Rabu, 25 November 2009

Membangun dan Menentukan Kehidupan Pribadi


Sebagian besar kita yang fokus pada pengembangan diri pribadi sepertinya tidak akan luput dari pernah membaca tentang “The Secret”. Mungkin sudah banyak juga yang berhasil mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari2 dan mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Di sisi lain, mungkin ada juga yang belum pernah mengenal “The Secret” namun ternyata telah melakukan apa yang disarankan dan dicontohkan dalam “The Secret”. Secara umum, baik yang telah membaca dan belum mengetahui tentang “The Secret” sering kali gagal dalam mengulangi “program masa depan” nya untuk yang kesekian kalinya. Apa penyebabnya? Salah satu penyebab utamanya adalah karena pikiran kita semakin cerdas, yaitu kecerdasan alamiah kita yang membentuk “Self Defence System” (SDS). SDS yang dapat merusak semua teori dan pengalaman yang kita ketahui adalah SDS yang terbentuk dari ketakutan-ketakutan sehingga mempengaruhi kepercayaan diri. Dengan kepercayaan diri yang kurang, kita pun menjadi kurang yakin akan apa yang kita pilih, apa yang kita tempuh dan jalani. Ketika kita menjadi tidak yakin seperti itu, lalu apakah kita akan mencapai apa yang kita tuju? Berapa lamakah? Atau tidakkah suatu ketika kita justru akan berbelok ditengah jalan sebelum mencapai tujuan yang kita tentukan diawal perjalanan.

Untuk menelusuri sehingga kemudian dapat memantapkan kepercayaan diri lebih maksimal maka ada baiknya kita mulai dari :

Mengenali Pikiran

Kita semua hingga diusia saat ini pasti menggunakan apa yang disebut pikiran. Hal yang paling mendasar adalah mengenali apakah pikiran itu. Posisi pikiran begitu penting, pikiran adalah hasil dari kerja otak yang memproses berbagai data yang didapat dari indera-indera. Apa pun yang kita dapat dari sekitar kita yang ditangkap oleh indera-indera kita pasti akan disampaikan ke otak dan akan menjadi catatan yang akhirnya akan disimpan sebagai ingatan, proses ini pasti terjadi sekalipun kita tidak menyadarinya. Data-data yang masuk dan tersimpan, disadari atau tidak tetap akan mempengaruhi proses berpikir kita dalam menerima dan menyikapi data-data baru yang sedang atau akan kita temukan. Data-data yang pernah masuk dan tersimpan kemudian sudah kita anggap sebagai sebuah kebenaran akan membentuk “Belief System” (BS). Dari BS inilah yang akan membentuk SDS.

Data-data yang kita peroleh sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita, dimana kita tinggal, bahkan sejak masih di dalam kandungan. Seorang ibu hamil yang sering berada dalam lingkungan kedamaian, akan membawa sifat sang Bayi yang akan lahir itu lebih condong ke sifat yang damai. Begitu juga jika selama kehamilannya sering berada dalam suasana yang sibuk, bergerak serba secepat mungkin, maka akan membawa sifat sang Bayi yang akan lahir itu lebih condong ke sifat yang aktif, bahkan mungkin hyper aktif. Semua yang dilakukan oleh orang disekitar bayi yang sedang dikandung, yang dapat mempengaruhi kuat kepada sang ibu, pasti juga akan terekam dan tersimpan dalam ingatan sang bayi sebagai data awal. Itulah sebabnya dalam tradisi-tradisi kita selalu diajarkan untuk menjaga sikap dan tingkah laku selama proses kehamilan, mulai dari kedua orang tua sang bayi hingga siapa pun yang berhubungan langsung dengan kedua orang sang bayi. Jadi tradisi-tradisi itu bukanlah mitos, tapi sangat logis.

Perubahan keadaan yang dialami sang bayi ketika terlahir ke dunia ini juga akan memunculkan SDS. Muncul dan bereaksinya SDS itu karena perubahan keadaan, perubahan kenyamanan yang dirasakan. SDS tersebut muncul atas interaksi indera-indera dengan keadaan yang baru yang kemudian diproses dalam otak sang bayi kemudian membandingkan dengan data-data yang tersimpan dalam DNA. Ya, DNA menyimpan begitu banyak data yang dikemas rapi, data yang di dapat dari pengalaman yang pernah direkam oleh orang-orang tua kita, oleh leluhur-leluhur kita, bahkan sejak awal dimulainya keberadaan manusia di muka bumi. Beberapa data yang tersimpan dalam DNA secara otomatis juga sudah dimuat dalam otak kita sebagai data awal. Dimana hal ini pun dipicu oleh aktivitas sang ibu dalam menghadapi persalinan. Dengan begitu cepatnya proses pengolahan data ini, hasilnya, hanya dalam hitungan detik setelah bayi keluar dari kandungan akan melakukan SDS dengan cara menangis untuk memulai paru-parunya menghirup dan menghembuskan udara. Gerak proses data yang berdasarkan data-data yang muncul dari DNA ini sering juga disebut sebagai insting. Jadi sejak kita di dalam kandungan, pikiran pun sudah bekerja memproses data-data yang ditangkap oleh indera-indera kita.

Masuk ke pengalaman setelah berada di luar kandungan, sang bayi pun terus mengumpulkan data-data. Ketika ia lapar atau haus, bayi pun akan bereaksi, reaksi terkuat dari sang bayi ketika kebutuhannya untuk menghilangkan rasa lapar atau haus adalah menangis. Dengan ia menangis, maka akan ada pihak di luar dirinya yang akan datang membantunya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Proses dari ia akhirnya harus menangis agar datang pihak yang membantunya pun terekam sebagai data baru, yang kemudian sangat mungkin akan dia gunakan sebagai bahasa awal dalam berkomunikasi dengan pihak lain di luar dirinya. Jika ada orang tua yang memperhatikan dengan seksama tangisan bayi tersebut, maka akan dapat dibedakan, mana tangisan karena lapar atau haus, mana tangisan karena dia buang air, merasa terganggu dsb.

Sekilas uraian di atas adalah tentang bagaimana proses pengumpulan data sudah sejak dini kita kumpulkan yaitu disaat otak kita mulai terbentuk dan mulai bekerja di dalam kandungan. Dan proses pengumpulan data itu terus berjalan hingga seumur hidup kita. Sehingga dalam dunia psikologi ada disebut usia-usia emas dalam pendidikan anak. Secara garis besar kami akan pecah menjadi dua bagian besar, yaitu usia 0 sampai 5 tahun adalah usia yang sangat penting bagaimana kita menyiapkan mereka dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang akan dia hadapi dalam kehidupan. Dan usia 5 sampai 10 tahun adalah usia yang sangat menentukan tingkat keberhasilan mereka dalam menghadapi kehidupan ini. Jika di usia saat ini, atau di atas usia 20 tahun kita menemukan bagaimana kacaunya kehidupan kita, maka sangat perlu di telusuri bagaimana proses pengumpulan data awal kita disaat usia yang menentukan tersebut, yaitu sejak di dalam kandungan hingga usia 10 tahun. Dengan mengenali proses pengumpulan data awal ini, kita akan lebih mudah menelusuri dimanakah  yang perlu di benahi pada data yang kita miliki. INGAT, hanya untuk membenahi bagaimana data yang kita miliki agar kita dapat membenahi kehidupan yang sedang kita jalani, bukan terjebak di masa lalu apalagi untuk mencari-cari kesalahan orang lain di luar diri kita.


“Belief System” (BS)

Kejadian, informasi dan data apa pun yang ditangkap oleh indera-indera yang sama atau serupa secara berulang-ulang dan atau sering akan membentuk belief system. Sebuah belief system yang paling sederhana adalah nama yang kita sandang, yang diberikan oleh orang-orang sekitar kita sejak kita masih bayi. Sebab, pada dasarnya kita terlahir ke dunia ini tanpa nama, kita hanyalah sesosok bayi mungil yang sering juga diumpamakan sebagai kertas kosong yang siap di isi tulisan. Dalam terminologi yang lebih baru, bayi adalah seperangkat komputer super canggih yang siap diisi data-data dan juga software. Kembali ke nama kita sebagai salah satu belief system yang dibentuk sejak awal keberadaan kita di fase ini. Dengan pengulangan-pengulangan data yang sama yang digunakan untuk memanggil kita, hingga pada pengulangan yang ke sekian kalinya, kita pun akan menganggap bahwa data itu adalah “tentang” memanggil kita. Sehingga kita pun dikemudian hari akan mengidentikkan bahwa diri kita adalah “itu”. Nama kita itu, adalah salah satu contoh dari sekian banyaknya BS yang telah tercipta dan dianggap sebagai kebenaran oleh pikiran kita. BS-BS yang kita kumpulkan sejak masih di dalam kandungan itu selalu dalam kondisi siaga dalam alam Bawah Sadar (BSD) kita. Setiap kali ada kata kunci yang masuk ke pikiran sadar kita melalui indera-indera kita otomatis akan diproses oleh pikiran kita. Sekalipun kita tidak menyadari proses tersebut, proses tersebut tetap berjalan, proses tersebut bekerja di BSD kita. Terkadang, karena begitu cepatnya proses pengolahan data tersebut dan tanpa kita sadari, kita menyebutnya sebagai “tiba-tiba”. Padahal, tidak ada yang tiba-tiba, semua ada proses yang dilaluinya, hanya disadari atau tidak.

Belief system (BS) akan membentuk realita seperti apa yang sering kita pikirkan secara sadar atau pun BSD. Ketika kita sampai pada titik pertanyaan “Kenapa hidup ku seperti ini?”, “Mengapa hal ini terjadi berulang-ulang kali kepada ku?”, dan sebagainya, maka yang perlu di cek adalah BS yang kita miliki, kecenderungan-kecenderungan yang kita bawa di dalam alam BSD. Sebab BS yang kita miliki di BSD kita yang memiliki kecenderungan paling kuat atau dominan otomatis akan memancarkan frekuensi-frekuensi keluar tubuh kita. Frekuensi-frekuensi ini juga disebut sebagai frekuensi pikiran. Frekuensi-frekuensi yang memancar ini akan dipancarkan ke semesta dan kemudian akan merespon kembali dengan frekuensi yang serupa. Rangkuman hasil interaksi atau pancaran pikiran kita ini dalam beberapa terminologi disebut sebagai “Law of Attraction” atau “Karmaphala”. Apa pun yang kita kirimkan ke luar akan kembali kepada kita, ini adalah hukum alam, hukum yang tidak bisa kita menolaknya atau mengubah hasil akhirnya kecuali kita mengubah, atau merancang ulang tentang apa yang akan kita kirimkan keluar, sehingga hasil yang akan kembali ke kita pun akan sesuai dengan yang kita harapkan. Belief System ini cakupannya begitu luas, mulai dari yang terkecil seperti nama kita, tentang benar-salah atau baik buruk yang kita temukan selama pengalaman hidup kita, sampai pada doktrin dan dogma dari agama atau kepercayaan apa pun yang kita anut sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Dari sedikit penjelasan tentang pikiran dan belief system yang semuanya berproses baik secara sadar atau pun bawah sadar, diharapkan kita akan sedikit lebih mengenali siapa diri kita sendiri, bagaimana diri kita sendiri. Dengan kata lain, agar kita lebih mengenali potensi yang kita miliki untuk menentukan ingin seperti apa kita ke masa depan, ingin menuju arah mana kita ke depan. Hal ini sesungguhnya sangat mendasar. Tanpa memahami benar tentang pikiran kita sendiri yang tidak lain adalah yang membentuk kita seperti saat ini, maka kita tak mungkin bisa menentukan seperti apa yang kita inginkan di kemudian hari. Seperti kata-kata bijak yang mengatakan begitu pentingnya mengenali diri sendiri, atau bagaimana pentingnya berpikir yang baik dan benar. Dengan mengenali proses kita berpikir dan kecenderungan-kecenderungan data yang kita miliki sejak dalam kandungan inilah kita akan menuju sebagai orang-orang yang menguasai pikirannya, benar-benar menjadi orang yang berpikir, bukan lagi menjadi orang-orang yang otomatis digiring oleh pikirannya sendiri yang berdasarkan data-data yang tersimpan yang telah menjadi belief system di bawah sadar kita yang belum tentu baik untuk diterapkan, bahkan sangat mungkin justru mempersulit kehidupan kita selama ini dan ke depannya nanti.

Orang-orang yang kita temui dalam hidup, siapa pun dia, entah menyenangkan atau menyakitkan adalah hasil proyeksi pikiran kita sendiri, dan keberadaan mereka akan membantu kita menemukan siapa diri kita, dan akan jadi apa diri kita di kemudian hari.

Masing-masing dari kita, hingga seperti apa keberadaan kita saat ini sangat terkait dengan kecenderungan-kecenderungan yang sering kita temukan sebelumnya. Seseorang yang menjadi preman, seseorang yang menjadi religius, spiritualis, atheis dan sebagainya adalah terkait erat dengan data-data apa yang sering dan berulang kali ditemukannya di masa sebelumnya. Orang yang sejak kecil hidup di lingkungan premanisme, sudah sangat wajar jika nantinya akan menjadi seorang preman. Begitu juga dengan orang-orang yang hidup di lingkungan-lingkungan yang lainnya. Namun itu semua tetap dapat di ubah, semua itu dapat diprogram ulang dengan mengisi data-data baru, data-data dengan kecenderungan-kecenderungan yang baru. Memang hal ini memerlukan kerja ekstra, ketekunan dan kesadaran penuh dalam setiap momen. Itulah sebabnya, tetua-tetua terdahulu sering menggunakan kata “eling lan waspada”. Ya, dengan ingat atau selalu sadar dan waspada terutama kepada pikiran kita sendiri, kita akan lebih mudah merubah arah pikiran kita untuk bergerak sesuai dengan yang kita inginkan. Ingat atau selalu sadar tentang apa tujuan awal kita, waspada tentang data-data yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan yang muncul dari bawah sadar kita. Perlahan tapi pasti, setiap kita menyadari munculnya kecenderungan-kecenderungan yang tidak sesuai dengan tujuan awal kita, maka data itu pun akan mulai diabaikan oleh bawah sadar kita, kemudian mengisinya dengan data yang baru yang lebih sesuai dengan keadaan terkini.

Tak ada kesalahan-kesalahan, tak ada kebetulan-kebetulan, seluruh peristiwa adalah karunia yang terjadi agar kita belajar darinya.



"KESAN"

Kesan adalah perasaan yang diterima oleh tubuh akibat apa yang terjadi atau hasil dari proses berpikir. Data apa pun yang sudah selesai diproses di otak akan menimbulkan kesan tertentu. Jika data yang kita dapatkan dari indera-indera kemudian diproses di otak dan dibanding-bandingkan dengan data yang sudah pernah dimiliki sebelumnya (ingatan), baik yang masih tersimpan di pikiran sadar jaga (biasa) atau pun bawah sadar, maka akan memunculkan hasil akhir. Apabila kesesuaian data yang masuk adalah dengan data yang kita sukai, kita anggap baik, kita anggap kebenaran, dsb. maka akan memunculkan kesan yang menyenangkan, membahagiakan dsb. Begitu juga sebaliknya.

Kesan cenderung mudah berubah-ubah bergantung pada sekuat apa data yang kita miliki sebelumnya yang sudah kita anggap sebagai kebenaran. Jika kita memiliki data-data baru yang dianggap memiliki kekuatan/kandungan "kebenaran" yang lebih baik maka data lama akan digantikan. Waktu yang diperlukan dalam proses mengganti data lama ke data yang baru juga relatif atau bisa juga berbanding lurus dengan kuatnya data yang ada. Kesan ini pun bisa disebut tingkat kebenarannya adalah relatif, bergantung sebanyak/seluas apakah data yang kita miliki dan tingkat kita menyadari proses yang terjadi di pikiran kita.

Secara keseharian, apa pun yang sering kita temui sesungguhnya tak jauh-jauh dari hasil daya tarik kesan yang kita miliki yang memancar ke sekeliling kita yang kemudian di tangkap oleh semesta. Kesan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekedar data yang kita pikirkan. Kesan bisa juga disebut sebagai enkripsi (penyatuan, jika pada istilah IT ada file *.zip *.rar dsb.) yang mengandung/menyimpan banyak data.

Contoh sederhana adalah tentang makanan, makanan apa pun yang menjadi favorit kita akan tersimpan dalam bentuk kesan. Sekarang pikirkan apa makanan favorit Anda... bayangkan makanan itu... Ketika kita berpikir tentang makanan favorit itu maka data-data yang tersimpan dalam kesan itu akan dibuka kembali, diakses kembali. Semakin kuat kesan yang kita miliki, kesan itu sampai akan memicu kelenjar air liur kita memproduksi lebih banyak air liur daripada kondisi normal (hati2 jangan sampai ngiler). Setelah itu terserah kita apakah akan bergerak berdasarkan kesan tersebut atau tidak. Jika tidak, maka kita tak akan bertemu dengan peristiwa yang memunculkan kesan itu lagi. Jika iya, maka kita akan bergerak menuju peristiwa yang sangat mungkin akan menguatkan kesan itu kembali.

Contoh lain, tentang mengapa tidak terpenuhinya doa setiap orang. Atau justru apa yang ditemukan seseorang selalu bertolak belakang dengan doa yang dikirimkannya. Hal ini dapat di telusuri melalui cara berpikir dan kesan yang muncul saat berdoa. Ingat doa itu pada intinya adalah komunikasi kita kepada semesta, doa tak ubahnya mengirimkan apa yang ada di pikiran kita melalui kata-kata dan kesan yang ada pada diri kita. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, apa pun yang kita kirimkan ke luar, akan kembali kepada kita. Salah satu contoh untuk menelusurinya adalah, misalnya seseorang berdoa tentang keinginannya untuk meraih kebahagiaan, kata-katanya mungkin sudah tepat untuk mewakili apa yang diinginkannya. Akan tetapi, apakah kesan yang terpancarkan dari dirinya juga adalah tentang kebahagiaan? Jika kurang menyadari dan waspada akan kesan yang dipancarkan dirinya, bisa jadi kesan yang dipancarkannya adalah tentang kesedihannya atas apa yang dialaminya selama ini. Oleh karena kesan itu memiliki energi yang lebih besar daripada sekedar kata-kata, maka apa yang akan diterimanya tak jauh-jauh dari kesan penderitaan yang dikirimkannya. Harapan dan doa untuk kebahagiaan bukannya tidak diperkenankan terwujud, tetapi kekeliruan cara kita berkomunikasi yang membuat seolah-olah harapan dan doa itu tidak terwujud.

Kesan, tidak selalu bergerak hanya sebatas kesadaran jaga (biasa) kita. Kesan yang begitu kuat akan tetap memancar sekalipun kita tak menyadarinya. Kesan yang kuat inilah yang akan membawa kita untuk bertemu lagi dan lagi dengan hal-hal yang serupa dengan yang menciptakan kesan itu pertama kalinya, sekalipun tak akan ada yang sama persis, namun pengulangan secara garis besar akan terjadi kembali.

Kesan itu netral, positif atau pun negatif hanyalah buah dari persepsi kita setelah membanding-bandingkan data yang kita miliki. Kesan yang menakutkan kita, kesan membuat kita begitu membenci sesuatu, kesan yang membuat kita sangat marah, kesan kekecewaan dan sejenis lainnya adalah kesan yang memiliki energi daya tarik jauh lebih kuat daripada kesan yang menyenangkan kita, kesan yang membahagiakan kita. Akibatnya, jauh lebih besar peluang untuk kita bertemu dengan peristiwa yang menakutkan, kebencian, marah, kecewa dsb.

Disinilah akan terlihat jelas betapa pentingnya kita untuk jujur pada diri sendiri agar bisa menyadari keberadaan kesan yang ada/tersimpan, mengakui keberadaan kesan itu sebagai data yang ada pada diri kita, kemudian memaafkan, merelakan dan melepaskannya, bahwa semua itu hanyalah data, bukan kebenaran mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Kemudian silahkan pilih kesan yang mana yang berguna untuk kehidupan kita saat ini dan kedepannya nanti.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, kesan itu adalah enkripsi banyak data, karena itu, kesan pun memiliki energi yang begitu besar. Energi yang besar yang merupakan bentukan dari kesan itu tidak saja membawa kita bertemu lagi dan lagi pada peristiwa yang sama dalam satu kehidupan ini. Selama energi itu belum terurai, maka selama itu energi itu akan selalu menarik dan tertarik dengan energi-energi yang serupa, yang selaras, sebab inilah salah satu sifat energi, yaitu mempertahankan dan memperbesar eksistensinya. Energi kesan itu dapat terurai ketika kita menyadari eksistensinya, kemudian menyadari data-data yang terkandung di dalamnya hanya sebagai data tanpa persepsi benar-salah, baik-buruk dsb. maka serat-serat/jaring yang mengikat data tersebut sebagai sebuah enkripsi data akan terurai.

Setelah kita melalui sesi I sampai III ini, maka kita bisa melihat bahwa benar-salah, baik-buruk dan segala bentuk dualitas lainnya hanyalah hasil dari persepsi. Persepsi berdasarkan pada data-data yang kita peroleh sebelumnya. Persepsi juga yang melandasi klasifikasi data yang kita peroleh dari interaksi kita. Suatu data bisa berubah klasifikasinya dari posisi A menjadi klasifikasi yang berseberangan dengan (kontra) A, berdasarkan data-data baru yang lebih kuat/dominan daripada data sebelumnya. Untuk memutus pengulangan-pengulangan yang terjadi yang tidak kita inginkan maka diperlukan menyadari kesan yang kita miliki atau kesan yang muncul ketika kita menghadapi suatu peristiwa.

Eling (ingat/sadar) lan (dan) Waspada adalah warisan pengetahuan yang begitu tinggi dan luhur dari para leluhur dan tetua kita untuk anak cucu keturunannya dalam mengarungi kehidupan yang lebih baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar