surat padaku.
"Ada alamatnya yang jelas," kata Mr. Butterbur, mengeluarkan sepucuk
surat dari sakunya, lalu membacakan alamatnya dengan perlahan dan bangga
(ia sangat menghargai reputasinya sebagai orang terpelajar),
Mr FRODO BAGGINS, BAG END, HOBBITON di SHIRE.
"Surat untukku dari Gandalf!" seru Frodo.
"Ah!" kata Mr. Butterbur. "Kalau begitu, namamu yang sebenarnya
memang Baggins?"
"Memang," kata Frodo, "dan sebaiknya kau segera memberikan surat itu
padaku, dan menjelaskan kenapa kau tidak pernah mengirimkannya. Kurasa
itulah yang tadi hendak kauceritakan padaku, meski kau menghabiskan waktu
lama sekali untuk sampai pada masalah sebenarnya."
Mr. Butterbur tampak gelisah. "Kau benar, Master," katanya, "dan aku
minta maaf. Aku benar-benar takut akan apa yang dikatakan Gandalf, kalau
kelalaianku ternyata mencelakakan. Tapi aku tidak menyimpannya dengan
sengaja. Aku mengamankannya. Aku tak bisa menemukan orang yang mau
pergi ke Shire keesokannya, atau hari berikutnya, dan anak buahku sendiri tak
bisa kubiarkan pergi; lalu satu dan lain hal mengusir surat itu dari benakku. Aku
orang sibuk Aku akan berusaha melakukan apa pun untuk membetulkannya, dan
kalau aku bisa menolong, sebutkan saja.
"Terlepas dari surat itu, aku sudah berjanji pada Gandalf. Barley, katanya
padaku, sahabatku ini dari Shire, dia mungkin akan datang ke sini tak lama lagi,
dia dan yang lainnya. Dia akan menyebut dirinya Underhill. Ingat itu! Tapi kau
tidak perlu menanyakan apa-apa. Kalau aku tidak bersamanya, mungkin dia
bakal mendapat kesulitan, dan butuh pertolongan. Lakukan apa yang bisa
kaulakukan untuknya, dan aku akan bersyukur, katanya. Sekarang di sinilah kau,
dan kesulitan tampaknya tidak jauh darimu."
"Apa maksudmu?" tanya Frodo.
"Orang-orang hitam ini," kata si pemilik penginapan, merendahkan
suaranya. "Mereka mencari Baggins, dan kalau mereka bermaksud baik, maka
aku mungkin bukan manusia, tapi hobbit. Waktu itu hari Senin, semua anjing
melolong dan angsa-angsa meleter. Ajaib, kataku. Nob, dia datang
memberitahuku bahwa ada dua orang hitam di depan pintu, menanyakan
seorang hobbit bernama Baggins. Rambut Nob semuanya berdiri. Aku menyuruh
kedua orang hitam itu pergi, dan membanting pintu di depan mereka; tapi
mereka sudah menanyakan hal yang sama sepanjang jalan sampai ke Archet,
kudengar. Dan si Strider itu, dia juga bertanya-tanya. Berusaha masuk ke sini
menemuimu, sebelum kau makan."
"Memang!" kata Strider tiba-tiba, maju ke dalam cahaya. "Dan banyak
kesulitan bisa dihindari, seandainya kau membiarkannya masuk, Barliman."
Pemilik penginapan itu melompat kaget. "Kau!" teriaknya. "Kau selalu
muncul. Apa yang kauinginkan sekarang?"
"Dia di sini dengan seizinku," kata Frodo. "Dia datang untuk menawarkan
bantuannya."
"Well, mungkin kau tahu urusanmu sendiri," kata Mr. Butterbur, sambil
memandang Strider dengan curiga. "Tapi kalau aku jadi kau, aku tidak akan
menerima bantuan seorang Penjaga Hutan."
"Kalau begitu, siapa yang akan kauterima?" tanya Strider. "Seorang
pemilik penginapan gendut yang hanya ingat namanya sendiri karena orangorang
meneriakkannya sepanjang hari? Mereka tak bisa selamanya tinggal di
sini, dan mereka juga tak bisa pulang. Perjalanan mereka masih panjang. Apa
kau mau pergi bersama mereka, mengusir orang-orang hitam itu?”
"Aku? Meninggalkan Bree? Aku tak mau melakukan itu, biarpun dibayar,"
kata Mr. Butterbur, kelihatan takut sekali. "Tapi kenapa kau tidak bisa tetap di sini
dengan tenang_ untuk sementara, Mr. Underhill? Apa maksudnya semua
kejadian aneh ini? Apa yang dikejar orang-orang hitam ini, dan dari mana
mereka, aku ingin tahu."
"Maaf, aku tak bisa menjelaskan semuanya," jawab Frodo. "Aku lelah dan
sangat cemas, dan ceritanya panjang. Tapi kalau kau bermaksud membantu,
aku perlu memperingatkanmu bahwa kau dalam bahaya selama aku di
rumahmu. Para Penunggang Hitam ini: aku tidak yakin, tapi kukira, aku khawatir
mereka datang dari..."
"Mereka datang dari Mordor," kata Strider dengan suara rendah. "Dari
Mordor, Barliman, kalau kau tahu apa artinya itu."
"Astaga!" teriak Mr. Butterbur dengan wajah pucat; nama itu tampaknya ia
kenal. "Itu berita terburuk yang sampai ke Bree pada masa ini.”
"Memang," kata Frodo. "Kau masih mau membantuku?"
"Aku mau," kata Mr. Butterbur. "Lebih ingin dari semula. Meski aku tidak
tahu, apa yang bisa dilakukan orang seperti aku untuk melawan, melawan...," ia
berkata gugup.
"Melawan Bayangan di Timur," kata Strider tenang. "Tidak banyak,
Barliman, tapi sedikit bantuan pun akan membantu. Kau bisa membiarkan Mr.
Underhill tinggal di sini malam ini, sebagai Mr. Underhill, dan kau bisa melupakan
nama Baggins, sampai dia sudah jauh dari sini."
"Akan kulakukan," kata Butterbur. "Tapi tanpa bantuanku pun mereka
akan tahu bahwa dia ada di sini, itu yang kukhawatirkan. Sayang sekali Mr.
Baggins menarik perhatian orang-orang pada dirinya sendiri tadi sore. Kisah Mr.
Bilbo pergi sudah pernah didengar di Bree. Bahkan Nob yang lamban itu pun
sudah bisa menduga-duga; dan ada orang-orang lain di Bree yang lebih cepat
mengerti daripada dia."
"Yah, kita hanya bisa berharap para Penunggang Hitam belum kembali,"
kata Frodo.
"Kuharap tidak," kata Butterbur. "Tapi hantu atau bukan hantu, mereka
tidak akan mudah masuk ke penginapan ini. Jangan khawatir sampai pagi. Nob
tidak akan mengatakan apa pun. Tidak akan ada orang hitam masuk pintuku,
sementara aku masih berdiri. Aku dan anak buahku akan berjaga malam ini; tapi
sebaiknya kalian tidur sebisa mungkin."
"Bagaimanapun, kami harus dibangunkan saat fajar," kata Frodo. "Kami
harus berangkat sepagi mungkin. Sarapan jam enam tiga puluh, kalau bisa."
"Baik! Aku akan mengurusnya," kata si pemilik penginapan. "Selamat
malam, Mr. Baggins—Underhill, mestinya! Selamat malam—nah! Ke mana Mr.
Brandybuck?"
"Aku tidak tahu," kata Frodo, tiba-tiba cemas sekali. Mereka lupa tentang
Merry, dan malam sudah larut. "Aku khawatir dia sedang ke luar. Dia bilang ingin
keluar untuk menghirup hawa segar."
"Well, kalian memang perlu dijaga dan jangan salah: anggap saja
rombongan kalian ini sedang berlibur!" kata Butterbur. "Aku harus pergi dan
secepatnya menutup pintu-pintu, tapi aku akan memastikan temanmu dibiarkan
masuk bila dia datang. Sebaiknya kusuruh Nob mencarinya, Selamat malam
semuanya!" Akhirnya Mr. Butterbur pergi, dengan lirikan ragu ke arah Strider dan
gelengan kepala. Bunyi langkah kakinya . menghilang melewati selasar.
"Nah," kata Strider. "Kapan kau akan membuka surat itu?" Frodo mengamati
segelnya dengan cermat, sebelum membukanya. Tampaknyal memang dari
Gandalf. Di dalamnya ada pesan berikut, tertulis dalam tulisan tangan tukang
sihir yang tegas tapi luwes:
KUDA MENARI, BREE. Hari Pertengahan Tahun, Tahun Shire, 1418.
Frodo yang baik,
Berita buruk sampai kepadaku. Aku harus segera pergi. Sebaiknya kau
segera meninggalkan Bag End dan keluar dari Shire, paling lambat sebelum
akhir Juli. Aku akan kembali sesegera mungkin, dan aku akan menyusulmu
kalau ternyata kau sudah pergi. Tinggalkan pesan untukku di sini, kalau kau
melewati Bree. Kau bisa mempercayai pemilik penginapan ini (Butterbur). Kau
mungkin akan bertemu seorang sahabatku di Jalan Timur: seorang Manusia,
kurus, gelap, jangkung, oleh beberapa orang dipanggil Strider Dia tahu urusan
kita dan akan membantumu. Pergilah ke Rivendell. Di sana kuharap kita akan
bertemu lagi. Kalau aku tidak datang, Elrond akan memberitahumu.
Sahabatmu yang terburu-buru,
GANDALF.
PS. JANGAN gunakan ITU lagi, walau dengan alasan apa pun! Jangan
berjalan di malam hari!
PPS. Pastikan dia benar-benar Strider yang asli. Banyak orang asing di
jalan. Nama aslinya Aragorn.
Emas belum tentu gemerlap,
Tak semua pengembara tersesat;
Yang tua tapi kokoh akan bertahan tetap,
Akar yang tertanam dalam akan bertahan kuat.
Dari abu akan menyala api,
Dari bayangan akan muncul cahaya;
Mata pisau yang patah akan diperbaharui,
Yang tidak bermahkota 'kan kembali menjadi raja.
PPPS. Kuharap Butterbur segera mengirimkan ini. Dia orang baik, tapi
ingatannya seperti gudang sesak: barang yang dibutuhkan selalu
terkubur. Kalau dia lupa, akan kupanggang dia.
Selamat jalan!
Frodo membaca surat itu, lalu menyerahkannya pada Pippin dan Sam.
"Butterbur tua benar-benar mengacaukan keadaan!" katanya. "Dia pantas
dipanggang. Kalau aku segera menerima surat ini, kita semua mungkin sudah
aman di Rivendell sekarang. Tapi apa yang terjadi pada Gandalf? Dia menulis
seolah dia dalam bahaya besar."
"Dia sudah melakukan itu bertahun-tahun," kata Strider.
Frodo menoleh dan memandang Strider sambil merenung, bertanya-tanya
tentang catatan tambahan kedua dalam surat Gandalf. "Kenapa kau tidak segera
mengatakan kau sahabat Gandalf?" tanyanya. "Itu akan menghemat waktu."
"O ya? Apakah di antara kalian ada yang percaya padaku sebelumnya?"
kata Strider. "Aku tidak tahu apa pun tentang surat ini. Aku hanya tahu aku perlu
membujukmu untuk mempercayaiku, tanpa bukti-bukti, kalau aku harus
menolongmu. Bagaimanapun, aku memang tidak berniat langsung menceritakan
semua tentang diriku. Aku harus mempelajarimu dulu, dan harus merasa yakin
tentang kalian. Musuh sudah pernah memasang perangkap untukku. Kalau
sudah yakin, aku siap menceritakan apa saja yang kautanyakan. Tapi perlu
kuakui," tambahnya dengan tawa ganjil, "bahwa aku berharap kau akan
menerimaku apa adanya. Orang yang dikejar-kejar kadang-kadang jemu dengan
kecurigaan dan mendambakan persahabatan. Tapi... yah, penampilanku
memang merugikan aku."
"Memang—setidaknya pada pandangan pertama," tawa Pippin yang
sekarang merasa lega, setelah membaca surat Gandalf. "Penampilan memang
bisa menipu, seperti kata orang-orang di Shire; dan aku yakin kami juga akan
kelihatan sepertimu kalau berhari-hari berbaring di selokan dan parit."
"Makan waktu lebih dari beberapa hari, atau minggu, atau tahun,
mengembara di wilayah Belantara untuk membuatmu tampak seperti Strider,"
jawabnya. "Dan kau akan mati duluan, kecuali kau lebih kuat daripada
kelihatannya:"
Pippin mengalah; tapi Sam masih penasaran, dan masih memandang
Strider dengan curiga. "Bagaimana kami tahu kau adalah Strider yang
dibicarakan Gandalf?" tuntutnya. "Kau sama sekali tidak menyebut-nyebut
Gandalf, sampai suratnya muncul. Kau bisa saja mata-mata yang menyamar,
mencoba agar kami mau ikut denganmu. Sekarang, apa katamu?"
"Kataku, kau orang yang berani," jawab Strider, "tapi satu-satunya
jawaban yang bisa kuberikan padamu, Sam Gamgee, hanya ini. Kalau aku
sudah membunuh Strider yang asli, aku juga bisa membunuhmu. Dan aku pasti
sudah akan membunuhmu tanpa banyak bicara. Kalau aku mengejar Cincin itu,
aku bisa mendapatkannya—SEKARANG!"
Ia berdiri, dan mendadak sosoknya seolah semakin tinggi. Matanya
menyorotkan cahaya tajam berwibawa. Ia menyingkap mantelnya ke belakang,
dan meletakkan tangannya pada pangkal pedang yang tersembunyi
menggantung di sisinya. Mereka tidak berani bergerak. Sam duduk melongo
sambil memandangnya dengan dungu.
"Tapi aku memang Strider yang asli, untunglah," katanya sambil
memandang mereka, wajahnya melembut oleh senyuman tiba-tiba. "Aku
Aragorn, putra Arathorn; dan kalau dengan hidup atau mati aku bisa
menyelamatkan kalian, aku akan melakukannya."
Hening... lama sekali. Akhirnya Frodo berbicara dengan ragu-ragu. "Aku sudah
percaya kau seorang sahabat, bahkan sebelum surat itu datang," katanya, "atau
setidaknya begitulah harapanku. Kau menakuti aku beberapa kali malam ini, tapi
tak pernah seperti yang bakal dilakukan para anak buah Musuh, atau begitulah
dalam bayanganku. Kukira mata-mata Musuh akan... yah, kelihatan lebih bagus
dari luar, tapi terasa lebih busuk di dalamnya, kalau kau paham maksudku."
"Aku paham," tawa Strider. "Aku tampak buruk dari luar, tapi terasa bagus
di dalamnya. Begitukah? Emas belum tentu gemerlap, tak semua pengembara
tersesat."
“Jadi, sajak itu menggambarkan dirimu rupanya?” tanya Frodo
"Aku tadi tidak mengerti maksudnya. Tapi bagaimana kau tahu sajak itu
ada di dalam surat Gandalf, kalau kau belum pernah melihatnya?"
"Aku tidak tahu," jawabnya. "Tetapi aku Aragorn, dan sajak itu
mendampingi namaku." Ia menarik pedangnya, dan mereka melihat memang
pedang itu pecah satu kaki di bawah pangkalnya. "Tidak banyak berguna, bukan,
Sam?" kata Strider. "Tapi sebentar lagi pedang ini akan ditempa kembali."
Sam membisu.
"Nah," kata Strider, "dengan seizin Sam, kita anggap urusan ini selesai.
Strider akan menjadi pemandu kalian. Kita akan menghadapi perjalanan berat
besok. Meski kita berhasil meninggalkan Bree tanpa halangan, sekarang kita tak
bisa berharap pergi tanpa diketahui. Tapi aku akan berusaha sesegera mungkin
menghilangkan jejak. Aku tahu satu-dua jalan keluar dari Bree-land, selain jalan
utama. Begitu kita bisa melepaskan diri dari pengejaran, aku akan pergi ke
Weathertop."
"Weathertop?" kata Sam. "Apa itu?"
"Sebuah bukit di sebelah utara Jalan Timur, sekitar separuh perjalanan
dari sini ke Rivendell. Dan sana pemandangannya luas ke sekitar; di sana kita
bisa melihat sekeliling kita. Gandalf akan pergi ke tempat itu kalau dia menyusul
kita. Setelah Weathertop, perjalanan akan semakin sulit, dan kita harus memilih
antara beberapa macam bahaya."
"Kapan terakhir kau bertemu Gandalf?" tanya Frodo. "Apa kau tahu di
mana dia, atau apa yang dilakukannya?"
Strider tampak muram. "Aku tidak tahu," katanya. "Aku pergi ke barat
dengannya musim semi lalu. Aku sering menjaga perbatasan Shire beberapa
tahun belakangan ini, saat Gandalf sibuk di tempat lain. Dia jarang
membiarkannya tidak terjaga. Kami terakhir bertemu pada hari pertama bulan
Mei: di Sam Ford, dekat Brandywine. Dia menceritakan padaku bahwa
urusannya denganmu berjalan baik, dan bahwa kau akan berangkat ke Rivendell
pada minggu terakhir September. Karena aku tahu dia mendampingimu, aku
pergi untuk urusanku sendiri. Dan ternyata itu berakibat buruk; Gandalf rupanya
mendapat suatu berita, dan aku tidak ada di sana untuk membantunya.
"Aku merasa cemas, untuk pertama kali sejak aku kenal dengannya.
Seharusnya kita sudah menerima kabar, meski dia sendiri tak bisa datang.
Ketika aku kembali, beberapa hari yang lalu, aku mendengar kabar buruk itu.
Sudah tersiar luas bahwa Gandalf hilang, dan para Penunggang kuda sudah
berkeliaran. Bangsa Peri dari Gildor yang menceritakan ini padaku; kemudian
mereka menceritakan bahwa kau sudah meninggalkan rumahmu; tapi tak ada
berita tentang kepergianmu dari Buckland. Aku sudah mengawasi Jalan Timur
dengan cemas."
"Menurutmu, apakah para Penunggang Hitam itu ada hubungannya
dengan ini—dengan hilangnya Gandalf, maksudku?" tanya Frodo.
"Menurutku tidak ada hal lain yang bisa menghambat dia, kecuali Musuh
sendiri," kata Strider. "Tapi jangan putus harapan! Gandalf lebih hebat daripada
yang kalian kira-biasanya kalian hanya melihat kelakar dan permainannya. Tapi
urusan kita ini akan menjadi tugasnya yang paling besar."
Pippin menguap. "Maaf," katanya, "tapi aku lelah sekali. Meski banyak
bahaya dan kekhawatiran, aku harus tidur, kalau tidak aku akan tertidur sambil
duduk di sini. Ke mana kawan sinting kita, Merry? Benar-benar keterlaluan kalau
kita masih harus keluar dalam gelap untuk mencarinya."
Saat itu mereka mendengar bunyi pintu dibanting, lalu langkah kaki berlari
melewati selasar. Merry masuk secepat kilat, diikuti Nob. Ia menutup pintu
tergesa-gesa, dan bersandar di sana. Napasnya terengah-engah. Sejenak
mereka memandangnya dengan kaget, lalu ia berkata terengah-engah, "Aku
melihat mereka, Frodo! Aku melihat mereka! Para Penunggang Hitam!"
"Para Penunggang Hitam!" seru Frodo. "Di mana?"
"Di sini. Di desa. Aku tidak ke mana-mana selama satu jam. Lalu, karena
kalian tidak kembali, aku keluar untuk berjalan-jalan. Sepulangnya berjalan-jalan,
aku berdiri di luar cahaya lampu, sambil memandang bintang-bintang. Mendadak
aku menggigil, dan merasa sesuatu yang menyeramkan merangkak
mendekatiku: ada semacam bayangan yang lebih gelap di antara bayangbayang
di seberang jalan persis di luar batas cahaya lampu. Penunggang itu
segera menyelinap kembali ke dalam gelap, tanpa suara. Tidak ada kuda."
"Ke mana dia pergi?" tanya-Strider dengan tiba-tiba dan tajam.
Merry kaget, baru menyadari kehadiran orang asing itu. "Lanjutkan!" kata
Frodo. "Ini teman Gandalf. Aku akan menjelaskan nanti."
"Tampaknya dia pergi ke Jalan Timur, ke arah timur," lanjut Merry. "Aku
berusaha mengikutinya. Tapi dia langsung lenyap; aku membelok di tikungan,
dan berjalan sampai sejauh rumah terakhir di Jalan Timur."
Strider menatap Merry keheranan. "Kau sangat berani," katanya, "tapi itu
bodoh sekali."
"Aku tidak tahu," kata Merry. "Bukan berani maupun bodoh, kukira. Aku
tak bisa menahan diri. Aku seolah ditarik. Pokoknya, aku pergi, dan tiba-tiba aku
mendengar suara-suara dekat pagar. Satu menggerutu, satunya lagi berbisik
atau mendesis. Aku tak bisa mendengar satu kata pun yang diucapkan. Aku
tidak merangkak lebih dekat, karena seluruh tubuhku mulai gemetaran. Lalu aku
merasa ngeri, dan berbalik, dan baru saja akan lari pulang, ketika sesuatu
datang dari belakang dan aku... aku terjatuh."
"Aku menemukannya, Sir," tambah Nob. "Mr. Butterbur menyuruhku pergi
sambil membawa lentera. Aku pergi ke Gerbang, Barat, lalu kembali ke arah
Gerbang Selatan. Persis dekat rumah Bill Ferny, rasanya aku melihat sesuatu di
Jalan Timur. Aku tak bisa memastikannya, tapi kelihatannya ada dua laki-laki
sedang membungkuk di atas sesuatu, dan mengangkatnya. Aku berteriak, tapi
ketika aku sampai di tempat itu, mereka sudah tak terlihat, dan hanya ada Mr.
Brandybuck tengkurap di pinggir jalan. Dia seperti sedang tidur. 'Aku mengira
aku jatuh ke dalam air dalam,' katanya padaku, ketika aku menggoyanggoyangkannya.
Sikapnya aneh sekali, dan begitu aku membangunkannya, dia
bangkit dan lari kembali ke sini seperti kelinci."
"Itu benar," kata Merry, "meski aku tidak tahu apa yang kukatakan tadi.
Aku bermimpi jelek sekali, dan tak bisa kuingat lagi. Aku hancur berantakan. Aku
tidak tahu apa yang terjadi denganku."
"Aku tahu," kata Strider. "Napas Hitam. Para Penunggang itu pasti
meninggalkan kuda mereka di luar, dan masuk diam-diam melalui Gerbang
Selatan. Mereka semua sekarang sudah tahu beritanya, karena mereka
mengunjungi Bill Ferny; dan mungkin pendatang dari Selatan itu juga mata-mata.
Mungkin akan terjadi sesuatu malam ini, sebelum kita meninggalkan Bree."
"Apa yang akan terjadi?" kata Merry. "Apa mereka akan menyerang
penginapan ini?"
"Tidak, kurasa tidak," kata Strider. "Mereka belum semuanya terkumpul di
sini. Dan bagaimanapun, itu bukan cara mereka. Dalam kegelapan dan
kesepian, mereka paling kuat; mereka tidak akan secara terbuka menyerang
rumah di mana ada lampu dan banyak orang—kecuali mereka sudah nekat, dan
mereka juga tidak akan menyerang selama jarak bermil-mil ke Eriador masih
terbentang di depan kita. Tapi mereka bisa menebar teror, dan beberapa orang
di Bree sudah berada dalam cengkeraman mereka. Mereka akan mendorong
orang-orang malang itu untuk melakukan kejahatan: Ferny, dan beberapa orang
asing, dan mungkin penjaga gerbang juga. Mereka berbicara dengan Harry di
Gerbang Barat kemarin. Aku memperhatikan mereka. Harry pucat pasi dan
gemetaran setelah mereka pergi."
"Rupanya banyak musuh di sekitar kita," kata Frodo. "Apa yang harus kita
lakukan?"
"Tetaplah di sini, dan jangan masuk ke kamar-kamar kalian' Mereka pasti
sudah tahu yang mana kamar kalian. Kamar-kamar hobbit mempunyai jendela
menghadap ke utara, dan dekat ke tanah. Kita semua akan berkumpul bersama,
memalangi pintu dan jendela. Tapi Nob dan aku akan mengambil barang-barang
kalian dulu."
Sementara Strider pergi, Frodo menceritakan dengan cepat pada Merry
semua yang sudah terjadi setelah makan malam. Merry masih membaca dan
merenungi surat Gandalf ketika Strider dan Nob kembali.
"Nah, Tuan-Tuan," kata Nob, "aku sudah memberantakkan seprai-seprai
dan memasang guling di tengah setiap tempat tidur. Dan aku membuat tiruan
bagus kepala Anda dengan keset wol cokelat, Mr. Bag... Underhill, Sir,"
tambahnya sambil nyengir.
Pippin tertawa. "Bagus sekali!" katanya. "Tapi apa yang akan terjadi kalau
mereka sudah membuka kedok penyamaran itu?"
"Kita lihat saja nanti," kata Strider. "Moga-moga saja kita bisa
mempertahankan kubu ini sampai besok pagi."
"Selamat malam semuanya," kata Nob, lalu pergi untuk turut berjaga
mengawasi pintu-pintu.
Mereka menumpuk ransel-ransel dan perlengkapan di lantai ruang duduk.
Sebuah kursi diletakkan di belakang pintu, dan jendela ditutup. Ketika Pippin
mengintip keluar, ia melihat malam masih sangat terang. Rasi bintang Beruang
Besar masih mengayun cerah di atas pundak bukit Bree. Lalu Pippin menutup
dan memalang kerai-kerai jendela sebelah dalam yang berat, dan menutup tiraitirainya.
Strider membesarkan api dan meniup mati semua lilin.
Para hobbit berbaring di selimut mereka, dengan kaki menghadap
perapian, tapi Strider duduk di kursi di belakang pintu. Mereka berbicara
sebentar, karena Merry masih punya beberapa pertanyaan.
"Sapi loncat lewat Bulan!" Merry terkikik sambil menggulung diri ke dalam
selimut. "Konyol sekali kau, Frodo! Sayang aku tadi tidak ada di sana. Orangorang
Bree pasti akan membahas kekonyolanmu sampai seratus tahun dari
sekarang."
"Kuharap begitu," kata Strider. Lalu mereka semua terdiam, dan satu demi
satu para hobbit tertidur.
BAB 11
PISAU DALAM GELAP
Saat mereka bersiap-siap tidur di penginapan di Bree, kegelapan menggantung
di atas Buckland; kabut mengalir di lembah dan sepanjang tepi sungai. Rumah di
Crickhollow sepi sekali. Fatty Bolger membuka pintu dengan hati-hati dan
mengintip ke luar. Suatu perasaan takut muncul dalam dirinya dan tumbuh terus
sepanjang hari, hingga ia tak bisa beristirahat atau tidur: ada ancaman yang
menggantung dalam udara malam tak berangin itu. Ketika ia memandang ke
luar, ke dalam kegelapan, sebuah bayangan hitam bergerak di bawah
pepohonan; gerbang terbuka sendiri dan tertutup lagi tanpa suara. Rasa ngeri
mencekam Fatty. Ia mundur, dan sejenak berdiri gemetaran di lorong. Lalu ia
menutup pintu dan menguncinya.
Malam semakin larut. Terdengar pelan bunyi kuda digiring diam-diam
sepanjang jalan. Di luar gerbang mereka berhenti, dan tiga sosok masuk, seperti
bayangan malam merangkak di tanah. Satu pergi ke pintu, dua lainnya
menyebar ke masing-masing sudut rumah; di sana mereka berdiri diam seperti
bayangan batu, sementara malam semakin larut. Rumah dan pepohonan
seakan-akan menunggu tanpa bernapas.
Ada gerakan samar-samar di antara dedaunan, dan seekor ayam jantan
berkokok di kejauhan. Jam-jam dingin sebelum fajar sedang berlalu. Sosok dekat
pintu bergerak. Dalam kegelapan tanpa bulan atau bintang, sebuah pedang
terhunus berkilauan, seolah sebuah cahaya dingin telah dihunus. Ada gedoran
lembut tapi berat, dan pintu bergetar.
"Buka, atas nama Mordor!" kata sebuah suara tajam dan menancam.
Pada pukulan kedua, pintu itu roboh dan ambruk ke dalam, papanpapannya
hancur dan kuncinya patah. Sosok-sosok hitam masuk dengan cepat.
Pada saat itu, di antara pohon-pohon di dekat situ, sebuah terompet
berbunyi nyaring, mengoyak malam bagai api di puncak bukit.
BANGUN! AWAS! API! MUSUH! BANGUN!
Fatty Bolger tidak berdiam diri. Begitu melihat sosok-sosok gelap
merangkak di kebun, ia tahu ia harus lari pergi dari sana, kalau tidak ia akan
mati. Dan ia berlari keluar dari pintu belakang, melintasi kebun dan melewati
padang-padang. Ketika sampai di rumah terdekat, lebih dari satu mil jauhnya, ia
roboh di ambang pintunya. "Tidak, tidak, tidak!" ia berteriak. "Jangan, jangan
aku! Aku tidak menyimpannya,!" Setelah beberapa saat, baru orang-orang
memahami apa yang dibicarakannya. Akhirnya mereka mengerti bahwa ada
musuh di Buckland, serangan aneh dari Old Forest. Lalu mereka tidak
membuang-buang waktu lagi.
AWAS! API! MUSUH!
Kaum Brandybuck meniup Terompet Isyarat dari Buckland, yang sudah
seratus tahun tak pernah dibunyikan, tidak sejak serigala-serigala putih datang di
Musim Dingin Naas, ketika Sungai Brandywine membeku.
BANGUN! BANGUN!
Dari jauh terdengar bunyi terompet balasan. Tanda peringatan itu
menyebar cepat.
Sosok-sosok hitam tersebut lari dari rumah. Salah satu menjatuhkan
jubah hobbit di atas tangga, saat ia berlari. Di jalan terdengar bunyi derap kaki
kuda, semakin kencang, memukul-mukul lalu menghilang di kejauhan. Di seluruh
Crickhollow terompet berbunyi, suara-suara berteriak dan kaki-kaki berlari. Tapi
para Penunggang Hitam melaju bagai angin kencang ke Gerbang Utara. Biarkan
orang-orang kecil itu meniup terompet! Sauron akan membereskan mereka
nanti. Sementara itu, mereka punya tugas lain: sekarang mereka sudah tahu
rumah it" kosong dan Cincin sudah pergi. Mereka melaju melewati penjagapenjaga
di gerbang dan menghilang dari Shire.
Di awal malam, Frodo mendadak terbangun dari tidur lelap, seolah terganggu
oleh suatu bunyi atau kehadiran. Ia melihat Strider masih duduk waspada di
kursinya: matanya mengilat dalam cahaya api yang sudah dibesarkan dan
menyala terang; tapi ia tidak memberi isyarat ataupun bergerak.
Frodo segera tertidur lagi; tapi mimpinya kembali terganggu oleh bunyi
angin dan derap kaki kuda. Angin seolah berpusar di sekitar rumah dan
mengguncangnya; dan di kejauhan ia mendengar terompet ditiup dengan kalut.
Ia membuka mata dan mendengar seekor ayam jantan berkokok nyaring di
halaman penginapan. Strider sudah menyingkap tirai-tirai dan membuka keraikerai
dengan bunyi berdentang. Cahaya pagi yang kelabu memasuki ruangan
itu, dan udara dingin merayap melalui jendela yang terbuka.
Setelah membangunkan mereka semua, Strider memimpin mereka ke
kamar tidur. Ketika melihatnya, mereka lega sudah mengikuti nasihat Strider:
jendela-jendela tampak dibuka paksa dan bergelayut lepas, tirai-tirai berkibarkibar;
ranjang-ranjang berantakan, guling-guling tersayat dan dilempar ke lantai;
keset cokelat sudah terkoyak-koyak hancur berantakan.
Strider langsung pergi menjemput pemilik penginapan. Mr. Butterbur yang
malang kelihatan mengantuk dan takut. Ia hampir tidak memejamkan mata
sepanjang malam (begitu katanya), tapi ia sama sekali tidak mendengar bunyi
apa pun.
"Belum pernah hal seperti ini terjadi padaku!" teriaknya sambil
mengangkat tangannya penuh kengerian. "Tamu-tamu tak bisa tidur di ranjang
mereka sendiri, guling-guling bagus hancur, dan sebagainya! Apa yang sedang
terjadi pada dunia kita ini?"
"Masa-masa gelap," kata Strider. "Tapi untuk sementara kau masih bisa
hidup tenang, kalau kami sudah pergi. Kami akan segera berangkat. Jangan
repot-repot menyiapkan sarapan: minum dan satu kunyahan sambil berdiri sudah
cukup. Kami akan siap dalam beberapa menit."
Mr. Butterbur bergegas pergi untuk memastikan kuda-kuda mereka sudah
disiapkan, dan untuk mengambilkan sekadar makanan. Tapi segera ia kembali
dengan kaget. Kuda-kuda sudah hilang! Pintu kandang semuanya terbuka di
malam hari, dan kuda-kuda lenyap; bukan hanya kuda-kuda Merry, tapi semua
kuda dan hewan di tempat itu.
Semangat Frodo runtuh mendengar kabar tersebut. Bagaimana mereka
bisa sampai ke Rivendell dengan berjalan kaki, dikejar musuh berkuda? Sama
saja seperti hendak pergi ke Bulan. Strider duduk diam sejenak, memandang
para hobbit, seolah menimbang kekuatan dan keberanian mereka.
"Kuda-kuda tidak akan membantu kita melarikan diri dari pengejar
berkuda," akhirnya ia berkata, sambil merenung, seakan-akan bisa
menerka apa yang dipikirkan Frodo. "Tidak banyak bedanya kalaupun kita
berjalan kaki, apalagi di jalan yang rencananya akan kuambil. Memang aku juga
berniat jalan kaki. Yang mengganggu pikiranku adalah makanan dan
persediaannya. Kita tak bisa berharap menemukan sesuatu untuk dimakan
antara sini dan Rivendell, kecuali apa-apa yang kita bawa; dan kita barns
membawa banyak persediaan; karena mungkin saja kita tertahan, atau terpaksa
berjalan memutar, jauh dari jalan yang langsung. Berapa banyak yang siap
kalian angkut di punggung kalian?"
"Sebanyak yang diperlukan," kata Pippin dengan semangat menurun, tapi
berusaha menunjukkan bahwa ia lebih tegar daripada kelihatannya (atau
daripada yang dirasakannya).
"Aku bisa mengangkut cukup untuk dua orang," kata Sam dengan gagah.
"Tak adakah yang bisa dilakukan, Mr. Butterbur?" tanya Frodo. "Bisakah
kita mendapatkan beberapa kuda di desa, atau seekor saja untuk mengangkut
barang-barang? Mungkin kita tak bisa menyewanya, tapi barangkali kita bisa
membelinya," tambahnya, ragu, sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah ia
mampu mengeluarkan biaya itu.
"Aku ragu," kata pemilik penginapan itu dengan sedih. "Dua-tiga kuda
yang ada di Bree juga berkandang di halamanku, dan mereka juga lenyap.
Sedangkan hewan-hewan lain, kuda atau kuda kecil untuk muatan dan
sebagainya, hanya sedikit di Bree, dan mereka tidak dijual. Tapi aku akan
berusaha sebisaku. Aku akan menyuruh Bob berkeliling segera."
"Ya," kata Strider enggan, "sebaiknya begitu. Setidaknya satu kuda harus
kita coba cari. Tapi harapan untuk berangkat pagi-pagi lenyap sudah, apalagi
berangkat diam-diam! Sama saja kita meniup terompet mengumumkan
keberangkatan kita. Pasti itu bagian dari rencana mereka."
"Ada satu segi positifnya; kata Merry, "dan ini cukup menguntungkan,
kuharap: kita bisa sarapan sambil menunggu-dan duduk menikmatinya. Mari kita
panggil Nob!"
Keberangkatan mereka tertunda lebih dari tiga jam. Bob kembali dengan laporan
tidak ada kuda atau kuda kecil yang bisa didapat di lingkungan itu, biar dengan
uang sekalipun—kecuali satu: Bill Ferny punya satu yang mungkin mau ia jual.
"Makhluk malang yang sudah setengah mati kelaparan," kata Bob, "tapi dia tidak
mau menjualnya kalau tidak tiga kali lipat harganya, karena dia tahu kau sangat
membutuhkannya; kalau tidak begitu, bukan Bill Ferny namanya."
"Bill Ferny?" tanya Frodo. "Apakah ini bukan tipuan? Jangan-jangan
hewan itu lari pulang kepadanya dengan semua barang kita, atau membantu
melacak jejak kita, atau semacamnya?"
"Mungkin juga," kata Strider. "Tapi aku tak bisa membayangkan hewan
mana pun lari pulangkepadanya, setelah lepas darinya. Kuduga ini hanya akal
busuk Master Ferny: dia ingin memanfaatkan situasi kita. Bahaya utama adalah
bahwa hewan itu mungkin sudah sekarat. Tapi tampaknya tak ada pilihan lain.
Berapa dia minta?"
Harga yang dipasang Bill Ferny dua belas penny perak; dan memang itu
sedikitnya tiga kali lipat harga kuda di wilayah itu. Ternyata kuda itu kurus kering,
kurang makan, dan tidak bersemangat, tapi tampaknya belum sekarat. Mr.
Butterbur sendiri yang membayarnya, dan menawarkan kepada Merry tambahan
delapan belas penny untuk ganti rugi kuda-kuda yang hilang. Ia orang jujur, dan
cukup berada menurut ukuran Bree; tapi tiga puluh penny merupakan pukulan
berat untuknya, dan disiasati Bill Ferny membuatnya terasa semakin berat.
Tapi kelak ternyata ia beruntung juga. Belakangan ketahuan bahwa hanya
satu kuda yang benar-benar dicuri. Yang lainnya diusir, atau lari ketakutan, dan
ditemukan berkeliaran di berbagai bagian Bree yang berlainan. Kuda-kuda Merry
sudah lari jauh, dan akhirnya (karena memakai akal sehat) mereka pergi ke
Downs, mencari Fatty Lumpkin. Maka mereka dipelihara untuk sementara oleh
Tom Bombadil, dan bisa hidup senang. Tapi ketika kabar tentang kejadian di
Bree terdengar oleh Tom, ia mengirimkan mereka ke Mr. Butterbur, yang dengan
demikian mendapat lima hewan bagus dengan harga sangat lumayan. Kudakuda
itu memang harus bekerja lebih keras di Bree, tapi Bob memperlakukan.
mereka dengan baik; jadi, secara keseluruhan mereka beruntung: mereka lepas
dari perjalanan gelap dan berbahaya. Tapi mereka tidak pernah sampai ke
Rivendell.
Namun, sementara itu, Mr. Butterbur hanya tahu ia kehilangan uang
selamanya. Dan ada kesulitan lain. Keadaan langsung hiruk-pikuk begitu tamutamu
lain bangun dan mendengar kabar penyerangan ke Penginapan tersebut.
Pelancong-pelancong dari selatan kehilangan beberapa kuda dan dengan
nyaring menyalahkan si pemilik penginapan, Sampai ketahuan bahwa salah satu
di antara mereka juga hilang malam itu, tak lain tak bukan pendamping Bill Ferny
yang juling. Kecurigaan langsung tertuju padanya.
"Kalau kalian bergaul dengan maling kuda, dan membawanya ke
rumahku," kata Butterbur marah, "kalian harus bayar sendiri segala kerugian,
bukannya datang meneriaki aku! Pergi sana, tanyakan pada Bill Ferny, ke mana
kawan kalian yang ganteng itu!" Tapi ternyata orang itu bukan kawan siapa pun,
dan tidak ada yang ingat kapan ia bergabung dengan rombongan mereka.
Setelah sarapan, para hobbit harus mengepak ulang barang-barang
mereka, dan mengumpulkan persediaan tambahan untuk perjalanan yang
sekarang akan lebih panjang. Sudah mendekati jam sepuluh ketika akhirnya
mereka berangkat. Saat itu seluruh Bree sudah berdengung penuh gairah.
Pertunjukan lenyapnya Frodo; kedatangan para Penunggang Hitam;
perampokan kandang kuda; dan yang juga menarik adalah berita bahwa Strider
sang Penjaga Hutan bergabung dengan hobbit-hobbit misterius itu-semua itu
menjadi suatu kisah yang melegenda selama bertahun-tahun kemudian.
Kebanyakan penduduk Bree dan Staddle, dan bahkan banyak dari Combe dan
Archet, berkerumun di jalan untuk melihat keberangkatan para pengembara
tersebut. Tamu-tamu lain di penginapan bergerombol di pintu atau
bergelantungan dari jendela-jendela.
Strider berubah pikiran, dan memutuskan meninggalkan Bree melalui
jalan utama. Setiap usaha berjalan langsung melintasi pedalaman justru akan
memperparah keadaan: separuh penduduk akan mengikuti mereka, untuk
melihat rencana mereka, dan mencegah mereka masuk ke tanah milik pribadi.
Mereka pamit pada Nob dan Bob, dan kepada Mr. Butterbur dengan
banyak terima kasih. "Kuharap kita bertemu lagi suatu hari nanti, kalau keadaan
sudah gembira lagi," kata Frodo. "Aku ingin sekali tinggal di rumahmu dengan
tenteram untuk beberapa waktu."
Mereka melaju pergi, cemas dan patah hati, di bawah tatapan kerumunan
orang. Tidak semua wajah tampak ramah, juga kata-kata yang diteriakkan.. Tapi
Strider kelihatannya dihormati kebanyakan orang Bree, dan mereka yang
ditatapnya menutup mulut dan mundur. Strider berjalan di depan dengan Frodo;
berikutnya Merry dan Pippin; dan terakhir Sam menuntun kuda, yang
mengangkut bawaan sebanyak yang tega mereka bebankan padanya; tapi kuda
itu sudah tidak kelihatan terlalu sedih lagi, seolah ia setuju dengan perubahan
nasibnya. Sam menggigit sebutir apel sambil merenung. Ia membawa apel satu
saku penuh: hadiah perpisahan dari Nob dan Bob. "Apel untuk berjalan, dan pipa
untuk duduk," katanya. "Tapi kuduga tak lama lagi aku akan kehilangan
keduanva."
Hobbit-hobbit itu tidak menghiraukan kepala-kepala yang ingin tahu, yang
mengintip dari balik pintu atau menjulur di atas tembok atau pagar ketika mereka
lewat. Tapi, ketika mereka semakin dekat ke gerbang terjauh, Frodo melihat
sebuah rumah gelap dan tidak terawat di balik sebuah pagar tebal: rumah
terakhir di desa. Di dalam salah satu jendela ia menangkap sekilas wajah pucat
dengan mata juling yang lick tapi wajah itu segera menghilang.
"Jadi, di situlah orang selatan bersembunyi!" pikirnya. "Dia mirip sekali
dengan goblin."
Dari atas pagar, seorang pria menatap dengan berani. Ia mempunyai alis
tebal dan mata mencemooh berwarna gelap; mulutnya yang lebar terkulum
mengejek. Ia mengisap pipa hitam pendek. Ketika mereka mendekat, ia
mengeluarkan pipa itu dari mulutnya dan meludah.
"Pagi, Longshanks!" katanya. "Berangkat pagi? Dapat teman akhirnya?"
Strider mengangguk, tapi tidak menjawab.
"Pagi, kawan-kawan kecil!" ia berkata pada yang lain. "Kuduga kalian tahu
siapa yang mendampingi kalian? Dia itu Stick-at-naught Strider! Meski aku
pernah mendengar nama lain yang tidak begitu bagus. Waspadalah nanti
malam! Dan kau, Sammie, jangan memperlakukan kudaku yang malang dengan
kasar! Pah!" ia meludah lagi.
Sam menoleh cepat. "Dan kau, Ferny," katanya, "simpanlah wajah
jelekmu itu, atau kau akan tahu rasa." Dengan jentikan mendadak, cepat bagai
kilat, sebutir apel melayang dari tangan Sam dan tepat mengenai hidung Bill. Bill
terlambat menunduk, dan terdengar makian dari balik pagar. "Sayang apel bagus
disia-siakan," kata Sam menyesal, dan berjalan terus.
Akhirnya desa sudah tertinggal di belakang mereka. Anak-anak dan orang-orang
lain yang mengikuti mereka akhirnya jemu, dan pulang kembali sesampainya di
Gerbang Selatan. Rombongan hobbit melewati gerbang, dan menyusuri Jalan
sepanjang beberapa mil. Jalan itu menikung ke kiri, melingkar kembali ke
garisnya yang menuju timur, sambil memutari kaki Bree-hill, lalu menurun tajam
ke dalam wilayah berhutan. Di sebelah kiri, mereka bisa melihat beberapa rumah
dan lubang hobbit di Staddle, di lereng tenggara bukit yang landai; di dasar
lembah yang dalam di sebelah utara Jalan ada untaian asap membubung yang
menunjukkan letak Combe; Archet tersembunyi di dalam pepohonan di luar
sana.
Setelah Jalan menurun untuk beberapa lama, dan Bree-hill sudah
tertinggal di belakang, tinggi dan cokelat, mereka sampai ke suatu jalan sempit
yang mengarah ke Utara. "Di sini kita meninggalkan jalan terbuka dan melalui
jalan tersembunyi," kata Strider.
"Bukan 'jalan pintas', kuharap," kata Pippin. "Jalan pintas kan-ii yang
terakhir, yang melintasi hutan, hampir saja berakhir dengan bencana."
"Ah, tapi waktu itu aku tidak bersama kalian," tawa Strider. "Jalan
pintasku, pendek ataupun panjang, tidak akan keliru." ia menengok ke semua
sisi sepanjang jalan. Tidak ada makhluk lain kelihatan, dan dengan cepat ia
memimpin jalan menuju lembah berhutan.
Rencana Strider, sejauh yang mereka pahami, adalah pergi ke Archet
dulu, tapi mengambil jalan ke arah kanan dan melewatinya dari sebelah timur,
lalu mengarah selurus mungkin melewati belantara ke Bukit Weathertop. Dengan
cara itu, kalau semua berjalan lancar, mereka akan memotong lengkungan besar
Jalan, yang setelah itu menikung ke selatan untuk menghindari Rawa-Rawa
Midgewater. Tapi, tentu saja, mereka harus melintasi rawa-rawa itu sendiri, dan
uraian Strider tentang rawa-rawa tersebut tidak menggembirakan.
Sementara itu, berjalan kaki bukannya tidak nyaman. Bahkan, seandainya
tidak ada peristiwa-peristiwa menggegerkan pada malam sebelumnya, mereka
pasti akan menikmati bagian perjalanan ini, lebih daripada yang sebelumsebelumnya.
Matahari bersinar, cerah tapi tidak terlalu panas. Hutan di lembah
masih penuh dedaunan dan berwarna-warni, kelihatan tenteram dan segar.
Strider menuntun mereka dengan yakin melewati banyak persimpangan, yang
pasti akan membuat mereka tersesat, seandainya mereka pergi sendiri. Strider
mengambil jalan berkelok-kelok dengan banyak putaran, dan kembali ke arah
semula, demi menyesatkan para pengejar.
"Pasti Bill Ferny memperhatikan di mana kita meninggalkan Jalan,"
katanya, "meski kuduga bukan dia sendiri yang menguntit kita. Dia cukup kenal
pedalaman sekitar sini, tapi dia tahu dia bukan tandinganku di dalam hutan.
Yang kukhawatirkan adalah apa yang akan diceritakannya pada yang lain.
Kuduga mereka berada tidak begitu jauh dari sini. Lebih baik kalau mereka
mengira kita pergi ke Archet."
Entah karena keahlian Strider, atau karena alasan lain, mereka tidak melihat
tanda-tanda ataupun mendengar bunyi makhluk hidup lain se panjang hari itu:
baik yang berkaki dua, kecuali burung, ataupun yang berkaki empat, kecuali
seekor rubah dan beberapa ekor bajing. Hari berikutnya mereka mulai berjalan
dengan arah tetap ke timur; semuanva masih tetap tenang dan damai. Pada hari
ketiga keluar dan Bree, mereka meninggalkan Chetwood. Tanah semakin
menurun selama itu, sejak mereka menyimpang dari Jalan, dan sekarang
mereka masuk ke suatu dataran luas yang jauh lebih sulit dilewati. Mereka sudah
jauh sekali di luar perbatasan Bree, di alam liar tanpa jalan jelas, dan sedang
mendekati Rawa-Rawa Midgewater.
Sekarang tanah menjadi lembap, di beberapa tempat berair, dan di sanasini
mereka menjumpai genangan air, hamparan luas alang-alang, dan rumput
yang dipenuhi celoteh burung-burung tersembunyi. Mereka harus memilih jalan
dengan hati-hati, agar kaki tetap kering dan agar tetap pada arah yang mereka
tuju. Mulanya kemajuan mereka cukup bagus, tapi semakin jauh jalan mereka
semakin lambat dan berbahaya. Rawa-rawa itu membingungkan dan berbahaya,
bahkan para Penjaga Hutan pun sulit menemukan jalan pasti di antara tanah
lembut basah yang selalu berpindah-pindah. Lalat-lalat mulai menyiksa, dan
udara penuh kawanan serangga kecil yang merangkak ke bawah lengan baju
dan celana, serta ke dalam rambut mereka.
"Aku dimakan hidup-hidup!" teriak Pippin. "Midgewater! Lebih banyak
serangganya daripada airnya!"
"Mereka hidup dari apa kalau tidak bisa mendapat hobbit?" tanya Sam
sambil menggaruk lehernya.
Mereka menghabiskan hari yang sengsara di pedalaman sepi dan tidak
nyaman itu. Tempat mereka berkemah lembap, dingin, dan tidak nyaman;
serangga-serangga yang terus menggigiti membuat mereka tak bisa tidur. Juga
banyak makhluk mengerikan berkeliaran di antara alang-alang dan rumput tebal;
rupanya mereka saudara-saudara yang jahat dari jangkrik, kalau menilai
bunyinya. Jumlah mereka ribuan, dan mereka berdecit terus, niik-briik, briik-niik,
tanpa henti sepanjang malam, sampai hobbit-hobbit hampir kalut.
Hari berikutnya, hari keempat, agak lebih baik, tapi malamnya tetap tidak
nyaman. Meski Neekerbreeker (sebutan Sam untuk mereka) sudah ditinggal di
belakang, serangga-serangga kecil masih mengejar mereka.
Saat Frodo berbaring, letih tapi tak bisa memejamkan mata, tampak
seberkas cahaya di langit timur di kejauhan: cahaya yang menyala dan
menghilang berkali-kali. Bukan cahaya fajar, karena fajar baru datang beberapa
jam lagi.
"Cahaya apa itu?" katanya pada Strider, yang bangkit dan sedang berdiri
memandang ke dalam kegelapan malam.
"Aku tidak tahu," jawab Strider. "Terlalu jauh untuk dilihat. Seperti kilat
yang meloncat dari puncak-puncak bukit."
Frodo berbaring lagi, tapi untuk waktu lama ia masih bisa melihat kilatan
cahaya putih itu, dan di depan cahaya itu sosok Strider yang tinggi gelap, berdiri
diam dan waspada. Akhirnya Frodo tertidur dengan gelisah.
Mereka belum berjalan jauh di hari kelima, saat mereka meninggalkan genangan
air yang bertebaran di mana-mana dan rumpun-rumpun ilalang terakhir di rawarawa
di belakang. Tanah di depan mulai menanjak lagi dengan teratur. Jauh di
timur, mereka bisa melihat barisan bukit. Yang tertinggi di antaranya berada di
sebelah kanan barisan, agak terpisah dari yang lain. Puncaknya berbentuk
kerucut, agak datar pada ujungnya.
"Itu Weathertop," kata Strider. "Jalan Lama yang sudah kita tinggalkan
jauh di sebelah kanan kita, membentang ke selatannya dan lewat tidak jauh dari
kakinya. Mungkin kita bisa sampai di sana tengah hari besok, kalau kita berjalan
lurus ke sana. Kusarankan kita melakukan itu."
"Apa maksudmu?" tanya Frodo.
"Maksudku, kalau kita sudah sampai di sana, kita tidak tahu apa yang
akan kita temukan. Tempat itu dekat sekali ke Jalan."
"Tapi kan kita berharap bertemu Gandalf di sana?"
"Ya, tapi harapannya kecil sekali. Kalau toh dia pergi ke sini, mungkin dia
tidak lewat Bree, sehingga dia tidak tahu apa yang kita, lakukan. Dan
bagaimanapun, kecuali kalau kita beruntung datang hampir bersamaan waktu,
bisa saja kita tidak saling bertemu; tidak aman bagi dia atau kita untuk
menunggu lama di sana. Kalau para Penunggang gagal menemukan kita di
belantara ini, kelihatannya sangat mungkin mereka juga akan pergi ke
Weathertop. Dari atas sana, pemandangannya luas sekali ke semua arah.
Bahkan banyak sekali burung dan hewan di pedalaman yang bisa melihat kita
saat kita berdiri di sini, dari atas puncak bukit. Tidak semua burung bisa
dipercaya, dan ada mata-mata lain yang jauh lebih jahat daripada mereka."
Para hobbit memandang cemas ke arah bukit-bukit di kejauhan. Sam
memandang ke langit yang pucat, khawatir melihat elang atau rajawali melayang
di atas mereka, dengan mata tajam dan tidak bersahabat. "Kau benar-benar
membuatku merasa kesepian dan tidak nyaman, Strider!" kata Sam.
"Apa saranmu?" tanya Frodo.
"Kupikir," kata Strider perlahan, seolah tidak begitu yakin, "kurasa hal
terbaik yang bisa kita lakukan adalah sebisa mungkin berjalan lurus ke timur dari
sini, ke arah perbukitan di sana, jangan ke Weathertop. Di sana kita bisa
menemukan jalan yang kukenal, yang menyusuri kaki perbukitan; jalan itu akan
membawa kita ke Weathertop dari arah utara, dan tidak begitu kelihatan. Lalu
kita bisa melihat apa yang bisa kita lihat."
Sepanjang hari itu mereka berjalan lambat dan susah payah, sampai
senja yang dingin turun. Tanah semakin kering dan lebih gersang; tapi kabut dan
uap sudah mereka tinggalkan di rawa-rawa di belakang. Beberapa burung sedih
berbunyi nyaring dan meratap, sampai matahari merah bulat tenggelam perlahan
ke dalam bayang-bayang di sebelah barat; lalu keheningan kosong mengelilingi
mereka. Para hobbit teringat cahaya lembut matahari terbenam yang melirik
melalui jendela-jendela riang di Bag End nun jauh di sana.
Di penghujung hari itu, mereka sampai ke sebuah sungai yang
mengembara turun dari perbukitan, dan hilang di tengah genangan rawa-rawa.
Mereka mendaki tebingnya sementara hari masih terang. Sudah malam ketika
mereka akhirnya berhenti dan bersiap-siap berkemah di bawah beberapa pohon
alder kerdil di pinggir sungai. Di depan berdiri punggung perbukitan yang suram
dan tidak berpohon, berlatar belakang langit senja. Malam itu mereka bergantian
berjaga, dan Strider tampaknya sama sekali tidak tidur. Bulan bertambah besar,
dan pada jam-jam awal malam cahaya kelabu dingin menggantung di atas tanah.
Keesokan paginya mereka berangkat begitu matahari terbit. Udara
dipenuhi embun beku, dan langit berwarna biru- pucat jernih. Para hobbit merasa
segar, seolah sudah tidur semalaman tanpa terputus. Mereka sudah mulai
terbiasa berjalan jauh dengan makanan terbatas—setidaknya lebih terbatas
daripada yang biasa mereka makan di Shire yang, menurut mereka, tidak akan.
cukup untuk membuat mereka kuat berdiri. Pippin menyatakan Frodo tampak
dua kali lebih besar daripada biasanya.
"Aneh sekali," kata Frodo sambil mengencangkan ikat pinggangnya,
"mengingat justru sekarang badanku menyusut. Kuharap proses penyusutan ini
tidak berlangsung terus-menerus, kalau tidak, bisa-bisa aku menjadi hantu!"
"Jangan membicarakan hal-hal semacam itu!" kata Strider cepat, dengan
nada serius yang agak mengherankan.
Bukit-bukit semakin dekat, membentuk punggung berombak, sering menjulang
sampai hampir seribu kaki, dan di sana-sini terjun lagi ke celah atau bukaan
rendah yang mengantar ke negeri timur di sebelah sana. Sepanjang puncak
punggung bukit, para hobbit bisa melihat pemandangan yang tampaknya seperti
sisa-sisa tembok yang dipenuhi tanaman hijau dan tanggul-tanggul, di celahcelahnya
masih berdiri puing-puing bangunan batu lama. Di malam hari, mereka
sudah sampai di kaki lereng sebelah barat, dan di sanalah mereka bermalam.
Malam itu malam kelima bulan Oktober, dan mereka sudah enam, hari keluar
dari Bree.
Pagi harinya, untuk pertama kali sejak meninggalkan Chetwood, mereka
menemukan jejak jalan yang jelas terlihat. Mereka membelok ke kanan dan
menyusurinya ke arah selatan. Jalur itu menjalar dengan cerdik, mengambil garis
yang tampaknya dipilih agar sedapat mungkin tersembunyi dari pandangan, baik
dari atas bukit maupun dari dataran di barat. Jalur itu terjun ke dalam lembahlembah
kecil, memeluk tebing-tebing curam; di bagian yang melewati tanah yang
lebih datar dan terbuka, pada kedua sisinya ada barisan batu besar dan batu
pahat yang menutupi pelancong yang lewat, hampir seperti pagar.
"Aku ingin tahu, siapa yang membuat jalan ini, dan untuk apa," kata
Merry, saat mereka menyusuri salah satu jalur tersebut, yang bebatuannya
sangat besar dan rapat. "Aku tidak menyukainya: kelihatannya agak... yah,
berbau barrow-wight. Apakah ada barrow di Weathertop?"
"Tidak. Tidak ada barrow di Weathertop, maupun di perbukitan ini;" jawab
Strider. "Manusia dari Barat tidak hidup di sini, meski di hari-hari akhir, untuk
beberapa saat mereka mempertahankan perbukitan terhadap kejahatan yang
datang dari Angmar. Jalan ini dibuat untuk kepentingan benteng-benteng di
sepanjang tembok. Tapi jauh sebelumnya, di masa-masa awal Kerajaan Utara,
mereka membangun menara pengawasan besar di Weathertop, Amon Sul
namanya. Menara itu sudah dibakar dan hancur, dan tidak ada yang tersisa
sekarang, kecuali sebuah lingkaran yang terjungkir, seperti mahkota kasar pada
kepala bukit tuanya. Namun dulu ia pernah menjulang tinggi dan indah. Konon
Elendil berdiri di sana, memperhatikan kedatangan Gil-galad dari Barat, di masa
Persekutuan Terakhir."
Para hobbit menatap Strider. Kelihatannya ia pakar dongeng-dongeng
kuno, selain piawai hidup di tanah liar. "Siapa Gil-galad?" tanya Merry; tapi
Strider tidak menjawab, tampaknya tenggelam dalam pikirannva sendiri. Tibatiba
sebuah suara rendah bergumam,
Gil-galad Raja Peri
Tentangnya para pemetik harpa bernyanyi sedih:
kerajaannya yang terakhir, indah merdeka antara
Pegunungan dan Samudra.
Panjang pedangnya, tajam tombaknya,
kemilau dari kejauhan, topi bajanya;
hamparan bintang di langit luas
di perisai peraknya terpantul jelas.
Tapi lama sudah ia pergi,
entah di mana ia tinggal kini;
dalam kegelapan bintangnya menghilang
di tanah Mordor, negeri bayang-bayang.
Yang lain menoleh penuh keheranan, karena suara itu suara Sam.
"Jangan berhenti!" kata Merry.
"Hanya itu yang kutahu," kata Sam terbata-bata, wajahnya memerah.
"Aku belajar itu dari Mr. Bilbo, ketika aku masih kecil. Dia biasa menceritakan
dongeng-dongeng seperti itu, karena tahu aku suka sekali mendengarkan
tentang bangsa Peri. Mr. Bilbo yang mengajariku menulis. Dia sangat terpelajar,
Mr. Bilbo yang budiman. Dan dia suka menulis puisi. Dialah yang menulis syair
itu tadi."
"Dia tidak mengarang-ngarang," kata Strider. "Syair itu bagian dari syair
tentang Kejatuhan Gil-galad, yang tertulis dalam bahasa kuno. Pasti Bilbo
menerjemahkannya. Aku tidak tahu itu."
"Masih banyak sekali lanjutannya," kata Sam, "semua tentang Mordor.
Aku tidak belajar bagian itu, aku menggigil kalau mendengar bagian itu. Aku tak
pernah mengira akan pergi ke sana sendiri!"
"Pergi ke Mordor!" teriak Pippin. "Kuharap tidak sampai terjadi!"
"Jangan sebut nama itu keras-keras!" kata Strider.
Sudah tengah hari ketika mereka hampir mencapai ujung selatan jalan itu. Di
depan mereka, dalam cahaya pucat jernih matahari Oktober, tampak sebuah
tebing hijau-kelabu, menjulur naik seperti jembatan ke lereng utara bukit. Mereka
memutuskan langsung mendaki ke puncaknya, sementara hari masih terang
benderang. Tak mungkin lagi menyembunyikan diri, dan mereka hanya bisa
berharap tidak ada musuh atau mata-mata yang melihat. Tak kelihatan ada yang
bergerak di perbukitan. Juga tidak tampak tanda-tanda kehadiran Gandalf di
sekitar situ.
Di sisi barat Weathertop, mereka menemukan sebuah cekungan
terlindung, dengan lembah berbentuk mangkuk di dasarnya, dan pinggiran
berumput. Di sana mereka meninggalkan Sam dan Pippin dengan kuda dan
muatannya, serta ransel-ransel. Tiga yang lainnya berjalan terus. Setelah
setengah jam mendaki dengan susah payah, Strider mencapai mahkota bukit;
Frodo dan Merry menyusul, lelah dan terengah-engah. Lereng terakhir curam
sekali dan berbatu-batu.
Di puncaknya, seperti sudah dikatakan Strider, mereka menemukan
sebuah lingkaran sisa bangunan batu kuno, sekarang remuk atau tertutup
rumput panjang. Tapi di tengahnya tersusun setumpukan batu. Warnanya
kehitaman, seolah kena api. Di sekitarnya tanah kering terbakar sampai ke
akarnya, dan di dalam lingkaran itu rumputnya hangus dan mengerut, seolah
nyala api telah menyapu puncak bukit itu; tapi tidak ada tanda-tanda makhluk
hidup.
Berdiri di pinggir puing lingkaran itu, mereka melihat pemandangan luas di
bawah, kebanyakan tanah kosong tanpa ciri-ciri khusus, kecuali beberapa
bercak hutan jauh di selatan, dengan kilauan air di sana-sini di kejauhan. Di
bawah mereka, pada sisi selatan ini, Jalan Lama tergelar bagai sebuah pita,
muncul dari Barat dan melingkar-lingkar naik-turun, sampai menghilang di balik
punggung tanah gelap di sebelah timur. Tidak ada yang bergerak di atasnya.
Mengikuti garisnya ke arah timur, mereka melihat Pegunungan: kaki bukit yang
lebih dekat tampak cokelat dan suram; di belakangnya berdiri bentuk-bentuk
tinggi kelabu, dan di belakangnya lagi ada puncak-puncak tinggi putih berkilauan
di antara awan-awan.
"Nah, di sinilah kita!" kata Merry. "Sangat muram dan tidak mengundang
tampaknya! Tidak ada air dan tidak ada naungan. Dan tidak ada tanda-tanda dari
Gandalf. Tapi aku tidak menyalahkannya kalau dia tidak menunggu-kalau dia
memang sudah ke sini."
"Aku jadi bertanya-tanya," kata Strider, menatap sekelilingnya sambil
merenung. "Meski dia sehari-dua hari di belakang kita di Bree, dia bisa datang ke
sini lebih dulu. Dia bisa menunggang kuda sangat cepat kalau perlu." Mendadak
ia berhenti dan memandang batu di atas tumpukan; lebih datar daripada yang
lain, dan lebih putih, seolah tidak terkena api. Ia memungutnya dan
mengamatinya, membalikkan batu itu di tangannya. "Batu ini belum lama
dipegang,' katanya. "Bagaimana dengan tanda-tanda ini?"
Pada permukaan bawah yang datar, Frodo melihat beberapa goresan:
I”•III. "Kelihatannya ada garis tegak, titik, lalu tiga garis tegak lagi," kata Frodo.
"Garis tegak di sebelah kiri mungkin lambang G dengan cabang tipis" kata
Strider. "Mungkin itu tanda yang ditinggalkan Gandalf, meski kita tak bisa yakin.
Goresannya halus, dan memang kelihatan masih baru. Tapi tanda-tanda itu bisa
juga punya arti yang lain sama sekali, dan tidak berhubungan dengan kita. Para
Penjaga Hutan juga menggunakan lambang, dan mereka sesekali juga datang
ke sini."
"Apa artinya, kalau misalnya Gandalf yang membuatnya?" tanya Merry.
"Menurutku," jawab Strider, "maksudnya G 3, dan merupakan tanda
bahwa Gandalf ada di sini tanggal 3 Oktober: tiga hari yang lain. Itu juga
menunjukkan dia sedang terburu-buru dan bahaya mengancamnya, sehingga
dia tak punya waktu atau tidak berani menulis sesuatu yang lebih panjang atau
lebih jelas. Kalau memang begitu, maka kita harus hati-hati."
"Kalau saja kita bisa yakin bahwa memang Gandalf yang membuat
goresan itu, apa pun artinya," kata Frodo. "Akan sangat menghibur kalau tahu
dia sedang dalam perjalanan, di depan atau di belakang kita."
"Mungkin," kata Strider. "Aku sendiri yakin dia sudah ke sini, dan berada
dalam bahaya. Pernah ada kobaran api di sini saat itu, dan aku jadi teringat
cahaya yang kita lihat tiga hari yang lalu di langit timur. Kuduga dia diserang di
puncak bukit ini, tetapi apa hasilnya aku tidak tahu. Ia sudah tidak di sini lagi, dan
sekarang kita harus menjaga diri sendiri dan pergi sendiri ke Rivendell, sebaik
mungkin."
"Berapa jauhkah Rivendell?" tanya Merry sambil melihat sekelilingnya
dengan letih. Dunia terlihat liar dan luas dari atas Weathertop.
"Aku tidak tahu apakah Jalan ini pernah diukur dalam mil setelah melewati
Penginapan Terlupakan, satu hari perjalanan dari Bree ke timur," jawab Strider.
"Ada yang bilang itu jauh sekali, dan ada yang bilang sebaliknya. Jalan ini aneh,
dan orang-orang senang kalau sudah sampai di akhir perjalanan mereka, baik
waktunya panjang ataupun pendek. Tapi aku tahu berapa lama waktu untuk
menempuhnya bila aku sendiri berjalan kaki, dengan cuaca bagus dan tidak ada
musibah: dua belas hart dari sini sampai Ford Bruinen, di mana Jalan melintasi
Loudwater yang mengalir keluar dari Rivendell. Setidaknya masih ada perjalanan
dua minggu di depan kita, karena kupikir kita tidak akan bisa menggunakan
Jalan."
"Dua minggu!" kata Frodo. "Banyak yang bisa terjadi dalam waktu itu."
"Memang," kata Strider.
Mereka berdiri diam sejenak di puncak bukit, dekat ujung selatan. Di
tempat sepi itu, Frodo untuk pertama kali menyadari bahwa ia tak punya rumah
dan berada dalam bahaya. Dengan getir ia menyesali, kenapa ia tidak bisa tetap
berada di Shire yang tenang dan dicintainya ia menatap ke bawah, ke Jalan
yang dibencinya, matanya tertuju ke barat—ke rumahnya. Mendadak ia
menyadari ada dua bercak hitam bergerak perlahan menyusurinya, pergi ke
barat; dan ketika ia memandang lagi, ia melihat tiga bercak lain merangkak ke
timur untuk menghadang mereka. Frodo berteriak dan memegang tangan
Strider.
"Lihat," katanya sambil menunjuk ke bawah.
Strider segera menjatuhkan diri ke tanah di belakang puing lingkaran,
sambil menarik Frodo di sebelahnya. Merry juga menjatuhkan diri di sampingnya.
"Apa itu?" bisiknya.
"Aku tidak tahu, tapi aku mengkhawatirkan hal terburuk," jawab Strider.
Perlahan mereka merangkak ke pinggir lingkaran lagi, dan mengintip
melalui celah antara dua batu runcing. Cahaya sudah tidak begitu terang, karena
pagi yang cerah sudah memudar, dan awan-awan yang merangkak keluar dari
Timur sudah menyusul matahari yang akan terbenam. Mereka semua bisa
melihat bercak-bercak hitam itu, tapi baik Frodo maupun Merry tidak bisa melihat
jelas bentuk mereka; namun perasaan mereka mengatakan bahwa di sana, jauh
di bawah, para Penunggang Hitam berkumpul di Jalan di bawah kaki bukit.
"Ya," kata Strider, yang dengan penglihatannya yang tajam tidak ragu lagi.
"Musuh ada di sini!"
Bergegas mereka merangkak pergi, menuruni sisi utara bukit, untuk
mencari kawan-kawan mereka.
Sam dan Peregrin tidak tinggal diam. Mereka sudah menjelajahi lembah kecil
dan lereng-lereng sekitamya. Tak jauh dari sana, mereka menemukan sumber
mata air jernih di sisi bukit, dan di dekatnya jejak kaki yang belum berusia lebih
dari dua hari. Di lembahnya sendiri mereka menemukan bekas api yang belum
lama, dan tanda-tanda lain dari perkemahan yang terburu-buru. Ada beberapa
batuan yang sudah jatuh di ujung lembah yang paling dekat ke bukit. Di
belakangnya Sam menemukan kayu-kayu api yang ditumpuk rapi.
"Aku ingin tahu, apakah Gandalf sudah ke sini," katanya pada Pippin.
"Siapa pun yang menyimpan barang-barang ini di sini, berniat kembali ke sini
rupanya."
Strider sangat tertarik dengan penemuan-penemuan itu. "Coba tadi aku
menunggu dan menjelajahi sendiri tanah di bawah sini," katanya, bergegas ke
mata air untuk memeriksa jejak kaki.
"Seperti sudah kukhawatirkan," katanya ketika ia kembali. "Sam dan
Pippin menginjak tanah lembek, dan jejaknya sudah rusak atau bercampur. Para
Penjaga Hutan datang ke sini baru-baru ini. Merekalah yang meninggalkan kayu
api di tempat ini. Tapi juga ada beberapa jejak yang lebih baru, yang bukan
dibuat oleh para Penjaga Hutan. Setidaknya satu set baru, hanya sehari-dua hari
yang lalu, dibuat oleh sepatu bot berat. Setidaknya satu. Aku belum yakin saat
ini, tapi kurasa ada banyak kaki bersepatu bot." ia berhenti bicara dan tenggelam
dalam pikiran cemas.
Masing-masing hobbit membayangkan para Penunggang berjubah dan
bersepatu bot. Kalau para Penunggang sudah menemukan lembah itu, semakin
cepat Strider menuntun mereka ke tempat lain semakin baik. Sam memandang
cekungan itu dengan rasa sangat tak suka, setelah mendengar kabar musuh
mereka ada di Jalan, hanya beberapa mil dari sana.
"Tidakkah kita sebaiknya cepat pergi dari sini, Mr. Strider?" tanya Sam tak
sabar. "Sudah mulai sore, dan aku tidak suka tempat ini: entah mengapa
membuat semangatku patah."
"Ya, kita memang harus memutuskan apa yang mesti dilakukan segera,"
jawab Strider sambil mendongak, mempertimbangkan waktu dan cuaca. "Yah,
Sam," katanya akhirnya, "aku juga tidak suka tempat ini, tapi aku tidak tahu
tempat lain yang lebih baik, yang bisa kita capai sebelum malam. Setidaknya kita
berada di luar pandangan untuk sementara, dan kalau kita bergerak, kita akan
jauh lebih mungkin terlihat oleh mata-mata. Yang bisa kita lakukan hanyalah
menyimpang dari jalan kita, kembali ke utara, di sisi bukit sebelah sini, yang
tanahnya sedikit-banyak sama seperti di sini. Jalan sudah diawasi, tapi kita harus
melintasinya, kalau ingin mencoba bersembunyi di semak-semak sebelah
selatan. Di sebelah utara Jalan, di seberang bukit, tanahnya kosong dan datar
sepanjang bermil-mil."
"Apakah para Penunggang itu bisa melihat?" tanya Merry. "Maksudku,
sepertinya mereka lebih banyak menggunakan hidung daripada mata, untuk
mengendus-endus mencari kita, kalau mengendus adalah kata yang tepat untuk
itu, setidaknya di waktu terang. Tapi kau menyuruh kami tiarap ketika kau
melihat mereka di bawah; dan sekarang katamu kita bisa terlihat kalau
bergerak."
"Aku terlalu ceroboh di atas- bukit," jawab Strider. "Aku begitu
bersemangat ingin mencari tanda dari Gandalf; tapi kita salah, naik bertiga dan
berdiri begitu lama di sana. Karena kuda-kuda hitam bisa melihat, dan para
Penunggang itu bisa menggunakan manusia dan makhluk-makhluk lain sebagai
mata-mata, seperti sudah terbukti di Bree. Mereka sendiri tidak melihat dunia
sebagaimana kita melihatnya, tapi bentuk-bentuk kita melontarkan bayangan ke
dalam benak mereka, yang hanya bisa dihancurkan oleh matahari tengah hari;
dan dalam gelap mereka menerima banyak tanda dan bentuk yang tersembunyi
bagi kita: saat itulah mereka perlu paling ditakuti. Dan sepanjang waktu mereka
mencium darah makhluk hidup, menginginkannya dan membencinya. Ada indraindra
lain selain penglihatan dan penciuman, Kita bisa merasakan kehadiran
mereka-meresahkan hati kita, begitu kita sampai di sini, dan sebelum kita melihat
mereka: mereka bisa lebih tajam lagi merasakan kehadiran kita. Juga,"
tambahnya, dan suaranya menjadi bisikan, "Cincin itu menarik mereka."
"Apakah tidak ada cara untuk lari?" kata Frodo, melihat dengan kalut ke
sekelilingnya. "Kalau aku bergerak, aku akan kelihatan dan diburu!"
Strider meletakkan tangannya di bahu Frodo. "Masih ada harapan,"
katanya. "Kau tidak sendirian. Mari kita ambil kayu yang sudah disiapkan di sini
untuk api, sebagai suatu tanda. Hanya sedikit perlindungan atau pertahanan di
sini, tapi api bisa dimanfaatkan. Sauron bisa memakai api, dan hal-hal lainnya,
untuk maksud jahatnya, tapi para Penunggang ini tidak menyukai api, dan takut
terhadap mereka yang menggunakannya. Api adalah sahabat kita di hutan
belantara."
"Mungkin," gerutu Sam. "Tapi api itu juga bisa menunjukkan dengan jelas
di mana kita berada, selain kalau kita berteriak."
Di pojok paling rendah dan paling terlindung di lembah itu, mereka menyalakan
api dan menyiapkan makanan. Bayang-bayang senja mulai turun, dan hawa
mulai dingin. Tiba-tiba mereka menyadari bahwa mereka sudah lapar sekali,
karena mereka tidak makan apa pun sejak sarapan; tapi mereka hanya berani
membuat makan malam sederhana saja. Negeri di depan mereka kosong dari
semua makhluk hidup, kecuali burung dan hewan, tempat-tempat tidak ramah
yang ditinggalkan semua bangsa di dunia. Kadang-kadang para Penjaga Hutan
lewat di seberang perbukitan, tapi jumlahnya hanya sedikit dan mereka tidak
bermalam. Pengembara lain sangat langka, dan dari jenis jahat: sesekali bangsa
troll berkeliaran keluar dari lembah-lembah utara Pegunungan Berkabut. Hanya
di Jalan bisa ditemukan pelancong, paling sering orang-orang kerdil, bergegas
untuk urusan mereka sendiri, dan tidak suka memberikan pertolongan atau
berbicara dengan orang asing
"Entah apakah persediaan makanan kita bisa mencukupi," kata Frodo.
"Kita sudah cukup hati-hati dalam beberapa hari terakhir, dan makan malam ini
bukan pesta; tapi kita sudah menghabiskan lebih banyak daripada seharusnya,
kalau kita masih harus berjalan selama dua minggu, dan mungkin lebih."
"Ada makanan di belantara," kata Strider, "buah berry, akar-akaran, dan
tanaman; dan aku punya keterampilan sebagai pemburu bila diperlukan. Kau
tidak perlu takut mati kelaparan sebelum musim dingin tiba. Tapi mengumpulkan
dan menangkap makanan adalah pekerjaan panjang dan melelahkan, dan kita
perlu buru-buru. Jadi, kencangkan ikat pinggang kalian, dan pikirkan penuh
harapan meja-meja makan di rumah Elrond!"
Hawa dingin semakin menusuk, sementara hari semakin gelap. Mengintip
keluar dari lembah, mereka sekarang hanya bisa melihat tanah kelabu yang
menghilang cepat ke dalam bayang-bayang. Langit di alas sudah jernih lagi, dan
perlahan-lahan terisi bintang-bintang yang berkelap-kelip. Frodo dan kawankawannya
meringkuk mengelilingi api, terbungkus dengan segala macam
busana dan selimut yang mereka miliki; tapi Strider sudah puas dengan satu
mantel, dan duduk agak menjauh, sambil mengisap pipanya dengan termenung.
Saat malam tiba dan nyala api mulai terang Strider menceritakan
dongeng-dongeng pada mereka, untuk mengalihkan benak mereka dari
ketakutan. Ia tahu banyak riwayat dan legenda dari zaman dulu, tentang Peri dan
Manusia, perbuatan baik dan jahat di Zaman Peri. Mereka bertanya dalam hati,
berapa usia Strider, dan di mana ia belajar semua kisah itu.
"Ceritakan tentang Gil-galad," kata Merry tiba-tiba, ketika Strider berhenti
sebentar di akhir cerita tentang Kerajaan-Kerajaan Peri. "Apakah kau tahu lebih
banyak tentang syair kuno yang kaubicarakan tadi?"
"Memang," jawab Strider. "Begitu juga Frodo, karena itu berhubungan erat
dengan kita." Merry dan Pippin memandang Frodo yang sedang menatap ke
dalam api.
"Aku hanya tahu sedikit yang diceritakan Gandalf padaku," kata Frodo
perlahan. "Gil-galad adalah yang terakhir dari raja-raja agung bangsa Peri di
Dunia Tengah. Gil-galad berarti sinar bintang dalam bahasa Peri. Dengan
Elendil, sahabat kaum Peri, dia pergi ke negeri..."
"Jangan!" Strider memotong, "menurutku dongeng itu jangan diceritakan
sekarang, saat anak buah Musuh berada di dekat kita. Kalau kita berhasil
mencapai rumah Elrond, kalian bisa mendengarnya di sana, diceritakan
selengkapnya."
"Kalau begitu, ceritakan dongeng lain dari masa lalu," pinta Sam,
'dongeng tentang bangsa Peri sebelum masa hilangnya. Aku ingin sekali
mendengar lebih banyak tentang kaum Peri; kegelapan terasa begitu
mencekam."
"Akan kuceritakan kisah Tinuviel," kata Strider, "singkat saja, karena ini
kisah panjang yang akhirnya tidak diketahui; dan sekarang tidak ada yang ingat
dengan betul kisah ini, seperti diceritakan di masa lalu, kecuali Elrond. Suatu
kisah indah, meski sedih, seperti semua dongeng Dunia Tengah, namun
mungkin kisah ini bisa membangkitkan semangat kalian." ia diam sejenak, lalu
mulai menyanyi perlahan, bukannya berbicara,
Dedaunan panjang, rumput hijau,
Tinggi indah pepohonan cemara,
Dan di padang tampak cahaya kemilau
Bintang-bintang berkelip di keremangan
Tinuviel menari di sana
Diiringi nada suling indah memukau,
Cahaya bintang gemerlap di rambutnya,
Pun di pakaiannya berkilauan.
Datang Beren dari pegunungan dingin nan sepi,
Di bawah dedaunan tersesat mengembara,
Menyusuri sepanjang tepi Sungai Peri
Melangkah sendiri, dicekam kepedihan.
Mengintip di antara ranting-ranting cemara
Terpesona oleh bunga-bunga emas indah tak terperi
Pada jubah dan lengan si gadis jelita,
Dan rambutnya yang terurai, sekelam bayangan.
Terpesona ia oleh pemandangan itu
Kakinya yang letih seketika pulih;
Kuat dan tangkas, ia bergegas maju,
Menggapai alur-alur sinar bulan kemilau.
Di rimba belantara hutan Peri
Tinuviel lari dengan kaki-kaki lincah berpacu,
Dan tinggallah Beren mengembara sendiri
Di belantara sepi, mendengarkan terpukau.
Sering ia dengar tapak-tapak lincah
Kaki-kaki ringan bagai tanpa suara,
Atau musik yang memancar di bawah tanah,
Tersembunyi bergetar di liang-liang.
Kini layu tergeletak berkas-berkas cemara,
Berguguran satu per satu sambil mendesah
Daun-daun beech ikut berjatuhan pula
Di hutan musim dingin melayang-layang.
Beren s’lalu mencari si gadis Peri
Di hamparan tebal daun-daun berguguran,
Di bawah cahaya bulan dan bintang yang berseri
Di angkasa dingin dan berembun beku.
Jubah Tinuviel gemerlap di bawah sinar rembulan,
Seperti di puncak bukit nan jauh dan tinggi
Ia menari, dan di kakinya bertaburan
Kabut perak yang gemetar malu-malu.
Musim dingin berlalu, Tinuviel datang lagi,
Nyanyiannya membangunkan musim semi,
Bagai hujan rintik dan burung penyanyi,
Mencairkan air yang dingin beku.
Di kakinya merekah bunga-bunga Peri
Berkembang indah dan berseri kembali
Ingin Beren menari dan bernyanyi
Di atas rumput bersamanya selalu.
Beren datang menghampiri, namun Tinuviel lari.
Tinuviel! Tinuviel!
Dipanggilnya nama si gadis Peri;
Si gadis pun berhenti, bagai tersihir
Sesaat tertegun si gadis Tinuviel
Terpikat suara Beren yang menggugah hati,
Beren mendatangi, dan luluhlah Tinicviel
Oleh pesona yang mengikatnya sampai akhir.
Kala menatap mata Tinuviel si Jelita
Yang tersembunyi bayangan rambutnya,
Tampak oleh Beren tercermin di dalamnya.
Kemilau bintang-bintang yang gemetar perlahan
Tinuviel nan cantik memesona,
Gadis Peri yang bijaksana,
Mengurai rambutnya menutupi dirinya
Dan lengan-lengannya yang gemerlap keperakan.
Nasib membawa mereka mengembara,
Lewat gunung berbatu dingin kelabu,
Lewat lorong besi dan pintu kegelapan nan menyiksa,
Dan hutan bayangan tanpa harapan.
Dipisahkan Samudra luas yang menderu,
Sebelum akhirnya kembali berjumpa,
Kini mereka t'lah lama berlalu
Bernyanyi tanpa duka, di dalam hutan.
Strider menarik napas panjang, dan berhenti sebelum berbicara lagi. "Itu
sebuah lagu," katanya, "di antara kaum Peri disebut anntennath, tapi sulit
diterjemahkan ke dalam Bahasa Umum, dan ini hanya gema kasar dari lagu itu.
Lagu ini menceritakan perjumpaan Beren, putra Barahir, dengan Luthien
Tinuviel. Beren manusia biasa, tapi Luthien adalah putri Thingol, raja Peri di
Dunia Tengah, ketika dunia masih muda; dia gadis tercantik yang pernah ada di
antara anak-anak dunia. Kecantikannya seperti bintang-bintang di atas kabut
negeri-negeri Utara, dan wajahnya bercahaya. Di masa itu, Musuh Besar tinggal
di Angband di Utara, dan Sauron hanyalah anak buahnya. Bangsa Peri dari
Barat kembali ke Dunia Tengah untuk berperang dengannya, demi merebut
kembali Silmaril yang telah dicurinya; nenek moyang Manusia mendukung para
Peri. Tapi Musuh menang dan Barahir tewas dibunuh. Beren, yang melarikan diri
melalui bahaya besar, pergi lewat Pegunungan Teror, masuk ke Kerajaan
Thingol yang tersembunyi di hutan Neldoreth. Di sana dia melihat Luthien
menyanyi dan menari di padang, di sisi Sungai Esgalduin yang tersihir; Beren
menamainya Tinuviel, artinya burung bulbul dalam bahasa kuno. Banyak
penderitaan menimpa mereka setelah itu, dan mereka terpisah untuk waktu
lama. Tinuviel menyelamatkan Beren dari penjara bawah tanah Sauron, dan
bersama-sama mereka melewati bahaya-bahaya besar, bahkan menjatuhkan
Musuh Besar dan takhtanya, dan mengambil dan mahkota besinya satu dari tiga
Silmaril, yang paling cemerlang di antara semua berlian, untuk maskawin Luthien
kepada Thingol ayahnya. Namun pada akhirnya Beren dibunuh Serigala yang
datang dari gerbang Angband, dan dia mail di pelukan Tinuviel. Tapi Tinuviel
memilih menjadi manusia biasa, dan mati di dunia, agar bisa menyusul Beren;
dalam lagunya dikatakan bahwa mereka berjumpa lagi di seberang Samudra
Pemisah, hidup lagi bersama-sama selama suatu masa singkat di hutan hijau,
mereka mati lama berselang, meninggalkan dunia fana ini. Begitulah, hanya
Luthien Tinuviel dan bangsa Peri yang mati dan meninggalkan dunia, dan
mereka kehilangan dia yang paling mereka cintai. Tapi dari keturunannya muncul
garis silsilah bangsawan Peri masa lampau yang turun di antara Manusia.
Sampai sekarang keturunannya masih hidup, dan konon silsilahnya tidak akan
pernah berhenti. Elrond dan Rivendell termasuk sanaknya. Karena dan Beren
dan Luthien lahirlah ahli waris Dior Thingol; dan dari dia turun Elwing the White
yang dinikahi Earendil, dia yang berlayar dengan kapalnya, keluar dari kabut
dunia, masuk ke lautan surga, dengan Silmaril di dahinya. Dan dari Earendil
lahirlah Raja-raja dan Numenor, yaitu Westernesse."
Sementara Strider berbicara, mereka memperhatikan wajahnya yang
bergairah aneh, disinari cahaya remang-remang nyala api merah. Matanya
berbinar, suaranya dalam dan gagah. Di atasnya terbentang langit gelap
berbintang. Mendadak cahaya pucat muncul dari atas mahkota Weathertop di
belakang Strider. Bulan yang semakin besar mendaki perlahan ke atas bukit
yang melindungi mereka, dan bintang-bintang di atas puncak bukit memudar.
Kisah itu berakhir. Para hobbit bergerak dan meregangkan tubuh. "Lihat!"
kata Merry. "Bulan sudah tinggi: pasti sudah larut malam."
Yang lain juga menengadah. Ketika itulah mereka melihat di puncak bukit
sesuatu yang kecil dan gelap, berlatar belakang kilauan bulan yang sedang naik.
Mungkin juga sesuatu itu hanya sebuah baru besar atau karang menonjol yang
kena cahaya pucat.
Sam dan Merry bangkit dan menjauh dari api. Frodo dan Pippin tetap
duduk diam. Strider memperhatikan cahaya bulan di atas bukit dengan cermat.
Semua diam dan tenang, tapi Frodo merasa ketakutan, setelah Strider tidak
berbicara lagi. Ia meringkuk lebih dekat ke api. Pada saat itu Sam berlari kembali
dari pinggir lembah.
"Aku tidak tahu apa itu," katanya, "tapi tiba-tiba aku merasa takut. Aku
tidak berani keluar dan lembah ini; aku merasa sesuatu sedang merangkak naik
di lerengnya."
"Apakah kau melihat sesuatu?" tanya Frodo sambil melompat bangkit.
"Tidak, Sir. Aku tidak melihat apa pun, tapi aku tidak berhenti untuk
melihat."
"Aku melihat sesuatu," kata Merry, "atau kupikir begitu di sebelah barat
sana, di mana sinar bulan jatuh ke atas dataran rendah di balik bayangan
puncak bukit, aku menyangka ada dua atau tiga sosok hitam. Kelihatannya
mereka bergerak ke arah sini."
"Tetaplah dekat ke api, dengan wajah menghadap ke luar!" teriak Strider.
"Siapkan beberapa tongkat panjang di tangan kalian!"
Untuk waktu lama, hampir tanpa bernapas, mereka duduk di sana, diam
dan waspada, membelakangi api, masing-masing menatap ke dalam kekelaman
di sekitar. Tak ada yang terjadi. Tak ada bunyi atau gerakan di malam itu. Frodo
bergerak, merasa perlu memecah kesunyian: ia ingin sekali berteriak keras.
"Sst!" bisik Strider. "Apa itu?" Pippin menarik napas kaget pada saat
bersamaan.
Dari atas bibir lembah kecil itu, di sisi yang jauh dari bukit, mereka merasa
sebuah bayangan muncul, satu bayangan atau lebih dari satu. Mereka
mengamati lebih tajam, dan bayangan-bayangan itu seolah bertambah. Tak lama
kemudian, tak bisa diragukan lagi: tiga atau empat sosok tinggi gelap berdiri di
lereng, memandang mereka. Begitu hitam, hingga tampak bagaikan lubang
hitam dalam keremangan di belakang. Frodo merasa mendengar desis samarsamar,
seperti napas beracun, dan ada hawa dingin yang menusuk tajam. Lalu
sosok-sosok itu perlahan-lahan mendekat.
Kengerian melanda Pippin dan Merry, dan mereka tiarap ke tanah. Sam
mengerut ke sisi Frodo. Frodo sama ngerinya dengan kawan-kawannya; ia
gemetar, seakan-akan sangat kedinginan, tapi ketakutannya tertelan dalam
suatu godaan mendadak untuk memasang Cincin-nya. Hasrat ini
mencengkeramnya, dan ia tak bisa memikirkan hal lain. Ia tidak lupa Barrow,
juga tidak lupa pesan Gandalf; tapi seolah ada yang mendorongnya untuk tidak
mengacuhkan semua peringatan, dan ia sangat ingin menyerah. Bukan karena
berharap bisa melarikan diri, atau melakukan sesuatu, baik ataupun buruk: ia
hanya merasa harus mengambil Cincin itu dan memasangnya di jarinya. Ia tak
mampu berbicara. Ia merasa Sam memandangnya, seolah tahu bahwa
majikannya sedang dalam kesulitan besar, tapi Frodo tak bisa menoleh
kepadanya. Ia memejamkan mata dan berjuang untuk beberapa saat; tapi
kemudian ia tak tahan lagi. Akhirnya perlahan-lahan ia mengeluarkan rantainya,
dan menyelipkan Cincin itu di jari telunjuk tangan kirinya.
Dalam sekejap, meski semua yang lain tetap seperti sebelumnya,
remang-remang dan gelap, sosok-sosok itu menjadi jelas sekali. Ia mampu
melihat menembus selubung hitam mereka. Ada lima sosok tinggi: dua berdiri di
bibir lembah, tiga maju mendekat. Pada wajah putih mereka menyala mata yang
tajam dan tidak kenal kasihan; di bawah mantel mereka ada jubah kelabu
panjang; di atas rambut mereka yang kelabu ada topi baja dari perak; di tangan
mereka yang kurus kering ada pedang baja. Mata mereka menemukan dirinya
dan menusuknya, saat mereka lari mendekati. Dengan nekat ia menghunus
pedangnya. Pedang itu menyala merah, seperti sebatang puntung berapi. Dua
dari sosok itu berhenti. Yang ketiga lebih tinggi daripada yang lain: rambutnya
panjang mengilat, dan di atas topi bajanya ada mahkota. Di satu tangan ia
memegang pedang panjang, dan di tangan lainnya sebilah pisau; pisau dan
tangan yang memegangnya sama-sama bersinar dengan cahaya pucat. Ia
melompat maju dan menghantam Frodo.
Tepat pada saat itu Frodo melemparkan diri ke depan, ke atas tanah, dan
ia mendengar dirinya sendiri berteriak nyaring, Oh Elbereth! Gilthoniel! Pada saat
yang sama ia memukul kaki musuhnya. Teriakan nyaring terdengar di malam
kelam, dan Frodo merasa perih, seakan-akan sebatang anak panah dari es
beracun menembus pundak kirinya. Ketika pingsan, ia menangkap sekilasseolah
melalui kabut yang berputar-putar-sosok Strider meloncat keluar dari
kegelapan dengan tongkat kayu menyala di kedua tangannya. Dengan upaya
terakhir, sambil menjatuhkan pedangnya, Frodo melepaskan Cincin di jarinya
dan menggenggamnya erat-erat dalam kepalan tangannya.
BAB 12
PELARIAN KE FORD
Ketika Frodo sadar kembali, ia masih mencengkeram Cincin itu dengan erat. Ia
berbaring dekat api, yang sekarang sudah ditumpuk tinggi dan menyala terang
sekali. Ketiga kawannya membungkuk di atasnya.
"Apa yang terjadi? Di mana raja pucat itu?" tanya Frodo liar.
Sesaat mereka terlalu gembira mendengar ia berbicara, sehingga tidak
langsung menjawabnya; lagi pula, mereka tidak memahami pertanyaannya.
Akhirnya ia tahu dari Sam bahwa mereka tidak melihat apa pun, kecuali bentukbentuk
samar-samar dan gelap yang datang ke arah mereka. Mendadak dengan
ngeri Sam menyadari majikannya sudah hilang; pada scat itu sebuah bayangan
hitam berlari melewatinya, dan ia jatuh. Ia mendengar suara Frodo, tapi seakanakan
datang dari jauh sekali, atau dari bawah tanah, meneriakkan kata-kata
aneh. Mereka tidak melihat apa pun lagi, sampai mereka tersandung tubuh
Frodo yang berbaring seperti mati, wajah tertelungkup di atas rumput, dengan
pedangnya di bawahnya. Strider menyuruh mereka mengangkatnya dan
membaringkannya di dekat api, lalu ia menghilang. Sekarang semua itu sudah
cukup lama berlalu.
Sam jelas sudah mulai meragukan Strider lagi; tapi sementara mereka
berbicara, Strider kembali, muncul tiba-tiba dari kegelapan. Mereka bergerak
kaget, dan Sam menghunus pedangnya, sambil berdiri di atas Frodo; tapi Strider
dengan cepat berjongkok di sisinya.
"Aku bukan Penunggang Hitam, Sam," katanya lembut, " juga tidak
bersekongkol dengan mereka. Aku tadi berupaya mencari tahu tentang gerakan
mereka; tapi aku tidak menemukan apa pun. Aku tidak mengerti, mengapa
mereka pergi dan tidak menyerang lagi. Tapi sekarang tidak ada perasaan
tentang kehadiran mereka di mana pun."
Setelah mendengar cerita Frodo, Strider menjadi sangat khawatir. Ia
menggelengkan kepala dan mengeluh, lalu menyuruh Pippin dan Merry
memanaskan sebanyak mungkin air yang bisa mereka tampung dalam ceret
kecil mereka, dan membasuh luka Frodo dengan itu. “Jaga agar api tetap bagus,
dan usahakan Frodo tetap hangat!" katanya. Lalu ia bangkit dan berjalan
menjauh, memanggil Sam. "Rasanya sekarang aku lebih memahami hal ini,"
katanya dengan suara rendah. "Kelihatannya hanya ada lima orang di pihak
musuh. Mengapa mereka tidak semua di sini, aku tidak tahu; tapi kurasa mereka
tak menduga akan mendapat perlawanan. Mereka mundur untuk sementara.
Tapi tidak jauh. Mereka akan kembali lain kali, kalau kita tak bisa lari. Mereka
hanya menunggu, karena mengira tujuan mereka sudah hampir tercapai, dan
bahwa Cincin itu tak bisa terbang lebih jauh lagi. Aku cemas mereka mengira
majikanmu sudah mendapat luka mematikan, yang akan membuatnya menyerah
menuruti kemauan mereka. Kita lihat saja!"
Sam tercekik menahan tangis. "Jangan putus asa!" kata Strider. "Kau
harus mempercayai aku sekarang. Frodo-mu ternyata lebih tangguh daripada
yang kuduga, meski Gandalf sudah memperkirakan hal itu. Dia tidak tewas, dan
kurasa dia akan sanggup melawan kekuatan jahat dari lukanya, lebih lama
daripada yang diharapkan musuh-musuhnya. Aku akan berusaha sebisaku untuk
membantu dan menyembuhkannya. Jagalah dia baik-baik, sementara aku pergi!"
Strider bergegas pergi dan lenyap kembali ditelan kegelapan.
Frodo tertidur sebentar, meski rasa pedih dari lukanya lambat lawn semakin
berat, dan rasa dingin yang mematikan menyebar dari pundaknya ke tangan dan
sisi tubuhnya. Kawan-kawannya menjaganya, menghangatkannya, dan
membasuh lukanya. Malam berlalu perlahan dan melelahkan. Fajar mulai
merebak di langit, dan lembah kecil itu mulai dipenuhi cahaya kelabu, ketika
Strider akhirnya kembali.
"Lihat!" teriak Strider; sambil membungkuk ia memungut sebuah jubah
hitam yang tergeletak di tanah, tersembunyi kegelapan. Satu kaki di atas
kelimannya ada sayatan. "Ini bekas sapuan pedang Frodo," katanya. "Aku
khawatir ini satu-satunya cedera yang diderita musuh; karena dia tak bisa
terluka, dan semua mata pisau yang menusuk Raja mengerikan itu pasti hancur.
Yang lebih mematikan untuknya adalah nama Elbereth."
"Dan lebih mematikan untuk Frodo adalah ini!" ia membungkuk lagi dan
mengangkat sebuah pisau panjang tipis. Ada kilauan dingin di dalamnya. Saat
Strider mengangkatnya di bawah cahaya yang semakin terang, mereka
memandang keheranan, karena mata pisau itu tampaknya melebur dan lenyap
seperti asap di udara, meninggalkan pangkalnya di tangan Strider. "Aduh!"
teriaknya. "Inilah pisau terkutuk yang menimbulkan luka ini. Pada masa
sekarang, hanya sedikit orang yang punya keahlian menyembuhkan, untuk
menandingi senjata jahat seperti itu. Tapi aku akan berusaha semampuku."
Strider duduk di tanah, mengambil pangkal pisau itu dan meletakkannya
di lututnya, sambil menyanyikan lagu lambat dalam bahasa asing. Lalu ia
menyisihkan pisau itu dan berbicara dengan nada lembut kepada Frodo, dengan
kata-kata yang tak bisa ditangkap oleh yang lain. Dari tas pinggangnya ia
mengeluarkan beberapa helai daun panjang.
"Daun-daun ini," katanya, "sudah kucari jauh sekali; karena tanaman ini
tidak tumbuh di bukit-bukit gersang, melainkan di semak-semak jauh di selatan
Jalan. Aku menemukannya dalam kegelapan, dengan mencium bau daunnya." ia
menghancurkan satu dengan jarinya, dan daun itu mengeluarkan ban manis dan
pedas. "Untung aku bisa menemukannya, sebab inilah tanaman penyembuh
yang dibawa Manusia dari Barat ke Dunia Tengah. Mereka menamakannya
athelas, sekarang jarang tumbuh dan hanya ada di tempat-tempat mereka
pernah tinggal atau berkemah di masa lalu; daun ini tidak dikenal di Utara,
kecuali oleh beberapa pengembara di Belantara. Daun ini punya banyak manfaat
bagus, tapi untuk luka semacam ini mungkin kekuatan penyembuhannya tidak
seberapa."
Ia melemparkan daun-daun itu ke dalam air mendidih dan membasuh
bahu Frodo. Wangi uapnya sangat menyegarkan, dan mereka yang tidak terluka
merasa pikiran mereka menjadi tenang dan jernih. Tanaman itu juga
berpengaruh terhadap luka Frodo, sebab Frodo merasa kepedihan dan rasa
dingin membeku di sisi tubuhnya agak berkurang; tapi tangannya masih tetap
mati rasa, dan ia tak bisa mengangkat atau menggunakannya. Dengan getir ia
menyesali kebodohannya, dan mengomeli dirinya sendiri karena kelemahannya;
sekarang ia sadar bahwa dengan memakai Cincin itu ia bukan mengikuti
hasratnya sendiri, melainkan mengikuti kemauan Musuh yang menguasainya. Ia
bertanya dalam hati, apakah ia akan selamanya cacat, dan bagaimana mereka
akan berhasil meneruskan perjalanan. Ia merasa terlalu lemah untuk berdiri.
Yang lainnya juga sedang membahas pertanyaan tersebut. Mereka
mengambil keputusan cepat untuk meninggalkan Weathertop sesegera mungkin.
"Kurasa musuh sudah mengawasi tempat ini sejak lama,” kata Strider. "Kalau
Gandalf pernah ke sini, maka dia terpaksa menyingkir dan tidak akan kembali.
Bagaimanapun, kita akan berada dalam bahaya besar di sini setelah gelap, sejak
penyerangan semalam. Kalaupun kita pergi, hampir tak mungkin kita bertemu
bahaya yang lebih besar."
Begitu hari terang, mereka makan tergesa-gesa dan berkemas. Frodo tak
mampu berjalan, maka mereka membagi bagian terbesar bawaan mereka di
antara mereka berempat, dan menempatkan Frodo di alas kuda. Dalam
beberapa hari terakhir, hewan malang itu sudah banyak mengalami kemajuan; ia
bahkan sudah kelihatan lebih gemuk dan kuat, dan mulai menunjukkan rasa
sayang kepada majikan-majikannya yang baru, terutama Sam. Pasti perlakuan
Bill Ferny kepadanya buruk sekali, sampai-sampai perjalanan di hutan malah
terasa jauh lebih baik daripada kehidupannya yang lama.
Mereka berangkat ke arah selatan. Ini berarti harus menyeberangi Jalan,
tapi itulah rute tercepat untuk sampai ke wilayah yang lebih banyak hutannya.
Dan mereka butuh makanan; karena Strider mengatakan Frodo harus tetap
hangat, terutama di malam hari, sementara api bisa memberikan perlindungan
bagi mereka semua. Strider juga berniat memperpendek perjalanan mereka
dengan memotong satu lagi lengkungan besar Jalan; ke arah timur melewati
Weathertop, jalan itu berubah haluan dan membelok lebar ke arah utara.
Mereka berjalan perlahan dan hati-hati mengitari lereng bukit sebelah barat
daya, dan setelah beberapa saat mereka sampai ke pinggir jalan. Tak ada tandatanda
adanya para Penunggang. Tapi sementara bergegas menyeberangi Jalan,
mereka mendengar dua teriakan di kejauhan: sebuah suara dingin memanggil
dan suara dingin lain menjawab. Dengan gemetar mereka melompat dan berlari
ke belukar yang ada di depan. Tanah di depan mereka melandai ke selatan, tapi
liar dan tak ada jejak jalan: semak-semak dan pohon-pohon kerdil tumbuh dalam
kerumunan rapat, dengan banyak tempat kosong di antaranya. Rumput jarang
sekali, kasar dan kelabu; dan dedaunan di semak-semak sudah pudar dan
rontok. Suatu wilayah yang tidak menyenangkan. Mereka hanya berbicara
sedikit, sambil berjalan susah payah. Frodo sangat sedih ketika melihat mereka
berjalan dengan kepala tertunduk dan Punggung bungkuk dibebani bawaan.
Bahkan Strider tampak letih dan tidak bersemangat.
Sebelum perjalanan hari pertama selesai, rasa sakit Frodo semakin
bertambah, tapi ia tidak mengungkapkannya untuk waktu lama. Empat hari
berlalu, tanpa banyak perubahan pada tanah ataupun pemandangan, kecuali
bahwa di belakang mereka Weathertop tenggelam perlahan-lahan, dan di depan
mereka pegunungan di kejauhan semakin dekat. Namun sejak bunyi teriakan
tadi, mereka tidak melihat atau mendengar tanda bahwa musuh sudah
mengetahui pelarian mereka atau mengejar mereka. Mereka merasa takut pada
saat-saat gelap, dan bergantian berjaga berpasangan di malam hari, setiap saat
mengira akan melihat sosok-sosok hitam mengikuti mereka di malam kelabu,
disinari samar-samar oleh bulan yang terselubung awan; tapi mereka tidak
melihat apa pun, tidak mendengar suara kecuali desiran daun dan rumput layu.
Tak sekali pun mereka merasakan kehadiran kejahatan yang menyerang mereka
sebelum penyerbuan di lembah. Rasanya terlalu berlebihan untuk berharap
bahwa para Penunggang itu sudah kehilangan jejak mereka lagi. Mungkin
mereka sedang menunggu untuk menghadang di suatu tempat sempit?
Pada akhir hari kelima, tanah sekali lagi mulai menanjak landai, keluar
dari lembah lebar yang telah mereka turuni. Strider sekarang memutar arah
mereka ke timur laut lagi, dan pada hari keenam mereka sampai di puncak
sebuah lereng yang mendaki panjang, dan melihat di kejauhan sekelompok bukit
berhutan. Jauh di bawah mereka terlihat Jalan menyapu melingkari kaki bukitbukit
itu; dan di sebelah kanan mereka, sebuah sungai kelabu berkilau pucat di
bawah sinar matahari yang tipis. Di kejauhan mereka melihat sungai lain lagi, di
lembah berbatu yang setengah terselubung kabut.
"Aku khawatir kita terpaksa kembali ke Jalan untuk beberapa waktu," kata
Strider. "Sekarang kita sudah sampai di Sungai Hoarwell, yang oleh bangsa Peri
disebut Mitheithel. Sungai ini mengalir keluar dari Ettenmoors, dataran tinggi
berbatu tempat bangsa troll di sebelah utara Rivendell, dan bergabung dengan
Loudwater di Selatan. Beberapa orang menyebutnya Greyflood setelah itu.
Sungainya besar sekali sebelum bermuara di Laut. Tak ada jalan melintasi
sumbernya di Ettenmoors, kecuali melewati Jembatan Terakhir yang dilintasi
Jalan."
"Sungai apa itu yang jauh di sana?" tanya Merry.
"Itu Loudwater, Bruinen dari Rivendell," jawab Strider. "Jalan menyusuri
pinggiran bukit, sepanjang beberapa mil dari Jembatan, sampai ke Ford di
Bruinen. Tapi aku belum memikirkan bagaimana kita akan menyeberangi sungai
itu. Satu per satu sajalah! Kita akan beruntung kalau tidak ada rintangan
menghadang di Jembatan Terakhir."
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka turun lagi ke pinggir Jalan. Sam dan
Strider berjalan di muka, tapi tidak menemukan tanda-tanda pelancong ataupun
penunggang kuda. Di sini, di bawah bayangan pepohonan, hujan sudah turun
beberapa waktu yang lalu. Strider memperkirakan hujan itu jatuh dua hari yang
lalu, dan sudah menghilangkan semua jejak kaki. Tidak ada penunggang kuda
yang lewat, sejauh ia bisa melihat.
Mereka bergegas secepat mungkin, dan setelah satu-dua mil mereka
melihat Jembatan Terakhir di depan, pada dasar lereng pendek yang curam.
Mereka takut akan melihat sosok-sosok hitam menunggu di sana, tapi ternyata
tidak ada satu pun. Strider menyuruh mereka bersembunyi di dalam belukar di
sisi Jalan, sementara ia main untuk menyelidiki.
Tak berapa lama kemudian, ia bergegas kembali. "Aku tidak melihat
tanda-tanda ada musuh," katanya, "dan aku sangat ingin tahu apa artinya itu.
Tapi aku menemukan sesuatu yang sangat aneh."
Ia mengulurkan tangannya, dan menunjukkan sebutir permata hijau pucat.
"Aku menemukannya di dalam lumpur di tengah Jembatan," katanya. "Ini beryl,
batu permata Peri. Apakah memang diletakkan di sana, atau jatuh tanpa
sengaja, aku tidak tahu; tapi ini memberiku harapan. Aku akan menganggapnya
tanda bahwa kita boleh melewati Jembatan; tapi di luar itu aku tidak berani tetap
berjalan di Jalan, tanpa suatu tanda yang lebih jelas."
Segera mereka berjalan lagi. Mereka menyeberangi Jembatan dengan selamat,
tidak mendengar bunyi apa pun kecuali bunyi air berputar-putar menabrak ketiga
lengkungan jembatan itu. Satu mil dari sana mereka menjumpai sebuah jurang
yang menjulur ke arah utara, melewati tanah terjal di sebelah kiri Jalan. Di sini
Strider membelok, dan segera mereka hilang di tengah negeri suram dengan
pohon-pohon gelap berbelok-belok melalui kaki perbukitan yang cemberut.
Para hobbit senang meninggalkan negeri yang muram dan Jalan yang
berbahaya di belakang mereka; tapi negeri baru ini malah tampak mengancam
dan tidak ramah. Saat mereka maju, bukit-bukit di sekitar mereka semakin tinggi.
Di sana-sini, di atas dataran tinggi dan punggung bukit, mereka menangkap
sekilas pemandangan tembok-tembok batu kuno dan puing-puing menara:
mereka tampak mengancam. Frodo, yang tidak berjalan kaki, mempunyai waktu
untuk memandang ke depan dan berpikir. Ia ingat cerita Bilbo tentang
perjalanannya dan menara-menara mengancam di perbukitan sebelah utara
Jalan, di negeri dekat hutan Troll, di mana ia mengalami petualangan seriusnya
yang pertama. Frodo menduga sekarang mereka berada di wilayah yang sama,
dan ia bertanya dalam hati, apakah mungkin mereka akan lewat di dekat tempat
yang sama.
"Siapa yang tinggal di negeri ini?" tanya Frodo. "Dan siapa yang
membangun menara-menara ini? Apakah ini negeri troll?"
"Bukan!" kata Strider. "Troll tidak membangun. Tidak ada yang hidup di
negeri ini. Manusia pernah tinggal di sini, berabad-abad yang lalu; tapi sekarang
tidak ada lagi. Mereka menjadi bangsa jahat, menurut dongeng-dongeng, karena
mereka jatuh di bawah bayangan Angmar. Tapi semua musnah dalam perang
yang membawa Kerajaan Utara ke kehancurannya. Tapi itu sudah begitu lama
berlalu, hingga bukit-bukit pun sudah melupakan mereka, meski bayangan gelap
masih menggantung di atas negeri ini."
"Di mana kau belajar kisah-kisah seperti itu, kalau semua negeri kosong
dan pelupa?" tanya Peregrin. "Burung-burung dan hewan tidak menceritakan
kisah-kisah semacam itu."
"Pewaris-pewaris Elendil tidak lupa semua kejadian di masa lalu," kata
Strider, "dan banyak lagi hal yang bisa kuceritakan masih diingat di Rivendell."
"Seringkah kau ke Rivendell?" tanya Frodo.
"Sering," kata Strider. "Aku pernah tinggal di sana, dan aku masih kembali
ke sana kalau bisa. Hatiku ada di sana; tapi bukan takdirku untuk duduk diam,
meski di rumah indah milik Elrond."
Sekarang mereka mulai dikurung perbukitan. Jalan di belakang mereka masih
tetap menuju Sungai Bruinen, tapi keduanya sekarang tertutup dari pandangan.
Para pelancong itu masuk ke sebuah lembah panjang; sempit, dengan belahan
dalam, gelap, dan sepi. Pohon-pohon dengan akar-akar tua dan terpelintir
menggantung di atas batu karang, dan menumpuk di belakang menjadi lereng
hutan cemara yang mendaki.
Para hobbit mulai kelelahan. Mereka maju sangat lambat, karena terpaksa
memilih, jalan melalui' pedalaman, dibebani pohon-pohon tumbang dan batubatu
yang terguling. Selama mungkin mereka menghindari mendaki, demi Frodo,
dan karena memang sulit untuk mencari jalan naik keluar dari lembah-lembah
sempit itu. Mereka sudah dua hari berada di negeri itu ketika cuaca menjadi
basah. Angin mulai berembus terus dari Barat, mencurahkan air dari lautan jauh
ke atas kepala-kepala bukit yang gelap, dalam hujan rintik-rintik yang membuat
basah kuyup. Di malam hari mereka semua basah kuyup, dan mereka bermalam
dengan muram, karena tidak berhasil menyalakan api. Hari berikutnya
perbukitan semakin tinggi dan lebih terjal di depan mereka, dan mereka terpaksa
berbalik ke utara, keluar dari jalur arah semula. Strider rupanya mulai cemas:
mereka sudah hampir sepuluh hari keluar dari Weathertop, dan persediaan
makanan sudah sangat menipis. Hujan terus turun.
Malam itu mereka bermalam di suatu dataran berbatu, dengan tembok
batu karang di belakang, di mana ada sebuah gua pendek, hanya semacam
cekungan di dalam batu karang. Frodo resah. Hawa dingin dan basah membuat
lukanya semakin pedih, rasa sakit dan dingin yang mematikan menghilangkan
kantuk. Ia berbaring gelisah, can mendengarkan bunyi-bunyi malam dengan
perasaan takut: angin di celah-celah pecahan batu karang, air menetes, keriutan,
bunyi geletar jatuh batu yang tiba-tiba terlepas. Ia merasa ada sosok-sosok
hitam mendekat untuk mencekiknya, tapi ketika ia bangkit duduk, ia tidak melihat
apa pun kecuali punggung Strider yang duduk meringkuk, mengisap pipanya,
dan berjaga. Ia berbaring lagi dan bermimpi buruk, di mana ia berjalan di
halaman rumput kebunnya di Shire, tapi halaman itu kelihatan kabur dan samarsamar,
kurang jelas dibanding dengan bayangan-bayangan tinggi hitam yang
berdiri memandang dari atas pagar.
Di pagi hari ia terbangun, dan menyadari hujan sudah berhenti. Awan-awan
masih tebal, tapi sudah pecah, dan serpihan-serpihan biru muncul di antaranya.
Angin berubah arah lagi. Mereka tidak berangkat pagi-pagi. Segera sesudah
sarapan yang dingin dan tidak enak, Strider pergi sendirian, menyuruh yang lain
tetap di bawah perlindungan sebuah batu karang, sampai ia kembali. Ia akan
mendaki, kalau bisa, dan mempelajari letak tanah.
Ketika kembali, ia tidak membawa berita gembira. "Kita sudah terlalu jauh
ke utara," katanya, "dan kita harus menemukan cara untuk balik arah ke selatan
lagi. Kalau tetap pada arah sekarang ini, kita akan sampai di Ettendales, jauh di
utara Rivendell. Itu negeri troll, dan tidak begitu kukenal. Mungkin kita bisa
mencari jalan untuk lewat dan sampai di Rivendell dari utara; tapi itu akan makan
waktu terlalu lama, karena aku tidak tahu jalannya, dan makanan kita tidak akan
cukup. Jadi, bagaimanapun kita harus menemukan Ford Bruinen."
Sisa hari itu mereka habiskan dengan merangkak di tanah berbatu.
Mereka menemukan jalan di antara dua bukit yang membawa mereka kt sebuah
lembah yang menjulur ke tenggara, arah yang mereka ingin ambil; tetapi,
menjelang penghujung hari, jalan mereka dihadang punggung dataran tinggi;
pinggirannya yang gelap, pada latar belakang langit, terpecah ke dalam banyak
ujung, seperti gigi-gigi gergaji tumpul. Hanya ada dua pilihan: balik arah atau
mendakinya.
Mereka memutuskan mencoba mendakinya, tapi ternyata sangat sulit.
Tak lama kemudian, Frodo terpaksa turun dari kuda dan berjuang dengan
berjalan kaki. Meski begitu, mereka putus asa menaikkan kuda mereka, atau
bahkan mencari jalan untuk mereka sendiri, dengan dibebani begitu banyak
barang. Cahaya hampir hilang, dan mereka semua kelelahan, ketika akhirnya
mereka mencapai puncak. Mereka naik ke atas sebuah pelana sempit di antara
dua puncak yang lebih tinggi, dan tanah turun lagi dengan curam, sedikit lebih
jauh dari sana. Frodo melemparkan tubuhnya ke tanah, dan berbaring menggigil
di sana. Tangan kirinya lumpuh, sisi tubuh serta pundaknya serasa dicengkeram
cakar sedingin es. Pohon-pohon dan batu-batu di sekitarnya terlihat kabur dan
kelam.
"Kita tak bisa pergi lebih jauh lagi," kata Merry pada Strider. "Aku khawatir
ini sudah terlalu berat untuk Frodo. Aku sangat cemas tentang dia. Apa yang
harus kita lakukan? Menurutmu, apakah mereka akan bisa menyembuhkannya
di Rivendell, kalau kita bisa sampai ke sana?"
"Kita lihat saja nanti," kata Strider. "Tak ada lagi yang bisa kulakukan di
belantara; dan justru karena lukanya, aku sangat ingin terus maju. Tapi aku
setuju, kita tak bisa berjalan lebih jauh lagi malam ini."
"Apa masalahnya dengan majikanku?" tanya Sam dengan suara rendah,
memandang memohon pada Strider. "Lukanya kecil, dan sudah tertutup. Tidak
ada yang kelihatan, kecuali bekas putih di pundaknya."
"Frodo sudah disentuh senjata Musuh," kata Strider, "dan ada semacam
racun atau kekuatan jahat yang berada di luar kemampuanku untuk
menyembuhkan. Tapi jangan putus harapan, Sam!"
Malam di atas punggung bukit dingin sekali. Mereka menyalakan api kecil di
bawah akar-akar kasar sebatang cemara yang menggantung di atas sebuah
sumur dangkal; tampaknya seperti bekas tambang penggalian batu. Mereka
duduk bersama. Angin bertiup dingin melewati celah, dan mereka mendengar
puncak-puncak pepohonan di bawah mengerang dan mengeluh. Frodo berbaring
setengah bermimpi, membayangkan sayap-sayap gelap yang tak henti-henti
terbang melayang di atasnya, dan di atas sayap terbanglah para pengejar yang
mencarinya di semua celah bukit
Pagi merekah cerah dan indah; udara bersih, tampak cahaya pucat dan
jernih di langit yang sudah dibasuh hujan. Semangat mereka bangkit, tapi
mereka mendambakan matahari untuk menghangatkan anggota tubuh yang
kedinginan. Setelah hari terang, Strider membawa Merry bersamanya dan pergi
mempelajari tanah dari ketinggian, sampai sebelah timur celah. Matahari sudah
terbit dan sudah bersinar terang ketika ia kembali dengan kabar yang lebih
menggembirakan. Sekarang mereka sudah berjalan kurang-lebih ke arah yang
benar. Kalau mereka meneruskan perjalanan, menuruni sisi sebelah sana
punggung bukit, Pegunungan akan berada di sebelah kiri mereka. Tak jauh di
depan, Strider sudah melihat sekilas Loudwater lagi, dan ia tahu bahwa, meski
tersembunyi dari pandangan, Jalan ke arah Ford tidak jauh dari Sungai dan
terletak pada sisi yang paling dekat dengan mereka.
"Kita harus pergi ke Jalan lagi," kata Strider. "Kita tak bisa mengharapkan
menemukan jalan melewati bukit-bukit ini. Bahaya apa pun yang ada di sana,
Jalan itu adalah satu-satunya cara kita untuk sampai di Ford."
Selesai makan, mereka langsung berangkat. Perlahan mereka menuruni sebelah
selatan punggung bukit: tapi jalan itu jauh lebih mudah daripada yang mereka
duga, karena lerengnya tidak begitu terjal pada sisi ini, dan tak lama kemudian
Frodo bisa menunggang kuda lagi. Kuda Bill Ferny yang malang ternyata punya
bakat tak terduga untuk mencari jalan, dan untuk sebisa mungkin menghindari
penunggangnya terguncang-guncang. Semangat rombongan itu kembali
meningkat. Bahkan Frodo merasa agak baikan dalam cahaya pagi, tapi
sebentar-sebentar kabut seolah menghalangi pandangannya, dan ia menyeka
matanya.
Pippin agak lebih di depan yang lainnya. Tiba-tiba ia menoleh dan
memanggil mereka. "Ada jalan di sini!" teriaknya.
Ketika mereka berdiri sejajar dengannya, mereka melihat Pippin tidak
salah: di sana dengan jelas ada awal sebuah jalan, yang mendaki berkelok-kelok
keluar dari hutan di bawah, dan menghilang di atas puncak bukit di belakang. Di
beberapa tempat ia agak kabur dan dipenuhi tanaman, atau sesak dengan batubatu
dan pohon-pohon tumbang, tapi tampaknya pernah ramai digunakan. Jalan
itu sudah dibuat oleh tangan-tangan kuat dan kaki berat. Di sana-sini pohonpohon
lama sudah ditebang atau dipatahkan, dan batu-batu besar dibelah atau
digulingkan ke pinggir untuk membuka jalan.
Mereka mengikuti jalan itu untuk beberapa saat, karena merupakan jalan
termudah untuk turun, tapi mereka berjalan hati-hati, dan kecemasan mereka
semakin bertambah ketika mereka masuk ke hutan yang gelap, dan jalan itu
semakin jelas dan lebar. Mendadak jalan itu keluar dari segerombolan pohon
cemara, menurun curam di sebuah lereng, dan membelok tajam ke kin',
mengitari pojok sebuah punggung bukit berbatu. Ketika sampai ke pojok itu,
mereka melayangkan pan_ dang ke sekeliling dan melihat bahwa jalan itu
menjulur terus di tanah datar, di bawah sebuah karang rendah yang dipenuhi
pohon. Di tembok bebatuan ada sebuah pintu yang menggantung miring terbuka
pada satu engselnya.
Di luar pintu itu mereka semua berhenti. Ada sebuah gua atau liang batu
karang di belakangnya, tapi dalam keremangan tak ada yang terlihat. Strider,
Sam, dan Merry mendorong sekuat tenaga, dan berhasil membuka pintu lebih
lebar, lalu Strider dan Merry masuk. Mereka tidak pergi jauh, karena di lantai
bertebaran banyak tulang-belulang, dan tidak ada yang terlihat dekat pintu
masuk, kecuali beberapa guci kosong dan pot-pot pecah.
"Pasti ini gua troll, kalau itu memang ada!" kata Pippin. "Keluar, kalian
berdua, dan mari kita pergi. Sekarang kita tahu siapa yang membuat jalan ini,
dan sebaiknya kita secepatnya keluar dari sini."
"Tak perlu, kukira," kata Strider, yang keluar dari gua. "Memang ini
sebuah lubang troll, tapi kelihatannya sudah lama ditinggalkan. Kurasa kita tak
perlu takut. Tapi kita harus turun terus dengan hati-hati, dan nanti kita lihat saja."
Jalan itu berlanjut lagi dan pintu, dan membelok ke kanan lagi, melintasi
tanah datar, terjun menuruni lereng yang berhutan rapat. Pippin, yang tidak mau
menunjukkan pada Strider bahwa ia masih takut, berjalan di depan dengan
Merry. Sam dan Strider di belakang mereka, mengapit kuda Frodo, karena jalan
itu tidak cukup lebar untuk empat atau lima hobbit berjalan satu baris. Mereka
belum berjalan jauh ketika Pippin datang berlari, disusul Merry. Mereka berdua
tampak ketakutan.
"Ada troll!" Pippin berkata terengah-engah. "Di bawah, di tempat terbuka
di hutan, tidak jauh dari sini. Kami melihatnya dari antara batang-batang pohon.
Mereka besar sekali!"
"Kita akan pergi melihat mereka," kata Strider sambil memungut sebuah
tongkat. Frodo tidak mengatakan apa-apa, tapi Sam kelihatan takut.
Matahari sekarang sudah tinggi, dan bersinar melalui ranting-ranting pohon yang
sudah setengah gundul, menyinari tempat terbuka itu dengan bercak-bercak
cahaya terang. Mereka berhenti tiba-tiba di pinggiran, dan mengintip melalui
batang-batang pohon, sambil menahan napas. Di sana berdiri troll-troll: tiga troll
besar. Satu membungkuk, dan dua yang lain berdiri memandangnya.
Strider berjalan maju dengan tak acuh. "Bangun, batu kuno!" katanya, dan
ia mematahkan tongkatnya ke alas troll yang membungkuk.
Tidak terjadi apa-apa. Para hobbit terenyak kaget, lalu Frodo tertawa.
"Well!" katanya. "Rupanya kita lupa sejarah keluarga kita! Ini pasti ketiga troll
yang ditangkap Gandalf ketika mereka sedang bertengkar tentang cara yang
tepat untuk memasak tiga belas Kurcaci dan satu hobbit."
"Aku sama sekali tidak tahu kita sudah berada di dekat tempat itu!" kata
Pippin. Ia kenal betul kisah itu. Bilbo dan Frodo sudah cukup sering
menceritakannya; tapi sebenarnya ia hanya setengah percaya. Bahkan sekarang
ia memandang troll-troll dan batu itu dengan penuh curiga, bertanya-tanya
apakah karena sihir mereka jangan-jangan hidup lagi.
"Kalian bukan hanya lupa sejarah keluarga kalian, tapi semua yang
pernah kalian ketahui tentang troll," kata Strider. "Saat ini tengah hari, dan
matahari bersinar cerah, tapi kalian mencoba menakut-nakutiku dengan cerita
ada troll hidup menunggu kita di tempat terbuka ini! Pasti kalian sudah melihat,
pada salah satu dan mereka ada sarang burung lama di belakang telinganya. Itu
perhiasan yang sangat tidak lazim untuk troll hidup!"
Mereka semua tertawa. Frodo merasa semangatnya bangkit lagi: ingatan
akan petualangan sukses Bilbo yang pertama sangat membesarkan hati.
Matahari juga terasa hangat menghibur, dan kabut di depan matanya tampak
agak tersingkap. Mereka beristirahat sejenak di tempat terbuka itu, dan makan
siang di bawah bayangan kaki troll yang besar.
"Adakah yang mau menyanyi untuk kita, sementara matahari masih
tinggi?" kata Merry ketika mereka selesai. "Sudah berhari-hari kita tidak
mendengar lagu atau cerita."
"Tidak sejak Weathertop," kata Frodo. Yang lain memandangnya. Jangan
khawatir tentang aku!" tambahnya. "Aku merasa jauh lebih baik, tapi rasanya aku
tak bisa menyanyi. Mungkin Sam bisa menggali sesuatu dari ingatannya."
"Ayo, Sam!" kata Merry. "Kau punya banyak materi di dalam kepalamu,
melebihi yang kauperlihatkan."
"Entah ya," kata Sam. "Tapi bagaimana kalau yang ini? Ini bukan puisi
betulan, kalau kau paham: hanya sedikit omong kosong. Tap, patung-patung
kuno ini mengingatkanku pada ini." Sambil berdiri, dengan tangan di belakang
punggung, seolah berada di sekolah, ia mulai menyanyikan lagu lama.
Troll duduk sendirian di kursi batu,
Menggigit dan mengunyah tulang kaku;
Bertahun-tahun sudah menggigit tanpa lelah,
Karena daging susah didapat.
Babat! Rapat!
Troll tinggal sendirian di gua bukit batu,
Dan daging susah didapat.
Datang Tom bersepatu bot besar.
Katanya kepada Troll: "Maaf, apa yang kaukunyah itu?
Kok seperti tulang kering pamanku Tim,
Yang mestinya berbaring di kuburan.
Pelataran! Halaman!
Sudah lama pamanku mati,
Dan kukira dia di dalam kuburan."
"Anakku, " kata Troll, "tulang ini aku curi.
Tapi tulang dalam lubang tentu tak berarti.
Pamanmu sudah kaku seperti bongkah batu,
Sebelum aku menemukan tulangnya.
Tulangnya! Belulangnya!
Dia bisa kasih satu pada troll tua malang ini,
Karena dia tidak butuh tulang keringnya."
Kata Tom, "Aku tidak paham, kenapa yang semacam kau ini
Mengambil seenaknya, tanpa permisi
Tulang kering sanak ayahku;
Tulang tua itu, kembalikan!
Pakan! Lakan!
Tulang itu miliknya, meski dia sudah mati;
Jadi tulang itu kembalikan!"
“Supaya lebih kenyang," kata Troll sambil tertawa,
"kumakan kau sekalian, berikut tulang keringmu juga.
Sedikit daging sebag bisa membuatku bugar!
Kucoba gigiku padamu sekarang.
Ha sekarang! Lihat sekarang!
Aku jemu mengunyah tulang dan kulit lama;
Aku ingin makan kau sekarang."
Mangsa sudah tertangkap, begitu dikiranya,
Ternyata hanya angin dalam, genggamannya.
Sebelum ia sadar, Tom sudah menghindar
Dengan sepatu bot menendangnya.
Tendang dia! Kemplang dia!
Pikir Tom, tendangkan sepatu bot di pantatnya,
Biar dia tahu rasa.
Tapi... aduh, kerasnya daging dan tulang troll itu,
Lebih keras daripada bukit batu.
Ditendang berkali-kali, tidak berarti sama sekali,
Pantat troll tidak merasa apa-apa.
K'rasa apa! B'rasa apa!
Mendengar Tom mengerang, Troll tua merasa sangat lucu
Kar'na ia tahu, kaki Toni sakit luar biasa.
Kaki Tom kalah, dia pun pulanglah,
Dan kakinya tanpa bot lumpuh sudah;
Tapi Troll tak peduli, dan masih duduk sendiri,
Dengan tulang yang dicuri dari pemiliknya.
Biliknya! Ciliknya!
Pantat Troll masih sama,
Dan tulang yang dicuri dari pemiliknya!
"Wah, itu peringatan untuk kita semua!" tawa Merry. "Untung kau
menggunakan tongkat, dan bukan tanganmu, Strider!"
"Di mana kaudengar itu, Sam?" tanya Pippin. "Aku belum pernah dengar
kata-kata itu."
Sam bergumam tidak jelas. "Itu keluar dari kepalanya sendiri, tentu," kata
Frodo. "Aku belajar banyak tentang Sam Gamgee dalam perjalanan ini. Mulamula
dia bersekongkol, sekarang dia melawak. Nanti dia akan menjadi tukang
sihir... atau pejuang!"
"Kuharap tidak," kata Sam. "Aku tidak ingin menjadi salah satu!"
Di siang hari, mereka berjalan terus ke hutan. Mungkin mereka menapak tilas
jalan yang dipakai bertahun-tahun lalu oleh Gandalf, Bilbo, dan para Kurcaci.
Setelah beberapa mil, mereka keluar di puncak tebing tinggi di atas Jalan. Pada
titik ini, Jalan sudah meninggalkan Hoarwell jauh di belakang, di lembahnya yang
sempit, dan sekarang menempel dekat ke kaki bukit, menjulur dan berbelokbelok
ke arah timur di antara pohon-pohon dan lereng tertutup tanaman heather
yang menurun ke arah Ford dan Pegunungan. Tak jauh dari tebing, Strider
menunjuk sebuah batu di tengah rumput. Di atasnya bisa terlihat lambanglambang
rune para Kurcaci dan tanda-tanda rahasia, tergores kasar dan sudah
termakan cuaca.
"Lihat!" kata Merry. "Itu pasti batu yang menandai tempat emas para troll
disembunyikan. Berapa sisa bagian Bilbo, Frodo?"
Frodo memandang batu itu, dan berharap Bilbo dulu tidak membawa
pulang harta yang lebih berbahaya dan sulit dilepaskan. "Tidak ada yang
tersisa," kata Frodo. "Bilbo membagi-bagikan semuanya. Katanya dia merasa
harta itu sebenamya bukan miliknya, karena datang dari para perampok."
Jalan itu sepi di bawah bayang-bayang panjang senja yang datang lebih awal.
Tak ada tanda-tanda pelancong lain. Karena tidak ada arah -lain yang bisa
diambil, mereka menuruni tebing dan membelok ke kiri, berjalan secepat
mungkin. Dengan segera tampak sebuah punggung bukit, menghalangi cahaya
matahari yang terbenam dengan cepat. Angin dingin mengalir ke bawah,
menyambut mereka dari pegunungan di depan.
Mereka mulai mencari tempat bermalam di luar Jalan, namun mendadak
terdengar bunyi yang membuat rasa takut kembali merayapi hati mereka: bunyi
derap kaki kuda di belakang. Mereka menoleh, tapi tak bisa melihat jauh karena
Jalan itu banyak membelok dan turun-naik. Secepat mungkin mereka merangkak
keluar dari jalan dan masuk ke semak-semak heather dan belukar berry di
lereng-lereng di atas, sampai tiba di sebuah kerumunan hazel yang tumbuh
lebat. Saat mengintip ke luar dari semak-semak, mereka bisa melihat Jalan,
samar-samar dan kelabu dalam cahaya yang sudah mulai suram, sekitar tiga
puluh kaki di bawah sana. Bunyi derap kaki kuda semakin dekat. Derap
langkahnya cepat, dengan bunyi klipeti-klipeti-klip ringan. Lalu samar-samar,
seolah menjauh terembus angin, mereka mendengar dering redup, seperti bunyi
bel-bel kecil berdenting.
"Kedengarannya bukan bunyi kuda Penunggang Hitam!" kata Frodo,
mendengarkan dengan cermat. Hobbit-hobbit yang lain juga berharap demikian,
tapi mereka masih curiga. Mereka sudah begitu lama hidup dalam ketakutan
dikejar, sampai-sampai setiap bunyi dari belakang kedengaran mengancam dan
tidak ramah. Tapi sekarang Strider mencondongkan badan ke depan,
membungkuk ke tanah, dengan satu tangan di dekat telinga, dan pandangan
gembira pada wajahnya.
Cahaya memudar, dan dedaunan di semak-semak bergemersik lembut.
Bunyi bel-bel All jadi lebih jelas dan semakin dekat, dan klipeti-klip datanglah
kaki-kaki yang cepat. Tiba'-tiba terlihat seekor kuda putih, mengilap dalam
keremangan, berlari kencang. Dalam cahaya senja, tali kekangnya mengilat dan
gemerlap, seolah bertaburan permata bintang-bintang yang hidup. Jubah
penunggangnya berkibar-kibar di belakang, dan kerudungnya terbuka;
rambutnya yang keemasan mengalun kemilau dalam angin kecepatannya. Frodo
melihat seakan-akan ada cahaya putih yang bersinar dari dalam pakaian dan
sosok penunggang itu, seolah menembus selubung tipis.
Strider melompat keluar dari persembunyian dan berlari kembali ke Jalan,
melompat sambil berteriak melintasi semak-semak heather; tapi bahkan sebelum
ia bergerak atau memanggil, penunggang itu sudah menghentikan kudanya dan
berhenti, menengadah ke arah belukar tempat mereka berdiri. Ketika melihat
Strider, ia turun dari kudanya dan berlari ke arahnya sambil berteriak, Ai na vedui
Dunadan! Mae govannen! Bahasanya dan suaranya yang berdering jernih tidak
menimbulkan keraguan lagi dalam hati mereka: penunggang itu dari bangsa
Peri. Tak ada bangsa lain di dunia yang mempunyai suara yang begitu indah
didengar. Tapi tampaknya ada nada ketergesaan atau ketakutan dalam
teriakannya, dan sekarang mereka melihat ia berbicara cepat dan mendesak
kepada Strider.
Segera Strider memanggil mereka, lalu para hobbit meninggalkan semaksemak
dan bergegas turun ke Jalan. "Ini Glorfindel, yang tinggal di rumah
Elrond," kata Strider.
"Salam, dan selamat bertemu akhirnya!" kata Pangeran Peri itu kepada
Frodo. "Aku dikirim dari Rivendell untuk mencarimu. Kami khawatir kalian dalam
bahaya di jalan."
"Kalau begitu, Gandalf sudah sampai di Rivendell?" seru Frodo gembira.
"Belum. Dia belum datang ketika aku berangkat, tapi itu sudah sembilan
hari yang lalu," jawab Glorfindel. "Elrond menerima berita yang membuatnya
cemas. Beberapa dari bangsaku, yang mengembara d" negerimu di luar
Baranduin (Sungai Brandywine), mendengar bahwa ada masalah, dan segera
mengirimkan pesan secepat mungkin. Kata mereka, Kaum Sembilan sudah di
luar negeri mereka sendiri, dan bahwa kalian berkeliaran dengan membawa
beban berat tanpa panduan, karena Gandalf belum kembali. Hanya sedikit di
Rivendell yang bisa melawan Kaum Sembilan dengan terbuka; tapi yang ada,
dikirim Elrond ke utara, barat, dan selatan. Sudah diperkirakan kalian akan
mengambil jalan memutar jauh demi menghindari pengejaran, dan tersesat di
belantara.
"Tugasku adalah mengambil Jalan ini, dan aku sampai di Jembatan
Mitheithel, serta meninggalkan tanda di sana, kira-kira hampir tujuh hari yang
lalu. Tiga anak buah Sauron ada di atas Jembatan itu, tapi mereka menarik diri
dan aku mengejar mereka ke arah barat. Aku juga bertemu dua yang lain, tapi
mereka berbalik arah ke selatan. Sejak itu aku mencari jejak kalian. Dua hari
yang lalu aku menemukannya, dan mengikutinya melintasi Jembatan; hari ini aku
mengamati di mana kalian turun lagi dari perbukitan. Tapi ayolah! Tidak ada
waktu untuk berita lebih banyak. Karena kalian ada di sini, kita harus mengambil
risiko bahaya di Jalan dan pergi. Ada lima di belakang kita, dan kalau mereka
menemukan jejak kalian di Jalan, mereka akan menyusul kita bagai angin. Dan
mereka belum semuanya. Di mana empat yang lain, aku tidak tahu. Aku khawatir
Ford sudah diduduki untuk mencegat kita."
Sementara Glorfindel berbicara, kegelapan turun semakin dalam. Frodo
merasa keletihan berat menyergapnya. Sejak matahari mulai terbenam, kabut di
depan matanya semakin pekat, dan ia merasa ada bayang-bayang timbul di
antara dirinya dan wajah kawan-kawannya. Sekarang rasa pedih menyerangnya,
dan ia merasa dingin. Ia terhuyung, dan memegang tangan Sam.
"Majikanku sakit dan terluka," kata Sam marah. "ia tidak bisa meneruskan
naik kuda setelah malam tiba. Dia butuh istirahat."
Glorfindel menangkap Frodo yang terkulai ke tanah, dan sambil
mengangkatnya dengan lembut ke dalam pelukannya, ia memandang wajah
Frodo dengan kecemasan mendalam.
Dengan singkat Strider menceritakan penyerangan terhadap kemah
mereka di bawah Weathertop, dan tentang pisau mematikan itu. Ia
mengeluarkan pangkalnya, yang disimpannya, dan memberikannya pada Peri
itu. Glorfindel merinding saat mengambilnya, tapi ia memperhatikannya dengan
saksama.
"Banyak hal jahat tertera di atas pangkal pisau ini," katanya "meski
mungkin matamu tak bisa melihatnya. Simpanlah, Aragorn, sampai kita tiba di
rumah Elrond! Tapi hati-hatilah, dan peganglah sesedikit mungkin! Aduh! Lukaluka
akibat senjata ini ada di luar kemampuanku untuk menyembuhkan. Aku
akan melakukan sebisaku, tapi kuminta kalian berjalan terus tanpa istirahat."
Ia menelusuri luka pada pundak Frodo dengan jemarinya, dan wajahnya
semakin muram, seolah apa yang ditemukannya membuatnya resah. Tetapi rasa
dingin di sisi tubuh dan lengan Frodo mulai berkurang; sedikit kehangatan
merangkak turun dari pundak ke tangannya, dan rasa pedih itu jadi lebih ringan.
Cahaya senja di sekitarnya seakan jadi agak terang, seolah sebuah awan sudah
ditarik. Ia bisa melihat wajah kawan-kawannya lebih jelas, dan sedikit harapan
baru serta kekuatan kembali kepadanya.
"Kau menunggang kudaku," kata Glorfindel. "Aku akan memendekkan
sanggurdi sampai ke pinggir pelana, dan kau harus duduk sediam mungkin. Tapi
kau tak perlu takut: kudaku tidak akan menjatuhkan penunggang yang kusuruh
dibawanya. Langkahnya ringan dan lancar; dan kalau bahaya terlalu dekat, dia
akan membawamu dengan kecepatan yang tak bisa ditandingi kuda-kuda hitam
musuh."
"Tidak, tidak akan!" kata Frodo. "Aku tidak akan menunggangnya, kalau
aku akan dibawa ke Rivendell atau ke tempat lain, meninggalkan teman-temanku
dalam bahaya."
Glorfindel tersenyum. Katanya, "Menurutku teman-temanmu tidak akan
berada dalam bahaya bila kau tidak bersama mereka! Kurasa para pengejar itu
akan mengikutimu dan meninggalkan kami dengan tenteram. Kaulah sasaran
mereka, Frodo. Kau dan apa yang kaubawa itu yang membawa kita semua ke
dalam bahaya."
Frodo tak bisa menjawab, dan ia bisa dibujuk untuk menaiki kuda putih
Glorfindel. Kuda mereka dibebani sebagian besar bawaan lain, agar mereka bisa
berjalan lebih ringan. Untuk sementara mereka maju dengan kecepatan tinggi,
tapi para hobbit mulai kesulitan menyamai kecepatan langkah kaki Peri yang tak
pernah letih. Ia terus memacu mereka, masuk ke mulut kegelapan, dan masih
terus dalam malam gelap berawan. Tak ada bintang maupun bulan. Baru saat
fajar kelabu ia membolehkan mereka berhenti. Pippin, Merry, dan Sam saat itu
sudah hampir tertidur sambil berdiri terhuyung-huyung; bahkan Strider tampak
letih, terlihat dari pundaknya yang menggantung. Frodo duduk di atas kuda
sambil bermimpi gelap.
Mereka membaringkan diri di dalam semak-semak heather beberapa
Meter dari sisi jalan dan langsung tertidur Rasanya mereka baru saja
memejamkan mata ketika Glorfindel, yang berjaga sendirian sementara mereka
tidur, membangunkan mereka lagi. Matahari sudah tinggi di langit pagi itu, dan
awan-awan serta kabut malam sebelumnya sudah sirna.
"Minumlah ini!" kata Glorfindel pada mereka, menuangkan untuk masingmasing
sedikit minuman manis dari botol kulitnya yang bertatahkan perak.
Cairannya jernih seperti air dari mata air, dan tidak ada rasanya, juga tidak
terasa dingin ataupun panas di dalam mulut; tapi kekuatan dan semangat
mengalir ke seluruh tubuh mereka saat meminumnya. Setelah itu, makan roti
basi dan buah-buah kering (sekarang itu saja yang tersisa) bisa memuaskan
rasa lapar mereka melebihi banyak sarapan enak yang pernah mereka nikmati di
Shire.
Setelah beristirahat hampir lima jam, mereka masuk ke Jalan lagi. Glorfindel
masih mendesak mereka berjalan terus, dan hanya mengizinkan dua perhentian
singkat selama perjalanan hari itu. Dengan cara ini, mereka menempuh hampir
dua puluh mil sebelum malam, dan sampai ke suatu titik di mana Jalan
membelok ke kanan dan menurun menuju dasar lembah, yang sekarang
langsung menuju Bruinen. Sejauh itu tidak ada tanda atau bunyi pengejaran
yang bisa didengar para hobbit; tapi Glorfindel sering berhenti untuk
mendengarkan sejenak, kalau mereka tertinggal di belakang; wajahnya
mencerminkan kecemasan. Satu-dua kali ia berbicara dengan Strider dalam
bahasa Peri.
Tapi, meski pemandu-pemandu mereka sangat cemas, jelas sekali bahwa
para hobbit tak bisa meneruskan perjalanan lagi malam itu. Mereka berjalan
terhuyung-huyung, pusing karena letih dan tak bisa memikirkan hal lain kecuali
kaki dan tungkai mereka. Rasa sakit Frodo semakin menjadi-jadi, dan sepanjang
hari itu benda-benda di sekitarnya terlihat kabur, sampai seperti bayangan
kelabu. Ia hampir gembira menyambut malam hari, karena saat itu dunia jadi
tidak terlalu pucat dan kosong.
Para hobbit masih letih ketika mereka berangkat lagi pagi-pagi keesokan
harinya. Masih bermil-mil jarak antara mereka dan Ford, dan mereka berjalan
terpincang-pincang dengan kecepatan terbaik yang bisa mereka upayakan.
"Bahaya paling besar yang mengancam kita adalah sebelum kita sampai
di sungai," kata Glorfindel. "Hatiku memperingatkan bahwa pengejaran sudah
sangat dekat di belakang kita, dan bahaya lain mungkin menunggu di Ford."
Jalan itu masih menurun terus dari bukit. dan sekarang di beberapa
tempat ada banyak rumput di kedua sisinya; di situlah para hobbit berjalan bila
mungkin, untuk meredakan kelelahan kaki mereka. Siang itu mereka tiba di
bagian Jalan yang dinaungi bayang-bayang gelap pohon-pohon cemara tinggi,
lalu terjun ke dalam sebuah terowongan dalam, dengan dinding-dinding curam
dari batu merah yang basah. Langkah mereka menimbulkan gema yang terus
terdengar sementara mereka bergegas maju; serasa ada banyak langkah kaki
yang mengikuti. Tiba-tiba, seolah melewati gerbang cahaya, Jalan itu keluar lagi
dari ujung terowongan ke udara terbuka. Di sana, di dasar sebuah lereng terjal,
di depan mereka terhampar tanah datar sepanjang satu mil; dan di seberangnya
Ford dari Rivendell. Di sisi seberang ada tebing terjal kecokelatan, dilintasi jalan
berkelok-kelok; dan di belakangnya gunung-gunung tinggi menjulang, pundak
demi pundak, dan puncak demi puncak, ke langit yang memudar.
Masih ada bunyi gema seperti langkah kaki yang mengejar di terowongan
di belakang mereka; bunyi berdesir seolah angin yang muncul dan mengalir
melalui ranting-ranting pohon cemara. Suatu saat Glorfindel menoleh dan
mendengarkan, lalu ia melompat ke depan dengan teriakan keras.
"Cepat!" teriaknya. "Cepat! Musuh sudah dekat!"
Kuda putih melompat maju. Para hobbit berlari menuruni lereng. Glorfindel
dan Strider menyusul sebagai penjaga garis belakang. Mereka baru separuh
jalan melintasi tanah datar, ketika tiba-tiba ada bunyi kuda lari berderap. Keluar
dari gerbang yang baru saja mereka tinggalkan, muncul seorang Penunggang
Hitam. Ia menahan kudanya dan berhenti, bergoyang di pelananya. Satu lagi
mengikutinya, lalu yang lain lagi, dan dua lagi.
"Jalan maju! Jalan?" teriak Glorfindel pada Frodo.
Frodo tidak langsung menuruti perintahnya, karena keengganan yang
aneh timbul dalam dirinya. Menahan kudanya agar berjalan perlahan, ia menoleh
ke belakang. Penunggang-Penunggang Hitam tampak duduk di atas kuda-kuda
mereka yang besar, bagai patung-patung yang mengancam di atas bukit yang
gelap dan kokoh, sementara semua hutan dan tanah di sekitar mereka seolah
tertelan kabut. Tiba-tiba dalam hati Frodo tahu bahwa mereka diam-diam
memerintahkannya menunggu. Dalam sekejap ketakutan dan kebencian bangkit
dalam dirinya. Tangan kirinya melepaskan tali kekang dan memegang Pangkal
pedangnya, dan dengan satu kilatan merah ia menghunusnya.
"Jalan terus! Jalan terus!" teriak Glorfindel, lalu dengan nyaring dan jelas
ia memanggil kudanya dalam bahasa Peri: noro lim, noro lim, Asfaloth!
Serentak kuda putih itu melompat maju dan berpacu seperti angin
sepanjang sisa terakhir Jalan. Pada saat bersamaan, kuda-kuda hitam berpacu
menuruni bukit mengejarnya, dan dari para Penunggang terdengar teriakan
mengerikan, seperti yang terdengar oleh Frodo memenuhi hutan di Wilayah
Timur nun jauh di sana. Teriakan itu dijawab: dengan ngeri Frodo dan temantemannya
melihat empat penunggang lain keluar dari pohon-pohon dan batubatu
di sebelah kiri. Dua melaju ke arah Frodo, dua lainnya berpacu kencang
sekali menuju Ford, untuk memotong pelariannya. Sepertinya mereka melaju
pesat bagai angin, dengan cepat sosok mereka semakin besar dan gelap, ketika
lintasan mereka bertemu dengan lintasannya.
Sejenak Frodo menoleh ke belakang. Ia sudah tak bisa melihat temantemannya
lagi. Penunggang-Penunggang Hitam mulai tertinggal: bahkan kudakuda
besar mereka tak bisa menandingi kecepatan kuda Peri putih milik
Glorfindel. Ia melihat ke depan lagi, dan harapannya memudar. Kelihatannya
sebelum mencapai Ford jalannya akan dipotong oleh para Penunggang lain yang
sudah bersembunyi untuk menyergapnya. Ia bisa melihat mereka dengan jelas
sekarang: rupanya mereka sudah melepaskan kerudung dan mantel hitam
mereka, sekarang mereka berjubah putih dan kelabu. Pedang terhunus di tangan
mereka yang pucat; topi baja di kepala mereka. Mata mereka dingin berkilauan,
dan mereka meneriakinya dengan suara-suara menyeramkan.
Ketakutan memenuhi seluruh benak Frodo. Ia tak ingat lagi pedangnya.
Tak ada teriakan dari mulutnya. Ia memejamkan mata dan berpegangan erat
pada rambut tengkuk kudanya. Angin bersiul di telinganya, dan bel-bel pada tali
kekang berbunyi liar dan nyaring. Embusan angin dingin menusuknya bagai
tombak ketika kuda Peri itu berpacu bagai kilatan api putih, seolah bersayap,
lewat tepat di depan Penunggang terdepan.
Frodo mendengar bunyi cemplungan air.. Air berbuih di sekitar kakinya. Ia
merasakan gerakan mengangkat dan menyentak cepat saat kudanya keluar dari
sungai dan berjuang mendaki jalan berbatu. Ia sedang mendaki tebing terjal. Ia
sudah di seberang Ford.
Tetapi para pengejar sudah dekat sekali. Di atas tebing, kuda Frodo
berhenti dan membalikkan badan sambil meringkik galak. Ada Sembilan
Penunggang di tepi air di bawah, dan semangat Frodo merosot di depan wajahwajah
mereka yang menengadah mengancam• Rasanya tak ada yang bisa
mencegah mereka menyeberangi sungai semudah yang telah ia lakukan; dan ia
merasa sia-sia mencoba melarikan diri melintasi jalan panjang dan tidak pasti
dari Ford ke pinggir Rivendell, kalau para Penunggang itu sudah menyeberang.
Bagaimanapun, ia merasa diperintah dengan mendesak untuk berhenti.
Kebencian kembali bergejolak dalam dirinya, tapi ia sudah tak punya kekuatan
untuk menolaknya.
Tiba-tiba Penunggang terdepan memacu kudanya maju. Kuda itu berhenti
di batas air dan berdiri pada kaki belakangnya. Dengan upaya keras Frodo
duduk tegak dan mengacungkan pedangnya.
"Kembali!" teriaknya. "Kembalilah ke Negeri Mordor, dan jangan kejar aku
lagi!" Suaranya kedengaran tipis dan melengking di telinganya sendiri. Para
Penunggang itu berhenti, tapi Frodo tidak mempunyai kekuatan seperti
Bombadil. Musuh-musuhnya menertawakannya dengan bunyi tawa kasar dan
mengerikan. "Ke sini! Ke sini!" teriak mereka. "Kami akan membawamu ke
Mordor!"
"Pergilah!" bisik Frodo.
"Cincin! Cincin!" teriak mereka dengan suara menyeramkan, dan serentak
pemimpin mereka menyuruh kudanya maju ke dalam air, diikuti dari dekat oleh
dua pengikutnya.
"Demi Elbereth dan Luthien sang Putri Cantik," kata Frodo dengan upaya
terakhir, sambil mengangkat pedangnya, "kau tidak akan mendapatkan Cincin
ataupun diriku!"
Lalu pemimpin mereka, yang sudah separuh menyeberangi Ford, berdiri
mengancam di sanggurdinya, dan mengangkat tangannya. Frodo merasa kelu.
Lidahnya terpaku di mulutnya, dan jantungnya berdebar kencang. Pedangnya
patah dan jatuh dari tangannya yang gemetar. Kuda Peri berdiri di kedua kaki
belakangnya dan mendengus. Kuda hitam terdepan sudah hampir menginjak
tepi sungai.
Pada saat itu terdengar geraman dan desiran: bunyi air deras
menggulingkan banyak batu. Samar-samar Frodo melihat sungai di bawahnya
naik, dan dari alirannya muncul barisan gelombang berbusa. Nyala putih tampak
berkelip di puncak-puncaknya, dan ia serasa melihat penunggang-penunggang
putih -di atas kuda-kuda putih dengan Surai berbuih di tengah air. Tiga
Penunggang yang masih berada di tengah Ford tenggelam: mereka lenyap,
terkubur tiba-tiba di bawah buih yang menggelegak. Mereka yang masih di
belakang mundur dengan ngeri.
Dengan kesadarannya yang mulai hilang, Frodo mendengar teriakanteriakan,
dan rasanya di belakang Penunggang yang ragu-ragu di tepi sungai, ia
melihat sebuah sosok bercahaya putih yang menyala-nyala, dan di belakangnya
berlarian sosok-sosok kabur kecil melambaikan api, yang menyala merah di
dalam kabut kelabu yang mulai menutupi dunia.
Kuda-kuda hitam menggila, dan sambil melompat maju dengan ketakutan
mereka membawa penunggang mereka ke dalam air bah yang mengganas.
Teriakan tajam mereka tenggelam dalam raungan sungai ketika mereka tersapu
air. Lalu Frodo merasa dirinya jatuh, dan raungan serta kebingungan itu seolah
naik dan membenamkannya bersama musuh-musuhnya. Setelah itu ia tak
melihat dan mendengar apa-apa lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar