Jumat, 26 Agustus 2011

MENGUBAH HIDUP MENUJU KEBAHAGIAAN DUNIAWI DAN ROHANI


BAB 1
AKAR PENYEBAB KESENGSARAAN
Di dalam perjalanan kehidupan, umumnya kita pernah
mengalami kesengsaraan kehidupan, seperti mengalami
banyak rintangan yang rumit, kegagalan, disakiti orang, kena tipu,
mengalami sial, mengalami bencana dan banyak lagi lainnya.
Akan tetapi ketika kita mengalami jalan kehidupan yang
buruk, ketika ditipu orang, atau jatuh sakit, atau mengalami
kecurian, atau mengalami sial, kita cenderung berpikir bahwa
semua ini terjadi karena berbagai sebab yang berbeda-beda.
Misalnya ketika kita jatuh sakit, kita mungkin akan berpikir bahwa
semua ini akibat cuaca ekstrim, atau akibat makanan yang kita
makan, atau karena gangguan ilmu hitam, ataupun karena sebabsebab
lainnya. Ketika kita merasa resah-gelisah, merasa putus asa,
merasa galau tanpa sebab, kita cenderung berpikir bahwa semua
itu akibat kita mengalami gangguan metabolisme atau akibat kita
terkena pengaruh energi buruk. Ini adalah berbagai analisa yang
sangat sering muncul dalam pikiran kita. Menurut ajaran Hindu, ini
merupakan ciri jelas bahwa kita tidak mampu mengenali akar
penyebab sesungguhnya dari semua kejadian buruk ini.
Semua mahluk ingin bahagia dan tidak ada yang mau
menderita. Tapi banyak mahluk tidak menemukan kebahagiaan
hidup karena salah paham terhadap pola dinamika alur kehidupan.
Karena itu kita perlu meluaskan pikiran ke dalam masa-masa
jutaan kali kita mengalami kelahiran-kematian dalam siklus samsara
[kelahiran kembali yang berulang-ulang]. Dimana terdapat hukum
alam semesta yang bernama hukum karma, hukum sebab-akibat
D
2
kehidupan para mahluk yang saling berhubungan. Dimana semua
kejadian buruk dalam kehidupan kita disebabkan oleh diri kita
sendiri juga, karena akumulasi karma buruk kita sendiri.
Sesungguhnya semua analisa penyebab kesengsaraan yang
kita simpulkan di awal tersebut hanyalah faktor kulit luar atau faktor
pemicu saja, yang memicu buah karma [karma-phala] kita menjadi
matang. Sedangkan akar dari semua pengalaman buruk ini
disebabkan oleh karma kita sendiri yang tidak ada habis-habisnya,
dari jutaan kehidupan sebelumnya sampai dengan disaat ini dalam
siklus samsara.
Segala kebahagiaan dan segala kesengsaraan yang terjadi
dalam kehidupan manusia disebabkan oleh karma. Hukum karma
mengatur sebab-akibat perbuatan para mahluk, dimana setiap
tindakan kita akan membuahkan hasil atau buah karma [karmaphala].
Yang dimaksud dengan "tindakan" itu adalah pikiran,
perkataan, dan perbuatan kita sendiri. Oleh karena ada satu
tindakan, akan ada suatu akibat dari tindakan tersebut.
Asubha karmaphala atau akumulasi karma buruk adalah yang
membuat kehidupan kita mengalami rintangan dan kesengsaraan.
Ini berlaku dalam semua bidang kehidupan. Misalnya contoh :
- Dalam urusan ekonomi, akumulasi karma buruk kita sendiri
akan membuat kita mengalami kesulitan memperoleh rejeki. Kita
cenderung menemui banyak masalah, halangan, kena tipu,
kesulitan, ke-tidak-mampuan atau kegagalan.
- Dalam urusan kesehatan, akumulasi karma buruk kita sendiri
akan membuat kita mudah sakit, kondisi fisik tidak bagus atau
mengalami sakit yang berat.
- Dalam urusan hubungan asmara, akumulasi karma buruk
kita sendiri akan membuat kita mendapat banyak kesulitan, konflik
3
dan kegagalan di dalam mewujudkan jalinan asmara. Ataupun
sering disakiti oleh yang menjadi pasangan kita.
- Dalam urusan religius, akumulasi karma buruk kita sendiri
akan membuat kita sulit untuk berjodoh dengan guru spiritual yang
asli. Serta sulit tersambung rapi dengan ajaran dharma yang terang
dan membebaskan.
- Dsb-nya.
Umumnya sebagai manusia kita merasa takut dan ingin
menghindar dari kesengsaraan, tapi yang sering terjadi kita malah
semakin terjerumus pada peningkatan rasa takut dan
kesengsaraan. Kita mendambakan kedamaian, tapi hal-hal yang kita
lakukan justru membuat kita semakin resah dan jauh dari
kedamaian. Karena umumnya pada sebagian besar kita manusia,
ketika mengalami kesulitan dan kesengsaraan dalam hidup, reaksi
kita yang muncul biasanya akan merasa heran, tidak terima, marah,
protes atau bahkan mengamuk. Akibatnya kita tidak dapat
melepaskan diri dari siklus karma-phala yang saling berkait-kaitan
dan sambung-menyambung, serta sekaligus tidak bisa
menghentikan siklus samsara. Penyebab utamanya karena kita tidak
sepenuhnya menyadari akar permasalahan sesungguhnya.
Kebingungan dan ke-tidak-bahagiaan.
4
Hukum karma secara esensial bisa dikatakan sebagai adanya
akibat karena ada sebab. Segala hambatan dan kesengsaraan yang
terjadi dalam kehidupan kita disebabkan oleh akumulasi karma
buruk kita sendiri. Karena semuanya berasal dari diri sendiri, maka
penyelesaiannya juga ada pada diri sendiri. Dan inilah yang
selanjutnya akan dibahas di dalam buku ini, yaitu cara-cara untuk
mengatasi-nya dan sekaligus mengubah hidup menuju kebahagiaan
duniawi dan rohani
Dalam perjalanan kehidupan ini manusia itu “svatantra
katah”, yaitu mahluk yang sepenuhnya bebas, memiliki kehendak
bebas dan sekaligus bertanggung jawab atas semua pilihan
perbuatannya sendiri. Diri kita sendiri-lah yang sepenuhnya
merancang dan menentukan jalan kehidupan kita sendiri. Kita
memiliki peluang yang sangat besar untuk memperoleh
kebahagiaan dan ketenangan hidup. Tergantung pilihan kita sendiri,
bagaimana pilihan kita untuk bersikap dan bertindak dalam hidup ini
adalah yang pada akhirnya akan menentukan kita memperoleh
kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan hidup atau sebaliknya
bertemu dengan kesengsaraan.
BAB 2
MEMAHAMI DINAMIKA HUKUM KARMA
erciptanya alam semesta dipicu oleh interaksi purusha
dan prakriti atau “divine energy” yang mengembangkan
dirinya terus menerus secara berurutan menjadi dua puluh empat
tattva [asas dasar]. Dua puluh empat tattva inilah yang kemudian
bermanifestasi menjadi berbagai fenomena alam, termasuk mahluk
hidup.
Kehidupan ini sendiri
berevolusi melewati kurun
waktu milyaran tahun.
Bentukan awal dari kehidupan
adalah berupa mineral atau
bentukan materi mikro lainnya.
Lalu berevolusi menjadi
mahluk bersel satu. Lalu terus
berkembang menjadi mahluk
yang lebih maju dan kompleks,
sampai akhirnya menjadi
manusia. Lalu dari manusia
ada kemungkinan terus
menjadi dewa atau bahkan
mengalami pembebasan, menyadari kembali hakikatnya yang sejati
yaitu purusha.
T
Bagan evolusi mahluk hidup
6
Bersamaan dengan terbentuknya alam semesta, kemudian
juga diikuti oleh kemunculan dua hukum alam semesta,
yaitu hukum rta dan hukum karma. Adanya hukum-hukum alam
semesta ini, karena menjadi penunjang penting bagi keteraturan
dan ketidak-kacauan alam semesta.
Sebelum kita mendalami cara-cara untuk mengatasi karma
dan sekaligus mengubah hidup menuju kebahagiaan duniawi dan
rohani, terlebih dahulu kita perlu mengenali dan memahami
dinamika kerjanya.
DELAPAN POKOK BENTUK KARMA YANG SALING BERKAITKAITAN
Menyangkut hukum karma, terdapat sangat banyak macammacam
bentuk karma-phala, yang secara garis besar
dikelompokkan menjadi delapan pokok macam-macam bentuk
karma-phala yang saling berkait-kaitan, yaitu :
1. Nama Karma.
Nama karma adalah adalah beragam bentuk-bentuk karma
yang menentukan kita lahir dalam tubuh mahluk apa dan dengan
kondisi badan fisik bagaimana.
Karma ini yang menentukan tubuh fisik kelahiran kembali
[punarbhawa, reinkarnasi] kita sebagai mahluk. Ada yang lahir
kembali dalam tubuh manusia, dengan jenis kelamin laki-laki atau
perempuan. Ada yang cantik atau tampan, ada yang buruk rupa,
ada yang bentuk badannya bagus, ada yang cacat, ada yang
gerakannya elegan, ada yang gerakannya kikuk, dsb-nya.
7
Terlahir kembali sebagai manusia berjenis
kelamin laki-laki dengan wajah tampan, tubuh
sehat dan gerakan fisik yang elegan, disebabkan
oleh nama karma.
Ada juga yang karena akumulasi karma
buruknya banyak kemudian mengalami
kejatuhan dan terlahir kembali dalam
tubuh binatang seperti burung, kelinci, anjing, harimau, dsb-nya.
Mengalami kejatuhan terlahir kembali
sebagai binatang, disebabkan oleh nama
karma.
2. Gotra Karma.
Gotra karma adalah adalah beragam bentuk-bentuk karma
yang menentukan nasib perjalanan kehidupan kita, misalnya seperti
dilahirkan di tempat, situasi lingkungan dan keluarga seperti apa,
dalam kehidupan kita bertemu dengan siapa, mengalami apa, dsbnya.
Juga yang menentukan perjalanan nasib kehidupan kita,
lingkungan kita, kebahagiaan hidup, agama yang dianut, orangtua
ketika kita dilahirkan, serta juga menjadi penentu pertemuan kita
dengan teman, sahabat, rekan kerja, perjodohan dengan suami
atau istri, anak, keluarga besar, satguru, dsb-nya.
8
Gotra karma adalah yang menentukan kita mengalami jalan
kehidupan yang cenderung menyengsarakan seperti misalnya lahir
di keluarga miskin, lahir di lingkungan yang penuh kejahatan dan
konflik, kena tipu, tabrakan di jalan, mengalami bencana, kecurian,
kena rampok, disiksa orang, dsb-nya.
Terlahir kembali pada lingkungan yang penuh konflik dan kejahatan,
serta perjalanan kehidupan yang cenderung bengis dan penuh kekerasan dan
tidak ada ajaran dharma, disebabkan oleh gotra karma.
Karma ini juga yang menyebabkan kita mengalami jalan
kehidupan yang cenderung membahagiakan seperti misalnya lahir
di keluarga kaya, lahir di lingkungan yang tentram dan damai,
mendapatkan profesi yang bagus, mudah mendapat rejeki, disukai
orang, menang undian, dsb-nya.
9
Terlahir kembali pada lingkungan yang penuh kasih sayang, serta
perjalanan kehidupan yang cenderung indah, lancar, bahagia dan berlimpah
ajaran dharma, disebabkan oleh gotra karma.
3. Vedaniya Karma.
Vedaniya karma adalah beragam bentuk-bentuk karma yang
menentukan kondisi gejolak emosi, perasaan dan pikiran positifnegatif
kita.
Karma ini yang menyebabkan mengapa ada orang yang
mudah marah atau sebaliknya sangat penyabar, ada orang yang
pemurung atau sebaliknya humoris dan ceria, ada orang yang
pemberani atau sebaliknya penakut, ada orang yang mudah
bahagia atau sebaliknya mudah kecewa dan frustasi, ada orang
yang pemalu dan mudah grogi atau sebaliknya sangat percaya diri,
dsb-nya. Karma ini juga menyebabkan kita mengalami pengalaman
emosional yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan
dalam hidup, jatuh cinta, patah hati, pantang menyerah, mudah
kecewa, merasa malu, merasa sungkan, dsb-nya.
10
Kecenderungan emosi yang tidak stabil dan pemarah, disebabkan oleh
vedaniya karma.
Juga menjadi penyebab perbedaan sikap seseorang dalam
menyikapi positif-negatif suatu kejadian. Misalnya ketika ada yang
menghina dan melecehkan sikap si A adalah marah karena merasa
disakiti, sedangkan sikap si B dengan kejadian yang sama adalah
dia bisa tenang, sabar dan nrimo. Semua karena efek dari vedaniya
karma, dimana karma ini mempengaruhi gejolak emosi, perasaan
dan pikiran positif-negatif kita.
Kecenderungan emosi yang stabil, jiwa yang sabar, tenang dan damai,
disebabkan oleh vedaniya karma.
11
4. Mohaniya Karma.
Mohaniya karma adalah beragam bentuk-bentuk karma yang
membuat tingkat kesadaran kita rendah atau menghambat
peningkatan kualitas kesadaran kita. Mohaniya karma
mempengaruhi badan, pikiran dan jalan kehidupan kita yang
membuat kita sulit untuk sadar atau keluar dari jalan adharma,
membuat kita sulit untuk meninggalkan cara-cara salah dan jalan
hidup yang salah. Membuat kita jauh dari atma jnana atau
kesadaran akan realitas diri yang sejati.
Ini sebabnya ada sebagian orang yang lebih tertarik judi,
korupsi atau selingkuh dibandingkan melaksanakan dharma dan
belajar meditasi. Ada orang yang lebih tertarik pergi dugem atau ke
kafe dibandingkan pergi tirtayatra ke pura-pura, dan kalaupun dia
pergi ke pura yang dia pikirkan dan lakukan semata-mata adalah
untuk tujuan keduniawian. Ada orang yang lebih suka
melampiaskan amarah dibandingkan dengan mengasah kesabaran.
Ada orang yang lebih suka menonton infotaintment dan bergossip
dibandingkan dengan duduk meditasi. Akibatnya jalan
kehidupannya cepat atau lambat akan terperosok dari satu lubang
kesengsaraan menuju lubang kesengsaraan lainnya.
Kesadaran yang rendah, kehidupan hedonis atau tidak tertarik
melaksanakan dan mendalami dharma, disebabkan oleh mohaniya karma.
12
Mohaniya karma juga yang menjadi penyebab ada sebagian
orang yang meyakini ajaran religius yang tidak tepat, misalnya
menjanjikan kemudahan surga dengan cara ini atau itu padahal
sesungguhnya hal tersebut tidak benar. Atau mengalami ilusi
religius, misalnya terjebak dalam doktrin keyakinan salah bahwa
dirinya melakukan hal yang baik, benar dan suci, padahal
sesungguhnya yang dilakukannya adalah hal yang melanggar
dharma. Atapun menciptakan belenggu atau hambatan kesadaran
bagi banyak orang, seperti menanamkan kefanatikan beragama,
memicu pertikaian antar agama, atau dalam contoh yang paling
ekstrim adalah melakukan manipulasi, penipuan, pembodohan,
pembunuhan, teror dan perang demi membela Tuhan.
Kesadaran rendah dalam bentuk lain, yaitu pandangan religius yang
salah, kefanatikan beragama dan tidak ada kebijaksanaan, disebabkan oleh
mohaniya karma.
Atau dapat juga terjadi sebaliknya, mohaniya karma dapat
menyebabkan seseorang mengalami rasa bersalah karena
menyangka dirinya melakukan hal yang salah dan melanggar
dharma, padahal bila diselami secara mendalam ternyata tidak.
13
5. Jnanavaraniya Karma.
Jnanavaraniya karma adalah beragam bentuk-bentuk karma
yang membuat kita mengalami berbagai hambatan di dalam
kecemerlangan dasariah [budhi] misalnya : penyerapan atau
pemahaman kepada ilmu pengetahuan.
Ini yang menjadi penyebab hambatan bagi kita di dalam
kehidupan untuk berjodoh dengan berbagai ilmu pengetahuan. Dan
kalaupun kita berjodoh kita akan sulit tersambung dan
memahaminya. Dengan kata lain karma ini akan membuat kita sulit
memperoleh pemahaman, tumpul, bodoh, lamban dan buntu.
Kesulitan memahami, ketumpulan dan kebodohan, disebabkan oleh
jnanavaraniya karma.
Ini berlaku pada semua jenis ilmu pengetahuan, termasuk
pada pengetahuan religius atau agama. Kita yakin dan percaya
kepada ajaran agama yang tidak tepat. Kita akan cenderung
menjalani dan memahami kehidupan dengan sulit dan kacau karena
disesatkan oleh ketumpulan, kebodohan dan kebuntuan kita sendiri.
14
6. Antaraya Karma.
Antaraya karma adalah beragam bentuk-bentuk karma yang
membuat kita mengalami hambatan dan kesulitan untuk melakukan
kebaikan, menerima pemberian, menerima jasa atau menikmati
hasil dari upaya kerja kita.
Karma ini menyebabkan kita dalam berbagai situasi
mengalami hambatan dan kesulitan di dalam melakukan kebaikankebaikan.
Misalnya kita tahu menolong orang yang sedang
kelaparan itu baik, tapi kita sendiri tidak bisa membantu karena kita
tidak punya makanan. Atau kita ingin menolong orang lain dan tahu
caranya, tapi kita tidak bisa melakukannya karena kita tidak punya
waktu dan kesempatan.
Ini menyebabkan kita dalam berbagai situasi mengalami
hambatan dan kesulitan di dalam menerima pemberian orang lain,
walaupun ada waktu dan kesempatan. Misalnya ada orang sedang
membagi-bagi sembako gratis, kita sudah ada disana saat itu ikut
antrean, tapi kita tidak mendapat karena sembako gratisnya
kemudian sudah habis. Atau karma ini menyebabkan kita tidak bisa
menikmati hasil seimbang dari upaya kerja kita. Misalnya kita sudah
bekerja keras, tapi hasilnya atau pemasukannya sangat minim.
Mengalami kesulitan untuk dapat membantu orang lain atau mendapat
kesulitan untuk menerima kebaikan orang lain, disebabkan oleh antaraya
karma.
15
Antaraya karma juga yang menyebabkan munculnya
keengganan berbuat atau melakukan sesuatu di dalam diri kita.
Kemalasan atau rasa
frustasi juga disebabkan
oleh antaraya karma.
7. Darsanavaraniya Karma.
Darsanavaraniya karma adalah beragam bentuk-bentuk karma
yang membuat kita tidak mampu menggunakan potensi
sesungguhnya dari badan fisik dan indriya kita. Karena diri kita ini
sesungguhnya memiliki potensi tersembunyi yang tidak terbatas.
Ini yang menyebabkan kita terhalang dari potensi
kemampuan yang sebenarnya pada berbagai indriya. Misalnya mata
kita menjadi rabun, buram atau
mengalami kebutaan. Lebih jauh lagi
secara niskala mata kita ini
sesungguhnya memiliki kemampuan
untuk melihat alam-alam dan mahluk
halus, atau yang biasa disebut trineta
[mata ketiga], tapi kita tidak mampu
menggunakan potensi tersebut. Atau
contoh lain telinga mata kita menjadi
Terhalang dari potensi
kemampuan maksimal pada
berbagai indriya dan badan fisik
lainnya, disebabkan oleh
darsanavaraniya karma.
16
kurang pendengarannya atau tuli. Lebih jauh lagi secara niskala
telinga kita ini sesungguhnya memiliki kemampuan untuk
mendengar suara dari alam-alam halus atau mahluk halus, tapi kita
tidak mampu menggunakan potensi tersebut.
Karma ini juga yang menjadi penyebab kita mengalami jatuh
sakit karena gangguan fungsi organ, kerusakan organ atau
kelumpuhan badan. Yang mungkin dapat menyebabkan kita
memiliki umur yang pendek, dimana badan fisik kita mengalami
gangguan akibat pola hidup kita sendiri sehingga badan fisik ini
rusak dan akibatnya kita mati.
Darsanavaraniya karma juga yang menyebabkan ada orang
yang tidak sinkron-nya antara badan fisik dan kesadarannya, yang
akibat paling kelihatan adalah gangguan tidur, seperti insomnia
[sulit tidur], tidur berjalan, dsb-nya.
8. Ayusya Karma.
Ayusya karma adalah beragam bentuk-bentuk karma yang
menjadi penentu ke alam mana jiwa kita akan terbawa pergi
setelah dijemput kematian. Apakah kita akan pergi ke alam-alam
bhur loka, svarga loka, langsung terlahir kembali, dsb-nya.
Ke alam mana jiwa kita akan terbawa pergi setelah dijemput kematian,
ditentukan oleh ayusya karma.
17
TIGA RENTANG WAKTU MATANGNYA BUAH KARMA
Sedangkan berdasarkan rentang waktu, karma terdiri dari tiga
jenis karma-phala yang didasarkan atas waktu dari buah karma itu
menjadi matang, lalu menjadi sebuah kejadian yang kita alami
dalam kehidupan, yaitu :
1. Sancita Karmaphala.
Sancita karma-phala disebut juga karma masa lalu. Yaitu
tindakan yang kita lakukan di masa lalu, yang buah karma-nya
[karma-phala] baru matang dan kita terima di saat ini. Dan / atau
tindakan yang kita lakukan di kehidupan sebelumnya, yang buah
karma-nya baru matang dan kita terima di kehidupan sekarang.
2. Prarabda Karmaphala.
Prarabda karma-phala disebut juga karma masa kini. Yaitu
tindakan yang kita lakukan di saat ini, yang buah karma-nya
matang dan kita terima di saat ini juga.
3. Kriyamana Karmaphala.
Kriyamana karma-phala disebut juga karma masa depan.
Yaitu tindakan yang kita lakukan di saat ini, yang buah karma-nya
[karma-phala] baru matang dan kita terima di masa depan. Dan /
atau tindakan yang kita lakukan di kehidupan sekarang, yang buah
karma-nya baru matang dan kita terima di kehidupan berikutnya.
18
TIGA BENTUK KESENGSARAAN AKIBAT KARMA-PHALA KITA
SENDIRI
Dinamika dari akumulasi delapan pokok macam-macam
bentuk karma-phala yang saling berkait-kaitan, yang kemudian
bekerja dalam tiga rentang waktu, semua inilah yang menjadi akar
penyebab sesungguhnya dari segala apa yang kita alami dalam
kehidupan ini.
Sehingga kalau di hari ini hidup kita banyak kesulitan, tidak
punya banyak uang, selalu bertemu sial, hal yang tidak bagus atau
sering gagal mendapatkan apa yang kita inginkan dan perjuangkan,
itu adalah buah dari apa yang kita lakukan sendiri di masa lalu dan
saat ini. Atau sebaliknya kalau di hari ini hidup kita banyak
kemudahan, punya uang berlimpah, selalu bertemu keberuntungan,
hal yang bagus atau sering mudah mendapatkan apa yang kita
inginkan dan perjuangkan, itu juga adalah buah dari apa yang kita
lakukan di masa lalu dan saat ini.
Terkait dengan rintangan dan kesengsaraan dalam kehidupan,
dinamika dari akumulasi karma buruk kita sendiri, yang bekerja
dalam tiga rentang waktu, menyebabkan munculnya tap athreya
atau tiga bentuk kesengsaraan yang menyebabkan kita jauh dari
kebahagiaan hidup, yaitu :
1. Atmika Tap.
Yang dimaksud dengan atmika tap adalah kesengsaraan yang
berasal dari dalam diri kita sendiri, yaitu kegelapan pikiran-perasaan
kita sendiri, serta gangguan tubuh fisik yang membuat kita menjadi
sengsara dan tidak menemukan ketenangan dalam hidup.
19
Kesengsaraan pikiran-perasaan adalah rangkaian kebodohan
dan perasaan negatif dalam diri kita sendiri. Misalnya seperti sifat
emosional, mudah marah, mudah kecewa, mudah sedih, mudah
putus-asa, rasa tidak puas, ketidakmampuan memecahkan
masalah, ketidakmampuan melakukan analisa, rasa malu yang
berlebihan, pemikiran yang salah, rasa tidak percaya diri, fanatisme
agama berlebihan, tidak mengerti yang benar dan yang salah, tidak
mampu fokus atau berkonsentrasi, dsb-nya. Kesadaran sejati kita
dipermainkan oleh emosi, perasaan dan pemikiran salah kita
sendiri.
Kesengsaraan yang diakibatkan oleh avidya [kebodohan], emosiperasaan
negatif, serta pikiran buruk dan prasangka buruk kita sendiri belaka.
Kesengsaraan tubuh adalah rangkaian gangguan, penyakit
dan identifikasi yang salah terhadap tubuh. Misalnya seperti badan
fisik mengalami cacat, gangguan atau jatuh sakit, terseret dengan
liarnya keinginan panca indriya, tidak puas dengan badannya
sendiri [misalnya yang berambut keriting ingin lurus, yang
berambut lurus ingin keriting, yang kulitnya hitam ingin putih, yang
kulitnya putih ingin hitam, dsb-nya], merasa malu akan pandangan
kepada badan fisiknya, larut dalam kemalasan dan kelelahan,
kecanduan minuman keras atau narkoba, dsb-nya. Kesadaran sejati
kita dipermainkan oleh badan fisik kita sendiri.
20
Kesengsaraan yang diakibatkan oleh gangguan pada tubuh fisik
2. Bhautika Tap.
Yang dimaksud dengan bhautika tap adalah gangguan atau
konflik yang berasal dari interaksi kita dengan sesama mahluk
lainnya, yang membuat kita menjadi sengsara dan tidak
menemukan ketenangan dalam hidup.
Misalnya bertemu dengan orang-orang yang menyakiti, ditipu
orang, dikelilingi oleh orang-orang tidak baik, dihina orang, difitnah
orang, dipukul orang, rekan kerja yang brengsek, persaingan bisnis,
orang tua yang keras, istri yang cerewet, anak yang bandel,
tetangga yang suka mengganggu, dirugikan orang. Diserang anjing,
diterkam harimau, dikencingi burung, serangan hama ulat bulu,
digigit lintah, ada banyak nyamuk, semut atau lalat. Dsb-nya. Tapi
disini kita harus benar-benar sadar bahwa sesungguhnya mereka
semua bukan mahluk jahat, melainkan mahluk-mahluk menderita
yang karena karma buruknya tidak dapat menemukan jalan terang.
21
Kesengsaraan yang diakibatkan oleh konflik dalam interaksi kita dengan
orang lain dan mahluk lain.
Juga interaksi kita dengan mahluk-mahluk niskala [yang tidak
dapat kita lihat dengan mata biasa] yang membuat kehidupan kita
terganggu. Karena di alam ini dan di sekeliling kita banyak terdapat
mahluk-mahluk niskala yang dapat mempengaruhi kita menjadi
gelisah, pemalas, beremosi negatif atau jatuh sakit. Tapi disini juga
sama kita harus benar-benar sadar bahwa sesungguhnya mereka
bukan mahluk jahat, melainkan mahluk-mahluk menderita yang
karena karma buruknya tidak dapat menemukan jalan terang.
3. Daivika Tap.
Yang dimaksud dengan daivika tap adalah kesengsaraan yang
berasal dari rangkaian dinamika kosmik alam semesta, merupakan
perpaduan antara hukum karma dan hukum rta, yang membuat kita
menjadi sengsara.
Misalnya gangguan alam seperti angin kencang, udara yang
terlalu panas atau terlalu dingin, terkena patahan pohon tumbang,
kekeringan yang mengakibatkan krisis air dan pangan. Bencana
22
alam seperti banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi,
angin tornado.
Kesengsaraan yang berasal dari bencana alam.
Ini juga termasuk tata ruang kosmik rumah tinggal kita yang
tidak bagus [artinya asta kosala-kosali atau feng shui tidak bagus]
yang dapat mempengaruhi kita menjadi sulit mendapat rejeki,
boros, tidak tenang, beremosi negatif atau jatuh sakit.
Kesengsaraan yang berasal dari tata ruang kosmik yang buruk, yang
membuat hidup kita terganggu karena menghasilkan dinamika, aliran dan
akumulasi energi negatif di lingkungan sekitar kita.
23
Juga sulitnya kita memperoleh keberuntungan dan mengalami
sial karena alam semesta tidak mendukung kita. Misalnya tidak
pernah menang undian, mengalami pecah ban di jalan, berada di
tempat dan waktu yang salah sehingga menimbulkan prasangka
buruk orang lain, dsb-nya.
Semua tap athreya ini saling berkait-kaitan dalam jejaring
karma yang sangat rumit dan tidak dapat terhindarkan. Dan kalau
kita ingin mengubah hidup kita agar mendapatkan kebahagiaan
duniawi dan rohani, seperti nasehat tetua orang Bali “idupe nak
anggon ngalih bekel idup lan bekel mati” [hidup ini adalah untuk
mencari bekal kehidupan dan bekal kematian], maka kita harus
terus berjuang berusaha dengan sebaik-baiknya di jalan dharma
untuk memperbaiki diri dan kehidupan.
PERENUNGAN HAKIKAT HUKUM KARMA
Sehingga pertama-tama sekali kita harus renungkan dan
sadari sedalam-dalamnya bahwa segala sesuatu kondisi keadaan
yang buruk, rintangan, ketidak-beruntungan, pertemuan dengan
orang lain dan mahluk lain, ataupun termasuk hal-hal yang tidak
kita pahami sebabnya, yang membuat kita mengalami gangguan
negatif pada emosi, perasaan, pikiran, perkataan dan tindakan kita.
Baik gangguan yang muncul dari luar diri maupun dalam diri. Itu
semuanya muncul semata-mata sebagai akibat dari matangnya
buah karma buruk [asubha karmaphala] kita sendiri, baik itu karma
masa lalu maupun karma disaat ini.
Kedua kita harus renungkan dan sadari sedalam-dalamnya
bahwa ketika segala pengalaman buruk itu terjadi pada kehidupan
kita, lalu kita terseret ke dalam gangguan negatif pada emosi,
perasaan, pikiran, perkataan dan tindakan kita tersebut, maka akan
24
ada konsekuensi karma buruk dan kesengsaraan baru yang akan
mengikuti kemudian. Kita tidak saja akan membuat karma buruk
yang baru, tapi karma buruk kita itu tetap ada tidak terselesaikan
dan malah menjadi semakin bertumpuk-tumpuk.
Ketiga, menyadari dua kebenaran hukum semesta tersebut,
kita harus renungkan dan sadari sedalam-dalamnya bahwa ketika
segala pengalaman buruk itu terjadi dalam kehidupan kita,
sesungguhnya kita sedang mendapat kesempatan terbaik untuk
menyelesaikan akar penyebab-nya saat ini juga, yaitu dengan cara
tidak terseret ke dalam gangguan negatif pada emosi, perasaan,
pikiran, perkataan dan tindakan kita. Tapi sebaliknya kita harus
menghadapinya dengan bathin yang tenang-seimbang dan penuh
welas asih. Karena tindakan inilah yang akan menyelesaikan dan
menghapus karma buruk kita sendiri. Sekaligus membuat kita
terhindar dari keadaan yang jauh lebih buruk di masa depan, atau
terhindar dari kelahiran kembali yang buruk.
Renungan meditatif akan hakikat hukum karma.
Lalu melalui tiga perenungan tersebut kita tanamkan di dalam
kesadaran kita, bahwa seluruh akar penyebab kesengsaraan
[akumulasi karma buruk kita] dapat mulai kita selesaikan saat ini
25
juga. Yaitu caranya, ketika segala pengalaman buruk itu terjadi
dalam kehidupan kita, dengan tekad dan upaya sungguh-sungguh
kita tidak boleh terseret ke dalam gangguan negatif pada emosi,
perasaan, pikiran, perkataan dan tindakan kita. Tapi sebaliknya kita
harus menghadapi semua pengalaman buruk dalam kehidupan
dengan bathin yang tenang-seimbang dan penuh welas asih.
Sehingga kita tidak saja terhindar dari membuat karma buruk yang
baru, tapi sekaligus karma buruk kita itu akan terselesaikan dan kita
tidak membuatnya menjadi semakin bertumpuk-tumpuk. Dimana
hal ini adalah yang akan membuat kita terhindar dari keadaan yang
jauh lebih buruk di masa depan, atau terhindar dari kelahiran
kembali yang buruk, serta sekaligus membangun dasar-dasar dari
jalan kesadaran yang terang.
TIGA MACAM PERUBAHAN KARMA
Hukum karma bukanlah sebuah hukum yang statis, melainkan
hukum dinamis yang dapat termodifikasi atau berubah sesuai
dengan pikiran, perkataan, tindakan dan sadhana-sadhana yang
kita lakukan. Sehingga sangat mungkin untuk mengubah karma kita
sendiri atau juga untuk terbebas darinya.
Ada tiga macam modifikasi atau perubahan karma, yaitu :
1. Udvartana.
Udvartana berarti penambahan. Yaitu bertambahnya karma
buruk, karena kita menghadapi kehidupan dengan emosi, perasaan,
pikiran, perkataan dan tindakan yang buruk dan negatif.
26
2. Apavartana.
Apavartana berarti pengurangan. Yaitu berkurangnya beban
dan jangka waktu karma buruk, karena kita menghadapi kehidupan
dengan emosi, perasaan, pikiran, perkataan dan tindakan yang
bersih, baik dan positif.
3. Samkramana.
Samkramana berarti perubahan. Yaitu perubahan atau
terhapusnya karma buruk karena ketekunan kita melaksanakan
sadhana-sadhana tertentu.
Pentingnya mengetahui tiga macam modifikasi atau
perubahan karma ini agar kita paham. Di masa lalu kita boleh
punya banyak karma buruk [asubha karma], tapi kita sesungguhnya
bisa dapat keringanan atau penghapusan karma buruk. Atau
sebaliknya, di masa lalu kita boleh punya banyak karma baik [subha
karma], tapi kita bisa mendapat karma buruk baru berupa masalah,
kesulitan serta pengalaman buruk tambahan, kalau kita mengisi
kehidupan kita di hari ini dengan hal-hal yang tidak baik.
Misalnya [sebagai salah satu contoh] : putaran karma kita hari
ini harus dibunuh orang lain, karena di beberapa kehidupan
sebelumnya kita sering membunuh orang dan hari ini karmanya
harus kita bayar. Tapi karena di saat ini kita penuh dengan welas
asih, kebaikan dan kita menghadapinya dengan sikap bathin yang
tenang dan damai, kita tidak jadi dibunuh, kita hanya dipukuli saja.
Atau misalnya putaran karma kita hari ini ditipu orang sampai
benar-benar bangkrut, tapi karena di saat ini kita penuh dengan
welas asih, kebaikan dan sikap bathin kita tenang, damai, kemudian
akan ada orang yang datang menolong kita sebelum kita jadi
gelandangan, dsb-nya.
27
Atau sebaliknya putaran karma kita hari ini akan menjadi
pejabat penting, karena kita punya banyak tabungan karma baik
dan hari ini buah-karmanya bisa kita nikmati. Tapi karena disaat ini
kita sering menjelek-jelekkan atasan kita, kita bisa batal jadi
pejabat penting karena atasan kita marah kepada kita. Atau
misalnya putaran karma kita hari ini menjadi orang kaya-raya, tapi
karena disaat ini kita suka judi, dugem atau selingkuh, kita akan
jatuh miskin, dsb-nya.
Masa lalu tidak bisa diperbaiki karena sudah berlalu. Dalam
kelahiran sebelumnya kita jadi siapa dan seperti apa, itu tidak
penting karena sudah berlalu dan tidak bisa diperbaiki. Yang paling
penting adalah bagaimana kita bersikap dan berperilaku disaat ini
juga. Bahkan orang yang harus mengalami karma buruk-pun bisa
dapat keringanan kalau sikap dan perilaku-nya baik di saat ini.
TEKAD KUAT DAN KESADARAN UNTUK SELALU MENGUBAH
DIRI MENJADI LEBIH BAIK
Hukum karma adalah bagian dari dinamika alam semesta
yang tidak dapat dihindari. Kalau ingin tahu karma kita pada masa
kehidupan yang lalu, lihat saja apa yang kita alami dalam kehidupan
sekarang. Kalau ingin tahu karma kita pada masa kehidupan yang
akan datang, lihat saja apa yang kita lakukan dalam kehidupan
sekarang.
Akan tetapi kadang ketika berbicara melakukan perubahan
karma, tentu saja kemudian akan ada yang berkata bahwa hidup
saya lancar, baik-baik saja dan saya tidak kekurangan suatu
apapun, lalu untuk apa saya bersusah payah melakukan ini semua ?
28
Memang benar demikian bahwa hidup sebagian orang demikian
lancar, baik-baik saja dan tidak kekurangan suatu apapun.
Sesungguhnya semuanya juga disebabkan oleh diri kita
sendiri, yang disebabkan oleh akumulasi karma baik kita sendiri,
baik di masa lalu maupun di masa kini. Subha karmaphala
[akumulasi karma baik] akan membuat kehidupan kita penuh
dengan kemudahan, kesenangan dan keberuntungan. Tapi cepat
atau lambat akumulasi karma baik ini akan habis. Kalau kita terlena
dan tidak mengubah diri menjadi lebih baik, maka ketika akumulasi
karma baik kita ini habis maka hidup kita juga akan mengalami
terjun bebas ke dalam jurang kesengsaraan yang sama. Oleh
karena itu kita harus tekun dan bersemangat mengumpulkan
akumulasi karma baik, agar kehidupan di masa depan menjadi lebih
baik dan beruntung.
Hidup yang cenderung lancar dan nyaman
Hidup yang cenderung lancar dan nyaman mungkin dapat
membuat manusia terlena. Padahal tetaplah harus mengembangkan
kesadaran menjadi baik, karena ketika akumulasi karma baik ini
29
habis maka kehidupan juga akan mengalami terjun bebas ke dalam
jurang kesengsaraan.
Sehingga ketika perjalanan hidup kita mengalami banyak
masalah dan kesengsaraan, kita harus punya tekad kuat dan
kesadaran bahwa kita harus mengubahnya menjadi lebih baik, agar
kelak hidup kita tidak sengsara seperti saat ini. Langkah pertama
adalah dengan sadar [bertobat], mengakui kesalahan dan kemudian
bertekad untuk tidak melakukan perbuatan maupun ucapan salah
lagi di masa depan.
Sebaliknya ketika perjalanan hidup kita mengalami banyak
kemudahan dan kebahagiaan, jangan terlena, kita harus tetap
punya tekad kuat dan kesadaran bahwa kita harus mengubahnya
menjadi lebih baik. Kita harus tetap eling bahwa dengan tidak
melaksanakan dharma saja hidup kita sudah bahagia, apalagi kalau
kita banyak melaksanakan dharma ? Dan tentunya hal yang lebih
bahagia, terang dan mulia sudah menanti kita. Dan bukan
sebaliknya, hanya tinggal menunggu waktu saja akumulasi karma
baik kita ini habis, untuk kemudian hidup kita juga akan kembali
mengalami terjun bebas ke dalam jurang kesengsaraan.
Pandangan yang mengatakan bahwa kehidupan ini sudah
ditentukan oleh karma yang tidak bisa atau tidak perlu dirubah,
sehingga hidup menyerah bagai kayu lapuk, adalah termasuk salah
satu dari pandangan yang salah.
BAB 3
MENGUBAH HIDUP MENUJU
KEBAHAGIAAN DUNIAWI DAN ROHANI
ekarang kita sudah memahami bagaimana hukum karma
sebagai hukum alam semesta bekerja dalam dinamikanya.
Kita sudah mengetahui bahwa akibat asubha karma-phala kita
sendiri, kita mengalami tap athreya atau tiga bentuk kesengsaraan.
Sehingga sekarang kita perlu mengetahui cara mengatasi dan
melampaui tiga bentuk kesengsaraan tersebut.
Jalan keluar atau penyelesaiannya dalam ajaran Hindu adalah
dengan menjalankan dan melaksanakan tiga sadhana tri yadnya
yang saling berkait-kaitan satu sama lain. Tri yadnya adalah tiga
macam yadnya [persembahan suci] yang tidak berhubungan
dengan upakara, yaitu melaksanakan jnana yadnya, melaksanakan
tapa yadnya dan melaksanakan drwya yadnya.
Tiga sadhana tri yadnya ini ketiganya harus dilaksanakan
secara menyeluruh dengan ketekunan holistik. Kalau hanya
melaksanakan satu atau dua saja dari tri yadnya tidak akan
membuat kita mampu mengatasi dan melampaui tap athreya atau
tiga bentuk kesengsaraan. Kita harus melaksanakan ketiganya
secara bersama-sama, karena ketiganya saling berkait-kaitan satu
dengan yang lain. Tidak hanya bergantung kepada satu sadhana
saja, melainkan upaya kolektif dari setiap sadhana yang saling
menopang, saling berkaitan dalam sebab, akibat dan kondisi.
Bagaimana lika-liku perjalanan hidup kita ada di tangan kita
sendiri. Kalau kehidupan kita buruk rubahlah menjadi baik. Dan
S
31
kalau kehidupan kita sudah baik rubahlah menjadi lebih baik lagi.
Kita mampu untuk melakukan perubahan kepada kehidupan kita
sendiri, asalkan kita tekun dan sungguh-sungguh. Ya, kita dapat
melakukannya !!
1. JNANA YADNYA
Sadhana pertama adalah jnana yadnya. Jnana dalam bahasa
sansekerta bisa berarti pengetahuan atau bisa juga berarti
kesadaran. Dalam kaitan dengan jnana yadnya, yang dimaksud
dengan jnana adalah kesadaran. Jnana yadnya berarti yadnya
[persembahan suci] berupa mengembangkan kesadaran di dalam
diri kita sendiri dengan cara melaksanakan yoga.
Melaksanakan yoga artinya MEMURNIKAN SAMSKARA atau
melampaui kesan-kesan pikiran dan perasaan. Samskara adalah apa
yang menjadi salah satu kekuatan penggerak utama bagi hukum
karma dan siklus samsara.
Melaksanakan yoga akan memurnikan samskara.
32
Bagi kebanyakan orang, pikiran-perasaan negatif atau
kegelapan bathin seperti iri hati, marah, benci, dendam, serakah,
galau, resah, sedih, rasa sakit, dsb-nya, lekat menjadi satu dengan
kesadaran. Itu sebabnya ketika marah kita bertengkar, ketika tidak
suka kita mengeluarkan kata-kata menyakitkan, ketika kecewa kita
stress, ketika sedih kita menangis, ketika ada godaan kita serakah,
dst-nya. Karena kesadaran kita diseret jauh oleh perasaan-pikiran
negatif.
Melalui praktek meditasi yang mendalam, perasaan-pikiran
negatif atau kegelapan bathin perlahan-lahan berpisah dengan
kesadaran. Artinya mulai ada ruang diantara perasaan-pikiran
negatif dengan kesadaran. Semakin dalam dan tekun praktek
meditasi-nya, semakin lebar ruang diantara keduanya. Hasilnya
adalah kondisi dimana perasaan-pikiran negatif kita berhenti
menjadi diktator menyeramkan bagi diri kita sendiri. Emosi kita
menjadi stabil dan bathin kita menjadi tenang-seimbang, atau
dengan kata lain samskara [kesan-kesan pikiran] menjadi jernih dan
murni. Inilah jnana atau kesadaran.
Tapi tentu saja karena ketidak-sempurnaan kita sebagai
manusia, ditambah dengan derasnya gangguan-godaan kehidupan,
walaupun kita sudah tekun praktek meditasi-nya kadang-kadang
masih kembali terjadi perasaan-pikiran negatif lekat menjadi satu
dengan kesadaran, sehingga pengalaman buruk seperti iri hati,
marah, benci, dendam, serakah, galau, resah, sedih, rasa sakit,
dsb-nya, terulang kembali. Namun jangan mudah putus asa.
Teruskan, teruskan dan teruskan praktek meditasi-nya.
Melaksanakan yoga sangat membantu mengatasi rintangan
yang berasal dari dalam diri kita sendiri, yaitu rintangan pikiranperasaan
serta rintangan tubuh yang membuat kita menjadi
sengsara dan tidak menemukan ketenangan dalam hidup.
33
Jnana yadnya tentu bukanlah tentang mencapai hidup yang
lancar, aman dan bahagia, bebas dari gangguan dan masalah, tapi
tentang selalu dalam kesadaran pada setiap kejadian dalam
perjalanan kehidupan kita. Karena meditasi tidaklah membuat hidup
kita bebas dari kesusahan, masalah, kesulitan, dsb-nya. Datangnya
kebahagiaan dan kesengsaraan, itu sudah datang pada tempatnya
masing-masing, karena ada hukum karma yang bekerja. Yang
membedakan adalah kalau kita belajar meditasi, ketika ada
rintangan, masalah dan kesengsaraan kita tidak meronta, tidak
berkelahi, tidak menangis menghadapi kehidupan. Rasa sakit dan
pedih dalam kehidupan tingkat sengatannya ke dalam bathin kita
akan jauh lebih ringan dan sedikit, kalau kita selalu dalam
kesadaran. Dalam arti ada ruang diantara perasaan-pikiran negatif
dengan kesadaran.
Manah shanti, kebahagiaan dan kedamaian di dalam diri.
Sehingga apapun yang terjadi, kita dapat sadar, damai dan
penuh welas asih disana. Dan sumber penyembuhan bathin dari
dalam yang paling mengagumkan adalah selalu sadar, damai dan
penuh welas asih pada apapun yang terjadi dalam kehidupan.
34
Dengan meditasi samskara kita termurnikan, dimana bathin
kita menjadi lebih damai, tenang-seimbang dan bahagia, serta
kecenderungan negatif kita seperti kemarahan, kebencian,
kesombongan, dsb-nya, akan jauh berkurang. Dengan lebih sedikit
marah dan benci, kita lebih sedikit melukai hati dan perasaan
mahluk lain. Dengan lebih rendah hati, kita bisa menghormati orang
lain dan menghormati perbedaan secara lebih baik. Dengan lebih
sedikit serakah, kita lebih sedikit membuat orang lain menderita,
dsb-nya. Tidak saja hidup kita sendiri akan lebih damai dan
bahagia, tapi kita juga membuat mahluk lain lebih damai dan
bahagia.
Ini adalah dinamika hukum alam semesta itu sendiri terkait
karma, bahwa kalau kita bathinnya jernih dan pikirannya positif,
dengan sendirinya kita akan membentuk kehidupan yang penuh
keberuntungan. Kita mungkin secara fisik tidak menarik, tapi kita
akan menjadi orang jelek yang beruntung. Kita mungkin tidak
pintar, tapi kita akan menjadi orang bodoh yang beruntung. Kita
mungkin tidak kaya, tapi kita akan menjadi orang sederhana yang
beruntung. Ini yang disebut sebagai mengubah nasib [memutar
karma baik] dengan memurnikan samskara [minimal dengan selalu
punya pikiran baik dan positif].
Dengan pikiran baik dan positif hidup menjadi penuh dengan
keberuntungan.
35
Bagi yang serius ingin memasuki jalan yoga, pilihan yang
terbaik tentunya adalah kita belajar dengan bimbingan langsung
dari seorang guru yang tepat. Pergilah belajar yoga dibawah
bimbingan satguru yang bisa menuntun kita menuju kejernihan
bathin dan membangunkan kesadaran di pesraman, di pusat
meditasi, dsb-nya, karena itu adalah langkah yang terbaik.
2. TAPA YADNYA
Sadhana kedua adalah tapa yadnya. Tapa berarti
pengendalian diri. Tapa yadnya berarti yadnya [persembahan suci]
berupa disiplin pengendalian diri.
Melaksanakan tapa yadnya artinya MENJAGA DIRI
SENDIRI, dengan kata lain menghentikan diri kita sendiri membuat
rangkaian karma buruk yang baru. Yang berarti mencegah diri kita
sendiri terus-menerus membuat halangan dan rintangan karma
buruk baru, yang dapat menyebabkan kita semakin jauh dan
semakin jauh dari kebahagiaan hidup.
Karena orang yang sadar akan hakikat hukum karma akan
berupaya “memotong” sebab utama yang menjadi sumber karma
buruk dan perasaan-pikiran negatif, yaitu tindakan yang melanggar
dharma.
Karena orang yang sadar akan hakikat hukum karma, juga
akan berupaya menjadikan dirinya seorang karma-gyani atau orang
yang mengalir dengan karma-nya. Semua kejadian dalam
kehidupan dipeluk dengan dengan keheningan dan welas asih.
Termasuk ketika dia disakiti, dihina, ditipu, ketemu orang jahat,
ketemu orang yang memperlakukan dengan tidak baik, kecelakaan,
sakit keras, dsb-nya, dia sadar sehingga berkata ke diri sendiri,
“saya sedang membayar hutang karma”. Dan bagi dia tidak usah
menciptakan karma buruk yang baru dengan cara balik menyakiti,
36
malah sebaliknya disambut dengan dengan keheningan dan welas
asih. Dengan kata lain “memotong” akar penyebab yang menjadi
sumber utama karma buruk.
Semua kejadian dalam kehidupan dipeluk dengan dengan keheningan
dan welas asih. Termasuk ketika disakiti, karena sadar sesungguhnya sedang
membayar hutang karma.
Dengan pikiran dan indriya yang terkendali, kita akan lebih
sedikit serakah, lebih sedikit tidak puas, lebih sedikit marah, lebih
sedikit benci, lebih sedikit mengeluarkan kata-kata menyakitkan,
serta akan lebih sedikit melakukan tindakan yang menyakiti.
Ke semua arah, ini akan membuat kita membuat kita lebih
sedikit menyakiti mahluk lain dan banyak sekali mengurangi beban
penderitaan para mahluk. Ke dalam diri, ini tidak saja akan
membuat kita berhenti memproduksi karma buruk yang baru, tapi
sekaligus juga membuat kita memperoleh kedamaian-ketenangan
bathin di dalam diri.
Tapa yadnya ini dilaksanakan dengan 10 bentuk disiplin diri
sebagai persembahan suci, yaitu :
37
Tiga disiplin tindakan :
Hindari menyakiti secara fisik [meracuni makanan, kekerasan
secara fisik, membunuh].
Hindari melakukan aktifitas seksual salah [selingkuh,
pelecehan seksual, pemerkosaan].
Hindari mengambil sesuatu yang bukan milik kita [mencuri,
merampok, korupsi].
Empat disiplin perkataan :
Hindari berbohong [tidak berkata yang sebenarnya, menipu,
memanipulasi pandangan orang lain, bercerita berlebihan].
Hindari memfitnah [bergossip, menceritakan hal tidak benar
tentang orang lain].
Hindari kata-kata tidak menyenangkan [kasar, mengolokolok,
menebar kebencian, membandingkan, menghina,
melecehkan, merendahkan].
Hindari kesombongan [menganggap diri lebih benar, lebih
pantas, lebih hebat, lebih suci].
Tiga disiplin pikiran :
Hindari kemarahan [tersinggung, tidak terima, tidak puas, iri
hati, sentimen, kebencian].
Hindari kegundahan [ketakutan, kegelisahan, kegalauan,
kesedihan].
Hindari dualitas pikiran [berpikir negatif, prasangka buruk].
Orang yang tidak menjaga dirinya sendiri [melaksanakan 10
tapa yadnya], jangankan pada masalah besar, hal-hal sepele saja
38
sangat mungkin bisa menjadi sumber ketidakpuasan atau
kemarahan. Sehingga tidak saja bathinnya yang akan sengsara
karena ketidakpuasan atau kemarahan, tapi sekaligus juga akan
memancarkan permusuhan kesana kemari. Dan permusuhan ini
kemudian mengundang permusuhan orang lain, yang ujungujungnya
akan berakhir kepada siklus kebencian dan kesengsaraan
yang tidak mengenal ujung akhir.
Memang cenderung sulit dalam hidup ini kita bisa 100%
melaksanakan 10 tapa yadnya. Tapi dengan bantuan jnana yadnya
[melaksanakan yoga], yang dimotivasi oleh welas asih dan disertai
tekad kuat dan disiplin untuk mengubah diri, kita dapat berusaha
sebisa mungkin untuk banyak-banyak melaksanakannya semampu
kita. Termasuk dalam kondisi paling sulit, yaitu ketika disakiti kita
berusaha semampu kita untuk tidak membalas menyakiti, tapi
malah sebaliknya dengan kerendah-hatian memancarkan welas
asih.
Tidak membalas menyakiti, tapi malah sebaliknya dengan kerendahhatian
memancarkan welas asih.
39
Orang yang benar-benar sadar akan dinamika hukum karma,
tidak saja akan menjaga dirinya sendiri dengan melaksanakan 10
tapa yadnya, tapi juga memiliki viveka, yaitu cara pandang yang
benar dan terang.
Ketika kita bertemu dengan orang yang melakukan perbuatan
jahat kepada kita, disana kita harus sadar bahwa suatu saat dia
tidak saja akan menerima karma buruk akibat perbuatannya sendiri
tersebut, tapi dia juga akan menjerat dirinya sendiri dalam
kesengsaraan akibat kegelapan bathinnya sendiri. Sehingga sudah
selayaknya kita tidak merasa marah atau benci, melainkan merasa
kasihan kepadanya.
Ketika kita bertemu dengan orang yang melakukan perbuatan
jahat kepada kita, disana kita harus sadar bahwa dibalik kejahatan
yang dia lakukan, dia sesungguhnya tidak saja sedang memberi kita
kesempatan membakar hutang-hutang karma buruk kita, tapi dia
juga sedang menjadi guru yang mengasah kesadaran kita.
Sehingga sudah selayaknya kita tidak merasa marah atau benci,
melainkan merasa berterimakasih kepadanya.
- Berterimakasihlah kepada mereka yang menyakiti kita,
karena mereka telah mengurangi karma buruk dan penghalang
karma kita.
- Berterimakasihlah kepada mereka yang mencela atau
memfitnah kita, karena mereka telah memperdalam kesabaran dan
kebijaksanaan kita.
- Berterimakasihlah kepada mereka yang menipu kita, karena
mereka telah memperdalam wawasan kita.
40
- Berterimakasihlah kepada mereka yang menjerumuskan kita
sehingga kita berbuat kesalahan, karena mereka telah memberi
pelajaran berharga kepada kita.
- Berterimakasihlah kepada mereka yang mengabaikan atau
menyisihkan kita, karena mereka telah mengajarkan kita untuk
mandiri.
- Berterimakasihlah kepada mereka yang menggoda nafsu
atau keserakahan kita, karena mereka adalah guru terbaik untuk
mengajarkan kita mengembangkan kesadaran.
Inilah yang disebut sebagai sarva dharma [semuanya
dharma]. Bahkan dilempar batu-pun bisa menjadi dharma, kalau
kita mampu memahami dan menyadarinya sebagai membayar
hutang karma, melatih kesabaran, memperdalam kebijaksanaan
dan kemudian menerimanya dengan senyuman damai.
Ketekunan, tekad dan upaya sungguh-sungguh untuk
melaksanakan 10 tapa yadnya ini sifatnya adalah untuk menjaga
diri kita sendiri. Dengan melaksanakan tapa yadnya tidak saja
membuat kita dapat menyelesaikan akumulasi karma buruk kita
sendiri, mencegah diri kita membuat karma buruk yang baru, tapi
juga sekaligus sangat membantu meredakan gangguan negatif
pada emosi, perasaan, pikiran, perilaku dan badan fisik kita, yang
pada akhirnya cepat atau lambat semuanya akan menghindarkan
diri kita dari berbagai bentuk-bentuk kesengsaraan. Dan dengan
ketekunan, tekad dan upaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan
10 tapa yadnya, kita sesungguhnya sedang menanamkan benihbenih
kesadaran atman [atma jnana] yang sangat terang dan mulia
di dalam diri kita sendiri.
41
Hanya perlu bermodalkan kesabaran dan ketekunan, kemudian akan
mendatangkan hasil yang terang dan mengagumkan.
3. DRWYA YADNYA
Sadhana ketiga adalah drwya yadnya. Drwya berarti welas
asih dan kebaikan. Drwya yadnya berarti yadnya [persembahan
suci] berupa welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk. Sikap
yang penuh welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk adalah
yadnya atau persembahan suci yang tertinggi.
Melaksanakan drwya yadnya artinya MENJADIKAN DIRI
SENDIRI PENYEBAB KEBAHAGIAAN MAHLUK LAIN. Dengan kata
lain mengembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri, dalam
bentuk segala upaya perbuatan, perkataan dan pikiran yang
menolong, membahagiakan atau memberi keuntungan bagi mahluk
lain.
Ini tidak lain berarti mengupayakan terjadinya pengikisan
halangan dan rintangan karma buruk kita sedikit demi sedikit
dengan cara terus-menerus berkarma baik, sehingga kelak
terbukalah kebahagiaan di semua bidang kehidupan, baik duniawi
42
maupun rohani, serta sekaligus membuka jalan lapang yang terang
bagi kesadaran atman.
Untuk dapat melaksanakan drwya yadnya secara mendalam,
terlebih dahulu kita harus merenungkan dan menyadari sedalamdalamnya
bahwa karena kecenderungan sifat mementingkan diri
sendiri [ahamkara, ke-aku-an, ego], kita cenderung kurang sadar
bagaimana sebenarnya hakikat keberadaan semua mahluk.
Kita tidak sadar bahwa semua mahluk juga tidak ada bedanya
sama seperti kita, semuanya ingin bahagia dan tidak ada yang mau
sengsara.
Renungan meditatif akan hakikat keberadaan semua mahluk.
Kita tidak sadar bahwa sesungguhnya tidak ada orang jahat
yang sejak awal berniat menjadi orang jahat, karena tidak ada
orang jahat yang berdiri sendiri. Dia dikelilingi oleh orang tua yang
kurang matang, sekolah yang belum tertata, pemerintah yang tidak
bisa memberi teladan, pemuka agama yang memanfaatkan tuhan
dan agama untuk ambisi pribadi, pemberitaan media yang penuh
kekerasan dan permusuhan, iklan yang menggoda berbagai macam
43
keinginan, lingkungan beracun penuh kebencian dan prasangka,
dsb-nya, yang semuanya membuat mereka jadi jahat. Lingkungan
hidup yang secara mental tidak sehat ini dapat menyebabkan
kemerosotan jiwa. Oleh karena itu, seorang yogi sejati tidak hanya
menggembleng diri pribadinya saja, tetapi juga berjuang untuk
mendidik lingkungannya dengan cara welas asih dan kesabaran
agar menjadi lingkungan masyarakat yang sehat jiwa-raga dan
harmonis.
Seringkali kita bersikap marah dan benci kepada orang yang
kita anggap membuat kesalahan. Padahal kalau mau jujur, fair dan
adil kita semua membuat kesalahan. Itu sebabnya kita semua
masih dilahirkan sebagai manusia dalam roda samsara dan belum
dapat memasuki alam-alam mahasuci. Kemarahan, kebencian atau
rasa permusuhan hanya akan membuat luka-luka jiwa bagi semua
pihak. Lebih bermakna bila kita bisa bersikap pengertian, apalagi
bisa bersikap penuh welas asih dan kebaikan. Tanpa welas asih dan
kebaikan, semua pihak tidak saja jiwanya akan kekeringan tapi juga
akan saling melukai satu sama lain.
Setelah memahami semua hal tersebut, pertama-tama sekali
kita harus renungkan dan sadari sedalam-dalamnya bahwa segala
sesuatu kondisi keadaan yang buruk, rintangan, ketidakberuntungan,
pertemuan dengan orang lain dan mahluk lain,
ataupun termasuk hal-hal yang tidak kita pahami sebabnya, yang
membuat kita mengalami gangguan negatif pada emosi, perasaan,
pikiran, perkataan dan tindakan kita. Itu semuanya muncul sematamata
sebagai akibat dari ahamkara [ego, ke-aku-an], yaitu
keinginan membahagiakan diri sendiri.
Ini termasuk terjadi dalam lingkup dampak yang luas seperti
perselisihan keluarga, keributan antar tetangga, pertikaian di
tempat kerja, perdebatan antara pemimpin pemerintahan,
44
kemiskinan, masalah sosial, sampai dengan perang antar negara.
Semua hal yang buruk itu terjadi pada kehidupan kita dan pada
dunia ini berasal dari ahamkara [ego, ke-aku-an], yaitu keinginan
membahagiakan diri sendiri. Sehingga segala sesuatu hal buruk
yang terjadi pada kehidupan kita dan pada dunia ini harus
disalahkan kepada pikiran yang mementingkan diri sendiri.
Kedua kita harus renungkan dan sadari sedalam-dalamnya
bahwa segala sesuatu kondisi keadaan yang menyenangkan,
kemudahan, keberuntungan, pertemuan dengan orang lain dan
mahluk lain, ataupun termasuk hal-hal yang tidak kita pahami
sebabnya, yang membuat kita mengalami kebahagiaan positif pada
emosi, perasaan, pikiran, perilaku dan badan fisik kita, itu
semuanya muncul semata-mata sebagai akibat dari perbuatan
membahagiakan mahluk lain.
Lalu melalui seluruh perenungan tersebut kita tanamkan
kebenaran alam semesta ini di dalam kesadaran kita,
bahwa sesungguhnya semua bentuk kesengsaraan berasal
dari keinginan membahagiakan diri sendiri dan sebaliknya
semua bentuk kebahagiaan berasal dari perbuatan
membahagiakan mahluk lain.
Dan tidak ada pencerahan jiwa atau kesadaran sempurna
yang dicapai jika hanya bertujuan untuk kepentingan diri sendiri
belaka.
45
Tanamkan kesadaran akan kebenaran alam semesta ini, bahwa
sesungguhnya semua bentuk kesengsaraan berasal dari keinginan
membahagiakan diri sendiri dan sebaliknya semua bentuk kebahagiaan berasal
dari perbuatan membahagiakan mahluk lain.
Apa yang dimaksud dengan welas asih dan kebaikan ? Welas
asih dan kebaikan adalah sikap tidak mementingkan diri sendiri,
dalam bentuk segala upaya perbuatan, perkataan dan pikiran yang
menolong, membahagiakan atau memberi keuntungan bagi mahluk
lain. Tentu dalam hal ini, diri sendiri harus mahir dalam
pengendalian diri untuk meredam keserakahan dan penolakannya.
Maka disini dapat disebut sebagai latihan untuk mengorbankan diri
sendiri bagi mahluk lain. Dengan menolong mahluk lain berarti kita
sudah menolong diri sendiri dalam artian yang hakiki.
Biasakan untuk mendidik diri mengembangkan welas asih dan
kebaikan dalam kesadaran kita. Lakukan kebaikan, kebaikan dan
kebaikan. Karena kebaikan yang selalu dilaksanakan, itu tidak saja
berguna bagi mahluk lain, tapi juga demikian berguna bagi diri kita
sendiri. Karena kebaikan yang selalu dilaksanakan itu akan
meringankan beban akumulasi karma buruk kita, akan menumpuk
akumulasi karma baik kita, akan meredakan banyak gangguan
negatif pada emosi, perasaan dan pikiran kita, akan membuka
pintu-pintu persahabatan dengan semua mahluk, akan membuka
46
kebahagiaan di berbagai bidang kehidupan, serta sekaligus akan
membuka jalan lapang yang terang bagi kesadaran atman.
Kalau seandainya kita sudah melakukan banyak kebaikan tapi
hidup kita masih saja mengalami kesengsaraan, sering menemui
hambatan, rintangan yang rumit dan kegagalan, kita harus
renungkan dan katakan kepada diri sendiri, saya sudah melakukan
banyak kebaikan saja hidup saya masih banyak menemui
kesengsaraan, apalagi kalau tidak ? Seringkali, sekalipun sudah
melaksanakan banyak karma kebajikan tetapi buahnya tidak segera
nampak. Oleh karena itu diperlukan kesabaran dan ketekunan yang
pantang menyerah, karena hal-hal semacam itu bisa saja
dikarenakan kita sedang digembleng untuk dimurnikan jiwanya.
Dan kalau sebaliknya seandainya kita jarang melakukan
kebaikan tapi hidup kita lancar, baik-baik saja dan tidak kekurangan
suatu apapun, kita harus renungkan dan katakan kepada diri
sendiri, tanpa melakukan banyak kebaikan saja hidup saya
menemui banyak kebahagiaan, apalagi kalau saya banyak
melakukan kebaikan ? Pastilah kebahagiaan pada tataran yang lebih
tinggi lagi akan hadir dalam kehidupan saya. Itulah bahan renungan
dalam hidup kita, bahwa melakukan kebaikan itu adalah sesuatu
yang mutlak untuk kita lakukan dalam perjalanan kehidupan.
Untuk dapat melaksanakannya kita harus melatih dan
mengembangkan diri dengan sering-sering menolong, memberi dan
berbagi kepada mahluk lain. Sering-sering membuat orang lain
merasa lebih bahagia atau senang. Dengan kata lain banyak-banyak
melakukan kebaikan. Karena karma baik sangatlah membantu
meringankan beban karma buruk kita. Dan untuk dapat membuat
welas asih dan kebaikan mekar bersemi di dalam bathin kita sendiri,
kita harus banyak sekali melepaskan. Yaitu melepaskan segala
bentuk keterikatan diri kita pada pikiran, perasaan, harga diri,
47
ucapan, tubuh dan identitas diri yang sama sekali tidak kekal. Yang
berpuncak kepada melepaskan ahamkara [ke-aku-an, ego], karena
welas asih dan kebaikan kita baru bisa sempurna ketika ahamkara
telah lenyap.
Ini kita laksanakan dengan drwya yadnya, atau 7 bentuk
welas asih dan kebaikan yang saling berkait-kaitan sebagai
persembahan suci, yaitu :
1. Ksanti Yadnya : kebaikan berupa persembahan
kesabaran.
Ini adalah bentuk kebaikan dimana kesabaran kita dengan
welas asih kita gunakan untuk kebahagiaan mahluk lain. Misalnya
memberi giliran antrean kita kepada orang lain, meminggirkan
mobil saat ada ambulance lewat, memberi ruang bagi orang yang
menyeberang jalan, mengalah saat ada kemacetan jalan, mau
menunggu orang yang datang janjian terlambat tanpa mengeluh,
menemani anak-anak bermain, dsb-nya, banyak lagi lainnya.
Sebenarnya banyak hal-hal yang tampaknya sepele atau
remeh-temeh yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dapat
digunakan untuk melatih diri. Hal ini hanya dapat disadari bila kita
secara sungguh-sungguh melatih kesadaran. Sebaliknya, dengan
semakin mahir dalam kesadaran, maka hal-hal yang tadinya
terabaikan akan terlihat secara apa adanya secara alamiah.
48
Mengalah saat ada kemacetan jalan, merupakan salah satu contoh
kebaikan berupa persembahan kesabaran.
2. Artha Yadnya : kebaikan berupa persembahan uang,
benda atau hadiah.
Ini adalah bentuk kebaikan dimana benda dan uang kita
dengan welas asih kita gunakan untuk kebahagiaan mahluk lain.
Misalnya mentraktir makanan, membelikan pakaian, memberi
hadiah tiket jalan-jalan, menyumbang uang, dsb-nya, banyak lagi
lainnya.
Memberikan makanan secara gratis, merupakan salah satu contoh
kebaikan berupa persembahan uang, benda atau hadiah.
49
3. Vidya Yadnya : kebaikan berupa persembahan
pemikiran dan pengetahuan.
Ini adalah bentuk kebaikan dimana pemikiran dan
pengetahuan kita dengan welas asih kita gunakan untuk
kebahagiaan mahluk lain. Misalnya mau mendengar masalah
seseorang lalu memberi saran yang bermanfaat, dengan tulus
bersedia menjadi konsultan lalu memberi masukan yang berguna,
memberikan kursus atau pelatihan, menceritakan hal-hal yang baik
dan membahagiakan, dsb-nya, banyak lagi lainnya.
Mendengarkan masalah seseorang lalu memberi masukan yang
berguna, merupakan salah satu contoh kebaikan berupa persembahan
pemikiran dan pengetahuan.
4. Mahati Yadnya : kebaikan berupa persembahan
tubuh.
Ini adalah bentuk kebaikan dimana tubuh kita sendiri dengan
welas asih kita gunakan untuk kebahagiaan mahluk lain. Misalnya
menampilkan wajah ceria dan tersenyum ramah kepada orang lain,
50
memeluk orang yang sedang dalam kesedihan, menjadi donor
darah, membiarkan nyamuk-nyamuk lapar menghisap darah kita,
dsb-nya, banyak lagi lainnya.
Menjadi donor darah merupakan salah satu contoh kebaikan berupa
persembahan tubuh kita sendiri.
5. Svadya Yadnya : kebaikan berupa persembahan
kerja dan pelayanan.
Ini adalah bentuk kebaikan dimana kerja keras dan pelayanan
kita dengan welas asih kita gunakan untuk kebahagiaan mahluk
lain. Misalnya mematikan keran bak air kamar mandi umum yang
penuh, membuang sampah yang berantakan, belajar yang rajin di
sekolah [sehingga orang tua senang, tidak rugi mengeluarkan biaya
dan kelak kita bisa berguna bagi orang lain], ngayah di pura, ikut
kerja bhakti, membantu mengepel, mencuci piring, merawat orangorang
yang sudah tua, dsb-nya, banyak lagi lainnya.
Dan bentuk kebaikan berupa kerja keras dan pelayanan kita
yang paling penting adalah melaksanakan svadharma [tugas
kehidupan] kita sendiri dengan tulus, jujur, tidak serakah dan
51
sebaik-baiknya, seperti menjadi orang tua di rumah, menjadi
pegawai di kantor, sebagai nelayan, guru, pelajar, mahasiswa,
tukang sapu, pinandita, jro mangku, petani, gubernur, dsb-nya.
Sebab saat kita bekerja, kita tidak saja mendapatkan uang
yang sangat kita perlukan di jaman modern ini untuk membiayai
kehidupan, kita tidak saja memperoleh kesempatan untuk
melakukan pelayanan, tapi kita juga sekaligus berada di medan bagi
pelaksanaan dharma yang sesungguhnya. Penolakan akan tugastugas
kehidupan kita justru akan menjauhkan kita dari jalan dharma
yang sebenarnya.
Melaksanakan svadharma [tugas-tugas kehidupan] kita dengan sebaikbaiknya
dengan tanpa keluhan, merupakan salah satu contoh kebaikan berupa
persembahan kerja dan pelayanan.
6. Abhaya Yadnya : kebaikan yang menyelamatkan
kehidupan.
Ini adalah bentuk kebaikan mulia yang dapat menyelamatkan
kehidupan mahluk lain. Misalnya menyekolahkan anak-anak miskin
dan yatim-piatu [memberi mereka peluang hidup layak di masa
52
depan], mencarikan pekerjaan, membantu kesembuhan orangorang
yang sakit, membeli hewan yang akan dimasak di restoran
lalu membebaskan mereka di alam, memberikan karyawan gaji
yang layak dan mencukupi, dsb-nya, banyak lagi lainnya.
Melepaskan hewan yang akan dibunuh, merupakan salah satu contoh
kebaikan yang menyelamatkan kehidupan.
Ini termasuk juga bentuk upakara atau ritual yang dapat
menyelamatkan kehidupan mahluk lain, yaitu mengangkat serta
menyempurnakan kedudukan atma yang masih gentayangan,
belum memperoleh tempat yang baik, ataupun terjerumus ke alamalam
bawah. Di Bali ada banyak jenis upakara seperti ini, misalnya
upakara nilapati dan penyupatan atma.
7. Dharma Yadnya : kebaikan yang membuka atau
mempercepat jalan pembebasan.
Ini adalah bentuk kebaikan paling mulia dan tertinggi yang
dapat membebaskan mahluk lain dari siklus samsara. Misalnya
membagikan dan menyebarkan buku-buku ajaran dharma secara
53
gratis, memberikan dharma wacana yang mencerahkan, mengajar
meditasi kesadaran, dsb-nya, banyak lagi lainnya.
Mengajarkan meditasi kesadaran merupakan salah satu contoh kebaikan
yang membuka atau mempercepat jalan pembebasan.
Jauh lebih penting untuk melakukan kebaikan dibandingkan
untuk menjadi benar. Lihatlah betapa banyaknya konflik dan orangorang
bertikai semata karena semuanya merasa dirinya benar.
Karena apa yang disebut benar itu sesungguhnya sifatnya dualistik
dan sangat relatif. Sedangkan welas asih dan kebaikan pasti akan
memutar karma baik yang membimbing kita menuju jalan terang.
Walaupun tindakan kita “salah” [tanda kutip, karena sifatnya
dualistik dan sangat relatif], tapi kalau tindakan kita didasari oleh
aspirasi welas asih dan kebaikan, kita pasti akan terbebas dari
kesalahan malah sebaliknya dibawa menuju kemuliaan dan
penerangan. Inilah kemudian yang akan menghasilkan prajna atau
kebijaksanaan.
Ketekunan, tekad dan upaya sungguh-sungguh untuk
melaksanakan 7 drwya yadnya ini adalah titik berangkat bagi
terbukanya jalan terang dan bahagia di semua bidang kehidupan,
54
baik duniawi maupun rohani. Orang yang bathinnya penuh welas
asih dan kebaikan, di mana-mana merasakan dan melihat orangorang
yang memerlukan pertolongan dan kebaikan. Orang miskin
sengsara karena tidak punya uang, orang kaya sengsara karena
takut kehilangan, orang sakit sengsara karena menahan rasa sakit,
orang jahat sengsara karena kegelapan bathinnya, orang hedonis
sengsara karena tidak mampu mengendalikan dirinya, dsb-nya.
Dalam bathin yang seperti ini, muncul sebentuk pengertian,
toleransi, memaafkan dan kebaikan. Hasilnya kemudian tidak saja
bathinnya damai, tapi dia juga diterima dengan persahabatan dan
memperoleh keberuntungan di mana-mana.
Dalam bathin yang penuh welas asih, muncul sebentuk pengertian,
toleransi, memaafkan dan kebaikan. Hasilnya tidak saja bathinnya sendiri
damai, tapi dia juga akan diterima dengan persahabatan dan memperoleh
keberuntungan di mana-mana.
Dengan menjadikan diri sendiri sebagai penyebab
kebahagiaan mahluk lain, maka banyak sekali manfaatnya. Kita
tidak saja akan meringankan beban karma buruk kita sendiri, kita
tidak saja akan mengikis sedikit demi sedikit gangguan negatif pada
emosi, perasaan, pikiran, perilaku dan badan fisik kita, kita tidak
55
saja akan terus menerus menumpuk karma baik, kita tidak saja
akan membuat hidup kita jauh lebih damai dan bahagia, tapi
sekaligus juga inilah jalan lapang yang akan menghantar kita ke
depan pintu gerbang depan pencapaian kesadaran yang kekal dan
mahasuci.
BAB 4
MEMBANGUN HARMONI KOSMIK ALAM
SEMESTA
elaksanakan tiga sadhana tri yadnya yang saling berkaitkaitan,
yaitu melaksanakan jnana yadnya, melaksanakan
tapa yadnya dan melaksanakan drwya yadnya, merupakan faktor
penentu utama yang paling menentukan di dalam upaya kita
mengubah kehidupan menuju kebahagiaan duniawi dan rohani.
Sedangkan faktor penunjang atau pendukung untuk mengubah
kehidupan kita menuju kebahagiaan duniawi dan rohani adalah
membangun harmoni kosmik alam semesta.
Membangun harmoni kosmik alam semesta atau jagadhita
memiliki kaitan erat dengan mengubah hidup menuju kebahagiaan
duniawi dan rohani. Sesuai dengan tujuan tertinggi dalam ajaran
Hindu yang diharapkan tercapai bagi semua mahluk
yaitu “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang berarti -
dengan dharma kita meraih pembebasan dari roda samsara
[moksartham], serta mewujudkan keharmonisan alam semesta
[jagadhita]-. Artinya bahwa dalam ajaran Hindu kita tidak melulu
hanya memfokuskan diri pada meraih pembebasan diri sendiri, tapi
juga ada satu tugas pokok lainnya, yaitu berkarma baik menjaga
keseimbangan dan keharmonisan kosmos atau alam semesta,
karena di dalam kedua upaya inilah ada kekuatan spiritual semesta
yang sempurna, yang berguna bagi kebahagiaan semua mahluk.
Hindu tidak dapat dipisahkan dengan unsur sekala dan niskala
sebagai pedoman kehidupan. Sekala adalah alam material atau
alam fisik ini yang dapat dirasakan langsung keberadaannya dengan
M
57
indriya-indriya biasa, sedangkan niskala adalah alam halus yang
tidak dapat dirasakan dengan indriya-indriya biasa. Di dalam
menata berbagai aspek kehidupan, harus ada keseimbangan antara
sekala dan niskala. Sehingga Hindu sangat banyak mengajarkan
tentang membangun kehidupan yang seimbang itu, mendorong
manusia agar membangun kehidupannya secara sekala dan niskala.
Selain melaksanakan tiga sadhana tri yadnya yang saling
berkait-kaitan, Hindu tidak dapat lepas dari Panca Yadnya. Totalitas
ke-delapan yadnya ini disebut sebagai Asta Yadnya, yang lengkap
dan menyeluruh.
Melaksanakan tiga sadhana tri yadnya yang saling berkaitkaitan
merupakan faktor penentu utama yang paling menentukan di
dalam upaya kita mengubah kehidupan menuju kebahagiaan
duniawi dan rohani. Sedangkan faktor penunjang atau pendukung
utama untuk mengubah kehidupan kita menuju kebahagiaan
duniawi dan rohani adalah Panca Yadnya, guna membangun
harmoni kosmik alam semesta.
Panca yadnya adalah lima macam yadnya [persembahan suci]
yang berhubungan dengan upakara, yaitu melaksanakan manusa
yadnya, melaksanakan pitra yadnya, melaksanakan rsi yadnya
melaksanakan butha yadnya dan melaksanakan dewa yadnya.
Adanya persembahan suci dalam sebuah upacara atau puja,
tujuannya agar dapat melancarkan tercapainya apa yang
diharapkan. Karena adanya tiga faktor rahasia dari persembahan,
yaitu :
Mengikuti dinamika hukum alam semesta, yaitu apa yang kita
berikan atau persembahkan, pasti akan kembali lagi kepada diri kita
sendiri. Dalam hal ini, kalau persembahannya itu bersih, tulus dan
58
murni, akan kembali kepada kita dalam bentuk tercapainya apa
yang diharapkan.
Mengikuti norma-norma alam-alam mahasuci, yaitu kalau ada
orang yang menghaturkan persembahan dan persembahannya itu
bersih, tulus dan murni, akan sudah selayaknya orang tersebut
diberikan imbal-balik berupa karunia tertentu.
Persembahan merupakan perwujudan mistik dari rasa welas
asih dan rasa terimakasih kita, ke semua mahluk dan semua arah
alam semesta. Apa-apa yang kita dapatkan dalam hidup ini, kita
kembalikan ke semua mahluk dan semua arah alam semesta dalam
bentuk persembahan. Yang pada akhirnya semuanya akan kembali
kepada diri kita sendiri [sisanya tidak boleh diceritakan karena
rahasia].
Dengan sebuah catatan penting bahwa sempurnanya suatu
persembahan suci sama sekali tidak diukur dari besar-kecilnya
volume banten [utama, madya, nista] atau mewah-tidaknya sebuah
upacara, melainkan ada tiga faktor yang harus tepat-seimbang di
dalam melaksanakan upakara atau yadnya. Karena apabila ketiga
faktor ini tidak tepat-seimbang, maka akan terjadilah gangguan
ketidak-seimbangan yang akan membuat upacara tidak mencapai
tujuan luhurnya dengan sempurna.
Ketiga faktor itu adalah disebut sebagai kemanunggalan
kesucian tri manggalaning yadnya, yaitu : sang yajamana [yang
melaksanakan upacara], sang widia [yang membuat banten] dan
sang sadhaka [yang muput]. Artinya sumber-sumber dan bahan
upakara harus suci [bukan hasil mencuri, hasil korupsi, hasil
pemerasan, hasil pemaksaan, hasil menipu, hasil judi, dsb-nya],
proses pembuatan dan pelaksanaan upakara harus suci [tidak ada
pertengkaran, tidak ada gossip-gossip, tidak ada keluhan, dsb-nya],
serta yang muput upakara bathinnya harus bersih dan memiliki
tingkat ke-siddhi-an yang memenuhi syarat.
59
Kemanunggalan kesucian tri manggalaning yadnya inilah yang
akan membuat sebuah persembahan suci dalam panca yadnya
menjadi sempurna.
Kalau kita semua dapat menjaga keseimbangan-keharmonisan
alam semesta baik secara sekala maupun secara niskala, secara
spiritual hal ini luar biasa terangnya. Bukan saja alam semesta yang
dinyalakan terang vibrasi kosmik-nya, tapi juga bathin manusianya
sendiri menjadi terang. Disanalah terwujud jagadhita atau harmoni
kosmik alam semesta. Acuan tercapainya jagadhita adalah
masyarakat yang perasaan dan perilakunya cenderung menjadi
sejuk dan damai. Dimana beberapa cirinya secara umum di
masyarakat adalah angka kriminalitas rendah, pembunuhan rendah,
perceraian rendah, pelecehan seksual rendah, bunuh diri rendah
dan tingkat kekerabatan tinggi.
Dengan berkarma baik menjaga keharmonisan semua mahluk
dan alam semesta, baik secara sekala maupun secara niskala,
manusia dan para mahluk akan banyak sekali diselamatkan
dari kekacauan dan kesengsaraan. Sebaliknya kalau kita tidak dapat
menjaga keseimbangan-keharmonisan alam semesta baik secara
sekala maupun secara niskala, konsekuensinya akan sangat besar
dan akan melebar kemana-mana. Karena jika keseimbangan kosmik
terganggu, sudah pasti yang akan datang adalah kekacauan dan
kesengsaraan.
Membangun harmoni kosmik alam semesta tidak merupakan
tugas dan kewajiban kita sendiri saja, atau tugas dan kewajiban
beberapa orang saja, melainkan tugas dan kewajiban seluruh
manusia. Semua manusia punya tugas mulia untuk berkarma baik
membangun harmoni kosmik alam semesta, yang berguna bagi
semua mahluk.
60
Caranya adalah dengan berkarma baik menjalankan jagadhita
dharma yang berguna bagi semua mahluk, sehingga jagadhita atau
harmoni kosmik alam semesta dapat tercipta di sekeliling kita.
Jagadhita dharma ini disebut dengan sad kerti. Sad artinya enam
dan kerti artinya upaya untuk menegakkan kesucian atau
menegakkan keseimbangan, dimana semuanya saling berkaitan
erat satu sama lain. Sad kerti berarti enam upaya pokok untuk
menegakkan keseimbangan kosmik alam semesta, yaitu :
1. JANA KERTI
Mewujudkan jagadhita selalu titik berangkatnya kita mulai dari
diri kita sendiri.
Yang dimaksud dengan Jana Kerti adalah menegakkan
keharmonisan dan kesucian diri kita sendiri, sehingga baik tindakan,
ucapan dan pikiran, maupun interaksi dengan orang lain
menghasilkan akumulasi energi positif di lingkungan dimanapun kita
berada, seperti di rumah tinggal, tempat kerja, tempat usaha,
pasar, pura, dsb-nya. Sehingga vibrasi kosmik yang positif dapat
terjaga dengan baik. Karena apa yang kita lakukan, ucapkan dan
pikirkan, serta bagaimana kualitas interaksi dengan orang lain,
sesungguhnya memiliki pengaruh yang kuat terhadap harmoni
kosmik lingkungan kita sendiri.
Kalau di sebuah tempat orang-orangnya kebanyakan memiliki
tindakan, ucapan dan pikiran yang negatif, serta kualitas interaksi
dengan orang lain juga negatif, maka hal itu akan menumpuk
akumulasi energi negatif di tempat tersebut, sehingga semakin
lama vibrasi kosmik di tempat tersebut akan menjadi negatif.
Vibrasi kosmik tempat tersebut yang negatif akan berbalik kembali
61
mempengaruhi orang-orang di tempat tersebut menjadi cenderung
negatif dan sengsara.
Sebaliknya kalau di sebuah tempat orang-orangnya
kebanyakan memiliki tindakan, ucapan dan pikiran yang positif,
serta kualitas interaksi dengan orang lain juga positif, maka hal itu
akan menumpuk akumulasi energi positif di tempat tersebut,
sehingga semakin lama vibrasi kosmik di tempat tersebut juga akan
menjadi positif. Vibrasi positif tempat tersebut akan berbalik
memantul kembali mempengaruhi orang-orang di tempat tersebut
menjadi cenderung positif dan bahagia.
Di tempat dimana orang-orangnya positif, maka hal itu akan menumpuk
akumulasi energi positif di tempat tersebut. Dan vibrasi positif tempat tersebut
akan membuat orang-orang di tempat tersebut juga menjadi positif.
Dalam ajaran Hindu, ada tiga macam hal yang kita lakukan
untuk melaksanakan dan mewujudkan jana kerti, yaitu :
1. Tri Yadnya.
Jana kerti pertama-tama kita laksanakan dengan
mempraktekkan tiga sadhana tri yadnya yang saling berkait-kaitan,
62
yaitu melaksanakan jnana yadnya, melaksanakan tapa yadnya dan
melaksanakan drwya yadnya.
Dengan keseharian yang dibimbing oleh tri yadnya kondisi
bathin kita akan menjadi sejuk, teduh, terang dan galang apadang.
Jauh lebih sedikit mahluk yang disakiti dan jauh lebih banyak
mahluk yang bisa disayangi. Hal ini tidak saja menyegarkan bathin
orang lain dan mahluk lain, tapi sekaligus juga menyalakan teja
atau sinar suci di dalam bathin kita. Sehingga apapun yang kita
lakukan langkah kita akan ringan, serta sekaligus lebih mudah
memancarkan vibrasi damai, kesejukan dan menciptakan harmoni.
2. Manusa Yadnya.
Ini adalah yadnya atau ritual yang diselenggarakan guna
pemeliharaan serta penyucian secara spiritual terhadap manusia
sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir
kehidupan. Yang membantu mencapai tujuan utama kelahiran kita
sebagai manusia, yaitu meraih kesempurnaan bathin.
Beberapa pelaksanaan manusa yadnya misalnya upakara
jatasamskara atau nyambutin guna menyambut bayi yang baru
lahir, upakara nelu bulanin untuk bayi yang baru berumur 105 hari,
upakara otonan pertama setelah anak berumur 6 bulan, upakara
mepandes atau metatah, upakara wiwaha [pernikahan], mandi
melukat di sumber-sumber mata air suci [beji atau pathirtan] pada
hari-hari rahina, dsb-nya. Yang semua tujuan utama-nya adalah
menguatkan vibrasi energi positif pada diri kita sebagai manusia.
3. Rsi Yadnya.
Ini adalah yadnya atau ritual yang dilakukan sebagai wujud
rasa hormat dan rasa terimakasih kepada para maharsi, para yogi
63
dan para satguru dari semua jaman, yang telah memberikan
tuntunan dan ajaran pencerahan kepada manusia untuk mencapai
kedamaian bathin, kesempurnaan jiwa dan pembebasan dari roda
samsara.
Hal ini juga penting dilakukan, karena hanya dengan rasa
hormat dan sujud kepada beliau, ajaran-ajaran suci beliau dapat
bertahan lama di alam marcapada ini, serta membuat ajaran-ajaran
suci beliau masuk dengan jauh lebih baik ke lubuk bathin kita.
Ajaran yang sudah membumi dan membadan inilah yang dapat
membantu kita manusia merealisasikan kesempurnaan kesadaran.
2. ATMA KERTI
Atma Kerti berarti upaya untuk menegakkan kesucian jiwajiwa
yang telah meninggalkan alam marcapada ini. Dimana dalam
ajaran Hindu ada tiga macam hal yang kita lakukan untuk
melaksanakan dan mewujudkan atma kerti, yaitu :
1. Pitra Yadnya.
Ini adalah yadnya atau ritual yang diselenggarakan guna
mengangkat serta menyempurnakan kedudukan atma para leluhur
[pitra], agar mereka mendapatkan tempat yang baik di alam
kematian. Yadnya ini sebagai wujud bhakti, yang dalam tradisi kita
adalah untuk memberikan sesuatu yang baik dan layak kepada para
leluhur, dengan upakara jenasah [sawa vedana] sejak tahap
permulaan sampai tahap terakhir yang disebut atma vedana.
Termasuk penyucian dan pralina [kremasi / ngaben] yang kalau
dilakukan dengan tepat [yang memang benar berhasil] sangatlah
membantu perjalanan atma di alam-alam kematian.
64
Pitra yadnya.
Ini dilakukan dengan rasa sadar bahwa kita memiliki dua
hutang-karma utama kepada orang tua kita dan para leluhur, yaitu
hutang budi berupa warisan badan [sarirakrit] dan hutang budi
berupa kebaikan-kebaikan mereka kepada kita [anadatha], dimana
sejak bayi kita dirawat, dijaga dan dibiayai oleh mereka. Tanpa
kebaikan mereka pasti kita tidak akan berdaya dalam kelahiran kita
ke dunia ini.
Hutang karma kita kepada orang tua kita tidak akan pernah
bisa kita bayar sampai kapanpun, tapi kalau kita dapat membawa
atma mereka ke alam-alam luhur yang mahasuci dan membebaskan
mereka dari siklus samsara, maka seketika itu juga seluruh hutang
karma kita kepada orang tua kita akan terselesaikan.
Kalau orang tua atau leluhur kita tidak mendapatkan tempat
yang baik di alam kematian, apalagi bertempat di alam-alam
bawah, bisa jadi mereka akan “mengganggu” hidup kita. Dalam
istilah Bali disebut kepongor, yaitu orang tua atau leluhur berupaya
menarik perhatian kita, terkadang dengan cara menyakiti, karena
mereka mengharapkan pertolongan dari keturunannya. Tapi dengan
melaksanakan pitra yadnya yang bekerja sangat baik [yang
65
memang benar berhasil] guna mengangkat serta menyempurnakan
kedudukan atma orang tua atau leluhur, sudah pasti kita akan
terbebas dari masalah ini.
2. Bhuta Yadnya.
Ini adalah yadnya atau ritual yang kita selenggarakan bagi
sarva bhuta, yaitu mahluk-mahluk niskala alam bawah, hewanhewan,
tumbuh-tumbuhan, serta unsur-unsur alam raya beserta
dinamika kekuatannya. Untuk menyomiakan vibrasi alam yang
negatif serta kekuatan kegelapan atau kesadaran rendah sehingga
menjadi damai dan harmonis.
Di sekeliling kita juga terdapat banyak mahluk-mahluk halus
atau mahluk niskala berkeliaran. Mahluk-mahluk halus ini
memancarkan energi negatif yang dapat mempengaruhi kita
menjadi gelisah, pemalas, beremosi negatif atau jatuh sakit.
Tapi kita tidak boleh memandang mereka sebagai mahluk
jahat. Mereka dulunya juga manusia, tapi mereka berubah menjadi
mahluk-mahluk sengsara karena semasa hidupnya sebagai manusia
akumulasi karma buruknya bertumpuk, atau karena samskara-nya
[kecenderungan pikiran] negatif, atau karena mereka pernah
membuat kesalahan atau pelanggaran dharma yang berat, sehingga
mereka tidak dapat menemukan jalan menuju alam-alam mahasuci.
Jiwa mereka bergentayangan di alam-alam bawah [bhur loka] atau
alam diantara alam kehidupan dan alam kematian, yang penuh
dengan kesengsaraan.
Dalam ajaran Hindu disebutkan bahwa dengan mahlukmahluk
alam bawah manapun kita harus memiliki rasa hormat,
sopan santun dan sikap welas asih sebagaimana selayaknya kita
66
kepada semua mahluk. Tapi jangan meminta apapun kepada
mereka, jangan terikat kepada mereka, apalagi membiarkan diri kita
diperintah atau diperbudak oleh mereka. Karena kalau tidak hatihati,
manusia bisa kehilangan kemanusiaannya dan akan ditarik ke
alam bawah. Hal ini tentu sangat disayangkan bila kita sudah lahir
sebagai manusia, tapi kemudian harus kehilangan kemanusiaan
karena berhubungan dekat dengan mahluk-mahluk alam bawah.
Tapi jangan juga menjauhi, mengusir, apalagi memusuhi mereka,
karena mereka sesungguhnya mahluk-mahluk sengsara dan
memperlakukan mereka dengan tidak baik karmanya sangat buruk.
Misalnya mengurung mereka dalam botol, ini akan membuat
mereka dendam kesumat mendalam selama ratusan ribu tahun
kepada kita.
Kepada mereka kita yang harus memberi dan melakukan
kebaikan. Dengan sikap penuh rasa welas asih, kita harus memberi
mereka tempat dan ruang, memberi mereka segehan dan sekaligus
terus mendoakan mereka agar mereka bisa keluar dari alam-alam
bawah.
Dengan penuh welas asih memberikan segehan kepada mahluk-mahluk
alam bawah sambil terus mendoakan mereka agar terbebaskan.
67
Ini secara umum kita lakukan misalnya dengan yadnya atau
ritual berupa menghaturkan segehan, mecaru, dsb-nya. Yaitu
memberi mereka makanan yang disertai dengan mantra-mantra
suci agar mereka lepas dari kesengsaraan lalu menjadi tenangbahagia.
Ini disebut sebagai menyomiakan kekuatan-kekuatan
kegelapan atau kesadaran rendah menjadi damai dan harmonis.
Begitu mereka damai dan harmonis otomatis kehadiran mereka
akan menjadi positif dan tidak akan mengganggu kita lagi.
3. Upakara Nilapati / Penyupatan Atma.
Tingkatan yadnya atau ritual terkait atma kerti paling luhur
lagi adalah bila kita secara cepat dapat mengangkat serta
menyempurnakan kedudukan atma yang masih bergentayangan
atau terjebak di alam-alam bawah, agar mereka mendapat
kesempatan naik tingkat, lahir menjadi mahluk yang lebih tinggi
kesadarannya dalam siklus samsara. Atau lebih bagus lagi bila bisa
menyeberangkan mereka agar mereka dapat memasuki alam-alam
suci.
Di Bali ada banyak jenis upakara tingkat tinggi yang dapat
secara cepat mewujudkan hal ini, misalnya upakara nilapati dan
penyupatan atma. Upakara nilapati adalah upakara atau ritual
penyucian atma dari segala kekotoran, kegelapan dan energi
negatif, sehingga atma bisa segera memasuki alam-alam suci.
Sedangkan penyupatan atma adalah suatu upakara atau ritual yang
merupakan upaya untuk menyeberangkan atma agar dapat
memasuki alam-alam suci.
Upakara tingkat tinggi seperti ini tidak saja berguna bagi
mereka atma yang masih gentayangan atau masih berada di alamalam
bawah yang sengsara dan tidak saja berguna bagi yang
68
melaksanakan karena karma baiknya besar, tapi sekaligus juga
berguna bagi semua manusia. Karena begitu mereka keluar dari
alam-alam bawah untuk kemudian masuk ke alam-alam suci,
otomatis mereka tidak akan pernah mengganggu manusia lagi yang
masih berada di alam marcapada.
3. JAGAT KERTI
Jagat Kerti berarti upaya upaya luhur untuk
mengharmoniskan alam semesta, baik secara sekala maupun secara
niskala. Dimana dalam ajaran Hindu untuk melaksanakan dan
mewujudkan jagat kerti ini secara garis besar terbagi menjadi dua
macam upaya pokok yang kita lakukan, yaitu :
1. Membangun harmoni kosmik lingkungan kita
sendiri.
Untuk membangun harmoni kosmik lingkungan kita
sendiri, secara garis besar kita melakukannya dengan dua cara,
yaitu :
- Asta Kosala-Kosali.
Asta kosala-kosali [atau feng shui] adalah ilmu topografi kuno
mengenai pembuatan dan tata ruang kosmik yang baik di
lingkungan sekitar kita sendiri, seperti di rumah tinggal, tempat
kerja, tempat usaha, dsb-nya.
Artinya bahwa dalam pembangunan secara Bali selalu terbagi
menjadi secara sekala [pembangunan fisik, yang dapat dilihat] dan
niskala [yang tidak dapat dilihat, tetapi sesungguhnya memberi
pengaruh yang nanti dapat dirasakan]. Karena pembangunan yang
69
hanya berdasarkan bangunan fisik semata dan melupakan unsur
niskala dapat membuat hidup kita terganggu.
Asta kosala-kosali atau tata ruang kosmik berkaitan erat
dengan kerapian hidup manusia. Tata ruang kosmik yang baik
dapat membantu memperbaiki kualitas hidup kita dengan
menghasilkan dinamika, aliran dan akumulasi energi positif yang
kuat di lingkungan sekitar kita. Sebaliknya tata ruang kosmik yang
buruk akan membuat hidup kita terganggu karena menghasilkan
dinamika, aliran dan akumulasi energi negatif di lingkungan sekitar
kita.
Tata ruang kosmik rumah yang baik dapat membantu memperbaiki kualitas
hidup kita dengan menghasilkan dinamika, aliran dan akumulasi energi positif
di lingkungan sekitar kita.
Asta kosala-kosali terbagi menjadi dua bagian ilmu yaitu asta
kosala dan asta bumi. Asta kosala adalah ilmu yang mengatur
tentang bentuk-bentuk bangunan seperti misalnya ukuran panjang,
lebar, tinggi, tingkatan, hiasan dsb-nya. Asta bumi adalah ilmu yang
mengatur tentang tata letak bangunan seperti misalnya pembagian
ruang bangunan dan halaman, jarak antar bangunan, dsb-nya,
yang berpegang kepada tata letak ruang yang diatur dalam konsep
luan-teben [hulu-hilir], tri mandala [tiga kelas tingkatan kesucian
ruang dan bangunan], catur loka pala [tata letak empat bangunan
pokok] dan dewata nawa sanga [sembilan arah mata angin].
70
- Palemahan Hayu.
Palemahan berarti tanah yang ada di bumi ini beserta segala
apa yang ada diatasnya, yang telah menjadi hak milik, hak guna
pakai, ataupun yang sering kita gunakan untuk beraktifitas.
Sedangkan Palemahan Hayu berarti palemahan yang harmonis.
Menciptakan harmoni di lingkungan sekitar kita sendiri berarti
menjaga palemahan, yang hasilnya adalah palemahan yang
memiliki vibrasi kosmik yang bagus.
Secara sekala menjaga palemahan kita laksanakan dengan
menjaga kebersihan, kesegaran dan kesehatan di lingkungan kita
sendiri, seperti di sekitar rumah tinggal, tempat kerja, tempat
usaha, lingkungan sekitarnya, dsb-nya. Karena lingkungan yang
kotor, tidak segar dan tidak sehat tidak saja memberi dampak tidak
baik kepada diri kita sendiri, tapi juga memberi dampak tidak baik
kepada vibrasi kosmik lingkungan sekitar kita, karena cenderung
akan mengundang hal-hal yang negatif.
Menjaga kebersihan, kesegaran dan kesehatan palemahan secara
sekala, agar vibrasi energi positif palemahan terjaga.
71
Secara niskala menjaga palemahan kita laksanakan dengan
kegiatan mebanten pada setiap rahinan dan hari raya di lingkungan
sekitar kita sendiri, seperti di rumah tinggal, tempat kerja, tempat
usaha, dsb-nya. Dan diperkuat dengan melaksanakan berbagai
upakara pembersihan-penyucian lingkungan sekitar kita sendiri.
Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada lingkungan
sekitar kita.
Mebanten bertujuan agar kekuatan suci para dewa-dewi selalu hadir
menjaga kesucian dan vibrasi energi positif palemahan secara niskala.
2. Membangun harmoni kosmik alam semesta.
Dalam bahasa sansekerta, jagat berarti alam semesta dan
kerti artinya upaya untuk menjaga kesucian atau menjaga
keseimbangan. Dan di dalam ajaran Hindu, jagat kerti berarti upaya
luhur untuk mengharmoniskan alam semesta, baik secara sekala
maupun secara niskala.
"Prewatek dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa
letuhing bhuwana", demikian isi salah satu lontar kuno di Pulau Bali.
Menyucikan alam semesta untuk menghanyutkan penderitaan
masyarakat [laraning jagat], menghilangkan kegelapan bathin
72
[papa klesa], serta mengharmoniskan vibrasi energi negatif alam
semesta [letuhing bhuwana]. Dimana dalam ajaran Hindu secara
garis besar kita melakukannya dengan dua cara, yaitu :
- Dewa Yadnya
Ini adalah yadnya atau ritual yang kita selenggarakan berupa
pemujaan atau berupa persembahan suci kepada Hyang Acintya
beserta sinar-sinar suci-Nya, yaitu para Dewa-Dewi, Ida Btara-Btari,
dsb-nya. Dewa Yadnya diselenggarakan dengan melaksanakan
persembahyangan, puja, muspa, japa mantra ataupun
persembahan upakara yang dilaksanakan pada hari pawedalan
[piodalan], hari-hari suci, rahinan, ataupun hari-hari raya lainnya
seperti Hari Raya Galungan, Kuningan, Saraswati, Siwaratri, dsbnya.
Pada pemujaan seperti persembahyangan, japa mantra, dsbnya,
dalam dewa yadnya tujuannya adalah menghubungkan
kesadaran kita [beserta kesadaran semua mahluk] dengan vibrasi
suci dari Beliau para mahluk-mahluk suci. Menyelaraskan frekuensi
kita dengan Beliau untuk membantu meningkatkan kesadaran di
dalam diri.
Sedangkan pada persembahan suci dalam dewa yadnya
tujuannya adalah mengharmoniskan vibrasi lingkungan sekitar kita
melalui karunia dan vibrasi suci dari Beliau para mahluk-mahluk
suci, yang dapat mengubah dan mengatur ulang dinamika di alam
semesta ini menjadi baik. Sehingga manusia dan para mahluk dapat
terbantu untuk terhindarkan dari bencana dan malapetaka
kehidupan.
73
Dewa yadnya.
- Mandala Parahyangan
Di Bali kita tidak hanya banyak menyelenggarakan banyak
upakara untuk mengharmoniskan vibrasi kosmik alam semesta, tapi
leluhur kita di Bali juga mewariskan banyak sekali parahyangan
[pura] dimana-mana dengan tujuan untuk menjaga keharmonisan
kosmik tersebut.
Leluhur kita pada jaman dahulu tidak sembarangan membuat
tata aturan kekeran atau radius kesucian pura, yaitu batas wilayah
dimana bangunan lain selain masih terkait dengan pura tidak diijinkan
untuk dibangun apapun, untuk menjaga kesucian pura. Ini
tentu bukanlah sebuah tata aturan sembarangan, karena
parahyangan sebagai stana para dewa-dewi mahasuci adalah
mandala penjaga keharmonisan kosmik yang demikian luhur.
Sehingga karena fungsinya yang demikian penting tersebut,
kita semua wajib menjaga kesucian semua pura beserta lingkungan
sekitarnya, dengan cara misalnya dengan secara sungguh-sungguh
menjaga radius kesucian pura, tidak mengeksploitasi pura sebagai
74
obyek wisata komersial, dsb-nya. Sehingga vibrasi kosmik kesucian
pura tidak terganggu. Kalau kita tidak menjaga kesucian semua
pura beserta lingkungan sekitarnya, ini tidak saja akan memberi
dampak merusak keharmonisan kosmik. Tapi ini juga sama saja
dengan menghianati warisan kekayaan spiritual yang luhur, suci
dan terang dari leluhur kita sendiri, sekaligus menghancurkan masa
depan anak-cucu kita sendiri.
Pura sebagai mandala penjaga keharmonisan kosmik.
Para jaman dimana kesucian pura masih sangat terjaga,
orang-orang suci dengan mata bathin beliau akan dapat melihat
Pulau Bali sebagai padma bhuwana atau alam semesta yang
berwujud laksana bunga padma [simbolik kemahasucian]. Ini tidak
lain disebabkan karena parahyangan stana para dewa-dewi
mahasuci sebagai mandala penjaga keharmonisan kosmik yang
demikian luhur sangat terjaga dengan baik. Tugas mulia kita di
jaman ini sebagai yang mewarisi kekayaan spiritual yang luhur, suci
dan terang ini adalah menjaganya dengan sebaik-baiknya agar
tetap sama terjaga seperti di jaman dahulu.
75
4. WANA KERTI
Wana Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau
kelestarian tumbuh-tumbuhan [sarva tumuwuh], hutan dan
pegunungan.
Dalam tata ruang kosmik Hindu ada tiga jenis hutan, yaitu :
Maha Wana [hutan rimba yang masih asli dan belum banyak
tersentuh manusia], Tapa Wana [hutan suci tempat dimana para
yogi membuat pusat pertapaan atau pesraman] dan Sri Wana
[kawasan hutan yang dimanfaatkan sebagai sumber kemakmuran
ekonomi, seperti misalnya perkebunan]. Dan ketiga jenis hutan ini
wajib kita jaga dengan sebaik-baiknya agar tidak rusak, karena
kalau rusak akan sangat mengganggu kehidupan semua mahluk
hidup.
Kita manusia seharusnya sepenuhnya paham akan berbagai
fungsi penting bagian-bagian alam untuk dapat berlangsungnya
kehidupan di Planet Bumi ini. Kalau bagian-bagian alam tersebut tak
terjaga dengan baik, maka sudah pasti kehidupan manusia di Planet
Bumi ini akan mendapatkan banyak gangguan, masalah dan
bahaya. Sehingga kita sebagai manusia selayaknya mengambil apa
yang ada di alam sebatas kebutuhan, jangan untuk menuruti nafsu
keinginan dan keserakahan, serta pada saat yang sama menjaga
kesucian dan kelestariannya. Dengan mengeksploitasi, mengotori,
menyalahgunakan, menghambur-hamburkan apa yang ada di alam
beserta unsur-unsurnya adalah sebuah kejahatan terhadap Ibu
Pertiwi [Planet Bumi] dan semua mahluk yang ada di dalamnya.
Secara sekala Wana Kerti kita laksanakan dengan
menghormati, menjaga kelestarian dan kealamian tumbuhtumbuhan,
hutan-hutan dan gunung. Agar tidak rusak atau habis
oleh perilaku yang serakah dan tidak terpuji yang mengeksploitasi
76
tumbuh-tumbuhan, hutan-hutan dan gunung, sebagai penjaga
keseimbangan alam dan kehidupan.
Menjaga kelestarian dan kealamian tumbuh-tumbuhan, hutan-hutan dan
gunung.
Secara niskala Wana Kerti kita laksanakan dengan
melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan menjaga
kelestarian tumbuh-tumbuhan, hutan dan pegunungan secara
niskala, serta melestarikan pura-pura gunung dan alas angker
[hutan lindung]. Tujuannya adalah menjaga kesucian dan vibrasi
energi positif pada hutan-hutan dan gunung.
Upakara untuk menjaga kesucian dan vibrasi energi positif pada
tumbuh-tumbuhan, hutan-hutan dan gunung.
77
5. DANU KERTI
Danu Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau
kelestarian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai
sumber mata air dan sungai.
Rig Veda mengajarkan agar kita manusia menjaga kemurnian
atmosfir, kemurnian danau, sungai dan sumber-sumber mata air
serta kelestarian hutan dan tumbuh-tumbuhan dan hutan, seperti
tanah pertanian, hutan rimba, lereng gunung, hutan bakau dan
kawasan hutan lainnya. Dalam Atharva Veda XVIII.1.17 disebutkan
bahwa : air, tumbuh-tumbuhan dan udara [apah, isadah, vata]
adalah Tri Chanda, tiga unsur pendukung kehidupan manusia dan
semua jenis binatang di bumi ini, yang ketiganya saling terkait dan
saling menguatkan satu sama lain untuk mewujudkan harmoni.
Dalam tata ruang kosmik Hindu, danau adalah pusat
penampungan sumber mata air tawar. Dari resapan danau
permukaan dan danau bawah tanah, muncullah sumber-sumber
mata air, yang lalu mengalir menjadi sungai-sungai. Mata air adalah
sumber air suci dan menjadi tempat suci utama untuk peleburan
energi-energi negatif di dalam diri kita. Dan ketiga jenis sumber
mata air tawar ini wajib kita jaga dengan sebaik-baiknya, karena
kalau hal ini tidak dilakukan pasti dampaknya akan sangat
mengganggu kehidupan semua mahluk hidup.
78
Menjaga kelestarian dan kealamian danau.
Secara sekala Danu Kerti kita laksanakan dengan
menghormati, menjaga kelestarian dan kealamian sumber-sumber
air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai, serta
termasuk lingkungan sekelilingnya. Agar tidak rusak atau tercemar
oleh perilaku yang tidak terpuji pada sumber-sumber air tawar
sebagai salah satu unsur alam yang paling menentukan kehidupan
di bumi ini.
Pura Beji sebagai penjaga
kelestarian dan kealamian sumbersumber
mata air tawar, sekaligus
menjadi stana para dewa-dewi
mahasuci sebagai mandala
parahyangan penjaga kesucian air
dan penjaga keharmonisan kosmik
yang luhur.
Secara niskala Danu Kerti kita laksanakan dengan
melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan menjaga
79
kesucian-kelestarian sumber-sumber air tawar secara niskala, serta
melestarikan pura-pura beji, pathirtan dan ulun danu. Tujuannya
adalah menjaga vibrasi energi positif pada sumber-sumber air
tawar.
6. SAMUDERA KERTI
Samudera Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau
kelestarian pantai dan lautan.
Dalam tata ruang kosmik Hindu, samudera adalah
tempat asal muasal kehidupan, tempat peleburan energi-energi
negatif yang beredar di alam raya dan penjaga keseimbangan
harmoni alam semesta. Kalau keseimbangan dan harmoni samudera
terganggu, maka akan berdampak kepada terganggunya kehidupan
semua mahluk hidup.
Secara sekala Samudera Kerti kita laksanakan dengan
menjaga kebersihan-kelestarian pantai dan laut, serta berbagai
sumber-sumber alam yang ada didalamnya. Karena lautan
memegang peranan yang penting pada kehidupan di bumi ini.
Secara niskala Samudera Kerti kita laksanakan dengan
melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan pembersihanpenyucian
lautan secara niskala, serta melestarikan pura-pura
segara. Tujuannya adalah menjaga vibrasi energi positif pada
samudera.
80
Upakara untuk menjaga kesucian dan vibrasi energi positif pada pantai
dan lautan.
JAGADHITA [HARMONI KOSMIK ALAM SEMESTA]
Menjaga keseimbangan, kelestarian dan harmoni kosmik alam
semesta adalah hal yang penting dalam ajaran Hindu, karena
manusia dan alam adalah satu bagian yang tidak dapat dipisahpisahkan.
Planet Bumi, habitat sekaligus rumah kita satu-satunya ini
adalah “Ibu Pertiwi” dan “Bapa Akasha”. Karena alam semesta
sebagai yang selalu memberi dan memberi, layaknya seorang Ibu
dan bapak kepada anak-anaknya, serta sebagai guru rupaka yang
memperkaya manusia dengan kebijaksanaan. Alam semesta
memberi manusia tempat tinggal, sumber kehidupan serta
pengetahuan dan kita manusia punya kewajiban untuk menjaganya
dengan sebaik-baiknya. Tanpa dukungan dan kebaikan alam
semesta, kehidupan semua mahluk mutlak pasti akan terganggu.
81
Alam semesta adalah ayah dan ibu kita, yang memberi kita sumber
kehidupan, pengetahuan dan tempat untuk bernaung.
Dalam ajaran Hindu secara gamblang dipaparkan tentang
tugas-kewajiban kita sebagai manusia untuk terus berkarma baik
menjaga kesucian, kelestarian dan harmoni kosmik alam, baik
secara sekala maupun niskala. Merusak alam atau tidak menjaga
harmoni kosmik alam semesta baik secara sekala maupun niskala
adalah sama dengan membuat karma buruk, sebaliknya menjaga
alam semesta pasti akan membawa karma baik.
Alam semesta ini adalah satu-satunya rumah bersama bagi
kita semua mahluk hidup. Kalau rumah kita ini terganggu, maka
dampaknya juga akan mengganggu kehidupan semua mahluk
hidup. Sebaliknya kalau kita semua bisa bersatu-padu berkarma
baik menjaga keseimbangan-keharmonisan semua mahluk dan alam
semesta baik secara sekala maupun secara niskala, secara spiritual
hal ini luar biasa terangnya. Bukan saja alam semesta yang
dinyalakan terang vibrasi kosmik-nya, tapi juga memberi
penerangan, kebahagiaan hidup dan kemajuan spiritual yang
berguna bagi semua mahluk.
82
Dengan berkarma baik menjaga kesucian, kelestarian dan
harmoni kosmik alam semesta dengan cara melaksanakan sad kerti
secara menyeluruh, ini tidak saja berhubungan dengan keasrian
pemandangan dan keindahan vibrasi alam yang positif, melainkan
juga berkaitan dengan keindahan dan nilai positif hidup manusia.
Karena alam semesta sendiri yang akan melimpahkan vibrasi positif
yang memberi kesejukan dan kedamaian kepada manusia dan
semua mahluk, sehingga masyarakat-nya sendiri juga perasaan dan
perilakunya cenderung menjadi sejuk dan damai.
BAB 5
KEBAHAGIAAN RAHASIA
anpa keseriusan melaksanakan tiga sadhana tri yadnya
yang saling berkait-kaitan, yaitu melaksanakan jnana
yadnya, melaksanakan tapa yadnya dan melaksanakan drwya
yadnya, maka kemajuan ekonomi sekencang apapun, dikenal dan
dihormati orang setinggi apapun, atau memperoleh keinginan
sebanyak apapun, maka tetaplah akan melahirkan kebingungan dan
ketidak-bahagiaan. Ini yang disebut sebagai ke-tidak-jernihan
kesadaran sebagai akar kesengsaraan.
Apalagi kalau yang terjadi sebaliknya, ketika kejadian buruk,
kesialan, malapetaka dan bencana hadir dalam kehidupan.
Umumnya manusia mudah tenggelam ke dalam kesedihan dan
kesengsaraan. Karena kesengsaraan yang berlarut-larut terjadi
disebabkan ketika grafik kehidupan menurun, kejadian buruk,
kesialan, malapetaka dan bencana memang saatnya hadir dalam
kehidupan manusia [karena adanya dinamika karma], sebagian
besar manusia tetap ngotot kaku hidupnya harus terus bahagia.
Untuk kemudian tenggelam ke dalam kesedihan dan kesengsaraan.
Ini juga adalah ke-tidak-jernihan kesadaran sebagai akar
kesengsaraan.
Terlebih lagi apabila ketidak-seriusan melaksanakan tiga
sadhana tri yadnya yang saling berkait-kaitan ini juga diikuti dengan
ketidak-seriusan melaksanakan sad kerti atau enam upaya pokok
untuk menegakkan keseimbangan kosmik alam semesta. Dapat
dipastikan semua kehidupan, baik diri sendiri maupun sekitarnya
pasti akan panas dan kacau, karena tiadanya harmoni kosmik alam
semesta yang menunjang atau mendukung kehidupan semua
T
84
mahluk menuju kebahagiaan duniawi dan rohani. Karena
sesungguhnya di dalam kedua upaya inilah ada kekuatan spiritual
semesta yang sempurna, yang berguna bagi kebahagiaan semua
mahluk.
KEAJAIBAN TERTINGGI DAN TERINDAH
Peradaban bergerak menjadi semakin modern, tapi beberapa
bagian dari kehidupan ini justru menjadi semakin kompleks dan
rumit. Ini terkadang membuat kita sulit sekali mencari jalan keluar
dari permasalahan kehidupan, sehingga kita berharap datangnya
keajaiban, atau mukjizat dan kejutan keberuntungan. Tapi
kebanyakan dari kita menyangka keajaiban hanya datang dari langit
saja. Lupa bahwa keajaiban yang tertinggi dan terindah
sesungguhnya datang dari diri kita sendiri.
Setelah dilaksanakan dengan tekun, suatu saat kelak kita
akan menyadari bahwa melaksanakan tiga sadhana tri yadnya yang
saling berkait-kaitan, yaitu melaksanakan jnana yadnya,
melaksanakan tapa yadnya dan melaksanakan drwya yadnya, akan
memunculkan empat jenis keajaiban, atau mukjizat dan kejutan
keberuntungan, yaitu :
1. Kesembuhan.
Keajaiban tiga sadhana tri yadnya yang pertama muncul
dalam bentuk kesembuhan. Mereka yang melaksanakan tri yadnya,
kekebalan dan kesembuhan tubuhnya jauh lebih baik dibandingkan
dengan yang tidak melaksanakannya. Di tengah mahalnya harga
obat, tidak terjangkaunya biaya rumah sakit, tidak tersentuhnya
masyarakat miskin oleh bantuan pemerintah, dsb-nya, layak
merenungkan untuk menjaga dan melindungi kesehatan tubuh
dengan melaksanakan tri yadnya.
85
Tidak sebatas hanya tubuh, yang jauh lebih penting lagi
adalah tri yadnya juga akan menyembuhkan pikiran kita dari segala
gangguan penyakit emosional dan jiwa.
Tidak saja kekebalan dan kesembuhan tubuh fisik akan jauh lebih baik,
tapi sekaligus tersembuhkan dari segala gangguan penyakit emosional dan
jiwa.
2. Keselamatan.
Keajaiban tiga sadhana tri yadnya yang kedua, karena dia
sangat menyelamatkan, baik menyelamatkan diri kita sendiri
maupun orang lain. Perhatikan kehidupan ini. Seringkali kita baru
baru sadar betapa bahayanya judi setelah harta-benda habis. Kita
baru sadar betapa bahagianya hidup dengan jujur setelah kita
masuk penjara karena korupsi. Kita baru sadar celakanya selingkuh
setelah pasangan hidup menuntut cerai. Kita baru sadar indahnya
kesabaran dan kerelaan setelah kita terlibat dalam konflik
mengerikan dengan orang lain. Dsb-nya. Berbagai godaan
kehidupan ini seringkali menipu kita dan menjauhkan diri kita dari
kesadaran, serta sekaligus menjerumuskan kita ke dalam jurang
kesengsaraan.
86
Hampir semua tindakan adharma dalam hidup seperti korupsi,
selingkuh, pelecehan seksual dan semua tindakan menyakiti
lainnya, terjadi karena kesadaran kita diambil alih oleh hawa nafsu
kita yang tidak terkendali. Hampir semua kecelakaan dalam hidup
seperti pertengkaran, konflik, dendam, dsb-nya, terjadi karena
kesadaran kita diambil alih oleh emosi kita yang terganggu.
Tidak sebatas menyelamatkan kita dari banyak badai dan
kekacauan kehidupan, tapi karma baik yang terus-menerus kita
lakukan akan membawa banyak keberuntungan dalam kehidupan.
3. Kedamaian.
Keajaiban tiga sadhana tri yadnya yang ketiga adalah
dia sangat mendamaikan. Mereka yang melaksanakan tri yadnya
tidak saja di dalam dirinya sendiri dia damai, dia juga akan
memancarkan vibrasi damai kepada teman, serta sekaligus juga
memancarkan vibrasi damai kepada musuh. Ia tidak saja akan
dirasakan damai oleh sahabat dan keluarga, tapi juga terasa damai
di hati orang yang jahat atau memusuhi. Tidak saja manusia damai,
bahkan mahluk-mahluk alam bawah dan binatang liar seperti
harimau atau ular pun damai. Sehingga tidak ada hal lain yang
tersisa kecuali damai.
87
Memancarkan vibrasi damai tidak saja kedalam diri sendiri, tapi juga
kepada semua mahluk.
4. Kesempurnaan.
Keajaiban tiga sadhana tri yadnya yang ke-empat, karena dia
bisa menghantar manusia melangkah naik menuju tangga-tangga
kesempurnaan.
Banyak diantara kita yang lahir, tumbuh dewasa, menikah,
mencari nafkah, membesarkan anak dan akhirnya meninggal begitu
saja. Tanpa pernah tahu dan menyadari realitas diri yang sejati.
Karena titik tolak dari evolusi kesadaran selalu bermula dari
ketekunan melaksanakan tiga sadhana tri yadnya.
Ketika kesedihan dan kesengsaraan datang dalam hidup kita,
itulah saat bagi kita untuk melaksanakan dharma, yaitu
menumbuhkan kesabaran, kerelaan dan pengorbanan diri.
Ketika kebahagiaan datang dalam hidup kita, itulah juga saat
bagi kita untuk melaksanakan dharma, yaitu selalu dan selalu
88
berbagi kebahagiaan dengan mahluk lain. Lakukan kebaikan,
kebaikan dan kebaikan.
Dari sudut pandang mereka yang menyakiti atau yang hanya
melihatnya, kesabaran, kerelaan dan pengorbanan diri mungkin
terlihat pasif. Tapi bagi yang mengalaminya itu bukanlah hal yang
pasif. Karena kesabaran sempurna melibatkan perjuangan panjang
yang sulit dan melelahkan, serta pengorbanan hebat sekali. Pada
awalnya melatih kesabaran, kerelaan dan pengorbanan diri selalu
disertai dengan pertempuran hebat di dalam bathin sendiri.
Ketekunan mengasah kesabaran kemudian membuat pertempuran
di dalam bathin sendiri semakin lama semakin kecil dan semakin
kecil. Sampai akhirnya mencapai tingkat tanpa pertempuran di
dalam bathin. Bathin yang upeksha, jernih dan tenang-seimbang.
Demikian juga dengan menumbuhkan welas asih dan
kebaikan tanpa syarat di dalam bathin. Pada awalnya membiasakan
diri menjadi penuh welas asih dan kebaikan seolah-olah seperti
mengorbankan sesuatu demi orang lain. Terjadi pertempuran hebat
di dalam bathin. Kadang muncul rasa ketidakrelaan karena merasa
berkorban atau merasa kehilangan. Ketekunan terus-menerus
untuk menumbuhkan rasa welas asih dan kebaikan kemudian akan
membuat perasaan berkorban dan kehilangan-nya menghilang,
ketika akhirnya welas asih dan kebaikan menjadi sesuatu yang
alami dari dalam diri.
Kejahatan, kekejaman, keserakahan, prasangka buruk, dsbnya,
ada di semua zaman, tetapi tiga sadhana tri yadnya harus
terus kita laksanakan. Karena apa yang dapat kita petik dari tri
yadnya adalah jiwa yang semakin sempurna dari hari ke hari. Tidak
saja bathin kita sendiri yang akan menjadi damai dan bahagia,
seluruh alam semesta akan membuka rahasia keindahannya. Sungai
mengalir, deretan pegunungan, bunga bermekaran, langit biru,
89
samudera nan luas dan bahkan orang jahat-pun memperlihatkan
keindahannya. Karena orang jahat adalah guru alam semesta yang
datang untuk melatih kesabaran kita, membakar karma buruk kita
dan membuat kita menjadi rendah hati. Membantu dan
menyelamatkan mahluk lain, sesungguhnya ternyata adalah
membantu dan menyelamatkan diri kita sendiri.
Inilah kehidupan yang rahasianya sudah terbuka. Tidak lagi
diperlukan keluhan, kesombongan, keserakahan, kemarahan,
perkelahian, kesedihan, dsb-nya. Karena semuanya hanyalah tarian
semesta yang sedang melukis keindahan. Sejak awal yang tidak
berawal, sampai akhir yang tidak ada akhirnya, semuanya selalu
sempurna sebagaimana adanya. Tapi selama ini kita hanya tidak
menyadarinya saja, karena sad ripu [enam kegelapan bathin] dan
terutama sekali ahamkara [ego, ke-aku-an] mensabotase dan
memanipulasi kesadaran kita.
Sejak awal yang tidak berawal, sampai akhir yang tidak ada akhirnya,
semuanya selalu sempurna sebagaimana adanya.
Di tingkat kesempurnaan, semua kejadian dalam kehidupan,
termasuk kejadian buruk dan bencana, dipandang dan disambut
90
dengan kedamaian dan welas asih sempurna. Sehingga kehidupan
tidak punya wajah lain selain keindahan sempurna. Ini yang disebut
ananda atau kebahagiaan tak berkondisi, artinya bahagia dalam
kondisi apapun tanpa syarat.
Dan di tingkat kesempurnaan, semua kata-kata, bahasa dan
logika manusia tidak lagi dapat menjangkaunya. Itu sebabnya ini
sering disebut sebagai kebahagiaan rahasia.
SELALU TERSERAP KE DALAM SAMADHI
Segala sesuatu pengalaman dan kejadian yang terjadi dalam
hidup kita adalah fenomena hukum-hukum alam semesta [hukum
karma dan hukum rta]. Melalui ketekunan melaksanakan jnana
yadnya, melaksanakan tapa yadnya dan melaksanakan drwya
yadnya, kalau waktunya sudah tiba kelak kita akan dapat secara
mendalam menyadari bahwa segala kejadian sesungguhnya tidak
membawa kebahagiaan maupun kesengsaraan. Baik kebahagiaan
maupun kesengsaraan adalah merupakan fenomena permainan
pikiran kita sendiri. Begitu riak-riak pikiran kita setenang air kolam
yang jernih tanpa riak, maka berarti berhenti pula baik kebahagiaan
maupun kesengsaraan, digantikan oleh kesadaran sempurna.
Ada kebahagiaan yang lebih tinggi, lebih indah dan lebih
sempurna dibandingkan dengan kebahagiaan manapun.
Kebahagiaan tertinggi dan sempurna ini ada di dalam diri kita
sendiri, selalu ada tidak pernah hilang atau lenyap, hanya saja kita
tidak menyadarinya. Dan disaat ketika kita menyadarinya, itulah
yang disebut sebagai atma jnana atau kesadaran atman.
Atma jnana adalah kesadaran tentang realitas diri yang
sempurna dan mahasuci. Dalam bahasa logika yang paling
disederhanakan berarti menjadi sadar bahwa tidak ada perbedaan
91
antara mendapat pujian dan penghormatan, dengan sebaliknya
yaitu mendapat penghinaan dan penghakiman. Keduanya hanya
didengar dengan bathin yang jernih tenang-seimbang [upeksha]
dan penuh welas asih. Yang bagus tidak menjadi akar
kesombongan, yang jelek tidak menjadi akar kemarahan dan
permusuhan. Perasaan suka-tidak suka, sedih-bahagia, untung-rugi
[semua dualitas], sad ripu [enam kegelapan bathin] dan ahamkara
[ke-aku-an] berhenti mensabotase dan memanipulasi realitas diri
yang sejati. Selalu terserap ke dalam samadhi, selalu terserap ke
dalam atman yang sempurna dan mahasuci.
Atma jnana atau kesadaran atman, realitas diri yang sempurna dan
mahasuci.
Lalu pasti muncul pertanyaan, dapatkah kita selalu terserap
ke ke dalam samadhi, selalu terserap ke dalam atman yang
sempurna dan mahasuci ? Tentu saja kita bisa, asalkan kita tekun
melatih diri kepada tiga sadhana tri yadnya yang saling berkaitkaitan,
yaitu melaksanakan jnana yadnya, melaksanakan tapa
yadnya dan melaksanakan drwya yadnya. Serta melatih diri selalu
terserap ke dalam samadhi, selalu terserap ke dalam atman yang
sempurna dan mahasuci.
92
Sesungguhnya secara seketika kita dapat membebaskan diri
kita sendiri dari atmika tap, atau kesengsaraan yang berasal dari
dalam diri kita sendiri, yaitu kegelapan pikiran-perasaan kita sendiri
serta gangguan tubuh yang membuat kita menjadi sengsara dan
tidak menemukan ketenangan dalam hidup. Karena realitas diri kita
yang sejati bukanlah kemarahan, kekecewaan, kesedihan, keputusasaan,
ketidak-puasan, dsb-nya. Melainkan atman yang sempurna
dan mahasuci.
Bagaimana melaksanakan seluruh tugas-tugas kehidupan kita
dan jalan kehidupan kita dengan selalu terserap dalam atman,
selalu terserap dalam samadhi ? Sadar dan damai-lah disana, serta
penuh welas-asihlah disana.
- Kalau kita sedang belajar pelajaran sekolah, belajarlah
dengan penuh kesadaran, kedamaian, kebahagiaan dan welas asih.
Fokuslah hanya pada apa yang kita pelajari. Temukan kedamaian
dan kebahagiaan, serta penuh welas-asihlah dalam menghafal,
dalam menghitung matematika, dsb-nya.
- Kalau kita sedang menyapu lantai, menyapulah dengan
penuh kesadaran, kedamaian, kebahagiaan dan welas
asih. Fokuslah hanya pada menyapu lantai. Temukan kedamaian
dan kebahagiaan, serta penuh welas-asihlah dalam memunguti
barang yang berserakan, dalam menyapu sudut-sudut yang sulit.
- Kalau kita sedang mengasuh anak, asuhlah anak dengan
penuh kesadaran, kedamaian, kebahagiaan dan welas asih.
Fokuslah hanya pada mengasuh dan menyayangi anak kita. Kalau
anak cerewet dan nakal, terimalah cerewet dan nakalnya dengan
penuh kesadaran, kedamaian dan welas asih.
- Kalau kita sedang bekerja di kantor, bekerjalah dengan
penuh kesadaran, kedamaian, kebahagiaan dan welas asih.
Fokuslah hanya pada apa yang kita kerjakan sebagai tugas kita.
93
Kalau bos memarahi kita, terimalah omelannya dengan penuh
kesadaran, kedamaian dan welas asih.
- Kalau kita sedang terbaring sakit dengan infus di rumah
sakit, terbaringlah dengan penuh kesadaran dan kedamaian, serta
penuh welas-asihlah disana. Kalau kita harus disuntik dan minum
obat pahit, terimalah suntikan dan obat pahit itu dengan penuh
kesadaran, kedamaian dan welas asih.
- Kalau kita tidak punya penghasilan, teruslah berupaya
mencari kerja atau pemasukan dengan penuh kesadaran dan
kedamaian, serta penuh welas-asihlah disana. Kalau kita harus
menerima penolakan dan kegagalan, terimalah hal itu itu dengan
penuh kesadaran, kedamaian dan welas asih. Teruslah berusaha.
- Dsb-nya.
Kerjakan apa yang sedang kita
kerjakan dengan penuh kesadaran,
kedamaian, kebahagiaan dan welas
asih. Fokuslah pada yang kita
kerjakan, temukan kedamaian dan
kebahagiaan disana, serta penuh welasasihlah
dalam mengerjakannya.
Sesungguhnya juga secara seketika kita dapat membebaskan
diri kita sendiri dari bhautika tap, atau kesengsaraan dan lenyapnya
ketenangan dalam hidup akibat gangguan atau konflik yang berasal
dari interaksi kita dengan sesama mahluk lainnya. Karena realitas
diri kita yang sejati bukanlah kemarahan, kekecewaan, kesedihan,
keputus-asaan, ketidak-puasan, dsb-nya. Melainkan atman yang
sempurna dan mahasuci.
94
Bagaimana menghadapi benturan atau konflik dengan orang
lain dan mahluk lain dalam kehidupan kita dengan selalu terserap
dalam atman, selalu terserap dalam samadhi ? Sadar dan damai-lah
disana, serta penuh welas-asihlah disana.
- Kalau kita dihina atau dicaci maki orang, terimalah hinaan
dan caci maki itu dengan penuh kesadaran, kerendah-hatian dan
kedamaian, serta penuh welas-asihlah disana.
- Kalau kita harus menanggung malu atau mungkin juga
dipermalukan orang, terimalah hal itu dengan penuh kesadaran,
kerendah-hatian dan kedamaian, serta penuh welas-asihlah disana.
Kalau kita ditertawakan dan diberi komentar menyakiti, terimalah
komentar menyakiti dan tertawa menghina itu dengan penuh
kesadaran, kedamaian dan welas asih.
- Kalau kita dimarahin istri, terimalah kemarahan itu dengan
penuh kesadaran, kerendah-hatian dan kedamaian, serta penuh
welas-asihlah disana.
- Kalau kita melakukan kesalahan, sengaja atau tidak sengaja,
segera minta maaf-lah dengan penuh kesadaran, kerendah-hatian
dan kedamaian, serta penuh welas-asihlah disana.
- Dsb-nya.
Menerima semua kejadian
tidak menyenangkan dalam
kehidupan dengan penuh
kesadaran, penuh welas-asih, kerendah-
hatian dan kedamaian.
Karena inilah sadhana pembayaran
karma buruk dan proses pemurnian
bathin yang sangat cepat.
95
Dan sesungguhnya juga secara seketika kita dapat
membebaskan diri kita sendiri dari daivika tap, atau kesengsaraan
dan lenyapnya ketenangan dalam hidup akibat dari rangkaian
dinamika kosmik alam semesta yang tidak terduga dan tidak kita
ketahui, yang merupakan perpaduan antara hukum karma dan
hukum rta. Karena sekali lagi bahwa realitas diri kita yang sejati
bukanlah kemarahan, kekecewaan, kesedihan, keputus-asaan,
ketidak-puasan, dsb-nya. Melainkan atman yang sempurna dan
mahasuci.
Bagaimana menjadikan jalan kehidupan yang tidak terduga
dan tidak kita ketahui, serta grafik kehidupan yang selalu naik-turun
dalam kehidupan dengan selalu terserap dalam atman, selalu
terserap dalam samadhi ? Sadar dan damai-lah disana, serta penuh
welas-asihlah disana.
- Kalau terjadi suatu bencana tidak terduga dalam hidup kita,
hadapilah dengan penuh kesadaran dan kedamaian, serta penuh
welas-asihlah disana. Apapun yang terjadi, seburuk apapun,
terimalah kenyataan pahit itu dengan penuh kesadaran, kedamaian
dan welas asih.
- Kalau kita sedang menyetir mobil di jalanan, menyetirlah
dengan penuh kesadaran dan kedamaian, serta penuh welasasihlah
disana. Kalau jalanan sedang macet total dan parah,
terimalah kemacetan itu dengan penuh kesadaran, kedamaian dan
welas asih.
- Kalau usaha kita bangkrut, selesaikanlah urusannya dengan
penuh kesadaran dan kedamaian, serta penuh welas-asihlah disana.
Kalau kita harus menerima cacian, omelan atau bahkan masuk
penjara, terimalah hal itu itu dengan penuh kesadaran, kedamaian
dan welas asih.
- Dsb-nya.
96
Sikap yang selalu penuh kesadaran, penuh welas-asih, ke-rendah-hatian
dan kedamaian pada apapun yang terjadi, adalah jalan lapang menuju
kesadaran tentang realitas diri yang sempurna dan mahasuci.
Ketika kita menghadapi keadaan tidak enak, tidak
menyenangkan, masalah atau konflik, reaksi harus ke dalam pikiran
kita sendiri dulu dan bukan merespon apa yang terjadi diluar.
Menghadapi apapun dalam hidup reaksi kita selalu harus ke dalam
pikiran sendiri dulu, bagaimana reaksi pikiran kita : tidak senang,
marah, takut, benci, jengkel, penasaran, tegang, dsb-nya. Sadari
terlebih dahulu. Sadari, sadari dan sadari. Sampai kita sadar dan
mengetahui riak-riak pikiran kita dalam keadaan sedang tidak
senang, marah, takut, benci, jengkel, penasaran, tegang, dsb-nya.
Kemarahan, kebencian, kesedihan, ketersinggungan, rasa
takut, rasa malu, kesedihan, dsb-nya, muncul karena kita terlebih
dahulu merespon apa yang terjadi diluar. Sehingga kita terseret
jauh dan tunduk kepada riak-riak pikiran, emosi dan dualitas
pikiran. Akibatnya kita marah-marah, kita merasa takut, kita merasa
sedih, dsb-nya. Kita tidak sadar kepada realitas diri kita yang sejati.
97
Bagaimana reaksi pikiran kita, tidak senang, marah, takut,
benci, jengkel, penasaran, tegang, dsb-nya. Sadari dan sadari.
Sadari secara netral. Tanpa penilaian, tanpa dualitas baik-buruk,
enak-tidak enak, suka-tidak suka, suci-kotor. Sadari sampai pikiran
kita menjadi tenang-sejuk. Begitu kita sadar, secara alamiah pikiran
kita menjadi damai dan tenang, lalu kesadaran terbit muncul
laksana bulan purnama yang terang. Setelah itu, kalau diperlukan
tindakan untuk memperbaiki keadaan, yang keluar secara alamiah
adalah welas asih dan kebaikan, dan bukan keserakahan,
kemarahan atau kebencian.
Melalui praktek mendalam tentang kesadaran atman,
perasaan-pikiran negatif perlahan-lahan berpisah dengan
kesadaran. Akibatnya, ada ruang diantara perasaan-pikiran negatif
dengan kesadaran. Semakin dalam praktek tentang kesadaran
atman, semakin lebar ruang diantara keduanya. Hasilnya indah
sekali, semuanya menjadi yoga. Tidak lagi diperlukan tindakan
untuk melakukan yoga, melainkan yoga menjadi alamiah, natural,
mengalir dan menyatu dengan kehidupan. Apa saja yang kita
lakukan dalam kehidupan menjadi tindakan yoga, karena perasaanpikiran
negatif telah berhenti mensabotase dan memanipulasi
realitas diri yang sejati, atau dengan kata lain selalu terserap ke
dalam samadhi.
Ketika semuanya menjadi
yoga. Apa saja yang kita lakukan
dalam kehidupan menjadi tindakan
yoga, karena kita selalu terserap
ke dalam samadhi.
98
Praktisi yoga tingkat tinggi pasti tahu bahwa ketika bathin
masih sesempit diri ini [ahamkara, ke-aku-an, ego], kita mudah
marah, benci, tersinggung, sombong, resah, tidak puas, dsb-nya.
Semakin besar egonya maka akan semakin menyakitkan
kesengsaraan dan ketidakadilan. Inilah pe-er besar seorang yogi,
meruntuhkan ego dan semua bentuk kegelapan bathin.
Bagi orang-orang dengan kualitas daiwa sampad [manusia
berbathin dewa], mengalami kesengsaraan dan ketidakadilan tidak
menjadi kutukan kehidupan, tapi menjadi berkah spiritual yang
tertinggi yang mengasah kesadaran mereka menuju kesadaran dan
kemahasucian. Karena ketika seseorang dapat melenyapkan ego
dan kegelapan bathin-nya, sebagai hasilnya adalah bathin yang
seluas ruang.
Kita dapat membadankan kesadaran atman di dalam diri.
[Pertama] dengan mengurangi penderitaan para mahluk. Artinya
selalu penuh welas asih dan penuh kebaikan dengan tingkat
kerelaan yang sempurna. Itu semua mengurangi penderitaan para
mahluk. Termasuk tidak membalas caci-maki dan hinaan orang lain,
tidak balas menyakiti orang yang jahat, dsb-nya. Malah sebaliknya
kita memberi lebih, kita membalasnya dengan welas asih dan
kebaikan. [Kedua] Semua mahluk memperebutkan kebahagiaan
dan lari dari penderitaan, sehingga alam semesta ini tidak
seimbang. Kitalah yang menjaga keseimbangan alam semesta
dengan mengambil yang jelek-jelek [penghinaan, kesengsaraan,
kesusahan, dsb-nya]. Badan, pikiran dan perasaan kita akan selalau
terserap ke dalam atman, kalau selalu kita jadikan yajna
[persembahan] bagi kebahagiaan mahluk lain. Bagi sebagian orang
yang tingkat kesucian bathinnya bagus akan mengerti, inilah yoga
yang tertinggi dan sempurna.
99
Orang suci belum tentu berbaju putih-putih, berbaju
brahmana, yogi, pertapa, pandita, pemangku, guru spiritual, dsbnya.
Orang suci belum tentu orang yang sudah membaca banyak
kitab suci. Orang suci adalah orang yang penuh welas asih kepada
semua, kebaikan-nya tanpa syarat dan kesabarannya tidak terbatas,
walau apapun yang terjadi. Termasuk disaat dirinya mengalami
kejadian buruk seperti dihina, dicaci-maki, disakiti, tidak punya
uang, kelaparan, sedang sakit, dsb-nya.
Orang suci yang sesungguhnya adalah orang yang sanggup
mengolah apa saja menjadi dharma. Leluhur kita
menyebutnya sarwa dharma [semuanya dharma]. Dapat mengolah
adharma menjadi dharma. Dapat mengolah segala bentuk godaan
menjadi jalan pembebasan. Dapat mengolah segala bentuk
kesengsaraan dan ketidakadilan menjadi berkah spiritual yang
tertinggi yang mengantar mereka menuju kesadaran dan
kemahasucian.
Badan, pikiran dan perasaan-nya menyatu menjadi kesucian
atman yang sempurna, karena selalu dijadikan yajna
[persembahan] bagi kebahagiaan mahluk lain.
Namun karena ketidak-sempurnaan kita sebagai manusia,
ditambah dengan derasnya masalah-masalah kehidupan, terkadang
perasaan-pikiran negatif dan kesadaran lagi-lagi menyatu, sehingga
pengalaman buruk ini seperti iri hati, marah, benci, sakit hati, ketidak-
puasan, dsb-nya, terulang kembali. Namun jangan mudah
putus asa. Teruskan, teruskan dan teruskan praktek kesadaran
atman ini.
Sabarlah kepada semua mahluk dan juga sabarlah kepada diri
sendiri. Jangan berkecil-hati terhadap ketidak-sempurnaan diri kita,
tapi teruslah berjalan dengan kebesaran jiwa yang menyegarkan.
100
Karena jika kita menuju arah yang benar, kita semua harus
melanjutkannya. Selama kita mengarahkan pandangan ke jalan
dharma, ke arah terang, itu adalah hal yang terpenting. Manusia
maju dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan garis
karmanya masing-masing. Dan disini tidak ada pencapaian yang
lebih dibandingkan upaya memulai lagi dan lagi secara terusmenerus
tanpa henti.
Selalu terserap ke dalam samadhi, selalu terserap ke dalam
atman yang sempurna dan mahasuci. Kedalam bathin kita upeksha
[tenang-seimbang] dan citta sudhi [bebas dari sad ripu atau enam
kegelapan bathin], keluar kita penuh dengan welas asih dan
kebaikan tanpa syarat kepada semua mahluk [dayadvham]. Inilah
kebahagiaan rahasia. Dimana kehidupan tidak punya wajah lain
selain keindahan sempurna.
Mereka yang lama terserap ke dalam samadhi, suatu saat
akan mengalami pengalaman kebersatuan kosmik. Dalam bahasa
sederhananya bisa melihat dirinya di mana-mana, di pohon,
binatang, mineral, manusia, dsb-nya. Sampai disini ia akan menjadi
berhenti total menyakiti, serta sangat haus melaksanakan welas
asih dan kebaikan. Karena ketika menyakiti mahluk lain
sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi
mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri.
101
Dalam pengalaman kebersatuan kosmik, seluruh dunia tidak lain adalah
dirimu sendiri.
JIVAN-MUKTI
Jivan-mukti adalah tujuan hidup yang tertinggi bagi setiap
manusia. Karena dengan mencapai jivan mukti, kita mencapai
wilayah-wilayah mahasuci sekaligus terbebaskan dari segala bentuk
kesengsaraan.
Dalam penjelasan untuk orang kebanyakan, secara
sederhana, tapi langsung masuk ke intisarinya, agar mudah
dimengerti, jivan-mukti adalah samskara atau kondisi bathin
dimana:
Lenyapnya seluruh sad ripu atau enam kegelapan bathin dari
dalam bathin, yaitu lenyapnya : matsarya [iri hati], kroda [marah,
benci], kama [hawa nafsu, keinginan], lobha [keserakahan], mada
[kesombongan, kemabukan] dan moha [kebingungan, resahgelisah]
102
Lenyapnya seluruh sad ripu digantikan oleh mekar sempurnanya
dayadvham dalam bathin, yaitu welas asih dan kebaikan tanpa
syarat yang tidak terbatas kepada semua mahluk.
Seorang jivan-mukta adalah orang yang secara konstan selalu
terserap ke dalam samadhi, selalu terserap ke dalam atman yang
mahasuci. Artinya apapun yang terjadi dalam kehidupan, siapapun
yang dia jumpai, dia selalu tersenyum damai dalam bathin yang
tenang-seimbang tidak berubah dan bebas dari enam kegelapan
bathin. Serta sikap dan tindakannya selalu didorong oleh rasa welas
asih dan kebaikan tanpa syarat yang tidak terbatas kepada semua
mahluk.
KEBAHAGIAAN SURGAWI
Ketika kematian menjemput, ke alam-alam mana kita akan
pergi setelah kematian sangat ditentukan oleh akumulasi subha
karma [karma baik] dan asubha karma [karma buruk], serta
samskara [kesan-kesan pikiran] kita sendiri.
Kalau akumulasi karma buruk kita banyak dan samskara kita
tidak jernih atau bathin penuh kegelapan, maka perjalanan kita di
alam kematian sangat mungkin tidak akan lancar atau menjadi
hantu gentayangan. Dan salah-salah bisa terjerumus ke Bhur Loka,
alam-alam bawah yang terdiri dari tujuh lapis dimensi alam-alam
gelap [disebut sapta petala], menjadi mahluk-mahluk alam bawah.
103
Mahluk-mahluk alam bawah.
Melaksanakan tiga sadhana tri yadnya yang saling berkaitkaitan,
yaitu melaksanakan jnana yadnya, melaksanakan tapa
yadnya dan melaksanakan drwya yadnya, pada puncaknya tidak
saja akan mengubah perjalanan kehidupan kita menuju kepada
kebahagiaan duniawi dan rohani, tapi juga sekaligus mengubah
perjalanan kita di alam kematian menjadi kebahagiaan surgawi.
Pencapaian kebahagiaan surgawi yang paling bawah adalah
mencapai Svarga Loka. Svarga Loka adalah dimensi alam semesta
suci tingkat pertama yang berlimpah kebahagiaan, dimana di
dalamnya terbagi-bagi lagi dalam berbagai tingkatan alam-alam suci
dan masing-masing alam suci berada di bawah perlindungan
seorang dewa atau dewi penguasa alam tersebut. Seperti misalnya
Pitra Loka [alam roh-roh suci, para leluhur yang mencapai tingkat
kesucian tertentu], lalu yang lebih tinggi dan terang lagi Gandharva
Loka [alam para gandharva dan vidyadhari atau bidadari], Daiva
Loka, Indra Loka, dsb-nya.
Sang jiwa mencapai alam-alam Svarga Loka karena dalam
hidupnya dia samskara atau kondisi bathinnya cukup bersih,
104
mampu melenyapkan sebagian besar rasa iri hati, kemarahan,
kebencian, kesombongan, ketidakpuasan, tidak melakukan
hubungan seks selingkuh, mampu mengendalikan nafsu makan,
serta punya karma baik yang banyak dan berlimpah. Sang jiwa
akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang luas dan dalam.
Jauh melebihi kebahagiaan dan kedamaian dalam kehidupan biasa
yang kita rasakan di bumi.
Di alam-alam pada dimensi alam semesta suci tingkat
pertama atau Svarga Loka ini, sang jiwa memiliki wujud manusia
yang indah dengan dunia yang juga indah. Akan tetapi dapat
mencapai Svarga Loka tidak menghentikan roda samsara [siklus
kelahiran kembali yang berulang-ulang], karena sang jiwa masih
terikat dengan karma dan samskara. Sehingga akan ada waktunya
nanti sang jiwa harus reinkarnasi atau terlahir kembali ke dunia
sebagai manusia untuk menyelesaikan sisa-sisa karmanya sendiri,
serta melanjutkan evolusi peningkatan kesadarannya.
Dewa-dewi alam svarga-loka.
105
Pencapaian paling mulia bagi manusia adalah apabila dia bisa
mencapai jivan-mukti atau bebas dari siklus samsara [tidak
dilahirkan kembali] dan memasuki alam-alam mahasuci.
Jika enam kegelapan bathin lenyap maka segala bentuk
kesengsaraan juga lenyap. Jika enam kegelapan bathin lenyap
maka tindakan-tindakan yang didasari penyebab-penyebab karma
juga lenyap, sehingga kelahiran kembali tidak terjadi lagi. Jivan
mukti ini ada lima jenisnya, tergantung tingkat kesempurnaannya,
mulai dari alam-alam mahasuci terendah hingga tertinggi, sampai
dengan pencapaian moksha [penyatuan kosmik], yaitu :
1. Salokya-Mukti.
Mukti berarti lepas atau bebas, salokya berarti “tinggal di
alam surga yang sama”. Disebut salokya atau “tinggal di alam surga
yang sama” karena sang jiwa tinggal pada sebuah alam di dimensi
alam semesta suci tingkat kedua atau Mahar Loka, di bawah
perlindungan seorang dewa atau dewi mahasuci tingkatan tinggi
penguasa alam tersebut.
Salokya-mukti berarti sang jiwa telah bebas dari siklus
samsara dan mendapat tempat di dimensi alam semesta suci Mahar
Loka yang berlimpah kebahagiaan-kedamaian. Di dalam dimensi
Mahar Loka ini di dalamnya terbagi-bagi lagi dalam berbagai
tingkatan alam-alam suci dan masing-masing alam suci berada di
bawah perlindungan seorang dewa atau dewi mahasuci tingkatan
tinggi penguasa alam tersebut.
Di alam ini sang jiwa masih memiliki wujud seperti manusia,
tapi yang sangat indah bercahaya ke-emasan, sangat tampan atau
cantik, dengan dunia yang juga sangat indah. Sang jiwa di dimensi
alam ini akan menyelesaikan sisa-sisa putaran karmanya dan tidak
106
dilahirkan kembali sebagai manusia, serta di alam ini juga
melanjutkan evolusi kesadarannya kepada tingkat kesadaran yang
lebih tinggi.
Dewa-dewi alam mahar-loka.
Beliau para dewa-dewi yang berstana di dimensi alam Mahar
Loka ini, karena welas asih beliau, sering menjadi guru-pembimbing
[guru niskala] bagi manusia yang serius mendalami spiritual, serta
bagi para dewa-dewi di dimensi alam Svarga Loka. Dan walaupun
mencapai alam semesta suci tingkat kedua atau Mahar Loka ini
berarti roda samsara telah berhenti, akan tetapi banyak dewa-dewi
dari alam ini yang karena mengemban tugas suci atau karena welas
asih beliau, kemudian memutuskan untuk reinkarnasi kembali
menjadi manusia. Lahir kembali ke dunia sebagai manusia [avatara]
dengan misi menyelamatkan semua mahluk, menjadi satguru yang
terang dan membebaskan bagi manusia.
2. Sarupya-Mukti.
Mukti berarti lepas atau bebas, sarupya berarti “memiliki
bentuk atau wujud yang sama”.
Sarupya-mukti berarti sang jiwa telah bebas dari siklus
samsara, serta mencapai tingkat kesucian dan wujud yang sama
107
dengan dewa atau dewi mahasuci tingkatan tinggi, yaitu berbadan
cahaya. Karena itu disebut sarupya yang berarti “memiliki bentuk
atau wujud yang sama”. Beliau berstana di dimensi alam semesta
suci tingkat ketiga atau Jana Loka yang maha-terang, maha-suci
dan maha-damai. Di dalam dimensi Jana Loka ini di dalamnya
terbagi-bagi lagi dalam berbagai tingkatan alam-alam cahaya yang
mahasuci.
Dewa atau dewi mahasuci tingkatan tinggi berwujud cahaya.
Wujud sang jiwa yang mencapai dimensi Jana Loka adalah
berupa cahaya murni yang luas, terang benderang, maha-suci dan
maha-damai. Kata dewa atau dewi sendiri berasal dari kata “div”
yang berarti cahaya. Dengan kata lain sang jiwa telah menjadi
dewa atau dewi mahasuci tingkatan tinggi yang berwujud cahaya.
Sang jiwa di dimensi alam ini tidak dilahirkan kembali sebagai
manusia dan di alam ini juga melanjutkan evolusi kesadarannya
kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Beliau para dewa-dewi yang berstana di dimensi alam Jana
Loka ini, karena welas asih beliau, sering menjadi guru-pembimbing
[guru niskala] bagi manusia yang serius mendalami spiritual, serta
108
menjadi pelindung dan guru-pembimbing bagi para dewa-dewi di
dimensi alam Svarga Loka dan Mahar Loka. Dan walaupun
mencapai alam semesta suci tingkat ketiga atau Jana Loka ini
berarti roda samsara telah berhenti, akan tetapi ada dewa-dewi dari
alam mahasuci ini yang karena mengemban tugas suci atau karena
welas asih beliau, kemudian memutuskan untuk reinkarnasi kembali
menjadi manusia. Lahir kembali ke dunia sebagai manusia [avatara]
dengan misi menyelamatkan semua mahluk, menjadi satguru yang
terang dan membebaskan bagi manusia. Dan biasanya kelahiran
kembali sebagai manusia dari alam mahasuci tingkat tinggi Jana
Loka ini selalu khusus, spesial dan membawa banyak pengaruh
kepada semua mahluk.
3. Samipya-Mukti.
Mukti berarti lepas atau bebas, samipya berarti “menuju
penyelesaian akhir”. Disebut samipya atau “menuju penyelesaian
akhir” karena merupakan tahap awal atau tahap pertama menuju
kepada penyatuan kosmik atau moksha.
Dengan kata lain sang jiwa telah mencapai tingkat kesucian
kesadaran kosmik, tanpa wujud, melainkan sebagai kesadaran luas
melingkupi berbagai penjuru ruang semesta. Sang jiwa berstana di
dimensi alam semesta suci tingkat ke-empat atau Tapa Loka dan
tidak lagi memiliki wujud tertentu, melainkan sebagai kesadaran
kosmik yang meliputi alam semesta. Disebut “tapa” karena
kesadarannya konstan laksana meditasi terus-menerus [tapa] dan
luas melingkupi penjuru-penjuru ruang semesta. Di dalam dimensi
Tapa Loka ini di dalamnya terbagi-bagi lagi dalam beberapa
tingkatan alam-alam kesadaran kosmik yang mahasuci.
Sang jiwa yang berstana di dimensi alam surga tingkat keempat
atau Tapa Loka ini menjadi apa yang disebut mahadewa
109
atau kesadaran kosmik. Sang jiwa di dimensi alam ini telah terbebas
dari siklus samsara, tidak dilahirkan kembali sebagai manusia dan di
alam ini juga melanjutkan evolusi kesadarannya kepada tingkat
kesadaran yang lebih tinggi.
Kesadaran kosmik yang melingkupi penjuru-penjuru ruang semesta.
Beliau para mahadewa-mahadewi yang berstana di dimensi
alam Tapa Loka ini, karena welas asih beliau, sering menjadi gurupembimbing
[guru niskala] bagi para mahayogi tingkat tinggi,
menjadi pelindung yang tidak diketahui bagi para mahluk, serta
menjadi pelindung dan guru-pembimbing bagi para dewa-dewi di
dimensi alam Svarga Loka, Mahar Loka dan Jana Loka.
4. Sayujya-Mukti.
Mukti berarti lepas atau bebas, sayujya berarti “mendekati
penyatuan”. Disebut sayujya atau “mendekati penyatuan” karena
merupakan tahap akhir menuju kepada penyatuan kosmik atau
moksha, yang sudah sangat mendekati penyatuan kosmik tersebut.
Sang jiwa yang berstana di dimensi alam semesta suci tingkat
ke-empat atau Satya Loka ini menjadi apa yang disebut mahat atau
110
maha-kesadaran kosmik. Beliau yang telah mencapai tingkat
kesucian maha-kesadaran kosmik tidak lagi memiliki wujud tertentu,
tapi sebagai chittakash atau maha-kesadaran yang menyatu
konstan laksana meditasi terus-menerus dan luas tidak terbatas
sebagai seluruh penjuru ruang alam semesta dan para mahluk itu
sendiri.
Beliau para maha-kesadaran kosmik, karena maha welas-asih
beliau, adalah pelindung yang tidak diketahui bagi para mahluk,
serta menjadi pelindung atau guru-pembimbing bagi para dewadewi
di dimensi alam Svarga Loka, Mahar Loka, Jana Loka dan Tapa
Loka.
5. Moksha.
Moksha atau penyatuan kosmik antara Atman dan Brahman,
tercapai ketika sang jiwa telah mencapai kondisi kesadaran
nirahamkarah, atau sepenuhnya sempurna terbebaskan dari
ahamkara [ke-aku-an, ego].
Ketika titik ini tercapai, secara alamiah terjadilah penyatuan
kosmik yang sempurna dengan Brahman, keseluruhan keberadaan
yang maha tidak terpikirkan, yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata.
Dan di tingkat kesempurnaan, semua kata-kata, bahasa dan
logika manusia tidak lagi dapat menjangkaunya. Itu sebabnya para
satguru yang sudah sampai di sini semuanya menggunakan simbolsimbol
atau bahasa puitis.
Laksana setetes air yang sadar bahwa dirinya bukanlah
setetes air, melainkan samudera yang maha luas.
111
Sejak awal yang tidak berawal, sampai akhir yang tidak ada akhirnya,
semuanya selalu sempurna sebagaimana adanya.
112
Om dyauh santir antariksam santih
Prthivi santir apah santir
Osadhayah santih vanaspatayah santir
Visve devah santir Brahma santih
Sarvam santih santir eva santih
Sa ma santir edhi
Om shanti shanti shanti
[ Yayur Veda ]
Semoga ada kedamaian di langit dan udara yang meliputi
bumi. Semoga ada kedamaian di bumi. Semoga air dan tumbuhtumbuhan
menjadi sumber kedamaian bagi semua mahluk. Semoga
para dewa dan Brahman menganugerahkan kedamaian kepada
semua mahluk. Semoga terdapat kedamaian dimana-mana. Semoga
kedamaian itu datang kepada kita semua. Semoga damai damai
damai..
113
Om sarvesham svastir bhavatu
Sarvesham shantir bhavatu
Sarvesham purnam bhavatu
Sarvesham mangalam bhavatu
Sarve bhavantu sukhinah
Sarve santu niramayah
Sarve bhadrani pashyantu
Makaschit dukkha bhag bhavet
Om shanti shanti shanti
[ Brhadaranyaka Upanishad ]
Semoga semua mahkluk sukses..
Semoga semua mahluk dalam kedamaian..
Semoga semua mahluk merealisasi kesadaran..
Semoga semua mahluk sejahtera..
Semoga semua mahkluk berbahagia..
Semoga semua mahkluk bebas dari ketidak-sempurnaan..
Semoga semua mahkluk menolong kesejahteraan mahluk lain..
Semoga semua mahkluk bebas dari penderitaan..
Semoga damai damai damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar