Rabu, 03 Februari 2010

Cystic fibrosis



Cystic fibrosis merupakan penyakit yang berasal pada kelenjar-kelenjar lendir dan keringat yang dapat mempengaruhi kerja paru, dan menyebabkan lendir lembab dan lengket dan menghalangi saluran udara pada paru sehingga bakteri mudah berkembang dan menyebabkan infeksi paru yang serius, akibatnya terjadi penurunan pembentukan NO. Nitrit oksida (NO) adalah molekul messenger yang terlibat dalam berbagai proses biologis dan fisiologis dalam paru-paru, endogen pembentukan konstitutif NO dalam saluran udara diperkirakan memainkan peran dalam neurotransmisi, relaksasi otot polos dan pembesaran bronchi. Pembentukan NO enzimatis dari sintesis NO memerlukan asam amino esensial semi-L-arginin sebagai substrat. L-arginin adalah asam amino semi esensial yang banyak ditemukan dalam panganan tubuh, tetapi juga dapat disentesis dari citrulline (oleh sintase argininosuccinate dan lyase argininosuccinate, enzim ketiga dan keempat dari siklus urea). L-arginin adalah penting untuk sintesis protein dan substrat untuk urea, Poliamina, prolin, L-glutamin, kreatinin fosfat, agmatine serta pembentukan enzimatik NO. Arginine diangkut dari darah ke dalam sel oleh transporter asam amino kationik (CAT) isoform. L-arginin merupakan substrat umum untuk synthases oksida nitrat dan arginases. L-arginin membantu tubuh dalam ekskresi dan sintesis protein. L-arginin merupakan asam amino semi esensial yang diperlukan tubuh untuk membentuk urea dan protein yang membantu kekuatan otot berupa keratin. Saat terdapat obat dalam darah L-arginin menjadi vasodilator dan menurunkan tekanan darah.


Metode
Studi kohort dan protokol
Ø  10 pasien penderita CF yang telah dikonfirmasi dengan tes keringat diulangi dengan konsentrasi klorida melebihi 60 mmol / L dan analisis mutasi gen CFTR. kriteria eksklusi adalah g-tabung pengumpan, aspergillosis bronkopulmonalis alergi atau B. cepacia infeksi. Pasien yang diteliti dirawat di rumah sakit untuk perawatan antibiotik intravena suatu eksaserbasi paru. Penelitian dilakukan dengan
o   Darah diteliti menjadi dua tabung EDTA 2,7 ml mengandung untuk asam amino plasma (n = 10) dan arginase (n = 7) pengukuran pada pagi hari setelah masuk dan setelah 14 hari pengobatan antibiotik dalam kondisi puasa di pagi hari sebelum sarapan, masing-masing .
o   Tes fungsi paru dengan spirometri dilakukan pada hari yang sama pada setiap pasien,
o    Pasien masing-masing diobati dengan seftazidim (n = 5) atau meropenem (n = 5) ditambah aminoglikosida. Satu pasien menerima steroid oral pada tiga hari selama pengobatan, dua pasien tambahan pada pengobatan jangka panjang dengan budesonide inhalasi.
Ø  Pasien dibandingkan dengan 10  bebas rokok-, kontrol sehat yang berumur 23 sampai dengan 28 tahun (24,4 ± 2,1 tahun) usia.
o    Dalam darah kontrol juga teliti pada dua tabung EDTA 2,7 ml mengandung di pagi hari di bawah kondisi puasa.
o   Tes fungsi paru dengan spirometri dilakukan pada hari yang sama pada setiap pasien, dan satupasien yang tidak dapat melakukan spirometri.











Pengamatan
Pada pasien CF ktersediaan l-arginin menurun dan semakin memburuk pada saat paru-paru mengalami eksaserbasi. Pemberian antibiotic pada pasien CF menunjukkan peningkatan arginase yang merupakan substrat dari L-arginin. Hal ini terkait dengan profil asam amino yang konsisten terhadap aktivitas arginase meningkat bahkan setelah pengobatan untuk eksaserbasi paru. Penurunan kadar L-arginin ditunjukkan dengan adanya peningkatan konsentrasi arginase dalam darah, dapat juga dilihat dari penurunan awal beberapa asam amino non-terkait diikuti dengan normalisasi selama terapi yang mencerminkan pengaruh tidak spesifik seperti katabolik terkait dengan infeksi atau peradangan.

L-arginase biasanya terletak intraseluler dengan konsentrasi tinggi pada eritrosit dan sel hati. penelitian ini dapat menunjukkan bahwa aktivitas arginase tinggi di dahak pasien CF, meskipun dengan pengobatan antibiotik tetap meningkat secara signifikan (sekitar 10 kali lipat) jika dibandingkan dengan induksi dahak dari kontrol sehat. Dengan demikian, peningkatan konsentrasi plasma arginase (L-ornithine, prolin, dan asam glutamat) dalam peningkatan arginase plasma normal, dapat dijelaskan oleh "spill-over efek" dari metabolit dari CF saluran napas ke dalam aliran darah. Mekanisme ini juga dapat menjelaskan asal usul kadar arginase plasma meningkatkan pada pasien.

Seftazidin adalah larutan steril yang merupakan campuran kering dari penta hidrat seftazidin dan l-arginin. Aktifitas seftadizin mengandung l-arginin sebesar 349mg/g. Seftadizin dilarutkan dengan menggunakan gas murni tidak mengandung ion sodium. Seftazidine merupakan antibiotic sefalosphorin yang bersifat bakterisidal. Pemberian secara inhalasi sehingga dapat bekerja langsung pada sel bakteri dengan memecah dinding sel bakteri.seftazidine sangat stabil terhadap sebagian besar betalactam plasmid dan kromosoma yang secara klinis dihasilkan oleh kuman gram negative dan aktif terhadap beberapa stain resisten terhadap ampisilin dan sefalosporin.
Seftadizine jika diberikan bersama dengan aminoglikosida dapat mengakibatkan inaktifasi.Sebaiknya diberikan dalam tempat (bagian tubuh yang berbeda) sehingga dapat keduanya dapat memberikan efek yang maksimal.
            Meropenem adalah golongan karbapenem (merupakan suatu struktur yang sama dengan penecilin) tapi sangat resisten dengan betalactam yang diberikan melalui suntikan intrafena. suatu diberikan kepada pasien penderita CF bertujuan untuk mengurangi efek eksaserbasi. merupakan turunan dari difenil hidramin dan tidak mengalami perusakan oleh enzim dipeptidase di tubuli ginjal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar