Jumat, 19 November 2010

Obat Wajib Apotek


PENDAHULUAN
Obat Wajib Apotek adalah obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) kepada pasien tanpa resep dokter.
            Peraturan tentang Obat Wajib Apotek berdasarkan pada Keputusan Mentri Kesehatan RI No.374/Menkes/SK/VII/1990 yang telah diperbaharui dengan Keputusan Mentri Kesehatan No.924/Menkes/Per/X/1993, dikeluarkan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1.    Pertimbangan yang utama untuk obat wajib apotek ini sama dengan pertimbangan obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiriguna mengatasi masalah kesehatan, dengan meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman, dan rasional.
2.    Pertimbangan yang kedua untuk peningkatan peran apoteker di apotek dalam pelayanan komunikasi, informasi, dan edukasi serta pelayanan obat kepada masyarakat.
3.    Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan oba yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri.

Walaupun APA boleh memberikan obat keras, namun ada persyaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA.
1.    Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.
2.    Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan  tube.
3.    Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontraindikasi, cara pemakaian, cara penyimpanan, dan efek samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek yang tidak dikehendaki tersebut timbul.


JENIS OWA

Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat, maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalahobat yang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat anti inflamasi (asam mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokortison), infeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi sistemik (klorfeniramini maleat), obat KB hormonal

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria OWA yang dapat diserahkan antara lain:
1.    Tidak dikontraindikasikan untu7k penggunaan pada waita hamil, anak dibawah usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun.
2.    Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit.
3.    Penggunaan tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
4.    Penngguanaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di indonesia.
5.    Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk pengobatan sendiri.


Contoh OWA:
Contoh obat wajib apotek No. 1 (artinya yang pertama kali ditetapkan)
1.    Obat kontrasepsi : Linestrenol
2.    Obat saluran cerna: Antasida dan Sedatif/Spasmodik
3.    Obat mulut dan tenggorokan: Hexetidine

Contoh obat wajib apotek No. 2
1.    Bacitracin
2.    Clindamicin
3.    Flumetason, dll

Contoh obat wajib apotek No.3
1.    Ranitidin
2.    Asam fusidat
3.    Alupurinol, dll



Standar Operating Procedure (SOP) pada pelayanan Obat Wajib Apotek (OWA)

1.    Pasien datang,
2.    Menyapa pasien dengan ramah dan menanyakan kepada pasien obat apa yang dibutuhkan,
3.    Tanyakan pada pasien apa keluhan yang dialamlinya dan gejala penyakitnya,
4.    Tanyakan pada pasien apakah sebelumnya pernah menggunakan obat tertentu dan bagaimana hasilnya (kondisi membaik atau bertambah parah),
5.    Bila pasien telah menggunakan obat sebelumnya dan hasilnya tidak memuaskan maka pilihkan obat lain yang sesuai dengan kondisi pasien, begitu juga untuk pasien yang sama sekali belum pernah minum obat,
6.    Menghitung harga dan minta persetujuan terhada nominal harga,
7.    Setelah pasien setuju dengan harga obat, ambilkan obat diatas,
8.    Serahkan obat kepada pasien disertai dengan informasi tentang obat meliputi: dosis, frekuensi pemakaian sehari, waktu penggunaan obat, cara penggunaan dan efek samping obat yang mungkin timbul setelah penggunaan obat dan dan jika diperlukan pengatasan pertama terhadap efek samping yang ditimbulkan,
9.    Catat nama pasien, alamat, dan no telp pasien.
10. Buat catatan khusus tentang pasien yang nantinya sebagai patien data record.



SOP Konseling OWA

1.    Menanyakan keluhan pasien sehingga pasien menggunakan obat tersebut dan sudah berapa lama pasien mengalami gejala tersebut,
2.    Cocokkan kondisi pasien dengan obat yang diminta, bila obat kurang sesuai untuk pasein maka rekomendasikan obat yang tepat untuk pasien,
3.    Menanyakan tentang bagaimana pasien menggunakan obta tersebut meliputi dosis, frekuensi, durasi,dan cara penggunaan; bila ada yang kurang atau salah mak farmasis wajib membenarkan dan melengkapinya,
4.    Menanyakan bagaimana kondisi pasien setelah menggunakan obat tersebut,
5.    Apabila obat yang diminta sesuai dengan kondisi pasien dan memberikan efek seperti yang diharapkan maka obat boleh diberikan,
6.    Apabila kondisi pasien tidak membaik atau semakin memburuk maka sebaiknya dirujuk ke dokter,
7.    Informasikan kepada pasien bahwa pasien diperbolehkan konsultasi dengan apoteker untuk berdiskusi tentang terapi yang dijalani pasien.

EVALUASI MUTU PELAYANAN
Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi mutu pelayanan adalah:
1.    Tingkat kepuasan konsumenDilakukan dengan survei berupa angket atau wawancara langsung.
2.    Dimensi waktuLama pelayanan diukur dengan waktu ( yang telah ditetapkan).
3.    Prosedur Tetap ( Protap )Untuk menjamin mutu pelayanan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Disamping itu prosedur tetap bermanfaat untuk:
1.    Memastikan bahwa praktik yang baik dapat tercapai setiap saat;
2.    Adanya pembagian tugas dan wewenang;
3.    Memberikan pertimbangan dan panduan untuk tenaga kesehatan lain yang bekerja di apotek;
4.    Dapat digunakan sebagai alat untuk melatih staf baru;
5.    Membantu proses audit.

Prosedur tetap disusun dengan format sebagai berikut:
1.    Tujuan: Merupakan tujuan protap.
2.    Ruang lingkup: Berisi pernyataan tentang pelayanan yang dilakukan dengan kompetensi yang diharapkan.
3.    Hasil: Hal yang dicapai oleh pelayanan yang diberikan dan dinyatakan dalam bentuk yang dapat diukur.
4.    Persyaratan: Hal-hal yang diperlukan untuk menunjang pelayanan.
5.    Proses: Berisi langkah-langkah pokok yang perlu dilkuti untuk penerapan standar.
6.    Sifat protap adalah spesifik mengenai kefarmasian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar