Senin, 04 Januari 2010

Lupus


BANGUN DONG, LUPUS!
1. Diary Boim
JANGAN heran, ya, Boim ternyata punya diary juga. Isinya tentang
kisah perjalanan masa remaja Boim. Diary ini agak unik, sebab
terbuat dari daun lontar. Tapi Boim sayang, setiap mau bobo, tak
lupa Boim selalu mengisinya. Antara diary Boim dan Boim
memang tak dapat dipisahkan. Ke mana-mana selalu berdua.
Selalu akrab, seperti anak kembar. Maksudnya, wajah Boim pun
mirip-mirip daun lontar.
Sebetulnya, Boim tak pernah mau bila diarynya sampai dibaca
orang. Sebab dia takut, rahasia kegantengannya bakal terbongkar.
Tapi demi kamu-kamu semua, yang sudah rela membeli buku ini,
Boim merelakannya.
Simaklah isinya.
***
Malam hari. Sepi. Yang ada cuma suara angin dan bulan yang
mengintip malu-malu di balik awan hitam. Katak dan jangkrik
pun enggan bernyanyi. Ya, sebab Boim mau baca diary.
Biarlah. Biarlah Boim membacakan diarynya. Karena selama ini,
dia selalu jadi kambing hitam anak-anak sekelas. Jadi..., beri dia
deodoran yang setia setiap saat..., eh, kok jadi ngaco? Maksudnya,
beri dia kesempatan berbicara. Sebebas-bebasnya.
Bicaralah, Im!
Teman-teman, nama saya Boim. Playboy duren tiga. Hari ini, saya
mau membacakan diary saya. Sebetulnya, seperti sudah
dijelaskan, saya merasa enggak enak. Sebab dengan begitu,
berarti jurus-jurus kegantengan saya nanti bakal terbongkar.
Dalam diary ini, selain ada beberapa bagian yang disensor, karena
memang nggak pantes dibaca anak-anak balita, juga memuat

kisah pertama kali saya masuk SMA Merah Putih. Sebetulnya ini
rahasia, tapi karena adanya desakan dari para penggemar,
terutama dari para penumpang bis kota yang suka berdesakdesakan,
akhirnya saya mau juga.
Teman-teman, diary ini adalah diary turun-temurun. Dulunya
punya nenek moyang saya, yang memuat tentang kisah cinta
remaja zaman dulu. Kemudian dari nenek moyang, diwariskan ke
kakek saya. Dari kakek ke bapak, dari bapak ke saya. Dan
nantinya akan saya wariskan ke anak saya. Mudah-mudahan anak
saya mau menerima diary dari bapaknya yang ganteng ini.
Kisah diary ini saya buka ketika saya baru masuk SMA Merah
Putih. Pagi itu memang ramai sekali. Banyak orang pakai baju
seragam. Rata-rata dari mereka lagi pada kebingungan mencari
kelas barunya. Peraturan di sekolah baru ini memang begitu.
Anak-anak diharuskan mencari kelasnya sendiri-sendiri.
Waktu itu, saya juga lagi kebingungan mencari kelas saya. Di
dekat saya, berdiri seorang gadis manis yang sama
kebingungannya seperti saya. Saya kemudian memperhatikan
wajahnya dengan seksama. Eh, ternyata dia juga sejak tadi sudah
memperhatikan saya. Saya pun nekat menegur, “Hai!”
“Eh, hai, juga!”
“Kamu anak baru, ya?”
“Iya.”
“Kamu lagi bingung mencari kelas kamu, ya?”
“Iya.”
“Boleh saya bantu?”
“Iya, boleh. Eh, emangnya kamu siapa sih?”
“Saya? Saya anak baru juga di sini. Saya juga lagi bingung mencari
kelas saya.”
“Oto, kamu anak baru juga?”

“Emangnya kenapa?”
“Enggak. Saya kira kamu tukang pel sekolahan...”
Ya, ampun. Jadi dia itu ngeliatin saya bukan karena tertarik dan
simpati. Tapi karena dikira tukang pel.
Yah, begitulah pengalaman buruk pertama kali saya
menginjakkan kaki di SMA ini. Tapi lepas dari kejadian tersebut,
ternyata saya memang digemari oleh teman-teman saya, terutama
ceweknya.
Hari pertama saya di kelas, banyak yang berebut ingin duduk di
sebelah saya. Karena memang bangku-bangku lain sudah penuh,
hihihi... dan ketika pelajaran dimulai, mereka senantiasa
memandangi wajah saya. Kalau sehari saja saya nggak masuk
sekolah, mereka pasti resah. Ya, karena kata mereka, nggak ada
lagi yang bisa dikata-katain. Sialan juga, ya?
Tapi pada dasarnya, di sekolah ini saya merasa bahagia. Anaknya
baik-baik, enggak ada yang sakit. Makanya dibenci dokter. Di sini,
saya juga banyak mendapat teman. Eh, tapi yang mau kenalan
selalu mereka dulu. Seperti, ada anak yang rambutnya rada
panjang. Yang selalu mengulum permen karet. Yang matanya
bulat berkilat-kilat. Namanya...
“Halo, anak baru!”
Belum sempat ditanya, dianya udah negro duluan. Terpaksa saya
menjawab dengan senyum manis, “Halo juga!”
“Eh, kenalan dong. Abis kamu keren sih!”
“Boleh aja!”
“Nama saya Lupus.”
“Saya Boim. Kenapa kamu tertarik mau kenalan sama saya?” ujar
saya ge-er.
Anak itu tersenyum-senyum lucu. “Abis kamu lain dari yang lain
sih!”

“Apanya yang lain?” saya jadi penasaran.
“Mukanya. Yang mana hidung, yang mana kuping. Abis hampir
sama, hihihi.” Anak itu cekikikan geli. “Eh, jangan marah, ya?
Anggap aja nggak becanda. Bo..., siapa nama kamu tadi? Botol,
ya?”
“Boim”
“Iya, Boim. Eh, kita kenalan sama yang lain, yuk? Tuh, ada anak
yang lagi bengong sendirian. Kita samperin, yuk?”
Saya dan Lupus pun nyamperin anak yang bengong tadi.
“Halo, kok bengong aja? Eh, kamu mau kenalan sama kita berdua
nggak? Ditanggung halal deh!” sapa Lupus.
“Iya, dijamin seratus persen,” tambah saya.
Anak itu nggak langsung menjawab. Mikir dulu untung ruginya?”
“Boleh!”
Anak itu mengernyitkan dahi sebentar. “Ya, setelah saya timbangtimbang,
saya mau deh kenalan sama kamu berdua. Saya Anto.”
“Saya Lupus.”
“Saya Boim.”
Anto langsung memandang heran ke arah saya, ketika saya
menyebutkan nama saya. Ujarnya, “kamu lagi dimaper, ya? Kok
masih pake topeng sih?”
“Siapa yang pake topeng?”
“Itu!” Anto menunjuk ke wajah saya.
“Hahahah..., makanya, Im. Kalo mau kenalan buka dulu
topengnya.” Lupus terpingkal-pingkal.
***

Tapi biar kadang rada nyebelin, anak-anak di kelas saya
sebetulnya menyenangkan semua. Bahkan lagi kelaparan pun
mereka selalu kelihatan senang. Mungkin karena lapar bagi
mereka sudah merupakan penderitaan turun-temurun dari nenek
moyang mereka. Jadi sudah biasa. Dan mereka selalu kelihatan
kompak. Punya rasa kesetiakawanan yang tinggi. Nyontek satu,
nyontek semua. Jelek satu, jelek semua. Bolos satu, bolos semua.
Nggak naik satu, ih... sori ya—untuk yang satu ini nggak ada yang
mau ikutan. Kata mereka, lebih baik Boim aja yang nggak naik,
daripada nggak naik semua. Jadi, emang sulit kalo mau tau, siapa
anak yang paling pinter di kelas saya. Wong kalo ulangan, semua
mendadak jenius. Sepuluh menit, selesai.
Tapi anak-anaknya juga terkenal jujur. Kalo misalnya lagi ulangan
terdengar suara kebetan buku, kasak-kusuk di pojokan atau
suara-suara ajaib lainnya, dan guru yang di depan mulai berteriak
marah, “Siapa yang nyontek, maju ke depan kelas!!!” maka tanpa
di komando, semua anak maju ke muka kelas.
Kalau jam kosong, kelas pun bisa berubah menjadi kantin murah
dan bau. Segala macam cemilan ringan, diimpor langsung dari
kantin sekolah. Sementara sebagian cowoknya mengadakan
pertunjukan. Airshow dengan membuat kapal-kapalan dari
kertas. Berseliweran di ruang kelas.
Di kelas ini juga full sound effect. Suara seajaib apapun bisa
didengar oleh siapa saja, kapan saja. Bahkan lagi pelajaran
fisikanya Mr. Punk yang galak itu sekalipun. Dan rasanya, kelas
ini yang paling punya sense of humor yang tinggi. Anak-anaknya
hobi ngelawak semua, meski kalo ditanya cita-citanya pada mau
jadi tukang sulap. Dan kalo sudah ada anak yang mulai ngelucu,
anak-anak pun berteriak serentak, “Hampir lucuuu...”
“Ah, biar. Yang penting kan masih ada unsur lucunya,” jawab
yang diledek.
O ya, kelas ini juga pernah menang di festival lawak antar
sekolah, sebagai grup lawak yang paling tidak lucu. Tapi anak
anak bangga. Bagi mereka, alangkah lucunya ada pelawak yang
tidak lucu.
Dalam diary ini ada juga kisah yang menceritakan tentang cinta
saya dengan beberapa cewek yang nolak saya. Eh, sebelumnya
jangan menuduh kalo saya ditolak karena gaga. Tidak. Saya
ditolak oleh cewek-cewek karena mereka takut nggak sanggup
berdampingan dengan saya yang ganteng dan ramah ini. Mereka
takut. Bisa makan ati, kata mereka. Kata mereka lagi, lebih baik
cari cowok yang biasa-biasa aja, nggak usah yang gantengganteng
amat kayak si Boim. Salah satu cewek yang nolak saya
adalah Nyit-nyit. Wah, saya sampe frustrasi berat. Makan tempe
serasa sandwich jadinya.
Dan dalam diary ini juga tertulis tentang keakraban saya dengan
Lupus, Gusur, Aji, dan Anto. Saya sering nginep di rumahnya
Lupus. Sama keluarga lups, saking akrabnya, saya sudah
dianggap... pembantu. Dan ke mana-mana, saya, Lupus, Gusur,
dan Anto selalu bareng-bareng. Baik dalam suka dan duka. Kata
Lupus, “Kebahagian kamu, Im, juga kebahagiaan saya.
Penderitaan kamu, juga kebahagiaan saya.”
Eh, iya. Di sini saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu
naik bis kemarin siang.
Gini, ceritanya waktu itu saya lagi berada di dalam bis kota yang
sesak sepulang sekolah. Di bis, orang sudah serasa sarden. Ada
yang berdiri, bergelantungan di tiang. Saya pun turut berdiri.
Di sebelah saya, ada seonggok gadis manis yang juga
bergelantungan. Dia merasa kerepotan sekali ketika ditagih
ongkosnya oleh kondektur. Tangan yang satu asyik
bergelantungan di tiang, sedang satunya lagi mendekap tasnya.
Kalo dia melepas tangannya dari pegangannya, dia akan jatuh,
tapi bagaimana dia bisa membayar ongkosnya?
Saya sebagai seorang pemuda yang baik hati, merasa tergerak
untuk memberi pertolongan. Lagi pula cewek itu manis. Rugi
dong kalo nggak ditolong. Saya pun menawarkan asa,

“Eh, kak. Bagaimana kalo tiang gelantungannya itu saya pegangi
dulu, biar kakak leluasa mengambil uang di tas?”
Cewek itu bukannya senang, malah melotot sewot.
Lho, apa salah saya?
***
Yah, teman-teman. Karena saya udah bosen, maka diarynya
sementara ditutup di sini dulu, ya? Kalo mau tau banyak tentang
kita-kita, baca aja terus kisah lanjutannya...
2. From Tetangga with Love
Boim kesal. Dia selalu bangun lebih telat dari ayam jagonya.
Padahal dari dulu Boim sudah memendam dendam. Ingin bangun
lebih pagi dan berkokok keras-keras mengagetkan si ayam jago.
Soalnya selama ini selalu aja ayam jagonya bangun duluan dan
berkokok sekuat tenaga di bawah jendela Boim. Hingga Boim
kaget setengah mati. Untung aja nggak jantungan. Kalo
jantungan, mungkin Boim udah koit dari dulu.
Bagusnya tu ayam dipotong aja. Dibikin sop. Tapi Boim nggak
enak sama Lupus. Ayam itu kan pemberian Lupus waktu Boim
ulang tahun beberapa minggu yang lalu. (Enggak usah nanyain
tanggal yang tepat Boim ulang tahun deh. percuma. Sebab toh
jarang dirayai. Nggak ada istimewanya). Dan Lupus kalo ke rumah
Boim suka nanyain ayam pemberiannya, “Si Abdul Choir masih
idup?”
Ya, Lupus memang suka keterlaluan. Menamakan ayam jagonya
Abdul Choir. Padahal satu temen sekolah Lupus ada yang
berjudul Abdul Choir. Hihihi...
Tapi lepas dari ayam jagonya, si Boim belakangan ini sebetulnya
lagi hepi. Apa pasal? Itu, di belakang rumahnya, rumah yang dulu
kosong, kini dihuni orang baru. Keluarga baru dengan anak
gadisnya yang manis. Boim melihatnya ketika dia lagi asyik

manjat pohon jambu belakang rumah. Matanya langsung kedapkedip
menatap gadis manis yang bersenandung pelan sambil
menyiram bunga. Pegangannya pada batang pohon jambu
mengendur, dan... gubrak! Boim terjerembab di atas rumputrumput.
Tapi apalah artinya rasa sakit sedikit dibanding rezeki
yang baru didapatnya. Bayangkan, bertetangga dengan seorang
gadis manis. Siapa yang nggak senang? Mimpi pun Boim nggak
berani.
Ya, mungkin saja bagi kamu itu nggak terlalu istimewa. Tapi bagi
Boim? Playboy cap duren tiga itu? Wah, merupakan nikmat yang
tiada tara. Yang tak terbeli dengan duit gocap sekalipun.
Cuma, ketika Boim langsung berkaca di kamarnya, dia kembali
dihadapkan pada kenyataan pahit. Kamu pasti belum tau, ya?
Gini, setelah diselidiki oleh Boim sendiri, ternyata jam-jam
ganteng Boim itu biasanya muncul pas jam 12 mitnait. Di luar
jam-jam itu, ups, sori. Wajahnya kurang sedap dilihat, walaupun
pernah juga menang juara satu waktu ikut festival mirip kandang
bebek. Hihihi...
Jadi kan susah. Mana ada cewek yang bisa dikecengin di tengah
malam buta begitu? Makanya, jarang ada yang tau kalo sebetulnya
Boim itu ganteng.
***
Sejak punya tetangga cakep, Boim jarang ke rumah Lupus lagi.
Jarang ngecengin adiknya Lupus yang cakep lagi. Hobinya saban
sore manjatin pohon jambu belakang. Mengintai, barangkali tu
cewek nyiram kembang lagi. Sampai abah si Boim curiga, “Lo
ngapain, Im, manjatin pohon jambu melulu? Pan buahnya udah
pada abis? Lo mau ngintip orang mandi, ya?”
Boim Cuma nyengir. Percuma berangin ke abah yang nggak
berjiwa muda lagi.
Tapi gadis itu nggak pernah kelihatan.

Boim segera nyari akal. Gimana ya caranya agar bisa kenalan
sama cewek itu?
“Pap. Papi udah kenalan sama tetangga baru di belakang rumah?
Kenalan, yuk? Kirim-kirim makanan kek. Kan kita harus rukun,
Pap, sama tetangga...”
Si abah pada dasarnya emang rada risi dipanggil ‘Papi” sama
Boim, mendelik sewot, “Lho, kenapa mesti kita yang harus repotrepot.
Pan mereka, sebagai tetangga baru yang harusnya duluan
kemari? Pake kirim makanan lagi! Lo bisa makan seari tiga kali aja
udah untung banget tuh. Sana nimba aer!”
Boim langsung ngiyem.
Tapi pucuk dicinta ulam tiba. Sore besoknya ketika rumah lagi
kosong, dan Boim lagi ngopi sendirian di teras, datang gadis itu
sambil membawa baki berselimutkan serbet besar. Boim
terbelalak tak percaya.
“Permisi, Bang. Yang punya rumah ada?”
Sejenak Boim terpana. Baru saja dia lagi ngelamunin cewek ini,
tau-tau orangnya muncul...
“Permisi, Bang,” ulang gadis itu lembut. “Yang punya rumah ada?”
Boim tersadar. Langsung menyambar, “Eee oa eo, kembalikan
Baliku padaku. Eh, maksudku, akulah yang punya Bali... eh, yang
punya rumah ini.”
Gadis itu ngikik kegelian.
Boim cengar-cengir senang.
“Gini, Bang. Saya mau ngirim makanan buat yang punya rumah.
Disertai salam perkenalan dari keluarga kami yang baru pindah
ke sini. Bapak-ibunya ke mana?”
“O, Papi-mami lagi kondangan di rumah mentri...”

“O ya? Kalo gitu nitip aja, ya?” gadis itu menyerahkan bakinya
pada Boim. Lalu hendak berbalik pulang.
“Eh, kok buru-buru. Nggak ngupi-ngupi dulu?” tahan Boim cepat.
“Lain kali aja deh. Saya harus nganterin makanan ke tetangga
lainnya sih.”
Boim Cuma manggut-manggut.
Gadis itu melangkah ke luar halaman.
“Eh, baki dan serbetnya gimana?” ujar Boim lagi.
“Bawa aja sekalian nanti kalo mau main-main ke rumah,” sahut
gadis itu sambil tersenyum manis.
Main-main ke rumah? Tawaran yang simpatik sekali. Boim
langsung sejingkrakan girang. Plak-timplak-timplak-timplung!
Lho, tapi, siapa nama cewek itu?
***
Besok sorenya, Boim langsung muncul di rumah gadis itu.
Kebetulan, gadis itu sendiri yang membukakan pintu, dan
langsung tersenyum manis bikin jantung Boim nyut-nyutan.
Mereka ngobrol ngalor-ngidul. Cerita tentang Abdul Choir,
tentang pohon jambu, dan macem-macem. Gadis itu ternyata
bernama Mia. Dan di rumah Mia kebetulan lagi ada ibunya doang.
Yang lain pada pergi.
Boim dapat suguhan ketan.
“Kalo musik dang-dut Bang Boim suka?” kata Mia di sela
percakapan.
“O, enggak, Dik Mia. Bang Boim kurang sehati dengan musik
murahan macam gitu. Kalo jazz, bolehlah. Atau paling tidak
bossas. Tipe-tipe... siapa tuh yang orangnya rada-rada keren?”
“Mansyur S?” tebak Mia.

“Ya. Mansyur S.” Boim menjawab mantap.
Kemudian mereka mengobrol lagi, makin lama makin akrab.
Nggak percuma Boim jadi playboy. Bsa langsung menarik simpati
para gadis.
“Eh, Bang Boim, ketannya dicobain dong. Saya mau ke belakang
dulu, ya?”
“Oh, iya. Silahkan.”
Boim ditinggal bersama ketan-ketan yang terhidang di meja. Boim
jadi tergiur ingin mencicipi. Tapi, ah, kalo enggak cuci tangan
dulu, nanti suka lengket. Boim pun cari-cari wastafel untuk cuci
tangan. Nah, itu. Di dekat dapur ada. Boim pun langsung menuju
ke sana dan mencuci tangan di sana. Tepat saat ibunya Mia
muncul dari dapur.
“Lho, Nak. Kok udahan makan ketannya? Udah kenyang?”
Boim cuma bengong. Terpaksa Boim tak berani menyentuk ketan
itu secuil pun ketika ibu Mia menemani mengobrol.
***
Boim lagi asyik nyabutin jenggot di teras, ketika Lupus muncul
dengan sepeda balapnya. “Oi, Boim. Kamu dicariin Gusur tuh.
Mau diajaki bonga-bonga. Hahaha.”
Boim mendelik sewot.
“Ke mana aja, Im, nggak pernah muncul? Lagi dipingit ya, buat
dikawini?”
Boim cuma tersenyum sombong. Langsung Lupus diceritai
tentang tetangga belakang rumah. Tentunya dengan bumbubumbu
penyedap. “Pokoknya jalan sudah mulus, Pus. Orang
tuanya setujua, tetangga merestui, cuma pembantunya yang
kurang simpatik. Makanya saya cukup betah angkring di atas
pohon jambu kalo Cuma mau ngecengin cewek kece.”

Tak berapa lama dari kejauhan nampak Mia berjalan ke arah
rumah Boim. Hati Boim langsung dag-dig-dug. Buru-buru Lupus
diungsikan ke kamar. “Bahaya, Pus. Kamu mendekam di kamar
saya dulu deh, Pus. Buruan!” paksa Boim sambil menyeret-nyeret
Lupus.
“Ada apa sih?” Lupus berusaha berontak.
“Tolong deh, Pus. Kamu ngedekem di kamar saya dulu. Ini demi
kebaikan kamu juga. Ayo. Ayo.” Boim tetap menyeret-nyeret
Lupus yang menjerit-jerit ribut. Lalu dengan paksa dimasukkan
ke dalam kamar Boim, dan dikunci dari luar. Klek. Beres.
Boim pun berjalan tenang ke luar. Menemui Mia. Dia emang
sengaja ngumpetin Lupus, karena Boim takut, jangan-jangan Mia
malah naksir Lupus. Soalnya pernah kejadian begitu.
“Halo, Mia, abis jalan-jalan?” sapa Boim ramah.
Mia yang berjalan memasuki pekarangan rumah Boim tersenyum,
“Iya. Nyari temen ngobrok, belum pada kenal. Mengganggu nggak,
Bang?”
“O, tidak. Tidak,” ujar Boim semangat. “Ayo, duduk.”
Mereka pun asyik ngobrol ngalor-ngidul. Sementara Lupus
dikunci di kamar, memaki-maki nggak keruan. Kasur Boim
diacak-acak, dipakai buat main lompat-lompatan sampai
kapuknya bertebaran.
Bosan main kasur, Lupus mulai mengobrak-abrik kaset. Nyari lagu
yang enak buat disetel. Tapi dasar Boim, kasetnya dang-dutan
semua. Terpaksalah Lupus memilih kaset favorit Boim : Sepiring
Berdua, dan disetel keras-keras.
Alunan dang-dut yang memekakkan telinga mengagetkan Boim
lagi asyik ngobrol sama Mia.
“Lho, suka dang-dut, ya?” tanya Mia sambil menahan senyum.

“Enggak! Aduh, siapa tuh yang norak banget!” maki Boim sambil
beranjak lari ke dalam. Menggedor-gedor pintu kamar sekuat
tenaga.
“Pus, Pus. Kecili dong!”
Lupus pura-pura nggak dengar.
“Lupus! Kecilin dong!”
Tetap tak ada sahutan. Malahan musiknya makin terdengar
nyaring.
Terpaksa Boim membuka kamar yang dia kunci dari luar. Tepat
pada saat pintu berderit terbuka, Lupus menyerbu berlari keluar
sambil berhaha-hihi. Boim kaget, dan cuma bisa melongo waktu
Lupus berlarian ke teras. Terpaksa dia yang mematikan lagu
dang-dutnya.
Di teras, ketika Lupus melihat Mia, barulah dia tau kenapa Boim
tega ngunciin Lupus di kamar. Tapi Lupus cukup tau diri. Dia
hanya tersenyum yang dibalas manis oleh Mia, lalu berjalan
kalem menuju sepeda balapnya yang terparkir di halaman.
Boim yang penasaran pengena ngejitak Lupus, tak sempat lagi
menangkap bayangannya yang segera menghilang di balik
rimbunan pohon seberang jalan. Diam-diam Boim menarik napas
lega, karena Lupus segera pulang.
“Eh, itu tadi siapa?” tanya Mia ketika Boim muncul. “Temen kamu,
ya?”
“Itu si Lupus jelek’”
“Lupus? Yang wartawan Hai itu? Wah, Mia pengen kenal. Kenalin
dong...”
“Hus! Jangan. Dia orangnya norak. Nanti kamu ketularan. Dengar
saja tadi, hobinya nyetel dang-dut keras-keras,” jawab Boim cepat.
“Saya juga suka dang-dut kok...,” jawab Mia sambil memandang
kosong ke depan, tempat Lupus tadi menghilang. “Hebat juga tu

anak. Biar tongkrongannya kaya gitu, masih suka musik dang-dut.
Musik yang Mia sukai. Jarang lho ada cowok sekarang yang suka
dang-dut. Kita kadang memang sulit menghargai musik kita
sendiri...”
“Kalo gitu selera kita sama, Mia...,” ujar Boim pelan.
***
Boim terharu. Pagi itu dia menerima jawaban atas ajakannya
nonton kemarin sore. Surat itu diberikan pembantu Mia ketika
Boim mau berangkat sekolah : ‘Bang Boim yang kece...bur got.
Setelah diteliti, ternyata Mia emang nggak punya acara nanti sore.
Jadi kita bisa nonton. Jemput ya jam setengah tujuh. Salam
manis, Mia.’
Boim menangis seseggrukan. Tak percaya pada apa yang dia baca.
Maka, siang itu merupakan hari yang paling panjang, yang paling
menggelisahkan sekaligus paling menyenangkan dalam hidupnya.
***
Senja hari, Boim sudah bersiap ke rumah Mia. Dengan atribut
yang secara serabutan dia pinjem dari temannya. Kemeja dari Aji,
jaket dari Lupus, sepatu dari Anto, celana panjang dari Gitu, dan
Gusur tidak ketinggalan pula menyumbang celana dalamnya.
Komplit sudah.
Tapi itu semua sia-sia. Beberapa menit setelah itu, Boim kembali
balik ke rumahnya dengan muka yang teramat kusut.
Semua wanita adalah penipu! Teriak batih Boim. Boim mulai
percaya sama penyair Khalil Gibran yang pernah ngomong kalo
para cewek itu mungkin bersembunyi di balik senyum sebagai
cadarnya. Bagaimana tidak? Sudah jelas Mia janji bisa pergi
dengannya sore ini. Tapi kenapa waktu Boim hampir sampai ke
rumahnya, Mia nampak sedang memasuki mobil seorang cowok
dan pergi meninggalkannya?
Boim frustrasi lagi.

Pada saat yang sama, Mia juga sedang kesal mondar-mandir di
teras rumahnya. Dandanannya sudah rapi jali. Lia, saudara
kembarnya, baru saja pergi dengan mobil cowoknya. Dia mau
nonton juga. Tapi, ke mana bang Boim-ku yang jelek? Kenapa
belum datang juga? pikir Mia. Tadinya kalo bang Boim datang
agak awal, mereka bisa nebeng mobil pacarnya Lia sampai
bioskop. Tapi Boim kelamaan, jadinya Lia berangkat duluan.
Kini, sampai jam delapan, Boim belum juga muncul.
Diam-diam Mia menangis di kamar. Kenapa perjalanan cintanya
nggak bisa semulus Lia, saudara kembarnya? Padahal mereka
berdua punya wajah yang hampir tidak ada bedanya. Lia begitu
mudah gonta-ganti cowok keren. Sedang Mia, bahkan untuk
mendapatkan perjaka butut macam Boim pun tak bisa sukses.
***
Sampat jam empat dinihari, Boim tetap tak bisa memejamkan
matanya. Hatinya begitu hancur lebur jadi debu. Sepanjang
malam dia sudah meristiqarah meminta keadilan pada Tuhan
yang dianggapnya nggak adil. Masa playboy nggak pernah sukses
pacaran.
Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. Langsung bangkit dari tempat
tidurnya dengan semangat ’45 dan menuju ke kandang ayam.
Tempat Abdul Choir tidur nyenyak. Lalu dengan sekuat tenaga
dia berkoko, sampai si Abdul Choir terpekik kaget.
Boim puas, dendamnya terbalas sudah....
3. Lulu Belum Pulang
PADAHAL sudah lewat magrib. Tapi Lulu belum pulang juga. Si
Mami jelas kebingungan berat, seperti induk ayam kehilangan
bulu. Biasanya paling telat, jam setengah enam, sudah muncul
batang hidung si Lulu. Dengan bersiul-siul dang-dut atau ribut
nyari duit gocapan buat nambah bayar becak.

“Emangnya Lulu bawa sendok ya, Bu. Kok dicariin?” ujar Lupus.
Lupus langsung kena jitak.
Hihihi..., terus terang aja. Lupus emangsuka keki sama adiknya
yang satu ini. Soalnya si mami begitu kebingungan kalo Lulu
pulang telat sedikit. Tapi giliran Lupus, wah nggak pulang
seminggu juga nggak dicariin. Makanya, kalo kamu agak teliti,
kamu pasti bisa menemukan bahwa Lupus ke mana-mana selalu
bawa sendok. Alasannya? “Biar dicariin!”
Pernah kok suatu hari si mami ribut-ribut banget ngitungin
sendoknya yang ilang satu biji. Sampai Lulu menegur, “Sendok
ilang satu biji aja dicariin. Tapi kalo Lupus, anak sendiri, nggak
pernah dicariin.”
“Ah... Lupus kan kalo lapar juga pulang sendiri. Tapi kalo sendok,
mana bisa?” ujar si mami sambil terus mencari sendoknya.
Lulu Cuma cekikikan, ngebayangin gimana kekinya Lupus kalo
denger ucapan si mami.
Tapi kini Lulu yang ilang. Dan si mami lagi ribut-ribut nyariin.
“Coba kamu susul ke sekolahnya, Pus. Siapa tau dia masih di
sana. Soalnya kalo mau ke mana-mana, Lulu pasti bilang. “Lupus
yang lagi asyik nonton tipi, menjawab malas, “Nggak mungkin
Lulu ada di sekolah, Bu. Mungkin di ke Kebun Binatang.”
Si Mami jadi terkejut, dan memandang tajam ke arah Lupus.
“Ngapain dia di Kebun Binatang malam-malam begini? Apa dia
memang bilang ke kamu mau ke Kebun Binatang, Pus?”
Lupus jadi kaget sendiri. “Eh, itu kan Cuma misal, Bu. Syukursyukur
kalo bener.”
“Keterlaluan! Apa kamu senang kalo adikmu ternyata benar ke
Kebun Binatang malam-malam begini?” hardik si mami sewot.
“Maksud saya—kan jadi gampang nyarinya, kalo dia sudah
ketauan memang jalan-jalanjalan ke Kebun Binatang. Gitu, lho.”

Si mami ngamuk-ngamuk lagi.
Yah, emang susah deh. Dan Lupus sudah menyangka, pasti dia
yang kena getahnya disuruh keliling dunia nyari di mana Lulu
berada. Uh, emang nggak capek. Coba saja, kalo Lupus yang
belum pulang, mana mungkin Lulu disuruh capek-capek mencari?
Bener-bener nggak adil. Lulu memang selalu beruntung. Selalu
mendapat yang terbaik. Harusnya kan malam-malam begini lebih
enak nonton tipi sambil ngemil tahu goreng bikinan bibik. Atau
beli siomai yang mangkal di tikungan jalan. Daripada nyariin si
centil Lulu yang nggak ketauan juntrungannya. Tu anak mungkin
lagi enak-enakan sama teman-temannya, sementara di rumah
orang-orang pada kebingungan.
“Cari ke mana, bu? Kan nanti juga pulang..., kalo inget...”
“Tapi ini sudah hampir jam setengah delapan. Coba kamu cari ke
rumah Suli, atau siapa saja yang kamu tau,” ujar si mami gelisah
sambil sesekali menyibakkan gorden, mengintip ke luar jendela.
Siapa tau Lulu datang.
Di luar memang sudah gelap.
Dan dengan menggerutu panjang pendek, Lupus mengeluarkan
sepeda balapnya dari garasi. Dalam hatinya Cuma satu tekat,
menjitak keras-keras kepala Lulu kalo ketemu nanti. Tu anak
bikin susah aja. Kalo kepergiannya nggak bikin Lupus sibuk
begini sih, terserah. Tapi ini...?
Si mami juga terlalu cemas sih. Padahal namanya anak muda,
wajar sih kalo sekali-sekali punya acara mendadak. Siapa tau
ketika Lulu hendak pulang, ketemu cowok bermobil dan diajak
jalan-jalan... eh gila! Yang beginian sih jelas nggak sehat! Lupus
cemas sendiri. Soalnya Lulu itu, biar udah kelas satu esema, jiwa
nekatnya masih gede banget. Pusar kepalanya aja ada dua.
Pertanda anak yang nakal. Dan bagaimana kalo ternyata Lulu
benar mau diajak oom-oom bermobil mewah keliling kota? Atau
malah ke Puncak? Hiiii..., mudah-mudahan enggak! Lupus jadi
mengerti, kenapa si mami jadi begitu cemas. Soalnya punya anak

gadis memang paling repot ngejagainnya. Meleng dikit, kesambet.
Dan kejadian oom-oom yang suka bawa anak gadis itu bukan
kejadian bohong. Lupus sering geliat, si Fifi diuber-uber oomoom.
Untung aja si Fifi tabah. Hanya oom yang ber-BMW aja yang
diterima.
Tanpa terasa, sepeda balap Lupus sampai ke rumah Suli.
Kebetulan tu anak lagi jajan bakso di depan rumah.
“Heran, kamu selalu datang kalo saya lagi jajan bakso,” ujar Suli.
Lupus ketawa, dan langsung memesan semangkuk.
Kemudian menyusul Suli duduk di dipan teras rumah. Kakinya
diangkat, didekapkan ke dada biar terasa agak hangat. Malam ini
memang dingin. Suli duluan melahap baksonya. Sesekali
mulutnya mengap-mengap kepanasan. Buset, ni anak nggak
sabaran betul kalo makan? Lupus pun membantu Suli mengipasngipas
baksonya pake kertas yang ditemukan di dipan. “ Biar
cepet dingin,” ujar Lupus.
“Hei, itu kartu Valentin saya!!!” teriak Suli sambil merebut kertas
yang dipegang Lupus. Buset, hari Valentin udah kapan tau, masih
disimpan juga kartunya. Pasti dari pacarnya...
“Dari siapa sih, Sul?”
Suli Cuma menjulurkan lidah. Lupus sempat membaca sebagian
isinya :’... kasih sayang menjadikan setiap hari adalah hari yang
terindah bagimu...’ Doyo..., romantis amat?
“Kamu kenal Boim, Sul?”
“Temen kamu yang katanya pernah menang lomba mirip sandal
jepit itu?”
Lupus tertawa, hahaha... “Iya.”
“Emangnya kenapa?”
“Waktu Valentin kemarin, dia dapat kartu Valentin paling
banyak!”

“Ah, masa? Emang dia ganteng, ya? Kenalin dong, Pus.”
“Buka. Soalnya bapaknya emang tukang pos hahaha...”
Suli merengut.
Lupus mengambil mangkuk bakso yang disodorkan si abang.
“Sausnya banyak, Bang?”
Lalu keduanya asyik melahap bakso hangatnya. Dingin-dingin
begini memang paling enak makan bakso hangat.
Beberapa saat kemudian, Suli beranjak pergi hendak mengambil
minum.
“Minum apa, Pus?”
“Nggak usah repot-repot. Es kelapa aja...”
Suli memaki-maki. Emangnya restoran?
Beberapa saat kemudian, Suli muncul lagi dengan sebotol air
dingin di tangan. “Ngomong-ngomong Lulu ke mana, Pus? Kok
nggak diajak?”
Lupus langsung tersentak. Astaga, dia kan lagi disuruh nyari Lulu.
Kok malah enak-enakan di sini? Lupus langsung bertanya sama
Suli, apa Suli liat Lulu sepulang sekolah sore tadi?
“Lho, kok malah tanya saya? Saya nggak tau, Pus. Tadi nggak
barengan pulangnya. Lulu ngabur pas jam terakhir...”
Gila. Lupus buru-buru pamit. Lalu menyambar sepedanya yang
terparkir dekat tukang bakso. Langsung menghilang di balik
tikungan jalan.
Beberapa saat, entah kenapa, Lupus muncul lagi. Terengah-engah
sambil berhenti di dekat Suli yang memesan semangkuk lagi.
“Ada yang ketinggalan?”
“Enggak, Sul. Cuma mau tanya. Kartu Valentin saya apa sudah
sampai?”

“Kartu yang mana? Belum kok. Emangnya kamu ngirim?”
“Enggak. Emang harus ngirim?”
“Lho?”
Lupus pun berlalu sambil tergelak-gelak.
***
Gawat. Ternyata Lulu memang gawat. Sampai jam sembilan
malam, tu anak belum nongol juga. padahal Lupus sudah nyari ke
mana-mana, tapi nggak ketemu juga. si mami uring-uringan,
nggak bisa tenang. Sebentar-sebentar mengintip ke jendela, atau
maksain Lupus agar terus mencari Lulu sampai ketemu.
Terpaksalah Lupus yang aturan sudah nyenyak bobo di tempat
tidur, kini berngantuk-ngantuk-ria nyari si Lulu ke rumah temantemannya.
Tapi nggak ketemu juga. sial, tu anak bikin susah aja.
Beberapa kali sepeda balap Lupus hampir nyebur ke got, lantaran
kantuk yang tak tertahankan.
“Lupuuuus..., Lupuuuus...,” tiba-tiba ada suara merdu memanggil
dari sebuah mobil pick-up.
Lupus menoleh. Eh, siapa tuh, ada anak manis memanggilmanggil.
“Sebentar, Pus.” Cewek itu turun dari mobilnya dan menghampiri
Lupus. Buset, manis juga.
“Kamu Lupus, kan? Kamu lagi nyariin Lulu, ya?” gadis itu
langsung berceloteh.
“Kok tau?”
“Kalo saya bisa menemukan di mana Lulu, hadiahnya apa?”
ujarnya lincah.
“He—kamu temannya Lulu, ya? Di mana Lulu?” Lupus jadi napsu.
Dia melompat turun. Dan Lulu pun nongol dari mobil gadis tadi.
Langsung ketakutan ngeliat Lupus melotot ke arahnya. “Weniii...,
toloooong!” Lulu buru-buru berlindung di balik badan temannya.

Gadis itu bersikap seolah melindungi Lulu. “Tunggu, Pus. Jangan
ngamuk-ngamuk dulu. Dengerin. Tadi pulang sekolah Lulu ke
rumah saya. Janjian mau liat-liat koleksi boneka saya. Tapi
berhubung rumah saya jauh, di dekat Bogor, kita-kita pulangnya
jadi rada telat. Maklumlah, keasyikan main. Tadinya Lulu disuruh
nginep aja sama mama, tapi katanya Lulu belum bilang. Dan
sekarang kamu lewat, Pus. Tolongin dong Lulu. Kasian...”
“Iya, Pus. Tolongin rayuin Ibu, Pus,” ujar Lulu ikut-ikutan, “Saya
ngeri nih!”
Lupus cuma bisa menghela napas. Lalu menarik tangan Lulu agar
sedikit menjauh dari situ. Lulu sudah ketakutan saja ketika Lupus
berbisik pelan, “Gila. Temen kamu cakep juga, tuh. Siapa
namanya? Weni, ya? Kalo mau ke rumahnya ajak-ajak dong.
Apalagi kalo mau nginep segala...”
Lulu bengong.
***
Malam ini Lulu lagi sedih. Dia dihukum si mami ngegantiin tugas
bibik mencuci rantang yang seabrek-abrek bekas katering tadi
siang.
“Itu hukuman untuk anak yang suka bikin orang tua susah. Pergipergi
tanpa izin!!” ujar mami.
Lulu cuma bisa nurut. Dan sampai malam, dia ngejogrok
sendirian di dapur, mencuci rantang. Mulutnya sibuk memakimaki
dirinya sendiri yang mendapat sial.
Tak lama, Lupus muncul dengan segelas susu. “Minum biar
tambah kuat nyucinya.”
Lulu tak menggubris.
Lupus kasihan. Dia membantu sedikit-sedikit melap rantang ya
yang sudah dibilas.

“Kadang saya iri sama kamu, Pus,” ujar Lulu sambil tetap mencuci
rantang. “Kamu enak. Bebas mau pergi-pergi, mau nginep-nginep,
tanpa harus repot-repot izin dulu. Kamu begitu bebas. Nggak
pernah dicariin ibu. Kalo saya? Ngilang sebentar aja, udah
dicariin. Emangnya saya sendok?”
Lupus cekikikan.
“Ah, manusia memang aneh. Serba nggak puas. Dicariin salah,
nggak dicariin juga salah. Saya justru suka ngiri sama kamu, Lu.
Kamu begitu diperhatiin. Apa kamu pikir saya nggak sedih,
nggak pernah dicariin? Tapi memang, kita perlu merasa nggak
puas. Soalnya kalo kita cepet puas, hidup ngak ada seninya lagi.
Nggak ada tantangan. Hihihi...”
Lulu ikut-ikutan ketawa.
“Kalo gitu, kapan-kapan kita pergi sama-sama aja, Pus. Kan jadi
enak. Kamu jadi dicariin, karena menculik saya pergi. Hihihi...”
Keduanya pun menggangguk-angguk setuju.
Tanpa terasa, rantang yang dicuci sudah bersih semua.
4. Keriting Everywhere
DI BULAN puasa menjelang jam tujuh, Lulu selalu ribut-ribut
nyari mukenanya. Dia emang rajin tarawih. Puasanya juga pol
sampe beduk magrib. Beda sama Lupus. Lupus kalo soal tarawih
emang kurang. Tapi puasanya dong..., batal melulu... hihihi.
Dan Lupus emang paling males kalo diajaki tarawih. Katanya, dia
suka ketiduran di mesjid. Abis pas buka, Lupus sering makan
kelewat banyak. Walhasil bawaannya ngantuk melulu.
“Pus, kamu liat mukena saya?” teriak Lulu dari kamarnya.
Lupus yang lagi asyik menyantap kolak pisang, menyahut cuek,
“Mukena kek mau kagak kek, emang gue pikirin?”

Lulu sewot. Dia langsung aja berniat ngerjain si Lupus lagi kayak
kemarin. Yaitu dengan menyelipkan beberapa ekor semut mungil
yang manis-manis ke dalam kolak pisang si Lupus. Lupus kan
paling hobi makan kolak pisang. Kalo buka puasa yang paling
dulu dia makan pasti kolak pisang. Sedang Lulu sering dapat
tugas dari si mami untuk membuatkan kolak pisang buat Lupus.
Nah, ini dia. Lulu berhasil menemukan mukenanya di tumpukan
kain si mami. Aduuuh..., tapi di mana ya semut-semut kecil yang
biasa muncul? Seperti juga Lupus, Lulu memang selalu yakin
bahwa di kamarnya pasti banyak semut. Soalnya semut kan suka
sama sesuatu yang manis-manis. Sedang Lulu selalu merasa
dirinya manis. Tapi, ah—persetan dengan semut-semut. Tarawih
sudah hampir mulai nih!
Lulu pun buru-buru mengambil sarung dan melilitkan
selendangnya di kepala. Tak lupa dia membawa sandal jepit
kesayangannya.
“Tarawih di mana, Lu?” sapa Lupus sambil lalu ketika Lulu
melewati ruang tengah. Lupus di situ lagi asyik makan kolak
sambil nonton tipi. Acara favoritnya selama bulan puasa ini
nggak lain dan nggak bukan adalah acara azan magrib. Tiap sore
dia tunggu-tunggu terus.
“Tarawih di mana, Lu? Ditanya kok cuek?” ulang Lupus.
“Di mesjid dekat lapangan bola,” ujar Lulu kalem.
“Lapangan bola? Lapangan bola yang mana?”
“Lapangan bola yang dekat mesjid.”
***
Lupus sering tak habis pikir melihat Lulu adiknya itu. Padahal di
dekat rumah Lupus, juga ada mesjid yang lumayan gede. Tapi
Lulu selalu sembahyang di mesjid dekat lapangan. Ketika ditanya
alasannya, Lulu bilang, “Kalo mau sembahyang berjamaah, makin

jauh mesjidnya, makin besar pahalanya. Kan setiap langkah kita
menuju mesjid, selalu di beri pahala.”
Yah, itu emang bener. Tapi ya belon tentu juga. Yang penting dari
semua itu kan niatnya. Niatnya mau ngapain. Kalo si Lulu jelasjelas
patut dicurigai. Dia itu punya niat yang nggak beres. Di
mesjid dekat lapangan bola, anak cowoknya memang kerenkeren.
Soalnya anak-anak real estate sebrang kali, sering
bersembahyang di situ. Nah, Lulu sering sengaja tarawih di situ
sama teman-temannya sekalian ngeceng-ngeceng. “Yeah, sambil
menyelam minum green-spot!” ujar Lulu cengar-cengir.
Mesjid itu praktis jadi ajang perkecengan.
Dan malam itu, seusai tarawih, Lulu lagi asyik membenahi
perangkat sembahyang bersama Ritma. Sengaja dilama-lamain,
supaya yang lainnya udah pada pulang. Jadi bisa puas ngecengngeceng.
“Halo, cewek!” tiba-tiba dari balik kain pembatas, menyembul
wajah seorang cowok keren. “Nungguin kita, ya?”
Lulu terkejut. Karena kebetulan dia memang pas duduk di dekat
kain pembatas.
“Ssst..., itu Edwin, Lu. Yang suka nanyain kamu!” bisik Ritma.
“O ya?”
Tapi wajah Edwin sudah menghilang lagi. Ritma buru-buru
mengajak Lulu mengemasi mukenanya, “Cepat, Lu. Keburu dia
pulang. Dia anak real-estate.”
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun berada di antara
rombongan orang-orang yang pulang tarawih. Tak lupa
celingukan mencari si Edwin yang kece tadi. Di mana ya, tu anak?
Katanya mau ngegodain. Kok malah ngumpet.
***

Tiap sore di kamar Lupus selalu ada kesibukan baru. Ada suara
kocokan gitar dan teriakan nyaring mirip-mirip bebek di situ.
Suara siapa lagi kalo bukan suara Lupus yang lagi belajar bikin
lagu? Di sekolah memang mau ada acara perpisahan anak kelas
tiga. Nah, si Lupus itu dapat tugas bikin satu tema lagu buat
operet kelas. Tak ayal, Lupus yang baru bisa main gitar tiga jurus
itu, senen-kemis mencipta lagu. Bolak-balik ngerekam nada-nada
yang ia dapat ke dalam pita kaset.
Sebetulnya dalam mencipta lagu itu, bukan sepenuhnya Lupus
sendiri yang kerja. Lupus dibantu tetangga-tetangganya kanan
kiri. Para tetangga itu sebetulnya bukan karena iklas membatu.
Tapi karena merasa terganggu kalau tiap sore harus mendengar
jeritan si Lupus. Jadi daripada harus berlama-lama menderita
mendingan berkorban dikit membantu Lupus. Ada yang
nyumbang lirik lagu atau hanya sekedar doa secukupnya. Yang
ngisi vokal juga rame-rame. Jadi gara-gara itu lagu, satu erte
ikutan sibuk terlibat. Dan setelah jadi, Lupus pun memaksa setiap
orang mendengarkan lagu ciptanya sambil bertanya, “Bagus
nggak? Bagus nggak?”
Ternyata dari sepuluh orang yang dihubungi, sebelas di antaranya
menyatakan, ”Tidak! Tidak!”
Keterlaluan, ya?
Tapi ada satu makhluk yang tidak ikut sibuk terlibat. Nggak lain
dan nggak bukan adalah Lulu sendiri. Tu anak belakangan ini
malah lagi sibuk ngeliatin model-model rambut. Semua majalah
dibuka-buka. Dipelajari. Model apa yang kira-kira lagi in?
Anak itu kalo lagi jatuh cinta memang gawat. Ada-ada aja
tingkahnya. Dan sekarang, dia lagi naksir si Edwin, cowok kece
yang sering dijumpai waktu tarawih. Yah, meskipun ketemu
hanya sekelibat aja, tapi Lulu suka. Malah kemarin malam sempat
janjian ketemu lagi di depan kedai es krim sebrang lapangan bola.
Kedai yang biasanya dikunjungi anak-anak sepulang tarawih. Di
sana ada kolak, cincau, kelapa muda, es krim dan makanan ringan
lainnya.

Janjiannya masih lama. Masih sekitar dua harian lagi. Karena
selama dua hari ini, Edwin mau nganter maminya dulu ke
Bandung. Jadi buat Lulu, masih ada waktu dua hari lagi untuk
persiapan. Duile, mau ketemu aja pake persiapan!
Setelah Lulu selidiki, ternyata yang sekarang lagi in adalah model
rambut keriting. Di mana-mana sekarang memang serba keriting.
Teman-teman Lupus, si Boim sampai Fifi Alone rambutnya
keriting. Ayam tetangga pun ada yang keriting. Semua yang serba
keriting, lagi jadi mode dan didemenin. Contohnya, kerupuk yang
dijual di warung gado-gado. Semua keriting. Atau supermi yang
sering dibeli si mami. Ikut-ikutan keriting. Kaset lagu pun kalau
dijemur suka keriting.
Makanya, setelah mantap. Lulu pun berduyun-duyun ikut gadisgadis
lain untuk dikeriting. Lumayan buat persiapan jumpa sama
si Edwin. Dan sehari sebelum perjanjian mereka bertemu di kedai
es, Lulu sudah siap dengan rambutnya yang ajaib. Keriting total.
Gimana komentar Lupus ketika pertama kali ketemu Lulu yang
baru pulang dari salon?
Dia terbengong-bengong dan berkata, “Aduh, Lulu, kesentrum di
mana kamu? Saya turut berduka cita atas musibah yang
menimpamu.”
Lulu langsung ngamuk-ngamuk sambil ngucel-ngucel rambut
Lupus sampai keriting juga. Lupus jadi sebel setengah mati
setelah berkaca dan ngeliat rambutnya jadi ajaib begitu. Dia
langsung keramas agar rambutnya bisa lurus lagi.
Tapi sebaliknya, temen-temen sekolah Lulu langsung pada mujimuji
penampilannya, “Idiiiih..., kamu jadi kayak koper girl deh.
Kayak gadis penjual koper...hihihi.”
***
Jam tujuh lewat dikit, Lulu mendadak masuk rumah dengan
terburu-buru. Mukanya kusut. Menandakan ada yang tidak beres.
Sarung dan mukenanya dilempar begitu saja ke atas kursi

panjang. Lalu dia duduk terhenyak di sofa pojok ruangan.
Bersungut-sungut dia di situ.
Melihat wajah yang kusut, yang tak kalah kusut dengan keriting
di rambutnya Lupus yang semula lagi asyik-asyik duduk nonton
tipi, jadi tersenyum geli. Lho, tapi ini kan baru jam tujuh lewat.
Kok tumben Lulu udah balik dari tarawihnya? Biasanya paling
cepet jam setengah sepuluh baru nongol.
“Nggak tarawih, Lu?”
Lulu menatap Lupus, lalu menjawab malas, “Tarawih
dipulangkan. Imamnya nggak masuk.”
Lupus ngikik. Ada-ada aja!
“Ada yang nggak beres, Lu?”
Lulu diam. Asyik mengigit-gigit ujung keritingnya.
“Halo? Kok diam?”
Lulu memicingkan matanya.
“Coba tebak, Lu. Kotak, kecil, ada dipojokkan. Apakah itu?”
Lulu membuka matanya.
“Nggak tau?”
Lulu menggeleng.
“Papan catur lagi ngambek.”
Lulu tertawa. Hahahaha. Langsung menerjang Lupus dan
mengucel-ngucel rambutnya lagi. Lupus menjerit-jerit ribut.
Lalu Lulu langsung cerita tentang kesedihannya. Si Edwin yang
udah janji mau traktir di kedai es krim, ternyata tak
mengenalinya ketika bertemu Lulu saat berangkat tarawih. Sama
sekali tak mengenali. Yah, bagaimana tu cowok bisa ngenalin,
kalau tiba-tiba rambut Lulu jadi keriting begitu? Lulu yang
maksudnya mau bikin surprise, malah tak dikenali sama sekali.

Baru ketika Ritma muncul, dan meyakinkan Edwin bahwa benar
gadis yang berambut keriting itu si Lulu, kontan Edwin nge-shock.
Soalnya doi nggak doyan kalo rambut Lulu digituin. Doi lebih
suka yang alami, yang natural.
Lulu jadi nyesel berat dikeriting.
“Kadang orang memang lebih suka apa adanya, Lu. Sesuatu yang
dibuat-buat, yang kita pikir bakal lebih mempercantik diri kita,
malah kadang menjatuhkan. Maka, jadilah apa adanya diri kamu.
Cintailah apa yang telah ada pada diri kamu. Karena yang telah
ada pada diri kamulah yang dicintai Edwin,” begitu nasihat Ritma,
temannya. Lulu menunduk sedih.
“Namanya juga orang usaha...,” ujar Lulu sedih.
Sedang Lupus hanya berkomentar, “Wah, tu cowok emang sama
sekali nggak berjiwa humor. Nggak tau bahwa jarang-jarang ada
cewek punya rambut ajaib kayak kamu. Hihihi...”
Esok malamnya, Lulu mulai bersiap-siap lagi. Sementara Lupus
dari tadi sibuk nyari kolak pisangnya yang kelupaan dimakan
“Tarawih lagi, Lu?” tanya si mami.
“Enggak. Libur dulu. Lulu mau ngelurusin rambut dulu ke salon,”
ujar Lulu enteng.
“Apa?” Lupus jadi tersentak. “Jangan, Lu! Aduh, jangan dilurusi
rambutnya! Kita-kita sama temen udah pada sepakat untuk
mengajak kamu ikutan di operet sekolah. Jadi peran adiknya si
Boim yang keriting juga. soalnya di sekolah nggak ada anak yang
keriting!”
“Jadi adiknya Boim? NGGAK MAU!!!”
“Yaaa... mau dong! Tolonglah, Lu!”
Lulu langsung ngabur keluar. Enak aja jadi adiknya Boim!
Tapi pas sampai di jalan, dia seperti teringat sesuatu. Dan
langsung buru-buru balik. Setengah berlari dia. Tapi terlambat,

sampai rumah Lupus kedapatan lagi panik meludah-ludah di got
belakang.
“Lulu!! Kamu ngemasukin semut-semut itu lagi ya ke dalam
kolak??” hardik Lupus.
Lulu tak bisa menahan ketawanya. “Hahaha..., baru mau
dibilangin, ternyata telat... hahaha.”
Lulu langsung dikejar-kejar ke jalanan. Hahaha, hahaha!
5. Hari Ini Libur
MINGGU pagi awal libur yang panjang, nampak seorang anak
sedang menunggu di pinggir jalan. Tampangnya jelek sekali.
Soalnya lagi suntuk nunggu seseorang. Anak itu teman kamu
juga. namanya Lupus. Ada tergeletak pasrah sebuah ransel
mungil di sisi tempat dia berdiri. Ransel yang berisi sesuatu yang
nggak boleh kamu lihat. Ya..., tebak aja sendiri. Terus terang, saya
nggak berani ngoprek-ngoprek isinya. Soalnya si Lulu aja waktu
nekat mau tau apa isi ransel Lupus, kena sambil sandal jepit. Ih,
sadis.
Tapi menurut Lupus, teman-temannya lebih sadis lagi. Bayangin
aja, mereka udah janjian mau jemput Lupus dipinggir jalan jam
enam pagi. Tapi sampai lewat jam tujuh, makhluk-makhluk sialan
itu belum muncul juga. padahal dari subuh-subuh Lupus udah
bangun. Udah bela-belain mandi basah, biar ngantuknya ilang.
Tapi sampai sekarang? Si Lupus gayanya udah kayak liften aja.
Tiap ada mobil lewat diamati. Disumpah-sumpahi.
Beberapa tukang ojek yang biasa mangkal di ujung gang, dari tadi
secara gantian sibuk nawarin Lupus untuk naik aja ke ojeknya.
Tapi Lupus nolak. Soalnya tu ojek kan khusus angkutan ke jalanjalan
kecil. Khusus untuk balik lagi ke rumah.
Tiba-tiba sebuah minibis nampak di kejauhan. Berwarna merah
norak. Nah, itu dia, yang ditunggu-tunggu datang. Lupus pun

bersiap-siap mengemasi bawaannya. Pasti nggak salah lagi nih,
pikirnya. Uh—lama amat. Nggak tau, ya, udah capek-capek
dandan dari subuh...
Tapi belum selesai Lupus menumpahkan makiannya, itu mobil
sudah lewat dengan cueknya di depan hidung Lupus. Lho?
Sialan—ternyata bukan. Dengan kesal, Lupus pun membanting
ranselnya.
“Udah deh, Tong. Pulang aja lagi. Yang ditunggu nggak bakal
datang. Ayo abang anterin,” rayu tukang ojek itu lagi.
“Enggak usah, ya!” cibir Lupus.
Lupus pun menanti lagi. Iseng-iseng dia mengunyah permen
karet. Sumpah, dia sekarang nggak berani lagi nempelin bekas
permen karet di tempat duduk orang. Soalnya sebelum libur ini,
Lupus sempat disidang sama guru-guru, karena ada seorang guru
Bahasa Indonesia yang roknya kena noda lengket bekas permen
karet ketika duduk. Siapa lagi anak SMA Merah Putih yang doyan
permen karet kecuali Lupus? Makannya Lupus yang disidang. Dan
namanya menghadapi guru, Lupus jelas nggak bisa menang
argumentasi. Dia kena ancam skors. Untuk besoknya libur, jadi
sama aja bo’ong.
“Aduh, padahal guru itu yang salah!” ungkap Lupus kesal ketika
keluar dari ruang sidang. “Udah tau bangku ada permen karetnya,
kenapa didudukin? Makanya jadi orang tuh harus hati-hati!”
Tapi toh, Lupus rada-rada kapok juga.
“Apa lebih baik ditempeli di meja aja, biar nggak bisa diduduki
orang?”
Lupus menimbang-nimbang sambil terus mengunyah. Tak terasa,
jam sudah menunjukkan pukul delapan. Sialan! Ke mana nih
anak-anak? Saking sebelnya, Lupus berniat balik aja lagi ke
rumahnya. Dia mengemasi bawaannya dan menuju tukang ojek
yang selalu always stand by di ujung gang. Tapi tukang ojeknya

pura-pura nggak tau ketika Lupus mendekati. Pura-pura sibuk
ngilik kuping.
“Bang—anterin ke rumah!”
Tukang ojek itu memandang Lupus dengan ekor matanya.
“Ih, sori, ya. Tadi ditawari nggak mau. Emangnya situ aja yang
bisa jual mahal?”
Lupus gondok. Dia pun beranjak pergi.
Tapi ngapain balik lagi ke rumah? Malu-maluin aja. Bukannya tadi
dia udah pamitan sama si mami, si Lulu, sama tetangga kanan
kiri, juga sama ayam-ayamnya tersayang? Apa kata mereka nanti?
Lho, kok pikniknya udahan? Kok nggak bawa oleh-oleh? Kapan
tadi udah pamit ke setiap orang?
Dijejali pikiran macam gitu, Lupus pun pantang menyerah. Dia
segera menyetop bis menuju rumah Boim.
***
Di rumah Boim sepi. Yang empunya rumah masih cuek. Masih
bersarung ria dengan secangkir kopi di ruang tengah. Sambil
dengerin radio lagu-lagu dang-dut pilihan.
Lupus mengetok-ngetok pintu.
“Assalamualaikum! Assalamualaikum! Tok-tok-tok!”
“Aduh maap..., nggak ada orangnya...,” terdengar sahutan dari
dalam.
“Lho yang ngomong itu siapa? Apa bukan orang?”
“Ya, orang dong. Kamu siapa sih, kok agresip amat?”
“Saya Lupus.”
“Oto..., Lupus. Silakan pulang aja deh.”
“Sialan!” Lupus langsung membuka pintu. Di situ ada pembantu
Boim lagi beberes.

“Maaf, Den. Bibik kira tukang minta-minta. Habis, biar lebaran
udah lewat, tukang minta-minta masih banyak. Dikit-dikit ketok
pintu. Kan capek.”
Lupus Cuma nyengir.
“Si Boim ke mana, Bik?”
“Boim?” Bibik itu mikir. “Katanya sih lagi nggak ada. Mau ngapain
sih nyari Boim?”
“Ya..., mau ketemu aja. Sekalian lebaran. Saya kan belum sempet
lebaran sama dia.”
“Oto... kata Boim kalau ada tamu yang mau minta maaf, suruh
ambil aja di bufet... hihihi.”
Lupus mendongkol.
Pas Boim nongol. Masih bersarungan sambil cengar-cengir kuda.
Lupus langsung menumpahkan kekesalannya,
“Gimana sih, lo. Nggak tau ya saya udah nunggguin dari pagi di
pinggir jalan? Katanya mau nyamper jam enam. Terus, mana lagi
si Gusur, Anto, Aji, Gito... Pada kompakan ya mau ngerjain saya?”
“Bukan gitu, Pus.”
“Remaja sekarang udah nggak bisa menghargai janji. Payah.
Kayaknya sekarang ini begitu enteng janji diucapkan. Begitu
enteng janji dilanggar. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari.
Kau yang memulai, kau yang mengakhiri... lho—kok jadi teks lagu
dang-dut?
“Pokoknya, saya marah berat. Anak-anak udah pada gokil semua.
Betapa banyak janji yang nggak ditepati sekarang ini. Apa janji
emang udah nggak ada harganya lagi? Apa kamu nggak pernah
mikir kalo orang yang udah dijanjiin, yang menunggu di pinggir
jalan, sangat gelisah?”
“Alaaah, lo juga suka ngaret, kan, Pus?”

“Iya, tapi kan itu mendingan daripada nggak datang. Mending
telat daripada nggak sama sekali...”
Tetap aja, Pus. Ngaret juga versi lain dari mengingkari janji.”
Lupus memberengut.
“Masalahnya gini, Pus. Saya lagi cekak. Nggak punya duit buat
piknik pada liburan kali ini. Si Anto sama Gusur juga begitu. Jadi
kemarin, waktu pulang sekolah, kita sepakat nggak jadi pergi
aja.”
“Tapi kok nggak bilang-bilang saya?”
“Kamu kan lagi disidang di ruang guru!” Boim menggulunggulung
sarungnya. “Udah sekarang kita ke Anto aja. Siapa tau dia
punya ide lain?”
Boim pun buru-buru ke kamar mandi. Saat itu si Gusur muncul.
Dari jauh tu anak udah cengengesan.
“Hooo1, rekan-rekan. Daku lagi bahagia sekali hari ini.
Bahagiaaaa... sekali...”
“Ada apa, Sur? Dapet porkas?”
“Tidak, Pus. Di bis tadi daku kecopetan.”
Boim yang sudah siap mau nyemplung ke bak, jadi urung. Belabelain
keluar sambil berhandukan.
“Kecopetan? Kok malah girang?” tanya Boim penasaran.
“Mengapa tidak. Dompet yang dicopet itu berisi bon-bon utangku
pada tukang bakso, siomai, rujak. Dan di situ ada perjanjian,
barang siapa yang menemukan bon-bon ini, wajib melunasinya.
Hahahaha...”
***
Setelah semua beres, mereka bertiga pun ke rumah Anto. Anto
yang sebetulnya punya tugas bawa mobil pada piknik kali ini.

Tapi kenapa tadi pagi nggak ngejemput Lupus dulu? Paling tidak,
ngebilangin kek kalo perginya nggak jadi.
Tiba di rumah Anto, suasana lebih lengang lagi. Lupus, Gusur,
dan Boim berdiri di depan pagar. Ih, pada ke mana sih? Kok sepi?
“Hoooooiii..., antoooo..., keluar kau! Rumahmu sudah kami
kepuuuung!” teriak Lupus kumat gokilnya.
Gusur cuma kekikikan.
“Iya, Tooo..., ini kami bertiga dataaaaang...,” tambah Boim. “Kami
dari regu A. Di sebelah kanan saya Lupus, sedang di sebelah kiri
saya karung beras...”
Gusur yang tadinya bercita-cita mau cekikikan lagi, jadi cemberut.
Tapi yang muncul ternyata bokapnya Anto. Yang terheran-heran
geliat anak-anak gokil itu. Anak-anak jelas jadi tersipu-sipu malu.
“Nyari Anto, ya? Langsung aja ke belakang. Dia lagi ngebenerin
mobil tuh!”
Lupus, Boim, Gusur pun berduyun-duyun ke belakang.
Ketika ditemui, tu anak lagi sibuk berat dengan mobil bututnya.
Tangan dan mukannya belepotan oli.
“Wah—sori, Pus. Mungkin saya nggak jadi pergi. Abis mobil saya
ngadat lagi. Nggak tau tuh, apanya yang rusak. Tadi pagi disarter
nggak mau idup-idup. Kamu bisa betulin nggak, Pus?”
Lupus berlagak memeriksa mobil Anto dengan seksama.
“Oooooh, ini, To. Mungkin karena letak kaca spionnya yang nggak
bener...”
Anto bengong. Idih, apa hubungannya?
***

Pagi itu, di awal liburan, terpaksa mereka nggak jadi piknik. Cuma
ngumpul-ngumpul aja di rumah Anto sembari makan kue sisa
lebaran.
Suntuk juga sih.
“Jadi liburan ini kita ngapain dong!” ujar Lupus.
“Saya sebetulnya ada ide, Pus. Itu kalo kalian setuju. Tiap libur,
biasanya kan kita cuma ngabis-ngabisin uang. Piknik ke sana-sini.
Emang sih buat refreshing. Tapi gimana kalo kali ini kita isi
dengan nyari uang aja? Dengan kerja. Itung-itung KKN. Kasak-
Kusuk Ngobyek. Soalnya kalo dari kecil kita nggak dilatih bekerja,
kita nggak biasa. Remaja di barat aja sering mengisi liburannya
dengan cari uang. Dengan kerja di restoran, jadi tukang cuci
piring. Makanya pas udah gede mereka udah terbiasa kerja...,”
usul Anto.
“Alaah, kamu kan baca sendiri, To, di majalah. Situasi di sini
beda. Mana ada restoran sini yang mau nerima pekerja part-time
macam kita-kita yang nggak pengalaman?” bantah Boim.
“Justru itu. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi di sini. Kalo
kamu mau, kita ada kerjaan yang sip. Yang sekaligus bermanfaat
buat kita-kita semua. Terutama buat kamu, Pus.
“Kok saya?” Lupus bengong.
“Begini. Pada libur panjang ini kepala sekolah kita berniat
mengecat ulang sekolahan kita yang mulai dekil itu. Nah, kemarin
secara iseng saya tawarkan, gimana kalo kita-kita aja yang
mengecat, Pak? Beliau setuju-setuju aja, asal kita kerjanya bener.
Nah, ini kan berguna buat kamu, Pus. Kamu yang paling sering
ngotorin kelas dengan permen karetmu. Iitung-itung sekalian
nebus dosa. Kalo kalian setuju, sore ini saya hubungi kepala
sekolah, besok pagi sudah mulai kerja. Gimana? Lumayan lho,
buat nambah uang saku?”
Yah, rasanya itu memang usul yang baik. Anak-anak langsung
setuju.

***
Besoknya pagi-pagi sekali, Lupus dibangunkan maminya.
“Pus, katanya mau dibangunkan pagi-pagi? Katanya mau kerja?”
Lupus menggeliat-geliat malas. Uh—baru jam berapa sih?
“Bangunlah, Pus. Kamu kan udah janji sama teman-teman kamu?”
Lupus malah menarik selimut tebalnya. Ah, liburan memang
paling asyik diisi dengan tidur...hihihi
6. Bangun Dong, Lupus!
TOK-TOK-TOK
Pintu kamar lupus diketok dari luar.
Uh, siapa sih yang nggak tau diri amat? Mengetuk-ngetuk kamar
orang di pagi buta begini?
Tok-tok-tok, “Pus..., Pus. Bangun dong!”
“Lupus masih tidur!” ujar suara yang di dalam.
“Lho – kok bisa ngomong?”
“Oh, itu kebiasaan dari kecil. Lupus emang suka mengigau begitu,
kok.”
“Masuk aja. Ngak dikunci kok. Nanti kalo udah, keluar lagi, ya?
Jangan lupa menutup pintu.”
Boim masuk. Tersenyum geli melihat Lupus yang masih asyik
bersembunyi di balik selimut tebal. Ya, pagi ini udara memang
dingin sekali. Hujan semalaman membuat pagi ini begitu dingin.
Begitu enak buat tidur. Tapi tak boleh begitu. Pagi, tak boleh diisi
dengan tidur. Pagi adalah saat kita bangun. Membuka mata
dengan wajah cerah, dan bergegas menuju tempat tugas. Meski
mata terasa berat, meski selimut mendekap erat. Sekali dalam

hidup, kata penulis besar Pramoedya, orang mesti menentukan
sikap. Kalau tidak, dia takkan pernah menjadi apa-apa.
Sesekali waktu, kita memang harus berani menentang situasi
yang memanjakan kita. Agar kita tak terlelap.
Pagi hari, adalah saat yang tepat untuk mengerjakan sesuatu. Saat
udara masih segar, saat pikiran masih bersih, saat segala
persoalan larut dalam tidur semalam.
Maka, bangunlah, Pus.
Boim membuka jendela. Membiarkan udara sejuk merasuk.
Membiarkan bau tanah basah tercium, mendengarkan cicit
burung yang berkejaran.
“Pus, bangun. Temen-temen menunggu di luar. Katanya mau
kerja? Katanya mau mengecat sekolah?”
“Ya..., ya. Saya bangun,” ujar Lupus sambil beranjak berdiri.
Kedua tangannya direntangkan ke depan. Matanya masih tetap
tertutup. Dengan gaya orang mendusin, dia berjalan pelan-pelan
ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, gokilnya kumat lagi. Dia berteriak
nyaring, “Lulu! Kamu abis ngebom nggak disiram ya!!!”
Lulu yang lagi ngumpul di depan sama teman-temannya, jadi
tengsin berat.
Sialan! Bukan saya. Itu kerjaan si Boim!!”
Boim bengong. Lho, kok saya lagi yang kena?
***
Boim memang selalu jadi kambing hitam. Bukan karena Boim
mirip kambing. Ih, jangan menghina, ya? Mana ada kambing yang
hitam seperti Boim? Tapi si Boim ini memang selalu kebagian
sialnya. Entah kenapa, mungkin memang ada orang yang
ditakdirkan sial seumur-umur. Tapi kini, di pagi ini, Boim toh
telah berbuat sesuatu yang mulia. Mengajak Lupus bangun,

meninggalkan tidur di pagi hari. Mencoba menentang dunia yang
meninabobokan.
Dengan membawa cat, kuas, dan perkakas lainnya untuk
mengecat sekolah, Boim, Gusur, Anto, Lupus, Meta, Ita, Fifi, dan...
oh, ini dia yang bikin Boim semangat. Ternyata Nyit-nyit yang
segede kunyit turut serta dalam barisan anak-anak menuju
sekolah.
Hap-hap-hap-satu-dua-tiga! Dengan semangat empat lima, anakanak
manis itu berjalan menuju sekolah. Asyik bermain keretakeretaan.
Gusur yang jadi lokomotif. Sebab anatomi tubuhnya
memang pas mirip lokomotif.
Sebetulnya, sekolah memang sedang libur. Tapi kep-sek sudah
setuju atas usul Anto agar anak-anak aja yang mengecat ulang
sekolah.
“Honornya mahal, nggak?” ujar kep-sek ketika ditemui.
“Biasanya berapa?” tanya anak-anak.
“Yaaah, kalo manggil tukang, paling upahnya empat ribu per
orang satu harinya.”
“Ya udah, kalo sama kita-kita delapan ribu aja deh!”
“Lho, kok malah lebih mahal?”
Tapi walau ternyata anak-anak yang kerja lebih banyak, dan itu
berarti biayanya lebih besar, kep-sek akhirnya setuju. Memang di
sini bukan dilihat dari untung ruginya, tapi kep-sek terkesan
sama niat mulia anak-anak. Yaitu belajar bekerja. Di saat anakanak
yang lain asyik berlibur, mereka malah bekerja.
“Mereka memang pantas diberi imbalan,” ujar kep-sek di depan
rapat sidang guru.
***
Mengecat SMA Merah Putih ternyata nggak begitu sulit. Tak
sesulit mengecat rambut keritingnya si Boim menjadi pink.

Karena memang Cuma butuh dua warna. Atas merah, bawah
putih. Makanya dinamakan SMA Merah Putih. Seragam para siswa
di situ, tadinya juga mau ber-merah-putih-ria. Tapi karena siswasiswanya
pada protes lantaran sering dikira anak SD, maka
ditukar, bajunya merah, sedang bawahannya putih. Itu juga
diprotes keras sama si Boim. Karena kulitnya yang ngujubileh
itemnya nggak begitu canggih dipakein baju merah. Doesn’t fit
each other. Walhasil sang kep-sek nyerah, seragam diganti putih
abu-abu aja.
O ya, pengecatan sekolah dimulai dari ruang kep-sek. Dua jam
pertama, ditandai oleh peristiwa Gusur yang sekujur tubuhnya
kebanjur cat. Ini gara-gara dia sibuk melirik-lirik Fifi Alone yang
pake celana pendek. Nggak sadar kalo ternyata Gusur menabrak
tangga yang dinaikin Lupus buat mengecat. Walhasil, ember yang
dipegang Lupus jatuh, pas nyungsep di kepala Gusur.
Boim yang lagi sibuk mengerik-ngerik tembok untuk
membersihkan sisa kotoran dan sisa cat yang mulai luntur,
tertawa terpingkal-pingkal.
Kesalahan memang bukan pada lirikan mata si Gusur. Tetapi
pada si Fifi Alone yang pakai celana pendek model turis Bali,
dengan kaos model you can see my ketiak.
Jam-jam berikutnya ditandai dengan datangnya ibu bahasa
Indonesia didampingi Kepala Sekolah yang hendak melihat-lihat
hasil kerja anak-anak. Untung saat itu segalanya sudah nampak
agak beres. Paling tidak, tak ada yang kebanjur cat lagi. Kantor
kepsek sudah nyaris rapi jali. Bersih mengkilat. Sampai sang
kepsek pangling sendiri, ini kantornya atau bengkel motor si
Boim? Hihihi...
Tapi enggak ding. Kantornya kini memang bener-bener bersih.
Jendela-jendela kaca sudah bersih mengkilap dari percikan cat.
Boim yang biasanya disuruh mandi aja susah, kini mendadak
rajin setengah mati. Meta dan Ita dari tadi cekikikan aja melihat
perubahan sikap Boim. Anak-anak yang lain juga gitu. Siapa lagi
penyebabnya kalau bukan Nyit-nyit yang manis itu? Boim pasti

lagi nyari muka di depan Nyit-nyit. Biar dibilang rajin, ya? Biar si
Nyit-nyit naksir, ya? Hihihi...
“Ih, sori, ya!” cibir Nyit-nyit.
Anak-anak memang bener-bener pada tega. Tak pernah memberi
peluang Boim untuk menyerang. Tiap kali Boim merapat
mendekat ke Nyit-nyit, anak-anak yang diam-diam mengintai,
dengan norak berteriak-teriak menirukan suara kondektur bis,
“Rapat belakang! Rapat belakang! Tarik!!!”
Tinggal Boim yang tersipu-sipu malu.
Tapi Nyit-nyit nggak mau tau. Dia selalu menghindar dari Boim.
Boim jadi sedih. “Ah, sudahlah, Im. Anggaplah kegagalan itu
sebagai bukan suatu kesuksesan,” nasihat Lupus.
Boim memberengut. Ih, bukannya nolong, malah geledek.
Sementara anak-anak lain, yang rata-rata pada belepotan cat,
mendapat pujian dari kepsek.
“Istirahat dulu. Kita makan-makan di kantin sebelah,” ujar
kepsek.
“Horeeee...,ditraktir, kan, Pak?” jerit anak-anak.
Bapak kepsek bengong. “Ih, jangan nuduh, dong!”
***
Menjelang petang, dua kelas sudah selesai digarap. Anak-anak
mulai siap-siap pulang. Rata-rata sekujur tubuh mereka sudah tak
berbentuk. Penuh dihiasi bercak-bercak cat. Fifi nyesel setengah
mati, soalnya kaos oblongnya itu boleh beli dari Singapura.
Sayang kalo sampai kena bercak-bercak cat begitu.
”Andai tak suka, berikan saja padaku kaosmu itu, Fi. Biarlah
penuh noda. Akan kupajang di kamar sebagai kenang-kenangan,”
ucap Gusur.

Fifi melotot. Lantas ike pulang pake apa? Apa dibiarkan tanpa
busana?
Gusur langsung senyum-senyum nakal. Ih, otak kotornya nggak
ilang-ilang.
Anak-anak pun berhaha-hihi. Sambil membereskan peralatan cat
untuk digunakan besok. Semuanya disimpan rapi di gudang.
Sementara ibu bahasa Indonesia yang baik namun cerewet itu
kembali meninjau kelas yang selesai digarap. Semua tampak
bersih, seperti sebuah gedung baru. Ada kebanggaan tersendiri di
hatinya. Bahwa anak-anak nakal itu bisa bersikap manis juga.
bahwa kecerewetannya selama ini dalam mengajarkan tata tertib
kebersihan, kesopanan, kerajinan, tak menjadi sia-sia.
Bahwa,... oh!
Begitulah seharusnya mendidik anak. Ajarkan kepada mereka
bagaimana bekerja. Tumbuhkan rasa cinta bekerja pada mereka.
Bangunkan mereka. Jangan sampai terlena oleh situasi yang
sekarang serba melelapkan. Memanjakan.
Ibu itu terus tersenyum-senyum sendiri. Mengangguk-anggukkan
kepala sambil berjalan berkeliling kelas. Ada rasa penat yang
memaksanya untuk duduk di ujung meja belajar murid. Ya,
sekedar melepas lelah. Tapi... oh! Apa ini yang lengket-lengket di
roknya? Dengan cepat ibu itu bangkit, memeriksa rok barunya.
Astagfirullah! Permen karet!
“Lupus!!!” hardik ibu guru itu keras.
Lupus yang kebetulan hendak pulang lewat depan pintu,
tersentak kaget. Lebih kaget lagi ketika tau bahwa guru bahasa
Indonesia itu kena permen karetnya lagi.
“Aduh, Ibu! Salah ibu sih! Kenapa duduk di meja? Meja kan bukan
tempat duduk. Lain kali hati-hati dong, Bu...”
Ibu itu tambah melotot.

***
Lupus membanting pintu dengan kesal. Uh, hari yang melelahkan
sekaligus menyebalkan! Gara-gara untuk kedua kalinya ibu
bahasa Indonesia kena tempel permen karet. Lupus mendapat
peringatan keras dari kepsek. Dilarang makan permen karet di
lingkungan sekolah! Uh—padahal jelas-jelasan yang salah itu ibu
gurunya. Udah tau meja gunanya untuk menulis, malah diduduki.
Kan salah sendiri.
Lupus itu sebetulnya sudah insap. Sejak diperingatkan agar tidak
boleh menempelkan sisa permen karet di bangku, dia betul-betul
tak pernah melakukannya lagi. Tapi dia sama sekali tak mengerti,
kenapa sekarang kena tegor lagi.
“Pus, ada apa? Kok kusut banget tampangmu?” tegur Lulu.
Lupus tak menanggapi. Dia seenaknya membuka-buka tudung
saji, nyari makanan. Perutnya lapar berat. “Ibu ke mana sih, Lu?
Kok nggak ada makanan apa-apa?”
“Ibu pergi dari pagi. Saya yang masak. Itu ada spaghetti bikinan
saya khusus buat kamu di lemari makan.”
“Spaghetti?” Lupus langsung bergegas membuka lemari. Mencari
spaghetti. Ih, ternyata Cuma supermi. Dengan dongkol,
diambilnya juga supermi bikinan Lulu. Abis lapar. Lulu Cuma
cekikikan di sofa sambil baca Lucky Luke.
Beberapa saat kemudian, dia dikagetkan oleh Lupus yang
mendadak terbatuk-batuk. Uhuk-uhuk-uhuk! Mukanya berubah
merah, lehernya dicengkram oleh kedua tangannya.
“Pus! Pus! Kenapa kamu?” ujar Lulu panik. Lucky Luke-nya
dilempar begitu saja. “Kenapa, Pus?”
Lupus tak menjawab. Masih sibuk terbatuk-batuk.
Lulu langsung menghitung sendok yang ada di meja. Wah—
jangan-jangan sendoknya ketelen si Lupus. Aduh! Bukannya apaapa.
Bukannya Lulu takut Lupus pingsan, dan nggak ada orang i

rumah buat menggotong ke rumah sakit. Masalahnya, di rumah
sendok si mami tinggal tiga biji. Kalo sampe ketelen Lupus satu,
kan jadi tinggal dikit... hihihi.
7. Lupus Belum Pulang
PENGECATAN sekolah sudah kelar seluruhnya. Tapi kekesalan di
hati Lupus belum juga ilang. Terutama sama si Lulu yang usilnya
minta ampun. Masa orang keselek dibilang nelen sendok. Belum
lagi peringatan keras dari kepsek soal permen karet. Belum lagi
soal si mami yang sibu terus akhir-akhir ini. Sampai negor Lupus
nggak sempat. Beberapa hari terakhir ini, Lupus jarang bisa
cerita-cerita ke mami seperti biasanya.
Sebetulnya rasa kekesalan Lupus ya karena ulah maminya itu.
Yang belakangan ini kelewat sibuk. Padahal Lupus lagi libur
panjang. Kalo Lupus bangun jam delapan, si mami udah
berangkat kerja. Pas Lupus pulang mengecat sore harinya, si
mami belum pulang juga. paling-paling pulang agak lewat jam
delapan malam. Itu juga langsung tidur. Uh! Denger-denger mami
si Lupus emang baru dapet tender dari perusahaan gede. Pesanan
kateringnya seabrek-abrek. Dan terpaksa harus join kerja sama
kerabat-kerabat mami yang lain.
Pokoknya sok sibuk banget deh!
Emang sih, kemarin ada pembantu yang masak. Tapi Lupus tetap
nggak suka. Masa punya mami pinter masak, harus makan
masakan orang? Si Lulu sih enak, dengan ada pembantu baru, jadi
punya tema ngegosip!
Maka kompensasinya, Lupus di liburan ini sering ngumpul bareng
sama teman-temannya. Si Boim, Gusur, Anto, Fifi, Meta, Ita, Nyitnyit,
Gito, Aji. Mereka malah merencanakan pergi ke Bandung
untuk mengisi liburan. Kebetulan uang dari hasil mengecat masih
utuh. Mereka bisa gunakan untuk ongkos dan jajan. Emang enak
mempergunakan uang dari hasil jerih-payah sendiri. Seperti yang

sering Lupus bilang, “Dari pada banyak duit tapi duit orang tua,
mendingan nggak punya duit tapi duit sendiri...hihihi.”
Contohnya si Boim itu.
“Kalo jadi, nginepnya biar di rumah nenek saya aja di Suryalaya,”
ujar Meta. “Sip deh. Nggak jauh dari kota. Bisa ngeceng-ngeceng!”
“Ah, kalo mau ngeceng sih di Jakarta aja!” bantah Anto.
“Hu, nggak seru. Bosen, siapa yang mau ikut?”
Akhirnya hanya ada enam makhluk yang bersedia. Meta, Fifi,
Anto, Lupus, Boim dan Gusur. Yang lain pada punya acara
masing-masing. Mereka sepakat berangkat besok pagi naik mobil
Anto yang butut.
***
Keesokan paginya, subuh-subuh Lupus sudah bangun. Bergegas
mandi dan sikat gigi. Subuhnya Lupus kalo libur itu sekitar jam
sembilan. Otomatis si mami sudah berangkat. Lupus pun buruburu
mengemasi pakaian. Takut ketinggalan. Saking buru-nya,
dia nggak sempat sarapan. Tapi berhubung perut lapar, Lupus
membawa bekal buat di jalan. Kotak tempat kue dan termos si
Lulu, disamber buat membawa bekal. Sendoknya secara buruburu
diambil dari rak piring.
Setelah beres, dia celingukan nyari si Lulu untuk pamit. Uh—ke
mana sih tu anak? Pasti ikut si Bibik ke pasar! Lupus pun tak mau
ambil pusing. Langsung cabut ke rumah Anto. Betul juga, sampai
rumah Auto, anak-anak udah pada ngumpul. Udah pada kesel
nungguin Lupus.
"Begini, Pus. Ternyata mobil yang bisa dibawa cuma pick up ini.
Ini juga boleh minjem dari teman. Kita udah sepakat, saya yang
nyupir beserta Meta dan Fifi di depan. Sedang yang cowok-cowok,
kamu, Boim, dan Gusur di bak belakang. Bagaimana? Setuju?"
"Ke Bandung di bak?" Lupus melotot.

”Kalo nggak setuju, nggak ikut juga boleh."
Dengan dongkol, Lupus terpaksa ikutan naik ke bak. Langsung
disambut mesra oleh Boim dan Gusur yang dari tadi udah standby
di bak.
***
Selama perjalanan ke Bandung, untuk ngilangin kesel dan
panasnya sengatan matahari. Lupus, Boim, dan Gusur ceritacerita.
Anak-anak itu nampak begitu sengsara di bak. Di setiap
lampu merah, mereka bertiga diserbu penggemar berupa tukangtukang
rokok, koran, tahu goreng, dan minuman. Rata-rata dari
para tukang jualan itu pada asyik nontonin anak tiga yang
jongkok dengan merananya di bak. Mereka pada heran. Iha, kok
ada kuda nil naik mobil... hihihi.
Gusur yang merasa tersindir, jadi keki berat dikecengin sama
para tukang jualan begitu. Eh, soalnya Gusur dan kuda nil ini
emang ada ceritanya. Mau denger? Gini. Gusur itu sebetulnya
pernah ikut program pertukaran pelajar antara Indonesia dan
Afrika. Waktu itu, memang yang diutamakan adalah pelajar—
pelajar dari anak bahasa. Karena mungkin saling mengetahui
bahasa antara negara itu dirasakan perlu. Maka, entah kenapa,
Indonesia yang diminta terlebih dahulu mengirimkan calonnya,
memilih Gusur untuk dikirim. Karena tu anak memang selalu
berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kelewat benar, malah.
Wah – si Gusur tentu hepi berat. Sejingkrakan nggak keruan.
Engkongnya, yang juga merasa surprais setengah mati, bikin
selamatan tujuh hari tujuh malam. Seluruh tetangga kanan kiri
atas bawah diundang. Nggak lupa, ada juga layar tancapnya. Film
India kesukaan Gusur.
Dan pas hari ‘H’-nya tiba, Gusur pun dikirim ke Afrika. Tak lupa
orang sekampungnya ada tiga bis turut mengantar ke Bandara
Internasional Soekarno-Hatta. Secara serentak mereka menangis
menggerung-gerung melepas kepergian Gusur. Walhasil, Bandara
Soekarno-Hatta jadi banjir karena tangisan orang-orang
sekampung Gusur.

Beberapa hari kemudian, pihak pemerintah Afrika pun
mengirimkan calonnya ke Indonesia. Tetapi begitu terkejutnya
pihak Indonesia setelah mengetahui bahwa yang dikirim
pemerintah Afrika adalah seekor badak Afrika. Indonesia pun
langsung mengirimkan kawat protes ke Afrika. Kenapa badak
yang dikirim? Dan apa jawaban mereka?
“Lho – bukankah kalian sendiri yang terlebih dahulu mengirimkan
seekor kuda nil kemari?”
Pemerintah Indonesia terperanjat.
Hahaha! Ternyata si Gusur yang dikirim ke Afrika, dikira kuda nil.
Hahaha!
Tentang betul tidaknya cerita itu, cuma Lupus yang tau. Soalnya
emang anak gokil itu yang cerita. Dia sendiri nggak peduli waktu
Gusur ngamuk-ngamuk protes. Lupus malah melanjutkan
ceritanya, “Dan, saudara-saudara, ternyata pihak Afrika terkesan
sekali dengan ‘kuda nil’ asal Indonesia itu. Karena setelah ditaruh
di taman margasatwa, ternyata perkembang-biakannya pesat
sekali. Hihihi...”
Gususr makin ngamuk.
Makanya dia trauma kalau dikatai kuda nil.
***
Sampai Puncak, Boim hampir saru sama ban serep, saking
itemnya. Soalnya tu anak dasarnya memang udah item.
Tambahan kejemur matahari siang, maka lengkaplah sudah.
Sedang Gusur beberapa kali cemas, lantaran Meta sering usul,
gimana kalau untuk ngurang-ngurangin beban, si Gusur kita
tukerin jagung bakar aja?
Soalnya, pick-up pinjaman ini memang nggak begitu canggih
kondisinya. Jalannya suka batuk-batuk. Apalagi pas tanjakan di
Puncak, Gusur, Boim dan Lupus acap kali harus membantu
mendorong, meski mereka pada enggan turun ke jalan. Jadi

mendorongnya sambil tetap berada di atas bak... hihihihi, sama
aja boong, atuh!
Fifi, Meta, dan Anto tenang-tenang aja duduk di jok depan.
Sedang Lupus di bak belakang mulai enggak betak. Dia berteriak
ke Fifi yang duduk dekat jendela.
“Fi! Gantian dong duduknya!”
Fifi Cuma mencibir.
“Atau saya ikutan di situ ya, berempat. Banyak angin nih!”
“Jangan, Pus. Nanti ditangkep polisi,” tolak Anto.
“Alaaah, kalau ada polisi, nanti saya ngumpet deh di kolong.
Atau, saya nyamar jadi boneka Garfield!” ujar Lupus mengibangiba.
Anto tetap menolak
Walhasil, Lupus tetap berada di belakang bersama Boim dan
Gusur. Iseng-iseng daripada sedih, Lupus pun ngasih tebakan ke
Boim, “Im, apa bedanya kutu sama Boim?”
“Ya, jelas dong,” tukas Boim. “Boim ganteng, kutu jelek.”
“Salah! Kalau Boim bisa mati kutu, sedang kutu nggak sudi mati
Boim. Hihihi...”
***
Sampai rumah nenek Meta di Suralaya anak-anak pada
berlompatan-lompatan turun. Ribut rebutan kamar tidur. Nenek
Meta, yang biar tua tapi masih manis, menyambut kedatangan
anak-anak dengan riang. Cium pipi kanan dan kiri, lalu sibuk
nanyain oleh-oleh.
Belum beberapa menit, terdengar Gusur ribut-ribut.
“Tidak bisa, tidak bisa!” teriaknya nyaring.

Meta yang merasa bertanggung jawab membawa kuda nil itu,
langsung menenangkan, “Ada apa, sur? Apanya yang nggak bisa?”
“Saya protes keras! Tidak bisa!!”
Meta makin bingung. Menoleh ke arah Gusur dan Fifi secara
bergantian. Ada apa dengan dua anak ini?
“Itu, Met,” ujar Fifi sewot, “masa Gusur protes kamarnya
dipisahkan dengan kamar kita. Cowok kan tidur di kamar depan,
sedang kita tidur di kamar dalam sama nenek. Iya kan, Met?”
“Iya dong. Masa Gusur mau tidur sama kita?” tegas Meta.
“Lha? Jadi, apa artinya persatuan yang kita galang selama ini?
Apa artinya kebersamaan yang kita bina waktu mengecat
sekolah? Kenapa kita harus dipisah-pisahkan? Ini kan merusak
persatuan!” ujar Gusur berapi-api.
Anak-anak cowok pada cekakakan. Tinggal Meta sama Fifi yang
marah-marah.
“Dasar anak gokil!”
Sedang Lupus langsung mendorong sepeda batang yang tersandar
di samping rumah. Dia emang paling hobi jalan-jalan pake
sepeda. Makanya, tanpa setahu anak-anak dia menyelinap keluar,
dan mengayuh sepedanya cepat-cepat. Keluar masuk kompleks
perumahan yang serba mungil-mungil itu. Wah, wah,
pemandangannya bagus-bagus juga. beberapa kali Lupus ketemu
cewek manis lagi pulang sekolah. Beberapa ada yang main sepatu
roda di taman.
Hari memang menjelang petang.
“Wooiiii... awas!!!” tiba-tiba teriakan nyaring bikin Lupus kaget
setengah mati. Belum sempat menoleh, mendadak dua cewek
bermotor bebek menyerempet sepeda Lupus hingga oleng dan
nyaris nyemplung ke got. Untung saja Lupus sempat melompat.
Hap!

“Aduuuuh, sori, ya. Kita nggak sengaja. Kita baru belajar naik
motor....,” ucap kedua gadis itu buru-buru.
Lupus hampir ngomel-ngomel, kalau nggak nahan diri geliat dua
cewek yang ternyata manis-manis. Eh, enggak. Cuma satu yang
manis. Yang satunya ganteng. Abis mukannya kaya Sobarudin
begitu sih!
Kedua cewek itu menolong mengangkatkan sepeda Lupus, dan
terus berkicau minta maaf.
Buntut-buntutnya, mereka malah kenalan.
“Oo..., jadi yang gant.. ini namanya Yanti?” ujar Lupus.
“Gant..., apa? Ganteng?” tanya si Yanti.
“Bukan. Ganjen... Hahahaha...”
Yanti ikutan ketawa. Hahahaha...
“Terus yang satu lagi Ida?”
Ia manggut. Nah – yang ini rada panteslah jadi cewek. Nggak ada
bulu kakinya. Tapi yang lebih penting, kedua gadis ini ternyata
termasuk manusia gokil juga. makanya Lupus langsung akrab.
Buntut-buntutnya Lupus malah ikutan belajar motor. Tu anak
memang minus banget soal naik motor. Tapi kali ini nekat
membonceng dua makhluk manis berkeliling kompleks. Sampe
nekat ke jalan raya segala. Walhasil, mereka sempat tujuh kali
ngrusruk ke semak-semak.
Pulang-pulang, Lupus udah dekil. Yanti dan Ida ikutan nganterin.
Boim yang paling getol geliat cewek manis, langsung aja ribut.
“Di mana kamu nemu mereka, Pus?” bisik Boim.
“Oh, yang manis ini namanya Ida,” ujar Lupus memperkenalkan.
“ketemunya sih wajar-wajar aja, waktu lagi ngeceng di jalan. Dan
yang satunya ini..., yang rada-rada ganjen ini, namanya Yanti...”
Yanti langsung cengar-cengir, dan menyahut, “Slamat sore...”

“Yanti ini,” ujar Lupus sambil memegang bahu Yanti,” nemunya
nggak sengaja. Waktu saya beli kuaci di warung, terus nggak ada
kembaliannya, maka sama si penjual dikasih Yanti yang manis
ini... hihihi.”
Yanti langsung mencak-mencak.
Besoknya, mereka pun janjian mau belajar motor lagi.
“Tapi Yanti jangan diajak, ya?” ujar Lupus ke Ida. Ida cekakakan,
sedang Yanti misuh-misuh.
***
Besoknya, Boim ikutan belajar motor sama Lupus, Ida, dan Yanti.
Sedang anak-anak yang lain sibuk punya acara sendiri, berburu
jins di Tanin. Padahal, kata Boim, kalau mau berburu jins, nggak
usah susah-susah ke Bandung. Di loteng rumah Boim juga banyak
jins. Tapi yang ini rada-rada serem. Sejenis kuntilanak.... gitu!
Yanti dan Ida masing-masing membawa motor bebek. Boim jelas
memilih boncengan sama Ida. Curang ida. Sedang Lupus cukup
pasrah menggonceng Yanti. Wo – tu anak emang agresip banget.
Belum juga motornya lepas landas, Lupus sudah didekap erat-erat
sampe sesak napas.
Sedang Ida, yang malu-malu memeluk Boim, jadi ketinggalan.
Belum sempat duduk di jok, si Boim udah tancap gas. Walhasil
Ida sukses mendarat di aspal
***
Tanpa terasa duit mereka hampir habis. Itu berarti mereka harus
buru-buru balik lagi ke Jakarta. Dan kamu tau, ternyata kepergian
Lupus ke Bandung selama beberapa hari tanpa bilang-bilang itu,
bikin keluarga Lupus panik. Si Mami ternyata sampai beberapa
hari nggak tidur. Soalnya nggak ngantuk, hihihi... Eh, tapi bener
lho, mami sampai sempat bikin iklan segala di koran. Lulu yang
selama libur ini dapat tugas jaga rumah, jadi tumpahan kekesalan
Mami, “Masa kamu sampai nggak tau ke mana Lupus pergi?”

“Biasanya sih tiap pagi dia mengecat sekolahan. Tapi Lulu cari ke
sekolahan, ternyata nggak ada. Malah sekolahnya sudah rapi
banget. Trus Lulu mau cari ke temen-temennya, nggak tau
rumahnya. Paling juga rumah Boim sama Gusur yang Lulu pernah
datengin. Tapi itu juga lupa, abis sepuluh kali keluar masuk
gang!”
“Apa dia belakangan ini suka gelisah?”
“Iya, Bu. Gelisah. Geli-geli basah. Dia suka nanyain Ibu terus...”
Si Mami jadi tercenung. Ah, apa dia terlalu sibuk belakangan ini
sehingga melupakan anak-anak?
Lupus sendiri, dalam perjalanan pulang ke Jakarta, sempat mikir.
Sempat ngerasa nggak enak sama Mami. Sama Lulu. Gimana kalau
mereka bingung nyariin? Ya, harusnya kan paling tidak dia bilang
dulu kalau mau pergi. Apalagi ini, sampai beberapa hari nggak
pulang-pulang. Tadinya, ini untuk sikap protes Lupus sama Mami
yang kelewat sibuk. Tapi lama-lama Lupus mikir, apa caranya
betul? Mami, jelas sibuk banting tulang untuk nyari uang. Kenapa
harus diprotes dengan cara begini?
Kada, Lupus merasa, kitanya sendiri yang terlalu berpikiran
sempit dalam hal ini. Harusnya kita punya sikap. Tentang anakanak
yang nggak betah di rumah, apalagi yang lantas terlibat halhal
terlarang, tidak melulu orang tua yang harus disalahkan. Ya,
kenapa harus mereka yang disalahkan? Kita kan udah gede.
Bukankah yang paling punya tanggung jawab besar atas diri kita
adalah kita sendiri? Bukankah yang bisa mengubah sikap kita
adalah kita sendiri?
Lupus jadi makin merasa bersalah. Untung aja dia tak terlalu jauh
melangkah.
Dan satu yang ingin dia lakukan begitu sampai rumah, adalah
memeluk Mami dan Lulu...
***

“Ibu, itu Lupus datang!!!” teriak Lulu ketika melihat Lupus turun
dari becak, berjalan memasuki halaman rumah.
“Lupus!!” si Mami langsung meloncat dari kursinya.
“ibuu!!” Lupus pun berlari meninggalkan ranselnya.
Mereka berpelukan. Mirip film india.
“Aduh, Lupus, Ibu sampai cemas. Ke mana aja sih kamu? Tapi,
syukurlah, akhirnya kamu pulang juga. kamu baca iklan di koran,
ya? Tentang berita kehilangan?”
Iklan? Jadi Mami sampai pasang iklan di koran? Ah..
Maminya bergegas mengambil koran yang ia simpan di balik
bantal, lalu menunjukkannya ke Lupus, “Bacalah. Aduh, Ibu sih
nggak keberatan kamu mau pergi ke mana aja kek, nginep berapa
hari kek, yang penting kamu jangan bawa-bawa sendok Ibu
dooong! Ibu jadi kebingungan nyariinnya. Nah, sekarang, mana
sendok Ibu yang kamu bawa? Itu lho, yang ada ukiran di
ujungnya. Juga Lulu nanyain termossama kotak kuenya...”
Lupus bengong. Hah? Jadi...
Lupus pun buru-buru membaca iklan kecil yang ada di koran :
‘Berita kehilangan. Telah hilang sebuah sendok mungil yang ada
ukiran di ujungnya. Sendok itu kemungkinan dibawa oleh seorang
anak umur 16 tahun, bernama Lupus. Barang siapa yang
menemukan sendok itu, harap dikirim ke alamat di bawah ini.
Sedang anaknya, terserah mau diapain.’
Lupus makin bengong.
Lalu dia pun dengan menjerit-jerit berlarian keluar rumah.
Si mami kaget. Buru-buru mengejar, “Lupus! Lupus! Kembalilah
kau...”
Tapi Lupus terus berlari. Terpaksa Lulu ikutan membantu
mengejar. Lalu tak ketinggalan tukang becak yang belum dibayar
Lupus, ikut-ikutan mengejar.

Akhirnya orang sekampung pun turut membantu mengejar...
hihihi. Ada-ada saja...
8. Janji-janji
Lupus kesal. Kesal sama pembantunya Boim yang centil itu. Garagaranya
waktu Lupus mengetuk-ngetuk pintu rumah Boim, tu
pembantu langsung nongol dengan senyumnya yang genit sambil
merem melek, “Eeee... oa-eo. Ada tamu. Nyari si Boim, ya? Wah –
lagi nggak ada tuh. Ada pesen? Ada pesen? Gado-gado? Es teler?
Ketoprak? Pake cabe nggak?” sambut pembantu Boim centil.
Dalam hal centil-menyentil, doi emang nggak kalam sama
tuannya. Boim. Keturunan ‘kali.
Lupus jelas sebel. Baru datang langsung dituduh mau nyari Boim.
Padahal kan belum tentu. Siapa tau kali ini dia mau ketemu
abahnya Boim, atau nyari enyaknya Boim. Tanya-tanya dulu kek,
jangan asal nuduh aja! Umpat Lupus panjang- pendek.
“Emang sebenernya tadi kamu mau ketemu siapa, Pus?” tanya
Lulu yang kebetulan sore itu ikut di boncengan sepeda balap
Lupus. Mereka baru beberapa meter berlalu dari rumah Boim.
“Yaaa, emang sih kebetulan kali ini saya lagi nyariin Boim,” ujar
Lupus cepat. “tapi itu kan kebetulan saja tuduhannya tepat. Coba
kalau enggak? Makanya jangan asal nuduh aja...”
Tapi sebetulnya kekesalan Lupus bukan Cuma disebabkan oleh
pembantunya Boim aja. Tapi juga karena sekolah Lupus lagi
mengalami masa libur yang lumayan panjang. Nggak tau libur
apaan. Yang jelas cukup membuat Lupus kangen sama Ibu kantin
sekolah. Sebetulnya sama teman-teman dekatnya, Lupus juga
kangen. Tapi Lupus malu mengakui. Takut ternyata orang-orang
yang dia kangeni malah enggak kangen. Tapi apa daya, mereka
sendiri waktu mau libur bikin perjanjian, “Pokoknya selama
liburan ini kita nggak usah ketemu-ketemu dulu deh! Bosen.
Belajar pisah kecil-kecilan dulu. Soalnya toh kita nggak bakal

terus sama-sama sampai tua. Lagi pula biar pas masuk sekolah
ada geregetnya.”
Itu janji yang Boim ucapkan. Yang disetujui teman-temannya.
Termasuk Lupus. Tapi janji itu bagi Lupus sekarang terasa
menyiksa. Soalnya di liburan ini dia bener-bener nggak ada
kerjaan. Bener-bener pengena main ke rumah Boim atau Gusur
atau Gito atau Anto. Selama ini setiap sore kerjaan Lupus Cuma
ngeboncengin Lulu keliling-keliling perumahan. Atau paling
banter nganterin Lulu ke rumah Suli, temannya yang manis itu.
Lama-lama jelas Lupus merasa bosen. Soalnya selama perjalanan
paling-paling Lulu cuma bisa ngasih tebak-tebakan aja. Itu juga
tebak-tebakan yang norak. Seperti,
“Ayo, Pus... saya punya tebakan. Dari jauh kecil, pas dideketin
ternyata besar. Apaan coba?”
“Ah, kuno. Salah liat.”
“Bukan. Kurangi seratus!”
“Abis apaan?”
“Ya emang semestinya begitu. Benda apa pun kalau kita lihat dari
jauh akan kelihatan kecil. Sedangkan kalau dideketin, jadi
keliatan gede.”
“Sialan.”
Dan Lulu ngasih tebak-tebakan begitu emang cuma mau
menghibur Lupus. Supaya Lupus betah saban sore ngajakin dia
jalan-jalan atau nganterin ke rumah teman-teman Lulu. Lumayan
kan dapat supir gratis. Tapi seperti tadi udah dibilang, lama-lama
Lupus bosen juga. kangen sama teman-temannya nggak bisa
dibendung lagi. Makanya sore itu dia mengayuh sepeda balapnya
ke rumah Boim. Terus terang, Lupus kangen sama itemnya. Dan
ternyata Boim nggak ada. Maka yang jadi sasaran kekesalan jadi
pembantunya yang centil itu.

“Kita ke mana lagi, Pus?” tanya Lulu.
Lupus yang lagi mengayuh sepedanya tak langsung menjawab.
“Atau kita ke rumah Baba aja, yuk?” ajak Lulu.
“Apaan tuh Baba? Sejenis unggas, ya?”
“Hus. Baba tuh temen saya. Dia punya adik yang manis-manis.
Kita ke sana, yuk?” ajak Lulu.
Lupus langsung mau. Soalnya denger ada yang manis-manis. Dan
setelah memutari beberapa kompleks perumahan, Lupus dan Lulu
tiba di rumah Baba.
“Kamu aja yang getok-ngetok, Pus siapa tau yang keluar adiknya
yang manis,” bujuk Lulu sambil mendorong Lupus turun dari
sepedanya.
“Siapa nama adiknya?”
“Winur.”
Dengan ogah-ogahan, Lupus pun turun dari sepedanya. Langsung
sibuk mengetuk-ngetuk pintu rumah Baba. Sementara Lulu
menunggu di sepeda balapnya.
Tak ada yang muncul. Lupus pun sibuk mencari bel. Tapi nggak
ketemu juga. buset, rumah gede begini nggak ada belnya. Yang
ada malah klenengan tukang gule yang tergantung di dekat pagar.
Lupus pun mulai membunyikannya.
Dan muncullah yang ditunggu-tunggu. Seorang gadis ma... eh,
enggak ding. Enggak manis. Jangan-jangan ini pembantunya.
“Cari siapa, Den?”
Nah, bener juga. tapi sama pembantu yang satu ini Lupus
langsung simpati. Soalnya nggak asal main tuduh aja.
“Ng.. anu, Mbak. Winur sama Baba ada?”
“Ada.”

“Yaaa, kok ada. Salah alamat ‘kali. Maaf deh, Mbak,” Lupus pun
langsung ngeloyor pergi. Si mbak itu Cuma bisa bengong aja.
“Lho... Den. Jadi nggak namu di sini? Nanti saya panggilkan Baba.
Servisnya memuaskan lho, Den. Ada minuman, makanan kecil,
atau... mau pake pijit-pijit dikit juga bisa.”
Duile, ternyata nggak kalah centilnya sama pembantunya Boim.
Lupus pun terpaksa mau. Lulu yang melihat dari luar, ikutan
masuk. Sebetulnya emang dia yang ada keperluan. Jadi Lupus
terpaksa duduk-duduk saja menemani. Sekadar ngilangin rasa
kangen sama temen-temennya.
Baba pun muncul. Langsung berteriak senang menyambut Lulu.
Setelah diperkenalkan kepada Lupus, dan berbasa basi sebentar,
Lulu dan Baba langsung terlibat pembicaraan hangat. Biasa,
ngegosip. Lupus hanya diam-diam saja sambil memandangi
akuarium yang menghias ruang tamu. Lama-kelamaan Lupus jadi
ngantuk. Kepalanya mulai berayun-ayun ke sana kemari. Dan
tertidurlah ia.
Dalam tidur, Lupus bermimpi. Mimpi dijemput teman-temannya
untuk jalan-jalan ke Bogor. Kalau lagi libur, atau hari minggu.
Lupus beserta sobat-sobatnya sering main ke Bogor. Ke rumah
temen Lupus yang tinggal di Bogor. Temen Lupus itu cewek.
Kenalannya waktu lagi main-main di Kebun Raya. Kebetulan
sekali Lupus beserta teman-temannya diajak mampir. Dikenalkan
sama keluarganya yang ternyata ramah-ramah. Udah, dasar anakanak
nggak tau basa-basi, langsung aja pada nginep. Kebetulan
sekali tu rumah tempat ngumpulnya cewek-cewek kece se-Bogor.
Makanya mereka semua pada rajin datang berkunjung. Apalagi si
Boim. Saban ke sana, kalau nggak memperagakan keahlian
sulapnya, dia ngelawak. Biar tu cewek-cewek pada terpesona. Biar
pada ketawa. Atau Gusur, sering dengan senang hati membacakan
puisinya di depan keluarga Bogor itu. Kalau Lupus atau Anto
paling-paling begitu datang, langsung sibuk mengintip-ngintip ke
kolond dipan, siapa tau tersembunyi duren-duren yang belum

terkupas. Bukan apa-apa. Anto paling senang makan kulit duren.
Sedang Lupus ngalah, makan buahnya.
Dan kedatangan Lupus dan teman-temannya itu, tentu saja
membuat defisit anggaran belanja orang tua cewek itu. Lantaran
nafsu makan anak-anak ini memang pada gila-gilaan semua.
Saat itu, dalam mimpinya, Lupus diajak ke sana lagi. Tentu saja
Lupus mau. Maka dengan menumpang mobil butut si Boim,
mereka pergi ke Bogor. Lupus, Boim dan Anto duduk di depan.
Sedang Gusur, karena nggak muat, cukup puas duduk sendirian
di bak belakang. Tadinya Gusur protes. Tapi karena diancam
nggak bakal diajak, Gusur terpaksa nurut. Dan pada akhirnya,
Gusur menemukan kenikmatan tersendiri duduk di bak belakang.
Sejuk, katanya, banyak angin bertiup. Tapi meski sudah
dipromosikan begitu, tetap saja tak ada yang mau tukeran
tempat sama Gusur.
Dan kalau bawa Gusur di bak belakang, mereka nggak berani
lewat jalan tol. Soalnya suka ditegur petugas penjaga, “Hei, kalian
nggak tau peraturan, ya? Kalau bawa kambing bandot, harap
diikat!”
Makanya, mereka lebih suka lewat jalan biasa aja.
Selama perjalanan, seperti biasa, mereka tak henti-hentinya
bercanda. Ketawa-ketawa sambil sesekali main ledek-ledekan.
Lupus benar-benar merasa riang. Benar-benar merasa liburan ini
tak sia-sia.
***
Lupus terbangun ketika merasa kepalanya terantuk benda keras.
Buru-buru ia mengucek matanya dan duduk tegak kembali. Buset,
ternyata si Lulu masih belum berhenti ngegosip juga. sementara
di sebelah Baba, telah duduk satu makhluk manis lagi. Wah,
mungkin ini yang dipromosikan si Lulu. Soalnya mukannya manis
juga.
Gadis itu memandang Lupus sambil tersenyum-senyum kecil.

“udahan pingsannya?” tannyannya pada Lupus.
Lupus cuma nyengir.
“Abis narik becak ya? Kok ngantuk terus?”
Lupus keki. Buru-buru dia mengajak Lulu pulang. Tapi Lulu ogah.
“Kamu duluan aja deh. Masih ada beberapa bab pergosipan yang
belum dibahas.”
Dan Lulu bener-bener langsung meneruskan kesibukannya
bergosip-ria. Terpaksalah Lupus pulang duluan.
***
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali, sekitar jam tujuh, Lupus udah
mandi. Dan bersiap-siap mau ke Bogor. Dia nggak bisa
membendung rasa rindu lagi. Dan untuk melupakan itu, Lupus
merasa perlu pergi ke Bogor. Siapa tau di sana, dengan ketemu
cewek-cewek kece, bisa mengobati rasa rindu.
Sebetulnya, menurut perjanjian, salah seorang dari mereka nggak
ada yang boleh pergi ke Bogor sendirian tanpa mengajak temanteman
yang lain. Kalau sampai ketauan ada yang datang ke Bogor
sendirian, maka ia harus mentraktir teman-temannya. Tapi, ah...
biarin aja. Mereka nggak bakal tau ini.
“Mau ke mana Pus?” tanya ibunya ketika melihat Lupus membawa
tasnya.
“ke Bogor, bu. Mungkin nginep sehari.”
“lho kok pake nginep sehari segala?”
“kan liburan, bu. Nggak apa-apa deh.”
“Iya, maksud Ibu, kok Cuma sehari. Nggak seminggu aja sekalian.
Lumayan kan ngirit-ngirit uang belanja... hihihi,” celetuk Lulu
yang lagi asyik makan roti.
Lulu langsung kena jitak.

Di perjalanan, Lupus memilih duduk dekat jendela. Biar enak
menghirup udara di luar. Soalnya, tau sendiri, bis-bis antarkota
selalu sarat dengan penumpang. Penumpang nggak Cuma
manusia aja. Sejenis bebek-bebekan kerap ikut di tengah desakan
penumpang. Dan dasar bebek, dengan cueknya sepanjang
perjalanan mereka ngegosip. Mengganggu ketenteraman orangorang
yang mau tidur.
Yah, terus terang aja. Sebenernya Lupus mau tegas dan berjiwa
besar menghadapi semuannya. Dia mau seperti teman-temannya
yang lain, yang bisa nggak bergantung sama orang lain. Yang bisa
pisah sama orang-orang yang pernah deket dengan dia. Tapi
kenyataannya? Lupus nggak bisa.
Lupus nggak bisa maksain diri untuk tidak norak pada saat
seperti sekarang ini. Lupus merasa sepi. Merasa sendiri. Ada
yang bilang, kita memang sah untuk berbuat norak selama kita
nggak mampu mengatasi kenorakan yang kita buat. Selama kita
nggak menyadarinya. Mungkin ada benernya. Kadang kenorakan
memang diperlukan seperti kita memerlukan rasa cengeng,
romantis, sentimentil...
Tanpa itu, mungkin, sekali lagi mungkin, manusia akan jadi
kurang sempurna. Sepertinya, tanpa hati. Dan ada lho orangorang
yang hidup tanpa hati di dunia ini. Banyak malah. Nanti
kamu akan mengerti dan geliat sendiri orang-orang yang hidup
tanpa hati...
***
Perasaan Lupus deg-degan juga, ketika becak yang membawanya
hampir sampai di tujuan. Ada rasa berdosa mengkhianati janji,
ada rasa nggak enak kalau ditanya,”Kok dateng sendirian? Yang
lainnya mana?”
Tapi akhirnya dengan sedikit tersipu-sipu malu, Lupus muncul
juga di depan rumah cewek Bogor itu. Kebetulan sekali salah
seorang teman tu cewek lagi duduk-duduk di depan, sehingga
Lupus nggak usah terlalu lama bermalu-malu.

“Sisi ada?” tanya Lupus pada cewek itu.
“Oh, ada. Masuk aja. Mereka lagi pada ngobrol-ngobrol tuh di
dalam.”
Lupus pun langsung masuk ke dalam. Melewati ruang tamu yang
lumayan panjang. Lupus jadi inget Boim lagi. Kata Boim, saking
panjangnya nih rumah, kalau kamu masuk dari pintu depan pada
pagi hari, maka pas magrib kamu baru nyampe ke pintu belakang.
Hihihi, lucu juga tu anak.
“Lho, Lupus. Sama siapa?” sapaan riang mengagetkan Lupus.
Soalnya sapaan itu bukan datang dari sisi, tapi Boim, si playboy.
Lho, kok dia ada di sini?” dan... lho, kok itu ada si Anto, Gusur,
Aji...
“Huahahahaha... lengkaplah sudah formasi kita. Selamat datang,
rekan Lupus. Ternyata dalam hal melanggar janji pun, kita masih
tetap kompak!” pekik Gusur gembira sambil memeluk Lupus. Lho,
apa-apaan nih.
“Kalian curang! Kok nggak ngajak-ngajak saya?” ujar Lupus begitu
sadar.
“Lho, kita pergi sendiri-sendiri kok. Pertama yang datang Boim,
lalu berturut-turut Anto, Gusur, Aji... dan sekarang kamu.
Hihihi...,” jelas Anto sambil cekikikan.
“O ya?”
Tawa mereka pun meledak. Kalau sudah begini, siapa yang harus
mentraktir?
Tak ada. Tak ada yang harus mentraktir. Yang ada hanya
kesadaran bahwa janji-janji pun tak mampu menghalangi
keinginan mereka untuk selalu tetap bertemu. Selalu tetap
tertawa bersama. Dalam rindu, Lupus tak sendiri...
9. Boim, Sang Pangeran

SMA MERAH PUTIH mau ngadain acara yang tujuannya bagus.
Acara malam dana kesenian. Seperti tahun-tahun lalu, kelebihan
duit yang didapat dari penjualan karcis yang dijual secara paksa,
biasanya bakal disumbangkan ke panti-panti asuhan. Termasuk
panti jompo dan panti orang jelek segala. Panti orang jelek
memang cuma ada di sekolah Lupus. Anggotanya baru dua orang.
Boim dan Gusur. Dan alhamdulillah, belon pernah dapat
sumbangan. Lantaran para donatur berprinsip, lebih baik
menyumbang kambing daripada mereka berdua. Kalo kambing
dagingnya kan bisa dibikin sate. Sedangkan mereka cuma ngabisngabisin
dana, sementara manfaatnya belon ketahuan. Palingpaling
untuk mengusir roh-rol halus yang merasa kalah kharisma
sama mereka.
Karena acara malam dana kesenian positif diadakan, mingguminggu
belakangan ini sekolah pun jadi sibuk. Amo yang punyahobi
sok sibuk, mulai mondar-mandir dari satu kelas ke kelas
lain.
Pura-pura ngasih pengumuman. Padahal tujuannya jelas, mejeng!
Tapi nggak cuma Anto yang sok sibuk, semua juga mendadak
sibuk selain kegiatan belajar yang nggak b oleh berhenti, mereka
masing-masing punya niat nyumbang acara. Termasuk kelasnya
Lupus yang ngadain rapat siang itu.
Boim nampak paling antusias.
"Kita bikin tarian-tarian aja, yang mana saya ikut di dalamnya.
Personilnya udah saya pilih. Nyit-nyit, Meta, Ita, Utari, Svida,
Poppi, Vera, dan tentunya saya sendiri. Ceritanya tentang Jaka
Tarub. Saya otomatis jadi Jaka Tarub-nya, dan sisanya jadi
bidadari. Bagaimana, usul yang manis, kan?"
Anak-anak kontan nggak setuju. Apalagi Nyit-nyit.
"Segala tampang nggak kece aja mau jadi Jaka T rub. Kamu
ngelamar main film King Kong Lives aja belon tentu keterima,
Im," Fifi Alone yang tak tersebut namanya mengumpat.

"Atau kamu tari perut sendirian aja, Fi?" ledek Boim.
Fifi mendelik sewot.
“ Kalo gitu kita bikin dance aja," ujar Boim lagi. “Personilnya
tetap yang tadi."
Dan untuk kesekian kalinya ide itu pun ditolak sama anak-anak.
Boim jadi frustasi.
"Bagaimana kalo Boim kita suruh melawak aja?" tukas Lupus tibatiba.
"Dia kan paling pinter ngelawak. Diem aja yang nonton juga
udah pada ketawa. Disangka makhluk apaan kali yang berdiri di
atas panggung. Mau dibilang landak, rada-rada mirip. Tapi yang
ini lebih jelekan.”
Boim jelas ngamuk-ngamuk mendengar usul Lupus.
"Nggak bisa, emangnya saya pelawak? Wajah saya cukup
kharismatik, nggak cocok jadi pelawak. Saya nggak bisa
ngelucu...," protes Boim.
"Lah itu kan sudah lucu. Ada pelawak yang nggak bisa ngelucu
kan sudah lucu banget," ungkap Lupus.
Boim tetap menolak.
Suasana hening sejenak.
"Bagaimana kalo saya nyulap aja? Dikit-dikit saya bisa...," ujar
Boiin di tengah nada putus asa.
"Wah, jangan. Mendingan kamu ngegado-gado aja," bantah Lupus.
"Apa itu ngegado-gado?" tanya Boim bego.
"Bikin gado-gado. Ya, kamu bikin gado-gado di atas panggung.
Kan orisinal tuh!"
Boim jadi keki berat.
"Saya bukan tukang gado-gado, tau!!!" jerit Boim.
"Kalo gitu mecel aja deh, Im. Bikin pecel. Lebih enakan," usul Aji.

"Jangan, bagusnya noge goreng aja. Dia lebih pantas. Engkongnya
kan pensiunan tukang toge goreng," Anto mulai kasih reaksi.
Dan rapat hari itu pun berakhir tanpa keputusan, alias mereka
belum pada tau paket kesenian apa yang pantas disumbangkan
untuk malam dana nanti.
"Besok, usai jam pelajaran kita lanjutin lagi. Kita sudah harus
ngambil keputusan. Waktu udah mepet banget. Belon latihannya,"
teriak Anto.
Anak-anak bubaran.
***
Di rumah Lupus mulai sibuk mengotak-atik rencananya. Sampe
lupa makan siang segala. Lulu yang berkali-kali ngetok kamarnya
dicuekin.
"Pus, makan, Pus. Kamu nanti sakit. Itu udah saya sisain ceker
ayam satu. Sori, seadanya aja. Soalnya paha ayam dua-duanya
udah dimakan saya!" teriak Lulu.
Tak ada sahutan dari kamar. Yang terdengar malah irama musik
yang dikerasin.
Merasa dicuekin, Lulu lalu berusaha mengintip Lupus dari lubang
angin. Dengan sekuat tenaga dia menyeret bangku untuk bisa
ngeliat Lupus. Tumben tu anak tekun banget, pikir Lulu. Dari
lubang angin memang dilihatnya Lupus lagi sibuk ngotak-ngatik
rencananya di selembar kertas.
"Yang ngintip apa punya ide buat acara malam dana kesenian di
sekolah saya?!" jerit Lupus mendadak.
Lulu kaget banget disindir begitu. Kirain nggak tau. Pelan-pelan
Lulu turun dari bangku, dan berlalu dengan wajah dongkol.
***
Pada rapat keesokan harinya anak-anak kelas Lupus sudah bisa
ngambil keputusan. Mereka sepakat untuk mementaskan drama

tiga babak buat acara malam dana kesenian. Lupus yang dianggap
pinteran ngarang, dapat tugas bikin naskah. Sedang Fifi Alone,
artis kita itu, mau solo karir. Yaitu, nyanyi! Artis yang belakangan
ini sering ngaku kembarannya Vina Panduwinata ini akan
membawakan satu lagu Vina berjudul Surat Cinta.
Dengan gaya yang kelewat centil, suara yang mirip terompet taun
baru, dan teks lagu yang berantakan, Fifi sejak pagi tadi mulai
latihan sendiri.
"Hari ini kugembira
Pak Pos m'layang di udara." .
(Nah Iho, sampai di sini, Fifi bingung nerusinnya.)
Sedang Lupus sepulang sekolah langsung sibuk ngetik naskah di
rumahnya. Nyari-nyari cerita yang lucu. Kadang-kadang sampai
larut malam. Maminya khawatir juga ngeliat kelakuan Lupus.
Takut sakit. Bukannya sayang sama Lupus, tapi biaya ke dokter
kan mahal.
Sekali waktu, Boim sempet juga muncul ke kamar Lupus. Sempet
kaget juga baca tulisan gede di depan kamar Lupus: "Jangan
Ganggu-Lagi Semedi."
"Lebih baik jangan masuk, 1m," tegur Lulu halus ketika Boim
hendak membuka pintu. "Suka ada benda-benda terbang tak
dikenal kalo Lupus lagi nyari inspirasi...."
"O ya?” komentar Boim tak percaya, seraya tangannya tetap
membuka pintu dan... bruk!
Sebuah bantal besar membuatnya jatuh telentang. Lulu berlalu
sambil cekikikan.
Lupus berdiri di ambang pintu.
"Sori, Im, kirain si Lulu. Dari tadi anak bandel itu ngegodai saya
terus. Makanya saya ancam, kalau beram masuk kamar lagi, saya

lempar bantal. Dan temyata kamu yang muncul. Nah, sekarang
ada apa kemari-mari?" ujar Lupus tenang.
Boim bangkit sambil mengelus kepalanya yang kejeduk lantai.
"Pus, saya mau minta tolong sama kamu. Ini penting, Pus. Demi
masa depan saya."
Lupus diam.
"Saya harap, saya .bisa main di drama yang kamu bikin, Pus. Jadi
apa saja, asal jangan jadi kurungan ayam. Yang penting, saya bisa
nunjukin kemampuan saya di depan Nyit-nyit. Gini-gini saya juga
punya kemampuan yang bisa diandalkan," Boim menyalak lagi.
“'Rencananya kamu memang dipake. Tapi sebaiknya sekarang
kamu pulang aja deh. Nggak usah gangguin saya," Jawab Lupus
singkat. Boim pun buru-buru minta diri. Hatinya girang banget.
Pas pulang lewat ruang depan rumah Lupus. Di situ Lulu lagi
asyik ngobrol sama ibunya, "Bu... dulu saya sama sekali nggak
percaya sama teori Darwin. Tapi belakangan ini, setelah m
engamati baik-baik wajah temennya si Lupus yang sering ke sini,
saya jadi goyah juga. Jangan-jangan betul.. .. "
"Hus! Temen Lupus yang mana?"
"Itu, yang barusan masuk tadi.... Hihihi...."
Boim tercekat. Niatnya mau lewat depan urung. Sambil
mengumpat-umpat dia memutar lewat pintu samping.
***
Ketika acara yang ditunggu tiba, anak-anak pun menghadapinya
dengan perasaan girang. Aula dihias dengan kertas warna-warni.
Pentas juga kelihatan sudah siap pakai. Karcis hampir terjual
habis. Ini berarti pemasukan lumayan banyak.
Setelah beberapa guru dan Kep-Sek memberikan sambutan, acara
pun dimulai. Acara pertama dari kelasnya si Gusur, seniman

sableng. Yaitu ceramah sastra oleh Gusur, berjudul "Peranan Puisi
dalam Emansipasi Wanita".
"Sidang pendengar yang daku hormati.
Dalam kesempatan ini, perkenankanlah daku melontarkan
makalah berjudul 'Peranan Puisi dalam Emansipasi Wanita'.
Mengingat pentingnya makalah ini, maka perkenankanlah daku
meminta Anda semua mendengarkannya. Sebab bila Anda tak
mau mendengarkan barang sedikit, entah apa jadinya masa depan
kalian, terutama wanita. Daku tiada bisa menjamin. Adapun
hasrat daku menyajikan makalah ini karena melihat akhir-akhir
ini Fifi Alone makin kece saja. Gaya penampilannya itu, ah!
Apalagi senyumnya, aduh! matanya yang jernih, pipinya yang
cerah. O, Fifi Alone, kaulah wanita penuh emansipasi. .."
Menden ar Gusur gilanya kumat, kontan panitia menculiknya
dengan paksa agar tidak lagi muncul di podium. Anak-anak pada
bersorak ribut. Tu anak memang gokil banget, dalam acara resmi
begini masih sempet menyuarakan isi hatinya.
Acara pun diteruskan dengan dance, band, dan vokal grup. Anakanak
II A3 yang lumayan gokil, menyumbangkan band dengan
irama gambus. Irama favontnya si Gusur.
Sementara suasana makin hangat. Sampai akhirnya tiba giliran
kelas Lupus menampilkan drama tiga babaknya.
Namun sampai beberapa menit kemudian, grup Lupus belum juga
muncul di panggung. Lupus, Anto, dan anak-anak lain lagi uringuringan
mencari Boim yang tak kunjung datang. Padahal Boim itu
pemeran utamanya. Ceritanya kan tentang pangeran yang kena
kutuk, yang punya permaisuri cantik bernama Nyit-nyit. Mereka
sudah latihan keras seminggu yang lalu Tapi kini, giliran muncul,
Boim malah belum datang.
“Beginiah kalo ngasih kepercayaan sama orang yang nggak bisa
dipercaya sama sekali!!!" maki Ita jengkel. Ita yang jadi dayangdayang
dan berdandan dari tadi sore jelas jengkel. Apalagi Meta
yang biasanya paling ogah didandani.

"Iya. Lupus sih nggak nyeleksi pemain!" ujar Nyit-nyit.
"Lho, Boim kan cocok untuk peranan pangeran kena kutuk.
nggak perlu make-up yang berlebihan, orang sudah percaya
bahwa begitulah wajah pangeran yang kena kutuk," bela Lupus.
"Tapi sekarang buktinya? Dia tak datang!!" ungkap Auto.
Lupus cuma bisa bermain-main dengan permen karetnya.
Panitia muncul. "Gimana nih kelas II A2. Jadi nggak pentasnya?
Penonton sudah gelisah tuh!"
Ita dengan kesal menghentakkan kakinya. Pertunjukan drama
digagalkan.
***
Sebelum acara habis tuntas, rombongan Lupus meninggalkan aula
pertunjukan. Benar-benar nggak ada harapan. Mereka pun lebih
baik pulang sebelum diledekin teman-teman yang lain. Wajah
mereka rata-rata kusut. Sesuatu yang telah dipersiapkan untuk
kebanggaan kelas, jadi berantakan gara-gara Boim.
Ketika mereka melangkah menyeberang jalan, suara cempreng
memanggil-manggil mereka dari kejauhan.
"Oiii... rekan-rekan... pada mau ke mana???
Mereka serentak menoleh dan melihat Boim dengan dandanan
manis turun dari becak berlari ke arah mereka.
"Kok pada mau pulang? Kan kita belum pentas? Sori, saya datang
rada telat dikit. Saya tadi ke salon dulu, dan ternyata
pelayanannya lama banget. Sori ya, sebagai pangeran saya kan
harus tampil canggih. Apalagi untuk mendampingi Nyit-nyit.... "
"Boim keparat!! Penunjukan gagal gara-gara kamu, tau!!!" Ita tak
kuat lagi memendam emosi. Anak-anak yang lain pun
memandang buas ke arah Boim
"Apa? Gagal? Wah, sia-sia dong saya ke salon.... "

“Lagian siapa yang nyuruh ke salon? Kan ada Popi yang siap
merias wajahmu!!!” bentak Meta kasar. Dan saking kesalnya, Boim
yang rapi jali itu rame-rame diangkat anak-anak dan diceburin ke
dalam kolam di depan sekolah. Boim megap-megap nggak bisa
napas. Anak-anak yang lain bersorak-sorak gembira....
10. Gang Senggol
SMA MERAH PUTIH punya seteru sama SMA Tanah Merdeka.
Pasalnya, suatu hari di musim kemarau. Ketika udara cerah ceria.
Tiada geledek, tiada hujan. Dan burung-burung berkicau ceria di
ranting pohon-pohon. Boim yang matanya selalu jelalatan kalau
ngeliat cewek, termasuk nenek-nenek, telah dituduh ngelirik salah
seorang cewek SMA Tanah Merdeka.
Manis juga tu cewek. Setidaknya lebih manis dari Boim kalau
dipakein rok. Namanya Lila. Rambutnya panjang. Dan bibirnya
mengundang. Lila ternyata memang kembangnya SMA Tanah
Merdeka. Maka, demi menyaksikan dengan mata kepala sendiri
Lila dilirik seorang lelaki item bernama Boim, dan jelas nggak
kece, cowok-cowok SMA T anah Merdeka yang merasa lebih
berhak memiliki Lila kontan bangkit semangat perangnya. Mereka
marah besar. Boim yang waktu itu lagi bersolo karir akhirnya
kena gebuk beramai-ramai.
"Tenang, Sodara-sodara! Tenang! Saya Boim, orang baik-baik!"
teriak Boirn mencoba Tapi... buk!
"Saya Boim!"
Plak!
"Saya... "
Duk!
"Tolong! Tolong!" akhirnya Boim ngibrit. Sempat juga mungut duit
gocapa nya yang terjatuh. Kasian Boim, wajahnya jadi benjutbenjut.

Peristiwa ini temu saja berbuntut panjang. Boim laporan ke anakanak.
Lupus sempat kaget juga melihat keadaan Boim. Aji sampat
nggak mengenali. Ada yang mengira Boim makhluk dari planet
lain. Setelah menyadari bahwa itu Boim dan tahu duduk
persoalannya, anak-anak pun tak dapat membendung
kemarahannya.
"Demi langit dan bumi, dan topan di lautan, sebagai sobat kita
haruslah memberi sedikit atau banyak pelajaran pada mereka,
Pus, orang-orang yang telah menjamahkan kepalan tangannya ke
tubuh teman kita Boim. Kita hajar mereka, Pus, dengan semangat
baja, dengan dada terbuka. Kita tiadalah bisa membiarkan teman
kita diperlakukan seperti bukan manusia. Walaupun dia hanya
seekor landak!" teriak Gusur seraya pasang kuda-kuda. Matanya
dipicingkan. Perutnya yang endut kembang-kempis. Boim jadi
terharu melihat kesetiakawanan Gusur, walau rada keki dengan
kalimat terakhirnya.
"Lalu sekarang apa rencana kita?" tanya Lupus kemudian. Anakanak
terdiam sejenak. Pura-pura mikir. Tapi Gusur keliatan
serius. Tangannya sesekali mencabuti jenggotnya yang jarangjarang.
Begitulah adatnya kalau lagi terbentur masalah serius.
Suka sok tua, padahal bangkotan.
"Kita serang saja mereka. Kita punya alat-alatnya!" Gito kasih ide.
"Apa, serang?" tanya Gusur cemas.
"Ya, serang!" jawab anak-anak yang lain.
Mereka ternyata sepakat dengan gagasan Gito.
"Wah, kalau begitu saya tiada ikut saja ya? Bukan apa-apa. Habis
saya sudah terlanjur benci sih kalau harus bela-belain datang ke
sekolah mereka," celetuk Gusur selanjutnya.
Anak-anak kontan keki mendengar alasan Gusur. Boim yang
paling sengit.

"Bilang saja kamu takut, Sur. Pake alasan segala. Yang lain
gimana, setuju?"
"Kalau saya sih setuju-setuju saja. Siap berantem di mana saja.
Kapan saja. Selama saya pengen. Tapi itu jelas bukan sekarang,"
sambut Anto.
Boirn ngamuk-ngamuk. Dia kecewa mendengar jawaban Auto.
Akhirnya dia merajuk di pojokan kelas. Tampangnya diimutimutin,
tapi jadinya malah makin kacau.
Melihat keadaan jadi runyam, Lupus lalu ambil sikap.
"Teman-teman, kita memang tidak bisa tinggal diam melihat Boim
dibeginikan. Kita harus punya rasa setia kawan yang tinggi. Kita
harus bantu Boim. Kita harus mengadakan pembalasan. Saya
benar-benar nggak rela. Masa Boim digebukin sampai babak-belur
begini? Maksud saya, kenapa nggak dibunuh sekalian? kan beres.”
"Lupus!!!" Boim berteriak keras. "
" Boim!!!" Lupus pun membalas menjerit tak kalah kerasnya.
"Kalian memang bisanya cuma ngeledek saya. Nggak mau
ngerasai pende itaan saya. Saya marah nih! " rajuk Boim makin
keras.
Dan ternyata Boim benar-benar m rah. Dia bangkit dari duduknya.
Langsung lari kel iling sekolah. Anak-anak kaget. Tapi akhirnya
ikut mengejar. Termasuk Gusur yang gendut.
"Boim! Boim!" panggll anak-anak.
Tapi Boim cuek. Dia terus lari. Kejar-kejaran pun makin seru.
"Wah ada apa ini?" tanya guru matemanka yang he an melihat
adegan itu. .
"Bebek saya lepas, Pak. Ayo tolong bantuin tangkep," Lupus
menjawab sekenanya. Ternyata guru matematika itu punya rasa
solidaritas tinggi, dia pun turut mengejar. Tapi lama-lama timbul
rasa curiganya.

"Yang mana bebeknya, kok tidak kelihatan?" tanyanya pada Lupus
yang lari sambil dingkring.
"Itu Iho, Pak, yang item!” jawab Lupus.
Guru matematika mengerutkan kemng. Meneliti secara seksama
benda yang ditunjuk Lupus. Keputusannya?
"Ah, itu kan bukan bebek!"
"Abis apa,Pak?"
"Dalam pelajaran biologi, setahu Bapak yang seperti itu namanya
menjangan."
Lupus tak dapat menahan tawanya. Sementara kejar- ejaran terus
berlangsung sa pai sore hari.
Sampai semuanya pada capek.
***
Besoknya mereka kumpul lagi di Gang Senggol. O ya, sebenamya
sudah lama Iho SMA Merah Putih punya tempat nongkrong yang
strategis. Letaknya terlindung dari pengawasan guru-guru.
Makanya anak-anak paling senang ngumpul di situ. Untuk
ngegosip misalnya. Atau menyusun strategi peperangan seperti
sekarang ini. Tapi bisa juga dipergunakan umuk madol. Maklum
SMA Merah. Putih sekelilingnya dilindungi tembok. Dan pintu
gerbangnya selalu ditutup. Jadi jalan itulah sarana paling
menguntungkan bagi anak-anak yang hobi bolos.
Namanya, ya itu tadi, Gang Senggol. Anak-anak memberikan
julukan itu, karena setiap pejalan kaki yang melewati Gang
Senggol, pundaknya pasti bersenggolan dengan tembok yang
mengapitnya. Memang sempit. Lebamya cuma 25 sentimeter.
Satu-satunya orang yang belum pernah meras kan enaknya Gang
Senggol adalah Gusur. Doi badannya gendut banget. Jadi mana
muat kalau harus lewat Gang Senggol. Tapi Lupus paling suka
ngumpet di situ. Melarikan diri dari para penagih utang. Padahal,
ngujubile, baunya nggak ketahanan. Pesing banget. Banyak anakwww.
rajaebookgratis.com
anak esde pipis di situ. Sekali waktu Anto juga pernah kepergok
lagi pipis. Padahal sudah ada tulisan gede-gede, selain badak
dilarang kecing di sini. Tapi Anto cuek.
Satu lagi yang membuat Gang Sen ggol benar-bener seru dan
jorok. Ialah tulisan iseng anak-anak. Ada tulisan dari Boim
berjudul: 'Pria Anti Dosa.' Atau ini, satu tulisan yang letaknya di
mulut gang berbunyi: 'Fifi Alone, di sini kita pernah bersatu,
dalam deru napas yang memburu. TTD: Gusur, makhluk paling
kece.' - Seniman sableng ini memang sering punya kompensasi
yang enggak-enggak. Di sudut lain ada tulisan yang lebih kacau
lagi. Dimulai dan Anto yang menulis: ' Anto Top.' Besoknya Lupus
menyusul, Lupus pun turut top. Besoknya, Gito juga ngetop.
Seterusnya, Aji nggak mau ketinggalan top. Obet sama topnya.
Siapa bilang Gusur tiada top.
Masih soal Gang Senggol, baik Gusur, Lupus, Boim, Anto, serta
anak lainnya pemah punya kenangan khusus dengan jalan itu.
Gusur selalu menjadikan Gang Senggol sebagai tumpahan
ekspresi. Kalau dia lagi kangen berat sama Fifi, umpamanya,
maka Gusur lari ke situ. Ngedeprok di mulut gangnya. Lalu asyik
membuat puisi.
"Tempat ini memanglah sangat mendatangkan inspirasi buatku.
Banyak karya masterpiece daku lahir di sini. Terutama puisi yang
bersangkut-paut dengan Fifi Alone," jawabnya pada Gito yang
nekat benanya kenapa Gusur hobi banget duduk di situ.
Kalau Boim memanfaatkan Gang Senggol untuk mengintai Nyitnyit
kalau lagi jajan di kantin. Gang Senggol memang tetanggaan
sama kantin. Tapi dari Gang Senggol bisa melihat ke kantin,
sedangkan dari kantin nggak bisa melihat Gang Senggol.
Selain itu, Boim juga sering mempergunakan Gang Senggol untuk
escape dari pelajaran sulit. Lupus juga. Dan waktu ada razia
rambut, anak-anak yang gondrong pun pada ngabur ke gang
Senggol. Hasilnya, mereka selamet semua. T api udahannya
mereka pada mual karena harus nahanin pesing beriam-jam.

Boim sempat pingsan juga. Tapi segera sadar setelah disiram air
comberan.
Dan sekarang, di Gang Senggol anak-anak telah memutuskan
rencana besar. Mereka ingin membalaskan sakit hati Boim,
dengan menyerang SMA Tanah Merdeka.
"Semua sudah jelas, kan? Jadi besok kita serbu mereka. Ingat
posisi masing-masing. Boim kita jadikan umpan. Gusur dan Anto
menghadang di got. Boleh juga ngumpet di tong sampah.
Sementara yang lain jangan lupa tugasnya. Ingat, jangan kabur
sebelum saya kabur duluan," Lupus yang diangkat jadi ketua
memperingatkan. Anak-anak bengong sejenak.
"Oke, Pus, saya setuju soal kabur-kaburan itu tadi. Kita samasama
kabur. Yang penting sakit hati Boim harus dibalas dulu.
Sebab ini menyangkut nama sekolah. Saya rela Boim dijadikan
bulan-bulanan. Itu kan terlalu bagus. Kenapa nggak dijadiin
ember-emberan aja!” timpal Aji.
Boim bersungut-sungut kayak marmut. Tepat makan siang anakanak
bubaran.
***
Sehari kemudian, sepulang sekolah Boim sudah menunggu anakanak
di pintu gerbang. Dia tadi memang bela-belain nggak masuk
sekolah.
Gusur yang datang pertama langsung mengajukan berita
perutnya mules. Jadi nggak bisa ikut.
"Kamu sajalah, Im. Tiada apa-apa, kan?"
"Nggak bisa. Semua harus ikut!" bentak Boim.
Tak lama kemudian Lupus pun datang. Menyusul Gito. Aji.
Robert. Anto. Tukang sapu sekolah. Yang terakhir mau pulang ke
rumah.

Setelah semuanya kumpul, mereka langsung berangkat. T api
sesampainy di SMA T anah Merdeka mereka pada keder Juga.
Apalagl sekolahnya dijaga Satpam.
"Wah, kita mendadak pusing-pusing nih, Im," Lupus mulai
ngadat.
"Kita makan bakso di situ aja yuk. Biar saya yang bayarin," Anto
obral janji. Padahal tu anak, sebagaimana halnya Gusur, paling irit
dalam soal jajan.
"Iyalah kita berbakso ria saja. Daku juga sudah lapar nian," Gusur
langsung mendukung niat Anto.
Tinggal Boim yang sewot nggak ketulungan. Dia hampir merajuk
lagi. Untung Lupus buru-buru kasih semangat. Dengan gerak
tangann ya. Lupus meminta anak-anak bersembunyi di posisinya
masing-masing. Anto langsung nyemplung got. Gusur yang raguragu
akhirnya kena dorong. Air got sempet pada nyingkir juga
menerima kedatangan Gusur. Mungkin lebih dekil orangn ya
daripada air gotnya.
"Nah, tu dia anak yang mukulin saya tempo hari," Boim berbisik
ke arah Lupus di tempat persembunyiannya, di semak-semak
yang aman. Tangannya menunjuk ke seseorang berpenampilan
sangar yang baru keluar dari pintu gerbang.
"Itu orangnya? Wah, gede banget!"
"Ah, masa kamu takut sih, Pus. Saya aja digebukin!"
"Bukannya takut, tapi saya kan orangnya suka nggak tegaan! Tapi
baiklah, kita sergap aja dia. Mudah-mudahan Tuhan melindungi
kita. Tuhan... lindungilah kami anak-anak yang manis ini," Lupus
langsung berdoa.
Setelah itu ia lalu memberi aba-aba menyerang. Gusur langsung
pucat-pasi begitu melihat orang yang dimaksud. Tapi akhirnya
dia ikut-ikutan nyerang waktu anak yang lain nyerang. Pesta
pukulan terjadi. Orang yang dulu menyiksa Boim dirujak dengan

pukulan. Tapi dia baru pingsan pas nyium keleknya Gusur. Anakanak
pun lalu bersoak-sorak kegirangan.
"Hidup Gusur!" . .. . .
"Kalau begitu tiada sia-sia juga aku tiada mandi selama
seminggu!" komentar Gusur tersipu-sipu.
***
Boim sangat puas dengan hasil kerja rekan-rekannya. Tiga hari
kemudian dia menebok celengannya umuk me traktir anak-anak.
"Ini sebagai tanda terima kasih dan saya. Lain kali saya harap
Gusur yang digebukin. Sebab dia belum pernah nraktir siapa
pun," Boim menyindir. Tapi Gusur cuek. Hari itu anak-anak
memang sangat gembira.
Tapi sebenarnya mereka tengah terancam. Karena secara tidak
disadari anak-anak SMA Tanah Merdeka puny a niat mengadakan
penyerangan balasan.
Dan terjadilah. Siang itu Lupus lagi asyik menendang-nendang
bola basket. Sekolah memang sudah bubaran sejak tadi, tapi di
kantor masih ada beberapa guru yang sibuk mengutak-atik nilai
ulangan. Di kantin, Gusur nampak asyik dengan es jeruknya.
Mulutnya penuh dengan tahu goreng. Di sana ada juga Boim,
Anto, Gito, dan anak-anak yang lain.
"Kalian pada nggak pulang?" tanya Bu Kantin iseng-iseng.
Tangannya sibuk berkemas-kemas.
"Kita pada mau latihan basket. Memang sih udah pada ngantuk:
Ini kan jamnya tidur siang," jawab Anto sambil nyeruput cendol.
"Tumben kalian latihan basket. Itu si Lupus apa bisa main
basket?"
"Kalo basket emang kurang, Bu. Tapi tenis dong... "
"Bisa?"

"Payah!'"'
"Jadi yang bisa apa? Lagian si Lupus itu salah, main basket kok
ditendang-tendang. Mestinya kan ditepok-tepok pake raket."
Anak-anak cuma manggut-manggut bego. Sementara di kejauhan
Lupus memanggil-manggil. Kaok-kaok kayak Tarzan. Tapi anakanak
cuek, asyik dengan obrolannya.
"Oi, kalian pada mau latihan nggak sih? Kalau mau, cepat-cepat
minggat deh!" jerit Lupus. Mereka rencananya memang pada mau
latihan basket untuk persiapan class-meeting. Tahun kemarin
kelas Lupus masuk kotak. Tiga kali bertanding, empat kali kalah.
Makanya tahun ini mereka berniat mempertahankan
kekalahannya. Biar pandangan orang yang menganggap kelasnya
payah benar-benar jadi kenyataan.
"Kita tidak boleh mengecewakan anggapan orang. Kalau kita
dicap payah, kita harus buktikan bahwa kita memang benar-benar
nggak bermutu;" komentar Lupus suatu kali.
Lalu mengapa hari itu mereka sok sibuk latihan? Ah, itu cuma
alasan. Sebenarnya niat utama mereka cuma ingin ngeceng.
Soalnya di minggu-minggu persiapan class-meeting ini, banyak
kelas lain uga pada latihan. Termasuk ceweknya. Itulah
kesempatan Lupus ngeceng. Apalagi kebanyakan ceweknya
memakai pakaian bebas. Full colour. Ada juga yang mengenaka
baju olahraga ketat. Sehingga bodinya yang merangsang pada
kelihatan. Tengok saja Fifi untuk latihan minggu ini, dia sengaja
membeli baju senam yang ketat. Tapi Lupus udah bosan melihat
Fifi. Lagian bodinya kayak ban radial. Nggak ketahuan mana
pinggang dan mana dada. Toh Gusur bela-belain nggak pulang
hanya untuk itu.
Sememara Lupus asyik ngecengin cewek dari II A3. Ada satu yang
cakep. Putih. Mulus. Bulu matanya lentik. Namanya juga manis,
Sobarudin. Selain Sobarudin, ada juga Sandra. Inilah yang
sekarang lagi jadi inceran Lupus. Anaknya seksi. Hari itu Sandra
pakai baju senam yang ketat. Rambumya dikuncir dua. Kalau

jalan persis kayak pingguin. Dikit-dikit. Ini yang membuat Lupus
nggak tega melepaskan pantauannya barang sejenak pun.
Sementara Boim asyik sendiri dengan kecengannya si Nyit-nyit.
Padahal kata Lupus Nyit-nyit biasa-biasa aja. Mukanya dikit.
Dan siang itu, di kantin, di siang yang panasnya ngujubile, Gusur
telah memecahkan rekor dengan memakan 20 potong tahu dalam
waktu 15 menit. Aji yang kalah taruhan, terpaksa harus
membayar tahu itu. Dua makhluk kurang kece ini memang
sebelumnya nekat taruhan. Gusur diminta menelan 20 potong
tahu dalam waktu 15 menit. Kalau nggak habis, Gusur yang bayar.
Kalau habis, otomatis Aji yang bayar. Hasilnya, sudah diceritakan
di atas. Dan sekarang Aji baru nyesel tujuh turunan. Apalagi
karena duit pembayar tahu sebenarnya buat ongkos pulang.
"Siapa lagi yang ingin bertaruh dengan daku?"
Gusur mengobral tantangan. Anto buru-buru mengumpulkan batu
koral.
"Nih, kamu makan, Sur. Saya kasih waktu satu jam. Habis nggak
habis saya yang bayar!"
Gusur mengambil batu itu, dan menyambitkannya ke arah Amo
sebagai jawaban.
Anak-anak semakin larut dengan candanya. Dan mereka sama
sekali tidak mengira kalau anak-anak SMA Tanah Merdeka sudah
sampai di pintu gerbang. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung.
Dua puluh lima orang. Masing-masing lengkap dengan pentungan.
"Lupus, mana Lupus?" teriak si badan gede yang beberapa hari
lalu digebukin. Dialah pimpinannya.
Lupus tetap cuek. Masih asyik menendang-nendang bola basket.
Matanya sesekali menatap ke arah Sandra. Dia memang sama
sekali belum sadar. Cuma di kantin anak-anak mulai gelisah.
Gusur buru-buru menyeruput es jeruknya. Tapi sempat ditegor
Bu Kantin untuk bayar waktu mau cabut begitu saja.

Boim langsung pucat. Kulitnya yang item tidak berubah sedikit
pun. Tetap item. Cuma dinginnya membanjir di ujung hidung.
"Wah, bakalan gawat nih," bisik Amo.
"Ya, mana kita nggak siap, lagi," Aji menimpali.
"Lihatlah, mereka masing-masing menggenggam pentungan.
Waduh, matilah daku. Fifi, cintaku abadi padamu," Gusur
menjerit.
Bertepatan dengan itu, anak-anak SMA Tanah Merdeka langsung
melabrak. Lupus tentu saja panik. Kepalanya sempat kena
pentungan juga. Sandra menjerit. Disusul pekikan cewek lainnya.
Untung Lupus keburu mengambil jurus lari cepat.
“'Kalau mau minta tanda tangan, jangan begitu dong caranya,"
pekik Lupus ge-er.
"Oi, jangan lari, pengecut!" teriak si gede.
Lupus tidak. mempedulikan. Dia langsung menuju ke arah anakanak.
Mereka yang tadinya sudah siap-siap mengambil langkah
seribu, jadi nggak tega juga melihat Lupus dikejar-kejar kayak
maling jeinuran.
"Kita lawan aja mereka," Gito yang badannya gede tiba-tiba
muncul keberaniannya.
"Tapi kita cum a sedikit," Gusur sepeni ragu-ragu.
"Ah, yang penting kita udah berusaha."
Dan pertempuran yang tak seimbang terjadilah. Untungnya
sebangsa Fifi, Sandra, Meta, dan beberapa cewek lainnya memberi
bantuan. Tapi tak berani banyak. Gusur kena tonjok beberapa
kali. Tenaga musuh memang kuat. Lupus yang dasarnya nggak
bisa berantem, cuma bisa pasrah. Gito dikerubutin beberapa
orang. Karatenya nyaris tanpa guna. Di lain tempat Boim udah
nyungsep di comberan. Comberan lagi.

Pada saat genting sepeni itu, satu-satunya yang teringat oleh
anak-anak adalah Gang Senggol. Inilah juru selamat. Lupus segera
memberi aba-aba. Yang lainnya mengangguk paham. Boim
langsung bangkit dari got. Mereka pun lari. Tapi musuh tak
membiarkan begitu saja. Terjadilah kejar-kejaran. Gusur yang
badannya bulet ketinggalan di belakang. Dia ampir mau nangis
ketakutan.
Tapi untungnya musuh kehilangan jejak. Anak-anak sengaja
melalui lorong-lorong rahasia. Tak lama kemudian sampailah
mereka di Gang Senggol. Lupus yang badannya kecil langsung
menyelinap. Disusul Boim, Anto, dan lainnya. Lha Gusur? Saking
takutnya, dia maksa i kutan. Badannya yang gendut dijejelin. Tapi
tentu aja nggak muat. Gusur macet di mulut Gang Senggol. Maju
nggak bisa, mundur pun sama saja.
"Kawan-kawan, tolonglah daku. Jangan pergi begitu saja. Aku tak
mau ditinggalkan dalam penderitaan sepeni ini. Tolonglah daku!"
Gusur menjerit. Tapi anak-anak nggak peduli. Mereka cuma
berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Di lain pihak,
ternyata jeritan Gusur membuat musuh jadi tahu posisinya.
Mereka segera mengejar. Di Gang Senggol mereka menjumpai
Gusur yang terjepit tak bisa bergerak.
Wah, pada gila juga tu musuh, melihat keadaan Gusur sepeni itu,
mereka langsung menyogok-nyogoknya dengan pentungan. Gusur
menjerit-jerit kesakitan.
“Tolong! Tolong!" teriaknya. Anak-anak akhirnya nggak tega juga
ninggalin Gusur. Tapi mau nolong percuma. Gusur berada dalam
kondisi yang sulit. Apalagi musuh makin beringas. Dalam
keadaan genting itulah, tiba-tiba dari arah belakang terdengar
suara ribut. Sumbernya ternyata datang dari anak-anak cewek dan
beberapa guru. Rupanya waktu keadaan gawat, mereka
berinisiatif melapor. Dan laporannya berhasil.
"Stop! Stop! Apa-apaan ini?" teriak guru matematika. Musuh kaget
juga mendengar jeritan lantang itu. Mereka sudah bersiap-siap
lari, untung segera dihadang.

"Tahan. Siapa ketua kalian? Sebaiknya kita berembuk. Damai.
Masa anak sekolahan berkelahi? Memalukan!" bentak seorang
guru. Musuh pada mengkeret. Mereka pun lalu digiring ke kantor.
Lupus cs yang sudah terlanjur menyeberang ke SD sebelah juga
dipanggil. Di kantor mereka didamaikan.
"Pokoknya Bapak tidak mau dengar kalian berkelahi lagi.
Sekarang saling bersalaman!" perintah guru matematika. Mereka
memang akhirnya bersalaman. Buntut-buntutnya mereka malah
sepakat mengadakan pertandingan basket persahabatan. Kemelut
sudah terselesaikan dengan sukses. Tapi soalnya sekarang,
bagaimana caranya menolong Gusur yang kejepit tembok? Anak
itu udah nangis sesenggrukan. Fifi yang biasanya benci jadi
rimbul kasihan melihat keadaan Gusur.
Dan ide umuk menolong Gusur datang dari Lupus.
"Sudahlah, Sur, kamu bertahan saja selama beberapa hari di sini.
Jangan makan, jangan minum. Nanti kan kurus sendiri. Nah, pada
saat itulah kamu bisa keluar dari tembok!"
Anak-anak langsung setuju dengan ide Lupus.
"Lupus gila!" rengek Gusur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar